ROOMMATES

Story by Jongie

Kim Jongin

Oh Sehun

Disclaimer:

Para Cast milik tuhan, diri mereka sendiri, dan orang-orang yang menyayangi mereka. Cerita milik yang buat. Biarpun gaje, tanpa plot, typo bertebaran, serta kekurangan lainnya dalam cerita ini, tetep milik yang buat. #bangga

.

.

.

.

Happy Reading~

.

.


"Ahhh …." Punggung Sehun melengkung saat Jongin menumbuk pusat kenikmatannya. Tidak sekali, tapi berkali-kali. Bahkan, saat mendengar desahan Sehun, Jongin kian meningkatkan tempo tusukannya.

Sehun mendekap erat punggung Jongin, menempelkan tubuhnya pada tubuh namja yang tengah menyetubuhinya. Merapalkan kalimat kenikmatan yang sedari tadi terucap dari bibir tipisnya.

"Ssshhh … aaahhh, lebihh … nghhh … lebih cepat Jong!" Sehun ucapkan dalam sekali tarikan napas karena otaknya sudah tak mampu mengontrol bibirnya yang terus mendesah. Mengekspresikan kenikmatan yang luar biasa menyerangnya.

"Aasshhhh …." Jongin ikut mendesah saat lubang Sehun mengjepitnya, meremas miliknya dengan sangat kuat, dan memijatnya dalam setiap sentuhan yang diberikannya.

Tak hanya tubuh bagian bawah, Jongin juga mengerjai tubuh bagian atas Sehun. Setelah bermain dengan tulang selangka Sehun, bibir Jongin bergerak turun menggoda nipple yang sedari tadi jadi mainan tangan-tangannya. Dihisapnya kuat salah satu nipple hingga sang empunya, mengerang kenikmatan sementara tangannya yang lain terus mengurut milik Sehun yang sama-sama tegang dengan miliknya di dalam tubuh Sehun.

Jongin terus memaju mundurkan pinggulnya. In. Out. In. Out. Semakin cepat tiap detiknya hingga Sehun tidak sanggup lagi mengimbangi permainan lawan bercintanya.

"Nghhh … Jonghhh, Jonginnnhhh … Ahhh! JONGIN!" lagi-lagi Jongin berhasil membuat Sehun menjeritkan namanya.

"Ssshhh … Sehunie … kamu sshhhsempithh … nghhh, sekali." Tanpa ampun, Jongin terus menghajar lubang Sehun. Miliknya semakin tegang juga membesar di dalam sana tanpa Sehun ketahui.

Mata Sehun terpejam erat dengan bibir ia gigit kuat-kuat. Tidak tahan dengan permainan Jongin yang kasar namun penuh kenikmatan. "J—jonghhh … A—aku … inginhhhssshhh … aahhh," lirih Sehun.

"Se—sebentar Hunshhh." Jongin melepas paksa lengan Sehun yang melingkasi tubuhnya. Tanpa melepaskan penyatuan mereka, Jongin memutar tubuh Sehun untuk membelakanginya. Secara insting, Sehun menungging. Meletakan tangannya di kepala tempat tidur, meremasnya kuat saat Jongin membenamkan lebih dalam miliknya.

"Shhh … ahhh." Jongin tidak pernah menyangka, posisi yang selalu dibicarakan teman-temannya memang terasa sangat nikmat. Miliknya terbenam sempurna di lubang Sehun. dan Jongin kian semangat memaju mundurkan pinggulnya.

Tidak sekali Jongin menyisakan kepala kejantanannya di lubang Sehun untuk kemudian dia hentak keras menumbuk pusat kenikmatan namja dibawahnya. Tidak ingin diam saja, Sehun ikut berkontribusi mengejar kenikmatan dirinya dengan Jongin, pemuda itu menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan pinggul Jongin. Merasakan benda panjang berurat di dalam lubangnya terus memberikannya sentakan-sentakan kenikmatan. Sehun mendongak saat lagi-lagi kejantanan Jongin mengenai titik prostatnya. Tenggorokannya terasa kering karena terus menerus mendesah. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya saat kenikmatan itu terus menyerangnya.

"J—Jonghhh … Aa—aku," gagap Sehun yang malah menggigit kemudian. Pasalnya, bertepatan dengan Sehun yang berbicara, Jongin kembali menumbuk pusat kenikmatannya. Belum lagi miliknya yang sudah menegang juga membesar di bawah sana. Rasanya, Sehun tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang siap keluar dari kejantananya.

"Sedikit lagi, Hun." Di atas sana Jongin masih mengomando. Mencari kenikmatan dirinya di lubang Sehun, sampai pemuda yang ditungganginya sudah tidak kuat bertahan lebih lama lagi.

"JONGIN!" teriak Sehun begitu dirinya keluar bersamaan dengan Jongin yang lagi-lagi menusuk pusat kenikmatannya di dalam sana.

Sehun yang hendak ambruk, di tangan lengan Jongin yang memegangi pinggang pemuda tersebut. " Sebentar, Hunhhh … ssshhh … aaahhh."

Sehun yang baru saja orgasme kian mengerutkan lubangnya, memijat milik Jongin yang terus membesar tiap detiknya. Dan dalam sekali hentakan, Jongin meremas pinggang Sehun. Menyemburkan cairan miliknya di dalam lubang Sehun, hingga meluber keluar.

Sehun ambruk. Benar-benar ambruk. Kegiatan mereka menguras tenaga yang tidak sedikit. Mata Sehun terpejam dengan napas tersengal-sengal. Dapat dirasakannya Jongin yang kini tengah menciumi punggungnya.

Sehun tersenyum. Terlalu lebar untuk seseorang yang baru saja dipaksa bercinta. Kekosongan menyapa Sehun saat Jongin melepas kejantanan miliknya. Berbalik, Sehun menemukan Jongin yang masih berada di atasnya dan tengah tersenyum lebar.


Setengah tersengal, Sehun terkekeh saat Jongin membaringkan tubuhnya di samping pemuda tersebut.

"Wah, begitu ternyata rasanya having sex dengan laki-laki," kekeh Sehun sembari menatap langit-langit di atas sana.

Di kasur yang tidak begitu besar, Jongin berguling menyamping memandangi profil Sehun yang masih terselimuti keringat. Sebelah lengannya Jongin pakai untuk menopang kepala. "Maksudmu?"

Sehun menolehkan kepalanya hingga menghadap Jongin. "Iya, having sex dengan laki-laki. Yang selalu kubayang kan having sex dengan perempuan." Meski mulut berkata demikian, dalam hati, perasaan Sehun ketar-ketir. Tidak ingin Jongin menyadari ada maksud lain dalam kalimatnya.

"Jadi maksudmu, yang tadi itu hanya sekedar seks biasa?" tuduh Jongin dengan sebelah alis terangkat. Tidak menyangka, pemikiran Sehun bakal demikian adanya.

"Iya. Lalu apalagi? Aku tidak tahu kalau hormonmu sebesar itu. Makanya cepat cari perempuan biar bisa melampiaskan hasratmu itu," jawab Sehun tak acuh sambil kembali memandangi langit-langit kamarnya yang entah kenapa lebih menarik ketimbang adam yang semenit lalu menyetubuhinya.

Sebenarnya ada hal lain yang ingin Sehun sembunyikan. Dan Jongin selalu bisa menemukan apa yang dia sembunyikan.

Kali ini Jongin yang terkekeh. Tanpa pemuda albino di sampingnya sadari, seorang Kim Jongin tengah mengukir seringai dibibir. Digapainya bibir Sehun yang sudah memerah karena ulahnya. Dilumatnya lembut bibir tersebut dengan penuh perasaan. Sehun membelalakan matanya, menatap ke arah kelopak mata Jongin yang tertutup sempurna.

"Kamu pikir, aku mau melakukan seks begitu saja? Terus, perempuan mana yang pernah aku ajak buat ngeseks? I told you, I promise to my self, for making love with someone that I love. Until now, I still keep my promise. So, kamu bisa simpulin sendiri kan, bagiku yang tadi itu apa. That my first sex, and I do that with someone I loved," bisik Jongin tepat di depan wajah Sehun dengan senyum terkembang. Pemuda itu kemudian terkekeh melihat wajah bingung sahabat yang sudah menjadi roommatesnya beberapa tahun belakang ini.

Dia tahu semua ini konyol. Dia tahu banyak hal yang tidak mungkin bisa berubah menjadi mungkin. Bahkan friends, can be loved. Dan Jongin baru sadar, perasaan itu kian kuat di saat dirinya berdekatan dengan Sehun. Kulit bertemu kulit dan dengan tidak sengaja bibirnya menyentuh permukaan halus pipi Sehun. Atau tepatnya saat Sehun memintanya mengajari gitar. Setelah hari-hari itu, diam-diam, Jongin selalu memperhatikan Sehun meski dari kejauhan. Berlama-lama menatapnya hanya untuk menunggu beragam ekspresi Sehun yang menurutnya menggemaskan.

Jongin sadar dirinya jadi gila memperhatikan Sehun saat sunbae mereka Leeteuk, meminta mereka untuk menjadi model dadakan dan berakhir dengan dirinya yang ketahuan tengah memperhatikan Sehun. Pada saat itu, Jongin berdoa semoga Sehun tidak pernah menyadari arti dari tatapannya. Bahkan hingga saat ini, Jongin masih menyimpan hasil cetak foto itu di dalam dompetnya.

Perasaan khawatir Sehun bakal menyadari perasaannya terkalahkan dengan perasaan khawatirnya pada Sehun yang tidak pulang tepat waktu. Juga pada saat Jongin tahu kalau Sehun mabuk parah. Tapi kekhawatirannya terbayarkan dengan perasaan senang saat Sehun terus menempel padanya. Hitung-hitung kesempatan dalam kesempitan. Dalam hati Jongin berharap, Sehun tidak mengingat hal tersebut saat tersadar nantiya.

Sayangnya perasaan khawatir itu datang kembali saat Sehun bangun, pemuda itu muntah-muntah hebat setelah menendangnya hingga terjungkal ke lantai. Yah, Jongin tidak menyalahi Sehun sih. Siapa juga yang tidak akan bereaksi demikian kalau menemukan orang asing yang tertidur disampingmu. Kekhawatiran Jongin kian bertambah saat Sehun pergi begitu saja padahal kesehatannya belum pulih seratus persen. Ditambah, Chanyeol juga Baekhyun yang mengatakan wajah Sehun yang terlihat memerah. Bertambah khawatirlah Kim Jongin kita ini.

Untungnya, Jongin bisa menemukan Sehun dengan mudah. Membantu pemuda itu mencari map yang Kris inginkan, dapat mempercepat pekerjaan Sehun. Dengan demikian, dirinya dengan Sehun bisa cepat pulang. Naasnya, ada hal buruk terjadi yang sedikit banyak membuat Jongin bersyukur dalam hati. Tapi dasar, naga yang tidak tahu situasi dan kondisi, main nyelonong masuk saja, di saat Jongin hampir menggapai bibir Sehun dan merasai manis yang dirindukannya.

Siang tadi, Jongin tidak benar-benar mengerti dengan perasaannya terhadap Sehun beberapa bulan ini, sampai Kyungsoo yang dengan seenak jidatnya, menyentuh Sehunnya. Miliknya yang paling berharga.

Dibakar amarah, Jongin melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan pada miliknya yang paling dia sayangi. Menatap lekat Sehun di bawah sana, Jongin tersenyum tipis.

"Mianhae," bisiknya sebelum kemudian Jongin mengecup sayang kening Sehun lama. Dipandanginya kembali netra yang membuatnya kian terbuai untuk terus menyelaminya.

"I Love you, Oh Sehun. Maaf, sudah menyakitimu." Senyum tampan Jongin berikan. Tak juga mendapat reaksi apa-apa, Jongin kecup sudut bibir pemuda dibawahnya hingga Sehun mengerjap, merasakan oksigen memasuki paru-parunya.

Pemuda itu mengap-mengap. "Kamu bercanda yah, Jong?"

Sehun kaget luar biasa. Tidak menyangka sahabatnya ini bakalan mengungkapkan perasaannya dengan begitu mudahnya. Tidak seperti dirinya yang dibuat galau setengah mati dengan perasaannya sendiri. Tidak ingin merusak persahabatan yang sudah terbentuk sekian tahun. Tidak ingin Jongin jijik terhadap dirinya lalu mulai menjauhinya.

Sehun sudah jatuh ke dalam pesona seorang Kim Jongin. Itu yang dikatakan Kyungsoo, sunbae yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri. Awalnya Sehun tidak yakin. Benar-benar tidak yakin dengan perasaan yang menyambanginya beberapa bulan terakhir ini. Tidak sampai Jongin mencumbunya penuh nafsu beberapa saat lalu.

Sehun ingin menolak. Namun juga tidak memungkiri kalau Sehun menginginkannya. Saat Jongin memasuki dirinya, menyentuhnya di pusat kenikmatannya, Sehun sadar, Sehun menginginkan semua itu. Dia menginginkan Jongin menyentuhnya lagi dan lagi, lalu membawanya ke kenikmatan yang tidak akan di dapatnya dari orang lain.

Oh Sehun menginginkan Kim Jongin menjadi miliknya. Selamanya.

Entah itu cinta atau sayang, Sehun merasa nyaman berada di sekitar Jongin. Berada di samping pemuda yang selalu mengisi kesehariannya. Dan mungkin dari sekarang akan terus berlanjut hingga nanti.

Sehun akan memastikannya demikian.

Kerut di keningnya menghilang berganti dengan senyum lebar terkembang. Ditangkupnya wajah Jongin yang masih setia memandanginya. Mata Sehun berbinar.

"Kamu nggak lagi bercanda, kan Jong? Karena setelah ini, akan kupastikan kamu tidak akan bisa menyentuh perempuan manapun. Kamu hanya boleh menyentuhku. Kalau kamu berani-beraninya bermain dengan perempuan atau laki-laki lain, akan kupastikan kejantananmu hanya tinggal nama."

Sesungguhnya ancaman Sehun luar biasa menakutkan, namun entah kenapa, Jongin malah terkekeh mendengarnya.

"Kalau kamu melakukan hal yang sama, akan kupastikan kamu tidak akan berjalan selama satu bulan. Kalau perlu selama-lamanya. Aku akan mengikatmu di ranjang dan akan terus mendesahkan namaku tanpa mengingat apapun."

Tidak kalah gila, Sehun malah tergelak mendengar ancaman Kim Jongin, sahabatnya, roommates-nya, atau mungkin kini jadi … kekasihnya?

"So?" tanya Sehun menggantung dengan senyum terkulum, juga binary mata yang menggoda Jongin.

"So …." Menanggapinya, Jongin malah kian merapatkan tubuh mereka. Menggapai telinga Sehun, menjilatnya sebelum kemudian membisikan kalimat yang membuat seluruh tubuh Sehun bergetar. "… ready for second round, babe?"

Sehun tersenyum tipis lalu mengusakkan hidungnya di perpotongan leher Jongin. Mengerang saat Jongin membelai perut ratanya lalu meremas miliknya yang kini mulai menegang kembali.

"Shout my name loudly, babe."

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

Seriusan end! XD

Muehehehe… akhirnya~

Fiuhhhhh~ saya bisa menamatkan salah satu fict saya yang sering banyak terbengkalai. Maaf buat yang merasa terphp'kan. Maaf saya baru bisa posting ff ini sekarang, padahal janjinya sekitar seminggu yang lalu. I don't want tell the reason, because I know … itu pasti terdengar membosankan dan akal-akalan.

Jadi… silahkan dinikmati, hihi.

Sebelumnya saya minta maaf, menamatkan ff ini begitu saja. haha. Saya juga minta maaf kalo dari awal ini ff nggak ada konfliknya, terlalu receh, jauh dari kata 'wah', tapi saya berterimakasih untuk semua orang yang sudah mendukung ff ini. Review teman-teman semua membuat saya semangat mengetik dan menamatkan ff ini.. haha.

Saya mau menyelesaikan fict saya satu persatu. Setelah ini, ada yang mau kasih masukan? Blackhole apa Kaihun Area?

Krisannya juseyooo~ :3

Oiya, saya mau tau dong, kesan teman-teman sama fict saya yang satu ini, hehe.

Kurang hot, kah? (ini mah sih jelas kurang banget! XD) kurang greget (apalagi yang ini? :3), bahasanya bikin geli, apaaaa … kurang panjang? (apanya? XD) Fictnya maksudnya.. kkk~ ^^

Kiranya masukan teman-teman bisa jadi pelajaran buat saya agar lebih baik lagi kedepannya.

Terimakasih udah nemenin fict ini dari awal sampai akhir! :D

Love you all~ :*

Btw, saya sudah siapkan cerita lain buat nebus kemoloran update ff ini, hehe. Review-nya Juseyooo~ :3