Why Love Is Hurt Me ?
***
-Diclaimer-
Bleach : Tite Kubo
***
Kenapa cinta itu itu menyakitiku ??
Padahal aku telah mengorbankan apa pun
Untuknya ..
***
A/N : Di sini ceritanya Gin itu kecelakaan mobil trus koma. Rangiku itu udah meninggal terlebih dahulu gara-gara kecelakaan mobil juga. DONT LIKE DON'T READ !
***
Gin samar-samar mendengar suara yang agak ribut di saat luka-luka itu membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas dan tak mengetahui bahwa dirinya sudah di kerumuni orang-orang. Yang terakhir di ingatnya adalah mobilnya menabrak sebuah bus yang menuju arah berlawanan dengannya.
"Gin? Kau kah itu? Astaga! Bertahanlah, kau tidak pantas mati seperti ini," terdengar suara khas yang sempat membuat Gin tersenyum, suara Kira yang tidak lain adalah sahabatnya. Saat itu juga, semuanya menjadi kelam dan gelap bagi Gin.
Gin membuka matanya. Di temuinya langit biru di hadapannya. Ia segera bangkit saat menyadari dia berada di hamparan padang rumput yang teramat luas. Apalagi, di depannya terhampar pula sungai yang tampak sangat jernih dan indah. Membuat tempat ini terlihat begitu sempurna di mata setiap orang yang melihatnya. Tapi tetap saja Gin bertanya-tanya di mana ia sekarang berada.
Gin mulai berjalan mengikuti arah sungai. Terus, terus dan terus berjalan sampai dia menemukan pondok kecil dari kayu yang di tumbuhi bunga-bunga di sekelilingnya.
Jujur, pondok itu sangat menarik di mata Gin—entah karena apa.
"Gin, apa itu kau?"
Gin tersentak. Suara khas itu adalah suara yang telah terkubur jauh dalam kenangannya.
"Rangiku? Apa kau benar Rangiku?"
Perempuan yang muncul secara tiba-tiba itu tersenyum. Rambut coklatnya berkibar tertiup angin.
Gaun putih lembut yang di kenakannya membuat perempuan tersebut terlihat lebih cantik dari biasanya. Gin mengenali gaun itu, itu adalah gaun yang akan di gunakan Rangiku saat mereka akan menikah dulu.
'Kalau aku bertemu Rangiku di sini berarti… ini bukan lagi bumi… ini surga."
"Kenapa kau ada di sini?"
Gin terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan tersebut. "Mungkin… ini tempatku sekarang."
"Tidak… ini bukan tempatmu… kau masih memiliki harapan untuk hidup dari kecelakaan itu."
Gin menatap bingung ke arah Rangiku. "Darimana kau tahu aku kecelakaan?"
"Aku selalu mengawasimu dari sini… setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik." Rangiku tersenyum tulus.
"Tapi, bagaimana bisa aku kembali? Aku sudah berada di sini."
Kini giliran Rangiku yang menatap Gin bingung. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Hanya mengikuti naluriku sendiri."
"Tidak bisa! Kau harus kembali… banyak yang mengharapkanmu kembali…."
"Kau tidak senang aku di sini?"
"Bukan begitu maksudku!" kata Rangiku lalu tertawa lepas. Membuat Gin mengingat merasa beruntung dapat mendengarnya lagi.
"Omong-omong, itu pondokmu?" tanya Gin.
Rangiku mengangguk. "Ya begitulah. Pondok di tengah tempat seperti ini—aneh ya?"
"Tidak juga—menurutku."
"Baguslah kalau begitu. Bagaimana kalau kita mengelilingi tempat ini? Lumayan mengasyikkan kok," Rangiku mulai berjalan sedangkan Gin mengikutinya dari belakang dan akhirnya mensejajarkan langkahnya dengan langkah Rangiku.
***
Lama Gin dan Rangiku melepas rindu mereka. Melepas semua kenangan yang dahulu mereka lalui bersama. Kenangan yang dahulu juga terkurung dalam hati kecil masing-masing.
"Aku merindukanmu, Rangiku. Sangat merindukanmu."
"Aku juga. Ternyata sikapmu tidak pernah berubah."
"Aku tidak akan pernah berubah. Akan selalu seperti ini untuk semua dan juga dirimu."
Rangiku kembali tersenyum. Tapi, raut wajahnya berubah secara tiba-tiba.
"Tapi, kau harus kembali, Gin."
"Kembali? Lalu meninggalkanmu di sini?"
"I-iya. Kau masih memiliki secercah harapan, Gin."
Dahi Gin berkerut. "Bagaimana kau tahu? Aku datang ke sini di karenakan luka parah dan sudah bertemu denganmu. Tanda akan apa itu?"
Rangiku menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Belum tentu seperti itu. Tuhan yang mengatur semuanya, bukan kau."
"Ok, ok, baiklah kalau itu maumu." Gin segera bangkit dan berdiri tegap.
Gin terdiam sesaat. Semilir angin menemani suasana hening yang datang tanpa di sangka. Membuat keduanya hanya bisa saling menatap dan tak berani berkata apa pun.
"Kau akan tetap mengawasiku bukan?" tanya Gin.
Rangiku mengangguk lalu berdiri untuk mengantar Gin. "Iya, aku akan selalu mengawasimu dari sini. Akan selalu menemanimu dalam sepinya hari dan dinginnya malam. Jangan lupa sampaikan salamku pada teman-teman yang lain."
Gin tersenyum—khasnya. "Tentu, akan aku sampaikan. Berdoa saja mereka akan mempercayainya."
Tapi, belum Gin berbalik, butir air mata jatuh ke pipi Rangiku.
"Aku tidak pernah ingin kau pergi dari sisiku lagi," gumam Rangiku pelan.
Gin terdiam sebentar lalu dipeluknya seerat mungkin tubuh Rangiku. Rangiku merasa tak ingin melepaskan pelukan itu selamanya, begitu pula Gin. Keduanya melepas kerinduan kembali.
"Andai saja kau dulu tidak pernah pergi, Rangiku. Andai saja dulu kau tetap di sampingku, kita akan menjadi suami istri yang saling melengkapi satu sama lain. Tapi, Tuhan justru menggariskan kecelakaan itu sebagai takdirmu sampai kau harus pergi— meninggalkanku dan pernikahan kita yang tinggal menghitung hari."
Rangiku semakin terisak. Dia menangis, menyesali takdir yang tidak berpihak kepadanya—juga pada Gin. Menyesali dulu dia tidak bisa merasakan memeluk Gin sebagai suami seumur hidupnya. Menyesali dulu saat dia—bahkan—tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Gin untuk yang terakhir kalinya.
"Semuanya berakhir pedih karena kepergianmu, Rangiku. Semuanya berubah kelam, semuanya berubah dingin dan terbentuklah ruang hampa di dalam hati yang dahulu kau isi dengan kasih sayang dan cinta."
Isakannya semakin terdengar kencang. Menggema di surga yang terlalu sempurna baginya—walau tak sedikit pun membuatnya bahagia. Kini Gin tahu kenapa Rangiku selalu mengawasi setiap detik sekali pun
…karena dia kesepian. Tak cukup ada di surga, tak cukup dengan harapan yang di hantarkan teman-temannya padanya, tak cukup dengan kenangan yang dulu mereka rasakan. Semuanya bisa terisi dengan kebahagiaan bila mereka bersama dalam satu ikatan yang takkan pernah menyentuh kata itu… kesepian.
"Maaf kalau aku egois sampai terus menginginkanmu di sini bersamaku. Aku melupakan bahwa tempatmu bukan di sini tapi di bumi bersama yang lainnya. Kembalilah ke mereka," ucap Rangiku di tengah isak tangisnya.
"Aku tak bisa kembali bila melihatmu kesepian seperti ini. Surga ini memang indah tapi, semuanya percuma bila kita hanya sendiri."
"Aku mohon, kembalilah Gin. Kembalilah ke bumi. Tempat seharusnya kau benginjakkan kakimu dan menjalani kehidupan yang normal kembali."
"Aku akan kembali kalau kau berjanji akan baik-baik saja di sini."
Rangiku tertegun. "Aku… tidak bisa berjanji."
"Rangiku," panggil Gin. "Berjanjilah."
Rangiku semakin diam. Menutup erat bibirnya. Ia berusaha berpikir keras untuk berjanji seperti itu pada seseorang. Tapi, ia yakin ini yang terbaik.
"Baiklah. Aku berjanji," ujar Rangiku berusaha tersenyum tulus—juga berusaha menguatkan hati serta jiwanya.
Gin tersenyum lalu mengecup dahi Rangiku, hal yang selalu ingin di lakukannya sejak Rangiku pergi.
Kemudian, keduanya mulai melepas satu sama lain. Gin berjalan mundur—untuk melihat wajah Rangiku terus-menerus. Begitu juga Rangiku yang kemudian mengatakan kata-kata untuk terakhir kalinya. Kata-kata yang nantinya akan membuat kenangan mereka tertutup dengan kebahagiaan.
"Sampai jumpa lagi, Gin! Aku mencintaimu! Cinta kita memang sudah berakhir dengan pahit tapi kau harus tahu biar pun aku di sini, aku akan mencintaimu selamanya!"
"Aku juga mencintaimu, Rangiku! Selamanya!"
Rangiku tersenyum. Gin juga. Gin mulai berbalik dan berjalan menjauh. Tidak lagi terdengar suara isakan seperti tadi. Yang ada hanya aliran sungai dan angin yang bertiup lembut.
Gin membuka matanya. Barulah dia menemukan ruangan rumah sakit. Dan dengan yakin, dia sudah kembali ke tubuhnya. Kepalanya terasa begitu sakit karena benturan pada saat kecelakaan.
'Ini baru normal….' Batin Gin.
Gin masih mengingat akan kejadian tadi. Jika itu mimpi, itu adalah mimpi terindah baginya. Jika itu khayalan, maka jangan sampai itu terlupakan olehnya.
"Sampai jumpa lagi, Gin! Aku mencintaimu! Cinta kita memang sudah berakhir dengan pahit tapi kau harus tahu biar pun aku di sini, aku akan mencintaimu selamanya!"
Gin tersenyum sendiri saat mengingat hal itu.
'Rangiku, apa kau bisa mendengarku? Aku sudah kembali.' Batin Gin lagi.
Gin melirik ke kiri-kanan dan menemukan Kira dan juga yang lainnya tersenyum senang melihat dirinya. Satu per satu dari mereka menghampirinya yang masih terbaring lemah di tempat tidur—juga dengan berbagai macam selang dan alat pengecek detak jantung.
"Ichimaru, akhirnya kau sadar juga," kata Toushiro.
"Iya, kau koma lama sekali. Seminggu mungkin," Ichigo menimpali.
"Teman-teman… aku… aku bertemu Rangiku."
Mata mereka semua membesar. "Benarkah?"
***
Author : Buset, q yang bikin jadi ikutan sedih bacanya …
Rukina : iya, sedih ehh .. tapi nggak yakin bisa bikin nangis nih .. apa lagi rada gaje –di gampar author-
Author : Tapi soal surga itu hanya gambaranku semata saja loh. Jangan di percaya banget ya!
Rukina : khayalanmu tapi bagus juga :p
Author : ya udah deh, jangan lupa REVIEW ya !!
