ragile Love Chapter 8

all the cast belong to their parents and god but the plot is mine

this is a boy x boy fanfiction so if you don't like it don't read it!

may have some mature content.

enjoy reading~


PREVIOUSLY ON CHAPTER 7

.

.

.

"Maafkan aku. Aku pasti mengagetkan kalian. Terima kasih, Yixing, atas bantuanmu." Yixing membelalak melihat pemuda itu mengetahui namanya.

"S-siapa kau?" Tanya Yixing takut. Pemuda itu tersenyum dan sebelum mulutnya sempat bersuara, matanya menatap Tao yang bersembunyi dibelakang Kris, seketika mata itu terlihat waspada. Tapi, pemuda itu segera mengalihkan pandangan dan menjawab pertanyaan Yixing.

"Aku sama dengan kalian semua, namaku…"

CHAPTER 8

.

.

.

Xiumin menatap wajah pemuda itu dan merasa dia mengenal pemuda itu di suatu tempat.

"Taehyung?" Xiumin memotong perkataan pemuda itu dan mengucapkan nama yang dia ingat begitu melihat wajah pemuda itu. Pemuda itu mengangguk dan membenarkan ucapan Xiumin.

"Bagaimana kau bisa mengetahui namanya Xiumin?" Tanya Chen bingung.

"Aku tidak terlalu yakin, tapi aku ingat pernah melihat wajahnya di suatu tempat, dan kini aku tau dimana, dia yang memberikanku buku mantra yang kupakai untuk menghapus ingatanku dulu. Dan lagi, saat aku bertemu dengan Chen di bandara, dia juga ada disana, dan saat aku sedang berjalan di Roma, dia juga ada di tempat tempat yang aku datangi." Kris mengernyit curiga, kecurigaannya bertambah mendengar perkataan Xiumin.

Tapi, Kyungsoo menatap wajah sendu pemuda itu, Taehyung, seksama. Dia mengingat bahwa dia juga pernah melihat wajah itu di suatu tempat. Kyungsoo seketika terkesiap ketika mengingat dimana dia melihat wajah itu.

"K-kau, apa kau juga berada disana?" tanya Kyungsoo takut takut. Taehyung menatap Kyungsoo seolah olah berusaha membaca pikirannya, yang memang dia lakukan. Taehyung mengangguk dan berkata pelan.

"Ya, benar Kyungsoo. Aku juga berada disana, salah satu dari kalian." Chanyeol yang tidak mengerti segara bertanya apa yang dia maksud, dan Kyungsoo menjawab dengan suara yang bergetar.

"Di-dia juga berada di fasilitas tempat kita diciptakan. Ketika kita melarikan diri, aku melihatnya di salah satu kubus kaca, awalnya aku mengira itu hanya bayanganku, dan ketika aku melihat sekali lagi, memang tidak ada siapa siapa diasana. Sehingga aku hanya melupakannya. Tapi, kini aku yakin bahwa itu memang dia. Tapi, wajah yang dulu kulihat tersenyum, seolah dia tidak takut jika dia kita tinggalkan, malah wajah itu terlihat lega."

"Ya, yang kau lihat memang aku. Dan saat itu aku senang dan lega melihat kalian berhasil melarikan diri. Tapi, aku tidak ingin menghambat kalian. Sehingga aku segera membuat diriku menghilang. Lagipula mudah saja bagiku untuk pergi dari sana." Taehyung menunduk. Baekhyun menatap pemuda itu dan menyadari bahwa dia seorang alpha, perasaanya mengatakan bahwa pasti telah terjadi sesuatu pada omega miliknya, namun, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.

"Kau, apa yang terjadi diatas sana" tanya Kai.

"Itu semua akibat dari perbuatan salah satu temanku, ah, sahabatku lebih tepatnya. Kami semua mengalami hari yang berat tak lama setelah kalian pergi. Dan hal itu membuat sahabatku kehilangan hartanya yang paling berharga, dan juga hartaku.. Kami berdua telah kehilangan mate kami." Taehyung menatap Baekhyun, yang bersembunyi di belakang Chanyeol, tatapan itu membuatnya takut.

"Kurasa, kau lebih baik istirahat, aura kehidupanmu masih lemah. Lebih baik kau beristirahat lebih dulu." Yixing membantu Taehyung berdiri dan membawa pemuda itu ke dapur, membuatkannya makanan. Yang lain hanya menatap dari kejauhan, masih mencerna kenyataan bahwa ada lebih banyak daripada mereka yang dijadikan kelinci percobaan. Chen memeluk Xiumin yang masih bingung dengan berbagai hal yang terjadi hanya dalam beberapa minggu ini.

Kris sendiri menatap Taehyung dengan waspada, pemuda itu menyadari tatapan Taehyung yang berubah ketika matanya bersitatap dengan Tao. Taehyung duduk dengan tenang di dapur dan menatap makanan di hadapannya, tangannya memancarkan cahaya putih yang membuat mangkuk bubur di hadapannya ditutup kabut putih sebelum dia masukkan ke dalam mulutnya.

"Anu, jika aku boleh bertanya, apa kekuatanmu?" Tanya Kyungsoo sembari duduk di depan Taehyung.

"Aku tidak memiliki kekuatan yang spesifik, berbeda dengan kalian. Jika Tao mengendalikan dimensi waktu, aku dapat dikatan mengendalikan dimensi ruang, selain itu aku juga memiliki kelebihan untuk memurnikan benda benda yang kusinari dengan cahaya di tanganku."

Kyungsoo menatap Tao kaget. Selama ini dia mengira Tao hanya dapat menghentikan waktu, alih alih mengendalikan waktu itu sendiri.

"Dan bagaimana dengan temanmu yang tadi kau katakan sebagai penyebab semua kekacauan di atas?" Tanya Chen angkat bicara setelah diam sedari tadi.

"Temanku itu memiliki kekuatan yang berbanding terbalik denganku, jika aku memurnikan, maka dia merusaknya. Dan tidak hanya itu, dia memiliki kemampuan untuk menyerap dan merengut life fource atau dapat juga kita sebut soul seseorang." Yixing membelalak kaget, kini dia tau alasan kenapa aura kehidupan pemuda itu sangat lemah. Bagaimana bisa seseorang diberi kekuatan semengerikan itu.

"Tapi, aku dapat dikatan munafik jika hanya memberitahukan kalian kekuatanku yang 'baik' saja. Kekuatanku juga dapat digunakan untuk memurnikan jiwa seseorang, yang dalam memurnikan diartikan sebagai membuat jiwa itu menjadi satu dengan alam, yang kemudian membuat tubuh jiwa tersebut melebur menjadi satu dengan alam." Taehyung terdiam sebentar, dua belas pemuda lainnya ikut diam, membiarkannya melanjutkan. Tangan Taehyung meraih sebuah apel di dekatnya.

"Setiap benda memiliki jiwa, bahkan apel ini sekali pun. Jika aku memurnikannya maka yang terjadi adalah.." Taehyung memainkan selarik kabut putih mengelilingi apel yang kemudian bercahaya dan begitu cahaya itu hilang, apel tersebut sudah lenyap hanya menyisakan setangkai dandelion.

Udara di ruangan itu terasa lebih ringan dan menenangkan. Semua menatap Taehyung bertanya tanya.

"Itu yang terjadi. Udara terasa lebih ringan karena udara ikut dimurnikan ketika jiwa yang murni bersatu dengannya." Taehyung kemudian mengambil tangkai dandelion yang perlahan berkilau dan menghilang menyisakan partikel partikel bercahaya.

Baekhyun menatap wajah Taehyung seksama dan melihat wajahnya dan wajah dirinya memiliki kemiripan. Seolah menyadari tatapan Baekhyun, Taehyung menatap mata namja itu.

"Baekhyun, kurasa kau sadar dengan kemiripan kita, hmm.. aku sebenarnya merupakan gabungan dari genmu dan gen Chanyeol, karena kalian merupakan subjek yang berhasil, sehingga para ilmuan menganggab bahwa itu akan memperbesar kemungkinan bagiku untuk berhasil juga. Karena itulah kita memiliki kemiripan."

Chanyeol mengernyit mendengar perkataan Taehyung yang secara tidak langsung mengatakan bahwa dia merupakan anak dari genetika dirinya dan Baekhyun.

"Kurasa semua pertanyaan kalian sudah terjawab, bukan. Sekarang sudah waktunya aku pergi. Jaga diri kalian." Taehyung bangkit, namun, Xiumin menahan pemuda itu.

"T-tunggu, ada yang ingin kutanyakan, kenapa kau memberikan buku mantra itu kepadaku?"

"Aku mengira dengan memberikannya kepadamu, aku dapat menghentikan masa depan yang suram nanti, sayangnya aku hanya menundanya." Taehyung terdiam untuk sebentar, tiba tiba seluruh tubuh pemuda itu bergetar hebat, segera saja Chen menarik Xiumin menjauhi Taehyung yang kini meringkuk seperti janin, Yixing dapat melihat aura kehidupan pemuda itu seperti dihisap masuk ke seluruh tubuhnya, dan hanya dalam beberapa detik semuanya kembali normal, malah dapat dikatakan Taehyung menjadi lebih kuat.

"Oh tidak, terlalu cepat. Apa yang kau rencanakan Hyung.." Taehyung bangkit dan mendudukkan dirinya di kursi. Menatap dua belas pemuda dihadapannya dengan manik mata biru langitnya.

"Hah, aku kira kalian tidak akan perlu terlibat sampai sejauh itu, tapi kurasa aku salah, huh."

"Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Kris sedikit gentar dengan tatapan pemuda dihadapannya.

"Sebelum itu, lebih baik aku menjelaskan asal muasal semua kekacauan ini, bukan.."

Taehyung menarik napas dalam, matanya menunjukkan kesenduan yang amat sangat.

"Saat itu, aku dan hyungku sedang berbicara seperti biasa, kami berbincang dengan tenang ketika tiba tiba kepalaku terasa sangat pusing, dan sekelilingku terasa seperti berputar putar, aku dapat mendengar suara hyungku memanggilku, namun suara itu terdengar sangat jauh. Dan saat itu para ilmuan menarikku pergi dari hyungku, mereka sudah lama tidak mengusik kami lagi, aku yang merasa sangat pusing dimasukkan kedalam sebuah kubus kaca yang di dalamnya terdapat seorang pemuda yang belum pernah kutemui sebelumnya. Pemuda itu merawatku, membantuku menghilangkan rasa sakit di kepalaku."

"Sentuhan tangannya begitu menenangkan…."

Flashback on

"Hyung, apa sudah baikan?" seorang pemuda berwajah imut menatap Taehyung yang berbaring di pangkuannya. Taehyung mengangguk pelan, menolak membuka mata. Menikmati gerakan jemari tangan pemuda itu yang mengelus kepalanya. Pemuda itu, yang diberi nama Jungkook tersenyum melihat kelakuan manja hyung sekaligus mate kesayangannya itu.

"Jungkook, kenapa kau diam sekali akhir akhir ini?" Taehyung membuka matanya, gerakan tangan Jungkook berhenti, wajahnya terlihat sendu.

"Aku merindukannya, hyung.."

"Siapa?"

"Jimin, kami dulu di kubus ini bersama. Tapi, sebelum kau datang, dia dibawa pergi. Aku belum pernah melihatnya lagi sejak saat itu." Taehyung mengernyit mengingat sesuatu.

"Apa dia seorang pemuda berambut oranye?"

"Ya, bagaimana kau bisa tau, hyung?' Jungkook memiringkan kepalanya penasaran.

"Saat aku dibawa kesini aku sempat melihatnya dibawa keluar. Dia kelihatan baik baik saja saat aku melihatnya. Jangan khawatir." Jungkook mengangguk, pemuda itu perlahan bangkit setelah memindahkan kepala Taehyung dari pahanya. Tangannya mengambil buah apel di atas meja dan dengan telaten memotongnya. Dengan lembut Jungkook menyuapi Taehyung.

"Apa hyung tidak mengkhawatirkan teman hyung?"

"Maksudmu Yoongi? Tenang saja, dia sangat kuat dan aku yakin para ilmuan brengsek itu tidak akan berani menganggunya." Taehyung menyeringgai. Jungkook hanya tersenyum. Sudah terbiasa mendengar perkataan kasar keluar dari mulut matenya itu.

"Hyung, jika aku pergi dari dunia ini, apa yang akan hyung lakukan?" tanya Jungkook tiba tiba. Taehyung segera bangkit berdiri.

"Tidak, tidak. Jangan berbicara seperti itu, bunny. Hyung takkan pernah membiarkanmu pergi lebih dulu." Jungkook tertawa kecil melihat reaksi Taehyung, namun Taehyung sama sekali tidak merasa perkataan Jungkook tadi lucu.

"Hyung kita pasti berpisah, bagaimana pun caramu berusaha mengubahnya." Tepat ketika kalimat itu keluar dari bibir mungil Jungkook, pintu kubus bergerak membuka diiringi bunyi mendesing. Taehyung segera berdiri di depan Jungkook. Matanya yang biru berkilat waspada.

Tapi, ilmuan ilmuan itu sama sekali tidak berminat dengan Jungkook, mereka malah menarik Taehyung dan memberinya obat yang membuat Taehyung pingsan seketika, sementara Jungkook ditahan oleh ilmuan lain, kekuatannya yang tidak bisa digunakan untuk bertarung membuatnya tak berdaya.

Taehyung membuka matanya perlahan, cahaya yang menyilaukan membuatnya sulit melihat keadaan sekitarnya. Namun, dia menyadari dan merasakan keberadaan seseorang bersamanya di kubus itu. Sebelum Taehyung dapat melihat dengan jelas siapa yang berada bersamanya di kubus kaca itu, kubus itu mulai ditutupi kabut berwarna hijau.

Pikiran Taehyung mulai tidak jelas, seolah olah pikirannya sendiri melawan dirinya. Kabut itu terus berubah warna menjadi merah, hitam, dan warna lainnya. Kabut putih milik Taehyung segera berusaha melindungi dirinya, namun kabut tersebut bercampur dengan kabut miliknya, membuat Taehyung lebih menggila.

Saat dia melihat ke depan, siluet seseorang ditangkap matanya, siluet itu menahan tubuhnya dan sepertinya mengatakan sesuatu, tapi Taehyung tidak dapat mendengarnya. Pikiran Taehyung yang mulai menggila membuat pemuda itu melepaskan diri dari cengkeraman sosok di hadapannya.

Entah efek kabut itu atau tidak, Taehyung dapat merasakan kalau sosok itu berusaha menembus pikirannya, menyakitinya setidaknya itu yang Taehyung rasakan. Taehyung menggeram pelan, memberi peringatan.

Saat sesuatu seperti listrik menyetrum tubuhnya, Taehyung hilang kendali, dengan tenaganya yang dia kerahkan sepenuhnya, Taehyung menerjang sosok itu, menatap mata sosok itu menggunakan mata birunya yang berubah menjadi merah menyala, sosok dikukungannya itu menjerit ketakutan, perlahan jeritan memilukan itu menghilang, hingga hanya keheningan yang tersisa. Tubuh dikukungannya perlahan menghilang dan hanya menyisakan setangkai dandelion yang tak lama layu.

Kabut yang menutupi kubus tersebut menghilang dan hal pertama yang dilihatnya adalah hyungnya yang menatapnya dengan tatapan yang sulit dia artikan, serta Jungkook yang membelalak ketakutan di dekat hyungnya.

Taehyung hanya tersenyum melihat Jungkooknya aman bersama hyungnya, tidak menyadari sama sekali bahwa dia baru saja membunuh seseorang.

Pekikan yang memilukan membangunkan Taehyung dan yang dia lihat adalah jungkook dicekik oleh hyungnya, Jungkook menatap kearahnya dan bibirnya bergerak mengatakan

"Aku mencintaimu." Tanpa suara, Taehyung menatap hyungnya kaget, tidak mengerti kenapa hyungnya itu melakukan hal itu kepada matenya. Namun, tubuhnya tak dapat dia gerakkan, hanya bibirnya yang terus meneriakkan nama Jungkook secara terus menerus, serta memekikkan teriakan yang menyakitkan ketika tubuh Jungkook terduduk perlahan begitu, hyungnya melepaskan cengkeramannya.

Taehyung terduduk dan menatap kosong kedepan, tidak dapat berpikir jernih lagi. Air mata mengalir perlahan dari matanya. Sementara hyungnya yang dipanggil Yoongi hanya menatapnya datar, dan membalikkan badannya. Duduk membelakanginya, namun tubuh mungil pemuda itu bergetar, Taehyung yang merasa kosong tidak menyadari bahwa hyungnya itu sedang merasa hancur.

Yoongi menangis kecil, sesegukan pelan. Di pikirannya terputar lagi kejadian 2 jam yang lalu, saat mate kesayangannya yang berada di pelukannya ditarik pergi dan ditempatkan di kubus yang juga ditempati oleh taehyung. Air matanya semakin deras mengalir ketika mengingat wajah ketakutan Jimin saat jiwanya ditarik dan dimurnikan secara perlahan oleh adiknya sendiri yang selama ini dia percaya.

Wajah manis itu kini sudah dipenuhi air mata, terlebih ketika dia sadar bahwa dia tidak sempat mengatakan kalimat perpisahan kepada Jimin kesayangannya. Mengingat wajah Taehyung yang tersenyum setelah membunuh Jiminnya membuat Yoongi muak, sangat muak.

Nuraninya berontak ketika dia menghisap kehidupan Jungkook yang tak lain adalah mate Taehyung, namun amarah benar benar sudah menutupi nuraninya, membuat teriakan nuraninya hanya seperti desisan pelan angin yang berlalu.

Taehyung sendiri masih terduduk, tangannya menutup wajahnya dan air mata semakin mengalir di wajah tampannya. Jungkooknya yang manis dan imutnya, sudah pergi, benar benar pergi. Rasanya seperti dia sudah sangat lama tidak memeluk tubuh mungil itu.

Pemuda itu menjerit keras, meraung sedih dan pilu hingga suaranya menjadi serak. Namun, rasa sakit itu masih ada, menekan dan seperti menusuk jantungnya berkali kali. Semakin bertambah sakit setiap kali dia menarik napas.

Yoongi hanya diam tak mempedulikan jeritan dan raungan pemuda di belakangnya, perasaannya ikut mati ketika dirinya sadar bahwa Jimin sudah hilang. Manik mata abu abunya menggelap hingga terlihat seperti kegelapan absolut yang tak dapat ditembus cahaya.

Kilasan kilasan ingatannya bersama Jimin kembali terputar di pikirannya. Penyesalan mulai terbentuk di dalam dirinya. Kenapa dia tidak pernah memanjakan bayi mungilnya itu, kenapa dari dulu dia bersikap dingin dan tak acuh kepada Jiminnienya yang manis.

Seiring penyesalan yang terbentuk nurani Yoongi semakin tenggelam lebih jauh. Hingga tak lagi dapat terdengar jeritannya.

Yoongi bangkit dari duduknya, tanpa melihat ke belakang dia menghilang dan muncul kembali ke tempat dimana para ilmuan bejat itu menonton kejadian di hadapan mereka. Satu persatu Yoongi mengambil kehidupan mereka, hingga tak lagi bersisa. Kekuatannya semakin berkembang.

Pemuda itu pergi dan menghilang di balik pintu lab tempat dirinya diciptakan. Meninggalkan Taehyung yang masih tak mampu berkata apa apa, pemuda itu bangkit dan berjalan tertatih mendekati kubus dihadapannya. Ketika dia sampai di tempat tubuh Jungkook terduduk, mata Jungkook yang dulu selalu berbinar ceria berkilau indah kini terlihat sangat kosong.

Taehyung memeluk tubuh itu dan kembali menangis, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Jungkook sudah terasa dingin. Wajah Taehyung yang dulu terlihat ceria kini diselimuti rasa sedih dan sendu. Perlahan taehyung membaringkan tubuh Jungkook dan menutup matanya, dari tangannya memancar cahaya putih yang memancar lembut, tubuh Jungkook perlahan memudar, dan menghilang, meninggalkan partikel berkilauan yang kemudian melayang dan mengitari tubuh Taehyung.

Pemuda itu tersenyum samar, ketika semilir angin lembut membelai pipinya, Taehyung dapat merasakan keberadaan Jungkook di dekatnya, seolah olah sedang memeluknya dengan lembut. Taehyung berlutut dengan air mata yang mangalir perlahan di pipinya.

Bibirnya mengeluarkan suara sesegukan pelan yang akhirnya mereda. Saat Taehyung merasa bahwa dia sudah dapat melanjutkan lagi hidupnya, dia pun ikut meninggalkan fasilitas itu. Menuju ke dunia luar yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Diluar sana lah dia bertemu kedua belas pemuda yang dulu dia lihat melarikan diri. Dan buku mantra yang dia tulis sendiri dia berikan kepada salah satu dari mereka, dengan harapan, masa depan yang dia lihat saat dia tertidur dapat dihentikan.

Namun, tentu saja dia tidak bisa menghentikan masa depan. Dan hanya dapat mengubahnya menjadi tidak terlalu kelam.

Taehyung terus mengawasi kedua belas pemuda itu dan membantu setiap kali dia bisa, baik dengan memberikan mimpi maupun membuka segel ingatan yang menutupi ingatan salah satu dari mereka.

Ketika Xiumin bergabung kembali dengan teman temannya, berkumpul dimana tempat dia seharusnya berada, bersama keluarganya yang sebenarnya. Saat itulah Yoongi kembali beraksi.

Pemuda yang tak pernah lagi bertemu dengannya, yang selalu menyembunyikan diri, namun masih terdengar jejaknya yang biasanya diikuti dengan berita kematian seseorang kembali memunculkan diri. Dan Taehyung tau alasannya.

Untuk mengembalikan Jimin, mate Yoongi yang tak sengaja Taehyung rengut kehidupannya. Menyebabkan Yoongi kehilangan akal sehatnya dan membuatnya mengikuti bisikan sisi jahatnya. Dengan keinginan gilanya untuk kembali membangkitkan Jimin walau hanya sebentar, dengan memutar kembali waktu.

Flashback off

"Tu-tunggu, memutar kembali waktu?" Luhan menatap Taehyung yang mengangguk. Matanya yang biru menatap Tao.

"Pemuda itu, Tao, dengan kekuatannya dia dapat memutar kembali waktu, tapi tentu saja dengan bayaran yang sangat mahal."

Kris menggenggam tangan Tao erat.

"Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa hyungmu, Yoongi, ingin menggunakan Tao untuk memutar balikkan waktu demi Jimin, matenya, yang dapat membuat Tao kehilangan nyawanya?"

Kris menatap Tao yang takut, dalam hatinya bertekad untuk melindungi pandanya dengan jiwanya.

"Karena itu, kita harus menghentikannya. Aku tak bisa menghentikan hyungku sendirian, apalagi dia memiliki pengikutnya sendiri." Jawab Taehyung tanpa memberikan jawaban dari pertanyaan Kris.

Xiumin tanpa ragu ragu mengangguk. Diikut Chen dan yang lainnya. Ya, mereka awalnya memang tidak ingin berlagak pahlawan. Namun, dengan keadaan yang memaksa mereka akan melakukan apapun yang diperlukan untuk melindungi satu sama lain.

"Aku akan melatih kalian untuk benar benar mengontrol kekuatan kalian dengan baik terlebih dahulu. Kita tak mungkin dapat mengalahkan Yoongi hyung tanpa persiapan. Kalian siap?" Tanya Taehyung, dua belas pemuda dihadapannya saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk yakin.

-TO BE CONTINUED-


Annyeong~

saya balik, lama ya :v

makasih buat yang udah nunggu, ndeee~

chapnya kali ini pendek, lagi writer block, ehe :v

review jangan lupa ndee, i nit saran aih :'

tungguin updat selanjutnyaa jsy~`

love you readers :3