Aah, sebentar lagi fanfic ini selesai. Sediiih *author lebay, abaikan* Mian kalau endingnya nanti kurang berkenan. Oh ya, berhubung fanfic ini sebentar lagi END, author mohon banget readers tetap setia di page fanfic ini buat ngikutin fanfic-fanfic lainnya tentang Yoona eonnie ya *promosi terselubung, hehe* :)
Now it's time for me to find my happiness again
Seorang namja tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memainkan ponsel yang berada di tangannya. Berkali-kali ia mendongak dan menundukkan kepalanya terlihat seolah mempertimbangkan sesuatu. Namja lainnya yang kebetulan berada dalam ruangan yang sama dan sedang asik membaca komik sambil berbaring di atas ranjang lama-kelamaan merasa jengah melihat teman sekamarnya bertingkah bagai orang linglung.
"Jonghyun hyung, kau kenapa? Mondar-mandir tidak jelas seperti itu. Aku pusing melihatnya." Tegur namja itu yang kini mengubah posisinya dan menatap Jonghyun bingung. Jonghyun hanya mampu tersenyum minta maaf dan menggaruk tengkuknya.
"Ah, mianhae Jungshin-aa. Aku hanya… err, aniyo. Lupakan saja. Ngomong-ngomong kau sedang membaca komik apa?" tanya Jonghyun sambil mengalihkan pembicaraan. Jungshin melengos dan bangkit menghampiri Jonghyun.
"Kau sangat tidak berbakat untuk mengalihkan pembicaraan, hyung. Jadi sekarang ceritakan padaku apa yang membuatmu seperti orang linglung?" tanya Jungshin sambil meletakkan salah satu tangannya di bahu Jonghyun. Yang ditanya tampak melemaskan bahunya dan menghela napas gusar.
"Huft, kau benar Jungshin-aa. Aku memang tidak jago dalam hal itu. Dan sepertinya aku juga tidak jago mengajak seorang yeoja untuk pergi bersamaku." Jawab Jonghyun sambil tersenyum getir. Jungshin melongo mendengar pengakuan hyungnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, astaga hyung, aku pikir ada apa. Ternyata itu, hahaha." Jonghyun mendelik sebal pada dongsaengnya yang kini malah menertawainya.
"Aish, kau ini! Tadi minta aku yang cerita, sekarang malah menertawaiku. Ckck." Ujar Jonghyun sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang diduduki mereka berdua. Jungshin segera menghentikan tawanya dan mencoba memasang wajah serius di hadapan hyungnya.
"Ah, ne, ne. Maafkan aku hyung. Aku hanya tidak mengerti kenapa hyung sampai begini cuma gara-gara hal itu. Hyung kan, yah dengan terpaksa kuakui, tampan dan bahkan berhasil menyingkirkan Yonghwa hyung dalam polling namja dengan senyum paling menawan. Pasti banyak yeoja yang mau pergi dengan hyung, bahkan tanpa perlu hyung ajak. Aku yakin itu. Tapi… sebentar, pergi dengan hyung maksudnya… berkencan?" tanya Jungshin setengah tidak percaya dengan gagasan yang mendadak melintas di kepalanya. Namja yang paling tinggi di antara personil lainnya itu menatap Jonghyun penasaran.
"Ah, bukan kencan, tapi… yah, cuma makan malam biasa saja." Jawab Jonghyun yang kembali mendudukkan diri dan terlihat salah tingkah. Mendadak pipinya memerah dan berhasil mengundang gelak tawa Jungshin sekali lagi.
"Hahaha, ternyata aku benar! Tapi aku benar-benar tidak menyangka, hyung yang lebih senang berduaan bersama gitar kesayanganmu itu mendadak ingin makan malam dengan seorang yeoja? Ckck, rayuan apa yang digunakan yeoja itu sampai berhasil membuat hyung berpaling dari Si Gitar tersayang? Hahaha." Jonghyun hanya menghela napas melihat Jungshin sekali lagi menertawai dirinya. Ia tahu kalau apa yang diucapkan Jungshin benar adanya. Gitar yang biasa menemaninya kini mendapat posisi nomor dua di hatinya setelah seorang yeoja berhasil menjejali pikirannya dengan sosoknya yang bagai dewi di matanya.
"Kalau aku boleh tahu, siapa yeoja itu hyung? Apa aku mengenalnya?" tanya Jungshin iseng. Matanya menatap Jonghyun penuh rasa ingin tahu yang malah dibalas tamparan halus dari Jonghyun di pipinya.
"Tenang saja, nanti juga kau akan tahu. Sudah ah, hentikan tatapanmu itu! Aku malah ingin tertawa melihatmu seperti ini, hahaha." Balas Jonghyun tertawa lebar. Jungshin mengerucutkan bibirnya kecewa mendengar jawaban Jonghyun.
"Ah, begini saja hyung main rahasia-rahasiaan denganku. Sudah ah, aku tidak akan memberitahu hyung bagaimana caranya mengajak seorang yeoja makan malam denganmu. Aku pergi dulu." ujar Jungshin yang berpura-pura kesal dan hendak melangkah keluar kamar. Jonghyun hanya mengangkat bahu acuh.
"Terserah kau saja. Aku bisa meminta tolong pada Yonghwa hyung. Dia kan yang paling berpengalaman kalau soal ini, hahaha." Balas Jonghyun enteng. Jungshin langsung mati kutu begitu mendengar perkataan Jonghyun. Karena siapapun tahu kalau leader CNBlue itu memang dikenal sebagai penakluk wanita.
"Aish, ya sudahlah. Aku doakan makan malam hyung dengan yeoja itu berhasil." Ujar Jungshin sambil melangkah keluar kamar. Jonghyun tersenyum mendengarnya dan dalam hati mengamini doa dongsaengnya. Begitu Jungshin keluar dari kamar, ia melihat ponsel yang masih berada di tangannya dan menekan layarnya. Jarinya mengetik satu nama yang menurutnya dapat membantunya. Senyumnya mengembang dan refleks jarinya menyentuh perintah call.
Calling Yonghwa hyung. Beberapa detik kemudian panggilannya diangkat dan terdengarlah suara hyungnya yang tengah sibuk take adegan variety show ternama di Korea.
"Yeoboseyo. Hyung, maaf kalau aku mengganggu. Aku mau bertanya tentang sesuatu."
"…"
"Ani, bukan masalah itu. Aku mau tanya tentang, err, caranya mengajak, err, yeoja… makan malam."
"…"
"Sudahlah hyung, jangan tertawa. Sudah cukup Jungshin menertawaiku gara-gara hal ini. Aku tahu aku paling tidak jago kalau sudah berurusan dengan yeoja. Karena itu aku mau meminta saran hyung. Hyung kan cukup terkenal sebagai penakluk wanita."
"…"
"Hahaha, tapi itu benar kan hyung? Ayolah hyung, bantu aku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengajaknya."
"…"
"Aish, jangan pura-pura tidak tahu seperti itu hyung. Aku yakin hyung pasti tahu benar siapa orangnya. Ayolah hyung, mumpung aku dan dia sama-sama tidak ada jadwal malam ini. Jebal."
"…"
"Yang terpikir olehku hanya mengajaknya makan malam di restoran dekat dorm-nya saja. Apa hyung punya usul yang lebih baik?"
"…"
"Ah, apakah itu tidak apa-apa? Maksudku, aku kan baru mengajaknya kali ini. Apa benar tidak apa-apa kalau aku langsung memintanya seperti itu?"
"…"
"Ah, ne, ne, arraseo. Baiklah. Apa ada lagi yang harus aku tahu hyung?"
"…"
"Oke, gomawo hyung. Doakan aku malam ini ya. Oh iya, semoga sukses menyelesaikan misi di sana. Annyeong." Klik. Sambungan telepon selesai. Jonghyun tampak lebih baik begitu mendapat saran dari Yonghwa. Namun kegugupannya kembali muncul saat jarinya mengetik sebuah nama yang telah melekat erat dalam ingatannya. Setelah ragu sejenak, ia akhirnya menekan tombol call dan menempelkan ponselnya ke telinga. Beberapa saat kemudian panggilan itu diangkat dan terdengarlah suara seorang yeoja yang berhasil memikatnya selama ini.
"Yeoboseyo. Yoona-ssi? Ah, ne, Lee Jonghyun imnida."
"…"
"Ani, aku hanya… ingin mengajakmu keluar malam ini. Apa kau bisa?"
"…"
"Hanya ingin mengajakmu makan malam dan sekedar jalan-jalan."
"…"
"Ah, tidak perlu. Biar aku yang menjemputmu ke sana."
"…"
"Sekitar jam 8 aku akan sampai di dorm-mu. Tapi, mianhae, mungkin aku tidak bisa menjemputmu langsung di depan pintu dorm. Aku akan menunggu di lobby. Tidak apa-apa kan?"
"…"
"Ne, sampai ketemu nanti malam Yoona-ssi."
"…"
"Nde?"
"…"
"Ah, ne, ne, baiklah Yoona-ss… aniyo, maksudku Yoona-aa."
"…"
"Err, kalau begitu, boleh aku juga meminta hal yang sama darimu?"
"…"
'Ani, bukan itu. Tapi… maukah kau memanggilku Jonghyun… oppa?"
"…"
"Aish, tapi tetap saja aku lebih tua darimu meski hanya lima belas hari. Jadi bagaimana? Call me oppa, please?"
"…"
"Ah, gomawoyo Yoona-aa. Jangan lupa, untuk seterusnya kau harus memanggilku Jonghyun oppa. Arraseo?"
"…"
"Hahaha, ne, aku senang sekali. Kalau begitu, sampai nanti Yoona-aa."
Klik. Sambungan terputus seketika. Namun tidak begitu dengan angan Jonghyun yang justru semakin mengembara. Namja itu tersenyum-senyum sendiri membayangkan acara malam nanti. Bayangan Yoona yang tersenyum, melambai, dan memanggil namanya begitu membuai Jonghyun sampai-sampai ia tidak menyadari kalau Minhyuk tengah memandanginya dengan rasa khawatir.
"Hyung, kau tidak apa-apa kan?" tanya Minhyuk yang langsung membuyarkan angan Jonghyun tentang Yoona. Jonghyun tampak kaget melihat Minhyuk yang berada di depan kamarnya.
"Sejak kapan kau ada di situ, Minhyuk-aa?" tanya Jonghyun. Minhyuk menelengkan kepalanya dan menatap Jonghyun.
"Aku baru saja datang dan melihat hyung senyum-senyum sendiri sampai aku pikir aku harus menelepon rumah sakit jiwa untuk membawa hyung ke sana." Jawab Minhyuk asal. Jonghyun membulatkan matanya.
"Mwo? Aish, awas kalau kau benar-benar menelepon rumah sakit jiwa itu. Aku baik-baik saja." Ujar Jonghyun sambil mengacak-acak rambutnya. Minhyuk hanya mengangkat bahu.
"Aku hampir menelepon, hyung. Lihat ini." Ujar Minhyuk sambil mengacungkan ponselnya. Di layar ponsel itu sudah terketik rapi sederet angka asing. "Nomor ini benar-benar nomor rumah sakit jiwa yang aku dapat setelah googling." Lanjut Minhyuk tanpa rasa bersalah. Jonghyun hanya mampu menatap Minhyuk tidak percaya dan kehilangan kata-kata. Tanpa berniat untuk menanggapi dengan serius perkataan Minhyuk, namja itu segera mengalihkan pandangannya ke lemari pakaian yang ada di samping tempat tidurnya.
Karena merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Jonghyun, Minhyuk melenggang masuk ke kamar dan tanpa disadari telah berada di belakang namja yang masih sibuk membongkar-bongkar lemarinya.
"Apa yang kau lakukan, hyung?" tanya Minhyuk sambil melongok ke dalam lemari melewati bahu Jonghyun. Jonghyun yang baru menyadari ada Minhyuk di belakanganya terloncat kaget dan menggerutu pelan.
"Aish, kau ini! Kenapa tiba-tiba ada di belakangku? Mengagetkan saja." Minhyuk tidak mempedulikan gerutuan hyungnya. Dia malah memiringkan salah satu sudut bibirnya dan melihat dengan sudut matanya saat mengetahui apa yang dilakukan hyungnya itu.
"Astaga, kenapa hyung hobi sekali memberantakan barang-barang sih? Lihat itu, baju hyung yang sudah aku tata rapi malah dengan seenaknya hyung acak-acak begitu saja. Kapan hyung belajar untuk rapi sedikit saja? Ckck." Decak Minhyuk kesal. Dirinya yang memang terkenal sebagai member paling bersih dan rapi dalam kelompoknya hanya bisa memandang nanar pada hasil kerjanya pada tumpukan baju di lemari Jonghyun. Sebersit penyesalan muncul dan membuatnya berjanji tidak akan lagi mau membereskan isi lemari hyungnya itu.
"Sudahlah Minhyuk-aa, jangan menceramahiku tentang itu. Lebih baik sekarang kau ke kamarmu dan biarkan aku memilih pakaian. Sudah sana." Usir Jonghyun halus pada dongsaengnya. Minhyuk menatap tidak percaya setelah mendengar perkataan Jonghyun.
"Mworago? Kau mengusirku hyung? Sebenarnya ada apa denganmu hyung? Hyung tidak salah makan kan?" tanya Minhyuk khawatir yang segera dibalas oleh delikan tajam dari Jonghyun.
"Aniyo. Sudah kubilang kalau aku baik-baik saja. Aish, anak ini benar-benar." Jawab Jonghyun yang masih saja mengacak-acak tumpukan bajunya seolah mencari sesuatu yang disembunyikan di dalam sana. Minhyuk hanya mengangkat bahu dan akhirnya memutuskan untuk keluar kamar sebelum ia diusir untuk yang kedua kalinya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan keluar." Jonghyun menoleh sebentar untuk memastikan kalau Minhyuk benar-benar keluar dari kamarnya. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa lagi yang akan mengganggunya, namja itu kembali melanjutkan pencariannya akan sesuatu. Hanya berselang sepuluh menit setelah Minhyuk keluar dari kamarnya, ia menemukan apa yang dicarinya.
"Nah, ini dia! Aku akan memakai ini saja. Semoga dia suka dan… yah, memuji penampilanku." Gumam Jonghyun senang. Tanpa membuang waktu lagi, namja itu menyambar handuk yang berada di penyangga topi miliknya dan berjalan memasuki kamar mandi. Waktu masih menunjukkan pukul 5 sore yang berarti masih ada 3 jam lagi sebelum ia harus menjemput Yoona. Namun, menuruti saran Yonghwa, ia harus melakukan sesuatu sebelum mencapai tempat yeoja itu. Karena itulah ia bersiap-siap lebih awal.
Selesai mandi dan berganti pakaian serta berdandan sewajarnya, Jonghyun mengambil kunci mobilnya dan keluar dari dorm. Minhyuk yang telah tertidur pulas di kamarnya tidak melihat saat Jonghyun pergi. Dengan langkah ringan, Jonghyun memasuki lift dan menekan tombol basement dimana mobilnya berada. Selama di dalam lift, bayangan Yoona tak pernah lepas dari pikirannya. Bayangan itu pula yang terus menemaninya selama ia mengendari mobilnya ke suatu tempat, membelah jalanan kota Seoul yang ramai oleh pejalan kaki dan pengendara lainnya.
Sementara itu di dorm SNSD, Yoona mulai kewalahan menghadapi cecaran pertanyaan dari eonnideulnya. Beruntung Seohyun tidak ikut mencecarnya. Itupun karena Yoona tahu kalau maknae SNSD itu tidak terlalu ambil pusing dengan pokok bahasan kali ini, yaitu namja.
"Yoong-aa, apa kau serius? Kau tidak bercanda kan?" tanya Sooyoung heboh. Dia sampai menggoncang-goncangkan bahu Yoona hanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ne, Sooyoung eonnie, aku serius. Dan berhenti mengguncang-guncangku! Appo." Jawab Yoona sambil melepaskan diri dari tangan Sooyoung.
"Tapi… apa kau tahu artinya ini Yoong? Dia mengajakmu makan malam dan jalan-jalan. Apa kau tahu resikonya?" kali ini Tiffany angkat bicara.
"Aku tahu Fany eonnie. Aku bukan anak kecil lagi." jawab Yoona sambil memamerkan senyum manisnya yang terlihat sedikit dipaksakan.
"Itu berarti kau dan Jonghyun benar-benar …? Maksudku, hubunganmu dengan dia …?" tanya Sunny sedikit terbata-bata. Mulutnya membuka dan menutup, berusaha untuk menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya namun tidak tersampaikan.
"Aku dan dia hanya teman, Sunny eonnie. Yah, setidaknya sampai saat ini." Jawab Yoona sambil mengedikkan bahu tidak yakin.
"Kalau hari ini dia memintamu menjadi yeojachingunya bagaimana Yoong?" tanya Taeyeon yang membuat semua orang terdiam. Termasuk Seohyun yang sedari tadi menjadi penonton setia kedelapan eonnienya. Mereka semua menatap Yoona yang tergeragap mendengar pertanyaan Taeyeon barusan.
"N… Nde? Yeoja… chingu? A… Ah, apa mungkin Jonghyun oppa…" jawaban terbata-bata dari Yoona segera dipotong oleh lengkingan pertanyaan dari Jessica.
"Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kau bahkan sudah memanggilnya oppa, Yoong-aa. Apa maksudnya ini?" Yoona mendekap mulutnya tidak percaya. Bagaimana bisa aku kelepasan seperti ini? Aish, rutuk yeoja itu dalam hati sambil memukuli kepalanya pelan.
"Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku memanggilnya oppa karena dia yang meminta, sungguh. Lagipula apa salahnya? Toh dia memang lebih tua dariku meski hanya 15 hari." Jawab Yoona mengutip alasan Jonghyun sebelumnya.
"Lalu, lalu bagaimana dengan… kau dan… Donghae oppa? Kalian… ani, maksudku apa dia tahu ini? Apa dia tahu kalau Jonghyun dekat denganmu akhir-akhir ini?" tanya Yuri. Semua menganggukkan kepala mendengar pertanyaan yeoja itu dan diam menunggu jawaban Yoona. Mereka telah lama curiga dengan hubungan Donghae dan Yoona yang sepertinya tidak baik-baik saja.
"Ah, itu. Mianhae eonnie, aku belum sempat memberi tahu kalian. Aku dan Donghae oppa…" ucapan Yoona terhenti dan disusul dengan perubahan ekspresi di wajahnya. Yeoja itu tampak menggigit bibir bawahnya yang semakin menimbulkan prasangka buruk dalam pikiran member lainnya.
"Apa Yoong? Kau dan Donghae oppa apa?" tanya Hyeoyeon lirih. Meskipun begitu, semua member masih dapat mendengarnya dengan jelas. Sejelas jawaban Yoona yang hanya terdiri dari dua kata. Dua kata yang mereka tahu adalah penjelasan sesungguhnya dari keanehan Yoona belakangan ini.
"Kami putus." Bahu Yoona melorot turun dan kepalanya tertunduk, berusaha menyembunyikan isakan pelan yang tidak mampu ditahannya. Kedelapan yeoja yang berada di ruangan itu saling pandang. Seketika itu juga Yoona mendapat pelukan dari berbagai sisi.
"Uljima Yoong, mian kalau kami kurang peka. Sshh, uljima." Hibur Taeyeon sambil mengusap lembut puncak kepala Yoona. Yeoja itu masih tergugu dan membuat mereka semua khawatir.
"Tidak apa-apa eonnie, tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkan kalian." Bisik Yoona di sela-sela isakannya. Taeyeon dan Yuri membimbing Yoona menuju sofa dan mendudukkannya di sana. Hyeoyeon yang mendapat tatapan cepat-telepon-Eunhyuk dari Jessica segera mengangguk paham dan mengambil ponselnya yang berada di kamar. Tanpa perlu waktu lama benda itu sudah berada dalam genggamannya. Jarinya mengetikkan sebuah nama di kontak ponselnya dan menekan perintah call begitu nama itu terpampang di layarnya.
"Yeoboseyo. Oppa, ada yang ingin kutanyakan. Tentang Donghae oppa."
