Disclaimer : Naruto millik Masashi Kisimoto.


.

.

.


Kau Yang Tak Pernah Bisa Ku Gapai


"Hah..." desahanku terlepas. Luka-luka di tubuhku sudah sembuh, tapi belum sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah luka-luka kecil yang masih menempel di tubuhku. Juga tenagaku masih belum pulih benar.

Berdiam di rumah terus membuatku bosan. Apalagi harus berurusan dengan obat-obatan biadab itu setiap harinya. Aku tak tahu sudah berapa benda pahit itu melewati tenggorokanku dan menyakiti indra perasaku. Tapi namanya orang sakit mesti minum obat. Begitu katanya.

Aku berdiam sebentar. Dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan ke rumah Karin. Ya, dan sudah beberapa hari ini dia jarang menjengukku. Tidak seperti setiap hari sebelum kecelakaan ini menimpaku. Kesibukan barunya dengan pacarnya membuatnya tak bisa membagi waktu denganku. Dan itu membuatku agak marah dan iri dengan gadis itu.

Dia enak bisa dicintai tanpa harus berjuang, juga menahan pahitnya kecewa. Kecewa karna cintamu bertepuk sebelah tangan. Entah itu tangan yang kiri atau yang kanan. Beruntung dia tidak mendapat seperti apa yang aku dapatkan.

Di tengah-tengah pikiranku yang ngelantur ini. Aku melihat Karin sudah ada di depanku. Aku mengamatinya. Ada suatu yang berbeda dari dirinya kali ini. Wajahnya kelihatan pucat dan tubuhnya agak kurusan. Dia memandangku dengan pandangan sedih. Seingatku tiga hari yang lalu dia masih kelihatan baik-baik saja. Tidak seburuk apa yang ku lihat saat ini.

"Kau baik-baik saja, Karin?" tanyaku khawatir. Dia menjawabku dengan anggukan tanpa mau melihat ke arahku.

"Benar?" tanyaku lagi memastikan.

"Ya, kak." jawabnya sambil menghela napas. Meski dia berkata begitu aku sangat yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi dari pada memaksanya bercerita, aku lebih baik diam saja.

"Oh. Terus mau ke mana?" dia menggeleng. Mulutnya terkatup dan matanya berkedip. Ekspresi yang sama ketika terakhir kali aku bertemu Hanabi. Ekspresi orang yang ingin menangis.

"Kau kenapa, Karin?" aku bertanya dengan suara agak tinggi. Dia tak perlu menyembunyikan isi hatinya seperti ini. Berpura-pura kuat seakan dia mampu menghadapi masalah yang dihadapinya. Tetapi dia tak mengindahkan pertanyaanku dan tetap menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa kok."

Meski katanya begitu, aku bisa menangkap ada yang berbeda pada nada suaranya. Tiba-tiba handphone ibuku berdering. Aku pun memeriksanya. Ada nama Hanabi yang terlihat di layarnya.

Setelah mengangkatnya dan meletakkannya di telingaku aku berkata, "Halo."

"Pagi kak." sapa Hanabi dari seberang sana. Tapi dengan suara setengah berbisik.

"Pagi juga, Hana." jawabku dengan senang. Bersamaan dengan itu Karin berbalik, dan hendak pergi. Tapi aku segera menghentikannya. Sambil menjauhkan ponselku dari telingaku aku bertanya, "Mau ke mana, Karin?"

Karin menepis tanganku dengan kasar, lalu mengatakan, "Berhenti mengurusku! Kakak urus saja cewek centil itu!" katanya kasar. Lalu setelah itu dia pergi dengan langkah terburu-buru meninggalkanku dalam kondisi bingung. Ku pandangi tubuh Karin yang mulai hilang dari pandangan mataku.

Tiba-tiba aku tersentak dan menyadari bahwa ada yang menungguku. Segera ku dekatkan lagi ponselku ke telingaku. "Halo. Hana masih di sana?"

"Itu siapa, kak?"

"Siapa maksudnya?"

"Orang yang tadi bicara."

"Ooh... Itu. Dia sepupuku. Memangnya kenapa? Cemburu ya?"

"Kakak ke GR-an jadi orang."

"Terus kenapa Hana nanya? Pasti cemburu 'kan?"

"Jangan mikir gitu dulu, kak. Hana 'kan cuma ingin tahu aja." baru tadi aku bingung dengan sikap Karin. Sekarang aku agak tersinggung dengan kata-katanya. Padahal 'kan aku ingin bercanda. Tapi tanggapannya serius sekali. Gak asyik ah.

"Ooh." jawabku tanpa semangat.

"Kakak lagi apa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Sedang jalan-jalan. Hana sedang apa? Masih sakit?"

"Lagi berbaring di kamar. Masih sama seperti sebelumnya."

"Udah makan dan minum obat belum?"

"Belum, kak."

"Tu 'kan." aku langsung berkata, berniat mengomelinya. "kalau pengen cepet sembuh itu banyak makan dan minum obat dengan teratur. Makanya jangan bandel jadi orang."

"Iya, iya. Tahu kak. Tadi 'kan udah sarapan dan minum obat. Masak minum obat terus. Pahit kak."

"Ya namanya juga obat. Ya pahit. 'kan biar cepet sembuh. Gula baru manis." Hasem, mirip sekali aku sama dia. Sama-sama tidak doyan dengan obat

"Kakak enak bilang gitu. Kakak 'kan gak sakit."

"Dibilangin malah ngeyel. Tambah sakit tahu rasa entar."

"Biarin. Lagian semua ini gara-gara kakak."

"Loh, kok gara-gara kakak? Maksudnya?"

"Gini ya. Kakak itu bodoh. Telmi. Saking Telminya sampai sekarang pun kakak gak bisa memahami keadaan."

"Bagus ya. Ayo terus aja menghina. Kakak matiin tahu rasa, Hana." kataku tak terima dikatain seperti itu.

"Ya udah, matiin aja." dia menantangku. Dan aku mengaku kalah.

"Becanda..." lalu setelah itu hening beberapa saat.

"Kak," dia memanggilku.

"Ya." kataku ngambek.

"Jangan jutek jadi orang." sindirnya.

Aku menghela napas dan bersikap semanis mungkin. "Iya maaf, Hanaku sayang." kata terakhir itu membuat dadaku langsung tergelitik. Dan hasratku pun mulai bangun.

"Gak ikhlas banget kakak minta maafnya."

"Yank." kataku dengan berhasrat.

"Apa kak?" tanyanya seakan kaget.

"Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu. Kau telah menyihirku, sayangku. Membawa pergi jauh akalku hingga aku menjadi gila karnamu bidadariku." setelah mengeluarkan kata-kata itu dengan sepenuh hasratku. Hanabi membalas dengan suara bisikan yang kecil sekali. Aku tidak bisa mendengarnya dan ku rasa dia bilang, 'aku tiga.'.

"Maksudnya aku tiga?"

"Aku tiga apa?" kita yang tanya. Dia malah tanya balik.

"Tadi 'kan Hana bilang gitu?"

"Tadi kapan?"

"Tadi pas kakak selesai ngomong. Hana bilangnya sambil bisik-bisik." kataku menjelaskan.

"Hah...," dia mendesah. "gini udah bicara sama orang BUDEK!"

"Bisa gak Hana berhenti menghina. Kakak 'kan cuma pengen tahu apa maksud Hana bilang 'aku tiga' itu?"

"Pusing kak. Maksudnya Hana lebih enak bicara sama tembok dari pada bicara sama orang budek kayak kakak."

"Ya udah. Terus kenapa masih ngomong sama kakak. Kenapa gak ngomong aja sama tembok sana!" jawabku dengan hati dongkol. Makan hati bicara sama ini bocah. Aku 'kan cuma minta penjelasan. Masak dijawab dengan hinaan. Tidak terima donk.

Tuth tuth tuth

Hasem... Dia benar-benar menuruti apa yang aku katakan. Dia mengakhiri panggilan itu langsung setelah aku selesai mengatakan itu. Sebenarnya dia maunya apa?! Kalau dia hanya sekadar mau menghinaku. Sebaiknya tidak usah repot-repot. Aku tak butuh!

Bugh!

"Aduh!"

Tiba-tiba karna tak memperhatikan jalanan, aku menabrak bagian belakang sebuah motor yang terparkir di depan sebuah rumah, yang langsung membuat pinggangku terasa ngilu.

'Siapa sih yang menaruh motornya sembarangan di sini?!'

Aku menggertakkan gigi. Emosiku memuncak. Ingin ku banting motor brengsek ini! Tetapi akal sehatku masih di tempatnya dan aku masih bisa mengendalikan diri. Kalau dipikir-pikir apa kata orang yang nanti kalau benar-benar melakukan hal memalukan di benakku ini. Aku pun segera berjalan dengan hati dongkol berdongkol-dongkol.

Sesampainya aku di rumah, aku mencoba membuka pintu, tapi macet! Sekarang apa lagi?! Ada-ada saja masalah di saat suasana hati sedang panas begini. Pasti ibu ini yang kurang kerjaan mengunci pintu segala!

Aku menarik-narik gagang pintu ini dengan emosi sambil berharap pintu ini terbuka dengan sendirinya. Seperti di film-film yang pernah aku tonton di Tivi-Tivi! Tapi ini pintu tidak mau terbuka juga! Padahal sudah dibarengi dengan doa-doa, tapi tetap saja tidak mau terbuka!

Pintu sialan! Awas nanti akan ku remukkan kamu!

Sambil marah-marah dalam hati, aku berlalu dengan emosi. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku saat aku mencapai gerbang dan melihat sebuah paku di halaman rumahku. Haha! Ternyata sampah itu memang ada saatnya dia berguna! Lalu setelah itu aku kembali ke pintu dan mulai melakukan atraksi membuka pintu tanpa kunci ala Naruto! Lima menit lamanya aku berkutat dengan lubang kunci ini dan tidak ada hasil apa-apa sama sekali. Aku pun mulai tidak sabaran. Lama-kelamaan emosiku pun memuncak lagi. Jari-jari tanganku juga terasa sakit gara-gara paku ini. Tetapi emosiku mengabaikan rasa sakit itu. Kemudian aku menggenggam paku ini sekuat tenaga dan mendorongnya kuat-kuat. Kadang ku tarik ke kiri dan ke kanan benda keras ini. Tanganku bertambah sakit dan lubang kunci ini sudah tergores.

Tiba-tiba aku kehilangan ke seimbanganku dan aku terjerembab ke lantai.

"Aduh... Aduh...," aku mengaduh-aduh sakit dan semakin bertambah marah. Dengan cepat aku bangkit, lalu memukul dan menendang pintu pembangkang anak monyet ini. Tetapi malah sakit di tubuhku bertambah banyak.

Tiba-tiba...

Ting ting

Suara benda logam terjatuh itu membuatku langsung menengok. Dan aku melihat sebuah kunci! Kunci yang seharusnya menjadi alat untuk membuka pintu laknat ini! Sekelebat potongan ingatan tentang kejadian ketika aku ke luar tadi terputar dalam benakku.

Plak!

Aku menepuk keningku sambil berkata, "Kenapa aku bisa lupa begini sih?" lalu aku membuka pintu, masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan menghempaskan tubuhku di atas kasur.

Berangsur-angsur hatiku menenang. Memang benar apa yang dikatakan orang. Rumahku adalah istanaku. Pikiranku kembali ke Hanabi. Gadis manis yang sering ku sebut-sebut dengan bidadari. Ya, bidadari. Bidadari yang cara bicaranya menghina.

Aku membalik tubuhku ke samping. Kenangan-kenangan indah ketika di bulan Februari saat bersamanya berputar dalam kepalaku. Layaknya sebuah film yang diputar dibioskop.

Matahari pagi yang baru terbit, sawah-sawah dengan padinya yang menghijau, kabut-kabut tipis yang mengaburkan pemandangan, jalanan yang agak sepi dari para penduduk, udara dingin yang berhembus pelan, suara-suara dedaunan pohon yang bergesekan dan pepohonan rindang di tepi jalanan. Di tempat itu, di seberang jalanan sepi itu, sepasang kekasih berjalan beriringan. Yang satu tampak malu-malu dan banyak menundukkan kepalanya, sedangkan yang satunya dengan perasaan berbunga-bunga memandang dan mengamati ekspresi gadis manis itu. Senyum sumringah pun tak pernah luput dari wajah pemuda itu. Dan tangannya terkait erat menggenggam tangan gadis manis itu.

Terkadang pemuda itu mengangkat tangan gadis itu dengan ke dua tangannya, menempelkan telapak tangan dingin gadis itu di pipinya. Mengelus-elusnya, dan merasakan tiap kehadiran gadis itu selalu memberi ketenangan pada jiwanya.

Pandangannya hanya tertuju pada wajah gadis itu. Memperhatikannya dengan seksama rona merah pipinya, yang tampak bagai dua mawar yang menghias wajahnya.

Semua itu terasa nyata, seakan-akan kejadian itu sedang terjadi. Tiap detiknya begitu membekas dalam hatiku. Keindahan ketika pertama kalinya aku berjalan bersama orang yang ku cintai. Membuatku semakin terhanyut dalam nostalgiaku.

Mataku mulai berair. Aku menarik bantal guling di dekatku. Memeluknya dengan sangat erat.

Banyak yang lebih cantik dari dia di dunia ini. Tetapi aku melihatnya seakan-akan dia perempuan tercantik.

Kring kring!

Kenangan itu pudar. Suara ponsel itu menggangguku. Aku mengeluarkan ponsel itu. Ku lihat nama gadis manis itu menghiasi layar ponselku. Aku segera menjawab dan meletakkan ponselku di telingaku. Lalu aku berkata, "Kenapa dimatiin, yank?"

"Kakak tadi yang nyuruh, Hana." jawabnya dengan suara ngambek.

"Kakak 'kan gak serius ngomongnya. Abis Hana bikin kakak jengkel."

"Salah sendiri jadi orang bodoh,"

"Tukan... Jangan memulai pertengkaran lagi, Hanaku sayang,"

"Maaf," katanya dengan berbisik pelan.

Aku tersenyum. Ingin mengungkit lagi kenangan indah itu, tetapi aku urungkan. Beberapa saat kami diam. Tak ada yang memulai obrolan.

"Kenapa diem?" tegurnya masih dengan suara berbisik. Dan suaranya membuat dadaku bergejolak.

Aku pun teringat dengan suatu lagu. Dan mulai bersenandung. Mulanya hanya dengungan-dengungan ringan. Sampai saat ku temukan nadanya. Aku mulai bernyanyi, "Mungkin hanya dia, harta yang paling terindah di perjalanan hidupku, sejak derap denyut nadiku. Mungkin hanya dia, indahnya sangat berbeda. Ku haus merindukannya... Huuu... Ku ingin kau tahu isi hatiku... Kaulah yang terakhir dalam hidupku... Tak ada yang lain, hanya kamu... Tak pernah ada. Takkan pernah ada... Huuu... Ku ingin kau selalu di pikiranku. Kau yang selalu larut dalam darahku. Tak ada yang lain. Hanya kamu. Tak pernah ada. Takkan pernah ada..."

Aku berhenti. Sebentar aku tersenyum, lalu memanggilnya, "Hana,"

"Hm?" dia menyahut.

"Kangen...," kataku manja.

"Kak, jangan becanda. Hana gak kuat jalan."

"Kakak gak becanda. Ini kakak lagi duduk-duduk di tempat biasa." aku berbohong. Bukan untuk apa-apa, tapi aku hanya ingin melihat reaksi marahnya.

"Serius?"

"Iya. Kakak lagi sendirian ngeliat motor pada mondar-mandir. Sepi. Biasanya ada yang nemenin."

"Bohong ah! Kalau emang bener. Terus mana suara motornya?"

"Ini 'kan bukan daerah ramai, Hana. Yang lewat cuma satu dua. Kalau di tempat kakak ada bejibun pada lewat."

"Nanti Hana ke sana, kakak malah gak ada. Jangan suka bohong, kak. Hana gak suka." omelnya dengan suara yang sangat ku harapkan.

"Hahahaha... Maaf, maaf. Kakak ngaku salah. Jangan marah ya, sayang?" entah semua ini hanya pikiranku saja. Aku malah ketagihan memanggilnya 'Sayang'.

"Hiiii!" pekiknya marah. Mendengar suara nyaringnya, aku senang.

"Maaf, maaf, sayaaang. Tapi nanti kalau kakak sembuh, kakak akan ke sana. Hana ke luar ya?"

"Nggak!" tolaknya. Namun belum sedetik kemudian dia berkata seolah-olah terkejut dengan sesuatu. "kakak bilang apa tadi? Sembuh?"

"Ya, begitulah,"

"Kakak sakit apa?"

"Sakit hati karna cintaku bertepuk sebelah tangan. Hiii..." candaku sambil tersenyum.

Tiba-tiba dia marah-marah sambil berkata, "Hana nanyanya serius. Kakak jangan main-main terus!"

Aku menjawab, "Memang penting ya, buat Hana kalau aku sakit atau tidak?" aku bertanya dan tak ada jawaban darinya. Dia membisu untuk waktu beberapa menit lamanya. Dan diamnya itu membuat kesabaranku tergelitik.

"Sayang." panggilku. Dia tak menyahut.

Selang sesaat kemudian aku memanggilnya lagi. "Hana," dia tetap tak bicara. Diamnya itu membuat suasana jadi tak nyaman.

"Hana, jangan diem. Nggak suka tahu di diemin kayak gini. Kalau Hana nggak suka ngomong sama kakak, Hana matiin aja atau paling nggak bilang aja ke kakak." tegurku.

"Males."

"Apa?"

"Hana malas bicara sama kakak," jawabnya ketus.

"Loh―" baru aku berkata. Dia malah memotong duluan.

"Susah kalau mesti ditanya tentang penting apa nggaknya sesuatu. Padahal 'kan tinggal dijawab saja iya atau tidak." aku tahu dia marah. Dari cara bicaranya saja tidak ada tolerir sama sekali. Biasanya kalau sudah begini masalah akan jadi sangat panjang dan berlarut-larut kalau dilawan ber-ego-an.

"Maaf," kataku mengalah. Lalu hening. Entahlah, keinginan untuk bicara dengannya jadi nihil. Agak lama kami berdiam. Tapi kemudian dia kembali mengomel marah-marah.

"Sekarang malah diem! Niat bicara nggak sih. Kalau memang nggak suka bicara sama Hana bilang, kak!" kenapa jadi serba salah akunya.

"Hana marah?"

"Nggak. Hana lagi gembira. Terserahlah!"

"Maaf kalau kakak bikin Hana marah. Bukan maksud kakak begitu. Kakak 'kan hanya ingin tahu kenapa Hana bertanya tentang kakak―" belum selesai aku bicara, dia kembali memotong kata-kataku.

"Terserah."

"Iya, maaf. Kakak jujur saja. Kemarin-kemarin

kakak ditabrak motor." lanjutku tanpa mengacuhkan katanya.

"Masak? Kapan?" ucapnya bertanya. Nada suaranya melunak. Terdengar seperti terkejut.

"Sekitar lebih dari sebulan yang lalu pas Hana menelpon kakak."

"Serius? Kapan Hana nelpon kakak? Jangan mengarang cerita, kak."

"Ngapain bohong. Kakak masih ingat sekali waktu itu kakak lagi menyeberang jalan. Terus ada telpon dari Hana. Ya kakak angkat. Tapi belum bicara sebentar, kakak sudah ditabrak duluan. Untung kakak selamat, tapi sayang ponsel kakak, kakak nggak tahu. Hilang diambil orang atau remuk. Makanya ini kakak pakai ponsel Ibu,"

Dia diam sejenak. Entah apa apa yang terjadi di sana. Sesaat kemudian dia memekik, "Astaga! Bagaimana keadaan kakak? Maafkan Hana. Waktu itu Hana kira kakak benci dengan Hana pas kakak matiin ponsel..." seterusnya dan seterusnya dia berkata tanpa memberiku waktu untuk bicara. Dan semuanya adalah kalimat-kalimat ke khawatiran yang tak pernah ku duga-duga sebelumnya. Dalam dadaku muncul suatu kebahagiaan mendengar suara nyaring dan kalimat-kalimat indahnya, yang bagaikan nyanyian di telingaku.

"Kakak baik-baik saja, Hana sayang... Yah, meski ada jahitan di kepala dan di lengan. Semuanya sudah hampir sembuh. Hana tak perlu takut apa-apa. Senang sekali rasanya mendengarmu mengkhawatirkanku, bidadari."

Tiba-tiba dia menangis dengan suara yang seketika itu membuat dadaku bergejolak. Terdengar lemah dan meyakinkan. Hatiku bimbang, antara percaya dan tak percaya. Ini pertama kalinya aku mendengarnya menangis karna aku.

Akalku menolak untuk percaya. Barangkali ini yang disebut-sebut air mata buaya, air mata penuh kelicikan yang sering kali menjerat hati para pria. Tetapi perasaanku meyakinkanku bahwa semua itu bukanlah palsu.

"M-maaf..." lalu bisikan-bisikan lemah itu meluncur berulang kali di sela-sela tangisnya.

Aku berdiam. keraguan di dadaku sirna. Kehangatan yang sudah tak asing lagi bagi diriku mulai timbul. Suatu kehangatan yang selalu membangkitkan segala perasaanku. Tanpa ku perintah, air mataku menggenangi pandanganku. Aku cukup merasa bersalah karna telah membuatnya menangis.

"Tidak apa-apa, Hana," kataku dengan setengah berbisik. "bukan semuanya salahmu. Aku yang terlalu ceroboh waktu itu."

Dia tak menanggapinya. Dia terus menangis pilu. Suara tangisannya menyayat pelan hatiku. Membuatku mau tak mau juga merasakan kesedihannya. Seluruh perhatianku terpusat pada suara isak tangisnya.

Sebentar kemudian suara tangisannya lenyap. Beberapa detik setelahnya bunyi 'Tut Tut' itu menyusul dan mengakhiri obrolan kami, bunyi yang ku tahu menandakan bahwa ada masalah dengan ponsel kami atau mungkin jaringannya.

Setelah itu aku meletakkan ponsel jadul ini di dekat kepalaku. Ku tarik bantal gulingku, dan memeluknya lagi sambil tersenyum haru.

Hari ini rasanya aku bahagia. Aku tidak pernah menemukan harta karun, tapi ku pikir kebahagiaan yang ku peroleh saat ini sama halnya dengan bahagianya orang yang menemukan harta karun. Setidaknya gambaran seperti itu yang bisa menggambarkan perasaanku ini.

Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku merasakan kebahagiaan seperti ini. Sebuah kebahagiaan yang terasa masuk jauh sampai ke dalam qalbuku. Bahkan berjam-jam telah berlalu, tapi kebahagiaan ini belum jua sirna. Orang tuaku pun sampai terheran-heran dengan tingkahku yang mereka anggap aneh.

Kemudian ke gembiraanku bertambah saat ketukan pintu dari pintu depan terdengar. Saat itu aku berada di kamarku sedang berbaring dengan seribu khayalan yang berputar-putar dalam kepalaku. Dan tak ku sadari ibuku sudah berada di dekatku. Aku terlonjak dan hampir-hampir terjatuh dari atas kasurku.

"Kau ini jangan mengkhayal terus. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu sampai-sampai kau kelihatan seperti orang gila?" tanya ibuku dengan alis bertaut menatapku.

"Aku tidak apa-apa, bu," jawabku singkat sambil memandang sebuah bingkisan yang ada di tangannya.

"Itu apa, bu?" tanyaku penasaran.

"Ini kue. Dari Konohamaru tadi. Katanya titipan dari seseorang," balas ibuku dengan kalimat yang menggantung di bagian akhirnya.

Dalam hati aku bertanya-tanya, 'Siapa orang itu? Ayahnya 'kah? Atau temannya yang mungkin menjadi penggemar rahasiaku?' yang terakhir aku kesampingkan.

"Siapa, bu?" tanyaku lagi memastikan. Barangkali aku mengenal orang itu. Bukannya menjawab, ibuku malah duduk dan menatapku dengan curiga seakan aku ini tersangka utama pencurian berlian.

"Sekarang ibu mau bertanya. Ibu ingin jawaban yang jujur?" pinta ibuku. Dari pada terdengar permintaan, suaranya lebih terdengar tuntutan.

"Apa?" ujarku tak sabaran. Entah kenapa tiba-tiba jantungku menjadi berdebar-debar.

"Jadi...," kalimatnya menggantung. Ketakutan mulai melandaku. Aku mulai mengingat-ingat apa yang sudah ku lakukan di hari kemarin, bulan lalu, tahun lalu. Mungkin saja aku adalah saksi utama sebuah kasus pembunuhan, atau pemerkosaan. Meski itu adalah hal yang konyol untuk ku pikirkan, tapi aku pernah menonton sebuah film di tv. Di mana orang yang awal-awalnya punya kehidupan biasa-biasa saja, tiba-tiba berubah menjadi penuh tantangan, kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan hanya gara-gara pesan nyasar ke ponselnya. Oh! Aku belum siap melakukan adegan-adegan berbahaya itu. Dan aku tidak punya keahlian apa-apa. Ku rasa aku harus menarik kalimat terakhir itu, karna aku ini bisa beladiri, main hape, main komputer, dan facebookan. De el el.

"... Coba ceritakan pada ibu tentang si Hanabi ini."

Hanya dalam sekejap saja semua ketakutan di dadaku hilang tanpa bekas. Butuh dua-tiga menit bagiku untuk bisa mencerna kata-kata ibuku, kata singkatnya 'Cengo'. Setelah aku menyadarinya, betapa malunya aku dengan ibuku yang mempertanyakan perihal tentang gadis yang ku cinta.

Kegelisahan melandaku, dadaku berdebar-debar,

dan wajahku terasa memanas. Ku beranikan diri menatap ibuku, tapi tak bisa. Pandanganku selalu bergerak-gerak tidak tentu.

'Sial!' umpatku dalam hati, karna gara-gara ini pikiranku jadi ruwet.

Pada akhirnya aku berpaling, tidak berani menatap ibuku.

"B-bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa, kok!" kataku cepat-cepat supaya aku bisa selamat dari pertanyaan tak menyehatkan ini. Tapi di saat ada prasangka yang muncul pada diriku bahwa kue-kue itu dari Hanabi. Aku ingin bertanya lebih lanjut, namun tak jadi, karna hal itu bisa saja menyudutkanku nanti. Barangkali aku perlu menyamarkan keinginanku ini.

Tidak ada percakapan lagi. Ku lirik sebentar, tapi hanya sekilas saja, karna secepat mungkin aku mengalihkan pandanganku lagi. Dari sela-sela pandanganku tadi, ibuku sedang memandangku. Hanya itu yang ku tahu. Hasil gambar yang ditangkap mataku buram. Sebab hanya sekilas, dan aku tidak memperhatikan detail-detailnya dengan teliti.

Tiba-tiba suara-suara plastik diotak-atik itu menggangguku dan membuatku penasaran. Saat ku tolehkan wajahku, ku lihat ibuku sedang memakan kue-kue itu. Prasangka buruk sekaligus ke tidak relaan muncul dalam dadaku ketika kue-kue―yang mungkin saja memang dari Hanabi―itu masuk satu demi satu ke dalam mulut ibuku.

"Enak, bu?" tanyaku. Meski sebenarnya bukan itu tujuan utamaku bertanya. Istilahnya 'Pengalihan perhatian.'

"Ya," katanya singkat. Membuatku jadi makin penasaran.

"Coba satu," aku meminta.

"Tidak boleh. Kau sedang sakit, tak boleh makan yang macam-macam," tolaknya. Alasannya bisa terima. Tetapi cara dia mengucapkannya itu lebih terkesan menantang dan mencemooh yang artinya 'Sampai kapan kau akan berbohong seperti itu, payah?'

"Hah..." aku menghela napas pelan. Pandanganku terus mengawasi bagaimana kue-kue yang kelihatan menggiurkan itu masuk dan hancur dalam mulut ibuku. Apa yang dilakukannya itu membuatku tersiksa. Aku menimbang-nimbang sambil memperhatikan kue-kue itu mulai berkurang.

Aku mencoba menyerobot kue itu, namun seakan dia bisa membaca isi pikiranku. Sebelum aku meraih kue-kue itu, dia sudah duluan menjauhkannya dariku.

"Dasar lamban." ejeknya.

Aku menyerah. "Huh, baik-baik aku mengaku,"

Ibuku tersenyum penuh kemenangan. Senyum terjelek yang pernah ku lihat. "Jadi Hanabi itu siapa?"

Aku menarik napas dalam-dalam. Rasanya memalukan sekali. "Dia... Teman perempuanku, bu."

"Bicara yang jelas." katanya sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya.

"Baik, baik, dia gadis yang ku cinta. Ibu puas? Sekarang, kemarikan makanan itu!"

"Hahaha. Ibu pikir ayahmu akan tertarik mendengar ini," ujarnya sambil memberikan kue-kue ini, lalu pergi meninggalkanku.

Ya, aku sudah tidak tahu sepanas apa wajahku. Mungkin sudah merah sekali seperti warna mawar.

TBC


AN : Sebenarnya ceritanya panjang, sampai Naruto pindah dari Konoha ke kota lain. Tapi wordnya kepanjangan, jadi dibuat jadi dua deh hahahahaha... Maaf Maaf... Berikan review yang bagus jika ceritanya bagus... kalau jelek terserah agan saja,,,,

Balasan Review :

DAMARWULAN : Agan Buat kesimpulan aja... Kalau ane kasi tau, jadi kurang seru ceritanya...

uchiha izanami : Terima Kasih...

NaMiKaZe Lucifer Phoenix : Crita NaruShionnya sedang hiatus, gan... :'v

AripRif'an368 : Agan buat kesimpulan aja... Ane Rada bingung mau menjelaskannya... mmmm

Samangga Otosaka : Ada, tapi belum saatnya gan... :v :v :v :v

terima kasih banyak buat yang udah review, fave dan follow fic ini. Maaf tak bisa menyebutkan satu-satu, penyakit males ane kambuh heheheheheh