Aku membalikkan tubuh seolah terimitasi oleh suara yang sangat kurindukan. Biasanya, suara orang yang dirindukan selalu terngiang di mana pun ia berada. Apakah ini hanya sekadar lamunanku? Atau mungkin harapanku seperti rombongan yang sedang menyusuri padang pasir?
Ini pertaruhan. Tidak peduli jika yang kudengar hanya halusinasi atau realita. Aku sudah siap sakit hati.
Netraku melebar, mulutku sedikit terbuka. "Takuna-kun?"
Ia... benar-benar Takuna-kun. Orang pertama yang kusukai–selain keluarga. Suka? Entahlah. Aku tidak bisa membedakan antara suka dan cinta. Ia adalah cowok pertama yang membuatku kagum dan menangis–selain keluargaku. Sekian lama aku tidak menangis, aku menangis karena cowok, dan ia sendiri pun adalah orang yang kusuka.
Takuna-kun menarik napas, lalu membuangnya. Wajahnya memerah.
Semilir angin berhembus bersama buangan napasnya.
"Aku...
Aku menahan napas.
...menyukaimu."
Ingin rasanya aku mengelilingi cincin Saturnus. Jantungku sudah tidak keruan. Rautnya tampak serius. Segala perasaan bercampur dalam diriku.
Tapi... mengapa ia mengatakannya ketika aku mulai nyaman dengam sosok lain?
An Annoying Boy
Disclaimer Tadatoshi Fujimaki
Aku dan Takuna-kun terdiam di sebuah kursi taman yang sedang kami singgahi. Oh, tidak. Kurasa belakangan ini aku mengalami beberapa peristiwa dari gabungan hiburan yang bergenre romance. Mulai dari sakit hati karena melihat pernyataan seseorang terhadap orang yang disukainya, hingga dirinya sendiri yang menerima pernyataan cinta. Yah, kisahku dengan Takuna-kun memang cukup mainstream. Kenyataan bahwa kami saling suka tetapi tidak yakin.
"Aku sudah terlambat mengatakannya," ia menghela napas. Tatapannya mengarah pada tanah dengan merasa bersalah. Kenapa ia harus memancarkan tatapan bersalah?
Sebenarnya, aku menyetujui bahwa ia benar-benar telat mengatakannya. Ingin aku mengatakan, "Kenapa baru mengatakannya sekarang? Kenapa kau mengatakannya ketika aku mulai nyaman dengan orang lain?" Tetapi, aku sendiri yang menahan perasaan itu. Lagipula, ini bukan salah Takuna-kun, kok. Ini salah diriku sendiri yang menghibur diri dengan anggapan mainstream, hanya dengan memerhatikannya, itu sudah cukup.
Aku sendiri hanya menatapnya heran. Ia menghembuskan napas lagi, "Aku senang kau memiliki perasaan yang sama denganku."
Ba-bagaimana ia bisa berkata seperti itu? Aku tidak pernah memberitahukan perasaanku padanya. Hanya Akashi yang... tahu. AH! Ini pasti Akashi! Dasar, mulut ember!
"Maaf, selama ini aku menyadari perasaanmu padaku."
Aku menunduk malu. Dia bilang selama ini? Selama ini katanya? Oh, berarti Akashi memberitahunya jauh sebelum hari ini. Atau bahkan, setelah malam aku makan malam bersamanya–tidak, saat itu aku makan bersama otou-san, Masaomi-ouji-san, dan Akashi. Bukan cuma Akashi.
Takuna-kun tersenyum geli sambil menatapku, "Aku tahu sendiri, kok. Dari sikapmu padaku, aku sudah bisa mengetahuinya."
Aku hanya bisa tersenyum malu. "Jika kau ingin tahu, aku menyukaimu saat pertama kali program public speaking. Saat itu tidak ada yang ingin maju. Tetapi kau dengan semangat berpidato di depan angkatan. Yah, asal kau tahu juga, sebelum kau maju ke depan, aku hendak berdiri loh."
Oh, jadi yang itu! Ketika pertama kali kami menginjakkan kaki di bangku menengah pertama. "Kupikir, saat kau meninggalkan alat tulismulah kesempatan yang tepat untuk berbicara padamu."
"Hm," kalau boleh jujur, aku sangat malu sekarang.
Takuna-kun memandang lurus ke depan. "Tapi, kurasa cukup di sini saja."
Netraku kembali melebar seperti yang sebelumnya, "Heh?" Tetapi, entah bagaimana, aku merasa lega.
"Aku tahu, cepat atau lambat, kau akan cinta pada Akashi-san."
Kenapa ini? Kenapa jantungku kembali berdegup dengan cepat? Aku harus membuat sebuah alibi. Alibi yang tidak bisa dihancurkan oleh seorang Shinichi Kudo pun. Ah, aku berlebihan. Tetapi lidahku terlalu kelu untuk mengatakan sesuatu.
"A-a-a-a-a..."
Takuna-kun terkekeh, "Jadi, benar kan?"
"A-a-a-a-a..."
"Apa? Akashi? Hahahaha." Aku tambah bingung harus membuat alibi apa.
"Maaf karena telah membuatmu menangis, [Name]."
Tatapan Takuna-kun berubah, merasa bersalah. Oh, rupanya ia juga tahu aku menangis karenanya. Aku tersenyum tipis, "Tidak apa, Takuna-kun. Tapi, aku akan memaafkanmu jika kau berjanji untuk selalu menjadi temanku."
Senyuman Takuna-kun merekah, ia mengangguk pelan. Ia bangkit dari duduknya. Dia dan aku sekarang berhadapan. Tangan kanannya menepuk pelan puncak kepalaku, "Aku janji." lalu ia pergi meninggalkanku.
Kenapa tidak seperti biasanya? Kenapa aku merasa tenang? Apa karena aku…–tidak mungkin. Aku tidak mungkin cinta–tidak!
"Mama, kakak itu menampar pipinya sendiri sampai merah."
"Kami pulang duluan, ya, [Surname]-chan!"
Ingin sekali aku menarik mereka. Sekarang hari Kamis, ya, hari yang merupakan jadwal piketku–bersama tiga lainnya. Tetapi mereka selalu melarikan diri. Setiap hari Kamis teman-teman di kelas–minus Takuna-kun selalu makan dan sengaja menyobek-nyobek kertas mereka hingga kelas berantakan. Hei, lagipula apa mereka tidak kasihan pada orang tua mereka? Dan dengan pohon yang semakin berkurang?
Aaaarrrrrggggghhhhh haruskah aku sendiri? Baiklah, aku bisa! Ayo, kamu pasti bisa, [Name]!
Kututup semua jendela, lalu kusapu lantai dari di setiap permukaan lantai. Kalian tahu? Aku melakukannya sendiri. Sendiri.
Sendiri sampai aku tak sadar Akashi sudah sedari tadi berdiri di ambang pintu. Sontak saja aku terkejut olehnya. Kalau dari tadi di situ, kenapa tidak membantu coba? Padahal tahun lalu aku selalu piket dengannya.
Ia memungut sesuatu dari lantai–penghapus. Tatapan kami bertemu, ia menyodorkan penghapus itu padaku. Dengan ragu, aku mengambilnya. Kenapa aku harus ragu coba? "Terima kasih," ucapku datar.
Mulutnya terbuka seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Belum satu pun kata terdengar, ada panggilan manja dari yang lain, "Sei-kun!"
Yan berlari dan hendak memeluk Akashi. Seperti biasa, Akashi selalu menghindarinya. Merasa risih, Akashi berbalik yang tentunya terus dibuntuti oleh Yan.
Yan berusaha mengapit lengan Akashi, tetapi ia menepisnya, "Mou, Sei-kun! Kau selalu begitu." Dikerucutkan bibirnya manja. Mereka memang lucu. Yan yang terus ganjen padanya, Akashi yang sinisme. Tapi, entah mengapa, lucu yang sekarang ini seperti dipaksakan oleh rasa tidak suka.
Beberapa hari ke belakang, aku menghindari Akashi. Terutama jika ia sedang diusik oleh Yan. Entah mengapa.
Kuhentikan gerakan pensil, "Nee, Momoi-san." Sekarang ini aku sedang belajar bersamanya–di rumahnya. Ia menghentikan pensil yang sedang menari-nari, "Ya?"
"Momoi-san sadar tidak, semakin hari Akashi semakin ganteng," ucapku datar. Masih memegang pensilnya–yang atasnya menyentuh dagu halusnya, ia menyahut, "Memang benar sih. Semuanya jadi tambah ganteng. Akashi-kun, Mukkun, Midorin, Ki-chan, bahkan Dai-chan. Tapi yang paling drastis sudah pasti Tetsu-kun!" Aku bisa merasakan hawa fangirling dari Momoi-san.
Kuletakkan wajah bagian kiriku di atas meja, "Beberapa hari ini aku menghindari Akashi."
Ia terkejut, "Memang ada apa? Kau bertengkar dengannya?"
Aku menghela napas, "Kalau berantem sih, sering,"
"Lalu ada apa?"
Aku menatap wajah elegan Momoi-san, yah, kurasa cara pandang seperti ini tidak baik dan bisa merusak mata. Kualihkan pandangan lurus mengikuti posisi kepalaku, aku tidak mau memakai kacamata selagi muda. "Tidak tahu. Aku selalu menghindarinya, apalagi jika ia sedang diganggu oleh Yan," aku menghela napas lagi, "Aku tahu, Yan itu suka sama Akashi. Dia suka, suka banget."
Entah perasaan saja atau memang benar, Momoi-san tersenyum seperti telah memecahkan suatu kasus, "Jadi, [Name]-chan cemburu nih?" ucapnya tersenyum usil.
Posisiku yang kepalanya kuletakkan di atas meja dengan refleksnya terangkat–hingga tubuhku menjadi tegap. "Ah? Tidak."
"Lalu mengapa…–"
"–Akashi itu baik, pintar, enak diajak ngobrol, ganteng. Kalau seperti itu, siapa coba yang tidak nyaman dengannya?" Yosh! Alibiku berhasil.
Momoi-san tertawa, untuk apa coba, ia tertawa? "Kalau [Name]-chan nyaman dengannya, berarti kau menyukainya," tawanya makin keras.
Aku menghela napas lagi, dengan enteng, kusahut, "Aku tidak menyukainya."
Yang lebih penting, apa-apaan barusan? Seharusnya Akashi itu menyebalkan. MENYEBALKAN!
Aku meletakkan daguku di atas meja, tangan kananku kubuat coret-coret kertas dengan pensil, "Dulu, Takira-senpai pernah bilang, jangan menjengkelkan Akashi, soalnya nanti dia ganteng," tuturku.
Momoi-san menghela napas lelah, "[Name]-chan benar-benar keras kepala, ya. Kau sudah jelas menyukai Akashi-kun."
Tubuhku kembali tegap, "Sudah kubilang, AKU TIDAK MENYUKAINYA!"
Aku menghela napas berkali-kali. Saat ini aku sedang berjalan di samping model muda Kise Ryouta-kun. Yang membuatku berdebar bukan itu, tetapi tempat tujuan kita, gym basket.
"Are? [Name]cchi?" Aku yang sedang keluar kelas terkejut. "Kise-kun?"
Aku merasakan firasat buruk tentang ini, "Ano… tadi aku piket sendirian. Jadi, aku terlambat. Karena [Name]cchi jago debat dengan Akashicchi…"
Aku menyipitkan mata, benar firasatku. "…etto–"
"–Ya, aku mengerti," Kise-kun hanya bisa cengengesan. Dasar Kise-kun!
Lagipula kenapa aku harus berdebar ketika menuju gym basket? Bukankah biasanya aku tenang-tenang saja?
"Ada apa [Name]?" tanya Taiga. Aku ke sini bukan untuk menemuinya. Tetapi biasanya kan, memang begitu.
"A-a-a–ah…–"
"Kise! Lari keliling lapangan lima belas kali!" telingaku langsung menajam.
Dengan cepat, kutinggalkan Taiga, "Oi, Akashi!"
Netra Akashi kini beralih padaku, "Tadi Kise-kun piket sendirian, jadi–"
"–Jadi, tujuanmu ke sini untuk berdebat denganku? Oh, aku tahu, kau sangat rindu padaku. Mankanya, kau datang ke sini agar bisa berbicara padaku walau hanya perdebatan kan?" Ia menyeringai kecil.
Aku bisa merasakan darahku menjulur ke atas setelah mendengar kata rindu dan berbicara padanya. "Ti-ti-tidak! Jangan gede rasa, ya!" Untung saja, kami tidak menjadi pusat perhatian.
Akashi semakin menyeringai, "Huh? Kau yakin seperti itu–"
"–Sei-kun!" seorang gadis, yang kuyakini adalah Yan meloncat ke arah Akashi. Di peluknya Akashi dari belakang. Aku menundukkan pandanganku. Dengan pelan, kulangkahkan kaki ke luar.
Senyumku merekah ketika mendapati sosok itu di luar. Dengan riang, kulambaikan dan berlari kecil ke arahnya, "Takuna-kun!" dari jauh, ia tersenyum. Ah, aku sangat rindu senyum itu.
Aku menatap pantulan langit senja pada air sungai ini. Argh, aku masih kesal dengan yang tadi. Lagipula kenapa aku harus kesal? Bukankah itu memang sudah biasa? Belum lama, aku merasakan tetesan di kepalaku. Ini tidak mungkin hujan, bukan? Kucoba merasakan cairan itu. Dan rasanya lengket! Begitu aku menonggakkan kepalaku, "Akashi!" ucapku kaget.
Ia membawa dua ice cream. Ia menyodorkan satu ice cream yang tetesannya ada di puncak kepalaku. "Lengket tahu," aku menggerutu sebal.
Tak kusangka, ia mengambil duduk di sebelahku–sambil memakan ice cream–bersamaku. "Terima kasih, Sei,"
Krik krik.
Tunggu.
Apa yang kukatakan barusan?
Akashi menyeringai, "Ya, begitu bagus. Mulai sekarang panggil aku Sei! Tidak pakai embel-embel apa pun! Sei!"
Aku terkejut, "A-a-ka–"
"–Sei!"
Aku bungkam oleh tatapan dinginnya. Tidak! Sekarang lidahku jadi kelu. Haruskah aku memanggilnya dengan nama kecilnya? Tapi, tapi, tapi, bukankah ia memanggilku dengan nama kecilku juga? AAARRRRGGGHHHH!
Aku benar-benar tak menyangka. Sepertinya baru kemarin aku masuk dan bertemu kembali dengan Aka–Sei, sekarang sudah tahun terakhir saja. Sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana perasaanku pada Sei. Saat itu, Yan menyatakan perasaannya pada Sei. Lalu, Sei meminta Yan untuk melupakannya. Kalau soal Takuna-kun dan Hitsuki… "Dia itu ganjen, aku tak suka padanya." Takuna-kun berkata seperti itu.
Tetapi, belakangan ini Sei menjauhiku. Entah mengapa. Kalau dipikir-pikir lagi, ia adalah orang yang paling dekat denganku di masa sekolah menengah atas.
Aku menghela napas lega, hari ini adalah hari terakhir ujian. Tetapi, Akashi masih saja menjauhiku.
"Kenapa kau menjauhiku, Sei?" tanyaku to the point. Untung saja kami sedang berjalan pulang. Ia menghentikan langkahnya. Ia menatap ke arahku, tetapi tatapannya tajam. Dia maju, aku mundur. Dia maju, aku mundur. Begitu seterusnya hingga punggungku menyentuh tiang listrik. Ia mundur selangkah. Masih dengan tatapan tajamnya, ia berkata, "Jadi, kau belum menyadarinya juga?"
Déjà vu!
Saat tangannya patah, bukankah ia juga menanyakan hal yang sama?
Aku menghela napas lelah, "Cukup, Sei. Kau selalu menanyakan hal yang sama. Aku tidak tahu," ucapku lemas.
Sei memalingkan pandangannya dan membuang napas berat. "Kau memang tidak peka. Tidak ada cara lain selain mengatakannya langsung."
Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Ia menarik napas lalu membuangnya, tatapannya kembali mengarah padaku, "Aku–" angin berhembus membuat helainannya menari, "–menyukaimu." Ia tersenyum tipis, "Aku menyukaimu, [Name]."
Netraku membulat. Mulutku menganga. Jantungku tidak keruan. Wajahku memanas. "A-a-apa? Kau pasti bohong kan?!"
Sei mengernyit, "Aku serius."
Entah apa yang terjadi, aku malah berlari menjauhinya–ke rumah. Aku bisa merasakan ia mengejarku, aku berlari sekencangnya dan berhasil lolos darinya. Bodoh, apa yang barusan kulakukan? Bukankah ini seperti aku menggantungnya?
Sampai hari kelulusan tiba, tak ada kontak sama sekali dengannya. Lagipula, aku tidak mengerti akan perasaanku sendiri. Yang jelas, aku senang ketika ia menyatakan perasaannya.
Aku tak kuat menatapnya, aku juga tak mendapatkan kancing keduanya.
Aku menghela napas. Lusa. Lusa adalah waktu untuk berangkat ke Amerika. Ya, aku diterima di Harvard University. Jadi, selama ini, aku memang menyukainya.
To: Annoying Boy
Subject: Bicara
Kumohon datang ke jembatan dekat sekolah besok siang.
Send!
Aku menghela napas lega.
Otou-san membuka pintu lalu memasuki kamarku, "[Name]."
Pandanganku yang tadinya menuju layar smartphone kualihkan ke arahnya. "Ada apa, Otou-san?"
"Beres-beresnya mulai sekarang, ya, [Name]. Kamu kan suka kebablasan." Aku nyengir, "Baik, Otou-san." Otou-san tersenyum lalu keluar.
Yosh! Aku sudah siap mengatakannya. Baru saja aku akan melangkahkan kaki keluar rumah, "Siap-siap berangkat, [Name]! Pesawatnya dimajukan!" Seketika, napasku terhenti.
Dimana-mana pesawat itu didelay, bukan dimajukan!
"Mohon perhatian, pesawat Japan Airlines dari Haneda Airport, Tokyo, dengan tujuan John F. Kennedy International Airport, New York, akan segera lepas landas."
Aku meremas rokku. Kutundukkan kepalaku. "Sei," lirihku. Aku bisa merasakan tetesan air pada punggung tanganku–yang jatuh dari netraku.
Apakah kau akan melupakanku, Sei?
Apakah kau akan membenciku?
Apakah ketika aku kembali, perasaanmu masih sama?
Isakanku semakin keras.
To be continued...
A/N
Hohohoho...
Mungkin chapter depan adalah FINAL CHAPTER! XD
Kira-kira saya bakal balik pas libur ujian kelas 9.
Ganbatte, ore no aniki! :3
Terima kasih banyak, yang udah ngelakuin apa pun untuk fic ini selama beberapa bulan terakhir XD
