Naruto © Masashi Kishimoto

Story by Sasa Cherry

Warn : AU, OOC, Typo, Mainstream idea, etc.


[U. Sasuke x H. Sakura]


BAB 9


"Apa saja yang dia lakukan selama aku di Inggris?"

Kakashi yang tengah duduk santai di meja makan dengan buku bersampul orange yang tengah dibacanya itu sedikit terkejut melihat Sasuke yang tengah berdiri tenang di anak tangga terakhir entah sejak kapan.

Sasuke terlihat begitu segar dengan pakaian santainya; sebuah kaos putih tipis dan celana training hitam. Berbeda dengan semalam, Sasuke yang begitu terlihat letih dan muram setelah perjalanannya dari Inggris dengan pakaian formalnya yang telah kusut, kini pada pagi hari senin yang cerah ini, wajah tuan mudanya itu begitu cerah. Dan rambut raven mencuatnya yang terlihat mengkilau basah, Kakashi menduga jika Sasuke baru saja mandi.

"Aa, Tuan," Kakashi segera menutup bukunya dan memusatkan perhatiannya pada Sasuke yang sepertinya menunggu sebuah jawaban atas pertanyaannya. Kakashi berdehem, "Nona Sakura..."

"Tuan muda? Anda sudah bangun?" Chiyo menyela ucapan Kakashi, "duduklah dulu." Pinta Chiyo setelah meletakkan secangkir kopi pahit kesukaan Sasuke di meja makan.

Sasuke mengacak belakang rambutnya sembari melenggang menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sasuke meraih koran dan mulai membacanya.

Chiyo hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah menuju dapur, Kakashi sendiri masih setia memandang Sasuke.

"Jadi?" Sasuke menuntut sebuah jawaban.

Kakashi menumpu kedua sikunya di atas meja. "Hanya hal-hal biasa, seperti membersihkan rumah, memasak bersama bibi Chiyo, berbelanja bahan makanan di pasar desa, dan memotong rumput di halaman belakang," jelasnya.

"Membersihkan rumah? Memotong rumput?" Sasuke membeo, "apa aku menyuruhnya untuk itu?" tanyanya dingin. Tatapannya masih turtuju pada koran yang ia baca.

Kakashi menggaruk kepala belakangnya. "Ya, Anda tahu? Nona Sakura sedikit keras kepala, saya sudah melarangnya, tapi dia tetap bersikeras melakukan semua yang dia mau. Saya tak bisa berbuat apa-apa." Ungkap Kakashi sedikit gugup.

Sasuke mendongak menatap Kakashi datar. "Hn, wanita itu memang penuh kejutan." Gumamnya, "lalu?"

Kakashi merubah raut wajahnya menjadi serius. "Nona Haruno juga bertemu seseorang beberapa kali belakangan ini, Tuan."

Dahi Sasuke sedikit mengerenyit. "Seseorang?"

"Seorang pria lebih tepatnya," koreksi Kakashi.

Rahang Sasuke terlihat mengetat keras. "Pria? Siapa?"

"Toneri," Kakashi tersenyum misterius di balik maskernya ketika melihat Sasuke menatapnya tak percaya. "Ya, Ootsutsuki Toneri, Tuan. Kekasih mendiang nona Hanare." Lanjutnya.

"Bagaimana mungkin?" suara Sasuke begitu terdengar kaku. "Bagaimana mungkin lelaki itu ada di sini? Bagaimana dengan Kanada?"

"Tuan Toneri baru saja pulang dua minggu yang lalu. Alasan dia pulang mungkin karena dendam," gumam Kakashi.

Sasuke tersenyum separo. "Dendam? Tch, dia ingin membalas dendam padaku? Seorang Uchiha Sasuke? Yang benar saja." Kakashi terlihat mengedikkan bahunya ketika mendengar nada arogan tuan mudanya. "Lalu, bagaimana bisa Sakura dan dia bisa saling mengenal?" tanya Sasuke dengan wajah yang kembali mengeras.

Oh, kepunyaannya sedang dekat dengan seseorang? Terlebih, seorang lelaki. Sasuke tentu tidak akan pernah membiarkan kepunyaannya didekati orang lain. Tidak akan pernah. Haruno Sakura adalah miliknya. Barang miliknya. Setidaknya, Haruno Sakura adalah miliknya selama wanita itu belum memberikan seorang bayi untuknya, setelah itu Sasuke tidak ingin peduli dengan siapa pun Sakura dekat.

"Mungkin saja. Sahabat tuan Toneri yang berambut kuning adalah kakak laki-laki dari sahabat nona Sakura. Mungkin mereka saling mengenal karena orang itu." Jelas Kakashi serius.

Sasuke mendengus sinis. "Deidara. Yamanaka Deidara." Sasuke melirik Kakashi penuh arti, "biarkan saja Toneri, selama dia tidak membahayakan, itu tak masalah. Kau mengerti maksudku, Kakashi?"

Kakashi mengangguk sopan. "Ya, Tuan."

.

.

.

.

.

.

Sakura berjalan menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Sesekali ia membenarkan letak syal hitam yang ia temukan di sofa kamar Sasuke. Syal? Tentu saja. Seluruh lehernya menampung belasan tanda merah kebiruan akibat kejadian tadi malam. Tadi malam?

Sakura yakin saat ini wajahnya telah memerah sempurna. Ia malu? Tentu saja. Ia bahkan mengingat betapa bernafsunya ia tadi malam. Aneh memang, tapi jujur saja entah mengapa tadi malam ia memang sedikit berlebihan menuntut sentuhan lelaki itu.

Ia yakin, pasti ia sudah gila.

Apakah ia murahan? Sakura menundukkan kepalanya murung. Murahan? Tidak. Bukankah Sasuke sendiri yang berkata bahwa ia bukan pelacur dan jangan pernah merasa jijik karena hal itu? Entahlah.

Semua sentuhan yang Sasuke berikan padanya telah menjadi semacam madu pahit untuknya. Barangkali, karena Sasuke 'lah yang mengenalkannya pada sesuatu yang begitu asing pada seluruh tubuh tersensitifnya yang tak pernah dijamah oleh siapa pun, membuat diri Sakura yang masih polos menuntut sesuatu yang menurutnya menyenangkan. Ya, menyenangkan namun tak sedikit membuatnya merasa jijik dan hina.

Bagaimanapun juga berhubungan intim seperti itu adalah hal yang sangat salah ketika dilakukan oleh sepasang manusia yang tak memiliki ikatan suci pernikahan.

Sakura semakin menundukkan kepalanya sedih. Ia ingin semuanya berakhir, namun Sakura tahu, selama dirinya masih belum memberikan apa yang Sasuke inginkan, maka ia harus rela membiarkan Sasuke terus menjamah tubuhnya. Miris.

Sakura kembali menengadah menatap jauh ke depan lorong dengan tatapan kosong. Jika saja orang tuanya masih hidup, ia pasti tidak akan mengalami kejadian menyedihkan seperti ini. Dan semua itu karena kecelakaan itu. Orang yang telah menabrak mobil orang tuanya, orang itu 'lah yang pertama kali ingin Sakura bunuh. Bohong. Sejujurnya Sakura hanya ingin tahu siapa orang itu, setidaknya barangkali ia bisa menamparnya satu kali. Ah, tidak. Dua kali untuk dua orang nyawa.

Ah, betapa mulianya dirimu, Haruno Sakura. Setimpal 'kah luka dua pipi untuk nyawa kedua orangtuamu yang melayang?

Senyum miris terpatri di salah satu sudut bibirnya dengan apa yang ia pikirkan. Biarlah, biarkan Tuhan yang menghukum orang itu di mana pun orang itu berada. Sakura yakin, ini semua adalah takdir yang telah Tuhan gariskan untuknya.

Sakura tersadar dari renungannya ketika ia telah sampai di ruang makan. Di sana, Sasuke terlihat tengah membaca koran paginya ditemani secangkir kopi, di sebelahnya Kakashi duduk tenang dengan sebuah tab di tangannya, dan Chiyo yang sibuk di dapur.

Membenarkan letak syalnya dan menghela napas sejenak, Sakura melangkahkan kakinya memasuki ruang makan.

"Um, selamat pagi," sapanya setelah mendudukkan dirinya di meja makan.

Kakashi mendongak dan sebelah matanya yang tak tertutup masker terlihat menyipit. "Pagi, Nona."

Chiyo membawa semangkuk sup ayam dan teh hijau, lalu meletakkannya di hadapan Sakura. "Selamat pagi, Nona. Nah, makanlah," wanita tua itu tersenyum lembut sambil lalu melenggang ke dapur.

"Terima kasih," Sakura menyendok kuah sup ayam itu sembari menatap Sasuke yang hanya meliriknya sekilas dari balik lembar koran yang menutup setengah wajahnya.

Lelaki itu bahkan tidak menjawab sapaannya. Apa ia bisu? Batinnya sedikit kesal.

Hey apa yang kau harapkan, Nona? Uchiha Sasuke tersenyum lebar dan membalas sapaanmu? Mustahil.

Sakura bergidig ngeri membayangkan seorang Uchiha Sasuke tersenyum lebar padanya. Pasti mengerikan. Pikirnya. Tapi, setidaknya bisakan Sasuke membalas sapaannya? Lelaki itu pasti tahu adat kesopanan, 'kan?

Dari pada itu, kini sikapnya kembali seperti semula. Cuek dan dingin, tidak seperti tadi malam dan beberapa menit yang lalu. Pikirnya lagi. Sakura kembali memakan sup ayamnya ketika menyadari tingkah aneh tuannya itu. Ternyata si Uchiha itu bersikap baik dan manis hanya di atas ranjang saja! Tch, dasar semua lelaki sama saja. Batinnya kembali bersuara.

"Kenapa kau memakai itu?" Sakura sedikit tersedak ketika menyadari Sasuke tengah memerhatikannya. Koran yang tadi Sasuke pegang telah terlipat rapi di atas meja makan.

Sejak kapan Sasuke memandanginya? Astaga.

Sakura menatap Sasuke tak mengerti. "Apa?"

"Lehermu."

Sakura segera menunduk dan kembali memakan supnya dengan wajah sedikit memerah. "Harus 'kah aku menjawabnya?" cicitnya.

Sasuke tersenyum miring. "Mm, tentu. Kenapa? Ada apa dengan lehermu?"

Sakura menatap Sasuke kesal. Apa tadi dia bilang? Astaga, lelaki ini benar-benar! Batinnya tak habis pikir. Oh, ini gila. Sakura tidak mungkin menjawab terus terang, 'kan? Hey! Di sini bukan hanya ada mereka berdua.

"Semua ini ulahmu, Tuan. Lupa?" ucapnya sedikit ketus.

Sasuke mengedikkan bahunya. "Hn, tanda yang kubuat tadi malam masih ada? Kukira akan langsung hilang." Ucapnya tak acuh.

Sakura menunduk dengan wajah memerah sempurna. Kakashi yang sedari tadi memerhatikan mereka berdua diam-diam itu sebenarnya sangat ingin tertawa, namun ia memilih untuk berpura-pura tak mendengar dan sibuk dengan tab di tangannya.

Ah, Sakura tentu tidak bodoh. Ia sadar Kakashi dan Chiyo pasti mendengar apa yang Sasuke ucapkan. Sial. Jika saja Sasuke bukan tuannya, Sakura berani bertaruh wajah rupawan lelaki itu akan membiru lembam.

"Aku yakin Tuan sering melakukannya dengan para wanitamu. Tentu begitu bodohnya kau jika ini saja tidak tahu," imbuh Sakura di tengah menyantap supnya.

Bodoh? Dahi Sasuke sedikit berkedut kesal. Hn, berani juga wanita ini. Menarik. Batinnya.

"Melakukan apa?" tanyanya tanpa emosi yang signifikan.

"Tentu saja seks!" Sakura menutup mulutnya cepat-cepat ketika menyadari betapa tingginya nada suara yang ia lontarkan. Kakashi bahkan hampir menjatuhkan tab di tangannya.

Sasuke menyeruput kopinya tenang tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Sakura. "Kau benar, dan itu bukan urusanmu."

"Ya, tentu saja bukan urursanku. Hanya saja pertanyaanmu tadi sedikit menjengkelkan, kau tahu? Kau aneh. Ada apa denganmu, Tuan? Semenjak kepulanganmu entah dari mana itu, sikapmu jadi sangat aneh. Kau sangat ketus sebelum ini padaku, tapi sekarang? Kau bahkan begitu manis dan baik tadi di–" Sakura segera menghentikan cerocosannya dan menggigit sendoknya keras. Kakashi mengerling jenaka di balik tab yang menutupi setengah wajahnya, Sasuke sendiri hanya mengangkat sebelah alisnya.

Sakura menelan ludahnya susah payah. Merasa bodoh atas apa yang telah ia ucapkan. "Baiklah, intinya aku tahu itu bukan urusanku. Aku selesai." Ucap Sakura cepat-cepat mendorong mangkuk supnya. Ia bahkan tidak berani menatap dua lelaki dewasa di depannya.

"Kau mau ke mana?" tanya Sasuke datar ketika melihat Sakura beranjak dari kursinya.

Sakura melirik Sasuke dari ekor matanya. "Bukan urusanmu."

Sasuke ikut beranjak dan menyandar angkuh pada pinggiran meja makan dengan tangan dimasukan ke dalam saku celananya. "Bukan urusanku?" dengusnya sinis, iris obsidiannya menatap wanita muda di depannya tajam penuh intimidasi, "tentu saja urusanku. Kau adalah urusanku, sesuatu yang bersangkutan denganmu adalah urusanku. Kau budakku dan aku tuanmu. Jika kau ingat, Haruno, dalam perjanjian awal, hanya kau yang tidak berhak mencampuri urusanku, bukan aku." Tutur Sasuke dingin.

Sakura menatap Sasuke nanar. Ia tak tahu, Uchiha Sasuke mana yang tadi malam mencumbunya. Lelaki di hadapannya ini begitu berbeda dari lelaki yang semalam menyetubuhinya dan beberapa menit yang lalu menyentuhnya dengan begitu lembut di atas ranjang. Lelaki di hadapannya kini terlihat begitu dingin, arogan dan begitu tak tersentuh. Iris obsidian itu begitu terlihat kosong dan berkilat penuh intimidasi. Mengerikan.

Sakura hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Wanita muda itu ketakutan. Takut entah karena apa, namun lebih dari itu, aura dan tatapan dari kedua iris onyx di depannya telah membuat lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk sekedar menjawab saja Sakura tak mampu membuka mulutnya.

Kakashi menatap kedua sejoli di depannya gusar. Ia baru saja menikmati perubahan sikap Sasuke beberapa menit yang lalu, namun kini Uchiha Sasuke telah kembali menjadi Sasuke yang biasanya. Begitu dingin, angkuh, arogan dan tak tersentuh.

"Kau harus tahu batasanmu, Haruno. Kau adalah milikku selama apa yang kuinginkan belum mampu kauberikan. Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku, bahkan tubuhmu pun milikku dan calon bayiku. Kau mengerti?" Ucap Sasuke datar tanpa emosi.

Sakura menelan salivanya getir. "Aku tahu." Lirihnya, "apa yang kauinginkan dariku sekarang, Tuan?"

"Kakashi, kosongkan semua jadwal meeting-ku hari ini dan pending pertemuanku dengan Uchiha Fugaku lusa." Perintahnya pada Kakashi tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Sakura.

"Saya mengerti, Tuan." Sahut Kakashi sopan.

"Dan kau," Sasuke melangkah menghampiri Sakura dan menyentuh dagu wanita muda itu angkuh, "aku ada urusan denganmu." Bisiknya penuh arti.

Iris klorofil jernih itu menatap Sasuke pasrah. "Apa pun, Tuan."

Jawaban Sakura membuat Sasuke tersenyum tipis setipis kertas.

.

.

.

.

.

.

Sakura menatap Sasuke yang tengah sibuk berbicara dengan seorang gadis cantik berkemeja formal di depannya dengan linglung. Keramaian di sekitarnya tak membuat keadaan lebih baik. Kebingungannya kian memuncak ketika Sasuke kembali berjalan menghampirinya yang tengah duduk termangu di kursi tunggu grand mall ternama itu.

"Ambilah."

Sakura menatap benda tipis yang Sasuke sodorkan padanya dengan bingung. "Apa ini?"

Sasuke mendengus semar. "Aku tahu kau tidak bodoh dengan menanyakan hal konyol seperti itu."

Sakura mengerjap dan mendongak menatap Sasuke yang berdiri menjulang di depannya. "Maksudku, untuk apa kau memberikan ini padaku, Tuan?"

"Sasuke, panggil aku Sasuke mulai sekarang." Ucap Sasuke yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sakura.

Sakura menelan salivanya berat. "Baiklah. Sasuke, kenapa kau memberikan ini untukku?" ucapnya sedikit kaku. Oh, bukannya apa. Tapi ini adalah kali pertama ia memanggil nama kecil tuannya di luar aktivitas ranjangnya yang diharuskan mendesahkan nama lelaki itu.

Sial, Sakura merasa wajahnya memanas. Sakura hanya perlu memastikan Sasuke tidak melihat rona merah di wajahnya, dan sepertinya lelaki itu memang tidak melihatnya.

Sasuke menarik telapak tangan Sakura dan segera meletakkan benda persegi tipis itu di sana. "Aku melarangmu membawa ponsel, tapi setelah dipikir-pikir akan sangat aneh jika kau tidak menghubungi keluargamu. Kita harus segera kembali." Tanpa menunggu tanggapan Sakura, Sasuke berbalik melangkah meninggalkan Sakura yang tertegun.

Sakura menatap ponsel di tangannya dengan perasaan tak menentu. Ia tak menyangka dengan sikap Sasuke yang tidak ia pahami ini. Lelaki itu begitu dingin tersentuh, namun terkadang sikapnya akan baik seperti saat ini.

Tadi pagi ia pikir Sasuke akan melakukan sesuatu yang tak diinginkannya atas kelancangan bicaranya saat sarapan, namun lelaki itu justru menarik Sakura dari ruang makan keluar rumah dan kembali menyeretnya ke dalam mobil. Detik berikutnya yang Sakura sadari adalah ia telah duduk manis di samping Sasuke yang mengemudikan mobilnya entah ke mana.

Tiga jam kemudian, ia dikagetkan dengan tujuan Sasuke. Sebuah grand mall ternama di Tokyo menjadi tujuan Sasuke hanya untuk membeli sebuah ponsel? Terlebih membeli ponsel jauh-jauh hanya untuknya. Sakura tidak mengerti dengan sikap Sasuke.

Sebenarnya, Sasuke yang sebenarnya itu yang mana? Yang dingin itu 'kah? Atau yang baik seperti sekarang?

Sakura beranjak dan segera berjalan mengikuti Sasuke. Ia menatap punggung lelaki itu dengan perasaan berkecamuk. Punggung lebar itu terlihat rapuh di matanya, entah rapuh dari sisi mana, namun Sakura merasakan perasaan ingin memeluk punggung lelaki itu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Astaga.

Apa yang dipikirkannya? Memeluk punggungnya? Punggung Uchiha Sasuke? Ah, kau pasti sudah gila, Haruno Sakura. Tidak. Ia tidak gila. Ia hanya merasa iba dan peduli pada lelaki itu. Bukan 'kah kepada sesama manusia kita harus saling memedulikan?

Sakura kembali menatap punggung Sasuke dalam. Kini Sakura tahu alasan mengapa Sasuke tidak ingin menikah, dan kemungkinan terbesar kepedulian Sakura pada lelaki itu adalah karena masa lalu Sasuke yang kelam. Sakura selalu membayangkan kesakitan yang dirasakan orang lain, maka dari itu timbul keinginan untuk menopang punggung rapuh lelaki di depannya.

"Kau pasti merasa sakit, maka dari itu kau memerlihatkan sosok dingin tak tersentuhmu menjadi topeng untuk menutupi sosokmu yang sebenarnya. Bukan begitu, Sasuke?" gumam Sakura. "Kau menyedihkan."

.

.

.

.

.

.

Membeli sebuah ponsel jauh-jauh hanya untuknya ternyata salah. Sakura merasa malu pada dirinya sendiri yang berspekulasi jika Sasuke rela berpergian jauh hanya untuk dirinya, nyatanya Sasuke mengajaknya ke kota karena memang lelaki itu ada sebuah pertemuan penting dengan relasi bisnisnya.

Sakura mengaduk sup buah yang dipesannya di restoran mewah itu tak berminat. Sesekali matanya melirik Sasuke yang tengah berbicara serius dengan seorang lelaki berambut hitam lebat di meja yang lain. Ya, Sasuke menempatkan Sakura di meja dekat kaca, sedangkan dirinya sendiri duduk dengan klien bisnisnya.

Sakura bersandar dan menatap pantulan sosok Sasuke dari kaca restoran. Lelaki itu terlihat begitu anggun berbicara, angkuh berspekulasi dan dingin untuk disentuh.

Uchiha Sasuke dengan topengnya.

Sakura mendengus semar. Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Mengapa ia lebih sering memerhatikan Sasuke sekarang? Tidak aneh memang mengingat Sakura selalu memperhatikan orang terdekatnya, namun Sasuke? Untuk apa ia memerhatikan orang asing yang sering berkata pedas padanya itu? Entahlah.

Sifatnya yang terlalu baik mungkinlah membuat Sakura peduli pada Sasuke. Menyebalkan memang memiliki sifat seperti ini, namun Sakura tak bisa berbuat apa pun ketika hatinya selalu luluh jika melihat orang di dekatnya menderita.

Sakura kembali memusatkan perhatiannya pada sup buah yang dipesannya dan tanpa disadarinya Sasuke tengah menatapnya dengan tatapan entah apa artinya.

"Sakura?"

Sebuah suara familiar membuat Sakura mendongak dan matanya langsung terbeliak melihat Toneri yang terlihat sama terkejutnya dengan Sakura.

"Toneri-san? Apa yang sedang kaulakukan di sini?"

Toneri tersenyum kecil dan tanpa meminta izin, lelaki itu mendudukkan dirinya di depan Sakura. "Kebetulan yang mengejutkan,"

Sakura tersenyum canggung. "Um. Jadi, apa yang sedang kaulakukan di sini?" ia menatap penampilan Toneri yang memakai pakaian serba hitam. Lelaki itu terlihat tampan dan maskulin. Kenapa Sakura baru menyadari jika lelaki di depannya begitu tampan?

Toneri melirik meja Sasuke sesaat dan berdehem kembali memusatkan perhatiannya pada Sakura. "Aku baru saja bertemu dengan relasi bisnis perkebunanku,"

Sakura ikut melirik Sasuke untuk memastikannya tak melihat pertemuannya dengan Toneri dan ternyata lelaki itu masih sibuk dengan kliennya. "Mm, begitu?"

"Bagaimana denganmu?" Toneri terlihat memainkan ujung kaca mata hitamnya selagi menunggu Sakura menjawab.

"Aku..."

"Haruno," Sakura mendongak dan menatap Sasuke horor. Sejak kapan lelaki itu berdiri di samping mejanya? Bukan 'kah beberapa detik yang lalu Sasuke masih sibuk dengan kliennya?

"Sasuke? Kau sudah selesai?" Sakura berusaha mengontrol nada suaranya agar terdengar tetap tenang.

"Hn," Sasuke mengalihkan tatapannya pada Toneri sejenak dan kembali menatap Sakura, "kita harus pergi. Sekarang." Tandasnya.

Sakura segera beranjak setelah memperbaiki letak syalnya. "Toneri-san aku harus pergi sekarang, senang bertemu denganmu." Sakura membungkukan sedikit tubuhnya.

Sasuke mendengus semar dan segera menarik lengan Sakura, kemudian mereka berdua berlalu pergi meninggalkan Toneri yang tersenyum kecil penuh ancaman.

"Sasuke ya? Ada hubungan apa Sakura dengan orang itu?" gumamnya seraya menatap kepergian Sakura dengan Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Tiga jam kembali mereka lalui dalam hening. Sakura sedikit heran dengan Sasuke yang tak banyak bicara, ah- Sasuke memang seperti itu, hanya saja saat ini Sasuke sedikit lebih tegang entah mengapa. Sakura beberapa kali melihat Sasuke mengeraskan rahangnya dan mencengkeram stir mobilnya.

Apa karena Sasuke melihat pertemuannya dengan Toneri? Tapi untuk apa Sasuke marah? Apa Sasuke marah karena ia takut Sakura akan membocorkan rencananya? Entahlah. Biarkan saja, lagipula Sakura tidak merasa dirinya telah menceritakan rahasianya pada Toneri dan Sakura memutuskan untuk tidak menanyakan masalah Sasuke. Bukan 'kah Sasuke sendiri yang bilang jika ia tidak boleh mencampuri urusan Sasuke?

Sasuke memarkirkan mobil di pelataran rumahnya setelah Kakashi membuka gerbang, detik berikutnya ia keluar dari mobil diikuti Sakura.

Sakura berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Sasuke yang tengah berdiri di depan Kakashi. Sakura terlihat sibuk dengan ponselnya dan tentunya membuat Kakashi heran. Sejak kapan Sakura memakai ponsel?

"Aku yang membelikannya." Sasuke yang mengerti kebingungan Kakashi segera angkat bicara. Suaranya datar, tanpa emosi.

"Aa," Kakashi mengangguk paham.

Sasuke melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul dua siang. Ia berjalan memasuki rumah diikuti Kakashi.

"Aku ingin bermain golf sekarang," ucap Sasuke di tengah perjalanannya menuju halaman belakang.

Kakashi terlihat panik. "Mm, Tuan sebaiknya..."

Terlambat.

Sasuke menatap halaman belakang rumahnya yang dipenuhi bunga-bunga kecil dan pot besar yang nyatanya menutupi lubang bola golfnya dengan dahi berkedut.

"Apa ini, Kakashi? Kenapa lapangan golf milikku berubah menjadi taman bunga?" Suaranya terdengar rendah penuh intimidasi.

Kakashi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Nona Sakura yang..."

"Hn, tentu saja." Sela Sasuke. Lelaki itu menutup matanya sejenak guna untuk meredakan ledakan emosi di dadanya. Baru kali ini ada yang telah berani mengubah sesuatu milik Uchiha Sasuke dengan lancang dan orang itu adalah Haruno Sakura.

Benar-benar menarik.

Sasuke kembali membuka matanya dan berbalik meninggalkan Kakashi yang menghela napas lega. Ia bersyukur Sasuke tidak memukulnya seperti kejadian dua tahun yang lalu ketika seekor tupai kecil menggali lubang kecil di lapangan golf-nya.

"Perubahan yang sudah kuduga. Nona Sakura telah merubah tuan Sasuke dengan sangat cepat. Benar-benar gadis penuh kejutan." Gumam Kakashi.

.

.

.

.

.

.

"Nee-san juga merindukanmu. Maaf baru menghubungimu sekarang. Jaga dirimu baik-baik, jangan nakal, jangan membuat keluarga Yamanaka repot, jangan bolos sekolah, mengerti?" Sakura tersenyum tulus.

"Aku mengerti. Baiklah, kau juga jangan terlalu lelah bekerja, jangan lupa makan dan jangan lupa kirimkan aku uang, Sakura,"

Sakura mendengus kesal. "Sudah berapa kali aku bilang, panggil aku Nee-san, Sasori no baka!"

"Hahaha! Maaf untuk itu, Nee-san,"

Sakura menyandarkan punggungnya pada sofa. "Hiduplah dengan sehat, Nee-san menyayangimu, Sasori. Sangat menyayangimu, kau tahu?"

"Nee-san jangan khawatir, aku akan menjaga diriku dengan baik!"

"Bagus," Sakura menghapus, setitik air mata yang keluar dari ujung matanya.

"Kau menangis, Nee-san..."

"Tidak!" sela Sakura cepat, "um Sasori, Nee-san harus kembali bekerja. Nee-san tutup teleponnya ya?"

"Tapi ... hahh, baiklah. Jangan sakit, Nee-san."

"Ya." Sakura segera menutup ponselnya dan tersenyum kecut.

"Sudah selesai?"

Sakura menoleh dan di sana Sasuke berada. Berdiri menyandar pada dinding pembatas ruang tamu. Menatapnya entah sejak kapan.

"Mm," Sakura mengangguk, "ada apa?"

Sasuke beranjak dan berjalan menghampiri Sakura. Berdiri menjulang di depan wanita muda itu. "Besok hingga beberapa hari ke depan aku akan di kota." Hanya itu dan Sasuke berbalik meninggalkan Sakura setelah menatap wanita itu dengan tatapan sulit diartikan bahkan oleh dirinya sendiri.

Sakura termangu menatap punggung Sasuke. Lelaki itu kembali bersikap jinak setelah menguarkan aura mengerikan di dalam mobil tadi.

Dan, apa? Apa maksud Sasuke berkata seperti itu padanya? Dan Sakura merasa bodoh karena merasa dirinya bagai seorang istri yang hendak ditinggalkan suaminya bekerja keluar kota. Benar-benar konyol.

Sakura kembali bersandar pada sofa, ia mendekap ponselnya dan menutup kedua matanya. Ia kembali mengingat perkataan Mikoto tempo hari padanya.

Putraku sebenarnya adalah lelaki yang baik, hanya karena masa lalu yang kelam membuatnya sangat trauma akan merajut sebuah komitmen.

Uchiha Sasuke ... orang macam apa kau sebenarnya?

.

oOo

.

"Hey, kau!" seru manager hotel itu pada Ino yang sibuk menata barang-barang milik para tamu hotel yang hendak chek-out.

Ino beranjak dan segera melangkah mendekati sang manager. "Ya, ada yang bisa saya bantu, Manager?"

Suigetsu melirik arlojinya dan kembali menatap Ino. "Hari ini akan ada dua orang tamu untuk Uchiha Group menginap di hotel ini. Aku ingin kau menjemputnya di bandara. Mengerti?"

Uchiha? Oh, tentu Ino sangat tahu jika direktur Uchiha itu adalah tamu tetap hotel ini. Ditambah Uchiha Group ikut andil menanam saham di hotel ini. Hotel terbesar di Tokyo. Tentu manager-nya sangat ingin semuanya sempurna jika hal-hal yang tak diinginkan terjadi, mengingat CEO Uchiha Group itu selalu menuntut kesempurnaan dalam hal apa pun.

Ino mengangguk sopan. "Saya mengerti. Ehm, siapa nama mereka?"

"Shimura Sai dan Nara Shikamaru."

.

.

.

.

.

.

Senin, pagi itu. Sasuke melangkahkan kaki di koridor perusahaannya dengan tenang. Wajahnya yang rupawan tak menunjukkan emosi apapun, namun aura ketegasan, kewibawaan, keangkuhan, kekuasaan dan aura dingin menguar begitu kentara pada dirinya.

Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya langsung menunduk sopan, kendati tak digubris sedikit pun olehnya. Kakashi yang setia mengikutinya di belakang terlihat sibuk dengan tab di tangannya. Sibuk mengatur jadwal tuannya.

"Ada sesuatu?" tanya Sasuke ketika melirik Kakashi dari ekor matanya.

Kakashi menatapnya sejenak dan menghela napas pelan. "Hari ini ada pertemuan dengan relasi anda dari China menyangkut pembangunan jembatan dan hotel cabang kita di sana."

Sasuke melangkah memasuki lift diikuti Kakashi dan menekan tombol berangka 25. "Lalu?"

"Masalahnya hari ini anda juga harus hadir di rapat pertemuan Anbu menyangkut kasus di Inggris sebulan yang lalu." Jelasnya.

Pintu lift terbuka dan Sasuke segera melangkah memasuki ruangannya tanpa menghiraukan sang sekertaris wanita berambut merah dengan kaca mata berbingkai di kedua matanya yang menyapanya.

Kakashi mengangguk pada sekertaris ber-name tag Uzumaki Karin di atas mejanya. Kemudian lelaki itu segera menutup pintu ruangan dan duduk berhadapan dengan Sasuke yang mulai memeriksa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.

"Masalah kematian Ivo Parker? Apakah Naruto dan yang lainnya sudah dihubungi?" tanya Sasuke tanpa melepaskan titik fokusnya dari lembar dokumennya.

Kakashi mengangguk. "Sudah. Shimura Sai dan Nara Shikamaru akan pulang dari Berlin siang ini, mereka akan istirahat di hotel biasa. Lalu, Inazuka Kiba dan Hyuuga Neji pun telah selesai dengan misi mereka di Paris, mereka akan sampai di tempat pertemuan lebih awal dari yang lainnya. Kyusuke, Hanzou, dan Yagura pun sudah saya hubungi."

Sasuke membubuhkan tanda tangan pada dokumen ke-empatnya. "Bagaimana dengan Joy Mayer?"

Kakashi tersenyum tipis. "Anda tidak usah khawatir, Joy Mayer aman. Beliau ada dalam perlindungan kita, ia tidak akan pernah tersentuh."

Sasuke mendongak menatap Kakashi dan tersenyum miring. "Hn, bagus. Undur pertemuanku dengan Xiao Yi Xing hingga lusa, saat ini kita harus membahas kejadian sebulan yang lalu." Putusnya.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, begitu?" lelaki paruh baya itu menghisap cerutunya dalam-dalam. Angin musim panas berhembus melewati kaca jendela ruangannya yang sengaja dibuka.

Lelaki dengan umur awal empat puluhan di depannya mengangguk dengan wajah bengis. "Ya, dia pikir dengan kematian sekutu kita di Inggris dia berhasil menakhlukan dunia bisnis dengan kekuasannya, namun tidak 'kah kau berpikir itu terlalu tolol?" tukasnya sinis seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.

Lelaki paruh baya itu kembali menghisap cerutunya dalam-dalam sebelum menjawab. "Ya, tindakan naïf untuk seukuran keturunan Uchiha. Kurasa Uchiha Fugaku telah salah membesarkan seorang penerus."

Lelaki berambut coklat di depannya tersenyum keji. "Apa rencanamu selanjutnya, Hiashi?"

Hyuuga Hiashi mengepulkan asap rokoknya. "Joy Mayer. Bunuh dia dan hubungan bisnis Uchiha dengan Star Ship Group di Inggris akan putus. Kau mengerti, Zabuza?"

Zabuza menyeringai semakin lebar. "Tentu. Lagi pula Ivo Parker terlalu serakah, dia pantas mati."

"Bagaimana menurutmu, Kabuto?" tanya Hiashi mengalihkan tatapannya pada lelaki berambut perak ikat rendah yang sedari tadi bergeming di sampingnya.

Kabuto membenarkan letak kaca matanya. "Gagasan yang tepat. Saya kira begitu, Tuan." Jawabnya dengan kilatan aneh di kedua iris hitamnya, tentu tanpa Zabuza dan Hiashi sadari.

Hyuuga Hiashi menyeringai puas. Kini ia tahu bagaimana cara menjatuhkan Uchiha Sasuke.

Uchiha Sasuke...

Hiashi mengepalkan tangannya mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu ketika Sasuke mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya di depan para pemegang saham. Kau akan membalasnya, anak muda. Tekadnya dalam hati.


To be continue


Note: Muehehee Sasa balik lagi nih. Oke-oke, kemarin banyak yang penasaran kapan Sakura hamil ya? Ya, Sasa juga gereget kapan ya Sakura hamil? #ding just kidding xD Ditunggu aja ya. Makasih buat yang masih setia sama fic ini. Maaf ga bisa bales review. T.T

Salam hangat,

Sasa Cherry.