Please Save Me
.
.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Jongin melangkahkan kakinya menuju rumah mewahnya dengan lemas. Ia merasa tubuhnya remuk karena kelelahan meladeni kedua laki-laki yang memukulnya tadi.
Jongin mulai membaringkan tubuhnya disofa ruang tamu dan memejamkan matanya. Kepalanya terasa berat karena pusing memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa bertemu lagi dengan Kyungsoo terlebih lagi tadi Kyungsoo memukulnya membuat kepalanya terasa perih.
Sejenak Jongin mulai merilekskan pikirannya. Ia benar-benar merasa tertekan dengan semua yang terjadi pada dirinya. Disaat ia mulai tenang tiba-tiba sebuah benda yang berada disaku celananya bergetar yang berarti terdapat sebuah panggilan disana.
Dengan cepat Jongin membuka matanya kembali dan mengambil benda itu, kemudian ia melihat tulisan yang tertera pada ponselnya itu. Ia kira yang menghubunginya adalah anak buahnya yang mencari Kyungsoo ternyata yang menghubunginya adalah Krystal.
Melihat nama itu tertera dilayar ponselnya ia hanya mengabaikan panggilan itu dan melempar ponselnya ke meja yang berada didepannya.
Ia memutuskan bangkit untuk mengambil kotak obat dan mengobati luka yang tedapat diwajahnya. Hingga akhirnya ia selesai mengobati semua lebam yang terdapat pada wajahnya dan kembali membaringkan tubuhnya pada sofa itu.
Ia kembali mengingat kejadian yang ia alami tadi, ia mulai berfikir kenapa Kyungsoo seperti itu padahal ia tidak melakukan apapun pada wanita itu.
Ia juga kembali mengingat bagaimana paniknya Kyungsoo saat bertemu dengannya tadi. Bahkan wajah Kyungsoo juga terlihat sangat pucat saat ia mendekati Kyungsoo.
"Semengerikan itukah Kim Jongin dimatamu Do Kyungsoo?" Tanya Jongin entah pada siapa.
Jongin menatap langit-langit atapnya dengan pandangan kosong. Ia kembali mengingat apa yang telah ia lakukan pada Kyungsoo selama ini.
"Maafkan aku Do Kyungsoo." Sesal Jongin yang mulai menitihkan airmatanya.
.
.
.
.
Keesokan harinya Jongin sudah terjaga dan tengah mengemudikan mobilnya. Padahal matahari masih malu-malu untuk menunjukkan keberadaannya.
Dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang biasa Jongin mengemudikan mobilnya itu. Ia menusuri jalanan yang sedang sepi itu karena memang saat ini masih jam setengah enam pagi.
Setelah beberapa menit Jongin menyusuri jalanan sepi itu akhirnya ia sampai disebuah desa yang berada dipinggir kota Seoul itu. Ia menatap nanar sebuah flat kecil yang terbilang tak layak huni itu.
Jongin kemudian turun dari dalam mobilnya dan mulai melangkahkan kakinya mendekat menuju flat kecil itu. Baru saja Jongin melangkahkan kakinya beberapa langkah kini ia harus menghentikan langkahnya karena seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam flat itu.
Jongin terus menatap wanita itu yang sedang menjemur pakaiannya. Terlihat jika wanita itu tampak sedikit kesusahan untuk menjemur seprai yang berukuran besar.
Entah apa yang terjadi melihat wanita itu yang sepertinya sangat menderita terlebih lagi dengan keadaannya yang buta membuat hati Jongin bergetar pilu.
Dengan cepat Jongin menghampiri wanita itu dan membantunya. Kyungsoo wanita itu tentu saja merasa terkejut dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja membantunya.
"Ah terima kasih." Ucap Kyungsoo saat Jongin membantunya.
Jongin sendiri hanya diam dan terus membantu Kyungsoo untuk menjemur pakaian-pakaiannya.
"Terima kasih banyak." Ucap Kyungsoo lagi saat telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kyungsoo?" Panggil Jongin dengan tatapan sendunya.
Kyungsoo yang mendengar itu seketika membuat tubuhnya menegang ketakutan karena ia begitu hafal dengan suara Jongin.
"Pulanglah. Maafkan aku Kyungsoo." Ajak Jongin dengan tatapan sedihnya.
"Pergi!" Usir Kyungsoo yang mulai ketakutan.
"Kyungsoo kumohon." Mohon Jongin dengan suaranya yang sedikit bergetar.
"Kubilang pergi Kim Jongin!" Usir Kyungsoo lagi.
"Kyungsoo..." Panggil Jongin kembali.
Namun bukannya mendapatkan respon yang baik dari Kyungsoo, Kyungsoo justru menyiram Jongin dengan air bekas cuciannya tadi.
Jongin sendiri merasa terkejut akan hal itu namun yang Jongin lakukan saat ini hanya pasrah dan menutup matanya. Ia akan menerima semua perlakuan Kyungsoo lakukan kepadanya. Keran memang pada dasarnya apa yang Kyungsoo lakukan kepadanya saat ini tak sebanding dengan apa yang ia lakukan pada Kyungsoo hingga Kyungsoo menjadi seperti ini.
Jongin sadar betul dengan apa yang telah ia perbuat pada Kyungsoo hingga membuat Kyungsoo menjadi semenderita ini.
"Pergilah Kim Jongin aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Usir Kyungsoo dengan penuh emosinya.
Dan setelahnya Kyungsoo berjalan menuju kedalam flatnya itu dengan tongkat yang selalu setia membimbingnya.
Sedangkan Jongin sendiri ia hanya terdiam disana dan menatap nanar Kyungsoo. Memang ia merasa sakit diperlakukan seperti ini oleh Kyungsoo tapi ia sudah berjanji jika apapun yang terjadi ia akan berusaha sekuat tenaganya membawa Kyungsoo kembali dan mencoba memperbaiki semuanya.
Ia juga berjanji akan membuat Kyungsoo kembali menatap betapa indahnya dunia ini.
.
.
.
Disisi lain Kyungsoo sedang terduduk didepan pintu flat itu dengan tubuhnya yang menyandar pad pintu itu. Ia memeluk lututnya dan menangis dalam diam. Ia benar-benar tidak menyangka jika Jongin dapat menemukannya disini.
Sejujurnya ia sangat membenci pria itu karena pria itu kini hidupnya telah hancur. Tidak, ia tidak menyalahkan Jongin karena pernikahannya dengan Jongin. Ia hanya tidak habis pikir karena hanya sebuah perjodohan saja membuat Jongin menjadi monster yang sangat mengerikan.
Kyungsoo benar-benar sakit hati terhadap apa yang telah Jongin lakukan pada dirinya, ia sangat kecewa pada Jongin hingga ia tak merasa tak mampu memaafkan pria itu.
Kyungsoo menangis tersedu-sedu karena ia kembali merasakan sakit pada relung hatinya namun disisi lain ia juga menyesali apa yang telah ia perbuat pada pria itu.
.
.
.
Jongin terus duduk disana tanpa berniat untuk kembali menuju rumahnya. Jongin terus menunggu Kyungsoo keluar dari flat kecil itu didalam mobilnya. Ia tak perduli dengan pakaiannya yang basah bahkan ia tak perduli jika dirinya akan terkena deman atau flu.
Setelah sekian lama Jongin menunggu akhirnya Kyungsoo keluar dari flat itu dengan pakaian rapinya. Kyungsoo mulai berjalan dengan tongkat yang setia membimbingnya.
Kyungsoo berjalan dengan tenang menuju ke sebuah tempat. Kyungsoo terlihat begitu tak bersemangat terlebih lagi matanya yang terlihat sendu dan sedikit membengkan. Yang berarti wanita itu baru saja mengeluarkan cairan beningnya.
Jongin begitu sedih melihat Kyungsoo yang semakin menderita daripada sebulmnya. Jongin mengikuti Kyungsoo dengan langkah pelannya agar wanita itu tak mengetahui keberadaan dengan mendengar suara langkah kakinya.
Kyungsoo terus berjalan dengan pandangan kosongnya hingga ia sampai pada tempat yang ia tuju. Dan memutuskan untuk segera memasuki tempat itu dan melaksanakan tugasnya.
Jongin berhenti tepat didepan tempat itu. Tempat itu adalah sebuah kedai kecil yang berada didesa itu. Jongin menatap kedai itu sekilas dan tanpa ragu ia memasuki kedai kecil itu.
Disana ia melihat Kyungsoo tengah tersenyum dengan seorang wanita tua yang sepertinya adalah pemilik kedai itu. Jika dilihat sepertinya wanita itu sangat menyayangi Kyungsoo. Terlihat dari cara wanita itu memperlakukan Kyungsoo dengan lembut hingga membuat Kyungsoo dapat tersenyum tipis. Hingga akhirnya Kyungsoo menghilang menuju kesebuah ruangan di kedai itu yang Jongin ketahui adalah dapur.
Jongin yang melihat itu tersenyum dari kejauhan dan memutuskan untuk duduk disana dan memesan beberapa makanan. Sebenarnya ia hanya modus saja melakukan hal itu agar dapat melihat dan memantau Kyungsoo jika wanita itu akan baik-baik saja, walaupun sebenarnya Jongin memang lapar karena sejak kemarin malam ia sama sekali belum mengisi perutnya.
Jongin menunggu pesanannya dengan menebak-nebak apa yang Kyungsoo lakukan didapur itu. Terlebih lagi ia melihat tangan Kyungsoo yang penuh akan goresan. Jongin mulai berpikir jika Kyungsoo menjadi tukang cuci piring disana hingga membuat tangannya tergores karena Kyungsoo sering memecahkan piring-piring itu.
"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Jongin pada pelayan yang mengentarkan makanannya.
"Ya tuan?" Jawab pelayan itu.
"Aku melihat wanita buta menggunakan tongkat berjalan kearah dapur. Siapa wanita itu?" Tanya Jongin lagi.
"Oh Kyungsoo eonni dia bekerja disini dan menjadi tukang masak disini tuan. Jika anda tahu pasti anda tidak akan percaya dia benar-benar wanita yang hebat." Jelas gadis itu.
Jongin merasa tertegun dengan jawaban sang pelayan itu. Ia tak menyangka jika Kyungsoo semahir itu dalam memasak. Ia benar-benar salut dengan wanita itu walaupun ia buta tapi ia dapat melakukan segalanya sendirian.
Jongin mengulas senyuman diwajahnya saat mengetahui fakta itu.
"Oh seperti itu baiklah terima kasih." Ucap Jongin dan dibalsa dengan anggukan oleh pelayan itu yang kemudian meninggalkan Jongin sendirian disana.
Jongin benar-benar sangat mengagumi sosok Kyungsoo yang begitu tangguh dan tidak menyerah pada keadaannya walaupun saat ini Kyungsoo memiliki kekurangan.
"Entah kenapa aku justru merasa semakin jatuh hati padamu Do Kyungsoo." Kata Jongin dengan senyumannya.
.
.
.
Kini langit sudah berubah menjadi warna menjadi gelap tapi Jongin masih tetap setia duduk disana tanpa berniat bangkit dari tempatnya itu.
Hingga akhirnya kedai itu tutup dan mau tak mau Jongin harus pergi dari sana karena memang sebenarnya sejak tadi pelayan yang ada disana sudah melihatnya sejak dari siang.
Jongin berdiri didepan kedai itu dan menunggu Kyungsoo keluar dari sana. Sekarang hari sudah malam, jadi Jongin takut jika terjadi sesuatu dengan Kyungsoo.
Dan akhirnya terlihatlah seorang wanita yang menggunakan tongkat agar membantunya menunjukkan jalan menuju ke flat kecilnya. Jongin yang melihat itu segera mengikuti Kyungsoo dari belakang.
Kyungsoo berhenti sejenak karena ia merasa ada seseorang yang mengikutinya itu kini mulai panik dan ketakutan. Setelah itu Kyungsoo kembali melanjutkan perjalanannya dengan setengah berlari.
Jongin yang masih mengikutinya itu merasa sedikit heran dengan apa yang terjadi pada Kyungsoo. Bahkan seingatnya jalan yang saat ini Kyungsoo lalui bukanlah jalan yang sama dengan arah flat Kyungsoo.
Kyungsoo semakin mempercepat jalannya saat Jongin terus saja mengikutinya. Ia merasa sangat ketakutan dengan orang itu. Hingga akhirnya Kyungsoo sampai pada tujuannya.
Dengan cepat Kyungsoo mengetuk pintu rumah itu karena ia sanagt merasa ketakutan dengan sosok yang mengikutinya sejak dari kedai.
"Halmoni..." Panggil Kyungsoo dengan mengetuk pintu rumah itu.
Jongin hanya berdiri dijarak yang cukup jauh dari tempat Kyungsoo. Ia semakin heran dengan Kyungsoo yang terlihat panik dan memanggil seseorang didalam sana.
Hingga akhirnya muncullah sosok wanita tua yang Jongin lihat di kedai tadi. Kyungsoo terlihat sedang berbicang dengan wanita tua itu dengan ekspresi yang ketakutan.
"Halmoni apa kau melihat seseorang dibelakangku?" Tanya Kyungsoo dengan panik.
Wanita tua itu kemudian melihat kearah sekelilingnya dan ia menemukan sosok laki-laki tinggi dengan pakaian berjasnya.
"Aku melihat seorang pria disana." Katanya dengan berbisik pada Kyungsoo.
"Apa kau ketakutan?" Tanya wanita itu lagi dengan lembut.
Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya dan terlihat memang wanita itu sangat ketakutan terlebih lagi tangannya yang bergetar dan dingin.
"Masuklah. Hari ini kau menginap saja disini." Ajak wanita tua itu dengan menuntun Kyungsoo untuk memasuki rumah itu.
Jongin semakin mendekatkan dirinya menuju ke rumah itu. Ia merasa sangat penasaran mengapa Kyungsoo bisa pergi kerumah itu bahkan jika dilihat wanita tua itu sangat menyayangi Kyungsoo, seingatnya Kyungsoo tidak memiliki siapapun lagi kecuali dirinya.
Jongin benar-benar penasaran dengan rumah dan wanita tua itu. Ia kemudian mengamati rumah itu dengan seksama.
"Jika dia bisa tinggal disini kenapa dia harus tinggal ditempat kecil seperti itu?" Kata Jongin dengan menatap rumah itu yang terlihat lebih besar dan layak daripada flat kecil Kyungsoo.
Jongin berusaha mengintip didepan rumah itu. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang kedua wanita itu lakukan. Dan Jongin juga harus memastikan jika Kyungsoo aman bersama wanita tua itu.
Saat Jongin sibuk dengan jendela yang berada disana yang ia gunakan untuk mengintip kejadian didalam sana, tiba-tiba ia merasa sesuatu yang kerasa menghantam kepalanya dari arah belakang. Dengan cepat Jongin membalikkan tubuhnya dan melihat siapa orang yang berani memukulnya.
"Dasar laki-laki kurang ajar! Bisa-bisanya kau mengikuti seorang perempuan buta." Kata orang itu yang ternyata adalah wanita tua yang tadi ia lihat bersama Kyungsoo.
Wanita tua itu terus memukul Jongin menggunakan sebuah payung hingga Jongin terjatuh ditanah. Jongin meringis kesakitan saat tubuhnya terus-terusan dipukul oleh wanita tua itu.
"Halmoni hentikan." Pinta Kyungsoo saat ia mendengar sebuah suara yang begitu familiar ditelinganya.
Tetapi wanita tua itu tidak mendengarkan Kyungsoo dan masih tetap memukuli Jongin. Hingga akhirnya Kyungsoo berdiri didepan Jongin dan berusaha melindungi pria itu.
"Halmoni kumohon hentikan." Pinta Kyungsoo lagi.
Jongin yang melihat itu merasa hatinya tersentuh karena Kyungsoo masih tetap saja membelanya disaat ia sudah melakukan banyak kesalahan.
"Kyungsoo." Panggil Jongin lirih.
Wanita tua itu menatap Kyungsoo dan Jongin dengan tatapan herannya.
"Kau mengenalnya?" Tanya wanita itu dengan menatap keduanya.
"Dia suamiku." Jawab Kyungsoo.
"Bukan dia mantan suamiku." Lanjut Kyungsoo dengan tatapan kosongnya.
"Jadi dia pria kurang ajar itu? Kalau begitu aku harus memberinya hukuman." Kata wanita tua itu dengan kembali memukul Jongin.
Dan lagi-lagi Jongin meringis kesakitan karena saat ini badannya memang seakan remuk. Bayangkan saja jika selama dua hari ia mendapat begitu banyak pukulan dibadannya terlebih lagi ia juga mendapat siraman dari Kyungsoo tadi pagi, dan itu membuatnya merasa kurang sehat karena ia tak mengganti bajunya.
"Halmoni hentikan. Lebih baik biarkan saja dia pergi." Ucap Kyungsoo.
"Kenapa? Apa kau merasa kasihan pada pria ini? Pria brengsek seperti ini bahkan lebih pantas mati." Kesal wanita tua itu.
"Halmoni sudah malam lebih baik kita masuk. Udara malam tidak baik untukmu halmoni. Kau akan mengotori tanganmu jika kau terus memukulnya seperti ini, biarkan saja dia." Kata Kyungsoo pada wanita itu.
"Kau benar Kyungsoo lebih baik kita masuk saja ayo." Ajak wanita itu yang mulai berjalan memasuki rumahnya.
"Sudah kukatakan jika aku tidak ingin bertemu lagi denganmu Kim Jongin. Pergilah jangan menenmuiku, sekarang aku sudaj merasa tenang disini jadi jangan merusak hidupku lagi." Ucap Kyungsoo dengan tatapan kosongnya.
Jongin hanya bisa terdiam ditempatnya sekarang ini. Ia merasa tak memiliki tenaga untuk bangkit dari tempatnya. Ia merasa perutnya begitu sakit karena pukulan yang ia dapatkan dari wanita tua itu terlebih lagi luka yang kemarin ia dapatkan juga belum sembuh total.
Setelah mengatakan hal itu Kyungsoo segera melangkahkan kakinya menuju kedalam rumah itu dan meninggalkan Jongin terkapar sendirian disana.
Melihat itu Jongin ingin sekali memanggik Kyungsoo dan mencegahnya namun entah apa yang terjadi saat ia membuka mulutnya suaranya justru tak keluar. Bahkan kini pandangannya mulai berkabut tak jelas.
'Apapun yang terjadi. Apapun yang kau lakukan padaku bahkan jika kau membunuhku sekalipun aku akan menerima semuanya. Jika memang aku akan mati saat ini juga, aku akan bersyukur karena sebelum kepergianku ini aku masih diberi kesempatan untuk melihatmu, menatapmu walaupun kau tak sudi untuk menatapku. Kepergianku akan terasa menyenangkan sekarang karena aku bisa menatapmu disaat terakhirku.'
Jongin tersenyum lemah dan menatap kepergian Kyungsoo dari sana. Kini pandangannya semakin meredup.
'Kebahagiaan tersbesarku adalah disaat tuhan masih baik kepadaku karena telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu meskipun diakhir kehidupanku.'
Pandangan Jongin semakin menggelap hingga akhirnya ia benar-benar menutup matanya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
.
.
Hayoo loh gimana nasih Jongin? :v. Sebelumnya Hee minta maaf karena Hee bener-bener sibuk banget akhir-akhir ini. Mungkin kalo kalian bersedia ngerjain tugas Hee, Hee bakal sering up :v. Oke sekian, maaf kalo ada salah-salah kata dalam penulisan, typo yang bertebaran dan juga cerita yang mengenaskan :v. Maaf juga kalo ff ini udah buat kalian sedih kan emang sengaja dikasih berbagai macam bawang didalam ff ini :v. Makasih juga yang udah sering nagih up dan banyak requestnya. Hee seneng banget sampe ada yang ngechat jadi lumayan bisa dijadiin temen chat. Udah deh kayaknya ini kebanyakan. Sekian dan terima kasih.
See you next chapter~~
Salam cinta dari Hee :*
.
'Dongvil'
