Selamat datang kembali! Chapter sembilan sudah rampung :") bentar saya menangis dulu... hiks.

Jadi di chapter ini akan banyak hal yang terjadi... terutama pada Luc dan Sasarai, sang kembar tokoh utama di cerita ini~ Mau curhat sedikit, walau saya paling suka genre Adventure/RPG gitu-gitu, namun sebenarnya saya selalu memutar otak untuk mencari kata-kata yang tepat menggambarkan pertarungan yang terjadi di dalam cerita. Terkadang langsung stuck begitu di bagian jotos-jotosan XD Makanya sudah sampai sejauh ini, semoga apa yang saya niatkan tersampaikan~

Selamat menikmati chapter 9, silahkan dibaca :)


Exceeding Love: Land of Eternity.

.

.

Disclaimer : Suikoden is Konami's.

Warning : AU, OOC, OC, Random, etc.

.

.

Bola cahaya kecil terus bercahaya di dalam kegelapan hutan, menelusuri jalan yang tidak pernah ditemukan sebelumnya. Langkah kaki terdengar mengikuti bola cahaya itu, terus tanpa henti. Hingga bola itu berhenti di depan sebuah situs tua. Terlihat tidak terawat dengan tanaman menjalar menempel pada dinding batu situs tersebut. Lalu pintu batu yang sudah runtuh setengah, membuat sang pengunjung dapat mengintip betapa gelapnya di dalam situs itu. Namun ada hal janggal dari situs tua, hembusan angin datang dari dalamnya.

"Kita sampai." Ucap seorang gadis dengan rambut ikal mint yang khas, kini kedua mata burgundy miliknya melirik ke arah pemuda ash-brown di sampingnya, "Luc… Takdirmu ada di sini."

Pemuda bernama Luc itu masih memperhatikan baik-baik situs tua di hadapannya, "Seakan ada yang memanggilku… dari dalam situs ini, Marina." Ucapnya sambil mengangkat tangan kanan miliknya, menunjuk ke arah dalam situs.

Gadis bernama Marina itu terdiam sejenak. Sesaat kedua mata burgundy miliknya memperhatikan juga pintu masuk ke dalam situs. Kemudian menoleh ke arah langit oranye dan kepulan asap hitam, di sana sedang terjadi pertempuran. Luc juga melihatnya. Pemuda itu mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat khawatir. Bagaimana pun, di sana ada kakak kembarnya yang mungkin sedang bertempur mati-matian walau kondisi tubuhnya tidak prima.

"Jika kita tidak bergegas, maka pengorbanan mereka akan sia-sia." Kata Marina dengan suara nyaris tidak terdengar. Seakan menutupi emosi kesedihan miliknya. Marina sudah banyak melihat pertempuran yang tidak berakhir bahagia dan mengingatnya saja membuat gadis mint itu tidak bersemangat, "Luc, ayo kita masuk."

Kedua muda-mudi itu memutuskan untuk melanjutkan langkah mereka, memasuki situs tua jauh dari pertempuran yang terjadi. Marina menggunakan kristal yang ada pada tongkat sihirnya sebagai sumber penerangan, beserta bola cahaya kecil yang menuntun mereka. Setidaknya kini, Luc dan Marina bisa melihat jalan ke depan. Pemandangan yang tidak biasa, Luc hampir saja menginjak tulang-belulang manusia yang entah sudah ada di sana berapa lama. Pemuda itu menghela napasnya dalam. Perjalanannya tanpa Sasarai untuk pertama kali, dan tidak akan mudah tentunya.

"….Ah! Monster jelly-tengkorak..." seru Marina tiba-tiba, "Dari sekian banyak monster kenapa harus bertemu yang seperti ini…" umpatnya.

"Tu-tunggu… tulang-belulang ini hidup?" tanya Luc melihat secara ajaib tulang-belulang yang berserakan melayang, dan tersusun kembali layaknya rangka manusia berlapis jelly.

"Iya—ternyata begitu–dan jika kita tidak mengalahkan semuanya secara bersamaan maka…"

"Maka…?"

"Mereka akan hidup lagi dan lagi—"

Luc menelan ludahnya, mendengarkan penjelasan dan wajah suram Marina sudah cukup membayangkan betapa menyebalkannya melawan monster-monster tengkorak itu. Mereka terkepung, Luc dan Marina saling berpunggungan. Pemuda ash-brown mengeluarkan cincin sihir dari saku seragam New Leaf yang ia kenakan, lalu memakainya di jari tengah tangan kirinya. Pemuda itu sudah siap untuk merapalkan mantra-mantra sihir untuk menyerang.

"Luc, aku akan menghentikan waktu, lalu saat itu kau yang menyerang kumpulan monster jelly ini, oke?" ucap Marina sembari berbisik.

Luc mengernyitkan dahinya, "…Kau mau menggunakan runemu lagi? Tapi—"

"Tidak ada waktu, Luc. Kau ingin menyelematkan yang lain 'kan?" sahut Marina yang segera memakai kekuatan Rune of Time untuk menghentikan waktu, tepat sebelum salah makhluk tengkorak berjelly itu menyerang mereka dengan pedang berlapis jelly, "Cepatlah, aku tidak bisa berlama-lama menahan konsekuensi rune ini."

Luc mengangguk. Pemuda itu merapalkan mantra yang menyebabkan angin berhembus dengan sangat kencang di satu titik berputar, menyebabkan pusaran angin yang begitu dahsyat. Pusaran angin itu berputar mengelilingi posisi berdiri Luc dan menghempaskan monster-monster tengkorak jelly secara bersamaan. Tulang belulang seketika berserakan di lantai batu situs tua tersebut. Luc dan Marina menghela napas lega dan berlari melanjutkan penelusuran mereka. Kedua muda-mudi itu terus dihadang oleh monster-monster penunggu situs, hingga keduanya berhasil sampai dipenghujung situs. Terdapat ruang terbuka yang begitu besar. Dinding dan lantainya retak-retak dan dilapisi oleh tanaman-tanaman merambat yang lebat, dan terdapat sebuah patung besar berwujud burung yang sedang mengepakkan sayapnya. Di kepala patung tersebut, terdapat sebuah lambang yang terus menerus bersinar mengakibatkan angin berhembus mengelilingi patung tersebut.

"Tapi mengapa bisa… benar-benar ada di dimensi ini…" gumam Marina.

Luc memandangi patung besar di hadapannya,. Seakan dirinya terpanggil, Luc melangkahkan kakinya lebih dekat. Kedua mata olive miliknya tidak lepas dari pancaran cahaya hijau yang berasal dari kepala patung tersebut. Namun, tiba-tiba pemuda itu menjadi waspada. Luc menyadari satu hal, "Ada orang lain… di ruangan ini." Kata pemuda itu pada Marina.

Sesaat Luc mengatakan hal itu, tawa seorang wanita terdengar, "Fufufufufu… Aku sudah lama menunggu kedatanganmu, wahai pemuda." Seorang wanita berperawakan cantik dan mengenakan jubah khas layaknya seorang penyihir muncul dari balik patung besar.

"Windy.." ucap Marina, "Luc.. dia berbahaya."

.

.

Sasarai berlari di tengah kobaran api, pemuda itu membacakan mantra perlindungan untuk teman-temannya yang tengah bertarung melawan monster-monster serta pasukan istana. Kedua matanya selalu siaga melihat sekeliling, agar ia dapat menghindar jika mendapat serangan. Hugo, sementara itu, terus melakukan serangan secara berturut-turut pada monster besar dihadapannya. Tubuhnya berlumuran darah monster-monster yang telah ia bunuh sedari tadi. Setelah mati-matian bertempur, tubuhnya sudah mulai kehabisan tenaga. Lalu, Geddoe dan regunya tiada henti menyerang pasukan istana yang berusaha menerobos masuk ke area sekolah.

"Tidak ada habisnya… monster-monster ini." Ucap Sasarai, "Jika aku menggunakan sihir itu mungkin…." Selanjutnya, Sasarai melompat ke atas atap rumah dan memperhatikan sekelilingnya, "Bisa… Bisa digunakan." Ucapnya.

Sasarai menghela napas panjang sebelum merapalkan sebuah mantra. Pemuda itu memejamkan kedua matanya, dan mulutnya masih mengucapkan mantra. Hugo yang melihat Sasarai dibidik oleh pasukan istana segera melompat dan berdiri melindungi sang ketua OSIS itu. Pemuda bermata biru itu berkali-kali menangkis anak panah yang berterbangan ke arah Sasarai, sementara di bawah mereka Geddoe dan regunya melumpuhkan serangan pasukan istana.

Sesaat Sasarai membuka kedua matanya, getaran hebat terasa. Saat itu permukaan tanah tiba-tiba terbelah dan mengakibatkan lubang besar, membuat bangunan-bangunan runtuh, monster-monster yang berada di sana terjatuh bersama reruntuhan dan pasukan istana bercerai-berai berlari, ingin menyelamatkan diri. Sasarai kembali mengucapkan mantra dan permukaan tanah kembali menutup, getaran yang diakibatkan begitu besar. Sasarai… mengubur pasukan musuh hidup-hidup.

Sihir yang begitu dahsyat dan menyeramkan. Hugo memandangi punggung rekannya itu, dengan sekejap ia meluluhlantahkan pasukan kerajaan. Menyeramkan. Namun, pemuda berambut blonde itu menyadari, tubuh Sasarai hampir terjatuh. Nampaknya Sasarai mengerahkan seluruh energi miliknya. Hugo segera memegangi rekannya itu.

"Terima kasih… Hugo." Ucap Sasarai, wajahnya kembali pucat.

Hugo melihat darah kembali mengalir dari tubuh Sasarai, sehingga baju yang Sasarai kenakan kembali memerah, "Sasarai… lukamu terbuka lagi."

"Tidak apa." Sahut Sasarai, "Aku… harus melindungi semuanya. Ini tanggung jawabku." Hugo memandangi Sasarai dengan khawatir. Sasarai tidak akan bertahan lama jika terus menerus menggunakan sihir yang menguras energi seperti itu.

"Hugo, bawa pergi Sasarai dari sini." Tiba-tiba Geddoe berteriak membuat Hugo dan juga Sasarai sedikit terkejut, "Aku merasakan hawa pembunuh yang begitu kuat." Lanjut pria itu.

"Kau benar, Geddoe." Sambung Queen, wanita itu melirik ke segala arah memastikan dari mana hawa menyeramkan itu berasal.

Hugo dan Sasarai merasakan hal itu juga. Hawa pembunuh itu bahkan lebih menyeramkan dari monster-monster yang masih berkeliaran di angkasa. Membuat bulu kuduk berdiri karena rasa takut. Hugo menoleh ke segala arah, memastikan dalang dari hawa menyeramkan itu. Bahkan pemuda blonde itu tidak kuasa untuk membawa Sasarai pergi dari sana. Sekali salah melangkah, Hugo tahu bahwa mereka berdua diincar.

"Oi—Oi ada yang mendekat…" ucap Ace menunjuk sesosok pria yang berjalan di antara kobaran api.

Joker menelan ludahnya, pria paruh baya itu memperkuat kuda-kuda pertahanannya. Sementara Jacques mengarahkan anak panah pada sosok yang muncul dari kobaran api di hadapan mereka. Ketika anak panah itu dilandaskan, dengan mudahnya pria itu menangkis dan bahkan membuat anak panah milik Jacques terbelah menjadi dua. Geddoe semakin siaga, pria itu memasang badan untuk melindungi sang keturunan kerajaan.

"Khukhukhu…. Manusia berani juga khukhukhu…" ucap Pria serba hitam yang menunjukkan dirinya.

"Yuber…" gumam Sasarai, "Paman Geddoe dia—"

Sebelum melanjutkan perkataannya, Yuber melompat menyerang Sasarai. Tentu saja, Geddoe sama cepatnya untuk melindungi Sasarai. Geddoe dan Yuber sudah bertarung sengit. Hanya suara pedang yang bergesekan terdengar, keduanya sama-sama kuat. Di tengah kobaran api, pertempuran imbang terjadi. Namun, Yuber Nampak tidak terpengaruh dengan hal itu. Pria menyeramkan itu menyeringai dan bahkan tertawa. Sementara, Geddoe yang sudah bertarung terus menerus sedari tadi mulai kehabisan tenaga.

"Aku… Aku harus membantu Paman Geddoe!" seru Sasarai, "Mantra pertahanan…"

"Tidak! Sasarai jika kau memakai sihirmu lagi, maka keadaanmu semakin memburuk!" kata Hugo melarang Sasarai menggunakan kekuatannya lagi.

"KALIAN! BAWA SASARAI DARI SINI!" seru Geddoe di tengah-tengah pertempuran, "CEPAT!"

Ace dan Joker melompat ke atas atap rumah, tempat Hugo dan Sasarai berada. Joker menawarkan punggungnya, agar Sasarai dapat pergi dari sana. Setidaknya, mereka bisa merawat luka Sasarai yang terbuka karena terlalu memaksakan diri. Joker menggendong Sasarai, Hugo dan Ace segera melompat dan berlari di samping Joker untuk melindunginya. Queen dan Jacques mengikuti mereka dari belakang. Untuk saat ini, Sasarai yang terpenting.

Yuber yang melihat hal tersebut, segera bergegas untuk mengejar buruannya. Namun, Geddoe dengan tatapan dingin menghadang pria blonde itu, "Lawanmu adalah aku." Mendengar hal itu Yuber kembali menyeringai.

.

.

"Bagaimana rasanya bisa hidup kembali, Luc?" tanya Windy yang perlahan berjalan menghampiri Luc dan Marina.

"….." Luc terdiam tidak menjawab.

Marina berdiri di depan pemuda ash-brown seolah melindunginya. Gadis mint itu berkali-kali melancarkan serangan, sihir api, namun Windy dengan mudahnya melenyapkan sihir tersebut. Penyihir wanita berparas cantik itu terus mendekati mereka berdua. Marina melangkah mundur, diikuti langkah mundur Luc. Pemuda itu dapat mengetahui bahwa wanita di hadapan mereka berbahaya, auranya berbeda dengan Leknaat saat pertama kali bertemu.

"Apa maumu?" tanya Luc tiba-tiba.

Windy tertawa kecil, "Kerja samamu, Luc. fufufufu"

"Kerja sama?" tanya Luc bingung.

"Jangan dengarkan wanita itu, Luc!" seru Marina sembari menoleh pada pemuda di belakangnya itu.

Windy tiba-tiba membaca mantra dan menghasilkan sihir petir dari kedua tangannya, petir-petir itu mengarah pada Marina yang melindungi Luc. Tidak bisa menghindar, gadis itu terpental jauh, tubuhnya membentur tembok batu situs tua itu. Windy semakin mendekat pada pemuda ash-brown dihadapannya. Luc berniat untuk berlari menghampiri rekannya yang kesakitan dan mencoba bangkit. Namun Windy, tidak membiarkan hal itu. Tanaman sulur dari lantai situs menjalar pada tubuh Luc dan menahan gerakannya bahkan membungkam mulutnya.

"Kau akan mendengarkanku, Luc." Ucap sang penyihir wanita.

Luc menatapnya sinis. Pemuda itu mencoba untuk tenang, memandangi sekitar mencari cara untuk meloloskan diri karena ia tidak bisa membaca mantra karena tanaman sulur itu. Tiba-tiba kepala Luc diangkat paksa itu melihat ke arah sang penyihir wanita. Pemuda itu memfokuskan dirinya dua kali lipat dari sebelumnya.

"Aku membutuhkan jiwamu, Luc. Hanya kaulah orang yang dapat mengeluarkan kekuatan True Wind Rune sepenuhnya." Jelas Windy.

Membutuhkan jiwa? True Wind Rune?

"Aku akan membalas dendam pada negara itu… orang itu…" kata Windy dengan mata yang sangat dingin, "Dahulu aku sudah gagal karena campur tangan saudariku. Kini aku kembali mempunyai kesempatan khukhukhu.."

Orang itu?

"Dan kau akan menjadi alatku, Luc." Windy menyeringai, membuat Luc mencoba melepaskan diri. Namun tidak ada hasil. "Aku tidak butuh persetujuanmu khukhukhu… Kau akan menjadi bawahanku dan menuruti semua perintahku." Sambung penyihir wanita itu lagi. Kemudian, tangan Windy menggapai kepala Luc. Sang penyihir wanita itu membaca mantra hitam untuk memengaruhi pemuda ash-brown itu.

Tiba-tiba cahaya kecil yang sedari tadi menunjukkan jalan, terbang ke depan Luc. Sinar terangnya membuat Windy kehilangan fokusnya dalam membaca mantra. Seketika sulur yang menahan Luc menghilang. Kedua mata olivenya itu menangkap sesosok gadis yang terus menerus hadir di dalam mimpinya. Gadis itu tersenyum lembut pada Luc dan memeluknya sebelum sesaat kemudian kembali menjadi cahaya kecil.

Master Luc, aku pasti akan melindungimu.

"Sarah…" gumam Luc.

Windy yang kesal, secara bertubi-tubi menyerang Luc dengan sihir es-nya. Ribuan jarum-jarum es secara cepat melesat ke arah Luc. Luc menggunakan sihir angin membuat badai yang menghancurkan jarum-jarum es itu. Nampaknya amarah sang penyihir wanita itu semakin memuncak. Windy kembali menyerang Luc dengan sihir api, semburan api menyerupai cambuk raksasa itu menghantam Luc yang tidak sempat membaca mantra perlawanan. Tubuh Luc terpental dan pemuda itu meringis kesakitan. Panas, wajah dan tubuh pemuda itu terkena percikan api yang mengakibatkan luka bakar.

"Menyerahlah, Luc." Kata Windy dengan tatapan dingin, "Seharusnya kau berterima kasih padaku mengajakmu untuk balas dendam dengan orang yang sangat kau benci dulu."

"Apa maksudmu….? Orang itu?" tanya Luc yang mencoba bangkit. Pikirannya melayang mengingat-ingat. Jika ada hubungannya dengan mimpi yang merupakan ingatannya dahulu, tapi siapa orang yang Windy maksud?

Windy menyeringai, "Hikusaak. Demi keegoisan orang itu seluruh klanku dimusnahkan. Orang yang menciptakanmu sebagai wadah rune demi keegoisannya."

Hikusaak. Harmonia. Kedua mata olive itu terbelalak, memandangi Windy yang semakin mendekat. Ya. Pemuda itu mengingatnya, alasan utama Luc ingin menghancurkan true rune miliknya di kehidupannya dahulu. kemudian, pandangan Luc beralih pada patung burung yang bersinar di belakangWindy. Tidak salah lagi, itu adalah True Wind Rune. Kepalanya terasa sakit dan tiba-tiba emosi negatif menyelimuti pemuda itu. Kepulan asap hitam yang seakan mengepung Luc dalam kegelapan.

"Tidak akan kubiarkan!" seru Marina yang sudah bangkit, gadis itu menyerang Windy dengan sihir petir dan bergegas menghampiri Luc, "Luc! Jangan biarkan kata-kata wanita itu mempengaruhimu! Dirimu yang sekarang lebih kuat dari sebelumnya!" ucap Marina sembari memegang kedua pundak Luc. Sarah yang berwujud cahaya kecil mengelilingi pemuda ash-brown itu dan melenyapkan asap hitam.

Wajah Luc terlihat menahan rasa amarahnya. Pemuda itu mengigit bibirnya sendiri hingga darah mengalir dari bibirnya. Sihir hitam tadi membuat Luc mengingat semua dendam yang dipendamnya pada dunia saat dahulu. Namun, bayangan seseorang seakan menyelamatkannya dari pengaruh sihir Windy. Senyuman hangat orang itu membuat hatinya damai.

Kau adalah satu-satunya orang yang paling kubenci melebihi apapun di dunia ini tapi di sisi lain kau adalah orang yang paling kukasihani, Sasarai.

Pemuda itu menghela napasnya, teringat perkataannya dahulu. Luc tertawa sejadi-jadinya, begitu menyeramkan. Kemudian, dirinya berdiri menatap tajam pada sosok penyihir wanita yang juga memandanginya dengan rasa benci. Luc mengangkat tangan kanannya, seakan bereaksi dengan itu patung di hadapan Luc bersinar terang. Cahaya berwarna hijau itu menyelimuti seisi situs kuno dan tiba-tiba berpusat pada punggung tangan kanan Luc. Windy sangat geram melihat hal itu.

"Luc…. Kau benar-benar akan menggunakannya?" tanya Marina.

"Kau sendiri yang bilang padaku bahwa aku telah berbeda dengan diriku yang dulu." Jawab Luc tanpa melihat ke arah gadis mint. Pandangannya masih menatap lurus ke arah Windy. Pandangan pemuda itu dingin tanpa belas kasih.

Marina terdiam, tidak menyadari kedua kakinya melangkah mundur, dan kedua tangannya memegang erat. Aura menakutkan menyelimuti diri Luc. Luc tidak seperti biasanya, pemuda itu menyeringai menatap lambang true wind rune pada punggung tangan kanannya. Kemudian melangkah mendekati Windy dengan senyuman yang begitu menyeramkan.

"Kau bilang padaku, bahwa hanya aku yang bisa memakai kekuatan maksimal dari rune ini, kan?... Penyihir." Kata Luc dingin, "Kalau begitu akan kugunakan untuk mengalahkanmu."

Luc… apapun yang terjadi nanti… aku akan melindungimu

"Dan kau melakukannya, Sasarai…" gumam Luc sebelum menyerang Windy dengan true rune miliknya.

.

.

Dia selalu memandang jauh… Entah apa yang dipikirkannya, aku tidak tahu…

Kadang, ia menatap ke langit yang biru dengan tatapan sendu. Dinding yang begitu tebal seakan terbentuk mengelilingi dirinya.

Dia, selalu sendiri.

Tidak pernah menceritakan kisahnya pada siapapun… selalu menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Tetapi, walau begitu… dia tetap dan selalu peduli…

Dia memperdulikanku dengan caranya…

Luc… dia adik kembarku. Sedari kecil kami selalu bersama, walaupun kadang Luc tidak suka jika aku terus berkeliaran di sampingnya.

Sekarang… dalam keadaanku yang seperti ini…

Aku ingin bertemu Luc…

Sekali lagi….

Pandangan mata Sasarai begitu sayu. Kedua mata olive-nya memandangi langit yang seakan berwarna oranye akibat kobaran api. Walau begitu, jauh di atas sana bertaburan bintang-bintang. Miris. Ketika langit malam begitu indah, namun terjadi pertempuran di kota itu. Seakan esok pagi tidak akan pernah datang lagi.

"Pendarahannya tidak mau berhenti." Ucap Queen sembari melibatkan kain robekan untuk menahan pendarahan pada tubuh Sasarai yang terkena tusukan.

"Kalau saja Chris ada di sini…" gumam Hugo, "Dia memang tidak bergantung pada sihir, namun sihir elemen air-nya memiliki daya healing yang kuat."

Chris pasti sedang bertarung di suatu tempat di kota ini, pikir Hugo. Kedua mata birunya memandangi tubuh Sasarai yang disandarkan pada dinding batu, wajahnya kembali memucat. Sasarai menahan rasa sakit, sihir yang diberikan Marina mulai menghilang rupanya. Sementara Joker, Jacques dan Ace tetap berjaga di sekeliling tempat itu agar sang putra mahkota itu aman. Sasarai mencoba mendudukan dirinya dengan benar, berpegangan pada bahu Hugo di sampingnya.

"Paman Geddoe, apa dia baik-baik saja?" tanya Sasarai pada Queen.

Queen menggelengkan kepalanya, "Jangan mengkhawatirkan orang lain. Aku yakin Geddoe pasti akan menyusul kita ke sini."

Sasarai mengangguk. Namun, cepat atau lambat Sasarai tahu jika Geddoe tidak akan bertahan. Yuber, entah mengapa memiliki kekuatan yang menakutkan. Tidak seperti melihat Geddoe, walau wajah Geddoe sedikit seram. Memikirkan hal itu membuat Sasarai pusing, kemudian pemuda itu memejamkan kedua matanya. Entah mengapa keramaian pertempuran perlahan menghilang dan semuanya seakan menjadi gelap.

Perlahan, muncul setitik cahaya di dalam kegelapan itu. Saat Sasarai tersadar, dirinya hanya sendirian. Sakit dari luka pada tubuhnya tidak terasa sama sekali. Pemuda itu menoleh dan menyapukan pandangan, hanya ketiadaan yang ia lihat. Pemuda itu berlari menelusuri tempat itu, memanggil orang-orang yang seharusnya ada bersamanya saat itu. namun… tak seorang pun menjawab panggilannya.

Tiba-tiba Sasarai melihat sosok dirinya yang lain mengenakan pakaian layaknya seorang bishop lengkap dengan jubah biru dan topi besar. Sosok itu berjalan menghampiri dan berdiri tepat di hadapannya. Tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Sasarai. Sosok itu berkata pada Sasarai.

Terima kasih, sudah menyayangi Luc.

Di saat aku terlambat untuk mengulurkan tanganku, kau yang di sana bersamanya...

Sasarai tampak jelas mengenali sosok di hadapannya, walau sedikit lebih pendek dan wajahnya yang lebih dewasa, tetapi Sasarai tahu siapa yang sedang bersamanya saat itu. Seluruh teka-teki yang membayangi pemuda itu terjawab sudah. Sasarai menyambut uluran tangan itu dan tersenyum lembut.

"Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku selalu menyayangi Luc dan akan kulakukan demi bagianmu juga. Aku akan melindungi saudaraku apapun yang terjadi. Aku berjanji."

Terima kasih.

~To be Continued~


Chapter 9 selesaaaaiiii~~~ selanjutnya adalah final chapter dari cerita ini~~~~

Saya sudah meniatkan jika cerita ini habis di chapter 10 :"") daan... mungkin akan ditambah dengan satu chapter bonus setelah Final chapter sih ' ') Oh iyaa... untuk lagu yang menemani saya menulis chapter ini adalah lagu openingnya Kimi to Boku, judulnya Bye bye, walau iramanya ceria, tapi artinya bikin nyesek sebenarnya X"D sudah deh... dari pada saya ngoceh terus, sampai jumpa di Final Chapter~!