Apa yang bisa membuat suatu komplotan berpotensi bubar, ternyata- Maehara bahkan tidak habis pikir.
Dekat ini, akan ada event besar pentas seni sekolah. Event besar berarti satu kata: sibuk. Semenjak susunan panitia dibentuk, toa utama dan salon-salon kelas sering berbunyi memanggil murid keluar saat jam pelajaran, lampu-lampu sekolah menyala sampai malam; semuanya untuk mereka yang kerja keras mengurus ini-itu.
"Tahu nggak? Paskib latihan sampe jam segini soalnya kita mau nampilin formasi baru buat event itu." Rio berjalannya ikut tergesa karena langkah kaki Karma lebih cepat dari biasanya.
Butuh jeda sekian detik untuk Karma ganti melirik ke arahnya setelah lama berkutat dengan layar hape. "Oh, oke. Semangat."
"Kita pulang bareng kan nanti?"
Karma tiba-tiba putar arus. "Kak! Konsumsi sie humas kurang dua kotak!"
Rio mengekor ikut putar arus, "Kar-"
"Bentar, bentar. Kenapa, Kak? Oh, yaampun." Karma berlari ke koridor kelas tiga. Rio mengikuti, menunggu temannya itu selesai berbicara dengan senior (yang kebanyakan isinya Rio tidak mengerti).
"Oh, oke, aku lapor ke koornya dulu." Tapi begitu selesai bicara, Karma malah tunggang langgang.
"Eh, woi, Karma!" Rio berlari jadi ekor lagi. "Karma! Denger nggak sih aku ngomong apa?"
"Bentar, Rio. Bentaaar aja. Kamu tunggu ruang OSIS deh, nanti aku samperin. Yah?"
"Tap-" Yah, Karma-nya pergi. Mau gimana.
Rio berjalan gontai ke ruang OSIS yang lagi kosong melompong dan langsung duduk anteng di salah satu kursi yang melingkari meja rapat. Badannya menjulur ke atas meja, muka dipendam. Suram.
Sampai bunyi cklak pintu OSIS membuatnya bangkit semangat-
"Gaku-Gaku toh …" nadanya malas lagi. Rio kembali tengkurap di meja rapat.
"Ngapain kamu di sini?"
"Diem."
"Heh, ditanya baik-baik juga."
"Diem, aku lagi males ngomong."
"Nah itu ngomong."
"…" Rio menyandarkan diri ke kursi, mukanya luar biasa jutek. "Kamu rese banget sih."
"Sarap nih orang." Asano melewatinya begitu saja dan berjongkok menelusuri dokumen-dokumen di laci.
Ruangan itu hening. Cuma krasak-krusuknya lembaran kertas Asano saja yang menyelingi keheningan.
"Pake kaos oblong sama celana pendek kaya gitu di ruangan AC, nggak kedinginan kamu?" Asano sepertinya sudah menemukan dokumen yang dicari.
"Mm."
"Heh, ditanya baik-baik juga."
"Ngomong lagi aku piting nih."
Asano memutar bola mata. Kurang sabar apa coba dia ini. Ah, sudahlah. Pintu ruang OSIS ditutup. Rio kembali sendirian.
"… AC-nya nggak bisa dikecilin ya ini?" Eh, emang dasar.
"Apa aku ganti seragam aja ya? Tapi … kalo aku keluar terus entar Karma ke sini gimana?" Yah.
Rio mengangkat kaki ke atas kursi, lutut-lututnya dipeluk. Tiba-tiba ponselnya memanggil; ringtone pesan masuk.
"Karma?"
Remot AC-nya di loker B2
Rio mencelos. Bukan. Bukan Karma. Nomor siapa ini? Dan gimana cara dia tahu Rio kedinginan di ruang O-
"Gaku-Gaku toh …" gadis itu berpikir sebentar, dan membalas;
Panggilin Karma dong
Ringtone pesan berbunyi lagi satu menit kemudian.
Kata kakak koor dia barusan pulang
Tunggu. WTF?
Ringtone pesan berbunyi lagi.
Rio udah gelap ini, heran kamu kok nggak pulang?
Dan berbunyi lagi.
Serius, Rio. Bentar lagi sekolah tutup. Kamu ada barengan nggak?
Berbunyi lagi.
Heh, ditanya baik-baik juga
Rio langsung menonaktifkan ponsel. Rautnya masih antara percaya dan tidak. "Udah berapa lama aku nunggu di ruang OSIS?"
.
.
ilegal
[Assasination Classroom © Matsui Yuusei]
ungained-profit fic. mainly dorky friendship. setting: normal school life. up; perhaps semacam seriesfic begitu.
.
.
Yang diem-dieman dua orang, tapi satu angkatan bisa merasakan atmosfernya. Seperti ada awan kolumbus tiba-tiba menghadang di atas kepala begitu keduanya papasan atau berdekatan, tapi tidak ada seorang pun yang buka mulut; horor. Yang biasanya lengketnya mirip amplop dan perangko tiba-tiba jadi sejauh sabang ke maraoke.
"Mae, sini deh."
Maehara membubarkan pasukan haremnya. Adek-adek kelas itu kembali ke habitat masing-masing. "Apaan sih? Mukamu sampe serius gitu?"
"Yaampun, Mae. Angkatan kita lagi siaga tiga, kamunya malah main hati di sini."
"Eh, iya. Anak-anak pada kenapa sih? Kok kayanya hawanya nggak enak gitu. Apa cuma aku yang ketinggalan berita nih?"
Isogai tepok jidat. "Plis. Ini semua gara-gara sohib sepermainan kamu itu."
"Karma-Rio? Kenapa mereka?"
"Mereka lagi tengkar, gustiii. Mae kamu tuh apdet dikit napa. Cewek aja mulu yang diurusin."
"HAH?! KOK BISA?!" mustahil Maehara tidak heran.
"Makanya itu. Udah kamu ngapain kek biar mereka baikan lagi. Taruhannya satu angkatan nih."
Ngapain kek biar mereka baikan lagi. Maehara kudu ngapain?
"Mae, Mae! Lapangan. Liat lapangan!" Isogai menunjuk-nunjuk seseorang di lapangan dalam yang dikelilingi koridor tertutup. Entah kenapa, pinggiran koridor serasa ramai. Maehara mengedarkan pandang. Serius, ramai betulan ini. Murid-murid berbagai angkatan (kebanyakan kelas dua) mengerubungi koridor seperti menonton konser.
Bukan konser. Mungkin … ini lebih mirip detik-detik tanding gulat live kali ya? Maehara menenggak ludah. Fokus ke lapangan yang jadi pusat perhatian semua orang.
"Karma." Raut Rio tidak enak saat memanggil nama itu. Karma baru saja keluar dari ruang OSIS dan berjalan ke lapangan; langsung berhadapan dengan Rio.
Rio menyerahkan tumpukan kertas yang sudah diklip rapi (gayanya kasar dan ogah-ogahan). "Kalo bukan karena pres nggak masuk, mungkin aja aku nggak sudi nyerahin ini ke kamu."
Karma menerima kumpulan kertas itu, sekilas dibuka-buka. "Apa ini?"
"Rincian pendanaan paskib, Tuan Koor Perlengkapan."
"Hmm." Ada senyum lain di bibir Karma, bukan jahil, lain; lebih dari itu. "Then, kamu pikir aku sudi ngurusinnya?"
Segepok kertas itu rapi terbelah jadi dua hanya dengan sekali sobek.
Penonton di pinggir koridor menahan napas. Maehara tidak berkedip.
"Kamu ngarepin apa sih?" Rio malah semakin maju. "Nungguin aku nangis? Mati dulu sampe kuburanmu umur seribu tahun."
"Aku cuma mau ngajarin sopan santun ke cewek yang nggak punya tata krama kaya kamu."
"Ohya, baik banget. Kalo gitu kenapa nggak dari dulu ngajarinnya?"
"Dulu beda. Dulu cewek itu temenku."
Penonton menahan napas lagi.
"Kamu tau? 'Cewek yang dulu temenmu' itu nungguin di ruang OSIS sampe malem kemaren. 'Cewek yang dulu temenmu' itu pulang sendirian malem-malem kemaren."
"Jadi karna itu dia ngambek sampe jadi kurang ajar kaya gini? Tadinya aku mau minta maaf, tapi kok rasanya males gini ya?"
"Karma, kamu brengsek."
Karma putar balik berniat masuk lagi ke ruang OSIS. "Aku banyak kerjaan."
"Siapa yang kurang ajar di sini? Urusin aja terus kerjaanmu itu sampe botak, sampe mati mampus juga nggak apa-apa."
"Aku bilang aku banyak kerjaan, AKU CAPEK TAU NGGAK?! AKU TUH PUSING!"
"YA NGGAK USAH TEREAK JUGA, BANGSYYY-"
"Eh, woi, woi! Aksi kekerasan! Tolongin, tolongin!" Penonton panik begitu Rio dan Karma saling mengadu fisik, beberapa langsung terjun dan berusaha memisahkan keduanya. Lapangan rusuh saat itu juga.
Maehara tidak bergerak dari tempatnya. "Parah. Ini parah. Ayo Mae … pikirin sesuatu ... pikirin sesuatu …"
.
.
.
Awan kolumbus belum juga pergi menghembus. Tapi hari lewat demi hari, sampai akhirnya event besar sekolah sudah di depan mata. Tataan acaranya rapi dan meriah. Siapa dulu para koor yang bekerja siang malam demi hari ini. Panggung megah di lapangan upacara dan kursi-kursi berjajar menunggu untuk diisi di acara penutup nanti.
"Riooo!" Maehara menghampiri sambil nyengir. "Huuiih, cantik bener kamu. Paskib mau tampil ya?"
Rio ikut nyengir. "Iyadong! Nanti liat aku tampil, okay?"
"Aku paling depan kalo urusan begituan mah." Keduanya terbahak.
"Oiya, pas penutupan nanti duduk bareng yuk! Di deret yang situ tuh." Maehara menunjuk-nunjuk salah satu deretan kursi di daerah panggung utama.
"Oke. Sampe ketemu di penutupan!"
"Daaah!" Maehara menghembus napas lega. Sepertinya dia akan sibuk sekali hari ini. "Oke, sekarang tinggal si kutil satunya, sama…"
.
.
Begitu masuk jam penutupan, Rio mencari-cari kursi yang tadi dimaksud Maehara. Banyak yang sudah penuh terisi murid lain membuatnya sedikit bingung.
"Ah, Mae!" Dan Rio menemukan, "… kok?"
Karma di sini juga?
"Ehehe, sini, sini! Depannya kita." Maehara berusaha menghilangkan petir yang tiba-tiba menyambar. Tangannya menepuk-nepuk kursi di depan Karma; sedang Karma duduk di sampingnya.
Beberapa pasang mata mulai melirik. Sungguh, Rio tidak ingin bikin keributan di tempat (dan suasana) seperti ini, akhirnya memilih duduk anteng di tempat yang di-booking Maehara.
"Eh, aku tadi liat loh paskib-nya keren banget!" Benar-benar deh, Maehara harus membuka percakapan.
Rio melempar senyum dari balik bahunya. "Tengs."
"Ah, bentar ya aku mau beli minum dulu di stan bazar situ. Haus." Maehara cepat-cepat cabut. Sekarang tinggal menunggu keduanya bicara. Sungguh, yang mereka butuhkan cuma bicara dan- voila! Rencana sukses.
Atau tidak.
Sampai panggung utama dimulai, belum ada dari keduanya yang buka suara.
"Ck, nggak keliatan ih panggungnya. Silau banget sih depanku ini, udah tingginya kaya valak pula."
Tapi tidak saat band kesayangan Karma tampil.
Rio memutar tubuh ke belakang. "Ngomong sekali lagi?"
Karma menyedot susu stroberi sebelum mengulang, "Udah silau, tinggi se-tiang, tuli pula."
"Kamu bener-bener ya, Karma? NANTANG BANGET SIH INI ANAK!" Rio berdiri dan membuang kursi.
"MINGGIR WOI. BAYAR SAMA AJA BELAGU. AKU JUGA PENGEN NONTON NIH." Karma berdiri, kursi-kursi berderit.
Murid-murid sekeliling sontak panik berhamburan.
"HOI, HOI, HOI!" Dari selatan, Asano datang berusaha memisahkan Rio dan Karma yang mulai jambak-jambakan dan bogem sini-bogem sana. "EH, SETOP, KAMPRET! SETOOOP!"
Tiba-tiba mereka langsung berhenti.
"Kalian apa-apaan sih?! Mau ngerusak event ya?! Gulat sana di UKS, jangan di sini!"
"Ohiya, yang bikin aku selama ini sibuk kan gara-gara Gaku ya?"
Asano angkat alis. "Ha?"
"Gaku yang ngangkat aku jadi koor kan?"
"Oooh," Rio menggeletukkan jemari. "Yang bikin aku jadi kacang goreng tiap hari gara-gara Karma sibuk itu ulahnya Gaku-Gaku?"
Asano angkat dua alis. "Hah?"
"Rio, daripada kita tengkar nggak jelas gini, kenapa nggak kita mampusin aja sekalian si ketua OSIS ini?"
"Hmmm, hmmm, yaampun aku setuju banget kalo itu mah."
"Heh. Tunggu, tunggu. TUNGGU. BERANI MAJU LAGI KULAPORIN ABAH." Yha. Ada yang jago kandang.
Apa yang bisa membuat suatu komplotan berpotensi bubar, ternyata- tidak juga, Maehara selalu punya solusinya (sudah termasuk menumbalkan pihak ketiga).
a.n. dear, friend. jangan sibuk sendiri yah. kalo emang sibuk, sibuknya jangan sambil jualan kacang:')
ada yang pernah pengalaman (juga)?
