"Waktu itu, aku pernah mendengar seseorang bernyanyi di ruangan ini, ia menyanyikan lagu So Close. Aku menunggu orang itu sampai ia keluar, karena aku sangat terpesona dengan suaranya. Dan ternyata, yang keluar adalah kau, Lu." Ucap Jongin.
"Hal itu yang membuatku dulu terobsesi denganmu. Tapi… ternyata setelah mendengarmu menyanyi kali ini, itu suara yang berbeda. Maksudku, suaramu bagus dan tak kalah indah, tetapi… suara kalian berbeda. Suara orang yang menyanyi itu seolah-olah menyihirku dan membuatku jatuh cinta. Siapa orang itu Lu? Kau waktu itu ada bersamanya kan?" Jongin menghujam Luhan dengan pertanyaan.
Luhan tersenyum penuh arti. "Tidak seru kalau aku memberi tahu siapa pemilik suara indah itu, Jongin. Tunggu sebentar lagi… Kau akan menemukannya."
Your Smile.
I don't own anything but the storyline.
Genderswitch.
"Luhan, ayolah aku mohoooon! Aku janji akan memberimu apapun yang kau minta, Lu. Ayolah, aku mohon." Jongin memohon lagi. Ia sungguh ingin tahu siapa yang memiliki suara menghipnotis itu.
"Memohon apa Jongin?" Tiba-tiba datang suara dari arah belakang Jongin. Orang itu baru saja masuk ke ruang musik.
"Kyungsoo?" Jongin terkejut mendapati Kyungsoo yang tiba-tiba ada di situ.
"Kalian sedang apa? Kau memohon apa pada Luhan?" Kyungsoo menatap mereka berdua dengan pandangan heran. Dan… entah kenapa hati Kyungsoo terasa agak nyeri. Ia sibuk memikirkan kemungkinan yang terjadi. Mungkinkah… Jongin sebenarnya masih menyukai Luhan? Lalu ia meminta Luhan untuk menjadi kekasihnya dan berjanji akan memberi apapun yang Luhan minta jika gadis itu menerima cintanya?
"Tidak! Bukan apa-apa Kyung!" Luhan menyelanya dengan panik. Takut-takut Kyungsoo mencurigainya macam-macam. Tetapi, karena selaan Luhan yang terlalu cepat, Kyungsoo malah berpikir yang macam-macam.
Kyungsoo menoleh ke arah Jongin yang hanya diam memperhatikan Kyungsoo.
"Ehm… Sepertinya aku mengganggu kalian berdua ya? Ya sudah, aku ke luar saja." Kyungsoo buru-buru berbalik, ingin segera ke luar dari ruang musik.
"Tidak, Soo. Tidak sama sekali." Jongin menggenggam pergelangan tangan Kyungsoo. Mencegah gadis itu pergi.
Kyungsoo terdiam sejenak, posisinya tetap membelakangi Jongin. Beberapa detik kemudian, detik yang sangat lama bagi Jongin, Kyungsoo melepas genggaman Jongin dari tangannya, dan bergegas pergi dari ruang musik.
Setelah Kyungsoo terlepas dari pandangan, Jongin masih terus memandangi tangannya yang telah dilepaskan oleh Kyungsoo. Apakah ini tanda penolakan? Sepertinya Jongin masih belum sadar kalau Kyungsoo cemburu melihat ia dan Luhan berduaan di ruang musik.
"Luhan? Apakah Kyungsoo tidak menyukaiku lagi?" tanya Jongin bagai orang bodoh.
Luhan hanya menghela napasnya berat. Kenapa dua orang ini bodoh sekali sih?
"Ia tidak membencimu, Jongin. Ia cemburu melihat kita berdua ada di sini. Apalagi kau tadi memohon-mohon, pasti Kyungsoo mengira yang tidak-tidak." Akhirnya Luhan menjelaskan.
Jongin berpikir sebentar, mencerna perkataan Luhan barusan. Iya juga ya. Berarti Kyungsoo cemburu?
Jongin mengeluarkan senyuman kecilnya. Entah kenapa, ia senang mengetahui bahwa gadis mungil itu cemburu karena melihat ia dan gadis lain sedang berdua. Ya, sepertinya ini saat yang tepat untuk menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya.
"Lu, haruskah aku menjadikan Kyungsoo kekasihku?" Jongin meminta pendapat Luhan.
"Ya tentu saja, bodoh." Luhan memutarkan bola matanya. Sudah lelah dengan dua orang bodoh ini.
Jongin tersenyum lagi. Berarti memang sudah saatnya.
"Tunggu dulu, Jongin," Luhan berkata lagi, "Aku ingin menanyakan sesuatu. Jika seandainya kau menemukan orang yang bernyanyi dengan suara yang dapat menghipnotismu itu, kau pasti akan tergila-gila padanya kan? Kau pasti ingin membuatnya menjadi kekasihmu." Luhan menganalisis.
Jongin mendengarkan, ingin tahu inti pertanyaan Luhan.
"Lalu, siapa yang akan kau pilih? Gadis misterius itu, atau Kyungsoo?" tanya Luhan.
Jongin mematung.
0-0-0-0-0-0
Jongin sedang tidur-tiduran di sofa ruang keluarganya sambil memikirkan percakapannya dengan Luhan tadi siang.
Jujur saja, alasan Jongin selama ini bingung dengan perasaannya sendiri adalah karena gadis yang suaranya telah menghipnotisnya itu. Di satu sisi, ia sangat nyaman bersama Kyungsoo. Tetapi, di sisi yang lain ia masih sangat mengagumi gadis yang bersuara sangat indah itu. Tadinya, karena Jongin pikir gadis yang memiliki suara itu Luhan, Jongin diam-diam masih suka memperhatikan Luhan.
Tetapi karena Luhan sudah berpacaran dengan Sehun, ia memutuskan untuk menatapnya dari jauh saja. Ya, karena Jongin sendiri sudah merasa cukup. Ia memiliki Kyungsoo yang membuatnya nyaman.
Terdengar egois, memang. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah yang Jongin rasakan belakangan ini.
Dan ternyata, gadis yang memiliki suara indah itu bukanlah Luhan. Berarti, masih ada kesempatan bagi Jongin untuk menjadikan gadis bersuara indah itu sebagai kekasihnya kan?
Tapi, kalaupun seandainya si gadis bersuara indah itu tidak memiliki kekasih, Jongin masih bingung. Ingin bersamanya, atau bersama… Kyungsoo?
Jongin bersumpah, ia menyayangi Kyungsoo. Tetapi, sebagian hatinya telah dimiliki oleh gadis bersuara indah itu. Meskipun Jongin belum mengenal sang pemilik suara, namun Jongin bisa merasakan, pemilik suara itu orangnya tulus dan baik hati. Entah darimana Jongin bisa mengetahui itu.
"Jangan pernah coba-coba untuk menjadikan Kyungsoo sebagai kekasihmu jika hatimu saja masih terbagi dua, Jongin."
Terbayang lagi kata-kata Luhan. Sebenarnya, persoalan ini akan menjadi mudah jika Jongin dapat memilih salah satu. Gadis misterius itu, atau Kyungsoo?
Jongin mengacak-acak rambutnya kesal. Bingung menentukan pilihannya.
"Ada apa Jongin?" Terdengar suara lembut yang menghampiri indra pendengaran Jongin.
Yuri, ibunya.
"Eomma…" Jongin bangkit dari posisi tidur-tidurannya dan tersenyum menatap ibunya.
"Dari tadi Eomma memperhatikanmu. Sepertinya kau sedang bingung. Ada apa? Kau bisa cerita pada Eomma." Ucap Yuri sambil ikut duduk di sofa dan mengelus-elus pundak anak bungsunya itu.
Jongin akhirnya menceritakan semua kegelisahan dan kebingungannya pada Yuri. Yuri, sebagai ibu yang baik, mendengarkan dengan seksama dan berusaha mengerti keadaan anaknya.
"Menurut Eomma, aku harus bagaimana?" tanya Jongin ketika ia menyelesaikan ceritanya.
"Jika Eomma berada di posisimu, Eomma akan memilih seseorang yang selalu berada di samping Eomma dan mencintai Eomma luar dalam. Dan tentu saja, Eomma akan lebih memilih seseorang yang sudah Eomma kenal dan Eomma sayangi. Sepertinya kau tahu maksud Eomma." Kata Yuri, mencoba memberi anaknya pencerahan.
Jongin memikirkan kalimat Eommanya, dan membayangkan wajah Kyungsoo. Kyungsoo yang sedang tertawa, Kyungsoo yang sedang tersipu malu, Kyungsoo yang melihatnya dengan pandangan lembutnya, dan Kyungsoo yang menutup matanya ketika Jongin hendak mengecup bibirnya.
Sepertinya, Jongin sudah tahu ia harus pilih yang mana.
"Terima kasih, Eomma." Jongin tersenyum manis dan mengecup pipi Eomma-nya.
Yuri tersenyum.
Hening sejenak. Keadaan memang masih sedikit canggung, dikarenakan perpisahan mereka yang lumayan lama.
"Jongin… Eomma yakin, pasti masih ada sesuatu yang mengganjal di hatimu. Dan, Eomma tahu apa hal itu. Maafkan Eomma, Jongin. Maafkan Eomma karena Eomma hanya membawa Joonmyun waktu itu." Yuri menatap Jongin dengan penuh rasa bersalah.
Jongin tersenyum lemah, "Tidak apa-apa, Eomma. Aku mengerti. Eomma waktu itu pasti membutuhkan seseorang yang lebih dewasa dan dapat menjaga Eomma. Oleh karena itu Eomma membawa Joonmyun Hyung. Aku yakin, Eomma sebenarnya ingin membawaku juga kan? Tetapi membawa dua anak akan terlalu merepotkan." Kata Jongin. Sebenarnya, ia masih agak kecewa dengan keputusan Eomma nya saat itu. Tapi, yang terpenting sekarang adalah keutuhan keluarganya yang sudah kembali lagi.
Eomma menggelengkan kepalanya, "Bukan karena itu, Jongin."
"Lalu karena apa?" Jongin menatap Eommanya dengan heran.
"Appamu." Jawab Yuri.
Jongin semakin heran.
"Appamu, ingin lebih dekat denganmu, Jongin. Tidak seperti Joonmyun yang dekat dengan Appa, kau dan Appa tidak pernah dekat kan? Bahkan sebelum kami bercerai, kau dan Appa tidak pernah dekat kan?"
Jongin terus mendengarkan perkataan Eomma-nya.
"Waktu kami bercerai, sebenarnya kami bercerai baik-baik, Jongin. Appamu sempat bercerita, ia ingin sekali mengenalmu lebih jauh dan lebih dekat. Kau selalu tampak takut padanya dan merasa tidak nyaman jika sedang berada di dekatnya. Itu membuatnya ingin memanjakanmu… oleh karena itu, ia ingin kau yang berada di bawah hak asuhnya." Yuri menjelaskan.
"Tapi… bukankah Appa tidak pernah menyukaiku? Maksudku, aku jelas-jelas tidak pernah menurut padanya. Aku lebih memilih untuk menari dan menari. Sementara Joonmyun Hyung, ia bahkan sudah senang berbisnis dari kecil. Aneh kan, Eomma?" Jongin masih menyimpan keraguan.
"Tidak, Jongin. Tidak sama sekali. Appa sangaaaaat menyayangimu. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyampaikan. Ia bisa terlihat dekat dengan Joonmyun karena ia tahu apa yang harus dibicarakan dengan Hyung mu itu. Mereka bisa membicarakan tentang teori-teori ekonomi dan dasar-dasar cara berbisnis. Sementara denganmu? Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Sehingga terlihat seolah-olah ia tidak ingin berbicara denganmu. Padahal aslinya tidak seperti itu…" Yuri menjelaskannya lagi penuh senyuman. Akhirnya, ia dapat menjelaskan keadaan sebenarnya pada Jongin.
"Belum lagi kesibukannya di kantor. Membuatnya jarang bertemu dan memonitor hal apa yang senang kau lakukan. Itulah sebabnya mengapa ia terlihat tidak peduli padamu, Jongin." Yuri menyelesaikan penjelasannya.
Mulut Jongin mulai mengembangkan senyuman.
"Aku kira… Appa tidak pernah menyayangiku seperti ia menyayangi Joonmyun Hyung."
"Tentu saja tidak, sayang." Yuri lagi-lagi mengusap bahu anaknya.
Jongin tersenyum lebar, "Terima kasih, Eomma, karena telah menjelaskan semua yang tidak aku pahami sebelumnya."
Jongin menarik Yuri ke dalam sebuah pelukan. Pelukan yang lebih membahagiakan dari pada pelukan-pelukannya bersama Eomma-nya itu sebelumnya.
Jika aku berhasil menjadikan Kyungsoo sebagai kekasihku, aku yakin kebahagiaan ini akan terasa sempurna. Pikir Jongin.
0-0-0-0-0-0
"Oppa… kenapa kau diam-diam membatalkan special stage-ku dengan Daehyun nanti?" Baekhyun cemberut, meminta penjelasan dari Kris. Sekarang mereka berada di mobil Kris. Mereka baru saja pulang sekolah setelah menjalani kegiatan ekskul masing-masing.
Kris terkekeh, "Tentu saja agar lelaki itu tidak mencuri-curi kesempatan untuk berdekatan denganmu, Baekhyun."
Baekhyun menggerutu kesal. "Tapi aku ingin bernyanyi duet sekali-kali. Aku bosan bernyanyi sendirian. Aku ingin memiliki pengalaman baru, Oppa."
"Boleh, asalkan bersama Kyungsoo."
"Aaaah bukan itu. Kalau bersama Kyungsoo aku sering bernyanyi bersamanya jika kita sedang karaoke atau sedang iseng bernyanyi dengan iringan pianonya Luhan. Kali ini, aku ingin bernyanyi dengan laki-laki, Oppa. Pasti akan lebih susah dan mendebarkan." Baekhyun mengutarakan keinginannya pada lelaki yang sedang menyetir di sebelahnya itu.
"Tidak. Tidak dengan Daehyun." Ucapnya tegas.
"Tapi apa salahnya? Toh, aku tidak menyukainya. Aku hanya ingin bernyanyi bersamanya. Sekedar bernyanyi kan tidak akan membuatku jatuh cinta padanya, Oppa." Baekhyun merengek lagi.
"Bisa saja kau terpesona padanya ketika ia menyanyi."
"Astaga, Oppa. Tidak akan. Ayolah Oppa… kumohon. Aku ingin bernyanyi bersama Daehyun. Sekali ini saja." Baekhyun merajuk.
"Sekali aku bilang tidak ya tidak, Baekhyun."
"Ahh, Oppa tidak seru." Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Rasanya ia ingin menangis. Ini kesempatan yang jarang, bukan? Ia ingin merasakan bernyanyi berdua bersama laki-laki.
"Kau bisa bernyanyi bersama Sehun."
"YAK! Jangan bercanda Oppa… Sehun sudah keren dengan rap-nya. Lagipula suaranya tidak akan pas dengan suaraku."
"Oh, jadi maksudmu, suara Daehyun sangat pas dengan suaramu? Begitu?" terdengar kejengkelan dari nada suara Kris.
Mati aku. Kris cemburu sangat menyeramkan. Pikir Baekhyun sambil mengerjapkan matanya.
"Ya… Bukan begitu juga sih." Kata Baekhyun.
"Lalu mengapa tadi kau mengatakannya seolah-olah terdengar seperti itu?" Kris sekilas menatap Baekhyun tajam, sebelum kembali menatap jalanan.
Baekhyun tidak berani membalas ucapan Kris lagi. Ia takut salah berkata-kata.
Kris tertawa.
Baekhyun melihat ke arahnya dengan bingung. Kenapa lelaki ini tiba-tiba tertawa? Bukankah ia sedang marah?
"Pacarku ini, gampang sekali sih dikerjai." Kris mencubit sebelah pipi Baekhyun gemas.
"Iiih apa-apaan sih Oppa." Lagi-lagi Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Jadi tadi ia dikerjai? Padahal Baekhyun sudah ketakutan setengah mati. Ia tidak mau membuat Kris cemburu lagi karena menurutnya Kris sangat sangat menakutkan ketika ia sedang cemburu.
"Tapi tetap saja, sayang… Aku tidak akan mengizinkanmu duet dengan Daehyun. Kalau dengan laki-laki lain mungkin bisa saja aku izinkan. Tapi, aku harus berbicara empat mata dulu dengan siapapun yang mau duet denganmu. Jika lelaki itu memenuhi persyaratan dariku, maka baru boleh berduet denganmu." Terang Kris.
"Memangnya apa saja persyaratan yang akan kau berikan?" Baekhyun jadi penasaran.
"Kalau latihan tidak boleh hanya berdua, tidak boleh ada skinship, sekalipun hanya bersentuhan tangan. Bahkan kalau bisa sih, eye contact juga diminimalisir. Lalu, kalau bisa lagunya lagu tentang putus cinta, jangan tentang jatuh cinta. Aku takut laki-laki itu terlalu mendalami nyanyiannya dan menjadi benar-benar jatuh cinta denganmu. Bisa gawat kan?" Kris menjelaskan.
"Astaga Oppa.. Aku tidak habis pikir. Setiap pasangan duet pasti harus melakukan eye contact yang banyak. Bicara soal skinship, masa pegangan tangan saja tidak boleh sih?" Baekhyun jadi sedih. Kalau ada persyaratannya seperti ini sih, paling-paling tidak akan ada yang mau berduet dengannya.
"Tidak boleh. Bisa-bisa dia jatuh cinta padamu."
"Ya ampun Oppa… tidak semua laki-laki bisa jatuh cinta padaku. Kau itu terlalu paranoid, Oppa." Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mana mungkin? Jika tidak dicegah, mereka pasti jatuh cinta padamu. Siapa yang tidak suka semuanya yang ada di dalam dirimu? Pasti tidak ada kan? semua orang pasti menyukaimu."
Baekhyun terkikik geli. Kris ini tidak tahu bahwa setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda ya?
"Kenapa tertawa?" tanya Kris.
"Kau lucu, Oppa. Semua orang kan memiliki selera yang berbeda. Jadi, tidak mungkin semua orang menyukaiku."
Kris menghentikan mobilnya. Kebetulan sekarang sedang lampu merah di perempatan. Sehingga berhentinya jadi lumayan lama. Lelaki itu jadi bisa mengobrol sambil memandangi wajah kekasihnya yang cantik.
"Aku tidak peduli. Pokoknya, semua lelaki yang ingin berduet denganmu, harus berbicara denganku dan memenuhi seluruh persyaratan yang aku ajukan."
"Kalau ternyata dia berjanji akan memenuhi persyaratan yang kau ajukan tetapi ia tidak menepatinya, bagaimana? Bagaimana jika ketika di panggung, ia terbawa suasana dan menggenggam tanganku atau merangkul bahuku?" Baekhyun bertanya.
"Akan kuhajar habis-habisan." Jawab Kris dengan raut muka yang serius.
"Ckckck, Oppa. Tidak bisa begitu. Bagaimana jika suatu saat nanti aku berhasil menjadi penyanyi profesional? Pasti aku akan banyak mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan aku untuk berduet bersama laki-laki. Dan aku yakin, pasti ada skinshipnya. Lagi pula, aku janji aku akan setia padamu, dan aku yakin aku tidak secantik itu untuk membuat semua laki-laki tertarik padaku. Jadi kau harus segera menghentikan semua rencana dan persyaratanmu karena-"
CUP
Ucapan Baekhyun tidak pernah selesai. Kris menghentikannya dengan bibirnya sendiri. Kris menciumnya dengan lembut. Kedua tangannya memegang dagu Baekhyun.
Baekhyun kaget, tetapi ia menikmatinya. Tentu saja.
"Mulut ini… tidak bisa diam ya." Kata Kris setelah melepas ciumannya dari bibir Baekhyun. Tangannya memegang bibir Baekhyun yang basah bekas ciumannya.
Baekhyun masih terpaku. Tepatnya masih lemas karena ciuman Kris yang tiba-tiba.
Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Kris pun kembali menyetir mobilnya dengan seringaian tipis yang menghiasi wajahnya. Sementara Baekhyun… gadis itu masih terbengong-bengong. Terlalu kaget.
0-0-0-0-0-0
"Pacarku ini benar-benar usil ya." Komentar Sehun setelah ia selesai mendengarkan cerita Luhan tentang Jongin yang sangat penasaran tentang suara seorang gadis yang menghipnotisnya.
"Habisnya, aku harus tahu, apakah Jongin mencintai Kyungsoo sungguh-sungguh walaupun ia telah menemukan gadis misteriusnya itu? Ternyata ia bimbang." Kata Luhan.
"Tapi kan, gadis misterius yang ia maksud kan Kyungsoo, Lu… Jadi ia tak perlu memilih."
"Ini hanya kebetulan yang aneh, sehingga kedua orang yang sebenarnya dikagumi Jongin adalah orang yang sama. Tapi bayangkan, jika seandainya gadis misterius itu bukanlah Kyungsoo, Jongin akan bagaimana? Ia harus memilih salah satu kan? Kalaupun ia memilih Kyungsoo, pasti gadis misterius yang ia kagumi masih menyisakan tempat di hatinya. Dan itu akan membuat Kyungsoo sakit hati, Hun." Luhan menjelaskan panjang lebar tentang teorinya.
Sehun manggut-manggut. "Benar juga. Pacarku memang pintar."
Luhan tertawa. "Siapa dulu…"
Sehun mengecup pipi Luhan gemas. Pacarnya ini benar-benar lucu dan cantik. Sehun pintar juga ya dalam memilih pacar.
"Sehun! Jangan cium-cium aku kalau sedang di sekolah. Menarik perhatian tahu!"
Sehun terkekeh, "Maaf-maaf. Yang tadi terakhir deh."
"Janji ya?" Luhan mengulurkan jari kelingkingnya.
"Emmm… Bagaimana ya?" Sehun pura-pura berpikir.
"Sehun! Janji dulu! Aih, menyebalkan sekali pacarku ini."
Sehun menjawil hidung Luhan. Ah, Luhan. Menggemaskan sekali sih. Untung saja aku berhasil mendapatkanmu. Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya orang lain yang mendapatknmu. Aku tidak berani membayangkan rasa sakitnya. Gumam Sehun dalam hati.
"Janji tidak?" Luhan bertanya satu kali lagi.
"Iya deh, janji. Tapi kalau tidak sedang di sekolah… Aku boleh kan melakukan lebih?" Sehun menatap Luhan dengan pandangan iseng dan menggoda.
"MESUM!"
0-0-0-0-0-0
"Kyungsoo!"
Kyungsoo mencari-cari orang yang memanggil namanya tadi. Setelah menemukan siapa orangnya, ia mengulas senyum. "Hai, Daehyun."
"Kau sudah tahu kan kita menjadi pasangan duet?" Kata Daehyun ketika ia sudah sampai di dekat Kyungsoo.
"Iya, tentu saja aku sudah tahu."
"Kapan kita akan mulai latihan?"
"Lebih baik kita mulai latihan secepatnya, Daehyun. Kau ingat kan, Pekan Kreatifitasnya hanya tinggal seminggu lagi?" Kyungsoo mengusulkan.
Daehyun mengangguk. "Bisakah hari ini kita latihan, Kyung?"
"Tentu saja bisa. Aku akan memberitahu Luhan nanti." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum manis.
Daehyun memandang Kyungsoo lekat-lekat. Meneliti wajah gadis itu, kemudian mengacak-acak rambut Kyungsoo dengan lembut. Sepertinya ia baru saja menyadari bahwa Kyungsoo sangat menggemaskan.
"Baiklah. Aku ke kantin dulu ya Kyung, haus." Kata Daehyun lalu beranjak menuju kantin. Kelas mereka memang sedang tidak ada guru. Sehingga murid-murid kelas mereka bebas berkeliaran.
Kyungsoo hanya mengangguk pada Daehyun dan mulai berjalan lagi menuju ke toilet. Tapi, langkahnya terhenti ketika tatapannya bersiborok dengan tatapan tajam seseorang yang berdiri di ujung lorong. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Kim Jongin.
Lelaki itu berjalan menghampiri Kyungsoo. Kyungsoo akhirnya memutuskan untuk terus berjalan, karena ia memang berniat untuk pergi ke toilet. Bukan untuk meladeni lelaki tampan itu.
Lebih baik aku hiraukan saja dia. Kata Kyungsoo dalam hati.
Tepat ketika mereka berpapasan, lelaki itu langsung menggenggam erat lengan Kyungsoo.
Kyungsoo berusaha sebisa mungkin untuk tidak menatap wajah tampan sang pemilik tangan yang menggenggam erat lengannya. "Permisi, aku mau lewat."
"Sedang apa kau bersama Daehyun?" tanya Jongin tajam.
"Bukan urusanmu." Kyungsoo menjawab dengan ketus.
Jongin mendorong tubuh Kyungsoo ke loker. Sehingga jarak mereka semakin dekat sekarang. Satu tangan Jongin mengurung tubuh Kyungsoo agar terus ada dalam jarak yang dekat dengannya.
Napas Kyungsoo memburu. Sungguh, jantungnya berdebar tak karuan bila sudah berada dalam jarak yang sesempit ini dengan Jongin.
"Apa yang tadi kau bicarakan dengan Daehyun?" Jongin bertanya lagi.
"Aku bilang, itu bukan urusanmu."
"Aku berhak tahu, Kyungsoo. Dan aku, harus tahu semua yang terjadi pada dirimu. Tidak biasanya kau mengobrol dengan lelaki kecuali Kris dan Sehun. Lalu sekarang kau mengobrol dengan Daehyun? Untuk urusan apa? Jelaskan padaku!" Jongin menyuruh dengan tegas.
Kyungsoo jadi teringat saat-saat ketika ia diancam oleh Jongin waktu dulu. Ia jadi takut juga melihat Jongin yang marah seperti ini.
"Aku dan Daehyun hanya berdiskusi tentang latihan kami untuk Pekan Kreatifitas nanti. Kami menjadi pasangan duet."akhirnya, Kyungsoo menjawab dengan sedikit takut.
"Pasangan duet?" Jongin menggumam. Entah kenapa ada perasaan tidak enak di hatinya.
"Iya."
"Apakah ketika sedang berdiskusi tentang latihan harus pakai acara elus-elus kepalamu segala?" kata Jongin sinis.
"Ya?" Kyungsoo bertanya seolah tidak mengerti.
"Tadi, Daehyun membelai kepalamu. Aku tidak suka melihatnya." Jongin jadi jengkel.
"Lalu kenapa kalau Daehyun membelai kepalaku? Semua orang boleh kok." Kyungsoo memancing kemarahan Jongin.
Jongin menatap gadis itu tidak suka. Ia tidak setuju.
"Memangnya hanya kau saja yang bisa berduaan dengan perempuan lain? Aku juga bisa berduaan dengan lelaki lain." Kyungsoo teringat hari kemarin, ketika ia melihat Jongin dan Luhan berdua di ruang musik.
"Aku dan Luhan tidak melakukan apa-apa kemarin. Hanya sedang mengobrol. Aku tidak mengelus-elus kepala Luhan seenaknya." Jongin menyindir Daehyun.
"Ya memang wajar kau tidak melakukan hal itu. Luhan kan sudah punya pacar."
"Seharusnya Daehyun juga tahu kalau kau tidak bisa disentuh sembarangan seperti itu."
"Lho? Ia bisa tahu dari mana memangnya? Aku tidak punya pacar. Suka-suka Daehyun mau menyentuh kepalaku. Lagipula itu kan hanya sebatas teman. Tidak lebih." Kyungsoo jadi terbawa emosi. Apa-apaan sih si Jongin ini?
Jongin bingung harus berkata apalagi. Benar juga. Kyungsoo belum menjadi pacarnya, ia tidak memiliki hak apapun untuk mencegah Kyungsoo berhubungan dengan lelaki lain. Ah, tidak enak.
Haruskah aku menembaknya sekarang? Tapi aku ingin dengan cara yang spesial. Jongin sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai tidak menyadari Kyungsoo telah bisa melepaskan diri dari kurungannya.
"Hei! Tunggu! Mau ke mana kau?" Jongin mengejar Kyungsoo yang sudah pergi.
0-0-0-0-0-0
Kyungsoo, Daehyun, dan Luhan sedang berada di ruang musik. Mereka bertiga sudah berlatih dari tadi. Kurang lebih sudah tiga jam.
"Aku tidak menyangka suara kalian ternyata harmonis sekali! Sangat pas dengan lagu ini. Terasa sekali sedihnya. Kalian berdua memang penyanyi hebat!" kata Luhan. Ia sangat bersemangat, karena bisa dibilang ini adalah proyeknya.
"Ah, itu karena suara Kyungsoo bagus sekali, Lu. Sehingga bisa menutupi suaraku." Daehyun merendahkan diri.
"Apa-apaan? Suaramu juga sangat bagus, Daehyun. Sangat tinggi dan juga powerful. Dan kau juga sangat pandai menyampaikan perasaan. Saat aku melihat raut wajahmu, aku jadi ikut sedih juga." Kyungsoo balas memuji Daehyun.
"Pada intinya, suara kalian berdua memang bagus dan saling melengkapi satu sama lain. Oh iya, gerakan kalian tadi masih sangat kaku. Aku rasa kalian harus lebih sering untuk menghabiskan waktu berdua, agar bisa lebih dekat dan tidak canggung. Ini hanya untuk keperluan pentas kok, jadi tidak usah gengsi dan malu-malu." Luhan memberi saran.
"Tentu saja. Lagi pula siapa yang malu dan gengsi? Aku tidak keberatan kok." Kyungsoo menyetujui usulan Luhan.
"Baguslah, bagaimana denganmu, Daehyun?" Luhan menanyakan pendapat Daehyun.
"Tentu saja aku tidak keberatan. Siapa yang akan keberatan jika disuruh menghabiskan waktu bersama perempuan secantik Kyungsoo?" kata Daehyun sambil tertawa.
Kyungsoo tertawa juga, menganggap itu adalah sebuah lelucon.
Tetapi, Luhan tidak merasa itu lucu. Luhan tiba-tiba mengkhawatirkan perasaan Jongin. Pasti Jongin akan sakit hati bila melihat Kyungsoo dan Daehyun sering menghabiskan waktu bersama.
Aduh bagaimana ini? Luhan jadi semakin gelisah.
TBC
Aku bener-bener minta maaf untuk kegagalan chapter yang kemarin. the last chapter was indeed a fail. It's not only you guys, me too, got no feels when I re-read the 'make up of Kim Family'. Just like what I told you, I got writer's block and I really didn't know how to continue this story, back then. But I've promised myself to update selambat-lambatnya tuh once in a month. I didn't want to make my readers wait so I was rushed when I make the last chapter. And it turns out bad. Maaf banget untuk para readersku yang baik hati dan masih setia baca fic ini. I'm still in learning process. Don't expect me to make a wonderful story. I don't even get paid to write fanfics, but I enjoy it so I won't stop even though some people said my story is bad.
Critics are fine but please use softer language to tell me. Because my feelings (sadly) got hurt.
Apakah chapter ini mampu untuk menutupi kesalahan dari chapter lalu? I've explained why Jongin forgive his mother easily and the reason why Yuri only took Joonmyun with her.
Dan aku sudah tambahin KrisBaek di sini! Seneng banget, ternyata banyak juga yang suka sama mereka :D
Makasih banyak untuk yang udah review kemarin. Sekarang review lagi yaaaa :)
Untuk yang ga sabar pengen kaisoo jadian, tunggu sebentaaaaaaaaaar lagi. Tunggu yaaa chapter selanjutnya :) makasih sekali lagi untuk semua yang sudah baca.
I love my readers! :)
-Tatiana12
