Love Comes From Inside
Ohayou/Konbawa minna! ^^ Sepertinya chapter kemaren kurang memuaskan ya? Gomen ... soalnya sense humor author lagi jelek, karena lagi libur sekolah. Biasanya kan yang ngasih inspirasi untuk fict author itu bestie – bestie author di sekolah *cie cie ...* (curhat deh -,-)
Ekhem ... lupakan yang tadi. Gomen juga, gak bisa update kilat. Dan ... mau ngomong apalagi author bingung. Udah ah ... langsung aja, lets balas review! Cekidot! ^^ :
98 :
OK, ini udah disambung! ^^ review lagi dong? ;)
V3Banana :
Hehehe ...
Iya, jadi tuh SaiIno nikah getoooh *Horeeee!* eeem ... gimana ya? kalau konflik SasuSaku mungkin di last chapter ada, sekian *digebugin* Yosh! Thanks supportnya ya. ditunggu review-mu selanjutnya! ;)
de-chan :
Yo juga! Yeaaaay! *bales peluk* *apaan sih?* heheh, makasih ya. Iya ini udah dilanjut kok! Review lagi ya! ;)
SabakuNoNisa :
Hai juga! ^^
Kyaaaa ... gomen gomen gomen ... *bungkuk - bungkuk* OK, author akan tingkatkan lagi. Semoga yang ini udah bagus ya (tapi author gak yakin, nih) Makasih supportnya! Review lagi dong? ;)
KonoHaru :
Wah, author jadi ikut seneng deh kalau readers terhibur ^^ Yah ... dipercayain aja XD *ditimpuk buku* Ya udah, gak jadi masalah dong XD
Ooooh ... begitu toh. Baru tau saya *kudet!* Yosh! Thanks supportnya! Review lagi ya? ;)
Hanabi Uchiha :
Ini udah dilanjut! ^^ Review lagi dong? ;)
Haruno Melanie :
Waah ... masa sih? Hhmmm ... singkatnya aja namaku Andin. Salam kenal ya ^^
s.s.s.s.s
Makasih buat supportnya, dan dukungannya! RnR lagi dong? ;)
All right! Langsung aja, gak usah pake bacot - bacotan. Ini dia, dengan bangga author mempersembahkan 'Love Comes From Inside' chapter 9! Happy reading! ^^
Naruto selalu punya Masashi Kishimoto-sensei
.
WARNING! : Typo bertebaran, alur kecepetan, OOC, humor garing, Romancenya aneh, pakenya budaya Indonesia (?), gaje, ide pasaran, dll (etc)
.
Cerita ini MURNI karya saya sendiri. Jika ada kesamaan adegan, alur cerita, tokoh, dll, adalah sesuatu yang tak disengaja
^^ !Arigatou! ^^
o.o.o.o.o.o.o
Di sebuah restaurant mewah di pusat kota Konoha, terdapat dua pasang muda mudi tengah duduk berhadapan di satu meja yang sama. Tak lain lagi, mereka adalah Sasuke, Sakura, Ino, dan Sai. Karena kejadian yang dibuat Sakura secara tiba – tiba, kini mereka berempat akhirnya terdampar disana.
'Sialan! Buat apa sih Sakura mengajak mereka segala? Padahal aku sangat sangat sangat SANGAAAAAAAT! Menantikan momen ini. Berdua dengan Sakura. Karena aku mau ngomong soal itu. Tapi kedua insan ini malah di ajak. Masa iya aku mau menyatakan perasaanku dihadapan orang lain? Jijik! Sungguh non-Uchiha' batin Sasuke kesal.
"Arigatou, Sasuke-kun. Maaf merepotkanmu" ujar Ino merasa bersalah,
"Eh? Ah, enggak kok ... lagian juga aku gak bisa menolak permintaan Sakura" jawab Sasuke. Mendengar itu, Sakura terkaget.
"Emang kenapa lo gak bisa nolak kemauan gue? Hm hm?" timpal Sakura,
"Err ... gak penting alasannya. Nah, habiskan saja makanannya" elak Sasuke dan mengalihkan pembicaraan. Mereka pun melanjutkan acara makan malam tersebut. Tiba – tiba Ino memekik,
"Oh iya! Aku kan belum memilih gaun mana yang akan kupakai untuk pernikahanku nanti! Duuh ... gimana ya?" ujarnya gelisah,
"Memangnya besok tidak bisa ya?" tanya Sai,
"Tidak. Ai-chan bilang terakhir hari ini, karena ada yang mau mem-booking salah satu gaun pilihanku itu juga" sahut Ino. Sai pun terdiam sesaat, kemudian memandangi Sakura dan Sasuke bergantian sambil tersenyum.
"Gomen nee ... sepertinya kita harus pergi duluan. Apa tidak apa – apa, Sasuke-san?" ucap Sai memelas,
"A-"
"Iya, tidak apa – apa kok. Lagian juga ini darurat kan? Pergi saja. Pilih gaun yang terbaik ya!" sahut Sakura memotong ucapan Sasuke. Ino dan Sai akhirnya pamit duluan, meninggalkan Sakura beserta Sasuke sendirian. Suasana awkward perlahan – lahan memasuki wilayah mereka. Mereka berdua sama – sama terdiam. Sasuke yang canggung, dan Sakura yang gak tau mau ngapain.
Bolak – balik Sasuke meremas jari jemarinya gelisah. Keringat dingin juga meluncur bebas melewati pelipisnya.
'Ngomong gak ya? Ngomong ... enggak ... ngomong ... enggak ... ngomong ...'
"Etto ... jidat ..."
"Hm? Apa ayam?" sahut Sakura sambil memandang Sasuke penasaran.
"Kenapa? Ada apa?"
"Anoo ... gak jadi" tiba – tiba saja nyalinya menciut. Ia membuang muka, guna menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Eh? Gak biasanya lo kayak gini" ucap Sakura cuek, kemudian ia mengeluarkan ponselnya. Sementara Sasuke sedang memaki – maki dirinya sendiri di dalam hati.
'Sasuke lo emang bener – bener bego! Susah banget sih ngomong beginian. Padahal tadi udah diujung mulut, tinggal keluar aja. Eeeeeh ... kagak jadi. Huuuh ... lebih susah dari perkiraanku'
"Sasuke ..."
"Hn?"
"Pulang yuk ... udah malem" bujuk Sakura. Sementara Sasuke terlihat sedang menimbang – nimbang keputusannya.
"Hn"
'Kesempatan! Gak boleh disia – siakan. Gue harus nyatain perasaan gue di mobil. HARUS DI MOBIL! Yosh!' batin Sasuke semangat.
.
.
Di mobil~
Hening. Sama sekali tidak ada yang berbicara. Sasuke jadi kesal sendiri. Padahal ini adalah kesempatan emas. Coba aja kalo mukanya Sakura gak ngantuk begitu, pasti udah Sasuke bawa ke pinggir kota, di bawah pohon Sakura, dengan alunan lagu romantis. Wiss ... sayangnya gak bakalan terjadi, mukanya Sakura aja udah kaya orang gak tidur seminggu. Sekali lagi, Sasuke menghela napas panjang. Akhirnya ia putuskan untuk menyetel lagu yang slow lewat tape mobilnya.
"Kamu marah ya, Sasuke?" Sasuke menoleh ke arah Sakura sejenak, kemudian tertawa hambar.
"Ahaha ... enggak kok. Siapa yang marah?"
"Tuh kan ... ketawamu aja kaya gitu. Kamu pasti marah sama aku udah ngajak Ino sama Sai, iya kan?"
'Itu udah gak masalah. Yang jadi masalah itu gue sendiri tau!' batin Sasuke jengkel.
"Enggak kok. Awalnya sih, emang kesel sedikit" sahut Sasuke sambil sesekali melirik ke arah Sakura (takut ketahuan dia blushing). Mendengar penuturan Sasuke, Sakura menegapkan tubuhnya dan membetulkan posisi duduknya. Kemudian ia menjawab sambil tersenyum,
"Kalo gitu, besok aku bakal masakin makanan kesukaanmu! Uum ... sebagai tanda minta maaf sih. Gak papa kan?"
"Aa ... gak papa" jawab Sasuke kemudian tersenyum kecil. Beberapa saat hening, sampai Sakura buka suara lagi.
"Hoaaaaamh! Aku ngantuk sekali"
"Hhh ... salahkan kau yang kerja dari pagi sampai siang seperti tadi"
"Apaan sih kau! Kalau aku tidak merencanakan jadwal dengan benar, nanti aku kelabakan sendiri waktu di kantor. Memangnya hanya kau saja yang punya jadwal kerja? Aku juga punya jadwal tau!"
"Paling tidak kan bisa di sambung besok. Aku tau, kalau kemarin kau tidur jan 12 lebih. Itu sudah larut sekali tau. Gak heran sih kalo kamu ngantuk banget jam segini"
"Padahal kan masih jam 9, biasanya juga aku tidur jam 10 lebih. Hoaaaamh!"
"Ya udah, sana tidur. Nanti kalau sudah sampai kubangunkan"
"Janji?"
"Hn, janji"
"Heeh ... kau jadi mirip Itachi-nii kalau begini" mendengar ucapan Sakura, Sasuke langsung blushing.
"O – Oy! Jangan memandingkanku dengan baka Itachi! Sudah sana tidur!" seru Sasuke. Saat ini perasaannya sedang campur aduk, antara malu, senang, dan jengkel. Malu, karena baru pernah Sakura memujinya dengan tulus (oh yeah? Masa?). Senang, karena merasa diperhatikan oleh Sakura. Jengkel, karena kenapa ia harus dibandingkan dengan Itachi, seperti tidak ada yang lain saja.
Sesampainya dirumah, Sasuke tidak menepati janjinya. Ia langsung membawa Sakura menuju kamarnya tanpa membangunkannya. Setelah menidurkan Sakura diranjang, Sasuke menyelimuti Sakura dengan bed cover sampai sebatas dada. Setelah selesai, ia menuju ke pintu dan mematikan lampunya. Ia memandangi Sakura sejenak. Wajahnya bagaikan malaikat saat tertidur dan terlihat sangat damai. Sasuke mendesah pelan, kemudian tersenyum,
"Oyasuminasai, Sakura. Aishiteru" lirihnya, kemudian menutup pintu kamar Sakura.
Di kamarnya, Sasuke merenung. Betapa lancarnya tadi saat ia mengucapkan aishiteru di depan Sakura 'yang tertidur'. Tapi kenapa tidak saat Sakura sadar? Menurutnya, itu sangat menjengkelkan. Ternyata, menyampaikan perasaan pada seseorang yang disukai itu tidaklah mudah. Bagai mengangkat Gunung Fuji menggunakan sebuah pensil. Itu sangat tidak mungkin, dan yang paling penting tingkat keberhasilannya adalah nol.
"Kalau besok Sakura ingin membuatkan makan malam untukku, otomatis dia pulang lebih larut. Apa aku harus membuat kejutan untuknya? Tapi dia suka apa? Gak mungkin aku kasih dia bunga mawar, terlalu sweet buat cewek tomboy, galak, dan pemaksa kayak Sakura. Tapi kok aku bisa suka sama dia ya? Ah, itu gak jadi masalah. Yang jadi problem sekarang adalah, hal apa yang Sakura sukai? Hmmm ... aku harus tanya sama dia besok waktu sarapan. Yosh! Harus bisa!" tekadnya. Setelah memikirkan rencana matang – matang, ia pun mulai memasuki alam mimpi dan menunggu hari esok tiba.
.
.
Keesokan harinya~
Beep beep beep ... beep beep beep ... beep beep beep ... beep-tik!
Jam weker yang terus berdering akhirnya mati juga. Si empunya pun terbangun, dan meregangkan seluruh ototnya. Ia adalah pemuda bernama Sasuke. Setelah kesadarannya berkumpul menjadi satu, ia langsung meraih handuknya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Seselesainya, ia pun turun menuju dapur. Spot wajib yang harus ia kunjungi pertama kali. Sesampainya disana, ia meraih gelas dan mengisinya dengan air mineral. Sampai sebuah suara mengejutkannya,
"Ohayou gozaimasu, ayam!" ujar suara riang dibelakangnya. Sasuke pun berbalik, dan melihat Sakura tengah tersenyum riang di jarak beberapa meter dari tempat ia berdiri.
"Hn. Ohayou jidat" sahut Sasuke. Tiba – tiba, Sakura mendekatinya dan menyeretnya menuju ke ruang tengah. Di sana sudah terdapat aneka macam sushi dan dua mangkuk kecil kecap asin, segelas jus melon dan jus tomat, sepiring penuh gyoza, dan beberapa keripik kentang.
"Nah, sarapan pagi sudah siap!" seru Sakura bangga. Sasuke yang keheranan pun melirik ke arah Sakura. Sakura balas menatap Sasuke dengan senyum mengembang di wajahnya,
"Ayo! Kau duduk disini ya!" Sakura mendudukan Sasuke di salah satu sisi meja, kemudian ia duduk di tempat yang berlawanan dengan Sasuke. Sasuke yang masih bingung pun bertanya.
"Kenapa kau ini? Gak ada ujan, badai, maupun banjir ... tiba – tiba membuatkanku makanan sebanyak ini"
"Kenapa memangnya? Kau tak suka?" Sakura balik bertanya,
"Bukan begitu, hanya saja ... tumben"
"Oh, begitu. Tidak apa – apa kok. Makanlah ... mumpung mood-ku sedang baik, jadi aku membuatkanmu ini semua" ujar Sakura santai kemudian menyantap sepiring california roll.
"Jangan bilang ... kau masih meraka bersalah gara – gara kemarin?" ujar Sasuke menyelidik,
"Yaah ... uum ... err ... masih sedikit sih" sahut Sakura sambil menundukan wajahnya,
"Sudahlah, tidak apa – apa ... buatkan aku makan malam saja. Yang enak ya" pinta Sasuke,
"Ha'i!" sahut Sakura dengan semangat 45. Kemudian mereka melanjutkan sarapan mereka dengan hikmat. Setelah selesai, waktu luang yang ada mereka habiskan dengan menonton film sambil makan cemilan.
"Sakura, aku mau tanya" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV,
"Apa?" sahut Sakura yang masih terfokus untuk menonton film,
"Hal apa yang kau suka?" Sakura langsung menoleh ke arah Sasuke, kemudian terdiam.
"Kalau kau tidak mau menjawab, juga tidak apa - apa" sambung Sasuke.
"T – Tidak! aku akan menjawabnya kok. Mmm ... aku suka dengan segala sesuatu yang berbau romantis dan aku juga suka taman yang banyak punya banyak pohon sakura, aku juga suka coklat, sushi, jus melon, buah ceri, buah apel, dan ... aku suka mendekorasi rumah" sahut Sakura, Sasuke menyimaknya dengan seksama.
"... banyak sekali, apa kau yakin?" ujar Sasuke memastikan. Sakura hanya menghela napas mendengar ucapan Sasuke, kemudian beranjak dari duduknya.
"Kau itu tanyanya tidak/kurang spesifik, jadi aku jawab seperti itu saja. Sudahlah ... aku mau bersiap berangkat kerja dulu. Kau .. libur?" tanya Sakura, Sasuke mengangguk.
"Jangan lupa beres – beres rumah ya, ayam?" sambungnya kemudian ia naik ke lantai 2.
.
.
Siangnya, Sasuke sibuk membersihkan rumah. Saking bersihnya, sampai tidak ada 1 inchi pun yang tidak ia bersihkan. Setelah selesai, ia segera pergi ke supermarket untuk membeli keperluan membuat kejutan untuk Sakura.
"Hmmm ... pita – pita, cek. Balon, cek. Lilin – lilin, cek. Kurang kelopak bunga sakura. Beli dimana ya?" gumam Sasuke saat ada di parkiran. Di tangan kirinya terdapat sekantung besar belanjaan, sementara tangan kanannya memegang list yang ia butuhkan untuk membuat kejutan tersebut.
"Mmm ... mungkin saja Ino menjualnya. Aku akan ke toko bunganya Ino" Sasuke langsung masuk ke mobil dan tancap gas menuju ke toko bunga milik keluarga Yamanaka.
KRING!
Bel pintu masuk toko bunga yang megah itu berbunyi. Ino yang sedang berjaga langsung berdiri tegap dan memberikan salam kepada pelanggan yang datang.
"Ohayou gozaimasu! Ada yang ... lho, Sasuke?" ucap Ino kaget, Sasuke hanya membalasnya dengan senyum ringan.
"Tumben ke sini, ada apa?"
"Lo jual kelopak bunga gak?"
"Ada sih ... tapi kiloan. Mau bunga apa?"
"Kalo bunga sakura ada gak?" ujar Sasuke. Ino terlihat sedang berpikir keras, kemudian menjentikan jarinya.
"Kaya masih ada beberapa plastik deh. Gue ambil dulu ya. Kalo mau, lo liat – liat yang lain dulu aja, takut lama" sahut Ino kemudian berbalik menuju ke pintu di balik meja kasir. Sasuke pun memutuskan untuk melihat – lihat bunga yang lainnya selagi Ino pergi menge-chek stok bunga. Toko bunga milik keluarga Yamanaka ini memang toko bunga yang paling lengkap. Mulai dari bunga asli, sampai bunga tiruan pun ada. Toko ini juga merupakan toko bunga yang di wariskan secara turun – temurun.
Saat melihat – lihat, tiba – tiba manik onyx Sasuke berhenti di depan sebuah pot yang berisi bunga berwarna putih. Ia pun membaca nama bunga tersebut,
"Hmm ... bunga lili, ya?" gumam Sasuke. Ia memandangi bunga itu sejenak sampai ia merasakan sebuah tepukan dibahunya. Sasuke pun berbalik dan mendapati Ino yang tengah memegang kardus berisi kelopak bunga kiloan yang ia minta tadi.
"Ini dia. Baru di ambil tadi pagi sih, jadi masih segar"
"Oh, ya ... satu plastik saja"
"Tidak ada yag lain lagi?" tanya Ino memastikan. Sasuke pun beralih pada bunga lili putih yang sedari tadi ia pandangi.
"Oooh ... kau tertarik dengan bunga lili itu?"
"Hmm ... sepertinya. Menurutmu, apa cocok buat Sakura?"
"Mmmm ... kalau menurutku pribadi sih, belikan saja beberapa tangkai, kamudian taruh di vas. Sakura pasti menyukainya"
"Baiklah, aku minta 2 tangkai saja"
"OK," dengan cekatan tangan Ino membungkus 2 tangkai bunga lili ke dalam plastik kecil berisi air, agar bunganya tidak layu. Kemudian, ia membawa Sasuke ke kasir.
"Berapa?"
"Gratis saja" mendengar ucapan Ino, Sasuke terkejut.
"Gratis? Yang benar saja! Aku tetap harus membayar"
"Sudahlah, lagian sesekali memberikan gratisan tidak apa – apa kan? Lagi pula, sebentar lagi aku akan menikah dengan Sai. Anggap saja pemberian kecil sebagai tanda terimakasih untuk Sakura yang telah membantuku" sahut Ino. Sasuke terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk.
"Baiklah, kalau kau memaksa. Semoga kau langgeng dengan Sai. Aku pergi dulu"
"Ya, terimakasih doanya. Titip salam untuk Sakura-chan ya!" Sasuke mengiyakan ucapan Ino, kemudian melesat pergi ke rumahnya.
.
.
Malamnya~
Suasana di rumah sakit terbesar di Konoha mulai sepi. Tidak heran karena sekarang sudah pukul 7 malam hari. Sakura masih duduk manis di kantornya sembari menata tumpukan kertas yang berserakan dimejanya. Beberapa menit berlalu, akhirnya 'pekerjaan tambahan' itu selesai. Ia segera bersiap pulang, sekalian mampir ke mall untuk membeli bahan – bahan memasak.
Dikoridor, ia bertemu dengan Sai dari arah berlawanan.
"Konbawa Sakura-chan"
"Oh, Konbawa Sai. Baru selesai?"
"Iya. Hari ini aku mendapatkan jatah operasi paling banyak, jadi baru selesai. Kau mau pulang?"
"Iya. Aku juga ingin mampir ke mall sebentar"
"Tapi, tadi kulihat kau tidak membawa mobil"
"Hehehe ... hari ini mobilku aku service. Jadi aku berangkat naik taxi"
"Kalau begitu, kuantarkan ya? Aku bisa bilang Ino untuk menunggu"
"Ah, tidak usah. Aku jalan kaki saja"
"Tapi terlalu berbahaya. Apalagi sekarang sering terjadi pemerkosaan. Lebih baik kuantar saja"
"Sudahlah. Takut merepotkanmu juga, soalnya aku ingin mampir ke beberapa tempat. Nanti Ino bisa mengomel kalau kau terlambat" sahut Sakura dengan senyum di wajahnya. Sai yang sudah khawatir tingkat tinggi hanya menghela napas panjang.
"Kalau begitu, jaga dirimu baik – baik ya"
"Ya, tentu saja. Aku duluan, Sai"
"Hm, hati - hati" balas Sai, kemudian berlalu pergi, sama halnya dengan Sakura yang buru – buru keluar rumah sakit.
Jalanan di Konoha di malam hari benar – benar ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, dan tak sedikit juga yang memilih untuk berjalan kaki. Sakura dengan santai berjalan dan membaur bersama dengan pejalan kaki lainnya.
"Huuuh ... aku bodoh sekali sih. Kenapa tadi tidak pakai celana saja? Menyebalkan. Kalau pake rok span begini kan jadi repot, haduuh ..." gerutu Sakura. Dan tanpa ia sadari, ia sudah masuk ke kawasan yang sepi. Jarang sekali, -ralat, bahkan tidak ada yang lewat di situ selain ia sendiri.
"Aku dimana sekarang? Wilayah ini, asing sekali. Aku gak pernah lewat sini sebelumnya" gumam Sakura sambil melihat sekeliling. Beberapa saat berjalan, mulai ada firasat buruk, dan ada yang sedang mengikutinya dari belakang. Refleks, ia berhenti dan berbalik.
"Siapa disana! Tunjukan dirimu!" teriak Sakura dengan lantang. Manik emeraldnya melirik ke sekitarnya waspada. Sampai tiba – tiba terdengar suara tepuk tangan.
"Wah wah wah ... sepertinya kau mangsa yang tidak biasa. Sampai berani menantang seperti itu" seorang preman bertubuh kekar dan besar keluar dari ujung gang. Kemudian disusul oleh tiga teman lainnya.
"Siapa kau?! Apa maumu?!"
"Ternyata kau tidak mengenal kami ya. hahaha ... kukira kita sudah cukup populer di Konoha"
"Mungkin dia orang baru"
"Ini jadi semakin menarik"
"Diam! Aku bosnya disini, kalian tidak berhak berbicara berlebih!" tiga pria itu langsung bungkam.
"Kami adalah geng vipers ..."
DEG!
'Geng ... geng vipers itu?!' batin Sakura. Ia pun teringat pembicaraannya dengan Shion tentang geng vipers tadi siang. Sakura langsung meningkatkan tingkat kewaspadaannya.
"Hmm ... lebih baik kita apakan dia? Kita culik? Kita copet? Atau kita akan bermain – main sebentar, hm?"
"Maaf, aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan kalian" Sakura berbalik badan tapi pundaknya di cengkram erat oleh salah satu komplotan tersebut.
"Hey hey ... jangan terburu – buru seperti itu, manis"
SREK! BUAGH!
Sakura langsung membanting pria tersebut. Yang lainnya pun terkejut atas tindakan Sakura.
'Hhh ... terpaksa kulakukan ini. Meskipun nanti mereka yang memenangkan pertarungan. Dan aku menyesal menggunakan rok span!' batin Sakura.
"Kau hebat juga"
"Kau menantang kami, hah?!"
"Sebaiknya kita beri dia pelajaran" melihat bahaya datang, Sakura merobek sedikit bagian jahitan rok-nya dan segera memasang kuda – kuda.
BUAGH! DUAK! SREK! BUGH!
Terjadi pertarungan sengit antara keempat pria itu dengan Sakura. Berkali – kali pula Sakura merasakan sakit di sekujur tubuhnya, malah sampai menimbulkan bekas lebam biru. Akhirnya, ketiga preman itu tumbang oleh Sakura.
"Hah hah hah hah ... akhirnya ... selesai juga .. hah hah hah ..." ujar Sakura ngos – ngosan. Tiba – tiba ponselnya berdering. Ia segera merogoh saku rok-nya.
"Moshi – moshi-"
CRAAAT!
Sakura merasakan nyeri yang amat sangat di perut kirinya. Tubuhnya pun tiba – tiba mati rasa, tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kau melupakan satu orang, adik manis" ujar salah satu preman yang tersisa. Sakura refleks melihat kebawah. Manik emeraldnya membulat sempurna ketika melihat perutnya yang mengeluarkan darah.
SREEK!
Pisau yang menancap di perutnya itu tercabut. Sakura pun langsung terjatuh dengan kondisi mengenaskan. Darah segar masih setia keluar dari bekas tusukan tadi.
"Ayo kita kabur!"
"Bawa tasnya!"
"Ayo cepat!" para preman itu pun kabur sembari membawa tas jinjing milik Sakura. Beruntung ponselnya masih ia genggam dan sambungan telfon belum terputus.
"S – Sakura? Sakura-chan! Sa - Sakura-chan, apa yang terjadi?!" terdengar suara dari seberang sana. Dengan tangan gemetar Sakura meraih ponselnya dan mengaktifkan loud speakers.
"Hi – Hinata ... tolong ... cepatlah datang ke sini ... aku butuh bantuanmu ... ngh-" setelah itu, Sakura kehilangan kesadarannya.
"Sakura-chan! K – Kau baik – baik saja?! S - Sakura! Naruto-kun, ga – ganti bajumu se – se - sekarang juga. K - Kita cari Sakura!"
.
.
Bersambung~
.
.
Huaaaaaaaa ... apa apakah ini?! T^T memalukan! (emang)
Gomen ne ... author gak pandai bikin adegan action, jadi ... begitulah hasilnya TOT maaf kalau kurang memuaskan *bungkuk - bungkuk*.
Yak, mungkin besok adalah chapter terakhir, jadi, tolong review sebanyak banyaknya~! (maksa -,-) Sudahlah, saya bingung mau bacot apa lagi. Sampai jumpa di next chapter, ya! Jaa ne, para readers tercintong! *digebugin*
Last words, REVIEW PLEASE! ^O^
