*
*
*
PlukBuku novel itu Luhan jatuhkan ke atas meja, tepat di hadapan wanita penjaga perpustakaan itu. "Seperti yang kau bilang. Hari ini aku mengembalikannya. Tepat waktu," ujar Luhan dengan wajah datarnya.
Wanita penjaga perpustakaan itu pun mengambil novelnya. "Kau sudah selesai membacanya?" tanyanya pada Luhan.
"Belum," jawab Luhan singkat.
"Kenapa kau tidak menyelesaikannya? Kau bisa meminjamnya lagi kalau kau mau."
Luhan menggeleng. "Aku terlalu malas untuk melakukan hal itu," katanya, lalu melangkah pergi dari sana.
*bad*
Setelah dari perpustakaan, Luhan pergi ke rooftop, tempat biasa ia menenangkan diri. Ini masih jam istirahat, dan rencananya nanti, ia ingin membolos lagi. Pelajaran selain Matematika membuatnya malas untuk ikut belajar di kelasnya.
Namun, Luhan menghentikan langkahnya saat baru sampai di dekat ruang guru. Di sana, ia melihat seorang pria paruh baya baru saja keluar dari ruang guru. Pria paruh baya itu adalah Xi Hao Wang, ayah Luhan.
Kening Luhan berkerut. "Apa yang appa lakukan di sini?" gumamnya. Satu hal yang ia tahu alasan ayahnya bisa datang ke sekolah, yaitu karena perbuatannya yang suka membolos.
"Luhan-ah!" Tuan Xi memanggil putrinya tersebut saat melihat gadis itu hanya berdiri mematung tak jauh darinya.
Merasa dipanggil, Luhan pun datang menghampiri ayahnya itu. "Apa yang Appa lakukan di sini?" tanya Luhan.
"Bisa Appa bicara sebentar denganmu?" pinta Tuan Xi.
Seluruh pasang mata yang kebetulan lewat di sana pun pada melihat ke arah ayah dan anak tersebut. Ini adalah hal yang langka. Tidak biasanya Tuan Xi berbicara dengan Luhan saat berada di sekolah. Biasanya, beliau akan langsung pulang tanpa mencari atau berbicara dengan putrinya tersebut.
Luhan mengangguk.
"Ikut Appa sekarang," perintah Tuan Xi, lalu melangkah pergi menuju tempat mobilnya terparkir, diikuti oleh Luhan di belakangnya.
Begitu sampai di tempat parkir, bukan tatapan sayang ataupun tatapan lembut seorang ayah kepada anaknya yang di dapat oleh Luhan, melainkan tatapan marah serta dingin. "Kenapa Appa mengajakku kemari?" tanyanya. Gadis itu balas menatap ayahnya dingin.
"Sampai kapan kau akan seperti itu terus? Kapan kau akan berubah, Luhan-ah?" tanya Tuan Xi.
"Maksud Appa?" Luhan tak mengerti akan pertanyaan ayahnya tersebut.
Tuan Xi menghela napas berat. "Appa sudah tua. Seharusnya kau menjadi anak yang lebih baik. Membuat Appa bangga misalnya."
Luhan yang mendengarnya mendengus. "Membuat Appa bangga? Hh, apa selama ini Appa sudah membuatku bangga?" balasnya berani.
"Luhan-ah!" Tuan Xi meninggikan volume suaranya. "Appa tahu apa saja yang kau lakukan selama ini. Setiap hari kau membolos. Dan Appa juga tahu, kalau kau semalam pergi ke bar."
Luhan terkesiap. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya akan tahu ke mana ia pergi semalam. Namun, detik berikutnya, ekspresi wajahnya kembali seperti semula, datar dan dingin. "Dari mana Appa tahu? Apa Appa menyuruh seseorang lagi untuk memata-mataiku?!" terkanya.
"Ya. Appa melakukan itu," jawab Tuan Xi.
Luhan mendesah. Ia tak menyangka bahwa ayahnya akan melakukan hal itu lagi. Sebegitu sayangnya 'kah ayahnya, sampai-sampai menyuruh orang lain untuk mengawasinya? Pasti Luhan akan menjawab tidak, karena jika memang ayah benar-benar menyayanginya, tentunya beliau sendirilah yang akan turun tangan untuk mengawasi putrinya tersebut.
"Percuma Appa melakukan itu padaku," ucap Luhan. "Karena aku, tak mungkin akan berubah."
Plak!
Tamparan keras pun mendarat tapat di permukaan pipi Luhan. Tuan Xi lah yang melakukannya. "Kenapa kau jadi tidak sopan pada appa-mu, hah?!" Tuan Xi mulai menunjukkan amarahnya.
"Waeyo? Apa Appa marah?" Luhan tertawa miris. Ia sama sekali tidak memiliki rasa takut terhadap ayahnya. Rasa sakit akibat tamparan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit waktu kehilangan sosok ibu dalam hidupnya.
"Ne! Appa marah!" teriak Tuan Xi, tak memedulikan beberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka. "Kau berubah, Luhan-ah." Nada bicaranya mulai lirih.
"Berubah?" Luhan lalu mendengus. "Bukannya selama ini Appa yang berubah, eoh?!" balasnya.
"Mwo?"
"Semenjak eomma meninggal, apa Appa pernah memperhatikanku? Apa Appa pernah bertanya tentang keadaanku? Bagaimana sekolahku? Apa aku makan dengan teratur? Apa aku baik-baik saja? Tidak, kan!" Luhan mulai terisak. "Appa tak pernah mengerti. Aku benci Appa!" Ia kemudian berbalik dan berlari pergi dari sana.
"Luhan-ah!" seru Tuan Xi, sama sekali tak ada niatan untuk mengejar langkah Luhan yang mulai menjauh.
Tak jauh dari sana, ada dua pasang mata yang berada di tempat berbeda diam-diam menguping pembicaraan ayah dan anak tadi. Yang satunya tampak menyeringai penuh kemenangan, sedangkan satunya lagi tampak iba saat melihat Luhan yang menangis.
*bad*
Luhan menangis tersedu-sedu sambil duduk di balik tembok yang ada di rooftop sekolah. Ini adalah tempat yang menurutnya paling pas untuk menyendiri. Tidak akan ada yang datang ke tempat ini, kecuali dirinya dan seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya saja.
Luhan tak mengerti kenapa ia bisa menangis sampai seperti ini hanya karena berdebat dengan ayahnya. Tidak biasanya ia akan seperti ini. Sudah lama rasanya ia tidak berbicara panjang lebar dengan ayahnya setelah ibunya meninggal. Dadanya terasa sesak jika mengingat perubahan ayahnya sekarang. Tak pernah lagi memberikan kasih sayang untuknya, yang ada hanyalah teguran.
Luhan lelah. Selama ini, ia selalu memendam unek-unek tentang ayahnya seorang diri. Dan sekarang, sedikit demi sedikit sudah mulai ia keluarkan.
Sepasang kaki seorang pemuda berkulit putih itu tampak berjalan mendekati Luhan. Di tangannya terdapat sebuah sapu tangan berwarna putih hitam. Ia lalu berjongkok di sebelah Luhan. Lalu, ia mengulurkan sapu tangan tersebut ke hadapan Luhan, Menyuruh gadis itu agar menghapus air matanya.
Luhan menoleh, dan ia langsung memalingkan wajahnya serta buru-buru menghapus lelehan air mata di permukaan pipinya. Sedikit malu, karena pertahanannya selama ini untuk pura-pura kuat harus runtuh hanya karena adu mulut dengan ayahnya. "Kenapa kau ke sini?" tanyanya, mencoba menetralkan nada bicaranya agar tak bergetar.
"Bertemu denganmu. Sepertinya kau sedang membutuhkan bahu seorang untuk bersandar," jawab pemuda itu, Sehun.
"Ani," elak Luhan. Namun, air mata kembali mengalir di permukaan pipinya. Itu tidak bisa menutupi kebohongannya.
Sehun yang melihatnya langsung menghapus air mata tersebut dengan sapu tangan miliknya. Sungguh, dia paling tidak tega jika melihat ada seorang gadis yang menangis di hadapannya. "Uljimayo ...," katanya pelan. "Menangis tidak akan menyelesaikan masalahmu."
Bukannya berhenti menangis, Luhan malah semakin terisak. Dan itu, membuat Sehun langsung memeluk gadis itu. Membiarkannya menangis di permukaan dada bidangnya. "Baiklah. Kalau begitu, menangislah ... jika itu bisa membuatmu tenang."
Beberapa menit kemudian ...
Luhan akhirnya melepaskan pelukannya saat ia sudah mulai merasa tenang. Dihapusnya jejak-jejak air mata yang masih tersisa di pipinya dengan sapu tangan milik Sehun tadi. Gadis itu kemudian menghela napas panjang. Lalu, ia menatap Sehun sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Sehun.
"Ne. Terima kasih," jawab Luhan.
Sehun tersenyum. "Sama-sama," balasnya.
.
.
.
Tbc ...
Langsung review aja.Terima kasih!