Masashi kishimoto's

Ooc.

AU.

Pendek.

T semi M!

.

.

.

Mental Breakdown.

.

.

.

"Apa kau butuh bantuan?" tanya Sasuke.

Aku masih terlalu kesal. Sepanjang perjalanan menuju Paris aku menyaksikan ribuan mata wanita cantik memandangi Sasuke.

Tidak! bahkan beberapa dari mereka berani memeluknya dan meminta nomor Sasuke di depan mataku.

Aku adalah Istrinya.

Tapi nampak seperti badut jelek yang membuntuti Sasuke dari sudut manapun!

Yang lebih membuatku kesal adalah Sasuke menanggapi mereka dengan senyuman nakal.

Aku sedang tidak ingin bicara.

Bergelut dengan perasaan tidak karuan dan resleting dress yang sulit diturunkan.

Sasuke menghampiriku saat tidak mendapat jawaban.

Aku tahu dia sedang menatapku penuh pertanyaan.

Aku sudah mendiamkannya semenjak kami sampai di hotel.

Ia menarikku.

Meski kesal, aku melihatnya mencoba membantuku membenarkan resleting sialan yang hanya naik setengah jalan.

Tangannya memegang tanganku yang masih berusaha keras mengurusi resleting bajuku sendiri.

"Biar aku saja."

Tanganku akhirnya melepas benda menyebalkan itu.

Aku benar-benar mencoba untuk menyembunyikan emosiku.

Tapi melihat Sasuke yang juga agak kesulitan menurunkan restleting bajuku, membuatku mau tidak mau merasa malu dan akhirnya emosiku pecah juga.

Aku tidak bisa lagi merendam emosiku. Dan menahan ingusku yang memaksa keluar.

Kurasa Sasuke menyadarinya. Dia mengusap-usap punggungku pelan.

"Nah, sudah. Aku tahu ada sesuatu yang salah. Jadi ada apa, Hinata?" Sasuke memutar tubuhku. Dan dia sedikit panik saat tahu aku menangis.

"He-hei, ada apa, Hinata?"

"Bajuku sudah tidak muat lagi." jawabku sambil sesegukan. Sangat menyedihkan.

"Kalau begitu, kita beli baju baru. Tentu saja baju-bajumu sudah tidak muat lagi. Kau sedikit menggemuk karena anak kita sedang tumbuh di dalamnya."

Tidak!

Apa Sasuke tidak tahu bahwa semua wanita tidak suka jika berat badannya harus dikait-kaitkan di dalam perbincangan mereka? Dan jika dia sedang bermaksud menghiburku. Dia sudah melakukan kesalahan besar.

Aku merasa lebih buruk dan ingin mencakar habis mukanya.

"Ya! Aku tahu itu! Kau tidak perlu memberi tahuku! Aku jadi jelek. Aku gendut. Dan aku tidak menggairahkan!" Aku berteriak sejadi-jadinya. Aku sangat marah.

Hari ini aku sudah membungkus emosiku sebisa mungkin untuk tidak memutilasi semua gadis murahan yang mengedipkan sebelah mata mereka untuk Sasuke.

Dan sekarang aku merasa akan meledak.

Apa yang mengesankan dari Sasuke sampai semua gadis memujanya?

Dia sangat tidak peka!

Ini bukan soal Bajuku yang sudah tidak muat saja.

Aku bahkan bisa merasakan darah di dalam tubuhku sedang bergejolak.

"Bahkan asistenmu lebih cantik dariku. Damn it. penggemarmu yang tidak tahu etika bahkan lebih cantik dariku! Aku sangat jelek. Mereka menggodamu seolah kau masih single!"

Aku akhirnya bisa menurunkan resleting itu. Aku tidak mau mengenakan seluruh baju bermerek itu lagi. Apa gunanya baju bermwrek mahal jika aku harus mengkerahkan seluruh tenagaku saat ingin mengganti pakaian.

Aku tidak peduli jika aku harus mengenakan pakaian dalam saja.

"Ba-baiklah, bagaimana kalau aku belikan baju yang lainnya? Okay?"

"Tidak! Tidak ada yang cocok untukku!" Aku menatapnya tajam.

"Sekarang, pergilah dan cari gadis lain yang lebih cantik, sexy dan tidak hamil. Aku akan tinggal di hotel!"

"Baiklah... aku akan mencarikan baju untukmu di seluruh department sto-"

"KUBILANG TIDAK! BERADA DI DEPANMU MEMBUATKU MERASA SANGAT JELEK. PERGI SEKARANG JUGA!"

Dengan itu, aku mendendengar pintu tertutup.

.

.

.

Aku tidak tahu sejak kapan aku menangis. Tapi mataku terasa berat. Dan kurasa aku sudah tertidur selama beberapa jam.

Terbukti sekali saat aku membuka mataku.

Selimut tebal menyelimuti tubuhku sampai dagu.

Aku merasa mataku agak perih. Dan aku sedikit kesulitan untuk duduk karena perutku yang memang sudah sangat besar.

Tapi sesuatu yang hangat menyentuh keningku.

Saat aku membuka mataku dengan benar, Aku tidak bisa menahan merah muda di pipiku.

Sasuke. Suamiku.

Dia duduk di sampingku dan menatapku dengan hangat.

Tangannya menyodorkan susu hangat. Meminumkannya padaku. Lalu tersenyum.

"Merasa baikan?" Sasuke mengusap kepalaku pelan.

Aku tidak merasa baikan. Aku sangat malu.

Semalam aku pasti terlalu berlebihan.

"Maafkan aku,"

"Hei... kenapa kau menangis lagi?" Sasuke melap air mataku dengan tangannya.

"Dengar. Kau sangat cantik Hinata. Kau sangat menawan dan kau membuatku bergairah setiap kali kau bersamaku."

Dia membuatku tersipu.

Aku hanya diam dan melihatnya selama beberapa menit. Dimatanya aku menemukan kenyamanan yang aku butuhkan.

"Aku melihat kau tersenyum kepada gadis-gadis itu. Aku tahu kau ingin bersama mereka. Atau supermodel. Bukan bersamaku. Aku sangat gendut dan pemarah."

Sasuke memelukku dan mengusap kepalaku. Aku hampir lupa betama menakjubkannya aroma Sasuke saat kami berdua di tempat yang sama. Aku suka wanginya yang bercampur dengan parfum mahal. Aku bahkan sangat menyukai wajahnya yang tampan.

"Lihat... kau sangat cantik, Hinata. Rambutmu bersinar, kulitmu sehat dan mengetahui anakku sedang tumbuh sehat di dalam rahimmu, membuatmu berkali-kali lebih cantik. Jangan pernah merasa sebaliknya, Okay?"

Sasuke meraih satu bingkisan di samping tempat tidurku.

Gaun simple yang indah. Dan lebih dari satu.

Aku merasa menyesal dan terharu.

"Semalam aku benar-benar tidak tidur untuk ini semua. Dan kau tahu apa? Beberapa gadis mengiraku tidak normal melihat betapa paniknya aku semalam."

Aku terkekeh. Saat dia mengerucutkan mulutnya.

Namun kekehanku terhenti saat aku merasa seluruh pakaian dalamku sudah absen.

Aku bahkan tidak sadar sejak kapan Sasuke melucutiku?

Dia tersenyum nakal. Bibirnya mengecup seluruh permukaan wajahku. Sasuke selalu penuh kejutan.

"Jadi... apa kau masih merasa jelek?" Katanya. Bibirnya tengah menghisap halus kulit leherku.

"Ya..." aku merasa sangat lemas. Sasuke tidak akan pernah berhenti mengejekku sampai dia merasa puas.

"Sekarang bagaimana?" Tanyanya saat dia kembali mencium pundakku.

"Ma-masih,"

"Lalu... sekarang?" Dan bagaimana bisa aku menjawabnya kalau dia menutup mulutku rapat-rapat oleh bibirnya?

.

.

.

Hai... Maaf telah menelantarkan semua fic yang aam buat sampai menahun... huhuhu

Aam mau mulai aktif lagi.

Terimakasih sudah membaca dan mereview... memfav dan memfollow...

Chapter ini dipersembahkan untuk semua yang menunggu update an fic am yang gaje.. hehe