Secret
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
SasukexSakura alternate universe fanfiction for Nenek Immortal, Senju Airin Nagisa.
.
Romance, family, little bit humor, maybe?
.
OOC, typo(s), bad diction, failed humor, and etc. Please read summary first then-
.
-if you don't like, don't ever try to read.
.
Enjoy~
.
.
.
Chapter 9 : I Love You
.
.
.
Uchiha Sasuke menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Pria itu menjambak rambutnya sendiri seraya mendesah frustasi, "apa … yang telah aku lakukan?" Ia bertanya pada dirinya sendiri dengan nada penuh penyesalan atas apa yang baru saja dilakukannya.
Dia melampiaskan segala emosi, kesedihan dan keterpurukannya pada Sakura yang sama sekali tak bersalah. Ia sudah mengacaukan segalanya. Ia sudah menghancurkan hubungan rumah tangga mereka hanya dengan emosinya.
"Aku tahu bahwa aku telah membuatmu sangat kecewa … aku tahu itu. Hiks … tidak bisakah … kau memberiku satu kesempatan lagi?"
Tidak. Sasuke tak pernah merasa bahwa bayi mereka telah tiada gara-gara Sakura. Ia tidak pernah menyalahkan Sakura akan semua hal yang terjadi. Tapi, mengapa ia bisa mengatakan hal sekeji itu di depan istrinya sendiri? Kenapa dia berkata seolah-olah Sakura lah penyebab semua itu?
Kecemburuan lah menjadi alasannya. Pada hari itu, ia bermaksud untuk menjemput Sakura dan mencoba untuk memperbaiki kerenggangan hubungan mereka. Sasuke memang sempat terpuruk dan sangat sedih, maka dari itu ia menjauhi semua kesenangannya, termasuk keluarganya. Tapi hari itu, saat ia hendak mencoba untuk mendekati Sakura lagi, ia dari jauh malah melihat Neji mengelus kepala Sakura dan Sakura yang tertawa pelan setelahnya.
Ia melihat jelas itu semua.
Membuatnya dibakar rasa cemburu dan emosi yang meluap-luap, membuatnya kembali menjaga jarak dengan Sakura dan akhirnya melampiaskan semuanya pada wanita dengan dalih kehilangan anaknya. Dan sekarang, dia sungguh menyesalinya.
"Aku sudah keterlaluan," ucapnya dengan nada menyesal dan sedikit frustasi. Tanpa menunggu apapun lagi, ia membalikkan dirinya menuju koridor di mana ia membentak Sakura, di mana Sakura menangis meraung-raung di hadapannya, menampilkan wajah yang saat ini sungguh menyayat hati Sasuke. Bisa-bisanya dia membuat istrinya menangis seperti itu, setelah dirinya telah berjanji untuk membahagiakan Sakura di depan nisan kedua orang tua wanita itu? Bagaimana bisa dia melakukannya?
Pria itu sudah sampai di koridor, namun yang ia cari di koridor itu sudah tidak nampak lagi. Sakura sudah pergi dari sana. Tak ada lagi yang tersisa.
Sasuke menggeram dan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia adalah manusia terbodoh yang membuat wanita yang paling ia sayangi pergi. Ia terus mengulang pertanyaan yang sama dalam benaknya, 'apa yang telah aku lakukan?' sambil terus berlari mencari wanita itu.
Saat melihat Ino, pria itu segera menghampirinya dengan napas yang menggebu-gebu. "Ino, di mana Sakura?" tanyanya dengan nada tak santai.
"Sakura? Bukannya dia dipanggil ke ruang konseling denganmu?" heran Ino seraya mengerutkan keningnya.
Sasuke tak menjawab pertayaan gadis itu dan langsung berlari meninggalkannya. Ia menuju kelasnya, Sakura pun tak ada di sana. Pria itu terus mencari keberadaan istrinya. Kantin, perpustakaan, atap, dan berbagai kelas lain sudah dia datangi dan tak menemukan sosok wanita itu, membuat tubuhnya mulai menegang karena rasa takut. Rasa takut Sakura akan benar-benar pergi darinya.
"Teme!" Naruto berteriak memanggilnya. Pemuda itu baru saja hendak berbicara namun Sasuke segera memotongnya.
"Kau melihat Sakura?" tanyanya dengan nada gusar.
Naruto berpikir sejenak dan menjawab, "tidak, aku tidak melihatnya. Oh ya! Semua orang sedang membicarakan hubungan kalian! Apakah itu benar, Teme?"
"Ya, Sasuke-kun! Kami sangat penasaran dengan kejelasan hubungan kalian!" Salah seorang siswi menambahi pertanyaan Naruto, membuat beberapa pasang mata ikut melihat dan mendekati Sasuke.
Pria berambut hitam legam itu hanya dapat mendecih, "ini bukan waktuku untuk menjawab pertanyaan itu." Sasuke mulai membalikkan badannya, hendak mencari Sakura lagi. Namun, sejenak ia menghentikan pergerakannya dan menatap semua orang dengan tatapan tajam seraya berkata, "benar. Dia istriku. Dan jangan urusi hubungan kami lagi."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke membuka apartemennya dengan tergesa-gesa dan berharap Sakura akan ada di sana. Tapi yang didapatinya hanyalah ruangan kosong. Lagi-lagi, Sakura tak ada di sana, membuat pria itu sekali lagi mendesah frustasi dan menjambak rambutnya sendiri dengan keras.
Ia sudah pergi ke tempat les memasak Sakura. Wanita itu juga tak ada di sana. Dia sudah berkeliling kota, ke taman hiburan, rumah orang tuanya, makam orang tua Sakura, namun hasilnya nihil. Sakura sama sekali tak ada di manapun. Sekarang, di mana ia harus mencari? Di mana keberadaan Sakura sekarang?
Ia menyeka peluh yang sudah bercucuran di pelipisnya. Seluruh seragam sekolahnya terasa basah akibat keringat. Tapi ia tak peduli dengan kelelahan yang ia rasakan. Satu prioritas utamanya, yakni menemukan Sakura. Ia sangat ingin memeluk wanita itu dan meminta maaf padanya, berkata bahwa ia sangat menyesali perilakunya dan menjelaskan akibat kemarahannya.
"Sasuke … kumohon … maafkan aku … Marahi lah aku, maki lah aku sepuas yang kau bisa. Bahkan, pukul lah aku! Asal jangan ceraikan aku, Sasuke. Jangan …"
Perkataan Sakura kembali terngiang di kepalanya, membuat rasa penyesalan itu sungguh menggerogoti hatinya. Ke manakah ia harus mencari? Apakah saat ini dia benar-benar harus kehilangan orang yang dia sayangi lagi? Kalau benar begitu, maka ia pasti tak akan sanggup menghadapinya.
"Untuk ke depannya, mohon jaga aku. Jaga ikatan ini."
"—tentu saja."
"Sakura …" lirihnya dengan badan yang mulai melemas. Pria itu jatuh terduduk dan menyandarkan punggungnya pada dinding kamar mereka. Semuanya telah kacau. Bagaimana jika Sakura benar-benar meminta surat perceraian? Bagaimana jika Sakura merubah pikirannya dan menyetujui ide buruk Sasuke? Demi Tuhan. Dia sungguh takut membayangkan hal itu terjadi.
Tentu saja wanita itu pergi. Pantas saja dia meninggalkan Sasuke. Ia pasti telah terlanjur merasakan sakit hati akibat perkataan Sasuke. Dirinya memang tak pantas dimaafkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Krieeettt!
Suara pintu ruang tamu yang dibuka membuat Sasuke mendongak dengan cepat. Pria itu berdiri, melangkah gusar ke arah ruang tamu. Onyx-nya memancarkan kehidupan saat melihat sosok Sakura berdiri di sana dengan raut wajah heran. Mata wanita itu masih bengkak dan memerah, dan itu semua adalah ulahnya.
"Sasuke …?" lirih Sakura dengan raut wajah penasaran. "Kau … menangis?" Wanita itu melangkah mendekat ke arah Sasuke dan mengusap bekas-bekas air mata yang tampak pada pria itu.
"Aku … mencarimu." Sasuke menundukkan kepalanya. "Kau … dari mana saja?"
Sakura tersenyum kecil. "Aku dari laut yang pernah kita datangi berdua. Di sana aku merakit ini kembali." Wanita itu mengangkat tangannya, memperlihatkan gelang bunga sakura yang sudah kembali menghiasi tangannya.
Senyum Sakura dan gelang itu membuat Sasuke tak bisa lagi membendung segala penyesalannya. Ia langsung merengkuh wanitanya dengan erat, seolah melarang wanita itu pergi lagi. "Aku sangat takut, Sakura. Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut jika aku tidak bisa menemukanmu."
Senyum Sakura perlahan luntur. "Apa … yang kau katakan? Kenapa kau harus takut? Kau menyetujui ide Kepala Sekolah. Kau—" Pelukan Sasuke semakin mengerat saat dirasanya tubuh Sakura mulai bergetar.
"Maaf. Maafkan aku … kumohon maafkan aku, Sakura," ucap Sasuke dengan nada sangat menyesal. "Aku melampiaskan segalanya padamu. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku tidak pernah kecewa padamu. Aku berkata seperti itu karena aku dibutakan oleh kecemburuan."
"Kecemburuan?" Sasuke melepas pelukannya, menatap wajah Sakura yang terheran.
"Aku melihatmu bersama Neji. Neji mengelus pucuk kepalamu dan kau tertawa. Aku benar-benar sangat marah karenanya, melihat kau tertawa bersama orang lain sedangkan bersamaku kau terus berdiam diri dan kita sama-sama tenggelam dalam kesedihan," jelas Sasuke dengan tatapan sendu, membuat Sakura sedikit tercenggang. Ia tidak pernah melihat Uchiha Sasuke kehilangan ketenangannya seperti ini. Ia tak pernah melihat suaminya menjadi segusar ini.
"K—kau salah paham!" tukas Sakura cepat saat dirinya mulai sadar kembali. "Saat itu, Neji menyemangatiku dan menyuruhku untuk memperbaiki hubungan kita. Aku tidak sedang tertawa bersamanya!"
Sasuke tersenyum miris seraya berkata, "ya. Seharusnya aku tahu hal itu."
Mereka terdiam, saling menubrukkan pandangan mereka satu sama lain. Pancaran penyesalan jelas terlihat di mata keduanya. Dengan nada bergetar menahan tangis, Sakura mulai bertanya, "apakah … betul kau tidak marah padaku? Apakah aku bisa kembali ke kehidupanmu lagi setelah aku keguguran?"
Sasuke menarik Sakura kembali ke dalam pelukannya. "Aku tidak pernah menganggapmu bersalah pada kejadian itu. Jangan menanyakan kepantasanmu untuk kembali lagi padaku. Aku yang seharusnya meminta maaf dan menanyakan kepantasanku."
Sakura merunduk mendengar perkataan Sasuke. "Apakah … kita bisa … merajut hubungan kita kembali?"
Sasuke terdiam dan mengangguk.
Sakura mengeluarkan air mata bahagianya dan membalas pelukan Sasuke dengan erat. Inilah kehangatan yang dirindukannya. Inilah Sasuke yang ia kenal. Semuanya telah kembali. Kenangan buruk itu telah sirna. Hari-hari berat yang mereka lalui sudah usai.
"Aku mencintaimu, Sakura. Aku mencintaimu." Sasuke berbisik pelan. Bisikan yang membuat Sakura tersenyum bahagia dengan air mata haru yang masih menggenangi kelopak matanya.
"Hum. Aku juga sangat mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku bertemu dengan anak yang kuselamatkan. Dia berterima kasih padaku dan memberi coklat." Sakura berceloteh, menceritakan ketika ia 'menghilang' tadi. "Dia sangat merasa bersalah. Ibunya pun sama. Mereka terus saja meminta maaf padaku walau sudah kubilang berkali-kali bahwa ini semua bukan salahnya."
Wanita itu menggerak-gerakkan tubuhnya, mencari tempat yang nyaman di dada bidang Sasuke. Saat ini mereka tengah duduk santai di kasur mereka dengan tangan Sasuke yang terus merangkul pundak Sakura dan Sakura sendiri menyandarkan belakang kepalanya di dada Sasuke.
"Oh ya? Siapa nama anak itu?"
Sakura tampak berpikir. "Hmmm … Keiichi, kurasa?"
"Oh."
"Jika kita mempunyai anak lagi, aku harap anak kita akan berteman dengannya. Dia anak yang baik," ujar wanita itu dengan nada ceria, sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Sebelum memikirkan anak, bagaimana kalau memikirkan tentang ujian?" Sasuke meraih tangan Sakura dan menggenggamnya. "Kurasa, kita disuruh untuk fokus pada urusan sekolah. Maka dari itu, kita tidak ditakdirkan memiliki anak secepat ini."
Sakura tersadar dan menampilkan wajah khawatir. Wanita itu mulai menggigit bibir bawahnya dan berkata dengan panik, "aku sangat sering absen. Bahkan tadi aku bolos sekolah. Apakah aku bisa mengejar semua pelajaran yang tertinggal?"
"Bukan hanya kau. Aku pun ketinggalan pelajaran," ucap Sasuke seraya mendengus. "Kita akan mengejarnya bersama-sama."
Perkataan Sasuke direspon Sakura dengan anggukan dan senyum lembut. "Ya!" ucap wanita itu dengan semangat. "Tapi, bagaimana dengan gosip sekolah? Hubungan kita sudah tersebar."
"Dan aku menegaskannya tadi." Ucapan Sasuke membuat Sakura membulatkan matanya. "Aku terang-terangan berkata bahwa kau istriku."
"Apa?!"
Pria itu tersenyum tipis saat ekspresi khawatir istrinya mulai terlihat lagi. Wanita itu bahkan bangkit dari sandarannya dan memutar badannya agar menghadap Sasuke, menatap pria itu dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Mau bagaimana lagi, saat itu aku sedang gusar mencari dirimu."
"Tapi … apa yang akan mereka katakan?! Salah satu dari kita mungkin akan dikeluarkan oleh Kepala Sekolah." Sakura mengerucutkan bibirnya. "Kalau memang harus keluar, aku yang akan melakukannya."
"Tak ada yang akan keluar," ucap Sasuke dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Melihat wajah Sasuke, membuat Sakura tersenyum senang. "Kau benar-benar sudah kembali," ucap wanita itu dan memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. "Berjanjilah padaku, Sasuke. Apapun yang terjadi, janganlah setuju untuk bercerai denganku. Aku sangat sedih saat kau mengucapkannya."
Sasuke mengusap rambut Sakura yang terasa halus itu dengan lembut seraya mengangguk, "ya. Aku berjanji. Maafkan aku."
"Dan jangan selalu cemburu pada Neji. Aku dan dia tidak akan pernah menjalin hubungan apapun."
"…"
"Sasuke!"
"Baiklah, baiklah." Dengan wajah agak kesal, pria itu membuang wajahnya. Saat ini dirinya tidak mau membahas Neji setelah kemarahannya meluap.
"Dan satu lagi." Sakura melepas pelukannya, menatap sungguh-sungguh pada Sasuke. "Saat kita mengalami duka, kita akan membagi duka itu bersama. Aku dan kau tidak boleh lagi saling mendiami jika dihadapkan oleh masalah serius. Emosi yang kau keluarkan adalah kesedihan, keterpurukan dan kecemburuan yang telah kau pendam. Aku tidak ingin semua itu terjadi lagi."
Suami Sakura itu menundukkan kepalanya dan menatap istrinya dengan pandangan dalam seraya berkata, "ya. Itu lebih baik. Maafkan aku."
Sakura tertawa kecil. "Aku tidak menyangka kau bisa mempunyai sisi yang kekanak-kanakan."
"Aku masih muda dan awam dalam urusan rumah tangga." Sasuke membuang wajahnya yang dihiasi semburat tipis. "Dan aku juga tidak menyangka kau punya sisi dewasa. Kau dengan mudah memaafkanku setelah aku telah menyakiti hatimu."
Mendengar ucapan Sasuke, membuat Sakura terdiam sejenak. "Hmm … sebenarnya, mengingat perlakuanmu memang membuatku sakit hati. Tapi aku juga tidak ingin berpisah denganmu. Mendiang ibuku pernah berkata bahwa memaafkan adalah solusi terbaik dalam menghadapi masalah."
"Aku mencintaimu." Sasuke berucap tiba-tiba dengan senyuman lembut.
Pernyataan dan senyuman lembut Sasuke membuat wajah Sakura memerah. Dengan wajah malu, wanita itu menatap onyx suaminya dan berkata, "aku juga mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bukannya mencari solusi, kalian malah menegaskan gosip itu. APA YANG KALIAN PIKIRKAN?!" Kepala Sekolah membentak dengan keras kedua sejoli di depannya. Mendengar bahwa Uchiha Sasuke membenarkan gosip itu, membuat situasi menjadi tak terkendali lagi. "Uchiha Sasuke. Kau berkata bahwa kau akan menceraikannya. Tapi kenapa kau malah berkata lain di belakangku?!"
Sasuke menatap malas pada Kepala Sekolah tua itu seraya berkata, "jangan mengungkit hal itu lagi. Aku tidak akan pernah menceraikan istriku. Oh ya, bagaimana kalau kau saja yang menceraikan istrimu, Pak?"
Sakura sangat ingin tertawa saat wajah murka Kepala Sekolah terlihat, bahkan ia lebih garang dibanding sebelumnya. Mukanya memerah, menatap tajam pada Sasuke dan Sakura. "Salah satu dari kalian harus keluar dari sekolah ini!" ucapnya tegas seraya mengambil surat keputusan dan mencatat sesuatu dengan cepat.
"Salah satu anggota Uchiha dikeluarkan oleh sekolah. Apakah kau tidak berpikir bagaimana reputasi sekolah ini nanti?" Mata Sasuke mulai menajam, menatap tubuh Kepala Sekolah yang seketika menjadi kaku. Pergerakan orang tua itu terhenti setelah mendengar ucapan Sasuke. "Tapi, itu terserah kau. Jika kau tidak peduli lagi oleh jabatanmu, silahkan lakukan." Nada suara Sasuke terdengar mengancam dan agak menyeramkan bagi Sakura.
Pandangan Kepala Sekolah beralih pada Sakura yang sedari tadi hanya bisa terdiam. "Kalau begitu, Haruno—"
"—Uchiha. Dia Uchiha Sakura." Sasuke mempertegas. "Peraturan sekolah tak pernah menyebutkan tentang larangan pernikahan. Itu adalah hak pribadi kami. Dan jika kau mengeluarkan istriku karena hal ini, kau akan rasakan akibatnya."
Kepala Sekolah tersebut merasa badannya merinding karena ancaman anak muda di depannya. Jika orang itu bukanlah Uchiha Sasuke, maka dia tidak akan setakut ini. Tapi ia tahu bahwa ancaman dari seorang Uchiha akan membuat kenangan buruk bagi kelangsungan hidupnya. Dengan nada mengalah, akhirnya dia berkata, "baiklah. Kalian boleh keluar."
Sakura tersenyum girang dan menatap Sasuke dengan pandangan berbinar. Suaminya itu luar biasa sekali, bisa mengancam seseorang yang paling berkuasa di sekolah. Mereka keluar ruangan dengan raut wajah bahagia. "Kau keren sekali! Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu!"
"Aku heran kenapa aku tidak bisa berkata seperti itu kemarin."
"Sudahlah, sudahlah. Yang penting urusan kita dengan Kepala Sekolah sudah beres." Sakura tersenyum riang yang dibalas senyuman lembut oleh Sasuke. Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka. Saat sampai, mereka membuka pintu kelas dan mengernyitkan alis saat semua pandangan tertuju kepada mereka. Pandangan khawatir teman sekelas mereka.
"Sakura, bagaimana? Apakah Kepala Sekolah menghukum kalian berdua?" Yang duluan bertanya adalah Tenten, gadis itu langsung menghampiri mereka berdua dengan pandangan khawatir.
Sakura menjawab pertanyaan Tenten dengan sebuah gelengan. Sebenarnya, ia masih terheran dengan tingkah teman kelasnya sampai Naruto menjelaskan, "dasar. Seharusnya kalian bilang bahwa kalian sudah menikah. Kami hanya perlu penegasan dari kalian."
Lee menambahkan ucapan Naruto dengan semangat, "jika kalian terbuka, kami sepenuhnya mendukung hubungan kalian berdua!"
Emerald Sakura terbuka lebar, termangu dengan ucapan teman-teman kelasnya. "B—benarkah?"
"Memangnya, buat apa dirahasiakan? Dan kau, Sakura! Kau menikah dan tidak mengundang kami! Jahat sekali kau!" timpal Karin seraya menaikkan frame kacamata dan sengaja menampilkan wajah kesal.
"Benar! Padahal aku ingin makan enak di pernikahanmu." Chouji menambahkan sambil memakan kripiknya dengan rakus.
Perkataan semua teman kelasnya membuat Sakura tersenyum haru. Mereka memang bodoh. Memangnya untuk apa mereka merahasiakannya? Pernikahan bukanlah sebuah kesalahan. "Maafkan kami …" Sakura merunduk.
"Tidak apa-apa! Sebagai gantinya, saat kelulusan nanti, pastikan kalian berdua akan mentraktir kami!" Ino mengompori, membuat Sakura melototkan matanya. Dasar Pig menyebalkan! Padahal dia datang di pernikahan Sasuke dan Sakura!
Wanita itu menatap suaminya yang sedang menampilkan wajah aneh. Tentu saja yang keberatan harusnya Sasuke. Toh dia yang mencari nafkah. Namun, dorongan teman-teman kelasnya akhirnya membuat pria itu berkata seraya membuang wajahnya, "baiklah."
Teman kelasnya bersorak gembira. Sakura merasa bahwa hidupnya kini diselimuti oleh kebahagiaan. Kebahagiaannya, kebahagiaan Sasuke, dan kebahagiaan orang-orang sekitarnya. Sorakan itu akhirnya terhenti saat seorang guru masuk di kelas mereka dan memulai pelajaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebulan sudah berlalu setelah keguguran Sakura. Saat ini mereka tengah merayakan kelulusan mereka, dengan Sasuke yang menepati janjinya pada teman-teman sekelasnya. Mereka beramai-ramai menuju tempat karaoke terbaik dan memesan makanan sepuasnya. Mereka berbahagia, bernyanyi seolah beban mereka telah lepas.
"AKHIRNYA KITA BEBAS DARI UJIAAANNN!" Naruto berteriak menggunakan mic, membuat Sasuke dan Sakura harus menutup telinga mereka sedangkan teman-teman mereka bersorak gembira. "Oh ya, kita persilahkan tamu spesial kita, Sakura dan Sasuke untuk mengungkapkan perasaaan masing-masing!"
Mata Sakura membulat, sedangkan Sasuke terbatuk pelan. "Kami tidak akan melakukannya!" tolak mereka dengan kompak.
"Ayolaaahhh … dengan sebuah ciuman kecil. Kalian sudah menikah, bukan? Kenapa harus malu?" Karin dan Tenten kompak menarik mereka ke hadapan teman-teman mereka yang langsung menyoraki mereka berdua. Suara yang paling menonjol adalah Ino.
'Awas saja kau, Pig,' batin Sakura dalam hatinya. Ia memerhatikan wajah Sasuke yang sepertinya mulai kesal.
"Apa-apaan kalian." Sasuke mulai menggeram, membuat ruangan seketika hening. Namun kemudian, Sasuke menarik Sakura dan mengecupnya dengan cepat. Semua yang ada di ruangan itu kembali bersorak dan menggoda kedua pasangan itu. Wajah Sakura sudah sangat memerah, Sasuke pun sama. Mereka tak menyangka akan melakukan hal ini di depan teman-teman kelasnya.
Pesta yang berlangsung lama itu akhirnya telah usai. Seluruh biaya dialihkan ke Perusahaan Uchiha. Mereka pulang ke rumah masing-masing, seperti halnya Sasuke dan Sakura yang pulang dan langsung merebahkan badan mereka di kasur. Hari ini sungguh melelahkan. Setelah upacara kelulusan, mereka langsung menuju tempat karaoke tanpa sempat mengganti seragam mereka.
"Aku lelah." Sakura membuka suara. "Aku akan mandi."
Pergerakan Sakura yang hendak bangkit dari kasur terhenti saat Sasuke menarik tangan wanita itu dengan cepat, membuat badan wanita itu terjatuh tepat di atas tubuh suaminya. Posisi mereka saat ini membuat wajah Sakura memerah. "A—apa yang kau lakukan? Aku mau pergi mandi."
Sasuke tak memedulikan perkataan wanita itu dan malah mendorong wajah istrinya agar bibir mereka menyatu. Ia mencium dengan lembut apa yang sudah menjadi haknya selama beberapa saat. Saat ciuman mereka terlepas, Sasuke menatap Sakura dengan serius. "Setelah mandi, aku—ingin bercinta denganmu."
Perkataan Sasuke membuat Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah. Wajahnya sudah memerah sampai ke telinga. Ini pertama kalinya Sasuke mengeluarkan kalimat seperti itu, ini juga adalah kali pertama Sasuke menuntut kebutuhan biologisnya pada istrinya. "A—aku sudah menjadi istrimu. Ja—jadi apa yang harus kujawab …?"
Sasuke tersenyum lembut dan menyentuh pipi istrinya. "Jika kau belum siap, aku tidak akan memaksa."
Sakura menggeleng dengan cepat. "Bukan seperti itu. A—aku siap." Setelah berkata seperti itu, Sakura dengan cepat bangkit dan menutup wajahnya yang memerah. "A—aku mau mandi!"
Ia melangkah cepat menuju kamar mandi dengan gerak-gerik yang terus dipandang oleh Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kami baik-baik saja, Ibu. Tak perlu khawatir!" Sakura berucap dengan nada ceria saat mendengar Mikoto mengeluarkan nada khawatir. "Kami kembali seperti biasanya."
"Benarkah? Ahh … Ibu lega sekali mendengarnya." Wanita itu dapat mendengar ibu mertuanya mendesah lega. "Sasuke saat sedih memangselalu berdiam diri. Waktu kecil, ia kehilangan anjing peliharaannya dan hidup dalam kesuraman selama satu minggu!"
"Benarkah? Aku tidak tahu apa-apa tentang masa kecil Sasuke. Aku sangat ingin mendengarnya," ujar Sakura penasaran.
"Lain kali, berkunjunglah ke Paris. Aku ingin membawamu ke tempat wisata. Negara ini indah!"
"Hmmm … baiklah, Ibu. Jika kami punya waktu, kami akan berkunjung ke sana."
"Hihihi … Ibu akan menanti kalian. Oh ya, Ibu akan menelponmu lagi di lain waktu. Sampai jumpa!"
"Hum! Sampai jumpa!"
Sakura menutup telpon dengan senyum ceria. Ibu mertuanya sungguh orang yang sangat baik. Ia beruntung bisa mendapat keluarga baru yang menyayanginya seperti Mikoto, Fugaku dan Itachi.
"Siapa? Ibuku?" Suara Sasuke terdengar di belakangnya. Sakura mengangguk seraya menoleh dan mendapati Sasuke tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Menatap Sasuke membuat Sakura teringat akan keinginan pria itu.
Wajah Sakura kembali memerah. Mereka sudah beberapa bulan menikah, tapi mentalnya malah seperti malam pertama. Mereka memang belum pernah melakukannya dalam keadaan sadar. Jadi bagi Sakura, ini adalah pertama kalinya bagi mereka.
Sasuke dapat melihat raut wajah Sakura yang tampak tegang. Sebenarnya degupan jantung pria itu juga tidak bisa diajak berkompromi sedari tadi. Ia gugup, tentu saja. Melihat wajah Sakura yang tegang malah membuatnya lebih gugup lagi. "Err … Sakura. Jika kau menampilkan wajah seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa memulai?"
"Memangnya wajahku sedang bagaimana?" Sakura merunduk dengan pipi yang memanas. "I—ini pertama kalinya kita ingin melakukan ini dalam keadaan sadar. Ja—jadi—" Wanita itu memainkan rambutnya demi meredakan perasaan gugupnya.
"Haruskah kita menundanya?"
"Jangan!" Ia menoleh menatap wajah Sasuke yang ternyata juga memerah. "Kita … mau menundanya sampai kapan?"
Perkataan Sakura membuat Sasuke lebih berani melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita itu. Mereka menutup mata mereka saat bibir mereka mulai menyatu. Keduanya dapat mendengar degupan jantung masing-masing. Hati mereka bergejolak, saling menginginkan satu sama lain.
Mereka melepas ciuman mereka sejenak. Namun Sasuke kembali menyesap bibir bawah Sakura sebelum ia melepasnya lagi dan menatap emerald Sakura dalam-dalam. "Aku mencintaimu …" ucapnya dengan nada rendah sebelum mulai mencium Sakura lagi. Kali ini dengan lumatan dan lidah yang ingin menembus masuk ke rongga mulut Sakura.
Sakura membiarkannya, membiarkan Sasuke menjajah mulutnya. Wanita itu mulai kehilangan pasokan napasnya, membuatnya sedikit mendongakkan wajahnya. Ciuman mereka semakin dalam saat Sasuke mulai membaringkan tubuh Sakura. Atmosfir di sekitar mereka mulai memanas tanpa memedulikan AC yang terus menyala.
Napas Sasuke dan Sakura mulai menggebu-gebu. Ciuman yang mereka lakukan semakin mengganas. Lumatan serta decakan lidah yang beradu menghiasi kamar mereka.
Setelah bibir Sakura mulai membengkak, Sasuke mulai melirik bagian tubuh yang lain. Bibir pria itu menurun, menjajah leher jenjangnya dan menimbulkan beberapa tanda kepemilikan, membuat Sakura mulai mendesah, desahan yang membuat hasrat Sasuke menjadi tak terbendung lagi.
Pria itu mulai menanggalkan pakaian Sakura dengan mengabaikan wajah wanita itu yang sangat memerah. Mengetahui bahwa Sasuke melihat tubuhnya sungguh membuat Sakura digerogoti rasa malu, walau pria itu adalah suaminya sendiri.
"Akkhh~" desahan Sakura terdengar lagi saat Sasuke mulai bermain di buah dadanya. Ini adalah sensasi teraneh yang pernah Sakura alami. Rasa malu tapi mau melandanya. Tubuhnya pun tergelitik saat Sasuke mulai turun ke bagian bawahnya.
"A—aku merasa mau mati karena malu," ucap Sakura saat sadar bahwa Sasuke mulai melirik bagian bawahnya. Tanpa memedulikan ucapan Sakura, Sasuke malah mulai menyentuh daerah tersensitif itu, membuat Sakura kembali mendesah dan merasa bahwa bagian itu telah sangat basah.
"Kau sudah siap?" Sasuke bertanya sebelum pria itu memasukkan 'benda'-nya. Dengan pelan, Sakura mengangguk.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya saat Sasuke mulai memasukinya, sedangkan pria itu menggenggam erat tangannya. Setelah semuanya telah masuk, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.
"Akkhh~ S—Sasukehhh~" Sakura mendesah penuh kenikmatan. Ia sekarang baru tahu bahwa bercinta adalah kegiatan yang sungguh nikmat tiada tara. Ia memerhatikan wajah serius suaminya yang kadang-kadang juga mengerang nikmat.
"S—Sakura … apakah kau ingin kuliah?"
Sakura mengernyitkan alisnya. Kenapa Sasuke malah bertanya seperti itu saat mereka sedang melakukan kegiatan ini?! "T—tentu saja. Memangnya ada—haaahhh—apaahh?"
"Baiklah. Kalau begitu … aku tidak akan mengeluarkannya dalam tubuhmu."
"I—ini bukan masa suburku." Perkataan Sakura membuat Sasuke tersenyum tipis dan mempercepat gerakannya, membuat Sakura semakin mendesah hebat.
"Akkhhh-!" Mereka sama-sama mendesah kencang saat klimaks. Sasuke lagi-lagi menembakkan benihnya di rahim Sakura dan jatuh memeluk wanita itu. Badan keduanya terasa agak lemas.
"Kita akhirnya melakukannya," ucap Sakura pada akhirnya. "A—aku senang. Aku mencintaimu, Sasuke."
"Aku juga mencintaimu," bisik Sasuke tepat di telinganya.
"Oh ya, apa hubungannya anak dengan kuliah?" tanya Sakura penasaran.
"Aku pikir, kuliahmu akan terganggu dengan keberadaan—"
Ucapan Sasuke terputus saat Sakura tiba-tiba memotongnya. "Jangan pikirkan hal itu. Aku akan mengurus semuanya. Jika kita diberkahi anak saat ini, aku malah akan sangat senang."
"Baiklah. Kalau begitu, lain kali aku tidak akan bertanya lagi." Sasuke mengecup Sakura pelan. "Tidurlah."
Sakura mengangguk, memposisikan dirinya di pelukan Sasuke dan mulai menutup matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The End (?)
Eh, masih ada epilog ding. Chapter depan benar-benar udah end.
Tentang adegan nganunya, ah—jangan meminta yang lebih tulungs #sembunyidibalikbadantetsu
Yang khawatir Sakura sama Sasuke cerai—hahaha, genre fic ini bukan hurt/comfort, konfliknya gak bakalan serumit itu lah xD
Yang bully Sasuke, ngatain dia nikah sama Sakura cuma buat dapat anak, plis lah. Emang Sasuke sifatnya gitu pas chapter awal? Sebelum Sakura hamil, Sasuke kan emang udah kayak perhatian.
Dan perhatian plus baik kayak gitu sampai akhir malah buat fic ini monoton. Masa iya sih baik terus, jadi kubuat dia labil #civoktetsu xD
Yang masih mau bertanya atau kurang paham, silahkan pm yah. Saya terbuka kok untuk ngejelasin cerita ini.
Dan oh ya, satu lagi. Ada yang nanya tentang operasi. Operasi yang dijalani Sakura itu operasi kecil, biasa orang memanggilnya kuret. Kuret dilakukan jika usia janin kurang dari dua belas minggu. Jadi, karena usia kandungan Sakura baru dua bulan yah dia jalanin prosedur operasi. Kalau disuruh melahirkan normal, biasanya itu keguguran yang usia kandungannya udah tua.
Btw, makasih yah yang udah review kemarin. Hahaha aku terhibur baca review 'gemes' kalian xD
Ps : aku agak takut sendiri liat mood ngetikku. Hiiyy nyeremin padahal biasanya ga bisa update cepat banget kayak gini.
.
.
Sign,
HanRiver
