Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Plot: nona fergie kennedy

Warning: AU, OOC, Abstrak, Typo

Fiksi terinspirasi oleh film Danny The Dog and Resident Evil: Damnation

Selamat membaca ya…

.

#

.

Setelah selesai sarapan pagi, Naruto bergegas ke ruang kamarnya meninggalkan Deidara yang menatapnya aneh.

Naruto membungkuk mengambil koper berukuran sedang di bawah ranjangnya, kembali berdiri dan berjalan menuju lemari; membukanya melemparkan beberapa pasang pakaian secara asal ke ranjang. Setelah rasanya cukup buat 'kebutuhannya' di konoha, ia mulai melipat bajunya—

Drrt! Drrt! Drrt!

—mendecak kesal merasakan ponselnya bergetar. Ia merogoh ponsel di saku celananya cepat, menaruhnya di ranjang lalu menekan tombol speaker, dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. "halo?" ucapnya malas.

"Suaramu tidak semangat begitu. Padahal aku membawa berita baik."

"Oh!" wajah Naruto sumringah seketika mendengar suara Sasuke. "Bagaimana?"

"Hn, aku berhasil dapat kapalnya. Kita bisa berangkat ke konoha pagi ini."

"Terima kasih Sasuke! Kau memang sahabat yang bisa diandalkan, dattebayo!"

"Hn," sahut Sasuke diiringi tawa kecil.

"Bye!" Naruto menutup ponselnya kemudian menghela napas panjang. Iris shappire-nya terbuka pelan menatap keluar jendela.

Sudah tiba saatnya, dimana semua misteri Sakura akan berakhir...

"Aku ingin kau tidak terlibat lebih jauh lagi tentangku."

Entah kenapa perkataan Sakura terlintas di pemikiran Naruto membuatnya sedikit termenung sesaat.

"Aku berpikir bahwa semakin ke depan, semakin masa laluku mulai semakin jelas, aku merasa bahaya semakin jelas."

Senyum sedih Sakura yang berikutnya melintas.

Mungkin Sakura benar... Mungkin tak seharusnya ia ke sana. Lagi pula Sakura juga menginginkan hal tersebut.

'Tidak,'

Naruto menggelengkan kepalanya; tidak akan pernah ia biarkan Sakura menempuh cara itu lagi.

"Seberapa bahaya pun itu aku akan membawamu pulang Sakura-chan. Dan... Kita bisa bersama lagi..." Naruto bangkit berdiri; menyambar kopernya dan berjalan keluar kamar...

Ia akan membawa pulang gadis yang dicintainya bagaimana pun caranya...

.

#

.

Ingin rasanya Naruto mengucapkan sumpah serapah pada sahabat 'teme'-nya. Satu jam sudah ia menunggu di pelabuhan tokyo sesuai perkataan Sasuke namun tidak ada tanda-tanda pria itu akan muncul.

Tarik semua kata-kata pujian yang dilontarkannya sewaktu berkemas. Tarik. Sekali lagi.

"Dimana dia?" Naruto berguman seraya menggertakan giginya, mata birunya yang tertutup kacamata hitam bergerak dalam gelisah sebelum akhirnya dengan kesal ia merogoh kantung bajunya; mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi si 'teme'.

'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau—'

Mendapat suara operator yang menjawab, Naruto dengan geram memencet tombol 'end'. "Apa-apaan si teme pakai acara mematikan ponselnya segala?" umpatnya kesal.

"Apa maksudmu?"

Naruto menoleh, mendapati Sasuke berdiri di belakang mengerutkan alisnya tak kalah kesal sepertinya.

"Kau lama sekali teme!"

"Cih," Sasuke mendecak kesal. "Kau itu sudah bagus aku mau ikut."

Naruto menggerutu jelas sebagai jawaban.

Pria berambut hitam itu membuang muka perlahan. Padahal cuma telat satu jam saja sampai segitunya. Ia telat juga dikarenakan berbenah buat ke konoha sama seperti halnya Naruto.

Semenjak hubungannya dengan Hinata memburuk Sasuke harus mengurus semua sendirian termasuk bersih-bersih, ia tampaknya sudah tak sudi ada pembantu di rumahnya. Sebenarnya Sasuke lah yang mencari gara-gara sama Hinata; dengan teganya Sasuke mengusir wanita muda itu. Ia lelah akan semua cinta Hinata yang ditujukan padanya padahal sudah jelas Sasuke terang-terang bilang bahwa ia tak mencintainya, Sasuke hanya mencintai satu wanita. Dan itu adalah...

"Mana perahunya teme?"

Mata onyx Sasuke mengerjap-ngerjap. Gerutuan Naruto sudah selesai rupanya, "Sebelah sini."

Naruto menaikan sebelah alisnya saat Sasuke berjalan menuju pondok-pondok kecil di pesisir pelabuhan. Bukannya mereka akan naik kapal besar bersama turis yang agar tak terlihat mencolok? Namun akhirnya mengangkat bahu tak peduli dan mengikuti langkah sahabatnya...

Tempat yang dituju Sasuke sebuah rumah kecil bercat biru gelap yang paling terakhir. Ia melangkahkan kakinya ke dalam_hingga terhenti mendadak saat matanya tanpa sadar menoleh ke samping.

"Aduh apaan sih Sasuke kok berhenti tiba-tiba?" gerutu Naruto memegangi hidungnya yang bertubrukan dengan punggung Sasuke.

Bukannya menjawab Sasuke justru melewatinya begitu saja—berjalan menuju ke seseorang pria paruh baya yang tengah asik berbenah di dalam kapal boat berukuran cukup besar.

"Paman Obito!"

Pria paruh baya yang bernama Obito lantas menoleh dan melambaikan tangannya. "Ah, Sasuke-chan..."

"Hmpft..." Naruto berusaha mati-matian menahan tawanya mendengar sufix yang sangat tabu bagi seorang Uchiha Sasuke.

Biasanya bila ada yang berani memanggil Sasuke pakai embel-embel 'chan' bisa dipastikan orang tersebut akan masuk penjara seketika itu juga karena berhasil mengancurkan martabat Uchiha tapi karena ini pamannya Sasuke, mana mungkin sahabatnya itu tega melakukannya.

'Ya, eh Sasuke-chan?' batin Naruto menyeringai.

Pipi Sasuke merah padam. Bisa-bisanya pamannya itu bercanda di saat darurat begini. "Paman apa kapalnya sudah siap?"

Obito mengacungkan jempolnya. "Tentu siap. Apa pun buat Sasuke-chan!" jawabnya semangat lalu tertawa yang entah terdengar mengejek di telinga Sasuke.

"Hn," Sasuke menyahut singkat dan masuk ke dalam kapal diikuti Obito dan Naruto. "Makan waktu berapa perjalanannya kira-kira paman?"

"Malam ini, kalian bakal sampai di sana,"

"Oh,"

Naruto berpikir sebentar. Itu pas sekali waktunya. Lebih baik memang malam hari. Dan teringat sesuatu, ia mengangkat kopernya. "Sasuke aku ke kamar duluan ya?"

Sasuke mengangguk.

Obito melemparkan sebuah kunci emas ke arah Naruto. "Nih kunci kamarmu, Naruto."

Naruto dengan sempurna menangkap benda itu lalu nyengir sebelum pergi mencari kamarnya.

Tak susah mencari kamarnya di dalam kapal boat berukuran sedang ini. Naruto memasukan kunci ke dalam lubang pintu, memutarnya sampai terdengar bunyi 'klik', ia mendorong kenop pintu lalu masuk—duduk di pinggir ranjang kecil sambil menekan tombol nomor telepon Ino.

"Hai, handsome,"

Naruto memutar bola matanya mendengar nada sambutan penuh 'flirt' dari sahabatnya, sebelum tertawa pelan. "Ino bisa kau bicara lebih normal?"

"Hm..." Ino bergumam sebentar, mengubah posisinya menjadi terlentang di atas kasurnya. "Aku sedang di mood baik nih, ternyata konoha negara yang indah loh!"

"Benarkah?" Naruto bertanya tak percaya. Bagaimana bisa negara yang sedang mencari kemerdekaan itu negara yang indah?

"Tentu saja! Kau bakal terkejut nanti kalau sudah sampai sini!"

Naruto teringat sesuatu. "Hei, aku akan tiba malam ini, jadi aku butuh bantuanmu biar bisa melewati pemeriksaan."

"Kenapa malam-malam sih? Aku bisa dicurigai tahu!" Ino menggerutu. "Jam berapa memangnya sampainya?"

Naruto berpikir sebentar. "Aku sendiri tidak tahu, hehehe..." sahutnya kikuk, kemudian terdengar suara mesin, sepertinya sudah waktunya berangkat. "Nanti aku hubungi lagi. Aku mau berangkat."

"Ok,"

Naruto menekan tombol 'end' setelahnya merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan mata shappire-nya.

Wajah Sakura kembali singgah di pemikirannya membuat senyum terukir di bibirnya.

"Aku datang Sakura-chan..."

.

#

.

Naruto mengerjap-mengerjapkan matanya yang lelah, yang disambut oleh cahaya rembulan. Ia mengerang pelan menutupi iris shappire-nya dari cahaya lembut itu memakai telapak tangannya. Untuk beberapa detik pemikirannya kosong.

Cahaya bulan... ?

Naruto bangun seketika dan lari menuju jendela menatap ke atas mendapati langit telah berubah gelap dihiasi ribuan bintang-bintang. Sungguh indah; sudah malam rupanya, ia tertidur lama sekali dan sekarang perutnya mulai berbunyi meraung minta makan.

Naruto melangkah keluar setelah sebelumnya mencuci wajahnya; baru saja selesai mengunci kamarnya, ia sudah disambut oleh nada datar Sasuke.

"Selamat malam, tukang tidur,"

Bibir Naruto manyun mendengarnya. Mood-nya jadi turun lagi. "Selamat malam juga tukang tidurin wanita," balasnya tak mau kalah.

"Cih," Sasuke membuang muka. "Kau kalau mau makan, masak sendiri sana,"

"Aku kan punya ramen cup!" Naruto nyengir lima jari, memperlihatkan ramen instan di tangannya.

"Serius dobe," Sasuke berucap saat Naruto melewatinya. "kau bisa mati kalau terus-terusan makan-makanan tak bergizi itu."

Sungguh rasa cinta Naruto pada ramen itu kelewat berlebihan di mata Sasuke, ia masih ingat sewaktu ke rumah pria itu setelah menyelidiki soal mayat di dalam gedung; kulkas sahabatnya penuh dengan ramen instan, dan hanya satu yang bergizi di dalamnya yaitu susu. Itu pun susu dalam kemasan.

"Blablabla, aku tidak mendengarmu," ucap Naruto sambil menutup telinganya terus melangkahkan kakinya menuju dapur. "Lebih baik kau urus dirimu sendiri saja, kau juga kerjaannya minum alkohol yang tidak ber-gi-zi terus,"

"Terserah kaulah," sahut Sasuke, ikutan kesal disinggung soal kebiasaan buruknya lalu lanjut melangkahkan kakinya keluar kapal.

Naruto menjulurkan lidahnya merasa menang adu debat kali ini; ia bersenandung ria menuju dapur.

Tidak ada siapapun di sini...

Naruto mengambil work pan, memenuhinya dengan air lalu mulai memasak. Sambil menunggu airnya mendidih lebih baik duduk saja—"Uhuk... Uhuk..." —langkahnya terhenti, Naruto buru-buru menutupi mulutnya dengan tisu yang diambilnya di meja, dan kembali terbatuk, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Beberapa detik kemudian berhenti juga batuknya, ia menjatuhkan tangannya dan kembali terkejut mendapati ada noda darah di tisu. "Lagi. Kenapa?" gumamnya, belum selesai sampai sini, penglihatannya mulai kabur, ia mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha fokus yang sayangnya gagal, lalu tubuhnya ambruk seketika di lantai.

.

.x.

.

Usai rapat membosankan selama dua jam, Ino memutuskan berkeliling di sekitar pantai. Matanya sesekali melirik mencari tempat yang cocok untuk dijadikan pemberhentian kapal Naruto. "Hm," ia bergumam tertarik melihat sebuah tempat ajang loncat tebing oleh para turis. Matanya kembali melirik sekitarnya; dan bergumam puas. "Perfect,"

Ino kembali melangkahkan kakinya, berjalan-jalan di pantai membuatnya haus, ia mampir di sebuah kedai es serut. Duduk di paling pinggir setelah sebelumnya memesan satu es serut. Ia melirik kembali ke sekitar kedai sebelum kemudian mengambil laptop di dalam tasnya. Membuka beberapa dokumen rahasia yang berhasil di bajaknya dari laptop Tsunade.

Ino mengetik nama Sakura saja mengingat dirinya tidak tahu nama keluarga gadis tersebut... dan menemukan ratusan nama tertera dari hasil pencariannya. Ia menghela napas, dengan sabar membuka satu per satu data tersebut.

Seorang wanita muda membawa pesanannya, menaruhnya di meja. "Selamat menikmati, nona." ujarnya.

Ino balas memberi senyuman sebelum fokus kembali pada laptop miliknya. "Mungkin Sakura bukan seorang penjahat," gumamnya setelah selesai membaca ratusan data itu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi seraya memejamkan mata.

'Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan kalau aku tidak dapat informasi apa pun? Sepertinya Naruto salah. Padahal dia akan ke sini nanti malam.'

Merasa buntu, Ino memutuskan untuk memakan es serutnya yang kini mulai mencair. Sepertinya ia harus mencoba untuk membajak beberapa file di kepolisian...

"Aku pasti sudah ditendang duluan baru sampai di depan pintu," gumamnya sambil mengaduk-aduk esnya suram.

"Jadi nona Sakura sudah kembali ya?"

"Ya begitulah,"

Eh?

Ino memasang telinganya, tertarik mendengar kata 'Sakura' di tengah pembicaraan wanita yang tadi membawakan es serut padanya.

"Dia kembali dua minggu yang lalu bersama nona Karin. Suamiku sampai kaget melihat mereka berdua loh!"

Mata Ino membulat tak percaya. Itu adalah hari dimana Sakura hilang!

"Nona Sakura terlihat lelah. Mungkin dia capek setelah kuliah di tokyo langsung ke konoha."

Ino menautkan alis bingung. Kuliah di tokyo? Sakura? Yang ada gadis itu terus tinggal di rumah Naruto! Apa yang sebenarnya terjadi di sini sih?

"Masa? Dapat dari mana uang sebanyak itu?"

"Kau tahu lah nona Tsunade adalah bibinya, dia mengurus nona Sakura dan nona Karin setelah kedua orang tua mereka meninggal, dia pasti memberikannya,"

"Aku mau pesan es serutnya dua rasa strawberry!"

"Baik,"

'Sepertinya hanya sampai sini saja pembicaraan kedua wanita itu.'

Ino berpikir keras kali ini. Tsunade menyembunyikan fakta soal kebenaran Sakura sewaktu di tokyo. Untuk apa melakukan hal tersebut? Ada sesuatu yang janggal dari wanita muda itu. Ino menghela napas akhirnya, ia harus mulai dari awal lagi... menyebalkan.

.

#

.

"Nar.. uto..."

"Ng..." Naruto mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat; ada bayangan laki-laki berambut hitam berseru padanya...

"Naru... to..."

"Dobe bangun ada ramen!"

Mata shappire Naruto langsung terbuka sepenuhnya mendengar kata ramen. Ia menatap seluruh penjuru ruangan kikuk. "Mana ramenku, dattebayo?"

"Tidak ada ramen bodoh," jawab Sasuke kesal menunjuk kompor gas yang menghitam. "Kau hampir membakar kapal ini kau tahu? kau benar-benar gila, tidur di saat sedang masak."

Bibir Naruto mengerucut kesal. Ia kan tak bersalah, salahkan tubuhnya yang secara tiba-tiba memburuk. "Aku tak bersalah dattebayo!"

"Tak bersalah katamu?" Sasuke menggertakan giginya kesal. "Memang siapa yang tadi kelaparan ingin makan ramen, hah?"

"Ck," Naruto mendecak kesal sebagai jawaban. "Sudahlah teme kau ini mengomel terus seperti wanita. Yang penting kan tidak jadi kebakarannya."

Sasuke membuang mukanya. Apa-apaan ini? Naruto yang salah, dirinya yang diomeli? Keterlaluan. Dan perlu dicamkan karena kesalahan Naruto, ia yang kena imbasnya membayar barang-barang yang terbakar sama Obito.

Drrt! Drrt! Drrt!

Naruto bangkit berdiri mengecek ponselnya yang kembali bergetar. Ada satu pesan email dari Ino.

Naruto sepertinya dugaanmu benar Sakura ada di sini.

Kita bertemu di pantai konoha, aku akan memberimu sinyal nanti, ok?

Naruto tersenyum membacanya. Tentu saja, seorang Namikaze Naruto tidak pernah sembarangan mengambil keputusan jika sudah menyangkut tugasnya. Dengan penuh semangat, ia membalas 'ok' pada Ino.

Sasuke yang sejak tadi diam, penasaran kenapa sejak sahabatnya itu cengengesan tidak jelas menatap layar ponsel. "Kau dapat email siapa? Jangan-jangan selingkuhanmu?" tanyanya menyeringai kecil.

"Enak saja, aku ini tidak sepertimu," balas Naruto kesal sambil menaruh kembali ponselnya di saku bajunya.

Mata onyx Sasuke memicing tak suka. "Lalu dari siapa?"

"Ra-ha-sia," jawabnya. "Aku senang sekali Sasuke," lanjutnya mengacak-ngacak rambut pantat ayam Sasuke lalu ngacir ke dek kapal untuk menanyakan kepada Obito kapan akan sampai ke konoha.

Sasuke masih membeku di tempat.

Rambut indahnya yang dibentuknya susah payah selama tiga jam, berantakan sekarang tanpa alasan yang jelas oleh 'dobe'-nya...

"Dobe, kubunuh kau!"

.

.x.

.

"Hoam..."

Entah sudah berapa kali seorang Ino Yamanaka menguap lebar, ia memandang bosan Tsunade yang terus nyerocos di depannya; menjelaskan soal politik konoha padanya. Jamuan kali ini lebih membosankan dibandingkan sebelumnya.

"Bagus, bagus, aku setuju," seru Ino bertepuk tangan memasang senyum palsunya. Padahal ia sama sekali tak menangkap pembicaraan Tsunade. Saat hendak berkomentar lagi, Ino merasakan ponselnya bergetar di saku bajunya. Pasti dari Naruto. "Boleh aku keluar sebentar?"

Tsunade mengangguk. "Tentu saja nona Yamanaka,"

Ino berdiri, membungkukan badan sebentar lalu berjalan keluar, dan mengedarkan pandangan waspada takut ada yang mengintip; merasa aman, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai membaca isinya.

'Aku akan tiba jam 10, Ino.'

"Apa?" jerit Ino tak percaya. Terlalu malam untuk orang sepenting dirinya keluar di jam itu. Bukan karena ia seorang wanita yang takut akan pria hidung belang tapi takut Tsunade tahu dirinya tak ada di kamarnya.

'Hah, main petak umpet lagi ini sih.'

Ino membalas 'ok' dan menghela napas berat seraya menyandarkan pada dinding.

Kenapa ia mau melakukan ini semua demi Naruto? Demi kebahagiaan pria itu? Bukan kebahagiaan dirinya sendiri?

"Agh! Pokoknya aku akan minta tambah tiga bulan lagi belanja gratisnya!"

Sungguh malang nasib dompet Naruto.

"Kita hampir sampai,"

Ucapan Obito membuat Naruto bangkit dari duduknya, mengedarkan pandangan ke luar. "Mana? Mana? Mana?"

"Lihat di sana Naruto," Obito membalas sambil menunjuk ke depan memakai jempolnya.

Naruto melihatnya sekarang; sebuah pulau berbentuk segitiga menjorok ke laut. "Akhirnya..."

Obito mempercepat laju kapalnya.

Di pinggir pantai, terlihat tubuh Ino melambaikan tangan padanya, di sampingnya terdapat dua orang pria dewasa yang sepertinya seorang petugas keamanan.

"Dobe... Apa-apaan kau, HAH?"

"Apanya?"

Sasuke menuding lurus Ino yang masih setia melambaikan tangan. "Kenapa dia ada di sini, HAH?" tanyanya benar-benar kesal.

"Oh, ayolah teme bersikaplah jujur kali ini saja, aku tahu perasaanmu padanya seperti apa," sahut Naruto santai.

"Kau pikir bisa menyatukan aku dengannya lagi? Kau gila!" bentak Sasuke, wajah datarnya berubah drastis. "Baiklah," desahnya kecewa. Semua sudah terjadi. Sasuke berbalik memunggungi Naruto. "Aku mengerti soal ini meskipun ingin sekali aku menghajar wajahmu habis-habisan. Tapi aku tidak yakin 'dia' mau mengerti soal keberadaanku."

Wajah Naruto seketika pucat mendengarnya.

"Naruto aku masuk ya?"

Naruto lantas berlari menuju pintu kapal mendengar suara feminim Ino, mengalanginya agar tak masuk ke dalam. "Ekh! Jangan masuk!"

"Kenapa?" tanya Ino heran, matanya berusaha melihat ke dalam namun Naruto menghalangi memakai tubuhnya. "Kenapa aku tidak boleh masuk?" tanyanya sekali lagi.

"Ya, karena ada_"

"Aku," potong Sasuke cepat.

"Eh..." wajah Ino yang tadinya secerah matahari kini menjadi merah karena amarah melihat sang mantan berdiri tak jauh darinya.

Sasuke melewati Naruto dan Ino tanpa mengatakan apa pun.

"NARUTO apa-apaan ini hah?"

Naruto mundur menjauh dari amukan Ino. "A-aku bisa jelaskan Ino,"

"Tentu saja kau harus JELASKAN kenapa dia ada di sini!"

"Itu..." Naruto menggaruk-garuk belakang lehernya gugup. "Saat melihat kalian masih cuek satu sama lain itu membuatku mengambil um... inisiatif kecil... dan um..."

"Inisiatif kecil?" bentak Ino keras. "Kau itu selalu seenaknya! Kapan kau mau mengerti perasaanku, hah? Aku sudah tidak mau menjalin kasih lagi dengan dia!"

"Aku tidak berkata ingin kalian menjalin kasih lagi," ucap Naruto polos.

Blush.

"A-apa pun alasanmu, aku benci padamu Naruto! Aku tidak mau melihatmu lagi!" teriak Ino sekeras-kerasnya dan melenggang pergi keluar. "Aku mau pulang saja!"

Naruto mencoba mengejar. "Ino tunggu dulu,"

Terlambat Ino sudah masuk ke dalam taksi, mengunci pintu, air mata wanita itu berjatuhan. "Jalan pak."

Sebelum benar-benar pergi, Naruto berteriak. "Aku akan tunggu di sini Ino!"

Taksi yang ditumpangi Ino berjalan cepat hingga lenyap dari iris mata Naruto.

"Sudah kubilang, aku tidak yakin soal dia." ucap Sasuke datar memandang Naruto yang kini tertunduk dalam. "Untunglah dia tidak menghajarmu,"

.

.x.

.

Tsunade menumpu kedua tangannya di bawah dagunya. Berpikir.

Siapa. siapa yang dengan kurang ajarnya mengotak-atik laptop miliknya? Ia sudah meminta Shizune menyelidiki namun tidak ada jejak sidik jari maupun helaian rambut tertinggal di sana; pelaku kali ini sangat profesional.

Ia tidak ingin menuding seseorang namun hatinya sudah terlanjur mencurigai seseorang yang tadi kemarin bersamanya di ruang rapat.

Tok tok tok.

"Nyonya ini aku Shizune."

"Masuk."

Shizune muncul di balik pintu. "Aku ingin memberitahu penyelidikan yang nyonya perintahkan padaku."

Tsunade bangun dari kursinya, menatap keluar jendela sambil mengambil napas dalam-dalam. "Ceritakan padaku," katanya tegas.

Shizune mengangguk. "Seperti yang nyonya duga. Tidak tercantum yang namanya Yamanaka Ino di daftar agen CIA jepang."

Tsunade menoleh melalui celah bahunya. "Kau serius?"

"Positive," sahutnya. "Dan lagi aku dapat laporan dia keluar tadi malam entah kemana,"

"Tentu saja, dia pasti ada sesuatu yang diinginkannya di sini," Tsunade bergumam pelan. "Suruh dia ke sini."

"Baik,"

.

.x.

.

Ino sebenarnya sedang bad mood keluar kamarnya setelah kejadian tadi malam namun karena ini soal identitas palsunya terpaksa ia bangun dan berangkat memenuhi ajakan sarapan pagi oleh Tsunade. Di sinilah Ino sekarang, duduk manis bersama wanita muda itu, agak aneh juga bukan Shizune yang menemani mereka makan. Seorang wanita bernama Karin menemani nyonya presiden. Ino memutuskan tak mau ambil pusing, toh hanya sarapan kan? Ia menyeruput tehnya perlahan. "Enak,"

Tsunade balas tersenyum. "Tentu saja, kami memanggil khusus orang jepang untuk membuatkan ini untukmu."

"Hm," Ino menyesapnya lagi seraya menyilangkan kakinya.

Tsunade mengaduk-aduk teh miliknya. "Dari mana kau tadi malam?"

Dia tahu? "Hanya bertemu teman lama," jawab Ino sekenanya.

"Benarkah?" tanya Tsunade penasaran. Lalu menyesap tehnya. "Apa temanmu… seorang mata-mata?"

Ini mulai memburuk. Seberapa jauh wanita muda ini soal dirinya? "Tidak, hanya teman lama yang berisik."

"Hm," Tsunade menghirup aroma tehnya.

Ino menyatukan alisnya, waspada saat Karin mengarahkan pistol ke arahnya.

Seolah tahu, Tsunade tersenyum. "Apa yang kau cari di sini? Laki-laki konoha?"

"Bukan,"

"Mengingat kau sudah tahu semua rahasia negaraku, aku memutuskan untuk menunda kepulanganmu," jelas Tsunade serius. "selamanya."

Selamanya huh? Sangat, sangat lucu sekali lelucon Tsunade pagi ini. Dan perlu di garis bawahi, jangan pernah mencoba memercikan api ke arah Yamanaka Ino!

Ino menendang mejanya ke arah Tsunade membuat wanita muda itu tak sempat memberi perlawanan dan akhirnya tertindih oleh meja.

"Nona Tsunade!" seru Karin berjalan ke arahnya tanpa sadar Ino sudah di sampingnya merebut pistol miliknya.

"Hal yang paling fatal, jangan pernah mengalihkan pandangan dari musuh," ucap Ino memukul tengkuk Karin keras hingga membuat wanita itu jatuh pingsan.

Tsunade bangkit berdiri. "Oh, aku belajar untuk itu," ucapnya singkat dan menendang vas bunga ke arah Ino.

Ino menghindari lemparan vas bunga namun ketika mencoba kembali mengacungkan pistol ke Tsunade wanita itu sudah berdiri di depannya, memegang pergelangan tangannya erat, lalu menepis pistol dari tangannya sebelum akhirnya memiting lehernya dari belakang.

"Sekarang kau bisa menuruti kata-kataku?"

"Tidak," tolak Ino masih berusaha memberontak mencoba melepaskan diri. Ia mulai sesak napas, tubuhnya mulai melemah. Tidak mungkin. "A-apa yang k-au masukan di d-alam teh itu?"

"Mulai bekerja ya obat tidurnya?"

Jadi Tsunade menaruh obat tidur ke dalam teh miliknya? Sungguh sial dirinya. Ia sudah lemah, pandangan matanya mulai kabur.

'Tidak! Aku harus kabur bagaimana pun caranya!'

Dengan sisa kekuatannya yang ada, Ino menendang wajah Tsunade memakai kakinya, membuat wanita itu melepaskan tangannya di lehernya; tak ingin menyiakan kesempatan, Ino kembali memukul kali ini perut wanita itu menjadi sasaran berikutnya, membuat Tsunade mundur beberapa langkah. Ino maju dan berbalik menatap wajah Tsunade, waspada kalau wanita muda itu mulai bergerak. Kakinya mundur perlahan, beberapa langkah, beberapa langkah hingga akhirnya kakinya membentur pintu keluar.

Ino tersenyum letih; ia menang lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan dirinya selama menjadi agen rahasia. "Sangat menyenangkan melakukan ini bersamamu, tapi aku harus pergi." ucapnya dengan napas terengah-engah. Dengan sisa kesadaran yang ada ia membuka pintu perlahan—dan mundur beberapa langkah terkejut melihat dua orang pengawal mengarahkan pistol ke arahnya di depan pintu.

Ino lupa masalah orang yang di luar... Dan tak mungkin ia menghajar kedua orang di depannya dengan tubuh pengaruh obat begini...

"Sudah aku bilang, kepulanganmu ditunda selama-lamanya."

Dan detik itu juga pandangan Ino benar-benar gelap.

.

.x.

.

"Ng..."

Ino mencoba membuka kelopak matanya. Ia merasa tubuhnya begitu ringan, apakah dia sudah mati? Tidak, Ino bisa mendengar detak jantungnya memompa darahnya. Ia mengangkat kepalanya, mengamati ruangan kecil itu; ia berada di tempat yang sepertinya gudang.

"Ah," Ino mengerang merasakan sakit di tangannya, lalu mendongak mendapati tangannya diikat kencang di kayu cokelat. Ia melirik ke bawah memastikan tidak ada yang sesuatu yang berbahaya di sana. "Amatir. Mereka bahkan memberi tumpukan bantal di bawahku?"

Ino menggerakan kakinya naik ke atas, terus ke atas sampai mencapai kedua tangannya, "Uh," ia mengerang kecil mencoba melepas hak sepatu ungunya. Berhasil juga usahanya. Ino menekan tombol di sana, dari ujung hak itu keluarlah pisau kecil. Segera saja ia memotong pengikat sialan ini.

Bruk.

Tubuhnya jatuh di tumpukan bantal. Ia bangkit berdiri menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor terkena debu. "Aku tidak mengharapkan begitu mudahnya lolos dari seorang nyonya presiden." ucapnya santai dan mulai berlari keluar.

Sekarang dengan tubuhnya yang fit ia sanggup melawan sungguh-sungguh. Betapa kesalnya ia dikalahkan penuh kecurangan begitu.

.

.x.

.

Aneh, ini benar-benar aneh. Dari tadi ia melewati penjuru lorong tak ada satu pun pengawal presiden bahkan kamera pengawas tak ada. Sungguh aneh bagi jiwa petualangnya. Ino bersandar pada tembok, tangannya menggenggam kenop pintu bimbang.

Bagaimana bila yang berada di dalan lebih banyak dari yang dibayangkan? Ia bakal tertangkap lagi?

'Jangan takut, ini sudah jadi tugasmu dulu kan?'

Sambil meneguk ludahnya ia memutar kenop pintu—membuka perlahan, mengintip di balik celahnya. Sebelum akhirnya benar-benar membuka pintu itu lebar-lebar. "Kenapa?" tanyanya entah pada siapa.

Bahkan tidak ada siapa pun di sini! Layar kamera pengawasnya pun masih menyala.

Ino penasaran, ia pun masuk ke dalam, mengamati setiap gerakan kamera pengawas. Sepertinya kamera ini terpasang di sebuah penjara. Matanya melirik ke ujung kanan layar dan membulat melihat sosok gadis berambut pink duduk di ranjang usang tertera di sana.

"Sakura!" teriak Ino otomatis. Ketemu juga akhirnya! Sekarang tinggal cari di mana kamar itu berada! Ino mencari-cari akal, ia melepas kembali hak sepatunya menekan tombol dan muncul kabel yang biasa di pakainya buat meng-hack komputer. Ia kini mencari laptop—dan aha! Ada di meja. Semua sudah lengkap!

Ino mulai memasangkan kabel miliknya ke komputer dan laptop itu. Bersyukur juga tak ada kode di sana membuatnya tak perlu repot-repot mencari tahu.

Beberapa menit Ino mencoba menjebol keamanan komputer itu. Berkali-kali juga ia mengeluarkan gumaman kesalnya karena salah terus.

"Aha," seru Ino semangat mengusap keringat di wajahnya. "Kamar Sakura nomor 698,"

Baiklah, Ino harus bergegas ke sana. Ia bangkit berdiri, dan tersentak saat wajah Naruto teringat di pikirannya. "Apa aku harus memberitahunya?"

Naruto akan senang mendengar hal ini...

'Tidak, aku takkan bilang! Ini hukuman untuk pria bodoh itu sudah beraninya mengajak si buntut ayam.'

Dengan riang ia bergegas menuju kamar nomor 698.

Ini benar-benar mudah. Sebelum Ino pergi dari ruangan kamera, ia sempat mengambil peta bangunan penjara itu. Rasanya aneh juga ini berjalan dengan mudahnya, semuanya seakan direncanakan...

Tanpa sadar langkahnya terhenti melihat nomor kamar yang dicarinya ketemu juga. Ia melirik ke bawah, ternyata pintunya diberi gembok.

Ini mudah. Ino mengambil jepit rambut miliknya yang menghiasi rambutnya. Lalu mencoba membuka dengan itu. Perlahan, perlahan sampai terdengar suara 'klik' di pendengarannya.

"Sakura aku datang!" seru Ino seraya masuk ke dalam.

"Eh?" Sakura menoleh. "Kau wanita yang di mall itu kan?"

Ino mengangguk-ngangguk riang, bersyukur Sakura tidak lagi takut padanya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura lemah.

Ino duduk di sampingnya. "Tentu saja menyelamatkanmu Sakura,"

"Hah?" Sakura bingung. "Aku tidak dalan bahaya kok. Lihat tubuhku baik-baik saja kan?"

Ino memutar bola matanya. Sifatnya belum berubah ternyata. "Sudah ikut saja denganku, Sakura."

"Aku tidak bisa,"

Eh? "Kenapa?"

"Aku suka tempat ini,"

"Tidak, Sakura tidak," tolak Ino menggelengkan kepalanya. Tempat yang menurutnya lebih mirip rumah hantu ketimbang rumah 'normal'. "Tempatmu bukan di sini, tempatmu yang benar adalah di rumah Naruto. Naruto. Mengerti?"

"Tapi Naruto bukan siapa-siapaku,"

"Sekarang ini memang belum, tapi nanti kau pasti akan jadi 'siapa-siapanya' dia," jelas Ino, mata birunya melembut. "Naruto menunggumu, Sakura. Dia sudah di sini, bersama si buntut ayam." lanjutnya setengah jengkel menyebut kata 'buntut ayam'.

"Buntut ayam?" Sakura tertawa. "Apa itu?"

"Dia itu makhluk paling egois yang pernah aku temui," jelas Ino jengkel. "Sudah-sudah, ayo kita ke tempat Naruto,"

Sakura mengangguk.

Ino melirik ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa tidak ada yang aneh di sini, lalu keluar diikuti Sakura, ia kembali memeriksa petanya dan barulah tersadar bahwa penjara ini berada di pinggir pantai.

"Menarik," gumam Ino pelan. Mungkin mereka harus keluar naik kapal. "Ng?" ia merasa aneh ada cahaya kecil berwarna merah di petanya bergerak ke sana kemari.

'Jangan-jangan…'

"Bibi Tsunade?"

Ino melangkah maju, menarik Sakura ke belakang tubuhnya. Waspada. Pengawalnya terlalu banyak, Ino tidak bisa melawan apalagi mereka memakai senjata lengkap.

Tsunade tersenyun mendapat perhatian sang Yamanaka. "Jadi ini yang kau cari? Kau puas?"

"Iya," sahut Ino mengangkat kedua tangannya, 'menyerah'. "Sakura, kuberi hitungan sampai ketiga, kita loncat ke kaca itu ok?" bisiknya.

"Kau benar-benar mengecewakan, kupikir seorang sepertimu akan peka terhadap kejanggalan ini."

Ino tetap tersenyum.

"Bagaimana kalau itu bukan air laut?" tanya Sakura cemas.

"Tenanglah Sakura, aku ini punya insting tajam." sahut Ino. "Aku beri aba-aba ya?"

"Dia adalah—''

"Satu,"

"Penyusup—"

"Tiga!"

"Bunuh dia!"

Ino lantas menggenggam erat tangan Sakura mulai berlari ke arah kaca, bersamaan dengan gerakannya rentetan peluru mengarah padanya.

Prang!

"Ukh," Ino mengerang tertahan merasakan kaki seakan terbakarnya. Ia yakin sepenuhnya kakinya terkena peluru. Darah mulai keluar dari kulitnya.

"Kyaaa..."

Byur...

Ino dengan cepat naik ke permukaan diikuti Sakura. Sedikit kaget juga ternyata gadis itu bisa berenang.

"Sakura kau kuat kan berenang sampai sana?" Ino menunjuk sisi kanannya; daratan berpasir putih sepuluh meter jaraknya.

"Aku rasa iya, tapi bagaimana dengan kakimu?"

"Aku ini gadis kuat Sakura," Ino meringis menahan rasa sakit di kakinya. "Ini sudah biasa bagiku."

"Hm, ok,"

Sakura dan Ino mulai berenang menahan rasa dingin menusuk kulit mereka. Ini masih sore tapi sudah dingin sekali.

Awalnya Sakura berada di belakang Ino perlahan ia menyusul gerakan wanita itu. Rasanya ada yang aneh, gerakan renang Ino semakin lambat, lambat hingga benar-benar berhenti...

"Ino!" Sakura berteriak histeris, lantas masuk ke dalam air dan menarik tubuh wanita itu ke permukaan. Sakura sudah menduga hal ini akan terjadi. Luka di kaki Ino itu baru dan akan sangat perih bila terkena air garam yang berefek jadi keram. Sakura menaruh tangan Ino di pundaknya dan mulai berenang kembali.

Sesampainya di daratan, Sakura menyandarkan Ino di batu karang, sebelum akhirnya ia pun ikutan ambruk dengan napas tersengal-sengal.

"Terima kasih Sakura," ucap Ino pelan. "Maaf merepotkanmu,"

Sakura bangkit berdiri, merobek bajunya lalu mengikatkannya pada kaki Ino yang terluka tergores peluru. "Justru aku yang harusnya minta maaf sudah merepotkanmu. Karena aku kau jadi terluka seperti ini," jelasnya murung.

"Sakura aku tidak apa-apa sungguh," Ino mencoba bangkit berdiri, telapak tangannya bersandar pada batu karang mencegahnya supaya tidak jatuh. "Lihat kan? Semua baik-baik saja!" serunya. "Karena ponselku rusak terkena air lebih baik kita langsung saja ke tempat Naruto berada sebelum pengawal bibimu datang menangkap kita."

Sakura awalnya ragu-ragu sebelum kemudian ikut mengangguk lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda.

Ino mengambil sebatang kayu tua yang tergeletak di pesisir pantai, memeganginya sebagai penopang tubuhnya. "Aku seperti nenek-nenek saja,"

Sakura yang berada di belakangnya mengangkat kepalanya. "Kau mengatakan sesuatu Ino?"

"Eh tidak-tidak," sergahnya cepat.

Sakura terdiam sebentar lalu melangkahkan kakinya sejajar dengan langkah Ino, kemudian membuang kayu itu yang disambut protes kecil dari bibir mungil wanita muda itu. "Itu terlalu tua kan?" tanyanya.

Ino mengangguk malu.

Lantas Sakura menaruh tangan Ino di pundaknya lalu mulai melangkah kembali. "Ino kalau kau butuh bantuan bilang saja. Jangan sok tegar,"

"Sakura..." Ino terdiam sesaat, "terima kasih ya..."

"Um,"

Dengan bantuan Sakura setidaknya langkah mereka sedikit lebih cepat di bandingkan sebelumnya. Berkali-kali Ino dan Sakura menghindari para pengawal presiden yang sudah menyebar ke penjuru kota.

Sampai akhirnya mereka sampai juga ke tempat tujuan. Namun harus menelan kekecewaan mengetahui kapal yang ditumpangi Naruto dan Sasuke tadi malam sudah tidak ada.

Ino menyuruh Sakura untuk menurunkannya, ia terduduk pasrah di pasir. "Mereka pergi mencarimu kayaknya."

"Mencariku? Kan aku sudah bersamamu Ino."

"Aku..." Ino menggigit bibirnya. "Aku bertengkar dengan Naruto karena dia membawa Sasuke-kun. Aku bilang aku mau pulang saja, mungkin mereka menganggap itu serius."

"Oh," respon Sakura singkat. "Kita tunggu saja di sini."

"Tidak bisa, kau akan tertangkap lagi kalau terus di sini. Kau cari Naruto saja, aku di sini."

"Kenapa kau tidak ikut?"

"Kakiku kan terluka. Aku lelah sekali Sakura. Lelah."

Sakura ikut duduk di sampingnya. "Aku juga lelah kalau begitu. Aku mau di sampingmu sampai Naruto dan Sasuke datang."

"Sakura..." bukan itu maksudnya...

Kenapa Sakura sangat polos sih? Ino jadi tidak bisa melawan wajah itu...

"Ah," Sakura terkesikap pelan merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. "I-ino..."

"Hm?"

"Ada yang menyentuh pundakku. Apa ini pengawal?"

Apa? Ino menoleh waspada ke arah Sakura yang kini duduk tegang dengan mata terpejam ketakutan. Sebelum akhirnya kembali menatap matahari yang terbenam sambil menghela napas mengetahui siapa yang di belakang Sakura. "Kau selalu terlambat Naruto..."

Naruto nyengir. "Maaf ya, pahlawan memang selalu datang terlambat, dattebayo!"

...

Bersambung...

...

Makasih banget buat yang udah riview: The light hunter, MysteriousR230, NS, Luphnarusaku, Gelembung sahabat, Dear God, gui gui M.I.T, Guest, Soputan, Guest, versetty-kun, Guest, vito, Guest, .37017794, , IvanRaafi, Redcas, .7, X Naru, SK, Ksatria Kegelapan, Ae Hatake, Saikari Nafiel, Guest, Chisaki Chan, Charllote-chan,

Hai, sesuai janji di fic sebelumnya saya bakal apdet fic ini meski sempat ngeblank dan beberapa hari nyari inspirasi akhirnya bisa apdet. Saya seneng sekali sampai puncak juga fic perdana multichap saya ini! Uwo...

Buat scene Ino itu diambil dari Resident Evil: Damnation, pas Ada ketauan dia bukan agen CIA. Kalian bisa nonton kok, cari aja di youtube atau web lainnya.

Dan ada yang sadar kesalahan saya soal pemeriksaan kesehatan Naru itu ya? Saya emang bodoh di IPA, bagi saya pelajaran IPA itu waktunya buat jahil-jahilan sama temen-temen biar gak ketiduran saking boringnya tuh pelajaran. Jelas kan saya emang bodoh kayak Naru? #ngakusendiri

Udah cukup ya sisi agen Ino, kita liat sisi agen Naruto kayak gimana chap di depan*smirk* si buntut ayam terakhir aja

Ciao! Riview? :3