Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M for abuse content

Genre : Hurt Comfort, Family, Tragedy, Angst, Romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Note : Dilarang copy paste baik sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Secret

Chapter 8 : Sepoi Angin Yang Kurindukan

By : Fuyutsuki Hikari

Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang. Mungkin saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya.

(Jean Paul Richter)

Fugaku baru saja akan menghubungi Kakashi saat telepon genggamnya bergetar, menandakan pesan masuk. Dia sengaja mengulur waktu kepindahannya ke Amerika untuk mendengar berita dari Kakashi. Dia harus tahu, berapa lama pembunuh putranya itu mendekam di penjara.

Dia menatap layar telepon genggamnya cukup lama, lalu melirik ke arah jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya. Mungkinkah pesan dari Kakashi? Tanyanya di dalam hati.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria paruh baya itu membuka pesan tersebut, ternyata benar, pengirimnya adalah Kakashi.

Fugaku yang tengah berdiri kini terduduk, tubuhnya mendadak lemas saat membaca isi pesan dari Kakashi. Dua belas tahun, pembunuh keluarga putra sulungnya dijatuhi hukuman selama dua belas tahun.

Sejujurnya Fugaku merasa sedikit puas, mengingat vonis yang pernah diberikan untuk kelalaian dalam mengemudi hingga menyebabkan kematian di negara ini paling lama hanya tujuh tahun.

Tapi, untuk kasus putra sulungnya, penjahat itu bukan hanya menyebabkan kematian, namun juga memutus garis keturunan keluarga Deidara yang merupakan anak yatim piatu.

"Brengsek!" maki Fugaku sembari memukul keras meja kerjanya. Kecelakaan itu tidak perlu terjadi seandainya penabrak itu mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Nyawa putra dan menantunya mungkin masih bisa tertolong andai saja penabrak itu tidak melarikan diri dan segera melapor ke polisi.

Fugaku kembali terdiam lama, dendam di dalam hatinya masih berkecamuk, walau istrinya; Mikoto memohon kepadanya untuk memaafkan remaja wanita itu. Bagaimana bisa dia memaafkan pembunuh itu? Bagaimana mungkin?

Benar, karena marah, Fugaku memerintahkan salah satu tangan kanannya untuk menyuap oknum polisi untuk menyakiti Naruto selama di penjara. Fugaku menginginkan Naruto hidup menderita selama di penjara, dia ingin pembunuh itu seperti hidup di dalam neraka.

Namun karena permohonan Mikoto juga dia akhirnya bersedia menghentikan upaya balas dendam itu. Dengan berat hati dia menuruti permintaan istrinya dan memutuskan untuk menerima apapun keputusan hukum yang dijatuhkan pada pembunuh putra sulungnya.

Pria paruh baya itu melirik keluar jendela, dalam lamunannya dia melihat seorang anak kecil berlarian, tertawa riang mengelilingi ruang kerjanya, mengganggu dirinya di tengah kesibukannya yang menggunung.

"Sampai kapan Ayah bekerja?"

Suara Itachi kecil terdengar jelas di telinga Fugaku, seolah putra sulungnya itu masih hidup dan kini berdiri di depannya dengan ekspresi serius. "Apa tidak bisa jika Ayah hanya bekerja di kantor saja? Apa Ayah harus bekerja di rumah juga?"

Fugaku menatap ilusi sosok putranya itu dengan mata nanar. Andai saja dia bisa memutar waktu, tentu dia akan merengkuh Itachi, bukan mengusirnya dari ruang kerjanya, seperti dulu.

Sepanjang ingatannya, Fugaku tidak pernah mengatakan kepada kedua putranya, bahwa dia sangat menyayangi mereka. Fugaku tidak pernah mendapatkannya saat dia kecil hingga tumbuh dewasa, dan dia pun menurunkannya kepada kedua putranya. Sesuatu yang kini sungguh disesalinya.

Fugaku terlalu larut dalam kesedihannya hingga dia tidak menyadari kedatangan Sasuke. "Ayah baik-baik saja?" tanya Sasuke dengan nada gelisah.

Putra bungsu keluarga Uchiha itu dengan raut cemas, berjalan mengelilingi meja kerja Fugaku dan membungkuk untuk memeriksa keadaan ayahnya.

Fugaku hanya bisa menatap nanar wajah putra bungsunya, dan dengan suara serak dia berkata, "ayah menyayangimu, Sasuke."

Sasuke tidak tahu hal apa yang lebih mengejutkan selain ucapan kasih sayang yang keluar dari mulut ayahnya ini. Dia tidak pernah melihat wajah ayahnya dari jarak sedekat ini, sejak kapan keriput di wajah ayahnya ini menjadi begitu banyak? Sejak kapan wajah tegas khas itu berganti dengan ekspresi lelah? Sejak kapan ayahnya terlihat sangat tua? Lebih tua dari usianya yang baru pertengahan lima puluh tahun?

"Ayah baik-baik saja?" tanya Sasuke untuk yang kedua kalinya. Dia sama sekali tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini.

Fugaku menarik napas panjang dan tersenyum tipis sebelum menepuk-nepuk bahu Sasuke hingga beberapa kali. "Seharusnya aku mengatakannya kepada kalian sejak kalian kecil, Sasuke. Seharusnya kalian tahu jika aku menyayangi kalian berdua."

"Kami selalu tahu jika Ayah menyayangi kami," jawab Sasuke masih dengan suara serak yang sama. Dia semakin khawatir mendapati sikap Fugaku yang sangat tidak biasa ini. Mungkinkah ayahnya stres karena kematian Itachi?

Fugaku menggelengkan kepala pelan. "Kau tidak mengerti, selama ini aku tidak pernah mengatakan betapa aku menyayangi kalian. Dengar Sasuke, ayah sayang padamu," kata Fugaku lagi tanpa bisa menahan air matanya. "Ayah ingin kau mendengarnya secara langsung."

Air mata Sasuke pun menetes, akhirnya dia bisa mendengar ucapan itu dari mulut ayahnya, itu pun sebanyak dua kali. Mungkinkah dia tengah bermimpi? Ayahnya; Fugaku Uchiha menyingkirkan gengsinya untuk mengungkapkan kasih sayangnya pada dirinya. Hal itu membuat Sasuke senang sekaligus sedih, karena seharusnya Itachi pun mendengar ucapan ini dari mulut ayah mereka.

"Aku tidak ingin kau menyesal, seperti aku saat ini, Sasuke," kata Fugaku dengan ekspresi pahit. "Kau harus bisa mengungkapkan rasa sayangmu bukan hanya dari tindakan, tapi juga ucapan. Jangan menjadi ayah yang buruk seperti diriku. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga aku tidak memiliki banyak waktu untuk kuhabiskan dengan keluargaku. Menyesal pun kini tidak ada guna, penyesalanku tidak bisa mengembalikan waktu."

Dan serta merta Sasuke memeluk ayahnya, dengan air mata berderai dan suara tercekat dia berkata, "aku juga sayang Ayah. Maaf karena aku tidak pernah mengatakannya selama ini."

.

.

.

Satu minggu berlalu sejak keputusan hakim dijatuhkan. Ayame dan Anko benar-benar dibuat gemas oleh Naruto yang menolak mengajukan banding. Dua belas tahun masih dirasa tidak masuk akal bagi kedua pengacara itu. Naruto hanya memiliki waktu tujuh hari lagi untuk mengajukan banding.

"Bukankah aku bisa mendapat remisi jika berperilaku baik?" kata Naruto saat Ayame dan Anko membujuknya untuk mengajukan banding. "Kalian jangan khawatir, aku tidak akan mendekam selama dua belas tahun di sini. Aku pasti keluar lebih cepat," ujarnya dengan senyum dipaksakan.

"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Anko tidak habis pikir. "Kenapa kau bisa seyakin itu?"

Karena Tuhan tidak tidur, jawab Naruto di dalam hati.

"Karena batinku berkata seperti itu," tukasnya dengan ekspresi tenang yang meyakinkan. "Lagipula, aku tidak memiliki uang untuk biaya naik banding,-"

"Aku sudah bilang jika aku yang akan membiayainya," potong Ayame cepat. "Kau tidak perlu memikirkan tentang biaya, aku yang akan mengeluarkannya."

"Aku tidak ingin merepotkanmu," kata Naruto, walau hatinya mengucapkan terima kasih karena Ayame begitu baik hati.

"Hukuman yang dijatuhkan untukmu masih terlalu berat, Naruto-"

"Sudahlah!" kini giliran Naruto yang memotong ucapan Ayame. "Aku tidak mau duduk di dalam ruang sidang lagi. Ruangan itu membuatku mual dan ketakutan. Tolong, biarkan semuanya berakhir disini. Jangan khawatir, aku pasti bisa melewatinya dengan baik. Aku akan bertahan, karena seseorang memintaku untuk menjalani hidupku dengan baik."

"Tapi-"

"Tidak ada tapi," potong Naruto lagi, membuat Ayame terduduk pasrah di kursinya. "Terima kasih untuk kerja kerasnya, maaf aku merepotkan kalian berdua. Dan maaf jika sikapku membuat kalian kesal selama ini. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian," ujar Naruto sebelum berdiri dan berbalik pergi untuk kembali ke dalam sel tahanannya.

"Coba lihat siapa yang datang!" ujar Rei dengan suara merendahkan. "Banyak juga tamu yang datang menemuimu, Nona Muda!" ejeknya dengan senyum jijik.

"Bukan urusanmu!" desis Naruto kesal. Rei memang selalu mencari gara-gara dengannya. Naruto tidak tahu kenapa wanita itu sangat membencinya, dia juga tidak ingat jika dia pernah berbuat salah pada Rei. Kenapa wanita itu seolah tidak pernah lelah untuk mencari masalah dengannya.

Wanita tambun itu berjalan dengan dagu terangkat, matanya menatap tidak suka pada Naruto yang baru saja kembali ke dalam sel itu. Sosok Naruto entah kenapa membuatnya kesal, iri dan marah. Mungkin hal itu dikarenakan Naruto yang tidak dibuang oleh keluarganya walau dia sudah berbuat kesalahan besar. Hah, seandainya saja dia tahu kebenarannya.

Sementara Rei, walau dia sudah berusaha untuk bersikap baik, keluarganya tidak pernah memperhatikannya hingga akhirnya dia hidup dijalanan dan salah jalan. Keluarganya tidak pernah sekali pun mengunjunginya, ini menjadi satu alasan lain untuknya membenci Naruto.

Naruto tidak menjawab, dan memilih untuk duduk di sudut kanan ruangan sel itu. Rei yang merasa diabaikan, mulai terpancing emosi, dengan gerakan kasar dia menjambak rambut Naruto dan memakinya kasar, "jangan mengabaikanku, bocah brengsek! Kau mau mati?!" ancamnya sungguh-sungguh. "Aku sudah pernah membunuh, bahkan dihukum karena hal itu, dan menambah dirimu dalam daftar korbanku bukan hal yang sulit untukku. Jadi jangan coba-coba untuk menentangku!" tambahnya sebelum akhirnya dia membenturkan kepala Naruto ke tembok.

Naruto meringis kesakitan, namun bibirnya masih terkatup rapat, sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hampir saja dia memasrahkan diri untuk mati di tangan Rei, namun ucapan Mikoto padanya membuatnya kembali sadar; dia tidak boleh menyerah dan harus menjalani hidupnya dengan baik.

"Brengsek! Kau mau melawanku?! Kita lihat, berapa lama mulutmu itu bungkam!" ujar Rei semakin emosi saat teringat jika tugas untuk menyakiti Naruto sudah berakhir, itu berarti dia tidak akan mendapatkan uang lagi. Sial! Benar-benar sial! Makinya di dalam hati.

Rei tidak tahu pasti siapa yang memintanya untuk menyakiti tahanan baru itu, karena dia mendapat pekerjaan itu dari seorang oknum polisi korup yang bertugas di penjara wanita ini, namun dia sangat yakin jika yang memintanya pasti seseorang yang sangat dendam pada Naruto dan merupakan orang yang sangat berpengaruh di negara ini.

Oknum yang memberikan tugas pada dirinya itu memberi peringatan jika nyawa Rei bisa hilang jika hal ini sampai diketahui oleh pihak lain. Hal ini membuat Rei semakin marah dan kesal. Mungkin ada baiknya jika dia membunuh remaja wanita ini untuk melepaskan amarahnya.

"Kau membuatku muak! Muak!" teriak Rei yang terus memukul tubuh Naruto yang kini meringkuk di atas lantai. Beberapa tahanan lain yang berada di dalam sel itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya masing-masing, mereka terlalu takut menghadapi amarah Rei yang tidak biasa ini.

Naruto yang pada awalnya diam kini mulai memberontak, dengan sisa kekuatan yang ada di berdiri untuk menghidar dan menangkis tendangan yang dilayangkan oleh Rei ke arahnya. Darah segar mengucur dari sudut bibir dan hidungnya, namun dengan tatapan menantang dia menatap balik wanita tambun di hadapannya.

"Rei, hentikan! Kita bisa mendapat masalah!" ujar salah satu tahanan di dalam sel itu untuk memperingatkan Rei, dengan ekspresi takut yang terlihat jelas.

Rei pun berbalik dan mendesis kasar, "tutup mulutmu atau kau yang akan mati hari ini!" ujarnya menakutkan, sebelum akhirnya kembali menatap lurus Naruto dengan tatapan penuh kebencian.

Rei kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Naruto. Pengalaman hidup dijalanan membuatnya mahir berkelahi untuk membela diri, mencuri untuk makan dan pada akhirnya membunuh demi obat terlarang.

Naruto yang dihujani pukulan demi pukulan kini tidak hanya diam, dengan gerakan kurang lincah dia berhasil menangkis beberapa pukulan yang dilayangkan kearahnya dan sesekali membalasnya hingga salah satu pukulannya itu mendarat telak dipipi kanan Rei.

Rei yang mendapat pukulan itu berteriak marah dan tanpa pikir panjang dia mengambil sebuah garpu yang disembunyikannya dibalik bantal keras miliknya. Rei memang sudah merencanakan hal ini sejak mendapat tugas itu, dan dengan senang hati dia melakukannya walau kini tanpa adanya bayaran.

Dengan gerakan cepat dia menyerang Naruto, gerakan itu terlalu cepat hingga Naruto tidak sempat menghindari tusukan demi tusukan yang dihujamkan tepat di perut kirinya hingga beberapa kali.

Tubuh Naruto ambruk, tersungkur di atas lantai. Dua orang tahanan lain dengan susah payah menahan tubuh Rei, mencegahnya untuk tidak menyerang Naruto lagi. Sementara dua orang tahanan lain hanya bisa berteriak histeris melihat Naruto tergeletak di atas lantai dengan bersimbah darah.

Mereka tahu jika mereka dalam masalah besar saat ini, dan membiarkan Rei membunuh Naruto sepertinya bukan keputusan yang tepat untuk mereka.

Keributan di dalam sel itu akhirnya terdengar oleh telinga petugas, dan saat beberapa petugas datang, Naruto sudah setengah sadar, yang bisa didengarnya dengan samar hanya teriakan histeris rekan satu selnya, raungan marah Rei dan teriakan petugas yang panik, semuanya menyatu, berputar-putar di dalam otaknya hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.

Rei segera diamankan, dia dimasukkan ke dalam ruang isolasi, sementara Naruto segera dibawa ke rumah sakit kepolisian. Tahanan yang berada di dalam sel itu pun diinterogasi, pertanyaan demi pertanyaan dari petugas dilayangkan kepada mereka untuk mencari penyebab perkelahian itu.

Di dalam ruang isolasi, Rei hanya diam, amarahnya masih belum surut, yang diinginkannya hanya satu; kematian Naruto. Hanya hal itu yang bisa membuatnya senang saat ini.

.

.

.

Di tempat lain, Kurama terlihat sangat gelisah saat ini. Dia tidak tahu kenapa mendadak hatinya begitu risau, tidak tenang, tanpa alasan jelas dia ingin sekali menangis. "Ada apa denganku?" katanya lirih pada dirinya sendiri.

"Apa yang sedang kau pikiran?" tanya Tsunade yang melihat keanehan pada diri cucu angkatnya.

"Aku tidak tahu," jawab Kurama sembari menghempaskan diri di atas salah satu sofa di ruang keluarga kediaman Senju. "Hatiku mendadak tidak tenang," tambahnya dengan kening ditekuk.

"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu!" tegas Tsunade. Kepala keluarga Senju itu meletakkan kacamata baca yang tengah dikenakannya di atas meja, dengan ekspresi serius dia menatap wajah cucu angkatnya. "Kau harus fokus pada pendidikanmu. Itu yang paling penting. Pergi ke kamarmu dan belajar!"

Kurama terdiam, mengambil napas panjang, sedikit ragu dia bertanya kepada Tsunade, "kapan aku boleh pulang ke Jepang?"

"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Tsunade balik bertanya. "Kita sudah tidak memiliki keluarga di sana. Rumah keluarga kita sudah ditempati oleh orang lain. Kita sudah memiliki kehidupan di sini, kau tidak perlu memikirkan untuk pulang ke Jepang."

"Aku menginginkan ingatanku kembali," jawab Kurama dengan nada berat. "Aku tidak mau hidup tanpa mengingat apapun."

"Dan dengan kembali ke Jepang kau berharap bisa mengingat masa lalumu?"

Alis Kurama bertaut saat mendengar nada bicara Tsunade yang sedikit tinggi. "Apa ada sesuatu yang Nenek sembunyikan dariku?" tanyanya.

"Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu?" balas Tsunade mencoba bicara dengan nada sebiasa mungkin. Wanita itu memakai kembali kacamata bacanya dan membuka halaman buku yang tadi tengah dibacanya. "Kau tidak mempercayai nenekmu sendiri?"

Kurama mengelengkan kepala pelan, "bukan itu maksudku."

"Itu yang kusimpulkan dari ucapanmu," ujar Tsunade penuh penekanan. Tsunade melepas napas lelah dan kembali bicara dengan nada serius, "jika kau berhasil lulus dengan nilai tertinggi, dan berhasil menjadi dokter spesialis bedah terkenal sepertiku, aku akan memberikan sebuah posisi di salah satu rumah sakit besar di Tokyo."

"Benarkah?" tanya Kurama lagi, antusias.

"Aku tidak pernah mengingkari janjiku," ujar Tsunade serius.

"Tapi untuk mencapainya akan memerlukan waktu yang cukup lama, Nek."

"Kalau begitu kau harus berusaha lebih keras agar kau bisa pulang ke Jepang secepatnya," balas Tsunade ringan. "Jadi, bagaimana?" tanya Tsunade setelah terdiam beberapa saat. "Setuju?"

Kurama akhirnya mengangguk dan menjawab penuh keyakinan, "setuju!"

.

.

.

Naruto terbangun dengan bau obat-obatan yang menyengat, mengganggu indra penciumannya. Kepalanya berdenyut sakit, pandangannya sedikit nanar akibat pengaruh obat bius.

"Dokter, pasien sudah sadar."

Suara seorang wanita terdengar samar di telinganya, beberapa saat kemudian seorang pria berkacamata dengan jas panjang berwarna putih serta dua orang wanita berdiri mengelilinginya.

Naruto sedikit terkejut saat pria itu mengarahkan cahaya senter ke dalam matanya. Dia ingin sekali protes, namun tenggorokannya yang kering menahannya, membuatnya tidak bisa bicara.

Pria itu terus bicara, tanpa bisa didengarnya dengan jelas, dan untuk kedua kalinya, Naruto kembali jatuh ke dalam kegelapan.

Butuh waktu tiga minggu hingga akhirnya Naruto sembuh, walau terkadang luka tusukan garpu di perutnya itu masih terasa ngilu. Naruto sangat bersyukur karena akhirnya dia dipindahkan ke sel yang di tempati oleh Kurenai. Sedangkan Rei setelah diketahui bersalah karena melakukan penyerangan terhadap Naruto, dipindahkan ke penjara lain yang memiliki tingkat pengamanan yang jauh lebih tinggi.

Setelah kepergian Rei, teman-teman satu gengnya itu kini seperti anak ayam yang kehilangan induknya, mereka tidak lagi berani mengganggu tahanan lain, karena tanpa kehadiran Rei, para tahanan lain tidak akan segan untuk membalas perbuatan mereka.

"Penjara ini terasa lebih damai tanpa keberadaan Rei," ujar Kurenai saat jam makan siang. Naruto hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Apa lukamu masih terasa sakit?"

Naruto mengangguk pelan, menelan makanan yang dikunyahnya sebelum menjawab, "kadang-kadang."

"Kau bisa bernapas lega dengan kepergian Rei. Kadang aku tidak habis pikir, kenapa dia sangat membencimu. Yah, aku tahu jika dia senang mengganggu tahanan baru, tapi sikapnya padamu sangat melewati batas."

Naruto mengangkat bahunya ringan menjawabnya.

Setelah selesai makan siang, keduanya kembali berjalan dengan pelan menuju sel mereka. Keduanya berbincang ringan, seolah lupa akan hukuman yang tengah dijalaninya.

Saat melihat Kurenai, Naruto sama sekali tidak bisa mengerti kenapa wanita yang berjalan di sampingnya itu masih bisa bersikap begitu tenang, seolah tidak memiliki beban.

Kurenai dituntut hukuman mati karena pembunuhan berencana. Sudah lima tahun dia mendekam di penjara, dan hingga hari ini wanita itu masih menunggu waktu hukuman gantung itu dilaksanakan.

Naruto pernah bertanya, apa Kurenai menyesal telah membunuh suami serta wanita simpanan suaminya itu. Dan dengan tersenyum dia menjawab; "tentu aku sangat menyesal. Tapi semuanya telah terjadi. Dan jika hukuman mati bisa meringankan dosaku, maka aku menerimanya dengan senang hati."

"Saat itu aku gelap mata," tutur Kurenai. "Sejak berumur empat tahun, putra kami sakit keras, dia menderita leukimia. Saat putra kami berjuang keras untuk tetap hidup, suamiku malah bersenang-senang dengan wanita simpanannya."

Tatapan Kurenai menerawang jauh saat menceritakannya.

"Suamiku tidak pulang selama satu minggu, beralasan ditugaskan ke luar kota agar mendapat uang tambahan untuk biaya pengobatan putra kami. Siang itu putraku kritis, aku mencoba menghubungi suamiku, namun dia tidak bisa dihubungi. Karena putus asa, akhirnya aku menelepon ke kantor tempatnya bekerja, dan aku sangat terkejut saat mengetahui dari rekan kerjanya jika suamiku tidak ditugaskan ke luar kota. Suamiku bahkan mengambil cuti tahunan selama satu minggu dengan alasan putranya sakit keras. Alasan yang sungguh mulia bukan?" dengus Kurenai dengan tangan terkepal. "Padahal dia sama sekali tidak pernah muncul di rumah sakit."

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Naruto lirih.

"Putraku meninggal pukul satu dini hari, usianya masih enam tahun saat itu," jawab Kurenai dengan suara tersendat menahan tangis. Ekspresinya terlihat sangat sedih saat mengatakannya, namun dia menggelengkan kepala, dan mencoba untuk tersenyum. "Suamiku sama sekali tidak hadir di upacara penghormatan jenasah putranya. Hingga jasad putraku dikremasi, dia sama sekali tidak menampakkan diri."

Kurenai mengambil napas panjang, sebelum kembali bicara. "Aku mendengar desas-desus dari rekan sekerjanya jika suamiku selingkuh dengan salah satu karyawati di perusahaan itu. Saat itu tentu saja aku tidak langsung mempercayainya, namun karena penasaran, aku pun mencari tahu identitas karyawati itu, dan benar saja, ternyata suamiku menginap di rumah wanita itu."

Naruto hanya bisa mendengar cerita Kurenai dalam diam, jika dalam posisi Kurenai, dia mungkin bisa gila.

"Hatiku sangat sakit saat mengetahui jika dia pergi berlibur bersama kekasih gelapnya. Aku sangat marah, sakit hati dan akhirnya aku merencanakan untuk membunuh mereka. Aku memikirkan beberapa cara untuk membunuh mereka, dan karena sudah tidak bisa menahan amarah, akhirnya aku menabrak keduanya dengan mobil yang kukendarai saat mereka keluar dari apartemen, aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana tubuh keduanya melayang di udara sebelum akhirnya tergeletak tak berdaya di atas aspal."

Hening.

"Dan Anda merasa bersalah setelahnya?" tanya Naruto hati-hati, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan wanita itu.

Kurenai malah mengibaskan tangannya di udara. "Saat itu tidak," akunya jujur. "Aku malah merasa sangat senang, teramat senang saat melihat darah milik mereka menggenang di atas jalan. Tapi setelah masuk penjara aku sadar, perbuatanku membuat diriku sama rendahnya dengan mereka. Aku menempatkan diriku diposisi mereka. Hal itu sangat aku sesali hingga detik ini. Nasi sudah menjadi bubur, Naruto."

.

.

.

Sementara itu di dalam keluarga Hyuuga, semuanya kembali seperti sedia kala. Hinata berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan dikirim sekolah ke luar negeri oleh Hiashi. Sementara itu, Neji melanjutkan sekolahnya di Universitas Tokyo, jurusan Ekonomi. Hiashi sudah memutuskan jika Neji yang akan meneruskan bisnis keluarga Hyuuga, bukan putri sulungnya; Hinata.

Hiashi memberikan kebebasan untuk kedua putrinya dalam menentukan masa depannya sendiri, karena saat ini Hiashi sudah memiliki penerus yang dirasanya lebih cocok untuk menjalankan bisnis keluarga.

Sementara itu, Kikyo akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan alasan umur dan kesehatan yang sering terganggu. Wanita tua itu bersikeras untuk pulang kampung.

Awalnya Hiashi dan para tetua keluarga Hyuuga menolak keras permohonan Kikyo, namun bukan Kikyo namanya jika dia tidak bisa mendapatkan keinginannya.

Kikyo akhirnya pulang kampung, dan melalui pengacaranya, dia mewasiatkan seluruh harta warisannya pada Naruto. Wanita tua itu tahu ada hal yang aneh dari kasus Naruto dan itu berhubungan dengan perubahan sikap Hiashi.

Kepala keluarga Hyuuga itu berubah terlalu cepat. Seolah ingin menyembunyikan sesuatu, dia mengirim putri sulungnya untuk sekolah di luar negeri, padahal di rencana awal, Neji-lah yang akan dikirim ke luar negeri.

Kikyo tahu jika mengorek informasi dari mulut Naruto tidak akan membuahkan hasil, dan pikirannya ini akhirnya dia bagi dengan Hanabi yang ternyata memiliki kecurigaan yang sama seperti dirinya.

.

.

.

Tahun-tahun pun berganti dengan cepat setelahnya. Tanpa Naruto sadari, di sudah menghabiskan waktu selama tujuh tahun di dalam penjara. Usianya sudah dua puluh lima tahun saat ini. Kehidupan keras di penjara membuatnya dewasa lebih cepat. Dia sangat berterima kasih kepada Kurenai yang selalu menemani dan memberinya dukungan moril selama ini, walau pada kenyataannya jutru Kurenai-lah yang jauh lebih membutuhkan dukungan moril.

Siang ini tidak seperti hari biasanya, Kurenai terlihat lebih pendiam dan gugup secara bersamaan. Bagaimana tidak, setelah dua belas tahun menunggu, akhirnya keputusan mengenai tanggal hukuman gantungnya akan segera diumumkan.

Kurenai memejamkan mata, dengan sebuah rosario di tangan dia memanjatkan doa di dalam hati. Hal itu terus dilakukannya beberapa tahun terakhir ini untuk menenangkan diri.

Naruto yang melihatnya mencoba menahan diri untuk tidak menangis. Kurenai sudah dia anggap sebagai seorang kakak. Saat tahanan lain menjauh karena Naruto menjadi sasaran Rei, Kurenai-lah yang berani berdiri untuk membelanya.

Saat Naruto merasa terpuruk dan putus asa, Kurenai-lah yang mengingatkan dirinya jika hidup Naruto masih panjang, jika dia masih memiliki sebuah janji dengan seseorang yang memintanya untuk menjalani hidup dengan baik.

Kurenai adalah orang yang menjaganya saat dia sakit di dalam penjara. Mengajarinya arti dari kehidupan, orang yang sangat disayanginya setelah Kurama. Dan sekarang, Tuhan juga akan memanggilnya? Kenapa?

Saat tanggal kematian Kurenai sudah dijatuhkan, justru Naruto-lah yang menjerit histeris, tidak terima. Kenapa harus secepat ini? Kurenai tersenyum, terlihat sangat cantik dan dengan tegar dia menangkan Naruto yang balas memeluknya erat.

"Ini sudah menjadi takdirku," ujar Kurenai lembut di telinga Naruto. "Aku harus menebus dosaku. Aku sudah siap. Aku sudah menunggunya terlalu lama, Naruto."

"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" tukas Naruto histeris.

"Aku akan tetap ada di hatimu selama kau mengingatku," hibur Kurenai tenang. "Kau harus tetap berperilaku baik. Tiga tahun lagi kau akan bebas."

Naruto mengangguk pelan di bahu Kurenai. Dia memang mendapat potongan masa tahanan selama dua tahun karena bersikap baik selama ini.

"Jaga dirimu baik-baik, Naruto," ujar Kurenai dengan kelembutan seorang ibu. "Maafkan orang-orang yang telah menyakitimu, tapi jangan pernah melupakan perbuatan mereka! Jadikan hal itu sebagai cermin agar kau tidak terperosok dua kali di dalam lubang yang sama!"

Kurenai menghapus air mata di kedua pipi Naruto dengan punggung tangannya. "Kau harus hidup dengan bahagia!" tegasnya mutlak.

Dan Naruto pun hanya bisa menangis selama berhari-hari setelah Kurenai dihukum gantung. Kesedihan yang dirasakannya sama seperti saat dia mengetahui jika kedua orangtuanya telah tiada.

Semuanya tidak akan pernah sama tanpa keberadaan Kurenai bersamanya. Semuanya tidak akan pernah sama.

.

.

.

Tiga tahun kemudian

Naruto merapihkan semua barang yang dimilikinya, berpamitan kepada beberapa tahanan dan petugas sebelum akhirnya kakinya melangkah keluar dari balik tembok penjara. Dia sengaja tidak memberitahukan perihal kebebasannya ini pada siapa pun. Tidak ada yang tahu, kecuali Ayame yang selalu rutin datang mengunjunginya selama di penjara. Ayame berhasil mengorek informasi ini dari salah satu kenalannya yang bertugas di penjara ini.

Ayame berjanji akan datang menjemputnya jika tidak ada halangan. Namun Naruto cukup tahu diri, dan tidak terlalu berharap banyak karenanya.

Angin sepoi akhir musim panas menampar lembut pipinya saat dia melangkah keluar dari pintu benteng penjara, membuat hatinya hangat dan membuat matanya panas karena air mata yang mulai menggenang. Dia selalu memimpikan saat-saat ini, namun saat hal yang diimpikannya itu terwujud, dia sama sekali tidak tahu jika hal ini akan terasa tidak nyata hingga dia harus mencubit dirinya sendiri untuk memastikan jika dia sedang tidak bermimpi saat ini.

Setelah sepuluh tahun akhirnya dia bisa merasakan udara kebebasan.

Naruto menghela napas panjang, saat tidak mendapati keberadaan Ayame di sana. Hatinya mencelos, kesedihannya menggantikan kebahagiannya dengan cepat. Kikyo; pembantu kepercayaan keluarga Hyuuga yang begitu menyayanginya kini sudah tiada. Kurenai yang selalu menjaganya selama di penjara juga sudah tidak ada. Kurama, kakak kandungnya entah ada dimana. Ikatan dengan keluarga Hyuuga sudah diputuskannya sejak lama, sementara Ayame sebenarnya hanya orang luar yang tidak memiliki ikatan apapun dengannya.

Naruto mendesah, ia berjalan tanpa tahu arah, dia sebatang kara, pikirannya melayang, hingga tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikannya dari dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari dirinya saat ini.

.

.

.

TBC

Yuhu... chapter ini saya spesialkan untuk Rei Diazee, sebagai pemenang kedua dari kuis kemarin. Jawaban yang benar adalah Kakashi, awalnya dia pengacara lalu saya rubah jadi jaksa. Terima kasih untuk semua yang sudah berpartisipasi. (:

Terus, ada yang meminta supaya saya update tiap hari. Aduh, nggak bisa, Sayangku! Bisa muntah darah saya kalau update fic tiap hari. #Lebay

Nulis fic hanya hobi, jadi saya kerjakan jika ada waktu senggang dan jika si ilham datang. Kalau tiap hari mah nggak sanggup. Beneran. (:

Lalu ada yang minta diajarin nulis fic. Yang paling penting sih; menulislah dengan hati, jangan takut memulai, jangan takut gagal. Udah itu aja. ^-^

Btw, saya nggak nyangka kalau ada pembaca dari negara tetangga. Makasih yah udah mau baca dan meninggalkan kesan di kotak review. (:

Dan untuk pembaca baru, selamat bergabung, teman-teman! ^-^

Terima kasih untuk kalian semua yang sudah meninggalkan jejak di kotak review, ngefav, ngefollow, bahkan untuk silent readers juga, saya ucapkan banyak terima kasih. #PelukinSatu2

Oh, iyah kalau nggak meleset, berikut fic yang rencananya akan saya update satu per satu dalam dua minggu ke depan :

1. To Be With You

2. Mr. Arrogant

3. Calendula officinalis

Sampai jumpa dichap selanjutnya!

#WeDoCareAboutSFN