Warning: AU. OOC. ANOTHER HIGH-SCHOOL FIC FROM mysticahime. Not very keen on romance. Mostly friendship. DON'T LIKE DON'T READ. C&C is accepted. Reviews are received with open-hearted. Different POV in every chapter. NOT A CHARA BASHING FIC!
Disclaimer: I never own Naruto. All is Masashi Kishimoto's masterpiece. Just borrow the characters for my own fiction.
Enjoy.
.
.
.
.
mysticahime™
proudly presents
another high-school fic
Inspired from dorama 'Dragonzakura'
© 2012
.
.
.
.
Don't be dubious to move forward
Don't be afraid to fight your way
'Cause you're not alone
We're all...
X~*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*~X
Under The Same Sky
X~*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*~X
.
.
.
.
Chapter 9: Sakura — Cooperation
Berkas cahaya matahari menari-nari ketika berhasil menembus barikade tirai tipis yang tergantung lunglai pada bagian atas jendela kamarku. Percikan cahaya itu menghasilkan spektrum buram dalam keremangan, namun cukup untuk membuat kedua mataku terbuka.
Satu, dua, tiga—setiap kerjapan mengembalikan kesadaranku ke kondisi vital. Kuapan lebar menggantung di udara, dan aku meregangkan tubuh sebelum menuju ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Ah, pagi lagi. Matahari terbit lagi. Berpacu ke sekolah lagi.
Bisakah hari tetap stagnan di malam hari?—pertanyaan itu selalu terulang setiap harinya. Hanya dalam benakku, tidak ada yang tahu.
.
.
.
.
"Swelamwat pagwiiii!"
Pukul delapan lewat lima. Masih terlalu pagi bagi anak-anak SMA Konoha untuk menyembulkan ujung hidung mereka di balik celah pintu. —setidaknya begitulah asumsiku selama tahun-tahun ini. Asumsi yang terpatahkan sejak, oh baiklah, kemarin siang.
Aku tidak tahu sihir apa yang digunakan oleh Kakashi (sebut aku kurang ajar, sebut aku tak punya tatakrama—aku masih enggan menyebut dirinya dengan embel-embel 'Sensei'). Yang jelas, pria itu berhasil membuat seorang Uzumaki Naruto datang cukup awal pagi ini. Dengan keadaan rapi dan semangat pula. Minus mulut penuh kunyahan onigiri yang sepertinya dimakan dalam sekali suapan.
"Pagi." Satu sapaan terdengar dari ujung sana. Kupicingkan mata, mencari sumber suara melalui ekor mata. Aha, si anak baru yang kelewat maniak seni itu. Sepertinya dia... entahlah, rasanya anak itu terlalu bersemangat untuk memulai kehidupan sosialnya di masa-masa SMA ini.
Heh, untuk apa bersosialisasi? Bergaul dengan sesama apatis hanya akan menambah beban hidup.
"Pwagi Swimuraaahh!" Uzumaki berusaha keras menelan nasi kepalnya, tetapi belum berhasil. Kuputar kedua bola mataku dengan bosan, kemudian kembali menekuni buku fisika di hadapanku. Yeah, belajar fisika-yang-membosankan-setengah-mati jauh lebih menyenangkan daripada—
"Pwagii—" nom, "—Swakura—" nom, "—chwann!" —glek. "Ahhh, akhirnya tertelan juga."
Aku bergeming, sama sekali tidak menggubris sapaan itu. Uzumaki sama mengganggunya dengan Inuzuka dan Yamanaka. Minus anjing bau dan kotak dempul tembok itu.
Aku baru saja akan berusaha memahami teori gelombang bunyi ketika satu hal lagi mengusikku.
"Kau tidak membalas sapaannya, Sakura-san?"
Kepalaku mendongak dan mendapatkan si anak baru—siapalah itu namanya—tengah berdiri di depan mejaku dengan kening berkerut. "Apa urusanmu?"
Hebat sekali dia, bisa berjalan ke mejaku tanpa kusadari.
Busur senyuman ganjil tersungging di bibirnya, mengoyak kekakuan wajah pucatnya. "Bukankah tidak sopan bila ada yang menyapamu dan kau berpura-pura tidak mendengarnya?"
"Sama sekali bukan urusanmu," jawabku ketus, kembali menyibukkan diri dengan buku fisika. "Lagipula buat apa kau memanggil namaku seperti itu? Kita kan tidak saling kenal." Kutatap dia dengan tajam, upaya pengusiran karena keberadaannya membuatku terganggu.
Pemuda itu menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. "Bukankah kemarin Kakashi-sensei menyuruh kita untuk saling memanggil dengan nama kecil?"
Bahuku mengedik. "Oh, peraturan itu." Rotasi bola mata lagi. "—memangnya aku peduli?" Ketika tidak mendapatkan respons apa pun darinya, aku tersenyum sinis. "Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, sebaiknya kau tidak menggangguku belajar, Shi-mu-ra."
Dan aku benar-benar tidak mengacuhkannya selama beberapa saat—juga seisi kelas yang kuyakin menatap kami dengan tatapan tak terbaca. (Tunggu. Seisi kelas? Bercanda. Tapi selain Shimura dan Uzumaki, tentu saja sudah ada Yamanaka dan kotak dempulnya. Yang mengherankan adalah Akimichi dan Inuzuka juga sudah duduk di bangku masing-masing.)
.
.
.
.
Pukul setengah sembilan kurang.
Buku fisika terasa begitu menjemukan. Tentu saja, aku tak mengerti apa yang tertulis di sana—tidak ada yang mengajariku, tentu saja. Selama bertahun-tahun berada di sini, enam puluh persen pelajaran kupelajari secara otodidak. Tidak ada guru yang bertahan lebih lama dari dua minggu di sini. Satu-satunya alasan yang masuk akal mengenai problema itu adalah... keasosialan Inuzuka Kiba.
Aku menggaruk-garuk kepalaku dengan jengkel ketika menyadari betapa ributnya suasana kelas. Bukan sesuatu yang asing berada di tengah hingar-bingar seperti ini, hanya saja—
"Kesulitan?" Sebuah suara memecah pergumulan alam bawah sadarku. Aku berbalik ke belakang dan mendapati Uchiha Sasuke—dengan headphone mengitari kepalanya—menatapku dengan tatapan datar.
"Tidak," jawabku cepat-cepat dan kembali menghadap mejaku.
"Lalu mengapa kau memperhatikan halaman yang sama sejak dua puluh menit yang lalu?"
Aku terdiam. Benar-benar kurang kerjaan. Untuk apa ia memperhatikan orang lain? Setahuku, Uchiha itu egois, menyebalkan, dingin, dan individualisme.
"Bukan urusanmu." Sinis. Itu yang kutangkap dari nada bicaraku sendiri.
"Terserahlah." Balasan yang ia berikan membuatku kembali memutar bola mata.
Menyerah menghadapi buku, akhirnya kuputuskan untuk mengamati suasana kelas senior satu-satunya di sekolah ini. Selama duduk di kelas tiga, belum pernah sekalipun aku memperhatikan ruangan kelas.
Akimichi tampak sibuk dengan sekotak bakpao. Uzumaki sedang merecoki si anak baru—Shimura. Nara sedang mendengkur di mejanya; aku heran ia tidak masuk angin meskipun sering tertidur tanpa selimut. Yamanaka sedang... menambal jerawatnya dengan semen putih, hahaha.
Sepertinya gadis pirang itu sadar bahwa aku mengamatinya sambil menertawai perbuatannya dalam hati. Tatapan mata birunya terlihat sinis.
Aku mencibir.
Yamanaka baru saja menutup kotak semen putihnya dan akan beranjak keluar dari teritorialnya ketika terdengar bunyi pintu digeser.
Greeekk...
"Selamat pagi, Dream Logger! Aku senang melihat kalian semua berada di kelas hari ini." Sapaan muncul seiring pergerakan pria berambut perak itu ke arah meja guru. "Maafkan keterlambatanku hari ini, ada banyak hal yang harus kuuru—"
"Tidak masalah!" jawab Inuzuka cepat. Keningku mengernyit. "Aku malah senang kalau jam pelajaran berkurang banyak banyak menit."
Banyak banyak menit—bahasa apa itu?
Kesimpulan yang paling mendasar adalah: No. Rak.
Kakashi hanya tersenyum mendengar tata bahasa Inuzuka yang aneh, kemudian ia mengalihkan pandangan pada seisi kelas, menyapu dari kiri ke kanan. "Seperti yang kalian ketahui, aku telah meminta kalian untuk lolos ujian masuk ke universitas mana pun, jadi—tentu saja—kita akan mulai belajar."
Terdengar bunyi menggerutu dari barisan tengah; mari bertaruh bahwa yang menggerutu adalah Inuzuka dan Uzumaki. Aku hanya mengembuskan napas, memandang ke luar jendela dengan bosan.
Langit berwarna biru dengan gumpalan putih bergradasi kelabu melayang-layang dengan ringannya. Percikan sinar matahari menerpa lanskap bumi secara diagonal dari sela-sela awan. Mungkin akan asyik rasanya bila bisa terbang—
"...coba kau ulangi apa yang baru saja kukatakan, Sakura." Suara seseorang membentur gendang telingaku.
Visualisasiku berganti; awan ke sosok laki-laki yang berdiri di depan mejaku. "Apa?"
Ada kerutan halus di keningnya. "Kubilang, ulangi apa yang baru saja kukatakan."
"Tidak tahu," jawabku singkat, pandanganku kembali teralih pada samudera yang menggantung di atas sana. Mengamati riak-riak awan menghiasi permukaannya. "Tidak peduli."
Terdengar helaan napas Kakashi. "Oke, tidak masalah. Mungkin kau akan peduli kalau kau tahu bahwa kau akan menjadi anggota dari kelompok yang sama dengan Uzumaki Naruto, Shimura Sai, dan Uchiha Sasuke."
Aku menoleh cepat. "—APA?"
Dan aku mendengar suara Uzumaki menyerukan kata yang sama.
"Kau bercanda, Sensei? Aku? Satu kelompok dengan ... err, Sasuke? Yang benar sa—"
"Siapa juga yang mau?" Tertangkap olehku suara yang berasal tepat dari belakang punggungku. "Cih."
"Sasuke-Naruto-Sakura-Sai." Inuzuka menggumam. "Jadi sisanya aku-Shika-Chouji-Ino, begitu? Sangat sangat menyenangkan, minus si Pirang."
"Pirang-pirang, diam kau, Norak!" Gerutuan Yamanaka berkumandang disusul bunyi bletak pertanda dua benda bertumbukan bebas.
Suasana kelas berubah ricuh. Aku menghela napas berat. Mengacungkan tanganku ke udara, meminta perhatian Kakashi.
"Ya?" Rambut peraknya tampak tak terganggu oleh rotasi lehernya. "Ada apa, Sakura?"
"Apa maksud dari semua ini?" Kucoba untuk menahan emosi yang mulai menggelegak. "Mengapa tiba-tiba kau menempatkan kami semua dalam kelompok?"
"Tidak ada." Ia mengangkat bahu. "Hanya saja kalian pasti akan bisa belajar bersama dengan baik. Saling mengajari. Bukannya itu bagus?"
Mulutku melanjutkan protes, "Tap—"
Tapi Kakashi sama sekali tidak menggubrisku. Ia malah berpaling ke barisan tengah. "Jadi, mulai sekarang kalian harus duduk berdekatan dengan kelompok kalian. Aku tidak mau melihat setiap anggota kelompok berpencar. Oke?"
Mimpi buruk.
.
.
.
.
"Membosankaaaannnn~"
Setelah peristiwa mengenaskan soal pembagian kelompok, kami mendapati bahwa kami semua harus mengerjakan lima buku kumpulan soal matematika. Kakashi bilang, buku-buku itu harus dikumpulkan jam tiga siang. Bukan buku-buku tebal dengan tulisan sekecil semut, tetapi dengan keadaan seperti ini, aku sama sekali tidak berniat mengerjakannya satu soal pun.
Uzumaki merebahkan diri di atas hamparan karpet hijau alami, meregangkan lengan dan tungkainya dengan kedua mata terpejam. Torsi galaksi menyorotkan jutaan partikel cahaya pada kulitnya yang terbakar.
"Sasuke, kau kan cerdas, kerjakan punyaku," pinta Uzumaki seenaknya. Digesernya tiga buku ke hadapan Uchiha yang tampak tenang mengerjakan bagiannya dengan telinga tersumpal plug earphone.
Ckck, bocah pemalas.
"Jangan malas," cetus Shimura, baru saja membalikkan halaman buku di hadapannya. "Menurutku soal-soal ini tidak terlalu sulit, kok. Soal-soal di Iwa beratus kali lebih sulit dibanding ini."
"Tapi tetap saja aku malaaasss~" Uzumaki berbalik memunggungi kami. "Untuk apa sih kita disuruh mengerjakan matematika? Aku kan sudah tidak mempelajarinya sejak kelas empat SD."
"Hah?" Kali ini aku berpartisipasi menyumbang suara, bersamaan dengan menganganya mulut Shimura. "Kelas... empat?"
"Yeah," jawab Uzumaki sambil menggaruk-garuk cuping telinganya. "Guru matematikanya begitu menyebalkan sampai-sampai aku selalu bolos saat pelajaran itu dan pergi mengintipi cewek-cewek ganti baju di—"
Terdengar bunyi BUAGH saat empat buku berisi soal menghantam pelipis Uzumaki dan sedetik kemudian kusadari bahwa aku-lah yang melakukan tindak kekerasan itu. Kutarik sudut bibirku dengan sinis dan kilatan emosi melayang dari tatapanku. "Kau me-ngin-tip? Dasar makhluk-tak-bermoral-mata-keranjang!"
"Pfftt, hahaha...!" Ledak tawa Shimura membuatku sadar bahwa kami di sini berempat, dan ada yang menontonku menghajar si Uzumaki. "Kau galak sekali, Sakura. Kukira selama ini kau tipe pendiam yang..."
"—yang apa?" potongku cepat. Tak akan kubiarkan dua laki-laki merusak image angkuh yang selama ini kupasang sebagai benteng diri. "Kalau kau tidak punya kerjaan lain sampai-sampai bisa memperhatikanku sedemikian rupa, lebih baik kau kerjakan soal-soal itu!"
"Aye-aye, Ma'am." Uzumaki yang menyahut, mungkin dia merasa kata-kataku ditujukan kepadanya, padahal bukan. Pemuda pirang itu membuka buku pertama dari lima bukunya. "Huwaaaa, aku tidak mengerti apa pun yang tertulis di sini!"
Kali ini aku mengabaikannya. Masih banyak yang harus kukerjakan—dan oh, ini sudah hampir jam sepuluh.
.
.
.
.
"Lima kali empat emmm... dua puluh! Jadi dua puluh eks kuadrat—"
"Dua eks plus enam, sepuluh eks min tiga—"
"Eks sama dengan tiga, eks sama dengan tiga per sepuluh—"
Nyaris tengah hari, yang berarti sudah dua jam aku bergulat dengan soal-soal matematika tingkat SMP—yang benar saja—dan itu berarti sudah dua jam aku mendengarkan si bodoh Uzumaki berceloteh mengenai formula yang dia kerjakan!
Setelah diajari secara singkat oleh Uchiha (dan kebetulan bocah itu mengerti hanya karena diterangkan selama dua puluh detik), Uzumaki terus mengigau sambil mengerjakan soal. Dan igauannya itu mengganggu konsentrasiku mengerjakan soal. Omong-omong, aku mengerjakan buku ketiga.
"Hei, Sai! Kau sudah sampai mana?" Akhirnya Uzumaki tak tahan juga menekuni tumpukan angka dan variabel itu. Padahal baru awal buku kedua. Tangannya yang terbakar matahari menarik buku dari hadapan Shimura dan kedua mata birunya segera melebar. "Whoa, buku ketigamu sudah hampir selesai?"
Heh? Gerakan pensilku berhenti. Laki-laki antisosial itu lebih cepat dariku? Oh ya, aku lupa. Dia kan mantan siswa Iwagakure. Sudah jelas dia pintar.
"Memangnya apa yang sulit dari ini, Naruto?" tanya Shimura dengan santai. Ia membalik lembaran putih itu. "Biarpun seniman, aku sudah belajar integral."
"INTEGRAL?" Nada bicara Uzumaki membuat integral terdengar seperti kau-ditusuk-tombak-lalu-diguling-gulingkan-di-atas-bara-api-lalu-disuruh-mendaki-gunung-dengan-kaki-dan-tangan-terikat. "...APA ITU INTEGRAL?"
Headdesk.
Aku baru tahu si bodoh ini belum pernah mendengar kata integral sekali pun.
Shimura pun tampak kehilangan kata-kata. Entah takjub karena melihat ekspresi horor Uzumaki, entah karena ingin guling-guling saking frustrasinya. Uzumaki berulang kali mendesak pemuda pucat itu untuk menjelaskan apa-itu-integral, namun sang lawan bicara hanya bisa mengembuskan napas dan menatap balik dengan ekspresi lelah. Wajah datar permanen Uchiha pun sama sekali tidak membantu.
Aku menarik napas. "Begini lho, Uzumaki," sedikit saja, aku berniat untuk mengusilinya, "integral itu pusat dari matematika. Susaaaahhh sekali mengerjakannya." Kubiarkan kedua mata Uzumaki membulat sempurna. "Kau harus bersemedi di Gurun Sahara lalu puasa lima bulan dulu baru bisa mengerjakannya. Dan sekali mengerjakan, formulanya bisa selembar kertas folio—"
Aku berhenti ketika mendengar tawa tertahan Shimura. Sadarlah aku bahwa sejak beberapa detik yang lalu, image siswi rajin dan teladan yang susah payah kubangun hancur berantakan. Bungkamlah mulutku dan aku kembali menyibukkan diri dengan matematika.
Shimura dan Uzumaki saling lirik.
.
.
.
.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu?"
Sekitar satu jam kemudian (setelah semuanya memutuskan untuk kembali ke kelas karena matahari begitu terik), Uzumaki yang semula sudah mulai mengkhayati lembaran-lembaran penuh angka dan rumus itu kembali membuka suara. Kali ini diiringi bunyi aneh yang bersumber dari perutnya. Aku mengangkat wajah dan meliriknya, membisu.
"Kau tidak lapar, Sakura-chan?" Pertanyaan itu terlontar seolah sudah menjadi rutinitas antara aku dan Uzumaki untuk makan bersama, berbagi bento sambil bercanda dan tertawa.
"Aku hanya tidak ingin makan denganmu, itu saja." Kupasang wajah dingin yang menyebalkan, lalu kembali menyibukkan diri. Persamaan kuadrat ini tidak ada habis-habisnya...
"Kau tidak ingin makan dengan siapa pun, hn." Satu nada sarkastik kudapatkan dari seberangku. Kami berempat duduk mengelilingi dua meja yang disatukan. Aku, Uzumaki, Uchiha, dan Shimura. Jelas-jelas aku berhadapan dengan makhluk paling antisosial di sekolah. Uchiha Sasuke.
Kali ini aku mendongak, menyipitkan mata, dan memamerkan senyuman yang sangat-sangat terpaksa. "Kau mengenalku dengan baik."
"Tergambar jelas di mukamu, kok."
Jawaban yang sok itu jelas membuatku kaget. "A—apa maksudmu?"
Senyuman miring tercetak di bibir tipisnya. Uchiha melipat kedua lengannya, menyandarkan punggungnya ke belakang sehingga terlihat seperti bos mafia. "Jelas. Kau akan makan sendirian dan mengulang fisika yang tidak kau bisa."
Alisku mengerut. "Sok tahu."
"Aku memang tahu."
"Kau tidak bisa fisika?" Kali ini Shimura yang angkat bicara. "Bab yang mana? Mungkin saja aku bisa—"
Bunyi kertakan gigi, dan aku terkejut mendengar nada dingin dari suaraku sendiri, "Aku tidak perlu bantuan darimu, Shimura yang terhormat. Terima kasih banyak."
Kali ini rasa tersinggung jelas-jelas terpancar dari seraut wajah pucat yang biasanya menyelipkan senyuman hambar dalam setiap ekspresinya. Setitik perasaan bersalah menyelinap ke dalam hatiku, namun ego memaksaku untuk tetap menyorotkan kekeraskepalaan dan kesombongan.
"Kau kelewatan, Sakura-chan." Uzumaki menggigiti ujung pensil kayunya. "Sai bermaksud baik, kok. Mungkin dia tidak sepintar anak-anak Iwa lainnya dalam matematika, tapi setidaknya dia sudah—"
Aku menggeser kursi dan berdiri. "Kautahu? Hal terbaik yang dapat kulakukan saat ini adalah makan siang sendirian dan mengerjakan sisa soal yang perlu kujawab."
Aku tak tahu bahwa pertengkaran kecil ini disaksikan seisi kelas. Sebenarnya aku bahkan tak peduli apakah mereka akan menyaksikan atau tidak. Kami semua apatis, dan orang apatis tidak mengurusi satu sama lain.
"Sakura tidak bermaksud seperti itu, kok." Sebelum menutup pintu, kudengar Akimichi berbicara, mungkin kepada Shimura. "Wataknya memang agak keras, tapi—"
"Kau tidak perlu mengurusi cewek sok seperti dia, Sai." Kali ini suara Yamanaka-si-dempul-beton. "Dia terlalu berkelas, seorang ratu."
Kubanting pintu keras-keras di belakangku, mengabaikan hantaman yang muncul akibat ucapan sinis Yamanaka, kemudian berpacu secepat kilat.
.
.
.
.
Semilir angin berhembus, berputar-putar perlahan, dan berayun. Rerumputan liar bergoyang dalam irama teratur, sebagian menggelitiki ekstremitasku yang tak terlingkupi kain seragam. Aroma musim panas tercium jelas di udara, berlatar langit yang megah dan berhiaskan awan putih cemerlang.
Aku memejamkan mata, membiarkan summer breeze—angin musim panas—membelai setiap inci kulitku. Ketika kedua netra ini terbuka, aku kembali menemukan warna biru yang membentang luas, seolah-olah universal itu tak berujung. Keningku mengernyit.
Biru. Terlalu banyak warna biru. Dan hal ini membuat kepalaku pusing—
—sebelum bayangan gelap menghalangi warna biru itu.
"AKH!" Terkejut, aku nyaris melemparkan kotak bento kosong ke arah bayangan itu, sebelum tersadar bahwa warna hitam itu berasal dari—"KAKASHI! Apa yang sedang kaulakukan di sini?"
Bayangan itu bergeser dan pancaran surya menorehkan sedikit warna—menciptakan gradasi pada sisi wajah Hatake Kakashi. Sorot terang yang tiba-tiba itu membuatku menyipitkan mata, lalu terlonjak bangun hingga terduduk.
"Hai, Sakura." Ia tersenyum tanpa dosa, seolah-olah kemunculannya yang mendadak itu sama sekali bukan masalah. Dengan santai ia menempatkan diri di sebelahku. Merasa risih, aku beringsut menjauh. "Sedang apa kau di sini?"
Aku meliriknya melalui ekor mata, "Sedang apa kau di sini?"
"Jangan membalikkan pertanyaan begitu." Nada bicaranya membuatku ingin tertawa. Kakashi bertindak seperti orang tua yang menasihati anaknya agar tidak bermain-main dengan pisau dapur yang baru diasah.
"Perasaan aku yang bertanya lebih dulu." Dengusan kesal terlepas ke udara. Tidak memedulikan Kakashi, aku kembali merebahkan diriku sejajar dengan bumi. Melayangkan pandangan pada gumpalan awan beraneka bentuk yang sedang bercengkrama di antariksa.
"Kau mengerjakan ini?" Aku menoleh saat Kakasi bertanya, tangan kanannya mengangkat buku kumpulan soalku yang kelima. Aku baru saja mulai mengerjakan beberapa halaman, hanya saja buku kelima itu terbilang lebih sulit dibanding empat buku sebelumnya.
"Yah, begitulah," jawabku acuh tak acuh. "Bukunya menyebalkan."
Terdengar tawa tertahan dari arah samping dan kutemukan Kakashi-lah yang meledak seperti itu. Kenapa dia tidak bisa tertawa diam-diam saja? Memangnya susah untuk tetap tenang saat merespons perkataan orang?
"Apa yang kau tertawai?" tanyaku sambil mengangkat kedua alisku tinggi-tinggi. "Kau gila, tahu. Masak empat buku sebelumnya hanya berisi kali-bagi-tambah-kurang—versi anak SMP, tentu saja—sedangkan buku kelima isinya kalkulus semua?" Kutuding buku itu. "Tidak ada yang pernah mengajari kami kalkulus, jadi untuk apa mengerjakan semua itu?"
Pria berambut perak itu tidak menggubris omelanku; kedua matanya yang berlainan warna terfokus pada halaman buku yang semula kuganjal dengan batang pensil. Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajah dan menjatuhkan tatapan aneh kepadaku. "Kau yang mengerjakan ini semua? —maksudku sampai halaman enam belas..."
"Yeah," aku menjawab dengan enggan. "Memangnya kenapa?"
"Salah semua."
Tweng!
Aku mematung. Segera kusambar buku berampul merah cerah itu dari tangannya. "Apa yang kau maksud salah semua? Jelas-jelas aku mengerjakannya sesuai contoh yang tertu—"
"Tapi penerapannya salah semua," potong Kakashi enteng. "Kau bahkan sama sekali tidak mengerti soal limit sederhana seperti ini. Kalau limit tak hingga, semuanya harus dihilangkan x-nya..."
Perlahan-lahan, Kakashi mengajarkan bagaimana langkah-langkah yang tepat untuk menguraikan soal limit. Aku mengangguk-angguk memperhatikan bagaimana cara pemecahan soal-soal pre-kalkulus itu. Ternyata... sesederhana itu.
"Nih." Kakashi menutup bukuku dan menggunakannya untuk memukul kepalaku. Aku memejamkan mata saat merasakan cover karton itu mendarat di puncak kepalaku. "Sisanya kerjakan sendiri, ya? Sudah mengerti, kan?"
"Lumayan." Kuraih buku itu dan kusimpan di bawah kotak bento yang kosong. "Mmm... terima kasih."
Susah payah kuucapkan dua kata bertuah itu. Setelah bertahun-tahun lamanya, aku bisa kembali mengucapkan frase langka itu.
Pria itu hanya tersenyum.
"Yosh, aku kembali ke ruang guru dulu, Sakura." Ia bangkit berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang semula terkontaminasi debu dan sisa embun. "Kalau kau tidak mengerti soal pelajaran... kau bisa belajar bersama; seperti kita tadi, ya kan? Makanya aku menyuruh kalian berada dalam kelompok beranggotakan empat orang..."
Aku hanya bisa membisu.
.
.
.
.
"CERDAS CERMAT?"
Seruan itu menggema ketika delapan anak (termasuk aku) menjawab kalimat Kakashi sebelumnya. Rasa terkejut memancar dari setiap sentimeter tubuh kami. Mata Uzumaki membulat sedemikian rupa dan siap meloncat keluar dari kelopak matanya kapan saja. Uchiha terlihat dingin seperti biasa, tetapi dia juga menggumamkan kata 'cerdas cermat' dengan nada meninggi. Shimura tampak terkejut, namun reaksinya tidak berlebihan seperti Uzumaki ataupun tolol seperti Inuzuka yang melongo lebar.
Pria berjas yang berdiri di balik meja guru itu mengangguk—surai peraknya terlihat berkilauan diterpa sinar matahari. "Kuulangi saja, hari ini kita akan mengadakan cerdas cermat. Karena hari ini kalian belajar matematika, jadi akan kuberikan soal-soal matematika."
Aku memutar bola mata dengan bosan. Kenapa harus matematika? Seperti tidak ada pelajaran lain saja.
"—Dan kalian harus mengerjakannya bersama-sama, oke?" Kakashi kembali berkata sebelum ada sapuan ombak histeria anak-anak. "Kelompoknya seperti yang sudah kubagi tadi pagi."
Gerutuan Yamanaka terdengar jelas saat cewek pirang itu berjalan ke arah trio Nara-Akimichi-Inuzuka. Jelas tersirat bahwa ia tidak suka dengan kehadiran Inuzuka di sana. Inuzuka sama sekali tidak mengacuhkan gadis centil itu, malahan dia terus-menerus mengobrol dengan Akimichi.
"Kau yang maju, ya, Sasuke." Dapat kudengar Uzumaki berbisik—tidak bisa dibilang berbisik, sih, suaranya terlalu kencang. "Kalau aku yang maju pasti kita kalah."
Uchiha hanya menatap Uzumaki dengan datar—lubang telinganya tersumpal earphone, seperti biasa. Aku jamin dia tidak mendengar apa pun yang dikatakan Uzumaki.
"Baik, aturannya begini." Kakashi bertepuk tangan meminta perhatian kami semua. Otomatis aku mengembalikan pandangan ke depan kelas. Riuh rendah kebisingan kelas langsung jatuh ke level terbawah. "Satu orang dari setiap kelompok akan berdiri di depan—di sebelahku—dan akan membacakan soal yang akan kalian jawab. Siapa yang mau jadi sukarelawan?" Kedua iris berlainan warna itu menyapu seisi kelas.
"Kau maju." Yamanaka menyodok punggung Inuzuka, namun pemuda itu malah balas menatap dengan sengit.
"Kenapa bukan kau saja?" tanya Inuzuka dengan nada menyebalkan.
Kening Yamanaka berkerut dalam. "Dasar kau bocah me—ah, ya sudahlah." Dan dia pun berjalan mengentakkan kaki ke depan kelas.
"Jadi Yamanaka sudah mengajukan diri." Kakashi tersenyum, namun Yamanaka membuang muka. "Dari kelompok satunya lagi... siapa yang akan maju?"
Aku dan Uzumaki saling lirik selama dua detik, kemudian kami menyikut rusuk Shimura yang langsung mengaduh.
"Oh, Sai, ya? Sini, maju ke depan." Tangan Kakashi bergerak seperti memanggil anak anjing, gerakan yang menyebalkan. Namun anehnya, Shimura maju ke depan sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang terkena sikutanku dan Uzumaki.
Sekarang, dua orang sudah berdiri di kedua sisi Kakashi. Pria itu tersenyum dan merangkul keduanya. Yamanaka hampir saja protes ketika Kakashi mulai bicara lagi.
"Nah, jadi begini: Ino dan Sai akan bergantian membacakan soal. Ino membaca untuk kelompoknya, dan Sai akan membacakan soal untuk kelompoknya. Nanti kalian akan kuberikan soal dan pemecahannya, tapi kalian tidak boleh memberi kode pada teman kalian sendiri, oke?"
Keduanya mengangguk.
"Kalau Ino yang membacakan soal, kelompok Sai tidak boleh menjawab, begitu pula sebaliknya."
Aturannya mirip cerdas cermat pada umumnya. Bukan berarti aku sering mengikuti cerdas cermat. Siapa pun tidak cukup bodoh untuk mengajak siswa-siswi SMA Konoha untuk mengikuti lomba untuk kalangan berintelejensia tinggi itu.
Sai mendapat giliran pertama, membuat kami bertiga menahan napas. (—atau berdua, karena Uchiha sama sekali tidak tampak tegang.)
Kulit Sai yang berwarna pucat tampak begitu jelas dengan latar papan tulis yang berwarna gelap. Kedua tangannya mencengkeram kertas bertuliskan soal dan kedua iris hitam itu membaca baik-baik apa yang tercantum di sana. Sesaat kemudian keningnya berkerut.
...soal macam apa yang ada di sana?—aku menggigit bibir.
"Satu ditambah satu sama dengan...?"
HAH?
Aku melongo sejadi-jadinya, sedemikian lebarnya hingga kurasa rahangku menyentuh lantai. Uzumaki pun tak kalah kagetnya, ekspresinya menjadi jelek sekali. Uchiha—Uchiha yang itu! —sampai terbangun dari duduk bersandarnya.
Pertanyaan cerdas cermat kami... satu ditambah satu?
"Dua." Kujawab dengan yakin dan tegas. Memangnya ada jawaban lain? Dua adalah jawaban yang paling tepat.
"Salah." Kakashi tersenyum ketika mengatakannya. "Sayang sekali. Kelompok yang satunya, bagaimana? Kalian tahu jawabannya?"
"Ya dua," kata Inuzuka sambil menyipitkan kedua matanya. "Jangan bilang kau mau membodohi kami, Sensei!"
"Sayang sekali, sudah kubilang itu jawaban yang salah." Ia menggelengkan kepalanya hingga helai-helai rambut perak itu bergoyang sedikit. "Satu kali kesempatan mencoba." Kakashi melirik kelompokku—tepatnya ke arahku. "Jangan individualisme, ya. Kerjakan soal itu bersama-sama."
Aku segera berdiri dari bangkuku, "Tapi jawabannya kan memang—"
Sebuah tangan segera membekap mulutku dari belakang. Lewat ekor mataku, kuketahui bahwa Uzumaki-lah yang melakukannya.
"Sabar, Sakura-chan, kita pikir pelan-pelan jawabannya." Bocah itu nyengir memamerkan gigi-giginya yang cemerlang. "Toh Kakashi-sensei menyuruh kita memecahkannya bersama-sama..."
Yang mengherankan adalah Uchiha mengangguk menyetujui kata-kata Uzumaki. "Hn. Mungkin sebenarnya jawabannya harus dilihat dari perspektif lain."
"Maksudmu?" Aku menyeret kursi dan duduk di depan mereka berdua. "Apa soal ini sebenarnya bukan soal matematika? Secara teoritis, satu ditambah satu kan memang dua!"
Uchiha mengangguk. "Secara teoritis," ulangnya.
"Teori matematika," sambar Uzumaki. "Seingatku, kalau di kimia..."
"...satu ditambah satu bisa jadi berapa saja,tergantung bilangan oksidasi." Kuketukkan jemari ke atas meja, pertanda penasaran dengan cerdas cermat itu. Apa sih yang dipikirkan Kakashi sampai-sampai ia membuat soal seperti ini?
Menit demi menit berlalu, namun tidak satu pun di antara kami berenam yang mampu menjawab pertanyaan itu. Kulihat Shimura senyum-senyum sendiri saat kami bertemu pandang. Jelas, ia memegang pemecahan soal kekanak-kanakan ini.
Diskusi kelompokku terputus saat Kakashi mengatakan waktu kami sudah selesai.
"Lama sekali kalian," guraunya seraya berjalan ke arah meja yang kukelilingi bersama Uzumaki dan Uchiha. "Kalian berpikir terlalu jauh."
"Soalnya yang kami tahu ya satu tambah satu sama dengan dua, Senseeeeiii." Uzumaki mengerucutkan bibirnya dan bersedekap. "Tanggung jawab kau, kepalaku jadi pusing begini!"
Pria itu hanya tergelak.
"Jadi, kalian penasaran akan jawabannya?" tanyanya pada seisi kelas. Bahkan Nara yang katanya jenius pun terlihat kesal karena tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat.
"Yaaaa..."
Senyuman mengakibatkan kedua netra Kakashi menyipit hingga sudut matanya turun. "Oke, satu ditambah satu adalah..." —ia menarik napas sejenak— "...jendela."
HAH?
Lagi-lagi semua anak tak bisa menyembunyikan kekagetannya, termasuk aku. Terkecuali Uchiha. Namun kuyakin pemuda sok itu berusaha keras menahan mimiknya agar tetap datar dan tak berekspresi seperti itu.
"Kenapa jendela?" tanya Akimichi dengan mulut penuh kue manju. "Rasanya... tidak masuk akal."
"Kau berbohong?" Nara mengajukan pertanyaan penuh selidik.
"Palingan hanya basa-basi sebelum dia bilang kalau kita benar." Inuzuka mendengus kesal. Sepertinya ia tak terima karena disalahkan, padahal jawabannya pun meniru jawabanku.
"Kalian kira aku berbohong?" Ada nada geli pada dialog Kakashi. "Sai, coba bacakan jawabannya."
Pemuda pucat itu mengangguk patuh, kemudian kembali melirik kertas yang berada di genggamannya. "Jawabannya... jendela."
Melihat ekspresi kami yang tidak terima, Kakashi menyuruh kelompokku untuk maju ke depan kelas.
"Kalian ingat tidak aku bilang apa?" —kami semua menggeleng— "Kerjakan bersama-sama. Coba pinjam jari telunjukmu, Naruto."
Dengan wajah kebingungan, Uzumaki mengacungkan telunjuknya ke udara.
"Nah," Kakashi menunjuk jari Uzumaki, "satu..." —ia melirik Uchiha ("Coba bentuk tanda tambah dari jarimu, Sasuke!") —"...ditambah..." —ganti bicara pada Uzumaki lagi ("Telunjuk satunya menjadi angka satu lagi, cepat.") —"...satu..."
Aku terdiam.
Bagaikan percikan cahaya di ujung terowongan tak berujung, aku merasa menemukan kepingan puzzle yang hilang. Jemari Uzumaki dan Uchiha yang berendengan seperti ini memang seperti—
Kudorong mereka berdua agar mendekat dan jemari mereka merapat. Figur yang terbentuk memang nyaris seperti jendela, hanya saja kurang...
Kugunakan kedua jari telunjukku, posisi horizontal, lalu kuarahkan keduanya sehingga berada di sisi atas dan bawah jari-jari mereka berdua.
Panel kotak-kotak layaknya bingkai jendela...
Bagai sebuah kejutan, tepat saat menyatukan semua jari kami membentuk 'jendela', yang tertangkap oleh indera penglihatanku adalah cakrawala biru jernih di luar sana. Sapuan awan menciptakan kombinasi sempurna. Ternyata kami mengarahkan tangan ke arah langit yang terhalang lembaran kaca bening.
Asa sesuatu yang asing. Ada rasa hangat yang mendadak membanjiri rongga dadaku. Ragu, kuturunkan tanganku bersamaan dengan mereka berdua.
Begitu.
Ini yang ingin diajarkan Kakashi pada kami hari ini: kerja sama.
Uzumaki, Uchiha, dan Shimura—ah, bukan.
Naruto, Sasuke, dan Sai.
"Pertanyaan selanjutnya." Kakashi mengingatkan Yamanaka yang hanya diam saja. "Ayo, Ino. Sekarang giliranmu."
Si pirang memutar kedua bola matanya. "Oke, empat ditambah empat sama dengan...?"
"Delapan!" Inuzuka langsung menyambar.
"Salah," gumam gadis itu dengan wajah masam. "Jawabannya 'panah'."
Sisa sore itu kami habiskan dengan memainkan 'cerdas cermat ala Kakashi', sama sekali melupakan lima buku penuh formula matematika yang kami kerjakan mati-matian dari pagi. Aku curiga bahwa yang lain belum menyelesaikan buku itu, tapi sepertinya Kakashi sendiri sudah melupakannya.
Menjelang pukul lima sore, Kakashi menutup pertemuan sekolah dengan mengajak kami semua duduk melingkar di lantai.
"Ada yang ingin sharing mengenai pelajaran kita hari ini?" tanyanya setelah kami semua berada dalam posisi nyaman.
Uzumaki mengacungkan tangan dengan heboh. Ketika mendapatkan persetujuan untuk bicara, dia langsung menjerit, "Kalau tiap hari kita main seperti ini, aku nggak bakalan bolooooss!"
Tawa segera berkumandang di dalam ruang kelas.
"Ada yang lain?" tanya Kakashi, menatap wajah kami satu-persatu. Senyuman geli terpampang di wajahnya. Ia berhenti padaku. "Sakura, sepertinya kau mempunyai sesuatu untuk dikatakan."
Kuangkat kedua alisku tinggi-tinggi dan memiringkan kepala. "Kata siapa?"
"Aku tahu begitu saja. Matamu berkata demikian."
Puitis sekali guru baru ini. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan mendesah. "Yah, selain kerja sama, hal lain yang kutangkap dari cerdas cermat gadungan ini adalah: berusaha memandang suatu permasalahan dari banyak sisi. Begitulah, Sensei."
—apa aku baru saja menyebutnya 'sensei'?
Lengkungan itu kembali terbit. "Kau menangkapnya dengan sangat baik, Sakura. Mungkin kau bisa menuliskan isi kepalamu itu di Dream Log hari ini?"
Ia mengangsurkan buku harian tebal ke arahku, dan anehnya, aku menerima begitu saja.
Ada rasa hangat menjalar ketika menyadari bahwa anak-anak lainnya menatapku dengan beraneka ragam sorot mata. Naruto yang terpesona, Sai dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, Inuzuka yang seolah tak terima, Akimichi yang seolah mengucapkan selamat, Yamanaka dan tatapan irinya, Nara yang mulai bosan, dan Sasuke yang tetap datar.
—kurasa aku harus mulai memanggil mereka semua dengan nama kecil masing-masing.
Karena langkah kecil untuk memulai kerja sama yang diajarkan Kakashi-sensei hari ini bisa kumulai dari sana.
Tanpa kusadari, dinding tinggi yang keras dan dingin itu mulai luruh perlahan-lahan.
.
.
.
.
●●●To be Continued●●●
Author's Bacot Area
Terima kasih buat semua yang masih nungguin fic ini :) Silakan bunuh saya karena udah lama ga ngelanjutin yang satu ini, hahaha. Kuliah dan TBM bener-bener nyita waktu saya, hiks.
Ini chapter yang labil, gaya nulis awal dan akhir beda banget. Mungkin pengaruh karena bagian awal itu ditulis berbulan-bulan yang lalu, sementara beberapa scene terakhir itu dikebut dalem empat jam, hahahahaha. Maaf ya kalo kesannya jadi aneh :P
Saya lagi galau pas nulis ini, jadinya ga bisa bacot banyak soal hepi-hepi. Sekali lagi, maaf.
Makasih banget buat yang review di chapter 8, buat yang fave makasih juga. Maaf lagi karena ga dibalesin satu-satu review-nya, soalnya ada beberapa yang review-nya ngurut gitu, jadi bingung mau balesnya gimana D:
Ya pokoknya, terima kasih karena udah baca chapter 9! Ditunggu komentarnya :D
Me ke aloha,
mysticahime™
14082012
