Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya. Beberapa OC baik karakter manusia atau makhluk mitologi diambil dari legenda dan mitologi nyata dengan pengubahan seperlunya.
Rated : T
Warning : Alternate Universe, Original Characters. Maybe contains some Out of Characters and Typographical Error
About this fic : Ini merupakan sekuel dari fic Paradox –by Itami Shinjiru
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance. Little bit of Mystery
Any Little Note: Tebak sendiri POV dalam tiap chapter
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 9, readers!
Meskipun agak telat, saya Itami Shinjiru selaku author dari fic Paradox dan Paradox 2 mengucapkan taqaballahu mina wa mingkum, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin! Selamat hari raya Idul Fitri 1436 H! Semoga amal ibadah kita semua diterima dan diberi ganjaran dan dapat kembali ke fitrah tiap-tiap manusia! Saya mohon maaf setulus-tulusnya bila ada kesalahan dalam fic maupun segala tulisan saya yang lain.
Maaf ya, lama :D internet saya sedang bermasalah.
Enjoy read chap 9 !
~ PARADOX 2 ~
The Blood of Pomegranate
パラドックス 2 - ザクロの血液
CHAPTER SEMBILAN:
One Direction
The Prison
DELAPAN PILAR menjulang di puncak Bukit Vursina yang permai, yang dilapisi rerumputan tebal dan pohon-pohon kecil berbuah yang subur. Bebatuan tertata apik, udara terasa menyenangkan. Matahari cerah, tanpa satupun awan yang menghalangi. Langit biru bersih dengan beberapa naga kecil berkejaran. Lantai marmer di puncak bukit itu, dan fondasi air mancurnya, menjadi saksi bisu berdirinya sebuah organisasi naga terhebat seantero dunia.
"Jadi ... kita sudah mendapatkan delapan anggota," Deavvara mengabsen, "dengan masing-masing kemampuan yang berbeda, latar belakang berbeda, dan sifat yang berbeda-beda."
"Jenis yang berbeda juga," imbuh Hermes. Ia melirik Ardhalea yang duduk di salah satu kaki pilar, mengasah pedangnya.
"Baiklah. Sesuai titah Ootsutsuki Hagaromo yang kini telah memasuki masa-masa sekaratnya—"
"Hampir wafat," koreksi Ardhalea.
Deavvara mendecih iseng. "Terserah ah. Delapan sudah berkumpul. Kalian akan mendapatkan semacam warisan dari Rikudo Sennin, warisan pecahan kekuatan yang luar biasa dari Datara, monster berekor sepuluh yang pernah meneror dunia. Kalian akan memikul tanggungjawab yang besar seiring besarnya kekuatan yang kalian miliki. Dan dengan kekuatan itu, kita berdelapan akan menjaga keseimbangan dunia, menghancurkan apa yang harus dihancurkan dan mempertahankan apa yang harus dipertahankan."
Ardhalea menyarungkan pedang, maju ke hadapan enam anggota, berubah menjadi naga. "Untuk itu, kita membutuhkan nama untuk organisasi kita." Ia memandang berkeliling. "Ada yang punya usul?"
"Bagaimana kalau Sirius?"
Semua memandang asal suara: naga merah bertubuh ular dengan kerah leher dan tanduk rusa di alisnya.
Pyrus berdehem. "Sirius itu bintang paling terang di langit. Kupikir organisasi kita bisa bersinar seterang Sirius—dalam arti harfiah, sih."
"Usul yang bagus," celetuk Parthenon. "Tapi kalau misalnya ada usul yang lain ..."
"Hachiryuu?" Usul Styx.
"Delapan naga?" Selidik Droconos. "Apa itu nggak terlalu biasa? Kita butuh nama yang lebih keren, Bung. Sesuatu yang kalau bisa melambangkan jumlah kita dan tujuan kita."
"Aku punya usul," ucap Beleriphon. Semua mata memakukan pandangannya ke arahnya. "Etatheon. Artinya delapan pilar. Yang itu bagaimana?"
Deavvara dan Ardhalea berpandangan. "Sepertinya yang itu oke juga," cetus Deavvara. "Delapan pilar. Ampun deh, maknanya dalam sekali. Bagaimana menurutmu, Dik?"
"Kau sedang kerasukan setan puisi," cetus Ardhalea cuek. "Tapi Etatheon nama yang berkarisma."
"Jadi?" Deavvara menyapukan pandangannya ke keenam anggotanya, memastikan. Pyrus mengangguk. Styx dan Droconos kompak setuju. Parthenon menyeringai. Ia memandang satu-satunya naga yang masih abstain. "Hermes?"
"Sayang sekali ide itu berasal dari Beleriphon," ketus Hermes. "Aku 50-50."
Ardhalea mengerling. "Hermes?"
Hermes meringis. "Oke deh. Etatheon nggak masalah. Aku terima."
Deavvara mengangguk. "Kalau begitu sudah diputuskan. Organisasi kita akan bernama Etatheon, Delapan Pilar, mulai sekarang. Dan kita tidak bekerja secara individu, kita adalah naga yang kuat saat sendiri tapi tak melupakan teman, dan akan bertambah kuat jika bersama."
"Bersama-sama," rangkum Ardhalea, "itulah kekuatan terbesar kita."
"ETATHEON!" Mereka berdelapan berteriak bersamaan, mengisi atmosfer sekitar dengan jutaan energi. Semangat. Harapan. Kepercayaan. Tanggungjawab. Mereka siap menghadapi apapun yang ada di dunia, dengan bersama.
.
.
.
Ardhalea terhenyak. Setetes peluh meluncur dari dahinya, jatuh ke lantai beton. Oh, sekarang giliran ruangan ini memanas. Ia tidak tahu kenapa mendadak bisa bermimpi soal kejadian ratusan tahun silam, ketika Etatheon pertama resmi dibentuk. Sekarang, ia bahkan tidak tahu dimana Parthenon dan yang lainnya. Mereka hanya benar-benar bersatu jika ada masalah. Selain itu ... mereka berpencar.
Gadis berambut perak itu menggemerincingkan rantainya, mengumpat dalam hati kenapa rantai itu bisa bertahan cukup tegar melewati panas dan dingin yang ekstrem.
Laki-laki bertopeng itu bilang dia akan kembali besok di jam yang sama.
Sayangnya, Ardhalea tidak tahu jam berapa ketika waktu itu dia mengunjunginya dan memberinya makan. Ups.
Ardhalea menghela napas keras. Ia merasa aneh ... apa kata yang tepat untuk menjelaskannya? Ia merasa terhina. Dikunjungi dua kali sehari dan dibawakan makanan? Memangnya dia peliharaan? Dirantai, dikurung, diberi makan. Oh, sempurna. Bahkan pecinta hewan peliharaan takkan melakukan hal ini pada peliharaannya. Ardhalea diam-diam berharap pria bertopeng itu dilempar ke dalam dan dikurung bersamanya saja sekalian.
.
Harapannya terkabul.
Pintu terbuka. Kali ini suhu dingin berganti lagi menjadi suhu panas—cairan merah menggelegak kembali mengisi parit. Ardhalea menunggu beberapa detik. Tidak ada yang muncul dari pintu.
Kemudian dia datang.
Bukan kedatangan yang dramatis, sih. Lelaki bertopeng itu dilempar ke dalam—setidaknya begitu dugaan Ardhalea. Lelaki itu terlihat seperti baru jatuh dari seratus anak tangga, berguling-guling sepanjang lantai beton hingga nyaris tercebur ke parit. Dia bangkit, pakaiannya robek dan gosong, topengnya tergores. Pintu terbanting di belakangnya.
"Wah, wah," ledek Ardhalea datar, "sudah kubilang kan Parraryon akan meringkusmu."
Lelaki itu bangkit, mengusap bahunya, memegangi lengan kiri atasnya. "Mmmh. Aku mestinya tidak meragukan firasat seorang Paradox."
Dinding penjara bergerak ke dalam. Lelaki bertopeng itu menyeberangi jembatan besinya dengan hati-hati, tepat ketika dinding besi menyempit dan merapat hingga tepi parit. Sekarang satu-satunya tempat datar dan dingin yang bisa mereka jadikan tempat pijakan adalah bantalan beton berbentuk lingkaran di tengah parit.
"Parraryon mengendus rencanaku," gerutunya. "Dia melemparku kemari setelah melahapku."
Ardhalea mengernyitkan alis. Lelaki bertopeng itu mengibas tangan.
"Gaya Koroiois meliputi setiap tubuhnya, Non. Sebagian besar chakraku hilang ketika dia menelanku, lalu dimuntahkan lagi. Butuh waktu beberapa hari untuk memulihkannya, tapi aku hanya menguasai elemen besi. Aku ragu besiku bisa menghancurkan dinding ini."
"Mungkin kau bisa menggunakan Koton-mu untuk memotong rantaiku," saran Ardhalea.
Ia mendengus. "Setelah itu kau akan melemparku ke kubangan tanur itu?"
"Bisa jadi."
Lelaki itu duduk disamping Ardhalea, menghela napas keras. "Ini semua di luar rencana. Kupikir aku sempat membuat Parraryon terkesan, tapi ujung-ujungnya tetap saja seperti ini."
Ardhalea terdiam. Meskipun seluruh kekuatan naganya terisap habis, ia masih memiliki kekuatan batinnya. Ia bisa membaca aura orang ini. Lelaki ini orang yang sudah menderita sejak lama ... mungkin karena dianggap tidak berguna? Makanya dia melakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya berguna, bagi siapapun itu—tapi sementara, itu baru perkiraannya.
"Memangnya apa yang kau lakukan untuk Parraryon?"
Lelaki itu memandang Ardhalea dengan tatapan misterius dibalik topengnya. "Kau janji nggak bakal meninjuku?"
Gadis berambut perak itu menggemerincingkan rantainya. "Dengan keadaan begini?"
Lelaki bertopeng itu mendesah. "Aku ... membangkitkan yang mati kembali hidup. Untuk memperkuat pasukannya ... dalam rencana membangun planet baru untuk naga."
Ardhalea berpikir sekilas. "Edo Tensei no Jutsu?"
Lawan bicaranya mengangguk. "Kupikir ... kupikir aku bisa membuatnya terkesan dan menjadikanku tangan kanannya. Aku siap membangkitkan siapa saja asalkan ada yang punya materi orang itu, tapi akhir-akhir ini dia membenciku. Mungkin dia merasa aku lebih kuat dari pasukan manusia setengah naga miliknya, dan itu bisa berbahaya jika aku berbalik berkhianat."
Ardhalea terdiam. Naruto mengatakan hal yang sama ketika mereka berada di Perpustakaan Alexandriana, dimana Oedipus membantunya menghadapi banyak manusia setengah naga—benar-benar seperti blasteran manusia-naga. Dan orang ini ... dia pengguna Edo Tensei? Ardhalea mengakui Edo Tensei adalah satu dari beberapa jutsu yang tidak seharusnya dibuat. Itu melanggar hukum alam dan menyakiti perasaan.
"Tapi melihat dari caranya memperlakukanmu, Parraryon masih waswas padamu," Ardhalea menginvestigasi lagi. Dia mengangguk lagi.
"Kenapa?"
Lelaki itu terdiam selama semenit sebelum menjawab.
"Aku telah membangkitkan ..."
.
.
"...sesuatu yang tidak mungkin bisa dilawan Parraryon."
Hening.
"Makanan kemarin lumayan enak," celetuk Ardhalea. "Mungkin kau berbakat memasak," lanjutnya, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia sudah berada dalam keadaan buruk sekarang, ia tidak mau membebani pikirannya lagi dengan menerka apa sebenarnya yang telah dibangkitkan pemuda bertopeng kurang kerjaan ini.
"Tidak," jawab lelaki itu, "itu bukan pujian."
"Ya, kalau menurutku itu pujian."
"Menurutku bukan."
"Biar kutebak, pemuda misterius," sindir Ardhalea, "kau menginginkan pengakuan."
"Ya," jawabnya. "Aku dilahirkan yatim-piatu, Ardhalea-sama. Maksudku, aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku. Aku juga tidak bisa ingat siapa yang membesarkanku, tapi aku pengembara. Aku mengelana dari satu desa ke desa yang lain, bahkan pernah mendatangi Lima Negara Besar. Aku pernah pergi ke Perpustakaan Besar Kumogakure, dan membaca jutsu-jutsu hebat. Aku menyadari bahwa satu-satunya kelebihanku hanyalah elemen besi. Aku ingin menguasai lainnya.
"Jadi, aku pergi ke Otogakure, Desa Bunyi Tersembunyi ... dan mencuri salah satu gulungan Edo Tensei milik salah satu Sannin legendaris, Orochimaru. Aku melakukannya, membangkitkan orang-orang terkenal, dan aku berhasil. Aku pergi ke berbagai desa, mendaftar ke berbagai organisasi militer dengan menunjukkan bakatku. Tahu apa komentar mereka? 'KAU MENJIJIKAN!' dan 'ITU TIDAK BERGUNA!' atau 'ORANG SEPERTIMU TIDAK SEHARUSNYA ADA!'
"Aku berusaha melupakan bakatku dan mencoba menemukan bakat lain yang lumrah. Aku mendaftar bekerja serabutan sebagai apa saja, tapi tak satupun yang kulakukan dengan benar. Aku akhirnya kembali pada jutsu-jutsuku, tapi orang-orang tetap takut padaku. Aku jadi bertanya-tanya apakah keberadaanku di dunia ini penting ... untuk apa aku dilahirkan, dan apakah aku akan berguna.
"Ketika aku menyangka aku telah berhasil membangkitkan salah satu makhluk terkuat yang pernah hidup, dalam waktu dekat aku mendengar bahwa Parraryon sedang membuat rencana untuk merealisasikan planet baru untuk naga, dan tanpa pikir panjang aku bergabung, berusaha membuatnya terkesan. Yah, oke, awalnya dia terkesan, tapi lama-lama Naga Gatpura sekalipun membenciku. Kesimpulanku satu: aku orang buangan."
Ardhalea terdiam. Dia tahu rasanya mencari jati diri. Dia tahu rasanya dihina orang-orang hanya karena dia tidak berbakat. Dia sudah pernah mengalami semua yang diceritakan pemuda bertopeng itu. Sekarang dia tahu, pemuda ini bukan ternodai kegelapan. Dia memilih untuk menyerempet kegelapan karena dia merasa tidak ada tempat baginya di cahaya.
"Jadi kau akan menyerah hanya karena kemungkinanmu untuk berhasil sangat kecil?"
Pemuda itu memalingkan pandangannya.
"Aku kenal seseorang yang mungkin sepantaran denganmu," gumam Ardhalea. "Dia keras kepala, bodoh, dan sembrono. Awalnya dia hanya menyukai kehidupan yang umum dan biasa, tapi ketika takdir memanggilnya, dia memenuhinya. Dia berusaha mengejar takdirnya. Apa yang diharuskan baginya, dia terus berusaha mendekati hal itu meskipun mempertaruhkan nyawanya dan teman-temannya. Ia belajar dari kesalahan, pengalaman, dan terus bertambah kuat hari demi hari. Ketika ia bertemu dengan sesuatu yang dikejarnya, aku tahu ia merasa terpenuhi. Dan ketika sesuatu yang dicintainya meninggalkannya, dia memilih untuk tidak menyerah pada tangan nasib. Dia tidak berhenti. Ia meneruskan perjuangannya, menyatukan sesuatu yang telah lama terpecah karena perbedaan pendapat, dan akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya."
"Jika sesuatu yang mirip terjadi untuk yang kedua kalinya pada dirinya, aku berani mempertaruhkan hidupku sendiri, bahwa dia akan menyelesaikannya sebaik yang pertama."
Lelaki itu mendengus. "Hanya dengan cerita itu bukan berarti kau memahamiku."
"Aku mengerti perasaanmu."
"TIDAK!" Bentak lelaki itu, berdiri. "Kau tidak mengerti perasaanku. Kau takkan pernah mengerti!"
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan."
"Kau PARADOX!" Teriaknya seperti kesetanan. "Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan! Kau bisa bebas berkelana kemana-mana dan semuanya menyanjungmu! Kau adalah simbol dari cahaya dan kebenaran, merajai dunia naga dan mengendalikan manusia! Makhluk penuh kesempurnaan sepertimu takkan bisa mengerti perasaanku!"
Ia berhenti, terengah-engah, meremas dadanya. "Kau tidak akan pernah mengerti rasa sakitnya."
"Aku tidak mulai dari seribu," desis Ardhalea tenang, "aku memulai dari nol."
Dia mendengus. "Aku tidak percaya."
Ardhalea tersenyum tulus. "Mau kuceritakan?"
Hening.
"Mungkin akan membosankan kalau ruangan ini tanpa suara," gumam pemuda itu akhirnya.
Ardhalea memulai ceritanya ... dari ketika dia menyadari bahwa dirinya adalah manusia setengah naga, ketika ibunya mengajari segala hal tentang kehidupan bersama kakak laki-laki dan dua adik laki-lakinya, sampai ketika ibunya tiada, pengungkapan takdirnya yang sesungguhnya sebagai Paradox, pencarian jati diri dan latihan yang dialaminya seorang diri, perjuangan untuk menjadi lebih kuat.
Gadis itu membeberkan pertarungan mereka melawan Juubi, bagaimana Hamura meninggal, bagaimana dia mencari pengendara di seluruh penjuru dunia. Ardhalea menceritakan bagaimana mereka mencari enam naga terbaik di seluruh dunia untuk merekrutnya dalam organisasi bernama Etatheon, dan apa suka-duka yang mereka rasakan. Ia menceritakan ketika kakaknya berbalik mengkhianati mereka semua, membikin organisasi menyimpang atas kehendaknya sendiri.
Ia ceritakan saat-saat bersama Artemis, murid pertamanya, dan apa yang akhirnya terjadi. Ardhalea meneruskannya dengan memberitahu pengalamannya bersama Senju Hashirama dan Namikaze Minato. Ia memberitahu bagaimana Yondaime Hokage wafat dan apa tugas yang diembannya setelah dia tiada.
Lelaki bertopeng itu ternyata pendengar yang baik. Ia tidak berkomentar apa-apa selama Ardhalea bercerita dan pose tubuh dan posisi wajahnya mengindikasikan kalau dia tidak melewatkan sepatah kata pun.
Finalnya, Ardhalea menceritakan soal Naruto. Bagaimana dia menyadari telah menemukan pengendara sejatinya dan Perang Dunia Naga Keempat, mengenai musuh terkuat mereka, Laramidia.
Ruangan itu jadi sunyi setelah Ardhalea berhenti bercerita. Yang tersisa hanya suara letupan tanur mendidih dibawah.
"Maaf," gumam lelaki bertopeng itu. "Aku salah menilaimu, Ardhalea-sama."
"Panggil aku Ardhalea saja," timpal lawan bicaranya.
Lelaki itu terdiam sejenak, baru sadar suara tahanannya (atau rekan satu tahanan) jadi serak. Ia melirik sekilas. "Bibirmu kering. Pasti karena panas dan cerita barusan," ia merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda sebesar dua kepalan tangan, berwarna merah mengkilat.
Ardhalea meneguk ludah. "Apa ... itu delima?"
Ia sepertinya berusaha menahan tawa. "Matamu berbinar. Kau mau?"
Ardhalea menggigit bibir. "Kau bercanda. Itu kesukaanku."
Lelaki itu membelah delima tersebut menjadi dua, mendekatkan tangannya ke bibir Ardhalea, membiarkan gadis berambut perak panjang itu menjilat isinya dan mengganyang buah itu dalam beberapa gigitan. Ia mengurungkan niat untuk memakan setengah buah yang lain dan menyodorkannya ke gadis itu lagi.
"Apa segitu enaknya?" Ledek lelaki itu.
"Begitulah," jawab Ardhalea sekenanya. Ia ingat ada satu rahasia Paradox sebelumnya yang baru ia tahu setelah membaca beberapa gulungan di ruangan tersembunyi kaki Bukit Vursina. Rahasia yang hanya diketahui dirinya seorang. Ia takkan membiarkan orang lain mengetahuinya. Naruto sekalipun.
Kecuali mungkin ketika saatnya tiba.
"Oya, boleh kutahu namamu?" Tanya Ardhalea begitu saja.
"Untuk apa?" Balas lelaki itu acuh.
"Agar aku tidak kesulitan memanggilmu," Ardhalea memberi alasan. "Dan agar aku tahu pada siapa harus berterimakasih."
Lelaki itu terdiam.
"Kau bukan pendendam," ucapnya lirih.
Ardhalea mengangguk sekali.
"Lantas kenapa kau menyebutku keparat kemarin-kemarin?"
"Karena perilakumu waktu itu sangat menyebalkan," jawabnya enteng. "Kau membawakanku makanan kemarin. Sekarang, ketika kau dilempar ke penjara, bahkan kau sempat memberiku buah delima. Bodoh sekali kalau aku tidak berterimakasih."
Lelaki itu masih bungkam, memainkan jarinya yang terbungkus sarung tangan hitam.
"Hei, cuma sedikit orang di dunia yang mengenaliku sebagai Ardhalea," seretnya, "termasuk kau. Sebagian besar memanggilku Paradox. Ootsutsuki Ardhalea ... jarang yang tahu siapa pemilik nama itu."
"Menma."
Ardhalea mengernyit. "Maaf?"
"Menma," ucap lelaki itu. "Uzumaki Menma."
Seperti nama bahan masakan ramen, pikir Ardhalea. Tunggu, Naruto kan juga sama. Dan mereka sama-sama Uzumaki ... rambut Menma berwarna gelap, itu aneh. Tapi rambut Naruto kan, kuning.
"Aku tahu itu mengingatkanmu pada siapa," cetus Menma. "Pada pengendaramu yang sekarang."
Mau tak mau, Ardhalea mengangguk. "Gaya rambut kalian lumayan mirip."
Menma bangkit, melepas syal yang diberikannya tempo hari. "Ternyata disini panas juga, ya," gumamnya. "Aku malah menggunakan pakaian tebal berwarna gelap. Cih."
Ia berbalik, melepaskan jaket hitam tebalnya dan celana panjangnya. Kostum dibaliknya hanya pakaian jaring tanpa lengan dan celana selutut, sama-sama berwarna abu-abu.
"Kau tidak melepaskan topengmu."
"Terus kenapa?"
"Itu mengingatkanku pada salah satu penjahat Perang Keempat, Uchiha Obito. Dia selalu memakai topeng dan tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, tapi ketika topengnya hancur, salah satu rekanku menyadari kalau dia adalah teman satu timnya saat kecil dulu. Siapa tahu aku bisa mengenalimu kalau kau mencopot topengmu."
"Usaha yang bagus," gerutu Menma, "tapi aku nggak akan melepas ini. Setidaknya tidak sekarang."
Menma menggelar jaketnya dan celana panjangnya, lantas melipat syal, dan berbaring diatasnya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Tidur," balas Menma, "akan lebih cepat memulihkan kekuatanku. Plus, aku baru sadar sekarang sudah malam."
"Darimana kau tahu?"
"Aku ahli menaksir waktu."
Mereka terdiam sejenak.
"Oya, Ardhalea. Jangan macam-macam selama aku tidur, oke?"
Wajah Ardhalea serasa terbakar. "Satu-satunya yang ingin kulakukan padamu adalah menendang bokongmu sampai kau terguling ke sungai tanur itu, bodoh."
Menma tertawa pendek, lantas merebahkan diri. Hanya semenit setelah itu, dia mendengkur pelan, tampak nyaman meskipun hanya ada jaket dan celana panjangnya yang membatasi panas besi dan peluh yang mengalir dari lehernya.
Ardhalea menghela napas pelan. Setelah kekuatan Menma pulih, kira-kira apa yang akan dilakukannya? Membebaskan diri? Ardhalea setengah berharap Menma akan turut membebaskannya juga. Tapi setelah itu apa yang akan mereka—eh, dia lakukan? Lagipula tempat apaan sih ini? Dan siapa yang bisa jamin mereka bisa mengalahkan Parraryon dan anak buahnya?
"Naruto," bisik Ardhalea. "Kau harus mengerti. Kekuatanmu yang sekarang tidak cukup untuk mengalahkan Parraryon. Kau harus mempelajari dan menemukan kekuatan baru ..."
Rasa lelah menguasai tubuhnya. Ardhalea melirik Menma dengan ekor mata, memastikan dia sudah tidur, lantas memejamkan mata.
.
.
Tiga menit kemudian, Menma menggeliat bangun, merapikan jaketnya.
"Kau tahu, Ardhalea? Kau tidak tahu apakah aku benar-benar tidur," gumamnya meskipun gadis berambut perak itu tidak lagi mendengar apa-apa.
"Itulah kenapa aku tidak mau melepaskan topengku," ia menggelar kertas berpetak-petak seperti papan catur tanpa warna dan mengambil sebutir benda kecil sebesar kelereng tapi lebih pipih.
"Tidak butuh banyak chakra untuk mengendalikan Edo Tensei. Waktunya menguji mereka berdua."
"Itu hebat sekali."
Aku menggeleng. "Aku tidak sehebat itu saat memulainya, Yah."
"Pahlawan sejati dimulai dari nol," dia menyeringai dan mengacak-acak rambutku. "Itu yang selalu dibilang Ardhalea."
Aku terdiam, memandangi Kurama dan Demetra yang sibuk mengajari Angelo kecil menyemburkan api. Dasar tidak tahu diuntung. Kalau saja Angelo sialan itu ternyata sudah bisa menimbulkan efek mengerikan dari apinya, apa yang akan dua Wivere itu perbuat?
Angelo kecil melirikku, lantas berlari melintasi sungai kecil berbatu, berderap cepat ke arahku seperti anjing yang melihat majikannya, dan ...
GUBRAK!
Ia menjilatiku, tumpukan daging bersisik dan bersayap seberat hampir dua ratus kilo, lidahnya membasahi leher dan wajahku. Ayahku membantuku menyingkirkannya dariku selagi naga itu mengejar-ngejar ekornya sendiri.
"Saxoen Angelo cerdas," tukas ayahku. "Pada zamanku dulu naga ini sudah langka, tinggal beberapa puluh. Sekarang malah hanya tersisa dua. Mungkin akan bagus kalau yang ini betina, jadi kalau mereka bisa bertemu, bisa jadi mereka melanjutkan keturunan," ia melirik Kurama dan Demetra. "Seperti itu, tuh."
Aku tersenyum kecil. Angelo mendengus padaku, uap dari hidungnya membasahi wajahku.
"Apa maumu sih," gerutuku. Ia mengatup-ngatupkan rahangnya, bunga api memercik dari gigi-giginya. Selama sesaat aku harus mengingatkan bahwa naga dari jenis inilah yang membuat Ardhalea kehilangan kekuatannya, dan aku ingin marah untuk itu. Mungkin menghantam kepalanya dengan Rasengan bisa meredakan 'dendam'ku, tapi aku tidak tega melihat wajah polosnya.
Dia masih anak-anak, aku menenangkan diri. Dia belum tahu apa-apa. Seperti bayi manusia.
Aku menggaruk pipinya. Naga itu memejamkan mata, menikmati sambil mengeluarkan geraman dalam dari tenggorokannya.
"Nah, Bung," kataku, "kalau kau sudah besar nanti, jangan jadi naga yang jahat ya."
Angelo menelengkan kepala, lantas membuka mata.
Aku baru berpikir untuk menghindar ketika ia melakukan sesuatu yang paling tidak aku harapkan. Dia menyembur dadaku.
"Naruto!" Pekik ayahku. Aku berguling-guling di tanah, pikiranku dikuasai rasa panik ketika kusadari ...
...api ini dingin. Maksudku iya, rasanya seperti disiram seember air es daripada dibakar. Api ini tidak melukaiku. Apa ini juga sensasi yang dirasakan Ardhalea ketika Saxoen Angelo dewasa menyemburnya? Tapi dilihat dari manapun, Paradox kan kebal api. Wajar kalau waktu itu dia tidak merasakan apa-apa, sebelum api sialan itu melalap habis kekuatannya.
Ayahku memperhatikanku. "Mungkin kau harus mencoba sebuah jutsu untuk memastikan apakah api itu sudah berefek," sarannya.
Aku mengangguk, melakukan handseal, mencoba mengeluarkan satu bunshin.
Untuk sedetik yang mengerikan, tidak terjadi apapun sampai asap timbul di sisi kananku dan duplikat diriku yang sempurna muncul. Aku menghembuskan napas lega, api itu tidak berpengaruh, setidaknya belum.
DRAAKK!
Aku dan ayahku terhenyak. Tujuh meter di sebelah kiri kami, mendadak sebuah peti polos dari kayu muncul dari dalam tanah, menyeruak diantara dedaunan gugur. Ayahku terbelalak, rahangnya mengeras.
"Edo Tensei no Jutsu," katanya, lantas matanya nanar menatap sekitar. "Naruto, waspada. Penggunanya mungkin tidak berada jauh."
Aku memaksa berpikir dulu. Edo Tensei no Jutsu, jurus yang membuat yang mati hidup kembali. Aku mencoba mengingat siapa saja teman atau orang dekatku yang sudah mati yang punya kemungkinan dibangkitkan lagi oleh musuh.
Rasanya tidak ada.
Tutup peti membuka, jatuh berdebam, menerbangkan dedaunan kering. Asap tipis menyeruak dari dalam peti yang gelap seolah isinya lebih dingin daripada seratus kilogram es batu. Kemudian, selangkah demi selangkah, dengan gerakan sedikit tersaruk-saruk, sosok itu keluar.
Ayahku memicingkan mata, mengernyitkan dahi, berusaha mengenali sosok itu. Aku melakukan hal yang sama, tapi kelihatannya aku tidak pernah mengenal sosok ini dimanapun.
Rambutnya putih panjang, dan jenggot sepanjang perut. Pakaiannya sederhana, hanya kimono putih dengan sedikit garis-garis abu-abu. Kulitnya keriput. Mungkin orang ini mati karena usia tua ... dan kelihatannya seperti seorang biksu? Tapi kepalanya tidak botak, dan alih-alih tongkat, sebilah pedang bertengger di pinggang kanannya, memancarkan aura intimidasi yang sangat besar.
"Siapa dia?"
Ayahku menggeleng. "Aku tidak tahu."
Pria berjenggot itu mendongak, menampakkan matanya, yang berpupil hitam dan beriris putih, di latar belakang hitam.
"Siapa kau, Kek?"Aku memaksakan diri bertanya.
Anehnya, atau justru menakutkannya, kakek itu tersenyum tipis seolah mengenaliku.
"Ini buruk sekali," katanya. Suaranya agak serak dan parau. "Kalian berdua sebaiknya menyingkir jauh-jauh dari sini."
Aku meringis. "Kenapa kami harus melakukan hal pengecut macam itu?"
"Karena kalian takkan mampu mengalahkanku, Anak Muda," jawab kakek itu tenang.
Aku maju selangkah, tapi ayahku menepuk bahuku, menggeleng. "Anda pikir Anda lebih kuat dari kami berdua," katanya pada kakek itu, yang dibalas dengan anggukan polos.
"Benar-benar amat sangat jauh lebih kuat," desisnya hiperbolik. "Cepat pergi sebelum aku ..."
Ia menggenggam pedangnya, menariknya keluar dari sarungnya, dan seketika angin berbelok arah ke kami, seakan membentuk tinju dinding angin raksasa, mementalkan kami berdua hingga membentur pohon besar. Dedaunan kering berhamburan, sebagian tercabik jadi potongan-potongan, pepohonan tergores-gores. Kakek itu maju perlahan, menggoreskan pedangnya ke tanah.
Aku bangkit. "Kau menginginkan pertarungan pedang, Kek? Sayang sekali, aku lumayan jago kalau soal itu," aku mengeluarkan perkamen dari tas kecil di pinggang belakangku, melakukan handseal, dan memunculkan Pedang Rikudo.
Mata sang kakek membesar. "Bagus, bagus. Setidaknya kau mampu bertahan beberapa menit sebelum aku mengalahkanmu."
Aku menggeram. "Jangan remehkan Uzumaki Naruto!"
Aku menyerang, mengayunkan Nunboko no Tsurugi yang masih berbentuk katana Jepang bermata hitam itu ke leher si kakek. Ia tidak terlihat melakukan gerak elakan selama sepersekian detik terakhir, dan kukira aku setidaknya akan berhasil menggoresnya atau apa.
Dan itulah kesalahan besarku.
Ia menangkis pedangku, hembusan angin berkibar melewati rambut putihnya. Aku tergagap, nyaris melepaskan pedangku.
"Dia menangkis Pedang Rikudo dengan satu tangan!" Pekik Kurama tiba-tiba, mendadak muncul di belakang ayahku bersama Demetra. Angelo kecil meringkuk ketakutan di belakangnya.
Aku menendang perut si kakek, tapi rasanya seperti menendang lempengan asbes. Sekuat tenaga, aku merebut pedangku lagi dan mengayunkannya, dan sekarang si kakek meladeni dengan ikut mengayunkan pedangnya. Pikirku, kami akan seimbang.
Salah lagi.
Ketika pedangku berbenturan dengan pedangnya, aku lebih seperti berusaha menangkis Hermes yang sedang melaju ketimbang menangkis ayunan pedang dari kakek Edo Tensei tua—dia sangat kuat, terlalu kuat sampai aku terpental ke belakang dan ayahku harus menangkapku.
"Dia tidak bisa dilawan dengan pedang atau Taijutsu," simpulnya. Sekejap kemudian dia melontarkan Hiraishin Kunai, yang dihindari kakek itu dengan mudah. Ayahku merogoh shuriken, memperbesarnya dengan jutsu, lantas menggandakannya beberapa kali saat melemparnya. Lawannya lebih memilih menghindar daripada menangkis, bersalto beberapa kali ke belakang.
Yondaime Hokage melempar sebuah kunai peledak, yang ditangkis lawannya dengan pedangnya, meledak di bantaran kali, tapi selagi ia melakukan itu, si Kilat Kuning telah berpindah ke belakangnya lewat Hiraishin Kunai barusan.
"螺旋丸 !"
Rasengan
(Putaran spiral)
Jutsu itu mendesing di udara sebelum menghantam tengkuk si kakek, memaksanya tertunduk karena daya dorong dari jutsu tersebut, dan bagian lehernya buyar seketika, kepalanya nyaris terpisah dari tubuhnya, ratusan potongan abu menghambur di sekitarnya selagi ayahku merampas pedangnya dan menebas tubuhnya jadi dua atas-bawah, tapi pedang itu bereaksi. Cahaya biru menguar darinya, dan ayahku menjatuhkan pedangnya, beralih ke sampingku.
"L-luar biasa," aku terpana. "Hebat."
"Ayahnya siapa dulu," cengirnya. "Tapi itu belum cukup. Bahkan Rasengan tidak bisa membuatnya terjatuh, dan pedangnya merespon jadi bertambah berat beberapa ratus kilogram saat kupegang."
Edo Tensei itu pulih lagi, tangannya memegang pedang yang luput sebelumnya. "Siapa kau, Edo Tensei berambut kuning?" Selidiknya.
"Namikaze Minato," jawab ayahku. "Ayah dari anak ini, Yondaime Hokage, Draco P."
"Seperti yang kuharapkan," balas kakek itu, mengelus jenggotnya. "Mungkin kalian akan bertahan lebih lama dari perkiraanku, tapi sayangnya dengan kekuatan seperti itu kalian tidak bisa menang."
"Seperti kau tahu segalanya saja," aku melakukan handseal.
"多重影複製の術 !"
Tajuu Kagebunshin no Jutsu
(Jurus seribu bayangan berganda)
Kakek itu memandang berkeliling, lantas melemaskan lehernya. "Mengagumkan. Tapi bagaimanapun juga itu cuma bunshin."
Ia mengangkat tangannya, hendak menebaskan pedangnya, tapi begitu ia melakukannya, aku sudah siap. Seluruh bunshin menunduk selagi musuh menebaskan pedang. Kurama dan Demetra terbang sambil menggaet Angelo kecil, dan ayahku ikut menunduk. Tebasan pedangnya tidak mengenai apapun, tapi gelombang angin yang dihasilkannya rupanya mengandung kekuatan penetrasi yang hebat—pepohonan di sekitar kami tercabik-cabik, bebatuan tergores-gores seolah terbuat dari plastisin, air sungai beriak.
"SERANG!" Aku menggila.
Ratusan bunshin menyerbu bersamaan dengan tinju, Rasengan, atau jutsu elemen angin lainnya. Beberapa melempar kunai dan shuriken, beberapa menunggu giliran. Suasana jadi ricuh sementara kuperintahkan Kurama dan Demetra untuk kembali ke gua persembunyian. Aku mengamati pertarungan di depanku. Puluhan bunshin dibantai dalam waktu singkat. Kami harus melakukan sesuatu pada kakek-kakek menyebalkan itu.
"Naruto," panggil ayahku. Aku menoleh. "Mari kita bertarung bersama."
"Sebagai ayah dan anak?"
Ia mengangguk, tersenyum. Kami adu tinju, lantas dia menggaet tanganku dan melakukan shunshin, ke pusat keramaian, tanpa ba-bi-bu kami berdua menendang dada kakek itu bersamaan. Setelah kebal terhadap Rasengan, tendangan dobel di dada sepertinya cara yang kurang manjur, tapi kali ini karena dia terkejut, situasinya beda.
Edo Tensei itu terjatuh ke dedaunan kering, sementara salah satu bunshinku membagi chakra ke tangan kananku. Ayahku melakukan hal yang sama ke tangan kiriku.
"螺旋螺丸 !"
Rasenrangan
(Bola spiral ganda)
Jutsu dobel menggilas perut dan dada Edo Tensei tersebut, mengebornya lebih dalam ke tanah beberapa senti. Aku menghindar begitu jutsu itu selesai, dan memerintahkan bunshinku yang masih tersisa untuk menyerang tanpa memberi celah.
Kakek itu pulih dengan cepat—maksudku dia menyerang sambil memulihkan diri, yang agak tidak lazim menurutku. Ia memejamkan mata seolah sedang berkonsentrasi, kemudian menggoreskan pedangnya sendiri ke lengan atas bagian kirinya, dan dalam dua detik setelahnya sekujur tubuhnya dibakar oleh api berwarna putih. Api tersebut membakar seluruh tubuh termasuk pakaian, rambut, dan sandal—kecuali pedangnya, tapi api itu tidak mengeluarkan asap dan sekilas tampak dingin sampai beberapa bunshinku memutuskan maju menyerang dengan kepalan tinju batu, dan mereka meleleh seperti lilin.
Kami berdua terkesiap.
"Api yang sangat panas," cetus ayahku. "Jaga jarak."
Kakek itu menebaskan pedangnya, membuyarkan tiga lusin bunshin di barisan terdepan dan membakar dedaunan kering. Udara terasa panas dan menyesakkan meskipun tak ada abu atau asap. Kakek itu membuka tangan kanannya, menampakkan percikan busi berbentuk bola api putih mini.
Aku dan ayahku berpandangan. "Lari?" Tanyanya.
"Apa ada cara lain?" Balasku.
Dia menyeringai. Kakek itu melemparkan bola api mini di tangannya, kian besar kian detik, mengabaikan bunshin-bunshinku yang masih tersisa yang berusaha melindungi kami—api itu melaju terus seperti mesin bor superpanas, membuyarkan dan melelehkan apapun yang disentuhnya. Ketika seluruh tubuhku merasakan panasnya yang seperti oven, ayahku memegang tanganku dan kami berpindah, ke samping kiri belakang si kakek.
Bola api membuncah ke udara, lidah api putih melalap habis pohon, rumput, semak, daun, bahkan batu, membakar semuanya. Aku melakukan handseal, membuat lebih banyak Kagebunshin di belakangku, dan menyiapkan serangan.
"螺旋丸漣隊茯 !"
Rasentairengan
(Bola Spiral beruntun)
Sialnya, tidak ada gunanya. Kakek itu entah bagaimana membuat baju apinya membesar, menjangkau area sekitarnya lebih luas, membentuk cabang-cabang sendiri seperti tentakel gurita dan menyerang hampir dari segala arah depan, menelusup bahkan sampai ke bunshin paling belakang, membuyarkan semuanya sebelum Rasengan sempat menghabisinya.
DRAK!
Tanah di belakangnya terbuka dan dua bunshin muncul, masing-masing dengan dua Rasengan. Si kakek menyabetkan pedangnya ke belakang, tenaga yang dihasilkannya begitu kuat sampai-sampai pepohonan di belakang teriris semua, bahkan tebing yang berada beberapa puluh meter di seberang sungai terpotong pendek, menghasilkan jatuhan batu raksasa, membendung sungai.
Aku meneguk ludah. "Kek, tolong beritahu siapa kau sebenarnya!" Aku menuding hidungnya. Tidak ada lagi bunshinku yang tersisa.
Ia tersenyum tipis. "Naif kau, Nak."
"Sial," umpatku. "Yah, aku harus menggunakan sesuatu. Bisakah kau mengulur waktu? Tiga atau lima menit saja?"
Ayahku mengangguk. "Apapun untuk putraku."
Setengah detik kemudian, ia berpindah ke belakang si kakek, dan langsung menebaskan Hiraishin Kunai-nya, mengiris tengkuk targetnya. Itu cukup membuatnya terkejut hingga dia sempat menanamkan sebuah kunai peledak, lantas berpindah lagi ke sampingku.
BLLAARRR!
Aku duduk bersila, berkonsentrasi. Sesama Edo Tensei yang bertarung pasti makan waktu lama.
Laki-laki itu mengenakan jas hitam bergaris-garis, sepatu but sehitam malam, dan di sabuk sebelah kanannya terselempang sebuah pedang panjang lengkap dengan sarungnya. Topinya punya tepian yang lebar seperti sombrero, berwarna hitam dengan polkadot abu-abu dan biru kecil. Rambutnya yang sepanjang punggung berwarna hitam, dan ketika dia memalingkan wajahnya padaku, iris matanya sehitam pupilnya, seolah-olah dia cuma punya pupil ekstra besar dengan latar belakang matanya yang putih. Syukurlah kulitnya tidak hitam juga—lelaki ini berkulit putih pucat seperti baru dikeluarkan setelah mendekam seminggu dalam lemari es. Wajah tirusnya berhidung mancung, alis hitam lebat, dan bibir pucat.
Aku memindai sekelilingku. Seperti berada dalam lorong batu tapi dengan banyak obor di sisi kanan-kiri, membuatku bisa melihatnya dengan jelas. Lelaki itu melambaikan tangannya, dan sebuah kursi mendadak tercipta dari kegelapan, seperti asap hitam yang menyatu dan memadat, dan dia duduk dengan santai, memandangku skeptis.
Aku diam, yang bukan sifat asliku. Tapi aku bersikap begitu kikuk karena laki-laki ini ... memancarkan semacam aura kekuasaan. Melihat matanya sekali saja sudah bisa mengindikasikan bahwa dia mungkin berujar: 'Bawakan aku kudapan enak. Kalau tidak, awas!'
"Istriku," kata lelaki itu. Datar, tanpa emosi, tapi rasanya perutku sedang ditinju-tinju. Aku mengernyit heran, lantas menengok ke kanan-kiri, depan-belakang, sampai atas-bawah, tapi di lorong sunyi itu cuma ada kami berdua.
"Apa yang engkau lakukan di tempat macam itu?" Lelaki itu menyelidik lagi. Kali ini dia melambaikan tangan dan sebuah kursi dari bayangan muncul begitu saja persis di belakangku. "Duduklah."
Entah tubuhku menurut padanya atau tidak, aku duduk. Kursi itu padat dan empuk. Lelaki itu menjentikkan jarinya yang berkuku hitam panjang, dan sebuah meja eksis dari tanah, berwarna hitam, lengkap dengan sekotak kue kering dan dua gelas minuman. Gelas di hadapannya berisi cairan berwarna gelap, sedangkan gelas di hadapanku berisi cairan berwarna putih.
Lelaki itu mengernyit. "Ayo. Kau pasti haus. Kita ngobrol sedikit."
Aku merasa aneh. Lelaki ini sedang bicara, tapi sepertinya dia tidak bicara padaku.
"Eh," aku akhirnya bersuara. "Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Lagipula ... tempat apa ini? Bagaimana bisa aku ada disini? Dan yang lebih penting ... siapa kau?"
"HAH!" Teriak lelaki itu jengah. Aku terperanjat, bangun dari kursiku.
"Maaf."
Lelaki itu mendengus keras. "Duduklah lagi. Aku punya hal untuk dibicarakan."
Aku duduk. Lelaki itu meminum beberapa teguk cairan hitam itu dan mengambil sebuah kue kering berbentuk bulan sabit. "Siapa namamu, bocah?"
"K-Kazuuto."
"Hmm-hmm," dia mengunyah kue itu, lantas bicara lagi, "tahukah kau apa yang sedang terjadi?"
Aku mengangkat satu alis. "Maksudmu di luar sana, di dalam sini, atau...?"
Dia mengangkat tangan. "Di luar sana, barangkali aku bisa menyebutnya begitu, yah. Duniamu yang kecil dan menyedihkan, penuh dengan orang-orang dan naga-naga menyedihkan, kejadian menyedihkan, dan makanan dan minuman yang juga menyedihkan!" Dia mengambil gelasnya, menenggaknya beberapa teguk, kemudian melemparnya ke sembarang arah.
PRANG
"BODOH!" Gerungnya. Aku merasa tubuhku seperti ditindih oleh sepuluh gajah. "Aku ingin rasa yang tadi. Haahh," ia melambaikan tangan kirinya, dan sebuah gelas lain muncul di meja, lantas ia meneguk isinya.
"Ah," desahnya. "Yang begini maksudku. Kuliner disini menyesuaikan suasana hatiku. Mungkin kurang bijak bagimu untuk menyantapnya."
Siapa juga yang mau minum dan makan di tempat ini, gerutuku dalam hati.
"Jadi ... Kazuuto. Pria cahaya. Pria siang. Oh, kedengaran norak dan menyedihkan, tapi apa boleh buat. Istriku memilih tubuhmu."
"Ha?" Aku terlongo seperti kerbau dungu. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Jelas kau tidak mengerti!" Dia tertawa terbahak-bahak. "Orang sepertimu," dia menjentikkan jari, dan sepiring daging mendadak hadir di meja, lengkap dengan garpu dan pisaunya. Dia menjuput seiris dan memakannya. Aku menelan ludah.
"Kau tidak tahu apa yang kau maksud, ya?" Selidiknya.
"Barusan aku bilang begitu," aku bersungut-sungut. Siapa sih dia sebenarnya? Penagih hutang? Penawar asuransi?
"Baiklah, kita bahas itu lain kali saja. Sekarang ... aku tahu apa yang harus kau lakukan, dan apa yang harus kulakukan," lelaki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan segulung perkamen sebesar jari telunjuknya, melemparkannya padaku. Benda itu membesar di udara dan ketika aku menangkapnya, perkamen itu sudah sepanjang tanganku.
"Buka," perintahnya.
Aku membukanya, dan terbelalak. Aku menutupnya lagi, dan ketika aku melihat lelaki berjas hitam, dia tersenyum mengerikan.
"Apa ini?"
"Kau mestinya sudah tahu tanpa bertanya," ucapnya acuh tak acuh. "Peta."
"Tapi ini bukan peta biasa!" Bantahku.
"Nah, Kazuuto. Berarti kau tahu apa itu?"
Aku mengangguk. "Sama seperti yang kucari—tapi sekarang dicuri, sih. Peta Darah Delima."
"Ya," ujar pria itu. "Sungguh benda yang menyedihkan, tapi kau harus mencarinya segera. Sekarang kau tahu tempatnya. Dan yang kau butuhkan sekarang hanya ... teman, perbekalan, dan keberuntungan."
Aku memandang perkamen itu lekat-lekat. "Tapi siapa sebenarnya kau? Dan kenapa mau repot-repot membantuku?"
"Bah!" Dia mengibaskan tangannya, mencomot seiris daging lagi. "Repot? Meskipun menyedihkan, ini tak menguras kekuatanku barang hanya sebesar debu, bocah. Dan kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, aku mengawasimu."
Aku meneguk ludah. "Jangan-jangan kau penjelmaan dari malaikat mautku?"
Rahang pria itu mengeras. "Kau benar-benar bloon. Menyedihkan."
"Tidak sebloon itu juga," aku bangun. "Terimakasih. Siapapun kau. Ini benda yang kubutuhkan. Aku akan mencarinya, segera. Dan oh, sedikit keberuntungan akan bagus."
Pria itu terkekeh keras. "Sedikit keberuntungan? Kau butuh banyak keberuntungan, bocah! Banyak keberuntungan!" Dia melemparkan pisaunya dan tepat menancap di dadaku.
.
.
.
"SIANG!"
BUK!
Aku bangun, mengusap kepala. Renynola di hadapanku, bantal dikepit di tangan kirinya. "Wah, wah. Ahli mimpi kita sudah bangun."
Aku termagu. Sekarang semua itu rasanya mungkin. Ketika aku meraba-raba tempat tidurku ... aku menemukan perkamen yang sama yang diberikan lelaki berjas hitam itu. Tubuhku merinding.
"Ada apa, Kazuuto?" Kali ini Renynola penasaran melihat tingkahku yang tidak wajar. "Kau berteriak-teriak soal siang berkali-kali."
Aku menjelaskan mimpiku tentang pria berjas hitam dan apa yang diberikannya.
Renynola dengan tidak sabar membuka perkamen itu, dan ekspresinya sama terkejutnya denganku waktu di mimpi—setidaknya begitu penilaianku, sih. "Kau berhutang banyak pada pria berjas di mimpimu itu, Kazuuto!" Pekiknya.
"Meskipun dia aslinya malaikat mautku?" Tanyaku sambil menggaruk kepala.
"Meskipun dia aslinya malaikat mautmu," katanya.
Ia merapikan rambut putihnya, lantas berjalan keluar kamar.
"Mau kemana?"
"Kita harus mempersiapkan perjalanan. Perjalanan jauh."
"Oke," kataku, bangkit dari tempat tidurku, menyambar pedang. "Aku ikut. Pasti seru. Dan kita butuh sed—banyak keberuntungan."
Renynola mengobrak-abrik rak buku dan menarik keluar sebuah buku bersampul hitam usang. Kami membuka dan membacanya.
"Menurut peta ini," ia menunjuk-nunjuk gambar berlian besar berwarna merah di perkamen, "Darah Delima kedua berada di Gunung Ginkin, di Kori no Kuni, Negara Salju. Kira-kira enam ratus kilometer dari sini."
"Dan tempat itu dijaga," cetusku.
Renynola mengangguk. "Oleh Epanterias."
Aku meneguk ludah. "Oh."
Gadis itu melirikku dengan tatapan sebal. "Tahu nggak sih apa yang kupikirkan, Otak Udang?"
"Yeah," kataku, "kita akan bertarung dengannya. Seru."
"Epanterias memangsa Wyvern dan Venator, Kazuuto. Kau tahu kita berdua bahkan tidak bisa mengalahkan dua naga itu," gadis berambut putih itu menyibak halaman-halaman buku, dan mengetuk-ngetukkan jarinya pada gambar seekor naga bertampang seram. Cakar-cakarnya seperti kait derek. Gigi-giginya seperti mata pedang. "Panjangnya delapan belas meter dengan lempengan perisai di perut, punggung, dan leher serta ekornya. Kelopak matanya bertulang. Naga ini termasuk level death-see. Kau lihat, kau mati."
"Wow," gumamku, "kedengarannya buruk sekali."
"Kita harus menyusun strategi yang matang dalam perjalanan sebelum menghadapinya—akan lebih baik kalau kita bertemu dengan pemilik naga sialan yang mencuri perkamen kita tempo hari. Kita bisa membiarkan mereka bertarung mengatasi Epanterias dan kita menyelinap, mencari Darah Delima."
"Kau berambisi sekali menemukannya," cetusku.
Dia melirikku tajam. "Bukannya itu cita-cita kita berdua?"
"Eh?"
"Kau bilang kau mau membawa kedamaian pada kampung sialan ini," desah Renynola. "Takigakure nggak pernah damai, Kazuuto. Sehari pun. Darah Delima mampu membalikkan pikiran orang-orang dengan kekuatan magisnya yang luar biasa, mensetting ulang pikiran orang jadi cinta damai. Itu yang kuinginkan. Cuma benda itu yang bisa melakukannya."
Aku mengangguk. "Dan hanya kita yang bisa mencarinya."
Battlefield
BUM!
Ayahku terpental ke sebuah pohon mapel besar. "Kenapa Deavvara lama sekali, sih," gerutunya. Tubuhnya nyaris terbelah dua gara-gara serangan si kakek sialan itu, tapi karena dia Edo Tensei, jadi tidak masalah.
Aku membuka mataku. "Selesai," desisku, "keadaannya akan berubah sekarang, Yah. Terimakasih atas bantuannya."
Dia tersenyum bangga. "Jadi itu Sennin Modo-mu?" Selidiknya. "Lebih sempurna dari milik Jiraya-sensei."
Aku mendecih. "Jangan samakan aku dengan Pertapa Genit itu dong!" Aku melakukan handseal, puluhan bunshin bermunculan di sekelilingku, mengepung si kakek tua yang masih bermandikan api.
Ayahku memegang pundakku. "Sudah kutanam segel Hiraishin di banyak tempat di tanah dan di pohon."
Aku mengangguk. "Terimakasih."
Kulempar kunai peledak. Kakek itu menebasnya dengan pedang, ledakannya samasekali tak menggores tubuhnya, tapi ketika asap hitam itu hilang, aku sudah berpindah ke kirinya. Dalam waktu yang bersamaan, enam bunshin berpindah, dua masing-masing di sebelah kanannya, belakang, dan depannya.
"仙人: 巨大螺旋丸 !"
Senpou: Odama Rasengan
(Sennin: Bola spiral jumbo)
Semua bunshin mundur beberapa langkah, memberi ruang untuk pengelihatan. "Ayah punya jurus segel?" Tanyaku.
"Sayangnya tidak," dia menggerutu, "aku bisa melakukan Shikifujin, tapi aku tidak tahu apa bisa melakukannya dalam wujud mayat hidup begini."
Kakek itu menancapkan katananya ke tanah, dan langsung membuat pusaran api, melenyapkan seluruh bunshin selagi aku dan ayahku susah payah mundur. "Kita tidak bisa melawannya kalau dia terus-terusan menggunakan zirah apinya," gerutuku. "Dekat-dekat saja membuat kulitku terbakar!"
Edo Tensei itu melangkah maju, dan pelan-pelan api putih yang membalut tubuhnya mulai hilang. Aku memicingkan mata, memastikan itu bukan jebakan, dan tanpa basa-basi merangsek maju, menghantamkan pukulan-pukulan Sennin Modo—yang mestinya susah dihindari, tapi meskipun dia tidak punya Dojutsu, kakek ini mengelak dari serangan-seranganku tanpa kepayahan.
Aku menendang dan memukul dan menyabet dan menikam, tapi tidak satupun goresan di tubuhnya. Pedang Rikudo-ku berubah bentuk jadi untaian DNA, dan pedang kami berbenturan, membelah tanah di bawah kami, mengirimkan gelombang angin ke segala arah. Aku terdorong ke belakang, senti demi senti.
"Sekarang, Yah!" Pekikku. Ayahku melesat ke belakang dan menghajar kepala si kakek dengan Rasengan, tapi dalam sekejap api putih muncul dari leher target dan menyambar ayahku, membuatnya terguling-guling di tanah dan jutsunya gagal. Karena dia Edo Tensei, beberapa bagiannya sempat terbuyar, menandakan betapa panasnya api itu, tapi akan pulih lagi dalam beberapa detik.
"Kau tidak punya wajah orang jahat," geramku, pedang kami masih beradu. "Kenapa kau tidak mau memberitahu kami siapa kau sebenarnya? Atau apa kelemahanmu?"
"Itu takkan membantu," cetus kakek itu, "itu justru akan membuatmu makin mudah dikalahkan, bocah."
"Kau tidak tahu siapa aku, Kek," ketusku.
Dia melepaskan kuncian, dan menendangku. Aku terpental-pental di tanah sampai membentur kaki sebuah tebing, darah menetes dari sudut bibirku. Aku mengusapnya dan bangun, tapi kakek itu bergerak secepat kilat ke depanku dan menghantam dadaku dengan gagang pedangnya, meretakkan tebing.
Aku jatuh terduduk, terbatuk.
"Sennin Modo ... mestinya bisa merasakan gerakan lawan," rintihku. "Kenapa ...?"
"Sudah kubilang, ini akan sia-sia. Bagaimanapun, aku yang menang. Kenapa kau tidak menyerah saja dan kabur selagi nyawa masih di raga? Kau begitu keras kepala."
Aku bangkit, meninjunya—yang ditahannya dengan sebelah tangan. "Kalau kau menungguku menyerah ..."
.
"... itu takkan terjadi!"
Aku meninju perut kakek sialan itu dengan beladiri katak, dan berhasil membuatnya terjatuh semeter di hadapanku, sepuluh kali lebih pendek daripada lawan yang biasanya terkena seranganku. Ia bangun dengan cepat dan kami beradu tendangan, tapi meskipun aku menggunakan Sennin Modo, kekuatannya dua kali lebih besar.
Tendangannya membuatku merangsek sepanjang hutan, menggores beberapa pohon dan berhenti di batu besar. Ia muncul di hadapanku dan menyabetkan pedangnya, langsung membelah tanah dengan api putih, membakar apapun yang ada.
"Dasar keras kepala," gerutunya.
BOOFF!
Ia menyarungkan pedangnya. "Cuma bunshin. Dimana ..."
"為風: 遁螺旋手裏剣 !"
Fuuton: Rasenshuriken
(Elemen Angin: Putaran shuriken)
Jutsu itu menggilas punggung si kakek, melontarkannya ke tebing lagi dan membombardir tubuhnya dengan jutaan jarum chakra angin. Aku memandangi tangan kananku yang berasap. Kalau orang biasa terkena jutsu itu, dia pasti KO—kalaupun itu Edo Tensei, kerusakannya mestinya cukup parah untuk membuatnya duduk manis selama beberapa menit selagi tubuh abunya meregenerasi diri sehingga bisa disegel, tapi setelah melihat semua yang dilakukannya, aku ragu cara biasa mempan.
Ayahku melesat ke sampingku, mengepalkan tangan. "Itu jutsu yang dari dulu ingin kubuat," kenangnya, "butuh tiga tahun untuk menyempurnakan bentuk pertamanya," dia mengacak-acak rambutku. "Terlepas dari kemungkinan seberbahaya apa musuh kali ini, aku senang kau akhirnya meneruskan jutsu itu."
Aku mengangguk. "Nggak terlalu sulit kok."
Ayahku memamerkan sehelai kertas merah bermantra. "Ayo kita kirim rohnya ke akhirat."
Aku mengangguk, lantas kami maju bersama.
Tapi kakek itu tidak secedera kelihatannya.
Ia mengayunkan pedangnya, tubuhnya dilapisi aura api, dan ayahku mencengkeram kerah bajuku dan membantingku ke tanah selagi tebasan pedang mengerikan itu membelah udara, memotong tubuhnya jadi dua. Tebasan itu menyasar ke belakang, memotong putus apapun yang lebih tinggi dari empat meter, bahkan terus mendesing jauh hingga memotong tumpul dua buah bukit, menimbulkan suara longsor yang mengerikan.
"Naruto!" Ia melempar kunai dengan kertas segel itu, dan aku menangkapnya, melakukan gerakan zigzag untuk mengecoh si kakek yang menatapku tajam-tajam.
Ia melesat langsung ke depanku, dan tanpa jeda waktu yang cukup dia menghantamkan sisi tumpul pedangnya ke punggungku, langsung merobohkanku, senjataku luput dari tangan. Seluruh tubuhku rasanya kram dan punggungku seperti baru ditindih Kurama.
Lawanku mengayunkan pedangnya.
.
T-TRAANG!
"Kau memang tidak bisa ditinggal barang hanya seperempat jam," gerutu suara itu. Aku membuka mata.
"Deavvara."
Pemuda berambut hitam keunguan itu tersenyum masam. "Wow, wow, wow. Siapa ini?" Dia menggeser sabitnya, bunga api memercik dari titik temu dua senjata itu seperti mesin las. Si kakek tersenyum jahat, lantas mundur.
"Maaf ya, aku tidak mau bertarung dengan lansia," gerutunya. "Tapi kalau kau memaksa, aku bisa selesaikan ini dengan cepat," Deavvara mengayunkan sabitnya, memotong tebing, tapi kakek itu berhasil menghindar. Senjata mereka berbenturan lagi, begitu dahsyat sehingga menimbulkan gempa bumi kecil-kecilan.
Deavvara memercikkan api ungu di tangan kirinya yang bebas dan memukul kakek itu di perut, membuatnya terguling beberapa kali ke belakang tapi dengan cepat menemukan kembali pijakannya, dan ia balas menghembuskan api putih dari telapak tangannya, yang disambut Deavvara dengan api ungu-biru-pink.
Kedua api berbenturan, mendidihkan bebatuan, membuyarkan rumput dan kayu. Keduanya seimbang untuk beberapa belas detik sampai Deavvara mulai kesulitan mempertahankan apinya dan kakek itu menyentakkan kedua tangannya, membuat gelombang api setinggi dua pohon kelapa. Dengan usaha terakhir, Deavvara menumbuhkan sayap dan tanduknya, melecutkan gelombang api yang sama, dan merenggutku dan ayahku, menjauh selagi api putih melahap api ungunya dan terus menyasar hingga memusnahkan hampir seluruh tebing.
Hawa panas yang luar biasa menjalari hutan. Aku mendecih. "Mestinya kita berdua bisa mengalahkannya."
Deavvara menggeleng. "Kau meremehkannya."
"Kau juga."
"Aku belum tahu sampai sepuluh detik yang lalu, Uzumaki," katanya dongkol. "Orang ini berada di level yang sama dengan Madara."
Kakek itu berdiri di tempatnya tadi, memandang kami, tapi tatapannya kosong.
"Jadi kurang menarik ketika kau datang, Ortodox," ucapnya. Itu suara kakek yang tadi, tapi dibaliknya ada suara lain, yang terdengar lebih muda dan lebih licik. "Lebih baik aku pergi sekarang. Kerusakannya bisa jadi terlalu besar. Kalian beruntung, aku menyimpan kekuatanku yang sesungguhnya untuk ajang utama."
Peti mati muncul persis di belakangnya, dan dia masuk.
"Tunggu!" Cegahku. "Siapa kau sebenarnya?!"
"Dadah."
Peti itu tertutup, lantas raib.
Deavvara menghela napas. "Setidaknya kita tahu satu hal."
Aku mengangguk. "Nama kakek itu Dadah."
"Bukan, tolol," sahut Deavvara jengah. "Kita punya satu musuh lagi yang lebih patut dipertimbangkan daripada si jelek Parraryon," dia menendang kerikil. "Setidaknya kita tahu Pararryon cuma mengandalkan Gaya Koroiois bodohnya. Edo Tensei barusan ... dia memiliki Ryooton."
Aku berjengit.
"Elemen Naga?" Selidik ayahku yang sudah pulih. "Kalau diamat-amati, semburan apinya memang melebihi teknik Katon manapun."
"Setara dengan Goukamekkyaku dan Gouka Messhitsu milik Uchiha," decih Deavvara, "bahkan bisa lebih lagi. Itu seperti seakan-akan dia adalah Dracovetth dari masa lalu yang sudah lama sekali sampai kita melupakannya, dan meskipun faktanya dia sangat kuat, kemungkinan besar sepanjang hidupnya kakek itu tidak melakukan hal-hal yang mencolok, jadi kita tidak tahu siapa dia."
"Dia bertahan dari Rasenshurikenku," ceritaku, "dan juga serangan beruntun Odama Rasengan dari Sennin Modo. Aku juga tidak bisa memprediksi gerakan-gerakannya meskipun sudah menggunakan Kawazu Kumite."
"Apa dia Sennin?" Selidik sang Yondaime.
Deavvara menggeleng. "Lebih kuat bahkan dari Sennin," cetusnya, "mungkin diatas Kage, malah."
"Setara dengan Laramidia?" Tanyaku.
Deavvara meringis. "Mungkin. Dia bilang dia menyimpan kekuatannya untuk ajang utama, berarti kemungkinan dia baru dibangkitkan dan si pengguna membuatnya menyerang kita untuk uji coba."
Kami kembali ke gua, dimana Kurama, Demetra, dan Angelo kecil sudah menunggu (dengan perut kenyang, karena Kurama membakarkan beberapa rusa untuk mereka bertiga. Setidaknya ada seekor yang disisakan untuk kami).
"Jadi," Demetra membuka percakapan. "Bagaimana hasilnya, Deavvara-san?"
"Aku sudah mendatangi Fuu. Ada satu."
"Satu apa?"
Deavvara memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Semacam campuran khawatir, gelisah, dan ... senang. Aku mengernyitkan alis. Ayahku memandang kami seolah kami berusaha untuk tidak saling cekik.
"Manusia-naga," Deavvara menggigit paha rusa. "Ada satu manusia-naga yang pernah bertarung di arena, kira-kira dua bulan lalu. Dia cuma pernah muncul sekali setelah itu identitasnya tidak diketahui."
"Namanya?" Kurama mulai tertarik. Angelo kecil menggeram-geram.
"Renynola," kata Deavvara. "Perempuan. Usianya sekitar tujuh belasan. Waktu itu dia tinggal di Distrik Timur, tapi entah sekarang. Dia punya kemampuan untuk berubah menjadi naga atau setengah-naga, dengan sayap kulit dan tanduk di kepala seperti Ardhalea dan aku ... dan kau," dia menudingku dengan tulang paha rusa. "Dia punya itu sejak lahir. Kau tahu apa artinya, Naruto?"
Aku menggaruk kepala. "Ada empat manusia-naga di dunia?"
Deavvara menggeleng. "Orangtuanya juga punya darah naga."
"Bukannya untuk jadi setengah-naga tidak terlalu sulit? Horus dan Haumea memakan orang dari aliansi ketika perang ... dan mereka bisa berubah jadi setengah-naga. Apa cara yang sama berlaku?" Tanya Demetra.
"Itu situasi spesial," cetus Deavvara, "tidak bertahan selamanya. Yang kumaksud setengah-naga adalah sepertiku dan Ardhalea."
"Oh, benar," aku mengetuk kepalaku. "Tapi mana bisa? Maksudmu kau mau bilang kalau ibunya manusia dan ayahnya—katakanlah, seekor Ingenia. Atau sebaliknya. Gimana bisa? Atau seperti kau—Neredox dan Kaguya? Berarti salah satu atau kedua orangtuanya juga setengah-naga?"
"Entah kenapa garis keluarga ini membuatku bingung," timpal ayahku tiba-tiba. "Kalau Naruto setengah-naga, berarti kalau kau menikah nanti anakmu jadi—"
"Setengah naga, kemungkinan," tabrak Deavvara. "Gen manusia resesif pada gen naga. Kalau sifat naganya lebih dari tujuh puluh persen, yang ada malah jadi naga seutuhnya, bukan manusia."
Aku cengo. "Kau tidak sedang menakut-nakutiku, kan? Seakan-akan aku akan memperburuk keturunan saja."
Deavvara mengibas tangan. "Itu urusanmu. Aku nggak tertarik dengan hal-hal menjijikan macam itu. Sekarang, kita punya informasi baru. Sesuatu yang bisa mengembalikan kekuatan Ardhalea."
Aku membetulkan dudukku. Kurama dan Demetra menyimak.
"Namanya Darah Delima—aku yakin kalian tidak asing dengan ini. Berlian merah darah yang tertanam di dada Paradox, punya kembaran lain yang dilapisi emas. Kembaran itu berada di Gunung Ginkin, Kori no Kuni, Negeri Salju. Jika kita bisa mendapatkannya, Ardhalea bisa memperoleh kekuatan Paradox-nya lagi."
Aku mengangguk. "Kedengarannya ... bagus. Sekarang apa kendalanya?"
"Kita mungkin akan menemui beberapa Cockatrice," desisnya.
"Cock at rice," aku membeo. "Hmm ... 'ayam jantan dalam beras'?"
"Jangan dibaca terpisah! Kerabat dekat Basilisk. Bisa mengubah orang jadi batu. Dan Gunung Ginkin dijaga oleh seekor Epanterias. Itu naga berbahaya kelas-S. Dia bisa membunuh Dracovetth paling berpengalaman sekalipun, dan dia kejam. Selangkah kaki salah, kau akan terbang dengan perut terkoyak."
"Kau Ortodox dan Naruto juga bisa berubah jadi naga," cetus Kurama. "Lebih baik nggak usah membesar-besarkan masalah. Kalian pasti berhasil."
Deavvara mengangguk. "Kita tidak boleh meremehkan lawan, sekuat apapun kita. Aku hanya khawatir kalau-kalau ada orang yang juga mengincar Darah Delima itu dan kita kedahuluan."
"Kalau begitu kita hanya harus berangkat dulu," aku bangun, diikuti ayahku dan Deavvara.
"Ayo," Deavvara menyarungkan sabitnya. "Petualangan ke Utara. Mengambil Darah Delima untuk adikku."
"Lalu kita akan menemukannya dan aku akan memarahinya habis-habisan untuk kali kedua," sambungku.
Kurama terkekeh. "Maksudmu menciumnya habis-habisan?"
Aku merona. "Diam."
The Prison
"Ardhalea."
"Ardhalea!"
"Ardhalea!"
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Alih-alih Menma, yang berdiri di depanku ... Hemera, Naga Siang. Wajahnya memprogram ekspresi cemas.
"Ya ampun, demi kuku Nyx! Kau kenapa, Sayangku?"
"Aku ditangkap," rahangku mengeras. "Kenapa Nenek baru muncul sekarang? Aku kebingungan!" Tuntutku. "Kau menyuruhku mencari Darah Delima tapi samasekali tidak memberitahu dimana tempatnya!"
"Waktu itu aku belum tahu," dia berkilah. "Sekarang sudah. Tapi sepertinya aku tidak perlu memberitahukannya padamu."
"Kenapa? Ini menyangkut keutuhan dunia, Nek!"
"Kau akan segera mengetahuinya, Manisku!" Dia beralasan. "Sebentar lagi, segera setelah kau bangun."
Aku mencibir. "Dan apa gerangan yang mau kau beritahukan padaku sekarang?"
Hemera menegakkan badan, dagunya terangkat beberapa derajat. "Sesuatu tentang Paradox pertama."
"Ada apa dengan Paradox pertama?"
Hemera menengok sekeliling, padahal di ruangan ini sekarang tak ada siapa-siapa selain kami berdua. "Apa kau sudah bertanya pada ibumu, Ootsutsuki Kaguya, tentang bagaimana Paradox pertama ... emm, mati?"
Tubuhku menegang. "Iya."
"Dan kau memahaminya?" Hunjamnya.
Aku meneguk ludah. "Sedikit."
Hemera berubah wujud menjadi manusia. Gaunnya yang panjang menyapu lantai, lengan gaunnya terpisah dari gaun utama. Sepasang sayap berbulu emasnya terlipat rapi di punggungnya, kedua tanduknya berdenyar dengan kekuatan matahari. Mata merah-kuningnya memandangku datar, tapi aku tahu ada sesuatu dibalik tatapannya.
"Apa Laramidia, si Keturunan Ketiga itu, mengatakan sesuatu tentang Paradox?"
Aku mengangguk. "Untuk beberapa waktu pertama, dia menyinggung-nyinggung relasinya dengan Paradox. Kukira itu berarti aku, tapi aku tidak menemukan apa-apa antara aku dan dia. Jadi ... yang dimaksudnya waktu itu Paradox yang pertama?"
"Sayang," Hemera mendesah. "Laramidia adalah kakak Paradox pertama."\
Aku mengernyit. "Sebentar," aku menginterupsi, "Laramidia punya kakak bernama Niaka dan adik bernama Hi'iaka. Jika Paradox pertama adalah adik Laramidia secara nasab, berarti dia ... menikah dengan Hi'iaka, adik Laramidia?"
Hemera tersenyum. "Pintar."
"Tapi Laramidia membunuh saudari-saudarinya," kataku.
"Sebelum mereka dibunuh," ujar Hemera, "Hi'iaka jatuh cinta pada Paradox pertama."
"Sebentar!" Aku menginterupsi lagi. "Paradox pertama itu ... jantan?"
"Iya, Sayang. Kau pikir dua betina bisa menghasilkan telur? Au ah. Dari mereka berdua, lahirlah Neredox ... kemudian tak lama setelah itu Paradox pertama wafat, disusul kedua saudari Laramidia."
Aku terdiam. "Apa Laramidia ada kaitannya dengan kematian Paradox pertama?"
"Entahlah," rahang Hemera mengeras. "Aku benci tidak mengetahui sesuatu tentang keturunanku sendiri, tapi yah. Mungkin sejak awal Laramidia memang membenci Paradox pertama, tapi dia tidak membunuhnya. Dia penuh perhitungan. Kalau dia menginginkan tercapainya sesuatu, dia akan merencanakannya sesempurna mungkin. Tidak—membunuh Sang Paradoks mengandung terlalu banyak resiko untuknya."
Kami terdiam. Hemera menghela napas pelan. "Setidaknya kau sudah tahu bagaimana dia mati, kan, Sayang?"
Aku mengangguk sekali. Aku merasa seluruh penjara mendadak berubah jadi monokrom—hitam-putih. Bahkan sayap dan tanduk emas Hemera sang Naga Siang tak mampu mewarnai dunia lagi. Tak berarti. Tak berdaya.
"Dia mati karena jatuh cinta pada naga lain."
Hemera mengangguk.
"Apa ... Paradox hakikatnya fertil?"
"Tidak juga. Mereka makhluk hidup juga, sama seperti manusia atau naga manapun. Mereka hanya diberi kelebihan kekuatan dan kebijaksanaan dan segudang kemampuan lain dari manusia dan naga hebat. Memang banyak yang meyakini kalau Paradox itu abadi, tapi kekuatan magis keabadian mereka akan patah jika mereka jatuh cinta. Pada naga atau pada manusia. Sama saja."
Hemera berkata begitu seolah dia sedang membicarakan Paradox yang lain. Seolah-olah aku yang di hadapannya bukan Paradox. Seolah aku tidak pernah jadi Paradox.
Hemera melirikku. "Jangan tersinggung, Sayang."
Aku menggeleng. "Kenyataannya mungkin seperti itu," Hemera berdalih lagi, "aku takkan melupakan ketika cucu-cucuku berusaha saling bunuh waktu itu—ketika kau melindungi Uzumaki itu dari kakakmu. Uliran Samsara, Rinsei Rinne no Tsurugi sekalipun seharusnya belum cukup untuk menghabisi nyawamu. Mestinya."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Itu keputusanmu," katanya. "Aku tidak berhak ikut campur."
"Kau baru saja ikut campur."
"Kalau begitu aku tidak mau lebih mengusikmu lagi," Hemera tersenyum, lantas mengecup dahiku. "Hati-hati, Ardhalea."
.
.
.
Aku terjaga. Di depanku, Menma sedang berkonsentrasi pada papan catur kertas. Ia melirikku, menyadari aku sudah bangun, lantas melakukan kuchiyose.
Dari peti, keluar dengan tertatih-tatih, muncul seseorang yang sudah lama mati. Aku mengenal namanya, meskipun tidak menyangka orang ini bisa dibangkitkan lagi.
Raikage Ketiga.
"Nah," desis Menma. "Mari kita lihat."
Raikage Ketiga—yang dikendalikan sepenuhnya oleh Menma—mengibaskan tangan kekarnya, dengan sekali gerakan memutuskan rantai-rantaiku. Aku jatuh terduduk, kusadari betapa pegal dan lelahnya lengan-lenganku. Aku meringis, berusaha menggerakkan mereka. Menma melepas sisa borgol dari tangan dan kakiku, lantas menyegel Raikage lagi ke peti.
"Itu penghinaan," kataku.
"Terserah," balasnya acuh tak acuh. "Aku tak peduli. Mereka bidakku. Toh mereka kukendalikan. Nah, sekarang ayo pergi."
"Kemana?"
Menma memperlihatkan sebuah gulungan perkamen berwarna ungu. "Salah satu asistenku berhasil mencurinya dari Takigakure. Peta Darah Delima. Ayo kita cari batu berharga itu dan pulihkan lagi kekuatanmu, setelah itu kita akan mendamprat Parraryon."
.
.
.
.
.
.
Tiga tim.
.
.
Dua hati.
.
.
Satu tujuan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
