Dengan langkah kaki yang gontai, Kuroko Tetsuya berjalan menuju pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya. Kepalanya pusing bukan main sehingga ia harus berpegangan pada benda-benda yang ada di sekelilingnya supaya tidak terjatuh.

Dengan tubuh yang lemas Kuroko membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju toilet duduk kemudian memuntahkan isi perutnya disana. Matanya sayu namun masih dapat melihat bahwa isi perutnya sudah berbentuk cair, bukan lagi sisa makanan.

Sudah berapa kali aku muntah? Batin pemuda yang sebentar lagi akan menginjak usia sembilan belas tahun itu.

Kuroko kembali memuntahkan isi perutnya di toilet duduk tersebut. Ia benar-benar berantakan. Rambutnya yang sulit diatur ketika bangun tidur ditambah dengan keadaannya yang kacau sekarang membuat semua orang berpikir bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Sial, umpat pemuda berambut biru muda tersebut ketika muntahannya salah memasuki rongga. Bukannya keluar melalui tenggorokan, muntahan itu malah masuk ke dalam jalur pernafasannya. Benar-benar menyiksa ketika ia bernafas.

"Uunngggg.. lepaskan aku dari penderitaan ini.." Dengan wajah kusut ia bangkit berdiri dengan bantuan dinding kamar mandi. Ia menekan tombol flush dan beralih pada wastafel untuk mencuci muka serta berkumur. Hidungnya terasa sakit karena salah jalur tadi.

Kuroko kembali berjalan dengan gontai keluar kamar mandi menuju tempat tidurnya. Ia baringkan tubuhnya yang terasa panas dingin itu sebelum ia tarik selimutnya. Merasa tidak nyaman, ia keluarkan satu kaki dari dalam selimut dan berusaha membuat dirinya senyaman mungkin walau gagal. Kepala yang pusing membantunya jatuh ke alam mimpi dengan cepat untuk kesekian kalinya.

Selang tiga puluh menit, Kuroko kembali bangkit dari tempat tidur yang empuk itu dan berjalan ke arah kamar mandi. Untuk kesekian kalinya ia kembali memuntahkan isi perutnya di toilet duduk. Ia sudah tidak tahu apa yang ia muntahkan karena seingatnya ini adalah ketiga, keempat, atau keberapa kalinya ia muntah dalam kurun waktu.. jam berapa sekarang?

Ketika selesai dengan ritualnya, Kuroko bangkit berdiri sambil berpegangan pada dinding lagi. Namun naas, sepertinya tubuhnya tidak mengizinkan sang pemilik kembali ke tempat tidur lagi karena sekarang tubuh Kuroko tergeletak di atas lantai kamar mandi yang sedikit basah karena air yang tidak sengaja ia tumpahkan ketika hendak minum setelah muntah tadi.

Kondisinya benar-benar kacau.

Sudah muntah-muntah, kepala pusing, tidur tidak nyaman, wajah pucat, pingsang lagi.

Kuroko Tetsuya didiagnosis sedang sakit.

.

.

.

Tetsu-nanny!

Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Genre :
Romance/Family

Rated :
K+

Warning :
AU, OOC, Typo(s), gaje, alur kecepatan, humor garing, shounen-ai, chibi!GOM (minus Akashi), dan kekurangan lain sehingga tidak bisa disebutkan satu-satu.

Happy Reading~

.

.

.

Day 8―

"PAPA!" Akashi langsung terlonjak kaget ketika mendengar putra sulungnya berteriak seperti itu. Akashi yang sedang mengecek dokumen pekerjaan di meja makan segera menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk dapur dan mendapati Shintarou yang terengah-engah sambil memegang sebuah guci antik di tangannya memasang raut panik.

Saudara-saudaranya yang berada di ruang makan sambil memakan sarapan menoleh kepada si kepala hijau itu juga. Sorot mata mereka menyiratkan tanda tanya besar mengapa si sulung hijau berteriak seperti itu, pasalnya si sulung terkenal dengan sifat tenang dan berkepala dingin di antara mereka semua.

"Ada apa, Shintarou?" Akashi bertanya namun detik berikutnya ia sadar bahwa misi yang ia berikan kepada Shintarou tidak dijalankan dengan baik, "Dimana Tetsuya?"

"Itu.." Shintarou menunjuk-nunjuk koridor rumah dengan wajah panik. Iris hijau dibalik kacamatanya menyiratkan kepanikkan yang luar biasa.

"Ada apa?" Akashi berusaha sabar dengan anaknya itu, "Jangan bertele-tele."

"Kuroko-san pingsan di kamar mandi!" Akhirnya ia dapat mengeluarkan satu kalimat itu dari tenggorokannya.

"Kuroko-cchi!" Ryouta langsung turun dari kursinya diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain.

Sebagai majikan yang baik, Akashi mengikuti langkah-langkah kecil anak-anaknya tersebut menuju kamar tamu yang sekarang menjadi milik Kuroko Tetsuya tersebut. Shintarou yang memimpin di depan membuka pintu kamar tamu tersebut dan berlari menuju kamar mandi yang pintunya terbuka.

Disana Akashi melihat Kuroko Tetsuya yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi. Rambutnya acak-acakkan, wajahnya pucat pasi, serta matanya terpejam seolah lantai kamar mandi adalah tempat paling nyaman untuk tidur.

"Papa-chin.." Atsushi menarik celana Akashi dan si empunya celana segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengangkat tubuh ringkih milik Kuroko ala bridal style. Anak-anaknya menatap Ayah dan babysitter mereka dengan pandangan khawatir.

Tubuh itu terlalu kurus dan ringkih untuk ukuran seorang laki-laki, catat Akashi di dalam hati.

Dengan mudah Akashi memindahkan tubuh itu dari lantai kamar mandi menuju tempat yang lebih nyaman. Tubuh itu menggeliat tidak nyaman di atas tempat tidur. Wajah Kuroko yang pucat tertekuk tanda tak nyaman. Dengan perlahan mata itu terbuka dan menampakkan iris biru yang sayu. Pandangannya tidak fokus sama sekali. Nafasnya juga terengah-engah seperti orang yang baru saja lari maraton seribu kilometer.

Refleks, Akashi mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening pemuda berambut biru muda tersebut. Panas sekali.

"Dingin.." Igau Kuroko ketika merasakan tangan Akashi yang besar dan dingin menyentuh keningnya sebelum kembali tertidur.

Akashi merogoh saku celananya dan mengambil ponsel merahnya untuk menelpon sesorang.

..

..

Seorang pria dengan rambut putih mendominasi kepalanya berjalan keluar dari kamar Kuroko guna menghadap sang pemilik rumah. Stetoskop yang ia gunakan untuk memeriksa pasien sudah dilepaskan dari telinganya dan sekarang bertengger manis di lehernya. Iris dibalik kacamata itu menatap Akashi dengan lembut.

"Kuroko-kun hanya masuk angin biasa. Dalam beberapa hari ia akan sembuh. Ia juga kelelahan jadi biarkanlah dia istirahat sampai sembuh total. Disarankan juga ia harus mengkonsumsi makanan sehat agar cepat pulih. Aku akan menulis resep dan memberikan obat untuknya." Dengan itu pria yang bekerja sebagai dokter itu memberikan sebuah botol dengan isi tablet berwarna putih sebelum undur diri dari pemilik perusahaan Rakuzan tersebut.

"Papa, apakah Tetsu-san baik-baik saja?" Daiki menatap sang Papa yang menggenggam sebuah botol obat.

"Tetsuya hanya kelelahan saja. Dia akan sembuh dalam beberapa hari." Akashi memasuki kamar Kuroko dan meletakkan botol obat itu di meja kecil di samping tempat tidur. Ia memerhatikan wajah damai Kuroko yang kembali tertidur setelah diberikan obat tidur dosis rendah.

"Aku akan menyuruh maid untuk membuatkan bubur~" Atsushi berlari keluar dari kamar Kuroko yang dipenuhi oleh saudara serta Ayahnya tersebut.

"Papa-cchi tidak berangkat kerja?" Ryouta bertanya kepada sang kepala keluarga dengan raut cemberut.

"Nanti siapa yang menjaga kalian di rumah? Tetsuya sedang sakit." Akashi mengelus kepala pirang tersebut dengan lembut.

Ryouta memasang senyum kecil. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Papanya ada di rumah merawat mereka. Ia sudah lupa karena sudah sangat lama sekali terjadi. Saat itu Shintarou sedang sakit dan tidak ada babysitter yang bisa mengurus mereka sehingga Papanya terpaksa tinggal di rumah. Walaupun selalu sibuk dengan urusan pekerjaan kantor, Papanya tetaplah Ayah yang bisa diandalkan dan perhatian. Ia sangat bersyukur sudah diadopsi oleh Papanya.

Kring~ Kring~ Kring~

Suara telepon berdering memecahkan keheningan yang tercipta di kamar Kuroko. Pasukan Pelangi menoleh ke kanan dan ke kiri guna menemukan asal suara tersebut. Sedangkan Akashi langsung dapat melihat asal suara tersebut segera menyambar ponsel biru muda milik Kuroko yang terletak di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Ia buka ponsel flip tersebut dan melihat nama pemanggil.

Kaa-san.

Tanpa ragu Akashi menekan tombol hijau dan meletakkan ponsel itu di telinga kanannya.

"Moshi moshi, apa kau baik-baik saja, Tet-chan?" Suara seorang wanita terdengar dari seberang sana.

"Maaf, saya adalah Akashi Seijuurou." Akashi membalas dengan sopan perkataan wanita yang lebih tua darinya tersebut.

"Eh?!" Hening sebentar. "Ah, maaf mengganggu, tapi apakah Tet-chan ada disana?"

"Tetsuya sedang tertidur karena sakit. Saya sudah memanggil dokter dan katanya Tetsuya hanya butuh istirahat saja." Dengan nada kalem Akashi membalas wanita dengan marga Kuroko tersebut.

"Maaf merepotkan Anda, Akashi-san. Tetsuya sedari kecil memang lemah apalagi setelah perjalanan jauh. Biasanya ia akan tertidur selama dua belas jam atau sakit-sakitan." Nada bicara wanita yang merupakan Ibu dari Kuroko Tetsuya melembut. Akashi tidak melewatkan nada kekhawatiran disana.

"Tak apa. Sebagai majikan sudah seharusnya saya menjaganya. Apalagi ia masih berumur delapan belas tahun." Akashi berusaha menenangkan Ibu dari Kuroko Tetsuya dengan kemampuan persuasinya yang hebat. Namun ia juga tahu bahwa tidak mungkin menenangkan seorang Ibu yang anaknya sedang sakit dan berada di tempat yang tidak bisa ia jangkau.

"Sebagai peringatan, biasanya Tet-chan suka mengigau ketika sedang sakit. Entah apa igauannya itu. Jadi mohon maklumi kalau ia berkata yang aneh-aneh dan mungkin menyinggung."

"Terima kasih atas peringatannya, Kuroko-san." Akashi menutup matanya sambil mencerna kata-kata Ibu dari Kuroko Tetsuya tersebut.

"Kalau begitu aku titip Tet-chan padamu, Akashi-san. Terima kasih dan mohon bantuannya." Sambungan terputus begitu saja ketika kalimat dari Nyonya Kuroko selesai.

"Papa, yang tadi itu Mamanya Kuroko-san, ya?" Shintarou bertanya sambil mendongak untuk melihat wajah Papanya.

"Ya. Dia bilang bahwa Tetsuya suka mengingau kalau sedang sakit." Akashi mengambil sebuah kursi dan duduk di sebelah tempat tidur Kuroko.

"Panass~" Kuroko mulai mengingau. Kakinya mendorong selimut tebal yang membalut tubuhnya dan membiarkan dinginnya udara musim dingin yang sudah mencapai penghujung bulan menerpa tubuhnya yang hanya terdiri dari kemeja putih yang sudah diganti dan celana panjang hitam.

Akashi menghela nafas melihat tingkah laku babysitter yang ia pekerjakan itu. Tangannya mengambil selimut yang nyaris terjatuh ke lantai dan membalut tubuh ringkih itu dengan selimut tersebut. Ketika mendapatkan protes dari si pasien, Akashi menahan diri untuk tidak mengikat selimut itu pada tubuh ringkih itu mengingat udara penghujung musim dingin tidaklah baik untuk kesehatan, apalagi untuk yang sedang sakit.

Akashi menaikkan selimut itu dan membalut tubuh Kuroko dengan selimut. Anak-anaknya berinisiatif untuk menahan selimut itu dengan bobot tubuh mereka di atas kasur supaya tidak dibuang oleh babysitter mereka. Kuroko yang merasa kepanasan memberontak. Tangannya yang lemas dan kondisi pikiran yang antara sadar tidak sadar memperparah keadaan ketika ia kembali mengigau tentang buah persik dan anjingnya di rumah.

"Panass~ Sakit~ Hiks.." Kuroko sekarang menangis. Anak-anaknya memasang wajah terkejut ketika melihat babysitter mereka menangis layaknya anak kecil yang ingin diperhatikan Ibunya.

"Dasar." Akashi mengambil sebuah tisu dan mengusap air mata Kuroko yang mulai membasahi pipi seputih gadingnya tersebut dengan lembut. Berbeda dengan Akashi yang masih fokus merawat pemuda berusia jalan sembilan belas tahun itu, anak-anaknya hanya bisa cengo menonton drama picisan yang tersaji di depan mata mereka.

Jadi Papa begini ya kalau sedang merawat orang. Jadi nggak seram, batin ketiga anak yang tersisa disana. Sayang sekali Atsushi tidak menyaksikan momen langka ini.

"Dingin~" Sekarang Kuroko kembali mengingau. Tangannya yang berada di dalam selimut sekarang keluar dan menangkap tangan Akashi yang sedang menyeka air mata yang ada di keluar dari matanya membasahi pipinya. Mata sayunya perlahan terbuka dan melihat wajah tampan Akashi yang menatapnya dengan iris berbeda warna tersebut. Seolah-olah tersihir oleh kedua mata itu, Kuroko kembali mengingau, "Tangan Akashi-san dingin. Aku suka.."

Kacamata Shintarou retak.

Ryouta membuka mulutnya dengan tidak elit.

Daiki menatap horor babysitter mereka.

Akashi sendiri hanya bisa membelalakan mata sebelum dapat mengumpulkan kesadarannya setelah berada dalam tahap terkejut.

"Pst.. Tadi Kuroko-cchi bilang suka tangannya Papa-cchi, ya?" Ryouta berbisik pelan kepada Daiki yang duduk di dekatnya. Sesekali matanya melirik sang Papa agar tidak ketahuan sedang berbisik.

"Kau dengar sendiri, 'kan. Jangan banyak tanya lagi." Daiki yang baru tersadar dari tahap terkejutnya membalas saudara pirangnya tersebut. Sebenarnya ia tidak tahu harus bereaksi apa jadi ia hanya menyuruh Ryouta diam saja.

"Orang sakit memang tidak bisa ditebak, nanodayo." Shintarou berkomentar sambil menegakkan kacamatanya dengan jari telunjuk. Sebagai calon dokter masa depan, ia merasa tertarik dengan reaksi pasien dan Kuroko adalah pasien pertamanya.

"Buburnya sudah jadi~" Atsushi membawa sebuah nampan dengan semangkuk bubur di tangannya. Harumnya membuat Daiki lapar mendadak padahal ia sudah menyantap tiga lapis pancake untuk sarapan tadi.

Akashi mengambil nampan itu dan meletakkannya di atas meja kecil samping tempat tidur. Ia bingung kenapa ia yang menjaga Kuroko sekarang? Ini bukanlah tugasnya 'kan? 'Kan?

"Daiki, isi tempat air ini sampai penuh." Perintah sang Ayah kepada anaknya yang berkulit gelap itu.

"Roger!" Daiki melompat turun dari tempat tidur dan membawa tempat air tersebut menuju dapur untuk diisi.

"Papa, Kuroko-san harus makan dulu baru boleh minum obat." Shintarou memberitahu Papanya sambil menegakkan kacamatanya layaknya dokter sungguhan.

"Papa tahu." Akashi membalas pernyataan anak sulungnya tersebut dengan nada aku-sudah-tahu-kau-tidak-perlu-memberitahuku. Tapi tetap saja, ia bingung bagaimana cara membuat Kuroko memakan bubur tersebut lalu meminum obatnya.

"Ini airnya!" Daiki memasuki kamar Kuroko dan memberikan tempat air kepada Papanya, "Kok belum dimakan buburnya, Pa?"

Akashi menatap ketiga anaknya sedangkan anak-anaknya balas menatapnya dengan tatapan mengapa.

Selang beberapa detik, Akashi mengguncang tubuh ringkih Kuroko pelan guna membangunkan pemuda yang sedang sakit tersebut. Tidak ada reaksi.

"Apa Kuroko-cchi sudah mati?" Air mata Ryouta menggenang di pelupuk matanya. Akashi bingung darimana pemikiran anak bungsunya itu berasal.

"Dia hanya tertidur, Ryouta." Akashi mengangkat tubuh ringkih itu dan mendudukannya. Kepala Kuroko ia sandarkan di kepala tempat tidurnya.

"Papa-chin, bagaimana caranya memberikan Kuro-chin buburnya?" Atsushi bertanya sambil menatap interaksi kedua orang dewasa itu dengan tatapan tertarik. Ia penasaran dengan apa yang akan Papanya lakukan. Biasanya di drama-drama yang ia tonton di televisi, si pria akan memasukkan makannya melalui bibirnya yang artinya mereka ciuman. Jauh sekali pemikiranmu, nak.

Pria bersurai merah itu mengambil mangkuk bubur tersebut dan menyendok isinya kemudian meniupnya sebelum membuka paksa mulut kecil Kuroko. Ia memaksa sendok itu masuk dan meletakkan isinya di mulut itu sebelum menutupnya. Dan Akashi tetaplah seorang Akashi sehingga sekarang ia mendekatkan mulutnya ke telinga Kuroko dan membisikkan, "Kunyahlah."

Seperti robot-robot pada film science fiction, Kuroko menuruti perintah Akashi dan mulai mengunyah bubur tersebut perlahan sebelum menelannya. Hal itu terjadi berulang-ulang hingga buburnya habis. Di tengah-tengah makan, Akashi menyelipkan sebutir tablet di dalam bubur dan menyuruh Kuroko makan.

Anak-anaknya hanya menatap cengo Ayah mereka.

The power of Papa, pikir mereka semua serentak.

..

..

Di dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar, Kuroko dapat merasakan rasa sakit yang muncul di bagian belakang kepalanya. Sepertinya ia benjol karena terjatuh dan pingsan di kamar mandi tadi. Namun rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya yang panas. Ketika ia membuka mata ia melihat sosok bosnya, Akashi Seijuurou dengan tangan yang terulur padanya. Ah, tangannya dingin dan nyaman.

Kuroko menarik tangan itu dan menempelkannya pada pipinya. Ia juga dapat merasakan ranjangnya menjadi lebih berat. Mungkin Pasukan Pelangi sedang duduk di atas tempat tidurnya, pikirnya sebelum kembali tertidur.

Beberapa menit kemudian Kuroko kembali terbangun karena sesuatu memasuki rongga mulutnya. Hangat dan memiliki cita rasa. Sebuah perintah dari sebuah suara rendah yang sangat ia kenali memasuki pendengarannya dan tubuhnya mematuhi perintah itu begitu saja. Kuroko terus mengunyah sesuai dengan perintah Akashi sampai pada ia merasakan sesuatu yang pahit tidak sengaja ia gigit.

Ia kembali tertidur setelah selesai makan.

Tik. Tak. Tik. Tak.

Kuroko terbangun ketika mendengar suara jam berdetak dengan stabil. Matanya menatap langit-langit putih yang menjadi kamarnya di kediaman Akashi. Kepalanya masih terasa pusing sedikit walaupun sudah tidak seperti di kamar mandi waktu itu. Benjolnya juga sudah tidak terasa sakit lagi.

"Sudah bangun?" Suara Akashi membuatnya menatap sepasang iris heterokromatik yang sedang duduk dengan laptop di atas meja. Akashi bangkit berdiri dan menempelkan telapak tangannya di kening Kuroko, "Sudah turun."

"Sudah berapa lama aku tidur?" Suara Kuroko parau karena sudah lama tidak digunakan.

"Sudah dua hari panasmu tinggi. Sekarang baru turun. Sudah agak baikan?" Akashi mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur itu.

Jadi ia tertidur selama dua hari?

"Maaf sudah merepotkan, Akashi-san." Kuroko mengucapkannya dengan suara yang lemah. Tubuhnya masih belum sembuh secara total sehingga ia merasa lemas sekarang padahal baru saja bangun.

"Bukan masalah. Anak-anak sangat khawatir padamu. Ryouta sampai menangis dan Atsushi selalu menemanimu sampai tertidur. Aku baru memindahkannya ke kamarnya." Akashi memijat pelipisnya. Kuroko dapat melihat kantung mata di wajah bosnya yang tampan itu.

"Akashi-san," Panggil Kuroko dengan mata yang mulai terpejam lagi, "tidurlah."

Akashi mendengus, "Menyuruhku tidur tapi malah kau yang tidur."

Akashi mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Kuroko yang lembut itu sambil tersenyum tipis. Eh, tunggu. Kenapa ia tersenyum begini? Mungkin dia benar-benar kelelahan dan harus tidur seperti apa yang Kuroko katakan.

Dengan resolusi untuk beristirahat, pria bersurai merah pemilik perusahaan Rakuzan itu mematikan laptopnya dan membawanya keluar kamar Kuroko. Tidak lupa ia menarik selimut berwarna putih itu untuk membalut tubuh Kuroko.

"Kau melunak pada Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuurou." Gumamnya pada diri sendiri sambil mematikan lampu kamar Kuroko dan pergi ke kamarnya sendiri.

..

..

Sudah seminggu Kuroko terpaksa tidur di kasur. Selama seminggu itu pula lah Akashi tidak berangkat ke kantor sama sekali. Ia hanya memantau pekerjaan kantor dari rumah dan terkadang Mibuchi akan mengantar beberapa perkamen yang harus ia periksa. Ia juga sempat menjenguk Kuroko yang hampir setiap saat tertidur layaknya Sleeping Beauty.

Pasukan Pelangi 'sih senang-senang saja karena Papa mereka ada di rumah selama seminggu penuh. Kapan lagi Papa ada di rumah?

Di hari ke delapan, Kuroko bangun dengan kondisi yang segar bugar. Wajahnya yang pucat dan terlihat lemah selama seminggu sudah kembali kepada keadaan normal. Tubuhnya yang hanya bisa terbaring lemah di kasur sudah bisa digunakan dengan efektif sekarang. Pasukan Pelangi yang melihat itu langsung menghambur kepada babysitter kesayangan mereka itu.

Akashi yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum tipis sambil melipat tangan di depan dada. Hari ini ia kembali tidak ke kantor karena takut tiba-tiba saja kondisi Kuroko kembali menurun ketika ia tidak ada di rumah.

"Kalian hebat sudah membantu Papa kalian merawatku." Puji Kuroko kepada setiap anggota Pasukan Pelangi yang sedang nyengir lebar kecuali Shintarou yang jaim.

"Nee, nee, Kuroko-cchi~" Panggil Ryouta masih dengan cengiran di wajahnya, "kami punya hadiah untukmu loh~"

"Hadiah?" Kuroko mengangkat sebelah alisnya, "Orang sakit mendapat hadiah?"

Belum pernah Kuroko dengar istilah 'orang sakit mendapatkan hadiah' sebelumnya.

"Bukan!" Daiki menjawab pertanyaan Kuroko, "Tunggu sebentar!"

Dan keempat anak laki-laki itu berlari keluar dari kamar Kuroko. Tinggalah sang kepala keluarga dengan Kuroko disana.

"Akashi-san," Kuroko menghampiri Akashi yang berdiri di pintu masuk kamarnya, "terima kasih sudah merawatku selama aku sakit." Kuroko membungkukan badannya sembilan puluh derajat tanda terima kasih.

Akashi hanya mengangkat bahunya, "Bukan masalah. Kalau kau sakit tidak ada yang menjaga anak-anak. Biasanya kalau tidak ada yang menjaga mereka aku membawa mereka ke tempat kerja atau tinggal di rumah."

"Begitukah?" Kuroko memiringkan kepalanya ke kanan dengan wajah datar bagaikan pantat panci sehingga membuatnya terlihat super duper imut.

"Tapi aku tetap merasa bersalah sudah merepotkan Akashi-san. Harusnya aku yang menjaga anak-anak, malah aku menjadi beban tambahan Akashi-san." Kuroko menunduk malu. Ia dikirim kesini untuk melunaskan hutang orangtuanya, bukan merepotkan orang yang menjadi bosnya ini.

"Semua orang pernah sakit." Akashi menghela nafas, "Jadi wajar saja kalau kau sakit. Sebagai yang lebih dewasa, sudah menjadi tanggung jawabku untuk merawatmu. Lagipula aku ini majikanmu. Tidak mungkin kupaksa kau bekerja."

Hei, walaupun dikenal dengan Reinkarnasi Iblis, begini-begini ia tidak akan memaksa bawahannya bekerja jika sedang sakit. Selain akan mempengaruhi kinerja mereka, penyakitnya juga bisa menular kepada karyawan lain.

"Aku penasaran kenapa banyak orang yang memanggil Akashi-san 'Reinkarnasi Iblis' atau 'Iblis' itu sendiri." Kuroko menyuarakan pendapatnya, "Menurutku Akashi-san adalah orang yang baik."

Akashi terkejut. Dapat dilihat dari kedua bola mata yang berbeda warna itu membelalak walaupun hanya sekilas dan tergantikan dengan sebuah senyum iblis atau istilah kerennya adalah smirk yang sangat seksi di mata para fans.

Selama ia memasuki dunia keras yang diciptakan Ayahnya, belum pernah ada orang yang mengatakan bahwa ia adalah orang yang baik. Kata-kata seperti menakutkan, karismatik, absolute, tegas, tertutup, dingin, dan sadis sudah sering ia dengar. Bahkan ia sampai dijuluki Raja Setan karena sikapnya yang terakhir itu.

Tapi kata baik tidak pernah ada di daftar itu.

"Apa kau masih akan berpikiran seperti itu setelah aku―" Akashi memperkecil jarak di antara mereka hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa senti saja.

Dan untuk kedua kalinya, Akashi kembali terkejut.

Bukan sebuah penolakkan yang ia dapatkan melainkan kedua mata Kuroko yang bagaikan langit cerah menatapnya kembali dengan tatapan datar dan menyelidik. Reaksi orang biasa yang ia perlakukan sama seperti Kuroko sekarang biasanya adalah dorongan di dada dan tatapan takut.

Bagi Kuroko sendiri, jujur saja ia terkejut karena Akashi tiba-tiba saja memasuki area personalnya begitu saja namun di sisi lain ia tidak keberatan sama sekali entah mengapa. Benar adanya kalau jantungnya berdetak kencang saat Akashi hanya tinggal beberapa senti saja dengannya, tapi hati kecilnya berkata bahwa Akashi tidak akan melakukan apapun padanya.

Dengan perlahan Akashi menarik diri dari ruangan personal Kuroko. Senyum yang membuat para fansnya di luar sana pingsan sudah berubah menjadi sebuah suara tawa rendah dari si empunya, "Menarik."

Kuroko menghela nafas ketika mendengar satu kata terakhir dari Akashi. "Sebenarnya Akashi-san mau ngapain, sih tadi?"

Pertanyaan gamblang dari Kuroko membuat Akashi berhenti tertawa, "Kau tidak mengerti?"

Akashi tidak yakin kalau Kuroko tidak mengerti apa yang akan ia lakukan tadi. Ayolah, remaja mana yang tidak pernah berciuman?

"Yang aku tahu adalah Akashi-san hampir menciumku dan jujur saja aku merasa agak tidak nyaman. Tapi yang aku tanyakan adalah kenapa Akashi-san melakukannya?" Kuroko bertanya dengan wajah tanpa ekspresinya, "Bukankah ciuman hanya dilakukan kepada orang yang kau sayangi atau sukai?"

Akashi tertawa lagi. Kali ini lebih keras sedikit. "Tidak selamanya ada rasa suka ketika berciuman."

"Oh, begitukah?" Kuroko menautkan kedua alisnya. Jadi ocehan Ibunya dan novel genre romance yang pernah ia baca itu bohong? Kuroko yang tidak pernah berciuman hanya bisa mencerna fakta yang baru ia ketahui dari Akashi.

Belajar dari orang yang lebih dewasa, pikirnya.

"Katakan padaku," Akashi memulai dengan lambat, "apa kau pernah berciuman?"

Kurok terhenyak dengan pertanyaan itu. Ia sedang berpikir apa yang membuat percakapan mereka menjadi seperti ini.

"Dengan Ibuku dan Ayahku." Lagi-lagi Kuroko menjawab dengan wajah minim ekspresi itu. Ia jujur kok. Kedua orangtuanya lah yang pernah ia cium selama ini karena Ibunya selalu mengoceh tentang ciuman pertama harusnya diberikan kepada orang yang kau cintai dan Kuroko kecil saat itu langsung mencium Ibunya dan tentu saja Ibunya membalasnya dengan kucelan di pipi tembemnya.

"Dengan orang lain?" Alis merah milik Akashi terangkat. Tidak yakin pada pemuda di hadapannya belum pernah berciuman.

"Semua orang mengira aku aseksual. Katanya aku akan menikahi buku suatu hari nanti."

Sebuah kalimat dari bibir Kuroko menjelaskan semuanya pada Akashi.

"Kuro-chin dan Papa-chin ngapain?"

"Ssstt!"

"Daiki, Ryouta, Shintarou, apa yang kalian lakukan disana?" Yang terpanggil namanya langsung menoleh ke arah sang Papa yang menatap mereka tajam.

"Nggak ngapa-ngapain kok, Papa/Papa-cchi." Jawab ketiganya bersamaan sambil berbaris ke samping.

Hening melanda mereka semua.

"Akashi-san, bisakah kita melupakan percakapan tadi?" Kuroko bertanya dan ditanggapi positif oleh Akashi. Keduanya sepakat untuk tidak mengungkit masalah tadi lagi.

Tapi sebenarnya jauh di lubuk hati terdalam, Akashi sedang bertanya-tanya mengapa ia hampir mencium Kuroko. Biasanya ia melakukan itu untuk mengancam atau mendapatkan apa yang ia inginkan, dimana korbannya biasanya wanita cantik untuk one night stand atau pemuda manis jika ia bosan dengan wanita.

Tapi berbeda dengan Kuroko, Akashi tidak ada niatan untuk meniduri pemuda manis itu sama sekali. Hanya keisengan belaka. Nah, itu bertambah aneh karena Akashi melakukan hal iseng merupakan hal paling aneh yang pernah ada. Kalau Mibuchi mengetahui ini pastilah ia akan berlari keliling kompleks sambil berteriak, 'Dunia akan kiamat sebentar lagi! Selamatkan diri kalian!'.

Jadi mengapa Akashi melakukan hal tidak senonoh itu kepada Kuroko? Begini-gini ia tidak terlalu suka memanfaatkan orang yang masih perawan. Dan Kuroko masuk ke dalam kategori perawan ―maksudnya perjaka, deh.

Sama sajalah intinya.

..

..

"Jadi apa yang ingin kalian tunjukkan padaku?" Tangan Kuroko digandeng oleh Daiki sedangkan matanya ditutupi oleh sebuah kain hitam untuk menghalangi pandangannya. Akashi hanya mengikuti keempat anaknya serta Kuroko dari belakang dengan tenang.

Ketika sudah sampai di dapur, Daiki mengarahkan Kuroko untuk duduk di salah satu kursi dan membuka penutup mata Kuroko.

"Yeay, happy birthday, Kuroko-san/Tetsu-san/Kuroko-cchi/Kuro-chin." Keempat anak itu melompat kegirangaan kecuali Atsushi dan Shintarou. Di meja makan terdapat sebuah kue tart berwarna putih dengan topping strawberry di atasnya.

"Ha? Sekarang memangnya tanggal berapa?" Kuroko melirik Akashi yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.

"Tiga puluh satu Januari." Jawab Akashi.

"Kenapa kalian tahu hari ini ulang tahunku?" Kuroko menatap Pasukan Pelangi dan Ayah mereka secara bergantian.

"Kemarin Ibumu menelepon dan mengatakan bahwa hari ini kau ulang tahun jadi ingin mengucapkan tapi kau tidak kunjung bangun." Akashi mendudukan dirinya di salah satu kursi yang ada diikuti dengan Pasukan Pelangi.

"Make a wish~" Seru Ryouta sambil menunjuk lilin yang tertancap di kue tart aroma vanilla tersebut. Akashi mengeluarkan sebatang korek dan menyalakan lilin tersebut.

"Terima kasih, minna-san." Kuroko tersenyum lebar. Ia merasa terharu. Kemudian ia memejamkan mata dan mulai mengucapkan harapannya.

Fuh!

Dengan ini Kuroko Tetsuya genap berusia sembilan belas tahun.

"Makan kue!"

Ah, dasar anak-anak.

Kuroko tersenyum dan memotong kue kemudian membagikannya kepada setiap orang yang ada disana. Tapi sebelum membagikan, Shintarou menginterupsi dengan perkataan yang pernah ia katakan di chapter-chapter sebelumnya, "Potongan pertama untuk orang yang spesial, nanodayo."

"Orang yang spesial?" Kuroko menatap kue yang ada di tangannya lalu kepada semua orang yang ada disana. Sudah jelas ia ingin memberikannya kepada orangtuanya, bukan? Tapi karena keduanya tidak ada disana, jadi―

"Ini untuk Akashi-san." Kuroko memberikan potongan pertama itu kepada Akashi yang duduk tidak jauh darinya. Pasukan Pelangi langsung tersenyum girang. Di pikiran mereka bahwa Kuroko menganggap Papa mereka itu spesial dan berarti Kuroko bisa menjadi Mama mereka, hanya tinggal menunggu Papa saja.

Lain di pikiran Pasukan Pelangi, lain juga Kuroko. Kuroko memberikan kue itu kepada Akashi karena ia merasa berhutang banyak kepada pria tersebut. Lagipula sosok Akashi sudah seperti pengganti orangtua baginya selama di Kyoto walaupun usia mereka hanya berbeda sembilan tahun.

Oh, terjebak di Papazone 'kah Akashi itu?

To Be Continued


Thanks to : tetsuya lurosaki, Arruka Terlucky-nanodayo, Kuroi Kanra, S. Hanabi, Aoi. C, babyberrypie, Harumia Risa, SasagiiRokusai, tyasearu25, kim. ariellink, daanasa, efi. astuti. 1, Bona Nano, Hirani SagitariusRed, sofi asat, Noo Na Tsu, TKsit, Sei, V. Yuki-chan, L, Hikari Kyuu, shizu, Hamba Allah, purikazu, Mikki – K tan, 3nd4h, sen, Kucing Gendut, zhichaloveanime, putri, ReiKira, mao-tachi, Kurotori Rei, sapphire always for onyx, IzumiTetsuya, Akashi lina, miss horvilshy, Guest, Kuroyuki Tetsuya, isjkmblue, thalita. claluchuchachachuke, Reyna, Rini desu, Shiraume. machida, ai sagara, ELLE HANA, AulChan12, Kuroyuuki Tetsuya, Oranyellow-chan, Rikka-yandereki, Rein Hiirota, babyqo, Guest, macaroon waffle, Tetsuya Ran, nezumi, kireimozaku, Fujimoto Yumi, Mizuki Rae Sichi, Guest, IzzatulRed, alysaexostans, N, Christal Otsu, Haruna, Yuuhi, no name, Mei Terumi, UI, aeon zealot lucifer.

Untuk IzumiTetsuya-san, semoga dengan fic ini Anda bisa nyemplung ke dunia AkaKuro~ MidoTaka juga saya suka kok. Untuk gaya penulisan. Jujur saja saya nggak tahu dapet darimana. Pokoknya dari awal saya amatir nggak bisa nulis cerita kemudian banyak belajar dari baca dan mencoba nulis terus akhirnya begini dan saya juga merasa mungkin ini adalah gaya saya. Saya terharu bisa menginspirasi Anda. Makasih (^^).

Untuk aeon zealot lucifer, benarkah nggak drama dan lucu? Saya kira maksa sumpah. Makasih. Tenang ini akan berakhir AkaKuro di pelaminan kok /plakk/ Nggak pelaminan beneran sih.. Nah, tunggu aja deh..

Author Note :

Kembali lagi dengan saya di fic kecil ini. Kalian benar-benar luar biasa. Kotak review saya menembus angka 300. Saya benar-benar terharu terhadap atensi kalian semua.

Lalu yang penasaran siapa pria cabul itu, dia bukanlah siapa-siapa. Hanya tokoh tambahan saja dan bukan Himuro. Himuro punya perannya sendiri disini muahahaha~

Ide chapter ini didapat ketika melihat salah satu review entah chapter berapa dan dari siapa (maafkan siapapun itu tapi terima kasih) yang bilang coba bikin Kuroko sakit Akashi yang rawat. Lalu saya bikin saja. Deskripsi awal itu berdasarkan pengalaman nyata saya. Sakit, pingsan di kamar mandi, kebangun sendirian sayangnya. Nggak ada yang nolongin TAT

Saya juga nyadar sudah lama sekali sejak terakhir kali saya update. Maafkan atas kelalaian saya. Malah nanti saya nggak bisa ngetik lagi sampe pertengahan bulan depan karena sibuk dan ada live in. Jadi kalian bersabarlah dan jangan pesimis saya nggak akan update, ok?

Akhir kata, bagaimana kalau sedikit review untuk membakar semangat saya seperti kobaran api? /kedip genit