I apologizing for not update this story for a loongest time and make y'all wait. Since I am a science student and this is a senior year in high school(I cannot believe it) so school is quite insane recently. I have daily exam and assignment like e-ve-ry-day which is so crazy. I don't really have a free time even weeknd. Senior year mean "no weeknd" and preparing my collage absolutely. But still, I want to type and post this chapter and hope I can continue this story 'till the end. Pray for me. And last, for student over there, Dont be stress and fighting everyone !!

.

.

.

CAST

Park Chanyeol (25)

Byun Baekhyun (19)

.

.

Hari ini kami telah sampai di Seoul. Venice.. begitu menakjubkan. Masih melekat didalam ingatanku ketika mulutnya membisikkan frasa klise penuh cinta tapi menggetarkan jiwa. Ketika lidahku mengecap manis bibir penuhnya. Dibawah cahaya malam langit Venice ketika suaraku menggema meneriakan namanya. Oh tidak, pipiku telah semerah tomat matang ketika menyimak seluruh ingatan tentang kami di Venice. Langit berwarna gelap ketika kakiku berpijak ditanah kelahiranku. Setelah itu aku tidak begitu ingat bagaimana aku telah terbangun di ranjang kamar Chanyeol dipagi hari seperti sekarang ini. Apakah dia menggendongku sejak dari bandara ?. Astaga, jika benar, itu akan sangat memalukan, sangat. Menolehkan kepalaku ke sisi kanan, kosong. Dimana Chanyeol ?. Segera aku mendudukan diri dan mencari jam dinding atau apapun yang bisa memberitahuku jam berapa sekarang. Matahari bersinar begitu cerah, jam 8 pagi ketika mataku menangkap jarum pendek di angka 8 dan jarum panjang di antara angka 10 dan 11. Menghembuskan napasku, menerka apakah Chanyeol berada di bawah ?. Mengabaikan bajuku yang belum kuganti semenjak penerbangan kembali menuju Korea, aku membawa langkahku yang tergesa-gesa menuruni tangga. Mengedarkan pandanganku mencari pemilik mata phoenix itu. Tapi apartemen terlewat sangat sepi. Membawa tungkaiku ke arah dapur ketika hidungku mencium bau harum dari jahe.

"Bibi ?" Panggilku. Wanita paru baya itu terlihat terkejut.

"T-tuan.. selamat pagi" ucapnya sedikit terbata.

"Apakah itu .." ucapku menggantung ketika melihat botol dengan warna familiar yang pernah kulihat sebelumnya. Ah, obat itu.

Raut wajahnya terlihat begitu cemas dengan badan sedikit membungkuk menghadapku. Aku menghela napas.

"Apakah Chanyeol telah pergi ke kantor ?" Tanyaku.

"Sudah tuan.. sekitar 2 jam yang lalu. Tuan Park berpesan bahwa akan pulang sedikit terlambat hari ini"

"Kenapa ?"

"Maaf saya kurang begitu tahu Tuan"

"Baiklah"

"Uhm.. sarapan anda telah siap. Tuan Chanyeol mengatakan bahwa anda begitu kelelahan ketika sampai disini, oleh karena itu saya membuatkan jahe hangat agar tubuh anda kembali segar. Dan obat.." bibirnya menggantung dengan arah pandang begitu ragu pada botol obat disampingnya.

"Aku mengerti, berikan padaku" ucapku kemudian nenyodorkan telapak tangan kananku bibi Yoon. Wajahnya begitu terkejut.

"Bibi," panggilku sebelum keheningan tak berarti datang.

"A-ah.. baik Tuan" ucapnya lalu segera mengeluarkan sebuah kapsul dari dalam botol.

Tangan ku segera menerimanya ketika bibi Yoon memberikan kapsul itu. Lalu menyimpan kembali didalam saku bajunya. Aku mengeryit.

"Kenapa bibi yang menyimpan obat itu ?"

"Tuan Chanyeol membiarkan saya menyimpan obat ini agar lebih mudah memberikannya kepada anda"

Mencampurkan obat itu didalam makanan tanpa sepengetahuanku maksudnya, huh ?.

"Oh.. begitu"

"Kalau begitu.. saya permisi. Anda bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu" ucapnya lalu membawa tungkainya pergi keluar dapur.

"Bibi Yoon mau kemana ?" Tanyaku dan berbalik menhadapnya.

"Membersihkan ruang tamu Tuan. Oh,apakah anda ingin mandi setelah sarapan ? Kalau begitu saya akan menyiapkannya untuk anda"

"A-ah ya, aku ingin mandi setelah ini"

"Baik Tuan, saya akan segera menyiapkan air hangat untuk anda. Lavender ?"

Aku menggeleng.

"Strawberry" ucapku.

Garis lengkung tersemat diantara kedua pipinya.

"Baik Tuan", kemudian benar-benar pergi. Aku menunduk menatap kapsul ditangan kananku. Bagaimana Chanyeol bisa tahu bahwa aku bisa hamil ? Bahkan aku sendiri masih belum mempercayainya. The hell, aku seorang pria !. Menghela napasku kemudian segera mendudukan diriku dimeja makan.

Aku mendapatkan suapan ke tigaku ketika lengkingan seseorang memekakkan telingaku. Dilanjutkan dengan dua lengan memelukku begitu tiba-tiba.

"Oh aku sangat merindukanmu Baekhyunn"

"Eomma" ucapku ketika menolehkan kepalaku kekiri.

"Bagaimana bulan madu kalian ? Menyenangkan ? Ceritakan sedikit pada eomma, hm ? Chanyeol begitu pelit kau tau, katanya itu bukan urusanku. Aish.. anak itu. Bagaimana bisa berbicara seperti itu pada ibunya sendiri. Jadi bagaimana ?"

Mengerjapkan mataku ketika kedua matanya menatapku penuh harap.

"Kami..."

"Ya ?"

"Kami baik-baik saja eomma"

"Apa-apaan dengan jawaban itu ?. Apa saja yang kalian lakukan disana ? Oh astaga kenapa aku begitu penasaran"

"Uh.. kami berjalan-jalan lalu membeli pizza. Gondola, kami juga menaiki gondola. Pemandangan Venice begitu indah eomma" ucapku dengan penuh senyum.

"Kau tau bukan itu yang eomma maksud" ucapnya tidak lupa dengan wajah datarnya.

"Bagaimanapun.. eomma kesini untuk memintamu menemani eomma kesuatu tempat. Ini waktu yang tepat untuk mengajakmu keluar, karena oh astaga, Chanyeol tidak akan membiarkan eomma mengajakmu keluar dengan mudah. Bukankah anak itu kelewat posesif ?"

Sangat posesif, batinku mengucap. Aku tertawa.

"Cepat habiskan sarapanmu dan mandi, setelah itu kita akan segera berangkat"

"Kemana eomma ?"

"Ikut saja"

"Baiklah"

.

.

.

Kami telah mengendarai mobil sekitar 15 menit dan belum juga berhenti. Sebelumnya kami sempat berargumen didalam lift tentang siapa yang akan menyetir. Dengan dalih aku terlihat masih kelelahan dan tidak tahu tempat yang akan dituju, maka disinilah kami sekarang. Eomma menyetir, sedang aku duduk bermain game di handphone. Sebenarnya aku merasa tidak enak sebagai menantunya dan malah duduk dengan nyaman bukannya menyetir. Well, bukankah berargumen dengah wanita memang sangat sulit ? Terlebih dia adalah ibu dari suamimu.

Terdengar dering handphone secara tiba-tiba ketika kami berhenti di lampu merah.

"Eomma" terdengar suara bass yang telah kuhapal diluar kepala ketika eomma menekan tombol speaker.

"Eoh Chanyeol. Ada apa ?"

Game Over. Ah, Chanyeol selalu membuat perhatianku teralih. Mematikkan handphoneku karena secara tidak sengaja aku membuat langkah yang salah dan membuat tulisan itu muncul di layar handphoneku. Kemudian memasukkannya kedalam saku.

"Eomma membawa Baekhyun"

"Dan ?"

"Dan ? Dia bahkan baru kemarin sampai di Seoul dan eomma malah mengajaknya pergi"

"Kau khawatir ?"

"Tentu saja ! Dear-ku begitu kelelahan kemarin. Aku ingin dia mendapat tidur yang cukup"

Pipiku bersemu merah ketika mendengarnya.

"Aku baik-baik saja Chanyeol.." jawabku.

"Dear ?"

"Eomma hanya memintaku untuk menemaninya kesuatu tempat. Lagipula aku juga tidak memiliki kegiatan hari ini"

"Tetap saja. Kau baru saja sampai kemarin" ucapnya membuat sebuah argumen.

"Ya, kau juga baru saja sampai kemarin dan sudah pergi ke kantor pagi sekali" balasku.

"Kau tau itu berbeda Baekhyun",sangkalnya.

"Aku tidak melihat ada perbedaan disini" jawabku.

"Hei hei hei.. kalian baru saja pulang dari bulan madu dan ini terhitung masih pagi untuk berargumen"

"Aku tidak memulainya" ucapku dengan lengan telah bersedekap didada.

"Kau tau aku hanya khawatir padamu" ucap Chanyeol di seberang.

"Jangan khawatir, eomma tidak akan membuat bidadarimu kelelahan atau lecet sedikitpun"

"Eomma !" Pekikku tidak terima. Bidadari siapa ? Ugh.

"Ahahahaha..."

"Bagaimanapun.. dimana eomma akan pergi ? Aku akan menyusul"

"Kau yakin ?"

"Kenapa eomma bertanya seperti itu ?"

"Panti asuhan Hang Sung, eomma ingin membantu Seo Won disana"

Terjadi keheningan untuk beberapa saat dan itu membuat keningku berkerut.

"Eomma akan mengantar Baekhyun pulang jika sudah selesai. Kau tidak perlu kesana lagipula pekerjaan kantormu-"

"Aku akan menyusul. Sampai jumpa eomma"

Lalu panggilan berakhir. Nyonya Park menghembuskan napasnya begitu panjang, dan itu membuat kerutan dikeningku semakin dalam.

Aku menolehkan kepalaku kepada eomma menuntut sebuah penjelasan yang bisa membuat pertanyaan-pertanyaan dikepalaku hilang.

"Eomma.. akan menjelaskan padamu nanti"

Setelahnya perjalanan berlalu dengan keterdiaman dengan eomma yang fokus menyetir dan aku tenggelam didalam pertanyaan-pertanyaan didalam kepalaku. Ada apa dengan panti asuhan Hang Sung ? Aku tentu mengetahuinya jika itu salah satu panti asuhan atas yayasan keluarga Park. Tapi aku tidak mengerti dengan keterdiaman Chanyeol yang begitu tiba-tiba. Apa yang terjadi diantara panti asuhan itu dan Chanyeol ?. Ada hal yang tidak aku ketahui tentang Chanyeol, lagi dan lagi. Bahkan saat aku telah mengikat janji diatas altar dengannya.

.

.

.

Seorang wanita paruh baya yang menggunakan baju berwarna biru muda menghampiri kami dengan sedikit berlari ketika kami keluar dari mobil.

"Seo Won-ah !" Teriak eomma lalu juga berlari lalu berpelukan dengan wanita itu.

"Eonni !"

"Bagaimana kabarmu ?"

"Aku baik-baik saja. Eonni ?"

"Aku juga baik-baik saja"

"Aku sangat senang mendengar eonni kesini. Oh, siapa itu ?"

Aku membuat langkah mendekat kepada mereka yang terlihat baru saja melepas rindu.

"Annyeonghaseo.. Byun- Park Baekhyun imnida"

Astaga, hampir saja aku keliru mengucapkan margaku yang telah berganti. Wanita itu sedikit menelengkan kepalanya saat menatapku.

"Park.. Baekhyun ?" Ulangnya begitu ragu-ragu.

Nyonya Park tertawa sesekali menepuk bahu wanita didepannya.

"Aku mengajaknya kesini untuk membantu kita. Perkenalkan ini Baekhyun, menantuku"

"Apa ?!"

"Kau tidak menghadiri pernikahan Chanyeol karena masih di Jeju kan ?"

"Ah ya.. astaga aku menyesal tidak datang ke pernikahan Chanyeol. Dia begitu cantik, aku bertaruh dia seratus kali lebih cantik saat di altar"

Pipiku memanas ketika bahkan pikiranku menyangkal pernyataan itu. Aku seharusnya tampan bukan ?.

"Kau benar.. menantuku seribu kali lebih cantik saat di altar. Aku masih tidak percaya bagaimana anak nakal itu bisa mendapatkan bidadari seperti ini" balas Nyonya Park.

"Eomma~" rengekku.

"Ah.. kiyowo eonni. Chanyeol sangat beruntung" ucap wanita itu.

"Cha.. aku membawa beberapa makanan dimobil untuk anak-anak. Bisakah kita mulai ?"

"Tentu"

"Ayo Baekhyun"

"Ne.."

Eomma berjalan menuju sisi mobil belakang dan membukanya. Begitu banyak makanan, buah dan bahkan kue beras disana.

"Eonni membawa kue beras ?"

"Aku tahu anak-anak pasti menyukainya"

"Baiklah kalau begitu ayo segera kita bawa kedalam"

"Aku akan membawa buah-buahnya" ucapku.

"Tapi ini sangat berat Baekhyun" ucap eomma menunjuk sekeranjang semangka, pisang, apel, juga jeruk.

"Jangan khawatir eomma. Ini tidak berat sungguh" ucapku.

"Kau yakin ?"

Aku mengangguk dengan mantap.

"Baiklah kalau begitu eomma dan Seo Won akan membawa kue beras dan yang lain"

Aku mengangguk mengerti. Lalu segera mengangkat keranjang buah-buah itu. Oh Tuhan, bisakah aku menyesali perkataanku ? Ini sungguh berat. Tidak, tapi sebagai seorang pria aku tidak akan menarik ucapanku kembali. Tidak akan pernah.

.

.

.

Aku dan bibi Seo Won sedang mengiris beberapa buah untuk anak-anak panti karena sebentar lagi adalah waktunya makan siang. Sedangkan eomma menyiapkan makanan dengan pengasuh panti yang lain. Aku menggigit bibirku ketika sedang mengiris semangka. Kupikir jari-jariku sedikit lecet saat mengangkat keranjang tadi.

"Kau baik-baik saja Baekhyun-ssi ?" Tanya bibi Seo Won.

"Ya, saya baik-baik saja"

"Sangat jarang melihat laki-laki mengiris buah dengan begitu rapi sepertimu"

Aku tertawa sebelum menjawab "Ayah dan eomma biasanya akan pulang malam, sedangkan hyung dulu menetap di Amerika dalam waktu yang lama. Itu membuat saya terbiasa dirumah sepanjang waktu sehingga familiar dengan dapur juga dalam hal memasak"

"Ah.. seperti itu. Aku turut bahagia atas pernikahanmu dengan Chanyeol. Seperti sebuah keajaiban"

Aku hanya sedikit tertawa menanggapinya.

"Bagaimana kabar Chanyeol ?"

"Chanyeol baik-baik saja. Masih sibuk menjalankan rutinitasnya di kantor. Apakah Chanyeol sering kesini ?" Tanyaku.

"Tidak.."

Aku menoleh dan terkejut dengan raut wajahnya yang sedih.

"Terakhir kali Chanyeol disini sekitar 12 tahun yang lalu"

Apa ?

"Mengapa ?"

Oh itu keluar begitu saja. Benar, aku tidak akan pernah bisa menekan rasa penasaranku.

"Chanyeol memiliki kenangan yang kurang menyenangkan semasa kecil. Saat itu eonni dan suaminya tengah memiliki pekerjaan diluar negeri, Chanyeol menolak ikut dengan alasan tidak bisa naik pesawat"

"Dia bahkan memiliki pesawat dan helikopter sendiri"

Wanita itu tertawa.

"Tentu saja. Karena itu hanya alasan agar Chanyeol diperbolehkan tidak pergi. Oleh karenanya eonni menitipkannya disini untuk sementara waktu. Sejak pertama Chanyeol datang kesini, dia lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian, terpisah dengan anak-anak yang lain. Sampai pada suatu ketika ada seekor kelinci milik salah satu anak panti disini yang mati dan anak-anak menuduh Chanyeol yang membuatnya mati karena hanya Chanyeol yang tidak pernah bergabung dengan yang lain. Aku juga tidak begitu tahu situasinya tapi pada saat itu terjadi perkelahian antara Chanyeol dan anak panti yang paling tua disini, Do Chul. Aku berusaha melerainya, tapi Chanyeol telah memukul anak itu dan membuat tulang hidungnya sampai patah. Berikutnya Chanyeol berteriak bahwa Do Chul adalah pembunuh. Yang kulihat pada saat itu adalah Chanyeol telah melakukan kekerasan dan menuduh Do Chul pembunuh sehingga aku membentak Chanyeol dan berkata bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar. Aku masih ingat kekecewaan diwajahnya. Setelah itu Chanyeol lebih banyak diam bahkan tidak jarang mengunci dirinya dikamar. Aku menyesal kepada diriku sendiri dan eonni karena membuat Chanyeol lebih terpuruk tanpa tahu apa yang terjadi sebelumnya. Hah.. itu cerita yang panjang bukan ? Chanyeol tidak pernah kesini lagi sejak eonni menjemputnya. Aku pikir Chanyeol begitu membenciku"

Aku terdiam untuk beberapa saat. Satu lagi cerita dari masa lalu Chanyeol yang baru kuketahui. Aku menerka mungkin tempat ini memberikan kenangan buruk untuknya sehingga membuat Chanyeol sedikit terdiam saat ditelepon tadi.

"Apakah kalian sudah selesai !" Suara eomma mengejutkan kami. Sesegera mungkin kami mengubah raut kami seperti biasa.

"Ya.. kami sudah selesai eomma" ucapku.

"Baiklah.. anak-anak telah berkumpul. Sebaiknya kita segera meletakkan ini dimeja makan"

Aku mengangguk dan membawa nampan penuh irisan semangka ke meja makan.

.

.

.

"Baekhyun.. kau seharusnya beristirahat. Kau telah banyak membantu kami"

"Aniyo, saya baik-baik saja. Lagipula ini menyenangkan" ucapku ketika membilas piring ke sembilan lalu meletakkannya ke rak. Kemudian segera mengambil piring kotor yang lain sebelum bibi Seo Won merebutnya dari tanganku.

"Bibi.."

"Eonni sedang berjalan-jalan ditaman. Bagaimana jika kau menemaninya ?. Aku akan menyusul setelah selesai dengan ini. Hm ?"

Menghembuskan napasku lalu mengangguk dan berjalan meninggalkan dapur untuk menghampiri eomma ditaman.

.

.

.

"Eomma"

"Baekhyun, darimana saja ?"

"Hanya sedikit membantu bibi Seo Won didapur. Oh ya eomma,"

"Hm ?"

"Aku baru tau jika Chanyeol pernah disini sebelumnya"

"Ah ya.. memang. Aku menitipkannya kesini karena aku dan suamiku memiliki perjalanan ke luar negeri untuk waktu yang lama"

"Begitu.."

"Ada apa Baekhyun ?"

"Ne ? Tidak ada apa-apa eomma" jawabku berdusta. Haruskah aku bertanya ?.

"Kau tau kau tidak bisa berbohong pada eomma Baekhyun"

Mengerucutkan bibirku karena lagi-lagi aku bukan pembohong yang baik.

"Bibi Seo Won bercerita padaku ketika Chanyeol pernah dituduh sebagai seorang pembunuh oleh anak panti ketika disini"

Nyonya Park menghembuskan napasnya begitu panjang. Aku menjadi ragu karena mengatakannya.

"Yah.. itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Aku mendengarnya dari Seo Won, dia menyesal karena membentak Chanyeol. Aku tidak menyalahkannya karena Seo Won juga tidak tahu benar bagaimana ceritanya. Sejak kami menjemput Chanyeol saat itu, wajahnya begitu datar, juga tidak ada kehidupan didalam matanya. Aku sungguh khawatir. Tapi ketika aku bertanya apakah dia baik-baik saja. Chanyeol akan mengangguk dan menjawab , "aku baik". Tapi aku tahu bahwa dia menyimpan kesedihan didalam hatinya dan tidak membiarkan orang lain tahu. Suatu ketika dimalam hari, Chanyeol akan menangis, kami panik karena kamarnya dikunci. Suamiku berusaha mendobraknya dan kami menemukan Chanyeol tengah bermimpi buruk. Aku masih bisa mengingat jelas bagaimana keringatnya bercucuran di dahinya dan bergumam memanggil ibunya dan mengatakan bahwa dia bukan pembunuh. Aku begitu sedih ketika melihat Chanyeol seperti itu. Dia bukan anak yang pandai bergaul karena sejak dulu hanya cemoohan dari orang-orang yang melekat dipikirannya. Mendiang anakku, kakak tiri Chanyeol adalah teman satu-satunya. Kami begitu bersyukur, paling tidak Chanyeol tidak lagi menyendiri atau menolak makan semenjak dia dan mendiang anakku menjadi begitu akrab. Memasuki sekolah menengah atas, Chanyeol berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa walaupun masih menutup diri dari yang lain. Tapi tidak ada lagi yang membuat kami bersyukur selain Chanyeol bangkit dari keterpurukkannya"

Hatiku kembali jatuh dibawah kaki merasakan sengatan menyakitkan ketika Nyonya Park menceritakannya. Oh pria malangku.

"Chanyeol.. pria yang luar biasa" gumamku.

"Sangat, oh astaga anakku begitu dewasa, begitu kuat. Tuhan kenapa mataku menjadi panas" ucap eomma dengan sedikit menyeka sudut matanya. Aku segera memberikan pelukan hangat padanya.

"Aku berjanji akan menjaganya dan tidak membuatnya bersedih"

"Terimakasih Baekhyun.. Chanyeol begitu beruntung memilikimu"

"Tentu saja aku pria yang beruntung" sahut Chanyeol.

Tunggu. Chanyeol ? Apa ?!

"Chanyeol ?!" Ucapku dan melepaskan pelukan pada Nyonya Park.

"Sejak kapan kau disana ?" Tanyaku.

"Barusan. Apakah aku melewatkan sesuatu ?" Tanyanya. Aku menggeleng dengan cepat.

"Tidak" jawabku cepat.

"Apakah kalian sudah selesai ?" Tanya Chanyeol.

"Ya, kami sudah selesai kan, eomma ?" Tanyaku.

"Ya kami sudah selesai"

"Eonni"

"Eoh Seo Won-ah. Tepat sekali, Chanyeol baru saja sampai" ucap eomma.

Suasana berubah tidak nyaman karena Chanyeol memandang bibi Seo Won begitu sangsi.

"Eomma, aku dan Baekhyun memiliki urusan dan segera harus pergi"

"Huh ?"

Urusan apa ? Kapan ?.

"Dan membiarkan eomma disini sendiri ?"

"Eomma, eomma adalah satu-satunya wanita kuat yang pernah aku tahu, kan ?. Jadi aku sangat tahu bahwa eomma akan baik-baik saja sekalipun eomma sendirian"

"Tch, kau begitu pintar dalam merangkai kata"

Chanyeol terkekeh lalu mengecup kedua pipi juga kening Nyonya Park. Kemudian menarik tanganku membuat tubuhku mendekat padanya.

"Aku pergi dulu eomma" ucap Chanyeol lalu sedikit membungkuk lalu aku mengikutinya. Kemudian ada jeda sebentar saat tubuh Chanyeol menghadap bibi Seo Won. Aku merasakan genggaman Chanyeol pada tangan kiriku mengerat.

"Bibi Seo Won", begitu dingin. Lalu membungkuk begitu juga aku.

"Hati-hati Chanyeol" ucap Nyonya Park dibalas anggukan dari Chanyeol.

Kemudian kami berjalan menjauhi panti asuhan dan segera masuk ke mobil. Chanyeol menghembuskan napasnya begitu kasar ketika telah duduk dikursi kemudi. Matanya terpejam seperti tengah memendam sesuatu. Aku membawa tangan kananku untuk menggenggam tangan kirinya. Chanyeol menoleh dan aku tersenyum. Membawa tubuhku mendekatinya lalu menarik wajahnya dengan tangan kiriku dan mengecup bibirnya begitu lembut. Mengelus rahang kanannya kemudian melepaskan ciumanku pada bibirnya.

"Semuanya baik-baik saja ?" ucapku masih dengan jarak wajah kami yang begitu dekat. Chanyeol diam, matanya penuh kebingungan, bibirnya merapat membentuk garis tipis.

"Ya" , jawabnya.

Tapi air mukanya mengatakan segalanya. Dia tengah mengendalikan emosinya.

"Chanyeol.. aku selalu disini, menunggumu untuk mengatakan hal yang mengganggumu"

Alisnya semakin berkerut begitu dalam. Bibirnya sedikit terbuka hendak berbicara tapi kemudian menutup rapat kembali.

"Aku.. Baekhyun ini.. ", pandangannya penuh kebingungan penuh keraguan didalamnya.

"Sst.. aku mencintaimu, untuk itu aku tidak akan memaksamu,aku akan menunggumu. Hm ?" Ucapku sambil tersenyum.

Lalu bibirnya sama-sama terkembang dikedua sisi. Chanyeol mendekatkan keningnya kemudian hidungnya menyentuh lembut pipiku, membubuhkan ciuman diatas bibirku. Lenganku kubawa dibelakang lehernya, menarik dirinya lebih dekat. Mengulum bibir atasnya sedang Chanyeol mengulum belah bibir bawahku sesekali menariknya. Ciuman kami terputus setelah mulutku melenguh atas tarikan belah bibirku diantara giginya. Mengecup keningku sedang aku tersenyum sambil menjilat bibir basahku yang bercampur dengan liurnya.

"Jadi ? Haruskah kita pergi ?" Tanyanya.

Aku mengangguk.

"Bisakah kita nanti berhenti untuk membeli satu cup ice cream ?" Tanyaku.

"Tentu dear"

.

.

.

Tidurku terusik oleh dering handphone yang tidak berhenti sejak 3 menit yang lalu. Dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna dan mata yang masij terpejam, aku membawa tanganku untuk mencari handphone di nakas. Dengan malas, aku menggeser tombol hijau ketika handphone sudah berada di tangan kiriku.

"Yeobseo ?" Ucapku masih dengan suara yang serak.

"Hei babi, sampai kapan kau akan tidur ? Lihatlah jam berapa sekarang !"

Aku mengeryit dan menjauhkan handphone dari telingaku ketika mendengar teriakan menyakitkan dari penelpon.

"Ya, siapa yang kau panggil babi ?"

"Kau babi, Byun Babi Baekhyun cepat bangun !"

"Aish.. berhenti berteriak di pagi hari Kyungsoo"

"Pagi hari pantatku, kau pikir ini masih pagi ? Ini sudah siang demi Tuhan !. Kau ingin melewatkan administrasi sebagai mahasiswa baru di universitas S, kan ?"

"Huh ? Memang sekarang jam berapa ?"

"Bangun dan lihat sendiri. Kau memiliki waktu 10 menit untuk sampai kesini atau tidak aku akan mengatakan pada mereka bahwa kau bukan mahasiswa dari universitas ini jadi cepat basuh wajahmu dan berhenti menjadi babi !" Ucapnya lalu panggilan berakhir.

"Sialan !" Gerutuku.

Aku membalik tubuhku untuk melihat jam dinding. Jam 11. Oh jam 11, tunggu, jam 11 ? Shit ! Aku terlambat. Segera mendudukkan diriku tapi kemudian tiba-tiba bokongku begitu ngilu juga selakanganku. Sial, aku baru ingat kami baru berhenti jam 3 pagi. Kupikir semalam aku terlalu semangat saat menunggangi Chanyeol.

Dengan sedikit tertatih, aku membawa tungkaiku menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri.

.

.

.

"Kyung !" Teriakku sedikit berlari saat menghampiri laki-laki yang tengah bersedekap dengan wajah tidak kalah kusut dengan koran yang kutemukan dihalte tadi.

"Kau terlambat" ucapnya.

"Ayolah.. aku masih memiliki waktu mm.. 10 menit sebelum administrasi ditutup"

"Terserah. Sebaiknya kita cepat" ucapnya lalu segera melenggang pergi meninggalkanku.

Dia sedang dalam mood yang buruk atau apa ? Dingin sekali ekspresinya, tch.

.

.

.

"Baek, kau baik-baik saja ?" Tanya Kyungsoo. Sekarang kami tengah berada di taman kampus dengan Kyungsoo yang memakan bekal sandwich nya.

"Huh ? Kenapa ?"

"Tidak, kurasa kau terlihat sedikit pucat"

"Benarkah ? Kau tidak sedang bercanda kan ?"

"Kau mau kufoto sebagai bukti ?"

"Aish.. tidak. Kau yakin aku terlihat pucat ?" Tanyaku.

Kyungsoo mengangguk. Getaran handphone di saku celana secara tiba-tiba sedikit membuat tubuhku berjengit dari tempat dudukku.

Chanyeol.

"Halo"

"Maaf meninggalkanmu terbangun sendirian pagi ini"

"Hey.. it's okay. Aku baik. Lagipula kau juga memiliki hal yang harus dikerjakan di kantor pagi sekali"

"Yah.. itu benar. Kau di kampus ?"

"Ya"

"Aku mendengar bahwa seseorang tidak memakan sarapan paginya hari ini"

"Aku tidak sempat sungguh. Lagipula tidak ada yang membangunkanku"

"Kau tahu aku sedikit sensitif dengan kebutuhan makanmu sejak kau masuk rumah sakit beberapa waktu yang lalu"

"Aku mengerti presdir.. aku tidak akan mengulanginya lagi"

"Good"

Aku mengeryit ketika mendengar suara lain dari seberang. Kupikir sekertaris Chanyeol.

"Oh dear.. aku harus segera pergi"

"Uhm, sampai jumpa"

"Suamimu ?" Tanya Kyungsoo ketika aku memasukkan kembali handphone di saku celana.

"Ya, dia sedikit khawatir karena aku melewatkan sarapan pagi"

"Kau mau ? Aku pikir wajahmu pucat karena belum sarapan" ucap Kyungsoo sambil menyodorkan toples plastik berisi sandwich.

"Terimakasih" ucapku lalu meraih satu potong sandwich.

"Kyung ini sa-umh-ngat enak. Kau membuatnya sendiri ?" Tanyaku.

"Ya, telan dulu baru berbicara. Jika kai bertanya, maka ya, aku membuatnya sendiri. Siapa yang tidak bisa membuat roti isi didunia ini ?"

Aku hanya mencibir untuk menanggapinya. Bukankah dia berlebihan ketika mengatakan "di dunia ini ?" ?.

Dasar. Aku hampir meraih satu potong sandwich lagi ketika tiba-tiba perutku terasa mual dan kunyahan sandwich yang baru kutelan seperti ingin keluar kembali. Aku segera membekap mulutku.

"Baek, kau baik-baik saja ?"

Aku mengangguk dan bergumam untuk pergi ke kamar kecil sebentar. Kyungsoo menawarkan diri untuk menemaniku, tapi aku mengangkat tanganku dan menggeleng kemudian berlari secepat mungkin untuk menemukan kamar mandi. Terasa semakin sulit untuk menemukan kamar mandi karena aku tidak tahu tempat-tempat di kampus ini.

"Hey ! Hati-hati !" Sentak seseorang ketika secara tidak sengaja tubuhku menabraknya. Aku hanya membungkuk lalu berlalu pergi berlari mencari kamar mandi.

.

.

.

Memuntahkan seluruh makanan yang ada di perutku diwastafel segera setelah aku menemukan kamar mandi. Kepalaku begitu pening karena perutku seperti ingin mengeluarkan seluruh organ didalamnya. Setelah kurasa cukup memuntahkannya, tanganku segera menekan keran air lalu segera membasuh sisa percikan muntahan yang tersisa di sudut bibirku. Tubuhku merosot dilantai kamar mandi karena tanganku tidak mampu menopang tubuhku yang lemas. Tangan kananku meremat kepalaku begitu kasar karena pening itu semakin tak karuan. Kemudian pandanganku gelap. Meninggalkan pertanyaan-pertanyaan didalam pikiranku.

.

.

.

Aku tersadar ketika indra penciumanku menghirup bau khas rumah sakit. Oh ?. Mengerjapkan mataku ketika merasakan elusan lembut dipunggung tangan kiriku.

"Baekhyun.."

Dengan perlahan menolehkan kepalaku kearah sumber suara yang memanggil namaku.

"Eomma.." ucapku begitu lirih. Aku masih belum mengerti apa yang sedang terjadi ketika eomma memelukku begitu erat.

"Eomma.."

"Baekhyun syukurlah kau sudah sadar.. eomma begitu mengkhawatirkanmu. Kau tau seberapa eomma panik ketika mendapatkan panggilan dari Kyungsoo jika kau pingsan di kamar mandi kampus"

"Pingsan ?" Ulangku. Eomma melepaskan pelukannya lalu mengangguk menanggapi.

"Eomma kenapa aku di rumah sakit ? Dimana Kyung- nyonya ?"

Aku terkejut ketika mendapati Nyonya Park juga disini. Alisku berkerut karena pertanyaan-pertanyaan kembali muncul didalam kepalaku.

"Bisakah kalian memberitahuku aku sakit apa ? Kenapa aku dirumah sakit ?" Tanyaku.

Pandanganku turun ketika merasakan tangan hangat eomma menggenggamku.

"Kau kelelahan Baekhyun, dokter berkata bahwa kau tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup" ucap eomma.

"Tapi aku bahkan tidur seharian kemarin" atau mungkin tidak, batinku menambahi.

Well, setelah membantu eomma di panti asuhan, aku hanya sedikit bermain dengan Chanyeol uhm.. apakah berhenti bercinta di jam 3 pagi juga termasuk kedalam sebab tubuhku begitu kelelahan ?. Jika iya, maka aku akan mengelaknya. Bercinta merupakan hal normal bagi pasangan yang telah menikah, bukan ?. Termasuk sampai jam 3 pagi, Byun ?. Batinku mencibir. Oh tentu saja.

"Kau terlalu kelelahan saat membantu eomma di panti asuhan Baekhyun" jawab Nyonya Park.

"Tapi-"

"Dan dokter mengatakan itu tidak bagus untuk kandunganmu yang masih muda, masih rentan" potong eomma.

Apa ?

"Maafkan eomma Baekhyun, eomma tidak memberitahumu lebih awal jika kau adalah laki-laki yang spesial" ucap eomma seraya genggaman pada tanganku makin mengerat.

Persetan dengan laki-laki spesial. Itu bukan hal yang akan membuatku terkejut lagi. Tapi mengandung ?

"Lelucon apa ini ?" Ucapku seadanya.

"Maafkan eomma Baekhyun" ucap eomma.

Tangan kananku perlahan bergerak ke atas perutku. Bergetar disana, hampir tidak percaya.

"Jadi.. ada seorang nyawa disini ?" Lirihku.

"Ya Baekhyun.. kau telah mengandung selama 3 minggu, bayi yang akan hadir dari hasil buah cinta kalian. Kau dan Chanyeol" ucap eomma.

Chanyeol ? Astaga, aku melupakannya.

"Dimana Chanyeol ?" Tanyaku.

Berbeda dengan wajah bahagia eomma, nyonya Park hanya tersenyum begitu tipis disana. Ada apa ?

"Keluarga Tuan Baekhyun ?" Suara suster menginterupsi kami.

"Ya, dengan saya" ucap eomma lalu beranjak dari kursi dan menghampiri suster itu.

"Baekhyun, eomma keluar sebentar untuk mengurus administrasinya. Soo Young tolong jaga Baekhyun"

"Tentu" jawab Nyonya Park.

"Eomma, dimana Chanyeol ?" Tanyaku kepada Nyonya Park setelah eomma keluar dari kamar.

Nyonya Park berjalan mendekat lalu mengambil tempat duduk tepat disampingku.

"Eomma," panggilku sekali lagi.

"Chanyeol mungkin sekarang sedang dikantor"

"Apakah.. dia tahu ?"

Nyonya Park mengangguk tapi wajahnya penuh kesedihan.

"Ada apa eomma ?" Tanyaku.

"Chanyeol langsung kesini setelah tau bahwa kau pingsan di kamar mandi kampus"

"Chanyeol kesini ?" Ulangku.

"Ya, Chanyeol kesini. Baekhyun, bolehkah eomma bertanya sesuatu ?"

Aku mengangguk.

"Apakah.. kalian memang tidak merencanakan memiliki anak sebelumnya ?"

Aku tertegun. Kami memang tidak pernah memiliki pembicaraan tentang anak atau semacamnya selama ini.

"Chanyeol kesini, tapi setelah dia tahu bahwa mengandung.. Chanyeol seperti terlihat kebingungan dan mengatakan bahwa bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Eomma belum sempat bertanya kenapa Chanyeol terlihat sangat terkejut saat mengetahui kau mengandung karena setelahnya dia langsung pergi. Eomma mencoba menghubunginya tapi handphonenya tidak aktif"

Chanyeol datang ? Dia mengetahui kehamilanku, tapi kemudian pergi ?. Apakah bayi-

"Baekhyun.."

"Eomma, bisakah eomma meninggalkanku sendiri ?"

"Baek-"

"Kumohon"

Helaan napas terdengar dari Nyonya Park.

"Baiklah. Dengar, eomma selalu disini"

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Pikiranku benar-benar kosong. Aku tidak mampu untuk sekedar mencari jawaban mengapa Chanyeol pergi setelah mengetahui kehamilanku.

.

.

.

Ini terhitung 3 hari sejak aku menjadi satu-satunya penghuni di penthouse Chanyeol. Aku berusaha menghubunginya sebanyak yang kubisa, tapi handphonenya selalu tidak aktif atau suara operator sialan yang akan menjawabnya. Selama 3 hari itu aku juga berusaha mencari keberadaan Chanyeol dikantornya. Aku mencoba bertanya kepada Minho tapi hanya jawaban bahwa Chanyeol sedang melakukan perjalanan bisnis di Jeju atau yang lainnya yang kudapatkan. Baik Nyonya Park ataupun Kai juga tidak tahu dimana Chanyeol sekarang.

Kenapa Chanyeol sama sekali tidak menghubungiku ?

Kenapa aku merasa dia tengah menghindariku ? Apakah ini semua karena kehamilanku ? Aku ingat bahwa Chanyeol membuatku meminum obat mencegah kehamilan yang kutahu dari dokter Zhang. Tapi haruskah dia menghindariku seperti ini ?.

Meletakkan gelas jus jerukku dengan kasar, aku berlari menaiki tangga untuk mengambil handphoneku dikamar. Tidak ada cara lain, pikirku. Segera jari-jariku mengetikkan sesuatu yang gila didalam pikiranku, kemudian mengirimkannya.

Kepada : ChanyeolieBukankah ini hari yang cerah untuk kematianku ?. Tidakkah kau setidaknya melihatku untuk yang terakhir ?

Gila ? Ya, kupikir itu satu-satunya cara agar Chanyeol tidak mengabaikanku. Tidak lebih dari 5 detik, handphoneku berbunyi. Chanyeol. Dia menelponku. See ? Bekerja bukan ?. Aku memilih mengabaikannya karena terhitung 15 atau paling cepat 10 menit dari sekarang, Chanyeol akan datang kesini. Apakah aku terdengar sangat percaya diri ?. Tentu tidak, aku hanya tau tabiat Chanyeol seperti apa.

.

.

.

Aku sedang duduk menonton kartun ketika mendengar langkah tergesa-gesa dari seseorang yang menutup pintu penthouse begitu kasar. Kubawa pandanganku ke jam dinding di sebelah kanan atas. 11 lebih 3 detik, tidak jauh dari perkiraanku bukan ?.

"Baekhyun what the fuck !" Ucapnya.

Aku berdiri dan bersedekap menghadapnya.

"Kau datang ?" Ucapku.

"Omong kosong apa ini ?!" Teriaknya seraya membanting handphonenya dilantai.

"Apa kau baru saja membentakku ?"

Chanyeol menjambak rambutnya begitu kasar.

"Ada apa sebenarnya denganmu ? Kau membuat jantung ku hampir berhenti berdetak saat membaca pesanmu, kau tahu ? Itu sama sekali tidak lucu !"

"Bukankah aku seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu ?. Kau menghilang selama 3 hari ! Aku sama sekali tidak bisa menghubungimu ! Sekertaris juga pengawal sialanmu itu selalu mengatakan bahwa kau sedang dalam perjalanan bisnis. Persetan dengan perjalanan bisnis, bahkan kau tidak menghubungiku sama sekali ! Aku bingung Chanyeol.. aku takut.. tapi kau malah jauh dari pandanganku !"

Aku meledak. Semua emosi yang menggerogotiku selama 3 hari ini bertebaran, juga airmata yang kutahan selama 3 hari ini.

"Aku.. "

"Aku bingung Chanyeol.. kau menghilang begitu saja"

"Ini begitu rumit" ucapnya ketika kepalanya menunduk, membawa pandangannya kebawah.

"Lalu buat aku mengerti" jawabku.

Tungkaiku berjalan mendekat padanya. Tangan kananku bergerak menyentuh lengannya yang begitu tegang. Mengapa ?.

"Chanyeol.." panggilku. Bibirnya terkatup, diam, pandangannya masih didalam kebingungan.

Chanyeol ada apa ?.

"Apakah ini karena kehamilanku ? Karena aku mengandung ?"

"Apakah kau.. tidak menginginkan bayi ini ?" Lirihku.

Aku berdoa dalam hati bahwa dia akan menyangkalnya. Tapi hanya keterdiaman yang kudapat. Seketika itu juga denyutan sakit muncul dihatiku, seperti ditempa sebuah beton didalam sana. Fakta bahwa Chanyeol tidak menyangkalnya. Dia hanya diam pun tidak menunjukan ekspresi yang sarat akan kebahagiaan karena seorang nyawa yang sedang berada didalam tubuhku. Maka dari itu kesimpulan muncul begitu saja, bahwa kehadiran bayi ini bukan apa yang dia inginkan. Bukan.

.

.

.

.

.

Jangan lupa tinggalkan review kalian untuk chapter ini ! see u !