I only need a world that has you in it….
Rated: T for this chap
Main pair: Sasuke X Naruto,
Slight pair: Sasuke x Sakura, Gaara x Naruto
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Drama,Hurt/Comfort, Angst,
Warning: pastinya YAOI donkzzzz…. Xexexxe xp…narUKE- saSEME…fuufuufufuufufuuu…. #plak ga penting…. Maaf kalau masih banyak typo di chapter ini, #ojigi. Sungguh ini akibat kecerobohan "ku",,, "ku" harap masih berkenan membacanya ya…
Summary:
'Sasuke.. setelah 3 tahun akhirnya kau kembali, walaupun kini status kita sebagai saudara, tapi dengan kau disini itu sudah cukup bagiku, tetaplah seperti ini, disisiku menemani rasa sepi yang akau rasakan, temani aku disini, selamanya…'
#previews chapter
Ia tak menyangka, sama sekali tak menyangka, Naruto, orang yang sangat ia sayangi sebagai sahabatnya itu, kini, kini ia tengah berjuang menghadapi penyakit mematikan itu, sendiri. Hatinya semakin sesak, ia tak menyangka sang sahabat mampu menyembunyikan semua ini darinya. Ia tak menyangka perasaannya sebelumnya terbukti, hal yang ia tak inginkan kini terjadi….
"Mosh mosh….?"
"…."
"Sakura?"
"Sas..hiks.. hiks…."
"Sakura? Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Hiks.. bisakah kau pulang? Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu.. pulanglah.. aku mohon.. hiks.."
"Baik, baik, aku pulang. Tunggu aku akan segera kesana."
"Cepa-"
'Tuut..Tuut..Tuuutttt..'
"lah, Sasuke… hiks…"
Sakura POV
Apa yang harus kukatakan padanya? Mengapa semuanya menjadi semakin sulit? Sungguh aku lelah, ia pergi dengan membawa semua lukanya, hanya meninggalkan kenangan pahit bagi kami disini.
Naru.. kemana sebenarnya dirimu pergi? Kau tahu? Kau tak memberiku kesempatan, bukankah aku sahabatmu? Bukankah dulu kau pernah berjanji akan membagi semuanya padaku? Tapi mengapa kini kau pergi? Dan juga kau tak memberikanku kesempatan untuk minta maaf, hanya sekedar permintaan maafpun tak kau biarkan aku mengucapkannya.
Apa yang kau rasakan sekarang? Sakitkah? He.. tentu saja bukan? Mungkin lebih sakit dari apa yang kurasakan saat ini. Tapi, mengapa kau sanggup? Bukankah sakit itu telah lama kau pendam, bertahun-tahun, apakah kau pernah membaginya, Naru? Apakah semua rasa sakit yang tak kutahu kutorehkan padamu kau telan begitu saja? Betapa jahatnya diriku bukan? Aku yang merebutnya darimu Naru, bukan kau… lalu sekarang, kau pergi, apa yang bisa aku lakukan? Katakan Naru.. aku butuh jawabanmu.. hiks.. hiks….
End Sakura POV
Sasuke POV
'Drrtt.. Drttt…' kulihat ponselku bergetar, sebuah panggilan dari Sakura. Tumben? Pikirku heran. Kuangkat, namun tak ada jawaban. Kupanggil namanya, hening sejenak kemudian ia menjawab. 'Deg' perasaanku mendadak tak enak, ia menangis. Menangis? Kenapa? Padahal ia tak pernah lagi menangis sejak saat itu, kutanyakan semua kecemasanku padanya. Namun ia hanya menjawab untuk menyuruhku segera pulang, secepatnya. Untuk apa? Perasaanku semakin tak tenang. Setelah ia mengucapkan itu, kumatikan ponselku kuraih tas dan juga jaketku kemudian aku berlari keluar, tak kuhiraukan suara Neji yang memanggilku. Aku berlari secepat mungkin.
Beberapa menit kemudian aku sampai didepan rumah, langsung saja aku berlari kedalam, kuedarkan pandanganku namun aneh, tak kutemukan sosok yang kucari, kutajamkan pendengaranku. Dan, akupun mendengar suara isakan tangis dari lantai atas, tapi mengapa diatas? Heran, namun tetap kulangkahkan kakiku menuju keatas.
Sesampainya di atas, kulihat pintu kamar Naruto yang kini terbuka, kudekati perlahan dan suara isakan itu semakin terdengar jelas, ku panggil namanya, namun tiba-tiba aku tersentak…
"Saku…ra?" ujarku, kini yang kutatap didepan ku adalah kondisi kamar yang sangat rapi dan juga apa itu? Mengapa ada kain putih yang menutupi barang-barang dalam kamar itu? Lalu penghuninya, dimana gerangan penghuninya berada? Semua pertanyaan itu membayangi kepalaku. Kutolehkan kepalaku kearah dekat pintu yang telah terbuka, disana, Sakura tengah memandangku masih dengan air mata yang mengalir, tapi keadaannya membuatku khawatir, lihatlah luka-luka itu, lecet dimana- mana dan juga memar dan bengkak disekitar kaki. Aku hendak bersuara namun aku didahului olehnya.
"Naruto telah pergi." Ujarnya masih tetap menatapku. Aku bingung memang ada apa sebenarnya?
"Apa yang kau katakan? Dan ada apa dengan tubuhmu Saku-" ucapanku kembali terpotong.
"Sasuke, ia pergi. Pergi tanpa memberikan kesempatan padaku untuk minta maaf dan memperbaiki semuanya, ia pergi begitu saja, kau tahu ia menyembunyikan hal ini padaku, padamu dan mungkin juga pada yang lain. Aku bingung, kesal, kecewa, sedih, dan gelisah. Ia yang begitu aku sayangi, sahabatku yang mengerti diriku, namun aku mengecewakannya. Aku mengkhianatinya, aku merebut semuanya, hal yang berharga baginya, aku jahat Sas,,, aku jahat.. hiks.. hiks" paparnya padaku sambil menangis. Hanya sebagian yang aku bisa cerna di kepalaku, aku sangat yakin hal ini berkaitan dengan Naruto. Perasaanku kini semakin tak nyaman. Kudekati ia perlahan, kutanyakan lagi secara perlahan apa maksudnya. Sungguh otak pintar yang selama ini menjadi kelebihanku saat ini entah mengapa tak bisa kugunakan.
"Bisa kau jelaskan apa yang kau katakan barusan? Apa maksudmu dengan menyembunyikan sesuatu darimu, dan juga apa yang sebenarnya tak kuketahui telah terjadi. Sakura jawab aku!" tak sengaja suaraku sedikit tinggi, kulihat ia kaget, namun ia kembali seperti tadi diam sebentar kemudian kembali bicara.
"Ia, ia mengidap Alzheimer. Dan sekarang ia pergi dengan membawa semua rasa sakit itu, aku tak tahu ia pergi kemana. Aku kemari bermaksud untuk menjelaskan semuanya, semua yang sebenarnya terjadi, antara kita, kau, aku dan Naruto. Tapi ia pergi, sebelum sempat aku bertemu dengannya. Terlambat, semuanya sudah terlambat, Sasuke. Untukku, dan juga untukmu… " ujarnya padaku, mendadak kakiku lemas, tanganku yang semula mencengkram bahunya kini merosot mencerna puluhan kata yang baru saja ia ucapkan.
"Apa katamu? Alzheimer? Siapa? Siapa yang mengidap penyakit itu? Katakan. Katakan!" kali ini aku tak dapat menahan rasa sesak yang tiba-tiba meresapi dadaku.
"Naruto. Namikaze yang mencintaimu sampai saat ini. Ia yang mengidap penyakit itu" ujarnya memandang lurus ke kedua bola mataku.
Badanku semakin lemas, aku menggeleng, ya, sebagai seorang mahasiswa kedokteran tentu saja aku tahu apa itu Alzheimer, penyakit yang cukup mematikan walaupun membutuhkan waktu yang lumayan lama, namun tetap saja penyakit ini dapat merenggut nyawa seseorang, dan aku juga tahu sampai saat ini tak ada obat untuk penyakit ini, yang tak bisa aku bayangkan setahuku penyakit ini hanya diidap oleh orang tua dan bukan oleh seorang remaja, kecil kemungkinan diidap remaja, namun jika orang tua dari si remaja ada yang mengidap penyakit ini mungkin saja, itulah yang kutahu mengenai penyakit ini.
Kembali tak bisa kubayangkan, ia, Naruto, Dobe itu mengidap penyakit ini, sakit, dadaku sakit. Aku hanya bisa menatap tak percaya kearah Sakura, namun ia menyodorkan sebuah kertas padaku, dari kulitnya aku tahu kertas itu adalah kertas hasil pemeriksaan, tanganku bergetar, kubaca setiap huruf yang tertera dikertas itu, namanya, nama orang yang ternyata sampai saat ini masih mencintaiku itu tercetak tebal disana, aku menggeleng.
"Tidak… tidak.. Sakura.. ini bohong.. aku yakin ini tak benar.. ini palsu…" ujarku masih menggenggam surat itu dengan tangan gemetar, memandang Sakura yang juga memandangku seolah meyakinkan bahwa semua itu benar, dan aku harus menerima kenyataan itu.
"Itu benar Sas,, itu hasil keterangan Dokter.." ujarnya lemah.
"Tidak… tidak.. kita harus menanyakannya,, dimana? Dimana Naruto? Dimana dia? Kita harus menanyakannya langsung!"
"Sudah kukatakan ia pergi. Ia pergi meninggalkan kita. Aku tak tahu dimana ia sekarang."
"Bohong! Kau bohong Sakura! Kau bohong! Ia tak mungkin pergi! Ia masih disini, aku yakin. "
"CUKUP! Aku lelah Sas,, sudah kubilang, ia pergi. Kita terlambat. Sudah, hentikan.. aku tahu kau sedih tapi tolong, hentikan…hiks.."
"TIDAK! Aku akan mencarinya. Aku yakin Sakura ia masih disini, aku yakin, aku harus menemukannya. Harus!" seruku berusaha untuk berpikir, aku tak boleh diam saja, untuk kali ini aku ingin bahkan sangat ingin bertemu dengannya. Akupun berdiri walaaupun badanku sedikit lemas tapi tak kuhiraukan, saat akan melangkahkan kakiku tak sengaja aku melihat sebuah benda yang cukup kukenal. Benda yang seharusnya ada padanya, benda yang dulu terpaksa aku belikan untuknya, benda hadiah pertama dariku untuknya, tapi benda itu kini ada disini, ada pada seorang gadis berambut pink. Mengapa? Mengapa bisa ada padanya?
"Sakura, darimana kau dapat benda itu?" kutanyakan hal itu pada Sakura sambil menunjuk benda yang kumaksud.
"Eh?.." ucapnya pelan mungkin heran, mendadak aku menanyakan pertanyaan seperti itu padanya.
"Ah, ini aku menemukannya dulu sewaktu kita pertama kali bertemu di sekolah, benda ini tergeletak didekat pintu masuk karena unik jadi kuambil saja, aku tak tahu benda ini milik siapa."ujarnya padaku sambil mengangkat benda yang kini tergantung manis di ponselnya.
Aku kaget, itu berarti 3 tahun yang lalu? Mengapa?
"Itu milik Naruto." Ujarku pelan memastikan.
"Eh? A..apa?" Tanya Sakura bingung padaku.
"Benda itu milik Naruto." Ujarku pelan padanya, terdengar nada ketegasan dalam suaraku.
"Ta..tapi.. bagaimana mungkin sedangkan setelahnya aku tanyakan pada Naruto ia seolah tak mengenal—Oh Tidak, jangan bilang waktu itu ia.. ia melihat kita Sasuke? Ja.. jadi… " ujarnya perlahan masih bingung menatapku seolah-olah butuh penjelasan air mata kini mengalir lagi membasahi pipinya.
"….." aku diam berusaha mencerna semua yang Sakura katakan. Dan hal yang ia katakana itu, aku tahu semuanya bisa saja terjadi.
'Jadi, sikapnya sejak itu padaku berubah karena ini? Jadi ia melihatku dan Sakura saat itu, Sial!mengapa semuanya baru sekarang terungkap? Setelah semuanya kacau, Sial! Sial! Sial! Sial' rutukku dalam hati. Terbersit rasa penyesalan yang dalam hinggap didadaku. Sesak, membayangkan semua yang Naruto alami. Aku yang bodoh, aku yang terlalu mudah dikalahkan oleh rasa benci karena pengkhianatan darinya, kini apa lagi yang bisa aku lakukan? Ia pergi. Tanpa memberikanku kesempatan. Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin memulainya lagi, kali ini aku benar-benar berharap waktu terulang kembali, sehingga aku tak akan mengalami hal ini. Sakit, sakit karena ditinggalkan olehnya untuk yang kedua kalinya. Aku hanya terdiam di dekat pintu itu, memandang kosong kearah tembok didepanku. Hatiku sesak, seolah-olah akan ada yang mencuat keluar, tapi apa? Air mataku pun tak bisa keluar, seolah membeku didalam,. Sakit…. Rasa yang beribu-ribu kali lebih sakit dari saat itu…. Saat ia meninggalkanku….
Kau bodoh Sasuke…..
Bodoh…..
End of Sasuke POV
Tsuzuku….
Gimana? gimana? hmmm… ada yang berniat memberi kritik, saran, dukungan, pujian flame, bashing, atau apapun itu pada fic ini? silahkan-silahkan.. "Ku" siap menampung semuanya….
khukhukhukhu…
dan Terimakasih telah berkunjung
Akhir kata
Jaa, neee….
