Friends Or?
Chap 9
Kim Minseok - Exo Member – Other
DLDR, BL, Straight, M, Little Bit Humor (I Hope), Brothership, Friendship, Romance (?)
.
..
...
BEFORE
Minseok tidak pernah berfikir bahwa orangtuanya benar-benar akan menjodohkannya, melihat selama ini orangtuanya tidak pernah peduli dengan semua yang dilakukannya. Walaupun ayahnya selalu mengatakan Minseok harus mengambil alih perusahaan kelak, tapi orangtuanya tidak pernah mengusik kehidupan percintaan Minseok namun melihat situasi saat ini, Minseok sepertinya harus berpikir keras untuk menghindari perjodohan ini.
.
..
...
"Kalian sudah datang duluan ternyata, kuharap kami tidak membuat kalian menunggu terlalu lama." Kali ini Tuan Kim tidak memasang wajah datar dan dinginnya seperti tadi melainkan senyum hangat menghiasi wajahnya.
" Kami juga baru saja datang. Oh ini putramu?" Tanya pria paruh baya itu.
"Perkenalkan saya Kim Minseok." Kata Minseok sambil membungkukan badannya.
"Wah kau benar-benar mirip ibumu. Manis." Perempuan yang seumuran dengan ibunya itu kini sedang memeperhatikan wajah Minseok dengan senyum terus menghiasi wajah cantiknya.
"Hei dia itu laki-laki kau harus menyebutnya tampan." Nyonya Kim membela putranya dengan nada bercandanya.
"Ya ya, tampan yang manis." Koreksi perempuan paruh baya itu.
Dan Minseok hanya menundukan kepalanya sambil tersenyum kecil miris karena sekeren apapun penampilannya, selalu ada orang yang masih mengatainya manis dan Minseok tidak suka itu.
"Oh ya, Ayumi kemarilah."
Kini pandangan Minseok terarah pada seorang yoeja cantik dengan gaun hitam selututnya, sedang berjalan kearahnya. "Selamat malam. Nama saya Ayumi Hasegawa, senang bertemu dengan kalian." Kata Ayumi dengan senyum kecil menghiasi wajahnya tak lupa membungkukkan badannya seperti yang dilakukan Minseok.
"Minseok, perkenalkan mereka dalah keluarga Hasegawa, kami sudah lama berteman dan akhirnya bisa mempertemukan kalian berdua. Ayah harap kau bisa berteman baik dengannya." Senyum lebar tidak hilang dari wajah Tuan Kim.
Setelah mendengar Ayumi memperkenalkan namanya, sekarang Minseok mengerti kenapa orangtuanya mengajaknya makan malam direstoran Jepang.
"Wah putrimu sangat cantik, murip seperti ibunya. Oh! dan bahasa koreamu sangat bagus." Nyonya Kim berkomentar sambil memperhatikan wajah Ayumi dengan pandangan kagum.
"Tentu saja, Ayumi sudah satu tahun mempelajari bahasa korea walaupun dia baru tinggal selama satu bulan di Korea."
Dalam hati Minseok membenarkan perkataan ibunya. Ayumi memang cantik dengan kesan sedikit tomboy karena rambut hitam sebahunya dikepang dibagian samping yang menunjukan leher jenjangnya juga beberapa piercing ditelinga kirinya dan semua piercing juga aksesoris rambutnya berwarna hitam membuatnya terlihat anggun namun sedikit arogan.
Saat makan malam adalah saat paling membosankan bagi Minseok, orangtuanya dan orangtua Ayumi terus mengobrol dan mengabaikan keberadaan anak-anak mereka. Walaupun obrolan mereka masih berputar antara Minseok dan Ayumi sendiri tetap saja Minseok merasa ingin segera keluar dari ruangan itu.
Makan malam selesai, kedua pasangan suami istri itu terus mengobrol dan sesekali menanyakan pendapat mereka berdua. Walaupun orangtua mereka tidak membahas sedikit pun mengenai perjodohan, Minseok tahu jika orangtuanya mempunyai maksud lain dengan memperkenalkan Minseok dengan Ayumi. Ayumi memang cantik tapi Minseok tidak akan menikah dengan orang pilihan orangtuanya dia ingin menemukan perempuannya sendiri tanpa bantuan dari orangtuanya. Perjodohan sama sekali bukan gayanya.
Dan dilihat dari sikap acuh Ayumi, Minseok berfikir bahwa Ayumi sama tidak tertariknya dengan acara makan malam terselubung ini. Minseok sedikit senang dengan pemikirannya. Jika Ayumi tidak tertarik dengan perjodohan ini, maka itu akan memudahkannya untuk membatalkan apapun yang sudah direncanakan oleh orangtuanya.
"Minseok dan Ayumi-sshi pasti bosan ya berada disini." Ibunya yang akhirnya menyadari wajah bosan Minseok akhirnya mengalihkan perhatiannya pada putranya.
"Lumayan." Jawab Minseok datar.
"Ini kartu akses untuk ke lantai paling atas gedung ini. Kalian bisa mengakrabkan diri disana." Tuan Kim memberikan kartu berwarna hitam mengkilat dengan ukiran kecil pohon sakura berwarna emas ketangan Minseok.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Minseok dan Ayumi langsung berjalan cepat menuju lift dan menekan tombol panah keatas dangn tidak sabaran.
"Aku hampir mati karena bosan." Ayumi mengetuk-ngetukan high heelsnya merasa tidak nyaman dengan sepatu tinggi itu.
Tanpa merespon ucapan Ayumi, Minseok melepas dasi yang terasa mencekik lehernya sejak pertamakali dia memakainya. Minseok tidak pernah menyukai dasi, itu sebabnya pula Minseok tidak pernah memakai dasi sekolahnya.
"Kalau tidak nyaman kenapa memaksa memakai dasi." Ayumi yang sedikit melirik Minseok saat melepaskan dasinya tersenyum miring.
"Hanya sedikit menyenangkan orangtua." Akhirnya Minseok merespon ucapan Ayumin meski dengan suara datarnya juga wajah tanpa ekspresinya.
Akhirnya pintu lift terbuka, saat pintu lift tertutup dengan cepat Ayumi melepas high heelsnya dan menggantinya dengan sepatu kets berwarna hitam dengan sedikit garis putih melingkarinya lalu memasukan high heelsnya kedalam tas kecil yang dibawanya. Ayumi bernafas lega karena merasa lebih nyaman sekarang.
"Kau seharusnya tidak memakainya jika merasa tidak nyaman." Minseok berkata dengan pandangan lurus kedepan.
"Hanya sedikit menyenangkan orangtua."
Mendengar ucapan Ayumi yang meniru ucapannya tadi, Minseok menolehkan kepalanya dan melihat Ayumi sedang tersenyum mengejek kearahnya.
Sesampainya mereka ditujuan, Minseok menempelkan kartu pemberian ayahnya dan memepersilahkan Ayumi untuk masuk lebih dulu setelah pintu hitam itu terbuka.
"Lady first." Kata Minseok datar.
Saat memasuki atau lebih tepatnya keluar karena tempat yang saat ini didatangi oleh Minseok dan Ayumi adalah bar yang bertipe outdoor dilantai paling atas gedung itu membuat orang yang mendatangi bar itu langsung dimanjakan dengan udara segar dimalam hari.
"Wah tempat ini benar-benar luar biasa." Ayumi melihat sekeliling dengan pandangan kagum. Karena selain tempat itu bertema outdoor, hiasan yang didominasi dengan warna emas juga lampu-lampu yang temaram membuat suasana sangat nyaman untuk mengobrol dengan seseorang. Disudut bar terlihat seseorang dengan lihainya memainkan piano dengan nada yang lembut dan menenangkan.
"Dillihat dari reaksimu, sepertinya ini pertama kalinya kau kesini."
"Tentu saja, aku baru satu bulan tinggal di Seoul. Apa kau pernah kesini?"
"Ini juga pertama kalinya aku kesini."
Ayumi hanya mengernyit heran mendengar jawaban datar dari Minseok, karena Minseok terlihat sudah biasa dengan tempat seperti itu.
"Tempat ini memang luar biasa, tapi aku tidak dalam mood untuk mengagumi sesuatu." Minseok yang melihat ekspresi heran Ayumi mencoba menjelaskan.
Ayumi hanya mengangguk mengerti mendengar penjelasan singkat Minseok.
"Ayumi!?" Seorang pria dibalik meja bar tiba-tiba memanggil nama Ayumi dengan nada sedikit ragu.
Saat mereka berdua mendekat, Ayumi memperhatikan wajah orang yang memanggilnya.
"Benar! Kau memang Ayumi yang kukenal!" Pria itu tersenyum lebar saat melihat lebih jelas wajah Ayumi.
"Dujun?"
"Nah kau ingat, baguslah. Wah kau terlihat berbeda dengan pakaian perempuan." Dujun tersenyum lebar dengan memperhatikan penampilan Ayumi.
"Ya! Aku terpaksa memakai pakaian menggelikan ini." Ayumi memasang wajah cemberutnya.
"Benarkah? Tapi pakaian itu cocok untukmu ."
"Kau sendiri juga terlihat berbeda?" Ayumi bertanya dengan memicingkan matanya menyelidik.
"Hahaha. Aku harus terlihat berbeda jika bekerja dibar ini."
"Bisa aku memesan sesuatu?" Minseok yang sejak tadi diam dan didiamkan membuka suaranya dengan nada bosannya.
"Aku sampai lupa kau datang dengan seseorang." Dujun tersenyum kearah Minseok.
"Maaf ya. Apa yang kau inginkan?" Dujun bertanya masih dengan senyuman anehnya.
"Aku ingin beer dingin." Jawab Minseok datar.
"Oke. Ayumi kau seperti biasanya?" Tanya Dujun sebelum mengambil pesanan Minseok.
"Yap, aku seperti biasanya saja." Ayumi menganggukan kepalanya.
"Ini pesananmu dan ini beer dingin yang kau inginkan."
Tapi sebelum Minseok dapat mengambil botol yang diberikan padanyaa, Dujun tiba-tiba menarik tangannya juga minuman yang dibawanya dan membuat Minseok hanya bisa menggapai angin kosong dengan wajah mengernyitnya.
"Tunggu, apa kau sudah legal untuk meminum minuman beralkohol?"
Belum sempat Minseok menjawab, Dujun sudah lebih dulu berbicara dengan Ayumi dengan pandangan menyelidik.
"Tunggu. Ayumi, apa namja ini yang kau maksud kemarin?" Tanya Dujun penasaran.
"Ya begitulah." Jawab Ayumi santai.
"Tapi kukira orangtuamu akan menjodohkanmu dengan namja yang lebih tua darimu atau setidaknya seumuran denganmu. Bukannya minor seperti ..." Tidak meneruskan perkataannya dan Dujun malah memperhatikan wajah Minseok dengan pandangan menilai.
"Kau juga berpikir seperti itu? Saat pertama melihatnya aku juga berpikir begitu bahkan sampai sekarang pun aku masih berpikiran seperti itu."
Minseok rasanya ingin berteriak didepan wajah mereka karena rasa kesalnya yang memuncak, sejak masuk ke bar Minseok sudah diabaikan keberadaannya, perkataannya selalu disela oleh Dujun maupun Ayumi, dan sekarang mereka malah meragukan kelegalannya meminum alkohol. Kesabaran Minseok benar-benar diuji kali ini.
"Huh" Minseok menghela nafas dalam sebelum berbicara.
"Dengar ..."
"Berapa umurmu sebenarnya?" Ayumi kembali memotong ucapannya dengan cepat.
Minseok memejamkan matanya sambil menghela nafas kasar. "Tenang Minseok, kau tidak boleh menghajar orang lain sembarangan, apalagi salah satunya adalah perempuan."
"Baiklah, aku bisa bicara sekarang?" Minseok hanya tidak ingin ucapannya kembali diinterupsi oleh kedua orang yang kini memperhatikan wajahnya dengan serius.
"Tentu, silahkan." Dujun mempersilahkan sambil menganggukan kepalanya.
"Pertama-tama bisakah kalian tidak melihatiku seperti itu. Dan tentu saja aku sudah legal meminum minuman beralkohol, tidak mungkin ayahku menyuruhku kesini jika aku seorang minor." Minseok menjelaskan dengan penuh penekanan disetiap katanya agar mereka mengerti.
"Bisakah aku mendapatkan minumanku? Aku kehausan." Tanya Minseok karena tidak mendapat respon yang berarti dari dua orang yang diajaknya bicara.
"Oh! Tentu, ini. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak bohong." Dujun akhirnya menyerahkan botol beer katangan Minseok.
"Baiklah, bagaimana jika duduk diujung sana?" Ayumi menunjuk tempat yang dekat dengan pagar pembatas.
Minseok hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dan beranjak berdiri diikuti dengan Ayumi, keduanya berjalan dengan membawa minuman masing-masing ditangan mereka. Saat duduk Minseok merasakan angin segar menerpa wajahnya. "Ini tempat yang bagus untuk mengakrabkan diri." Minseok berkata dengan senyum miringnya kearah Ayumi yang membalas dengan senyum kecil.
"Yah seperti yang kubilang tadi, tempat ini luar biasa." Ayumi menyesap pelan minumannya.
"Dan sepertinya kau sering mendatangi tempat-tempat yang luar biasa. Oh! Tapi ini pertama kalinya kau kesini."
Mendengar nada menyindir dari Minseok, Ayumi mengalihkan pandangannya pada Minseok. "Kau pasti mengira aku berbohong. Aku memang mengenal bar tender itu, tapi aku mengenalnya di club kecil yang sering kudatangi, disana dia juga bekerja sebagai bar tender. Aku tidak tahu kalau dia juga bekerja disini, makanya aku tadi sempat tidak mengenalinya karena dia terlihat sangat berbeda saat bekerja disini."
Minseok mengangguk mengerti. Dan kesunyian yang nyaman menyelubungi mereka berdua.
"Baiklah, ini tidak akan berhasil jika seperti ini." Ayumi yang mulai tidak tahan dengan kesunyian mereka memilih membuka suara.
"Apa maksudmu?" Minseok mengernyit bingung.
"Bagaimana jika memberitahukan tentang diri kita masing-masing, bukan hal pribadi hal-hal yang umum saja. Setidaknya aku punya jawaban saat orangtuaku menanyakan hasil dari kegiatan mengakrabkan diri ini."
"Seperti makanan kesukaan atau warna favorit?" Sepertinya Minseok mulai tertarik dengan rencana Ayumi.
"Begitulah, jika kita memiliki jawaban yang memuaskan mereka, mungkin kita tidak harus sering-sering bertemu." Jawab Ayumi dengan nada antusiasnya.
"Kau benar. Melihat kita tidak memiliki ketertarikan satu sama lain jadi kurasa ini cukup mudah untuk membatalkan apapun yang mereka rencanakan."
"Yap, tapi kita tidak boleh terlalu gegabah dalam bertindak selama orangtua kita belum membahas soal perjodohan. Walaupun rencana mereka sangat mudah dibaca."
Minseok hanya mengangguk setuju dengan perkataan Ayumi barusan.
"Lalu siapa yang lebih dulu?" Tanya Ayumi.
"Lady first." Jawab Minseok singkat.
"Baiklah. Aku akan mulai duluan. Pertama-tama namaku Ayumi Hasegawa. Umurku..."
"Bisakah kau tidak membuang waktu hanya untuk memberitahu sesuatu yang sudah aku ketahui?"
"Oh! Baiklah, sepertinya tempat keren ini belum bisa mengubah mood burukmu."
Melihat Minseok hanya memberikan tatapan bosannya membuat Ayumi meneguk minumannya dulu sebelum melanjutkan.
"Oke, aku sekolah di Seirin High School."
"Sekolah khusus perempuan? Kau?"
"Yah begitulah. Orangtuaku bilang aku memiliki masalah dengan etika sebagai seorang perempuan, jadi dengan menyekolahkanku disana, mereka berharap aku sedikit beretika seperti seorang perempuan seharusnya."
"Tapi sepertinya mereka tidak begitu berhasil dengan rencana mereka."
"Seirin memang terkenal dengan tata tertibnya yang ketat tapi bukan Ayumi jika tidak bisa menaklukannya." Ayumi tersenyum bangga dengan ucapannya sendiri.
"Tentu saja, seperti sekolah kebanyakan, mereka tidak sesempurna kelihatannya." Minseok jadi ingat sekolahannya sendiri yang dikuasai oleh para osisnya.
"Oke aku lanjutkan. Hobiku adalah musik. Aku suka semua jenis musik selama musik itu enak didengar. Aku bisa gitar, piano dan sedikit tahu tentang instrumen drum. Biasanya aku menghabiskan waktu luangku dengan bermain musik dijalanan."
"Dijalanan? Seperti...?"
"Bukan untuk mendapat uang, aku hanya melakukan pertunjukan biasa tapi aku akan menerimanya jika ada yang memberiku uang. Lumayan, aku bisa mentraktir beberapa anak-anak jalanan, aku cukup akrab dengan mereka."
Minseok mengangguk lalu meminum beernya menunggu Ayumi melanjutkan.
"Apa lagi? Oh ya, aku tidak memiliki makanan favorit, aku suka semua jenis makanan. Aku juga tidak memiliki alergi terhadap apapun. Dan warna favoritku adalah hitam, seperti yang kau lihat. Aku tinggal sendiri diapartment setelah datang ke Seoul, orangtuaku menyuruhku pindah kesini karena mereka ingin aku mengenal negeri tempat neneku dilahirkan atau sebenarnya mereka memiliki tujuan lain, aku tidak tahu. Walaupun namaku sangat Jepang, tapi aku punya darah Korea dari ibuku yang berdarah Jepang-Korea. Aku menyukai olahraga lari tapi saat butuh ketenangan aku lebih suka berenang. Emmm, apa lagi? Kurasa itu cukup?"
"Benarkah?" Minseok memastikan.
"Entahlah, tanyakan saja apa yang ingin kau ketahui tentang diriku."
"Aku juga tidak tahu apa yang ingin kuketahui tentang dirimu."
"Kalau begitu giliranmu." Ayumi kembali menyesap minumannya.
.
..
...
Tbc
