===oOo===

Bleach © Tite Kubo

Rate : T

Pair(s) : IchiRuki/KaiRuki/slight ByakuHisa dll

Genre : Romance/Drama

Your Voice © Lenalee Felixia

Warning : Sudahkah Anda membaca Bleach chapter 459?

===oOo===

Thanks to :

morte-hourglass, Shiori Yoshimitsu, Michilatte626, Reina Rukii, Yanz Namiyukimi-chan, Haza ShiRaifu, Nakamura Chiaki, Wi3nter

And you, silent reader (jika ada)~

Enjoy!

::: Chapter 9 :::

.

Rukia menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya. Wajahnya ia tutup rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Sesekali telapak tangan itu ia gunakan untuk mengipasi wajahnya yang terasa panas. Tidak hanya itu, jantungnya berdegup kencang sepanjang jalan pulang tadi. Ia bahkan tak ingat lagi berapa orang yang menatapnya dengan pandangan heran karena warna muka yang sangat merah itu.

Gadis mungil itu duduk di tepi ranjang setelah dirasanya keadaannya sudah lebih baik. Kejadian tadi bukan yang pertama kali, bukan? Tapi kenapa jantungnya masih belum bisa berkompromi dengan jalan pikirnya? Jika boleh jujur, di sudut hati Rukia, ada perasaan bahagia atas pernyataan Ichigo padanya—yah, untuk kedua kalinya.

Bukankah itu membuktikan bahwa Ichigo benar-benar serius kepadanya?

Rukia tersenyum tipis ketika mengingat apa yang terjadi tadi.

"Aku menyukaimu, Rukia…"

Dalam rengkuhan yang erat, Rukia berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Siapapun—gadis manapun—akan salah tingkah jika dipeluk dan dibisiki kalimat macam itu. Suasana romantis bak film telenovela itu hancur karena bunyi—yang datang entah darimana—mengganggu tiba-tiba.

"Maaf, itu… ehm… suara perutku," ujar Ichigo malu-malu.

Astaga! Kesalahan fatal untukmu, Kurosaki Ichigo.

"Hmmpph!" Rukia yang awalnya diam seribu bahasa mendadak menutup mulutnya untuk menahan suara tawa yang bisa keluar kapan saja.

Ichigo menyerngitkan alisnya. "Memangnya lucu apa?"

Rukia memalingkan wajahnya dari Ichigo. Takut jika semakin ia memandang wajah tidak berdosa laki-laki dihapadannya itu, makin membuatnya tak tahan untuk tidak tertawa.

"Oh, baiklah. Jika memang lucu tertawa saja. Aku akan tetap di sini sampai kau puas tertawa," kata Ichigo setengah merajuk.

"Gomen, go-gomen!" kata Rukia sambil menyapu air mata yang keluar di ekor matanya. "Kurasa kau lebih membutuhkannya daripada aku," sambung Rukia menyerahkan coklat miliknya.

"Tidak masalah. Aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti itu daripada melihatmu murung—seperti—ah, terima kasih. Sampai mana aku tadi?" tanya Ichigo menekan pelipisnya. "Oh, seperti ingin menangis jika melihatku."

Rukia terdiam sejenak. Wajahnya tertunduk. Violetnya selalu saja menatap lantai jika berada di samping Ichigo.

"Tuh, lagi-lagi begitu. Setelah ini kau pasti akan mengatakan 'maaf'."

"Ma—mmph."

"Aku tidak ingin mendengar kata maaf lagi. Memangnya kau salah apa padaku? Kesannya kau punya banyak dosa padaku saja," ujar Ichigo. "… Aku hanya ingin bicara denganmu—dengan normal."

"Aku hanya tidak biasa melihat wajahmu yang—"

"Menyeramkan?"

Rukia menggeleng. "Tidak."

"—Lalu?"

"Sudah pernah kukatakan sebelumnya, bukan?"

Kali ini Ichigo yang berhenti bicara. Hazelnya menatap gadis mungil di sampingnya. Ichigo ingat ucapan Rukia beberapa waktu yang lalu—ketika ia ditolak pertama kali.

Ada orang lain yang mengisi hati gadis itu.

"Aku…," baru saja Rukia akan melanjutkan kalimatnnya tapi ketika violetnya bertemu dengan hazel, semua yang akan ia katakan seolah menghilang begitu saja.

"Bicaralah. Jangan buat aku tersiksa karena ini," kata Ichigo.

"Kau selalu mengingatkanku pada seseorang yang sangat berharga di hidupku," Rukia menarik napasnya dan kembali berujar, "—seseorang yang tak mungkin aku temui lagi."

"Jika memang begitu, aku tak akan memaksamu. Tapi kuharap sedikit demi sedikit, kau mulai menerima keberadaanku sebagai seorang Kurosaki Ichigo, bukan menjadi bayang-bayang orang itu," Ichigo tersenyum tipis—senyuman yang mampu membuat semu merah di wajah Rukia.

"Hari mulai gelap. Sebaiknya kita pulang sebelum gerbang ditutup," ajak Ichigo. "Oh iya, terima kasih atas coklatnya."

"Nee, Rukia. Boleh kuminta satu hal lagi?"

Rukia menatap Ichigo dengan heran.

"Jika suatu saat nanti kau sudah mulai menyukaiku—walaupun hanya sedikit saja, bisakah kau beritahu aku?"

Ah, mengingatnya saja sudah membuat wajah Rukia kembali memerah.

.

Rukia begitu tercengang mendengar ucapan iparnya ketika sarapan keesokan paginya. Ia tak mampu berkata-kata. Berita yang sangat—sensasional? Fenomenal?

"Nee-san berhenti bekerja karena ha-ha-ham—"

"Hamil, Rukia," kata Byakuya datar.

"I—itu maksudku! Tapi bagaimana mungkin?"

Byakuya menatap adik iparnya dengan tajam. "Apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Tentu saja mungkin. Kami berusaha dengan baik setiap ma—"

"Byakuya-sama!" seru Hisana yang datang tiba-tiba dari arah dapur. "Jangan bicara hal seperti itu di depan Rukia!"

Byakuya kembali menyeruput teh paginya. Berusaha tetap seperti biasanya.

Rukia melompat dari kursinya dan memeluk kakak perempuannya dengan erat. Hisana hampir saja menjatuhkan barang bawaannya ketika kaget dengan aksi adiknya.

"Selamat, Nee-san! Selamat!" ucap Rukia senang.

"Hmm… Arigatou ne, Rukia-chan."

"Malam ini kalian ada waktu, Nona-nona?" tanya Byakuya tiba-tiba—menghentikan scene membahagiakan Hisana dan Rukia.

"Memangnya ada apa, Byakuya-sama?" Hisana balik bertanya.

Byakuya menatap dua orang perempuan yang memiliki paras mirip itu bergantian.

"Wakil Kepala Sekolah memberikan ini padaku. Kurasa tidak ada salahnya jika kita pergi," ujar Byakuya sambil menunjukkan tiga lembar tiket berwarna gold.

"Perlombaan piano?" ucap Hisana—mengeja kata di tiket tersebut.

Violet Rukia membulat. 'Jangan katakan kalau…'

"Salah satu siswa kelas khusus menjadi salah satu peserta putaran final. Kalau tidak salah namanya Kurosaki Ichigo," kata Byakuya.

Rukia mengigit bibir bawahnya.

"—Musik klasik baik untuk kandunganmu," tambah Byakuya.

Hisana mengangguk senang. Rona merah menjalar di wajahnya atas perhatian suaminya. Sedangkan Rukia buru-buru menghabiskan sarapannya. Oh, ia berharap segera pergi sebelum dua orang di depannya mengajaknya ikut.

"Rukia," panggil Byakuya.

'Jangan katakan!' batin Rukia. "Ya?"

"Kau juga harus ikut."

… Skakmat.

.

/Jangan gugup ya, Ichigo./

"Iya."

/Rileks saja./

"Aku tahu."

/Kondisimu prima, kan?/

"Tentu saja."

/Kalau kau gugup, aku—/

"Nel."

/Y—ya?/

Ichigo tesenyum sebelum bicara lagi. "Aku baik-baik saja. Kau yang tidak baik-baik saja. Paham?"

/A—aku baik-baik saja kok. Aku tidak gugup kok. Dengar ya—/

"Ehm… Nel."

/… Oh Tuhan! Baiklah! Aku gugup! Aku merasa seperti orang bodoh yang hanya bisa menyemangatimu lewat telpon saat ini karena acara keluarga yang baru saja diberitahu kakek! Ichigooo… Bisa tidak perlombaannya diundur saja? Aku ingin melihatmu di atas panggung./

Ichigo terkekeh lalu menyerahkan ponselnya pada Renji yang ada di sebelahnya.

"Kabur saja dari acara keluargamu," kata Renji asal.

/Baka! Kau ingin aku dicekik kakek? Saranmu selalu tak berguna, Renji!/

Kali ini ponsel itu dioper pada Grimmjow. "Ya sudah. Nikmati saja acara keluargamu yang membosankan itu. Selamat bersenang-senang, Nel~"

/Cho—chotto mat—/ tut tut tut

"Padahal dia yang paling menantikan hari ini," ujar Grimmjow sambil menyerahkan ponsel tersebut pada pemiliknya.

"Kuharap dia tidak mencekik kita nanti," kata Renji diikuti suara tawa Grimmjow dan Ichigo.

"Kurasa Grimmjow yang dapat jatah cekikan Nel pertama kali," kata Ichigo.

"Oh, tidak. Terima kasih. Kau saja duluan, Ichigo," balas Grimmjow sambil duduk di kursi didekatnya.

Ichigo melirik malas pada jam tangannya. "Merasa tidak, kalau hari ini waktu berjalan cepat?"

"Benarkah? Menurutku sama saja," jawab Renji lalu menoleh pada Grimmjow—meminta laki-laki berambut biru itu memperkuat jawabannya.

"Mungkin hanya bagimu,Ichigo," kata Grimmjow. "…Kurosaki Ichigo, semoga semuanya berjalan lancar," lanjutnya.

Ichigo tersenyum.

"Thanks."

.

Tempat untuk acara Perlombaan Piano Nasional putaran final sudah disiapkan dengan sempurna. Tamu-tamu mulai berdatangan dengan kemeja maupun pakaian formal lainnya. Beberapa kursi yang masih kosong mulai terisi satu per satu.

Rukia duduk dengan tidak nyaman di kursi deretan VIP di samping kakak perempuannya. Bukan keadaan kursinya yang membuatnya serba salah, tapi keadaan hatinya. Rukia sendiri heran, sejak kapan ia sampai di tempat ini? Ia merasa dihipnotis oleh dua orang yang duduk di dekatnya.

Belum lagi penampilannya saat ini. Benar-benar tidak seperti dirinya. Ia dipaksa berdandan oleh kakaknya. Kalau biasanya Rukia hanya menyisir rambut dan memakai bedak—yang ini bahkan jarang ia lakukan. Rukia tidak berani membayangkan betapa mengerikannya wajahnya jika ia berdandan lebih dari ini.

Kalau saja Rukia tidak ikut andil dalam hal memilih gaun, mungkin saat ini ia akan memakai gaun pilihan Hisana—gaun dengan ekor panjang yang akan menyapu lantai yang akan ia lewati. Dia tidak ingin terlihat makin mungil jika memakai gaun panjang dan menutupi kakinya dan lagi, acara ini tidak begitu formal. Gadis mungil itu lebih memilih gaun tak berlengan berwarna turquoise gelap yang panjangnya hanya jatuh di atas lutut dan terbilang sederhana namun elegan, tidak terlalu banyak pita maupun renda. Gaun itu dipadukan dengan blazer yang digulung lengannya berwarna putih ditambah bros bunga di dekat dadanya.

Tatanan rambutnya juga demikian. Rukia hanya menyelipkan rambutnya ke belakang kupingnya kemudian di jepit dengan jepitan bentuk kupu-kupu agar tidak rusak. Dan Rukia pikir ini cukup. Lebih dari cukup malah.

Rukia melirik pada jam tangannya beberapa kali. "Nee-san, kapan di mulai?" tanyanya dengan nada aku-mulai-bosan.

"Sebentar lagi, Rukia-chan. Lalu bagaimana menurutmu, Byakuya-sama soal—"

Oh, terima kasih Hisana, Byakuya. Berkat ajakan memaksa kalian, sekarang Rukia bisa merasakan rasa bosan yang luar biasa. Sebenarnya Rukia sudah bisa memperhitungkan hal ini, ia hanya akan menjadi obat nyamuk di antara sepasang suami istri yang tengah dalam mode berbahagia.

"Aku ke toilet dulu," ujar Rukia.

.

Rukia melangkahkan kakinya ke toilet perempuan dengan susah payah. High heels yang ia pakai sangat menyiksanya. Berjalan beberapa meter saja membuat jemarinya serasa di tusuk dengan jarum. Tapi mau bagaimana lagi. Tampil cantik butuh pengorbanan. Tampil cantik itu menyakitkan.

Baru saja Rukia membuka pintu toilet perempuan, suara yang ia kenal memanggilnya.

"Kuchiki?"

Rukia menoleh dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. "Ah, Arisawa-san, Inoue-san."

"Kau juga di sini? Mau mendukung Ichigo?" tanya perempuan tomboy itu—kali ini ia terkesan tampil lebih rapi daripada biasanya. Yah, meski kesan seperti anak laki-laki masih terlihat jelas pada penampilannya.

"Kau terlihat berbeda malam ini, Kuchiki," kata Tatsuki lagi.

Rukia hanya tersenyum masam. "Kakakku memaksaku untuk berdandan."

"Tapi cocok untukmu," kata Orihime sambil tersenyum.

"Kau mau bertemu dengan Ichigo sebelum tampil tidak? Kami ingin ke belakang panggung sebelum dia tampil," ajak Tatsuki, sedangkan Orihime hanya diam—tidak ikut mengajak gadis mungil itu.

"Eum... Nanti aku menyusul!" jawab Rukia. 'Mungkin.'

Tidak beberapa lama kemudian Tatsuki dan Inoue pamit pada Rukia. Gadis itu berhasil membujuk temannya itu untuk tidak menunggunya. Rukia sendiri tidak yakin jika ia akan pergi menemui Ichigo nanti. Niat untuk ke toilet sirna sudah. Yang ada dipikiran Rukia saat ini adalah kembali ke tempat duduknya dan berharap acara ini akan segera selesai.

.

"Lama sekali. Sudah dimulai lho," ujar Hisana setelah melihat Rukia berjalan ke arahnya.

"Tadi aku bertemu teman sekolah," kata Rukia sambil kembali duduk di kursinya.

Jika boleh jujur, sekarang ini Rukia ingin sekali merengek dan minta pulang pada kakaknya. Tapi melihat ekspresi serius sepasang suami-istri yang serius dan menikmati alunan piano yang dimainkan peserta lomba, Rukia rasa permohonannya akan jadi angin lalu bagi keduanya.

Tepuk tangan penonton menutup aksi peserta pertama di atas panggung. Rukia membuka urutan peserta pada selembar kertas yang diberikan panitia.

2nd—Kurosaki Ichigo (Karakura International High School) : Etude op. 8 no. 2

Seorang pemuda berjalan dengan gagahnya di atas panggung. Ia berbungkuk sebentar pada penonton sebelum duduk menghadap grand piano putih yang senada dengan tuxedo yang ia gunakan. Siapapun akan terpukau dengan pesona laki-laki berambut orange itu saat ini. Benar-benar terkesan maskulin.

Hisana dan Byakuya saling menatap ketika melihat Ichigo naik ke atas panggung. Hisana cemas. Dapat terlihat jelas di wajahnya yang mulai pucat. Orang yang begitu mirip dengan mendiang kekasih adiknya ada di atas panggung sekarang. Dengan ragu Hisana menatap Rukia yang duduk di sebelahnya. Tapi Bukannya Rukia tidak menyadari tatapan cemas kakaknya itu. Ia sudah terlanjur hanyut pada sihir yang diberikan Ichigo saat ini dan tak mampu bicara apa-apa.

"Dia Kurosaki Ichigo," kata Rukia setelah suara tepuk tangan membahana dan hampir membuat suara kecil Rukia tertutup karenanya.

"Aku baik-baik saja," sambung Rukia lagi—kali ini dengan senyuman.

.

Suara gemuruh masih terdengar dari belakang panggung. Ichigo sudah memposisikan dirinya di kursi untuk sekedar bersandar. Tanpa ia sadari, garis bibirnya tertarik ke atas.

"Ternyata benar kata Tatsuki. Dia datang," kata Ichigo setengah berbisik.

Ichigo mengingat lagi kejadian tadi. Ketika ia membungkuk—menutup penampilannya sebelum meninggalkan panggung. Hazelnya menangkap sosok gadis yang duduk di deretan paling depan tersenyum dan bertepuk tangan untuknya. Entah kenapa rasanya ia begitu senang.

"Senang sekali sepertinya."

Satu suara menyadarkan Ichigo dari lamunannya. Ichigo menyeka keringat yang turun di pelipisnya sebelum menoleh pada arah datangnya suara tersebut.

"Kukira kau akan memainkan karya idolamu, Beethoven. Tahunya memainkan karya Chopin," ucap orang itu lagi.

"Bukan Chopin, tapi Scriabin. Jangan sok tahu, kalau memang tidak tahu, Ganju," kata Ichigo tertawa sinis.

"Terserah sajalah. Aku memang tidak mengerti dengan jenis musikmu," Ganju—laki-laki itu duduk di kursi kosong di samping Ichigo.

"Kukira kau bukan tipe orang yang dengan sukarela datang ke tempat ini," ujar Ichigo sambil meraih botol berisi air mineral dari dalam tasnya.

"Memang," jawab Ganju singkat. "Kau kira siapa lagi yang mampu membuatku berada di tempat macam ini?"

"Kukaku-san?" tanya Ichigo.

"Tepat. Aku bosan berada di bangku penonton, makanya aku datang kemari. Siapa tahu ada gadis cantik yang tertarik padaku," kata Ganju bergurau.

Ichigo tertawa mendengar ucapan Ganju.

"Bukannya mereka yang tertarik padamu, justru sebaliknya," balas Ichigo.

"Ceh. Berisik kau! Ngomong-ngomong, kau tidak punya pacar yang menemanimu setelah bertanding? Malang sekali nasibmu," ejek Ganju.

Laki-laki berambut orange itu meletakkan kembali botol air mineralnya ke dalam tas sebelum menjawab pertanyaan yang mengandung unsur mengejek dari Ganju.

"Aku bukan kau yang merengek jika sehari saja tidak bertemu perempuan," kata Ichigo.

"—KAU!"

"Kurosaki!" panggil seseorang dari arah belakang—seorang laki-laki berambut panjang tengah menghampiri Ichigo. Ah, Rose-sensei.

"Hebat! Kau memang seorang pianis berbakat, Kurosaki," kata Rose-sensei tanpa memperdulikan seseorang yang tak ia kenal tengah memasang tampang kusut ketika menatap dirinya yang memberikan pujian dan sanjungan kepada orang yang telah membuatnya kesal.

Ichigo hanya berterima kasih pada sensei yang telah membantunya beberapa minggu terakhir ini. Ternyata Rose-sensei bukan satu-satunya orang yang datang untuk memberi pujian. Tatsuki, Orihime, Renji, hingga Grimmjow—yang dikiranya tidak akan datang—juga tiba-tiba muncul dan bersorak. Seolah piala kemenangan sudah berada di tangan Ichigo.

"Oh, ayolah. Aku kan belum tentu menang," kata Ichigo merendah. "Masih ada lima orang yang belum tampil."

"Tetap saja aku bangga punya teman yang bisa masuk final dan ditonton para donatur sekolah dan pejabat!" kata Tatsuki sambil menepuk pundak Ichigo dengan keras—yang lain hanya tertawa ketika tubuh Ichigo ikut terdorong ketika pundaknya kena pukulan Tatsuki.

"Baiklah. Sepertinya aku kembali ke bangku penonton saja. Aku pergi dulu, Ichigo," izin Ganju.

Ichigo yang kewalahan menghadapi teman-temannya yang mulai berdatangan satu per satu itu hanya merespon dengan mengangguk pada Ganju yang nampaknya tidak perlu minta jawaban dari Ichigo.

.

Ganju menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika suara yang memekik keluar dari speaker ponselnya.

"Nee, kau membuatku tuli! Aku hanya pergi ke belakang panggung, Kukaku-Nee. Iya—hah? Tidak, aku tidak mengganggu Ichigo. Iya, iya aku tahu. Aku sedang—astaga, Nee-san, berhentilah memekik!" ucap Ganju kewalahan menjawab pertanyaan kakaknya via telpon.

Yah, salahnya juga tidak minta izin ketika pergi menemui teman lamanya itu di belakang panggung. Harusnya Ganju tahu, bahwa kakak perempuannya yang cerewet itu akan makin berteriak ketika ia melawan kata-katanya. Dan alhasil, telinganya seakan berdengung tak jelas setelah ponselnya ia tutup.

Langkah Ganju tiba-tiba terhenti saat bola matanya menangkap sosok yang ia kenal berjalan berlawanan darinya. Senyum sinis tercipta di bibirnya.

"Oh, Byakuya Kuchiki. Harusnya kuingat kau salah satu undangan penting pada acara seperti ini," kata Ganju dengan nada tidak suka.

Byakuya tak merespon. Niatnya adalah pergi ke toilet, tapi tiba-tiba disuguhi kalimat dengan nada bicara yang menurutnya tidak sopan dari orang yang telah lama tidak bertemu ini, langkahnya berhenti sesaat—sekedar memastikan bahwa orang yang sok kenal bicara padanya adalah dia.

"—Kau Shiba itu, kan?" tanya Byakuya memastikan. Jujur saja, ia hanya ingat marganya.

"Ya. Aku adik dari Shiba Kaien—itupun kalau kau masih ingat pada almarhum kakakku," kata Ganju.

Byakuya masih menatap Ganju tanpa ekspresi. Ia tidak menjawab. Otaknya bahkan cuma mengingat wajah Shiba Kaien dibanding orang yang mengaku adik dari Shiba ini.

"Kau lupa? Baiklah kuberi satu clue, Shiba Kaien adalah korban kecelakaan yang diakibatkan oleh kekasihnya sendiri satu tahun yang lalu—kau tahu siapa yang kumaksud, bukan?" tanya Ganju dengan pandang mengintrogasi.

"Kejadian itu murni kecelakaan, tak ada hubungannya dengan Rukia," Byakuya menautkan alisnya—mulai tak suka dengan sikap laki-laki di hadapannya. "Permisi, aku ingin lewat."

Ganju bergerak ke samping memberi jalan. Wajahnya masih sinis dan menyiratkan kebencian pada orang yang baru saja melewatinya tanpa hormat.

"Cih. Semua Kuchiki itu sama saja."

.

Ichigo jadi salah tingkah saat Rukia datang menemuinya. Tidak berbeda dengan Ichigo, Rukia merasa ada atmosfir aneh di antara mereka berdua. Kalau saja Renji, tidak memaksa Rukia ikut menemui Ichigo, Rukia tidak akan berani ada di tempat ini. Dan lagi, sekarang orang yang telah memaksanya kemari sudah pergi entah kemana. Meninggalkan dua orang kikuk yang tak juga kunjung bicara.

'Renji sialan!' batin Ichigo kesal.

"—Selamat atas kemenanganmu," kata Rukia mulai bicara dengan susah payah.

Ichigo tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sekarang saja penampilannya sudah tidak bisa dikatakan rapi lagi. Ia hanya memakai setelan celana hitam dan kemeja putih yang 3 kancing atasnya telah ia buka karena gerah, dasinya hanya ia gantung asal di leher, sedangkah rambutnya yang ditata serapi mungkin sudah ia acak setelah pengumuman juara selesai.

"Hmm… Terima kasih. Tak kusangka kau akan datang," balas Ichigo setelah sekian lama tak merespon ucapan Rukia. "Maaf penampilanku begini," sambung Ichigo sambil memasang kembali kancing kemejanya.

Rukia hampir tertawa saat Ichigo selesai mengancingkan kemejanya. Ichigo yang tak mengerti hanya menatap Rukia dengan pandangan tak mengerti. Dengan perlahan Rukia mendekat pada Ichigo dan—

"Tidak usah buru-buru. Kau salah mengancingkan baju," kata Rukia sambil melepas kemudian mengancing kembali kemeja Ichigo—kali ini dengan letak yang sesuai tentunya.

Gadis mungil itu sendiri tidak sadar bahwa ia begitu sangat dekat dengan tubuh Ichigo. Mata Rukia hanya tertuju pada kancing yang ia pasangkan. Ichigo makin salah tingkah, ia bahkan bisa mencium harumnya parfum yang Rukia pakai saat berada dalam jarak seperti ini. Ah, rasanya ia ingin sekali memeluk tubuh gadis kecil itu, tapi untungnya ia masih bisa menahan diri.

"Nah, sudah selesai," ucap Rukia lalu tanpa sengaja menatap hazel Ichigo yang tengah menatapnya—sejak tadi tentu saja.

Wajah Rukia memerah. Ia baru sadar jarak mereka yang—uh, dekat sekali.

Tangan Ichigo bergerak dengan sendirinya. Menyentuh sisi kanan wajah Rukia kemudian mengelusnya. Rukia tersentak kaget—violetnya membulat, tapi tubuhnya seakan beku tak bisa bergerak—tidak seperti biasanya. Bola mata berwarna musim gugur milik Ichigo telah berhasil membuat Rukia tenggelam ke dalam pesonanya.

Perlahan tapi pasti, wajah Ichigo telah makin mendekati wajah Rukia. Hembusan napas keduanya dengan lembut menyapu wajah satu sama lain.

5 senti. 3 senti. Sedikit lagi—dan…

"Yo, Ichigo!"

Ichigo dan Rukia segera memperlebar jarak. Keduanya tersadar dengan tiba-tiba. Rukia menekan dadanya dengan kuat setelah panggilan dari seorang perempuan membuat jantungnya terasa hampir lepas dari tempatnya.

"O-oh, ka—kau Keigo! Lama tidak bertemu," kata Ichigo sambil menutupi rasa kaget bercampur malunya.

"Hoo… Apa aku mengganggu kalian? Kulihat kalian akan ehm—kurasa tak perlu kusebut. Maaf ya, Nona, kami datang di waktu yang salah," kata pemuda bernama Keigo tersebut.

Rukia tak menyahut. Menatap orang yang tengah bicara padanya itu saja ia tidak mau, apalagi bicara. Ia terlalu kaget—dan malu!

"Hey, Rukia! Kau Kuchiki Rukia, kan?" tanya seorang perempuan seumuran dengan Rukia tiba-tiba muncul dari belakang Keigo.

Rukia menoleh untuk melihat orang yang memanggilnya. Seorang gadis yang sepertinya tidak ia kenal.

"Ini aku Mahana! Mahana Natsui*, teman sebangkumu 3 tahun berturut-turut saat SD," ujarnya mengingatkan.

Gadis mungil itu menggeleng tak ingat. Tak ada ingatannya sedikitpun tentang orang yang terlihat begitu mengenalnya.

"Kalian pacaran?" tanya gadis bernama Mahana itu pada Ichigo.

Ichigo terdiam—tidak mengiyakan juga tidak membantahnya. Ia tidak percaya dengan pertanyaan yang terlontar dari gadis yang tidak ia kenal itu.

"Hebat. Akhirnya kalian bersatu juga. Tak kusangka cinta masa kecilmu akhirnya bersambut ketika SMA, Rukia-chan," kata Mahana girang.

Rukia menyerngitkan alisnya. Sedangkan Ichigo dan Keigo saling tatap karena bingung atas perkataan gadis yang dibawa Keigo. Mahana masih tidak sadar dengan keadaan Rukia yang mulai memucat—entah kenapa kepalanya terasa begitu sakit hingga membuat pandangannya mengabur. Tak jelas.

Makin ia menahan rasa sakit itu sekelebat ingatan muncul tak tergambar dengan jelas. Ingatan itu muncul seperti memutar kembali waktu yang terlupakan.

"Namanya Kurosaki."

"Jangan terlalu sering melihatnya. Aku heran apa yang bagus darinya. Wajahnya menurutku—menyeramkan."

"Ya, aku tahu. Kau menyukainya, akui sajalah."

"Katakan sekarang, atau kau akan menyesal nanti!"

Itu dia…

"Ibunya meninggal kemarin."

"Rukia-chan, hati-hati di jalan."

"Tidak. Terima kasih."

"HEY, LIHAT KE BELAKANGMU!"

Gelap?

Di mana?

Violet Rukia membulat. Jemarinya mencengkram kuat kulit kepalanya. Napasnya memburu. Sakit pada kepalanya makin membuat Rukia tak bisa berdiri tegak—lemas. Ia takut. Ia tidak mengerti.

"Rukia? Ada apa denganmu?" tanya Ichigo cemas. Dengan langkah cepat ia tangkap tubuh Rukia yang tiba-tiba bergerak mundur dengan ekspresi yang tidak beres.

Bruuuk!

"RUKIA!"

.

.

=== TBC ===

.

A/N :

1.*Mahana Natsui itu bukan OC. Jika kalian ingat, ia adalah salah satu teman sekelas Ichigo di SMA Karakura. Itu loh, gadis berambut keriting pendek. Dia memang jarang ditampilkan. Karena tidak tahu harus memasukkan karakter apa lagi, kuputuskan Mahana saja (karena menurutku dia lumayan cocok untuk dapat peran ini) -_-"

2. Ngomong-ngomong mulai chapter ini ga aku kasih judul. Kadang yang bikin lama update cuma gara-gara judul doang. Terus, chapter ini kok abal banget ya. Kesannya sinetron abis. Bahagia bentar, eh, si tokoh utama kena masalah lagi. Doakan sajalah dia cepat bahagia bersama partner hidupnya nanti.

3. Kira-kira bagusnya aku apdetnya sebulan dua kali atau sebulan sekali aja ya =.=a (ah, pasti maunya sebulan dua kali). Awalnya aku pikir nanti-nanti saja update chapter ini, tapi berterima kasihlah pada empunya Bleach—Tite Kubo-sensei—yang telah memunculkan Rukia Kuchiki lagi di chapter terbarunya. Yang tentu saja menjadi penyemangat para IchiRuki lovers ya fufufu~

4. Well, udah masuk bulan puasa nih. Aku selaku author mohon maaf bila ada salah ngomong ya. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang muslim, semoga segala amal ibadah kita diterima Allah SWT

5. Terima kasih udah baca chapter ini (balasan review chapter lalu aku kirim lewat PM). Sampai jumpa di chapter depan. Sekarang waktunya review ya/bah

#

#

R E V I E W (again)?

if you dont mind~