Disclaimer : Bleach itu punya Tite Kubo.. dan saia sudah bosen bilang begitu.


Shinigami Days

Chapter 9 : The Final

Rate : T

Genre : Romance/Humor


---Kurosaki Ichigo & Kuchiki Rukia---

.

.

Rukia terpaku di hadapan cermin. Ia memandangi kimono dengan motif bunga mawar yang ia pakai. Seminggu yang lalu tepatnya dua hari setelah dia kembali ke Soul Society Ichigo memberikan kimono itu padanya.

"Kimono itu sangat pas buat lo," Rukia berbalik. Mata violetnya membulat melihat Ichigo menempel pada kaca jendela kamarnya.

"Ichigo, ngapain lo di situ?" tanya Rukia. Ia segera membuka jendela itu dan membiarkan Ichigo masuk.

"Gue ga dibolehin masuk lewat depan sama Byakuya, menyebalkan sekali!" gerutu Ichigo. Rukia tersenyum. Memang sangat mustahil seorang Kuchiki Byakuya akan membiarkan orang seperti Ichigo masuk ke dalam Mansion Kuchiki yang besar itu.

"Ichigo, lo harus bersikap sopan sama Nii-sama. Kalau nggak hubungan kita gak bakal di restui," kata Rukia memandang kekasihnya itu.

"Iya, iya Kuchiki Rukia. Ternyata midget kaya lo tambah manis kalau pakai kimono itu ya." Wajah Rukia langsung memerah membuat Ichigo tersenyum geli melihat perubahan wajah Rukia.

Sejenak mereka terdiam memandang satu sama lain. Jantung mereka berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasa. Ichigo melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rukia, memegang dagu Rukia dan sedikit mengangkatnya hingga membuat wajah Rukia yang memerah langsung berhadapan dengan wajah mesum Ichigo.

Ichigo mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Rukia. Tangannya mendekap Rukia dengan erat. "Rukia…" bisiknya pelan.

Rukia memejamkan matanya saat ia menyadari kalau wajah Ichigo tepat 2 centimeter di hadapannya.

Tok..Tok..Tok..Tok..Tok..

Ichigo dan Rukia terkejut, atau lebih tepatnya mereka hampir saja kena serangan jantung. Mereka menengok ke arah kaca jendela yang di ketuk oleh seseorang dengan kesal.

"Ichigo, Rukia.. kalo lagi bermesraan jangan di depan jendela yang bisa kelihatan dari luar donk!" kata Renji sambil memasang tampang Baboon andalannya.

"Renji!! Ngapain lo ngintip?" tanya Ichigo pada Baboon yang dengan sangat tidak sopan telah menghancurkan momentum lope-lopenya dengan Rukia.

"Gue ga ngintip! Asal lo tau aja ya, pemandangan mesra-mesraan kalian berdua tuh kelihatan tauk! Lihat tu kaca kan kebuka.." jawab Renji sambil menunjuk ke arah jendela yang lupa ditutup Rukia setelah Ichigo masuk.

Ichigo menengok keluar jendela. Wajahnya tampak sangat shock ketika melihat perkumpulan yang tidak biasa alias Hitsugaya, Mayen, Sou-taichou, Mayuri dan Unohana sedang tersenyum jahil pada Ichigo. Rupanya mereka melihat kejadian detik-detik Ichigo akan mencium Rukia saat sedang tidak sengaja lewat.

"Seorang jeruk yang sangat nekat," komentar Hitsugaya.

"Chibi-taichou, lo sama sekali ga ngerti masalah cinta ya, yang namanya cinta itu juga butuh kenekatan. Makanya bergaul jangan cuma mendekin badan aja di kantor lo!" sahut Mayen sekaligus mengejek.

"Apa lo bilang childish kidou-taichou!!! Shinigami kekanak-kanakan kaya lo juga ga mungkin ngerti masalah cinta!" seru Hitsugaya ga mau kalah. Langsung terjadi death glare diantara dua shinigami termuda di soul society itu.

Sementara dua musuh bebuyutan itu adu mulut Ichigo celingak-celinguk melihat ke sekitar lingkungan luar jendela kamar Rukia.

"Ichigo, kenapa lo celingukan gitu?" tanya Rukia.

"Byakuya.. Dimana Byakuya?" tanyanya agak panik. Mungkin karena takut di timbun ribuan kelopak sakura gara-gara dia hampir aja nyium ade kesayangan kapten tercool seantero Soul Society itu.

"Lo beruntung Kurosaki, karena Byakuya sedang ada mengunjungi pameran ikan koi di Rokungai," jawab Mayuri yang disambut anggukan setuju dari Sou-taichou yang lagi sakit gigi jadi ga mau ngomong dulu.

Ichigo menghela napas lega. Seperti ancaman kematian dramatis telah menjauh darinya untuk saat ini.

"Jangan sampai Byakuya tahu, kalau tidak.."

"Kurosaki Ichigo akan berakhir dengan tenggelam dalam ribuan kelopak sakura," sahut Rukia, Renji, Hitsugaya, Mayen, Unohana dan Mayuri serempak. Wow mereka memang kompak saudara-saudara!! *ditendang*

"Nah, kalian sudah tahu kan.. Jadi gue mohon ye.." pinta Ichigo melas.

Para kapten itu saling berpandangan meminta persetujuan tentang permintaan Ichigo. Acara saling pandang berakhir saat Sou-taichou menganggukkan kepalanya.

"Baiklah Ichigo, lagipula gue ga mau ngeliat Byakkun ngamuk dan menghancurkan Soul Society," kata Mayen yang ngeri kalau ngebayangin Byakuya ngamuk.

Ichigo tersenyum lega. "Terimakasih minna!!" katanya sambil menunduk.

"Abarai, ngapain malah makan pisang di pojok sana!! Ayo kita harus melanjutkan perjalanan ke Rokungai menyusul Byakuya!" tegur Hitsugaya pada Renji yang dengan laknatnya sedang makan pisang di pojok kamar Rukia.

"Oh.. Oke bos!!" sahut Renji dan langsung meloncat dari jendela kamar Rukia.

Rombongan yang sangat tidak biasa itu pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Rukongai meninggalkan Ichigo dan Rukia yang kembali berduaan.

Ichigo mendekati Rukia lagi. Wajah tampannya tersenyum manis menatap kekasih mungilnya itu.

"Rukia.. Lo tau ga kalau gue itu…" Ichigo sengaja menggantungkan kalimatnya agar Rukia penasaran.

"Apa?" tanya Rukia.

"Gue itu cintaaaaaaa banget sama lo," gombal Ichigo.

"Ihh.. Ichigo lo gombal banget deh!" kata Rukia dengan wajah semerah kepiting rebus sambil nyubit lengannya Ichigo.

"Hahaha… Rukia, kita nyusul Byakuya dan yang lainnya yuk. Gue mau minta restu sekarang," kata Ichigo sambil menarik tangan mungil Rukia menuju keluar dari kamar Rukia.

"Heh? Serius.. Lo ga takut berhadapan dengan Nii-sama?"

"Hmm.. Segala resiko bakal gue tempuh asal lo ada di samping gue."

Rukia tersenyum senang mendengar perkataan Ichigo. Ia mengeratkan genggamannya dengan Ichigo membuat Ichigo melirik kearahnya.

"Berusahalah menaklukan Nii-sama," ucap Rukia.

"Tenang saja." Ichigo menggendong Rukia dengan bridal style.

"I-ichigo, mau ngapain lo?" protes Rukia agak kaget dengan yang dilakukan Ichigo padanya.

"Supaya cepet sampe pake shunpo gue aja. Uda deh jangan protes," jawab Ichigo. Rukia hanya bisa terdiam. Wajah kepiting rebusnya semakin memerah tidak karuan.

Dua sejoli itu menyusuri jalan menuju ke Rokungai melewati beberapa divisi seperti divisi 10, 11, 12, 13 dan juga kantor Kidou corps pimpinan Mayen. Setelah keluar dari kawasan Seiretei baru mereka akan memasuki daerah Rokungai.

Rokungai saat ini sedang ramai dengan beberapa pameran yang diadakan oleh Ganjuu dan Kuukaku. Ada pameran meriam-meriam besejarah sampai pameran ikan koi yang menarik perhatian Byakuya untuk datang ke tempat ramai seperti itu.

Ichigo menurunkan Rukia, membiarkan perempuan mungil itu berjalan anggun dengan kimono indahnya.

"Hei, Ichigo. Gue harap lo ga bakal babak belur kaya kemarin setelah berhadapan dengan Nii-sama," kata Rukia. Memang Ichigo sudah beberapa kali meminta restu pada Byakuya tetapi selalu saja berakhir dengan pertarungan yang membuat Ichigo babak belur tertimbun ribuan kelopak sakura.

"Sudah gue bilang lo tenang aja, persiapan gue kali ini sudah mantap banget!" seru Ichigo sambil mengacungkan dua jempolnya tepat di hadapan Rukia yang Cuma bisa sweatdrop.

Mereka berjalan menuju ke tempat pameran ikan koi. Ketika sampai disana mata Ichigo dan Rukia langsung menangkap sosok pria berhaori dengan lambang 6 di punggung yang sudah jelas pria itu adalah Kuchiki Byakuya, kapten terkeren dan terdingin seantero Soul Society.

"Nii-sama!!" panggil Rukia sambil berlari kecil ke arah kakak tercintanya itu.

Byakuya berpaling menoleh ke arah Rukia yang memanggilnya. "Rukia? Sedang apa lo disini?" tanya Byakuya.

"Hehehe.. Mau ketemu sama Nii-sama, iya kan Ichigo.." kata Rukia sambil menyeret tangan Ichigo yang sejak melihat Byakuya langsung menjaga jarak darinya dengan keringat dingin yang mengucur.

"I-iya.." sahut Ichigo gagap.

'Ichigo lo harus berani!! Hadapi Byakuya kepala genteng ini dan Rukia akan jadi milik lo selamanya!!' mantap Ichigo dalam hati.

"Gue pengen bicara sama lo," kata Ichigo akhirnya setelah mengumpulkan semua energy yang ia dapatkan dari rasa cintanya pada Rukia.

"Ada apa lagi?" tanya Byakuya sinis hampir membuat nyali Ichigo jatuh lagi.

"Kita bicara berdua aja." Byakuya mengikuti langkah Ichigo yang masuk ke dalam semak-semak meninggalkan Rukia yang di paksa Mayen untuk ikut dengannya melihat pameran benda berwarna ungu.

Ichigo dan Byakuya menyusuri semak-semak lebat yang menghalangi jalan mereka. Setelah sampai pada sebuah tanah lapang Ichigo menghentikan langkahnya dan berpaling menatap Byakuya.

"Byakuya, lo pasti sudah tau kalo gue mau ngomong apa," kata Ichigo serius.

"Hmm… Masalah minta restu lagi?" tanya Byakuya menebak. Ichigo mengangguk membenarkan.

"Gue belum nyerah buat minta restu hubungan gue sama Rukia ke lo." Ichigo menatap Byakuya tajam sedangkan yang ditatap tetap memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya itu.

"Memangnya kenapa gue harus merestui hubungan kalian?"

"Karena gue dan Rukia tuh saling cinta, lo ngerti ga sih?!" Ichigo mulai meluapkan semua emosi yang ada pada dirinya.

Byakuya menyeringai kecil yang membuat wajahnya menjadi agak horror. Secara tiba-tiba ia menarik Senbonzakura dan meletakkannya di depan leher Ichigo. "Asal lo bisa ngejaga Rukia dengan mempertaruhkan nyawa lo."

Ichigo tersenyum kecil. Ia juga menarik Zangetsunya dan menangkis Senbonzakura milik Byakuya. "Tentu saja, tanpa lo suruh gue juga akan melakukan itu."

"Hmm.. Benarkah? Chire.. Senbonzakura." Seketika itu ribuan kelopak sakura bertebaran dimana-mana. Ribuan sakura itu menggumpal lalu mulai menyerang Ichigo yang sudah bersiap dengan kuda-kuda akan menangkis serangan itu.

"Getsuga Tenshou!!" cahaya besar berwarna putih kebiruan membelah gumpala kelopak sakura itu menjadi dua bagian.

Byakuya membiarkan serangannya menyebar tanpa melanjutkan serangan. Setelah kelopak-kelopak sakura mulai menghilang Byakuya langsung menyarungkan kembali Senbonzakuranya.

"Hei, Byakuya!!!" teriak Ichigo saat Byakuya mulai melangkah meninggalkan jeruk berjalan itu.

"Gue serahkan Rukia ke lo, jaga dia baik-baik. Kalau sedikit aja gue tau lo nyakitin dia, jangan harap lo akan hidup lebih lama," kata Byakuya tanpa melihat ke arah Ichigo lalu menghilang dengan shunponya.

Ichigo terdiam dalam jangka yang cukup lama. Ekspresi wajahnya bercampur antara senang, kaget dan tidak percaya. "Gue berhasil??" katanya tidak percaya.

"IYESS!!!! BERHASIL!!!! RUKIA I'M COMING!!!" teriak Ichigo bagai seorang manusia gila yang baru lepas dari RSJ sambil bershunpo kembali menuju ke pameran keluarga Shiba itu.

"RUKIA!!! GUE BER…" belum sempat Ichigo menyentuh bahu Rukia tapi sebuah sandal jepit swallow *??* mendarat dengan sangat sukses di kepala durennya.

"Apa sih Ichigo, berisik tahu!!" seru Rukia. Kedua tangan mungilnya ia lipat di depan dadanya, hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi shinigami mungil itu.

"Gue berhasil Rukia!! Byakuya sudah merestui kita!!!" kata Ichigo girang.

Mata violet Rukia membulat diikuti dengan tatapan tidak percaya dari Mayen, Hitsugaya, Renji, Rangiku, Hisagi, sampai Sou-taichou sekalipun.

"Serius lo?" tanya Rukia. Ichigo mengangguk dengan semangat kemerdekaan *?*.

Rukia tersenyum, secara reflek dia langsung memeluk Ichigo yang juga langsung membalas pelukan Rukia.

"Lah.. Enak banget ya. Ga kaya gue, yang cintanya masih ga jelas," kata Rangiku bersedih ria.

"Waah… Selamat ya Nee-san, jeruk busuk!!" seru Mayen yang langsung menyalami kedua mempelai *?* itu.

Setelah bersalaman dengan para shinigami lain Ichigo dan Rukia kembali melanjutkan pelukan mereka. Ichigo memeluk erat tubuh Rukia, wajahnya mulai mendekat dengan wajah Rukia dan sejurus kemudian mereka sudah berciuman. Rukia mengalungkan tangannya ke leher Ichigo membuat tontonan gratisan itu menjadi semakin hot.

"Kyaa~ Ada adegan hot!!" seru Rangiku.

"Chibi-taichou, lo ga boleh liat!!" Mayen langsung menutupi mata Hitsugaya yang udah blushing dan nosebleed seember.

"I love you Rukia…" bisik Ichigo ke telinga Rukia setelah ciuman berakhir.

"I love you too, Ichigo."


---Ichimaru Gin & Matsumoto Rangiku---

.

.

Gin merenggangkan tubuhnya setelah seharian penuh berkutat dengan berkas-berkas sialan yang mengurungnya dalam ruangan divisi 3 hari ini. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela yang berada di sampingnya, setelah kembali ke Soul Society Gin kembali menjadi taichou divisi 3 walau sebenarnya dia sangat malas.

"Rangiku mana ya.." katanya pelan seraya memandang langit senja keorangean. Seharian ini dia belum bertemu dengan Rangiku gara-gara mengerjakan berkas tugasnya yang menumpuk.

Gin menghela napas. Ia lalu memandang sebuah cincin berlian putih yang ia beli beberapa minggu yang lalu lewat Halibel. Cincin berlian indah yang ingin ia berikan pada Rangiku. Gin mulai bangkit dari kursi kerjanya lalu berjalan menuju ke pintu sambil mengantongi cincin itu dalam hakamanya.

"Taichou, mau kemana?" tanya Kira yang berdiri di depan pintu itu.

"Mau ketemu Rangiku, lo lihat dia nggak?" tanya Gin pada fuku-taichounya itu.

"Matsumoto? Hmm… Tadi dia ke Rokungai bersama para kapten tapi mungkin sekarang sudah kembali," jawab Kira.

Gin manggut-manggut lalu keluar dari ruangannya meninggalkan Kira.

"Taichou tunggu! Apa taichou pacaran sama Matsumoto?"

Gin tertohok. Dia juga bingung hubungannya dengan Rangiku karena sampai sekarang dia belum juga menyatakan perasaannya pada Rangiku. Gin menggigit bibir bawahnya, wajahnya sedikit memerah karena perntanyaan itu.

"Tidak, belum sekarang.. Tapi nanti," jawab Gin membuat heran Kira lalu menghilang di simpangan ruangan.

Gin menyusuri jalan menuju ke divisi 10. Dia sudah memutuskan untuk menyatakan perasaannya sekarang juga, tidak peduli apapun yang terjadi atau apapun yang menghalangi.

Ia celingukan ke kanan dan kiri berharap tidak ada si Buta Hitam yang akan mengganggu kelangsungan acara pernyataan cintanya nanti.

"Gin!!" Gin sweatdrop. Orang yang tidak ingin dia temui malah muncul di hadapannya sekarang.

"Apa sih? Lagian juga ngapain lo senja-senja disini, ga takut nyasar gara-gara ga liat?" kata Gin ketus pada seorang shinigami hitam dekil bernama Tousen Kaname.

"Gue nyasar, lo mau kemane? Ikut ya.." pinta Tousen dengan puppy eyes yang membuat perut Gin mual seketika.

"Gue mau ke divisi 10, yaudah deh. Lagian juga kita searah aja." Gin akhirnya pasrah diikutin sama si Buta Hitam macam Tousen yang sepanjang jalan Cuma nyengir gaje setelah di sapa sama shinigami lain.

Mereka melewati divisi 7 dan melihat Iba sedang memanjat pohon mangga untuk taichounya si Komamura, lalu melewati divisi 8 dan melihat Kyouraku yang sedang mabuk bersama Ukitake yang udah batuk berdarah-darah tapi masih maksain minum.

Akhirnya mereka sampai di divisi 9. Gin dengan cepat langsung mengusir Tousen dari hadapannya tetapi celakanya ternyata Rangiku sedang mengobrol dengan Hisagi di sana.

Rangiku melirik pada Gin saat ia merasakan reiatsu dan hawa senyuman rubah Gin berada di dekatnya. Wajah Rangiku langsung berubah cemberut saat melihat Gin.

"Rangi… Hei Rangiku!!" Rangiku tiba-tiba langsung pergi meninggalkan Gin, Hisagi dan Tousen.

"Cih.. Sial!!" dengan gesit Gin pun langsung menyusul Rangiku yang kelihatannya ngambek itu.

Gin terus mengikuti Rangiku yang berjalan semakin cepat dan menjauh dari Gin. Terkadang Rangiku melirik Gin dengan ekor matanya untuk memastikan masih atau tidaknya Gin mengikutinya.

Diam-diam Hisagi dan Tousen juga mengikuti mereka dari jarak yang lumayan jauh agar tidak diketahui.

"Hisagi, Rangiku kenapa sih?" tanya Tousen.

"Dia ngambek sama Gin, minta diperjelas hubungan mereka," jawab Hisagi seraya mengikuti Gin dan Rangiku yang sekarang memasuki halaman divisi 10.

Tiba-tiba Hisagi berhenti dan berbalik arah. "Taichou, sebaiknya kita biarkan saja mereka berdua."

Rangiku mempercepat jalannya hingga membuat Gin menggunakan shunpo untuk mengejarnya. Akhirnya Gin berhasil menyeimbangkan langkahnya dengan Rangiku, ia lalu langsung menarik tangan Rangiku agar perempuan berdada besar itu berhenti berjalan.

"Rangiku, lo kenapa sih?" tanya Gin. Wajah rubahnya berubah menjadi sedikit serius sekarang.

"Kenapa lo bilang? Gin gue tuh butuh kejelasan! Gue iri sama Rukia dan Ichigo yang sekarang sudah bersatu dan direstui oleh Kuchiki-taichou.." Rangiku mulai terisak, kepalanya hanya menunduk dan tidak mau menatap Gin.

Gin sedikit tersentak mendengar perkataan Rangiku. Tangan besarnya langsung memeluk Rangiku yang terisak dengan erat.

"Gue buruh penjelasan lo cinta sama gue apa ga.." ucap Rangiku pelan masih dalam pelukan Gin. Gin mengelus rambut coklat keorangean Rangiku dengan lembut.

"Gue… Cinta kok sama lo.." ucap Gin akhirnya. Ia melepaskan pelukannya pada Rangiku. Membiarkan matanya yang selama ini selalu menyipit menatap Rangiku dengan lekat.

"Tidak.. Lo pasti bohong kan.."

Gin mengecup kening Rangiku dengan lembut, membiarkan perempuan itu merasakan kesungguhan rasa cintanya padanya. Gin lalu mengeluarkan cincin berlian dari dalam hakamanya lalu memasangkannya ke jemari lentik Rangiku.

"Aishiteru Rangiku.. I wanna marry you.." bisik Gin ke telinga Rangiku membuat semburat merah muncul di wajah Rangiku.

Rangiku mengangguk pelan menerima lamaran Gin yang sebenarnya begitu mendadak. Ia kembali memeluk Gin dengan linangan airmata bahagia karena hubungannya dengan Gin sekarang sudah menjadi jelas. Ia juga memandang ke langit yang sekarang sudah di penuhi oleh bintang-bintang yang seakan tersenyum melihat mereka.

"Aishiteru mo Gin…"


---Kazumei Mayen, Kuchiki Byakuya & Hitsugaya Toushiro---

.

.

Mayen menyusuri setiap ruangan di Mansion Kuchiki berharap menemukan seseorang yang ia cari. Setelah pulang dari Rokungai dia kehilangan Byakuya dan memutuskan langsung mencarinya di Mansion Kuchiki.

Perempuan berambut ungu lavender itu berhenti di halaman yang terdapat kolam ikan koi peliharaan Byakuya. Matanya memutar mencari Byakuya tetapi nihil, yang terlihat hanya gemericik air yang disebabkan oleh pergerakan ikan koi itu.

Mayen menghela napas. Beberapa hari ini ada hal yang mengganggu pikirannya, pikiran tentang kesadarannya bahwa ia mencintai Byakuya tidak sebagai adik yang selama ini dia yakini, tetapi sebagai perempuan.

'Byakkun.. Lo dimana sih,' gumamnya pelan. Ia telah berkeliling Mansion Kuchiki selama satu jam tetapi tidak juga menemukan Byakuya.

Mayen terduduk di bawah pohon sakura di halaman Mansion Kuchiki, ia memejamkan matanya untuk berkonsentrasi mencari reiatsu Byakuya.

"Ruangan itu, ya gue belum kesana!!" serunya tersadar setelah merasakan reiatsu Byakuya di suatu ruangan yang tidak jauh dari tempatnya terduduk.

Mayen tersenyum ketika melihat Byakuya berdiri di hadapan foto Hisana. Mayen berdiri di samping Byakuya dan ikut berdoa bersamanya.

Byakuya melirik perempuan yang hanya setinggi bahunya berdiri di sampingnya. "Mayen, kenapa lo disini?" tanyanya dingin.

"Mau ketemu sama Byakkun lah.." jawab Mayen yang tangannya masih mengatup dan memandang foto Hisana. "Byakkun apa ga ada orang yang bisa menggantikan Hisana-nee buat lo?"

Byakuya mengerutkan alisnya. "Maksud lo?" tanyanya tidak mengerti.

Mayen berbalik menghadap Byakuya yang memasang wajah heran padanya. "Apa gue bisa jadi pengganti Hisana-nee? Gue… sebenarnya cinta sama lo."

Byakuya terlihat sedikit kaget dengan pernyataan Mayen. Ia menghela napas lalu memegang kedua pundak Mayen. "Mayen, lo tau sendiri kan gue itu sudah nganggep lo seperti adik gue sendiri."

Mayen menundukkan kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan tangisnya agar tidak meledak. "Ya, gue tau Byakkun. Terimakasih sudah menganggap gue yang Cuma sebatang kara ini sebagai adik lo." Mayen mencoba tersenyum walau sedikit dipaksakan.

Byakuya mengusap rambut lavender Mayen dengan lembut. "Maaf. Karena posisi Hisana di hati gue ga akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun," katanya pelan.

Mayen mengangguk. Ia mengerti, sangat mengerti bahwa perasaannya akan berakhir dengan balasan hanya sebagai adik, tidak lebih. Tetapi tetap saja ia bersikeras untuk mengatakannya karena ia rasa Byakuya harus tau perasaannya sebenarnya.

Tiba-tiba Byakuya memeluk tubuh Mayen membuat semburat merah dengan sukses muncul di wajah Mayen. Suasana menjadi hening sebelum sebuah reiatsu yang cukup besar terasa.

"Souten ni Saze, Hyourinmaru!!"

Byakuya dan Mayen langsung melihat ke arah naga es yang menghancurkan pelindung yang mengelilingi ruangan itu.

"Hitsugaya Toushiro, ngapain lo disini?" tanya Byakuya setelah pecahan-pecahan pelindung berhamburan di ruangan itu.

"Rapat kapten udah mau dimulai tuh, kupu-kupu neraka ga bisa masuk gara-gara kidou pelindung itu," jawab Hitsugaya sambil menyarungkan Hyourinmarunya.

"Perasaan gue ga pernah masang kidou pelindung disini deh," kata Byakuya.

"Bukan lo yang masang, tapi Mayen. Tingkat kidou ini sangat tinggi, lo liat kan gue musti pake shikai buat ngancurinnya dan yang bisa make kidou dengan tingkat tinggi begitu cuma Mayen," jelasnya sambil menatap ke arah Mayen yang masang tampang innocent.

Byakuya tersenyum kecil pada Mayen sebelum meninggalkannya bersama dengan Hitsugaya. Sekarang hanya tinggal Hitsugaya dan Mayen berdua. Hitsugaya menatap Mayen yang terlihat murung.

"Nggak mau ikut rapat? Ntar Sou-taichou tua itu ngamuk loh childish-taichou.." katanya.

Mayen hanya menggeleng. "Gue lagi ga mood ikut rapat." Mayen mulai bergerak hendak meninggalkan Hitsugaya tetapi Hitsugaya langsung menarik tangannya membuat langkah Mayen tertahan.

Mayen menatap Hitsugaya yang menunduk sambil menggenggang tangannya dengan heran. "Chibi-taichou?"

"Lo mau kemana? Gue ikut, gue juga lagi males ikut rapat." Mayen hanya tersenyum lalu membawa Hitsugaya ke atas atap ruang kantornya.

Mayen memeluk lutunya sambil memandang bintang yng bertaburan sangat indah malam ini, disebelahnya Hitsugaya secara diam-diam memandang wajah cantik Mayen yang terlihat berbeda hari ini karena biasanya Mayen adalah seorang perempuan yang berisik, cerewet dan pasti selalu bertengkar dengannya tidak seperti sekarang yang hanya membisu daritadi.

"Bintangnya banyak ya, dan indah sekali," ucap Mayen memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. Hitsugaya mengangguk menyetujui pernyataan Mayen.

Hitsugaya melepaskan haorinya lalu memakaikannya pada Mayen. "Orang yang lagi patah hati itu ga boleh kediniginan," jelasnya pada Mayen.

"Terimakasih, ternyata lo baik juga ya chibi-taichou." Mayen merapatkan duduknya mendekati Hitsugaya membuat Hitsugaya sedikit salah tingkah.

"Patah hati itu nggak enak ya, Toushiro.." kata Mayen membuat Hitsugaya menatap perempuan bermata abu-abu itu karena baru pertama kali Mayen memanggilnya dengan nama Toushiro.

"Ah.. Tapi pasti lo ga tau gimana rasanya patah hati kan. Lo kan terkenal dikalangan cewek, siapa aja yang lo suka pasti juga suka sama.." Mayen menghentikan perkataannya saat tiba-tiba Hitsugaya memeluknya dari samping.

"Siapa bilang.. Sekarang aja gue lagi patah hati karena melihat orang yang gue cinta juga patah hati.."

"Gue.. Cinta sama lo Kazumei Mayen," bisik Hitsugaya.

Mayen tersenyum manis, rambut lavendernya berterbangan liar mengikuti arah angin membuat wajah cantiknya yang sedikit tertutup rambutnya sekarang terlihat jelas. Keadaan menjadi hening, Mayen menyerapi kata-kata Hitsugya ke dalam hatinya.

"Begitu.. Terimakasih Toushiro.." katanya.

Hitsugaya mengerutkan alisnya. Hanya ucapan terimakasih yang ia terima setelah menyatakan perasaanya dan itu berarti dia di tolak. Ia tersenyum kecut lalu melepaskan pelukannya pada Mayen.

"Lo bener-bener cinta sama Byakuya itu ya.." Mayen mengangguk pelan. Walau bagaimanapun juga ia sangat mencintai Byakuya. Karena Byakuyalah shinigami pertama yang ia temui.

"Mungkin butuh waktu untuk menganggapnya sebagai kakak sepenuhnya, tapi gue akan mencobanya dan pada saat itu gue juga akan mencoba buat suka sama lo." Hitsugaya sedikit kaget dengan perkataan Mayen, tetapi dia juga senang karena itu berarti masih ada harapan baginya.

"Hitsugaya-taichou… Kazumei kidou-taichou.." panggil Renji celingukan sambil memegang sesisir pisang di tangannya.

Mayen dan Hitsugaya saling berpandangan. Mereka tersenyum geli melihat Baboon merah itu celingak-celinguk.

"Mayen, ayo kita pergi. Kalau kita disini terus nanti Baboon itu akan menemukan kita dan menyeret kita ke divisi 1." Hitsugaya menarik tangan Mayen dan langsung bershunpo menjauh dari tempat mereka duduk tadi.

"Kita mau kemana?" tanya Mayen.

"Ke RSJ khusus. Gue mau ngejenguk Aizen."


---Aizen Sousuke---

.

.

Aizen terduduk lesu di pojokan kamarnya yang bercat pink. Ia merasa kesepian walau bertumpuk benda dengan warna pink teronggok di kamarnya yang bernomor 283. Ia merasa kangen dengan para mantan anak buahnya seperti Gin, Tousen, Grimmjow, Ulquiorra dan Halibel.

Dia juga kangen dengan pangerannya, Kuchiki Byakuya, orang yang hampir saja dia nikahin jika tidak dikacaukan oleh para shinigami yang menurutnya sialan itu. Aizen menengok ke pintu kamarnya setelah merasa ada seseorang yang membukanya.

"Aizen-sama!! Apa kabar??" sapa pria berambur putih dengan senyuman rubah khasnya.

"Gin! Akhirnya lo jenguk gue juga. Sendiri?" Gin menggeleng lalu menarik Rangiku untuk juga ikut masuk ke kamar Aizen.

"Calon istri gue, Matsumoto Rangiku." Gin memperkenalkan Rangiku seakan Aizen belum mengenal shinigami berambut coklet keorangean itu.

"Gin, apa-apaan sih lo! Malu-maluin aja deh.." kata Rangiku yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus ketika di bilang calon istri.

Mata Aizen, Gin dan Rangiku melirik ke arah pintu ketika Hitsugaya dan Mayen masuk ke dalam kamar Aizen sebagai 'tamu' baru. Aizen, Gin dan Rangiku menatap Hitsugaya dan Mayen yang bergandengan tangan dengan wajah tidak percaya. Mana mungkin dua musuh bebuyutan ini bisa seakrab itu? Pikir mereka.

"Ada apa? Kenapa menatap kami dengan pandangan seperti itu?" tanya Hitsugaya sedikit kesal.

"Anoo.. Taichou, tumben kalian berdua akrab.." kata Rangiku sambil memandang Mayen dan Hitsugaya secara bergantian.

"Nee~ memangnya kenapa? Apa tidak boleh kalao kami akrab?" sekarang Mayen angkat bicara.

"Boleh saja, tetapi jangan sampai bolos rapat kapten donk." Gin memandang Hitsugaya dengan senyum rubah andalannya membuat Hitsugaya muak.

Aizen melihat ada seseorang yang disana. Tousen, ya si Buta Hitam itu belum mengunjunginya sampai sekarang. Aizen lalu menatap Gin dengan Rangiku dan Hitsugaya dengan Mayen. "Hitsugaya dan Mayen, kalian terlihat serasi ya."

Hitsugaya dan Mayen langsung memerah membuat Gin dan Rangiku juga tersenyum. "Hm.. Jangan-jangan kalian.." ucap Rangiku gantung.

"Urusai!!" seru Hitsugaya dan Mayen bersamaan.

"Tuuhh kan.. Berarti Cuma gue yang perjaka tua donk!!" teriak Aizen frustasi.

"Lagian juga mana ada cewek yang mau sama cowok maniak pink kea lo," kata Rangiku.

"OH NOO!!! Gue ga laku donk!! Huaa… Pangeran Byakuya!!!!!" teriak Aizen lebay dan langsung kena pukulan telak di kepalanya dari Mayen.

Mayen masang wajah angkernya pada Aizen. "Jangan bawa-bawa nama Byakkun!!" katanya sambil memegang bazooka –yang entah dapet dari mana-.

Aizen keringat dingin sedangkan Gin dan Rangiku hanya tertawa tebahak-bahak.

"AMPUUNNNN!!!!!!!!!!!!!!" jerit Aizen yang menggema di seluruh penjuru Soul Seiretei.

---END---


BinBin : Huee… Tamat euy..

Mayen : Oh iya, masih ada Shinigami Days Interview… jangan lupa review ya..!! maaf ga bisa bales review. Ga sempat, author lagi sibuk banget.