Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

.

Eyes

.

.

Sasuke Uchiha adalah seorang yang pendiam.

Hanya itu yang Hinata tahu dari sosok Uchiha terakhir itu.

Mereka berdua memang sekelas, namun mereka berdua bukanlah teman. Bahkan terkadang Hinata ragu apakah Sasuke mengenal nama 'Hinata Hyuuga'.

Terkadang Hinata bingung, apa yang membuat para gadis di akademi begitu menyukai Sasuke? Apakah karena dia tampan? Tapi banyak orang lain yang sama tampannya dengan Sasuke seperti Teruo dari kelas sebelah atau kakak kelas yang bernama Ryuu, mengapa harus Sasuke yang dikejar-kejar?

Ketika Hinata sedang bosan di kelas, terkadang ia menatap Naruto. Namun ada saat-saat ketika Naruto telat atau membolos, saat itu pula ia akan melirik ke arah Sasuke. Ada sesuatu hal dari diri Sasuke Uchiha yang membuat Hinata merasa aneh. Ah, Hinata tidak menyukai Sasuke atau apapun itu. Hanya saja…

Hanya saja…

Hinata merasa ada sebuah tarikan yang membuatnya…

Membuatnya…

Hinata tidak bisa menjelaskan apa yang tengah ia rasakan.

Hinata Hyuuga dan Sasuke Uchiha adalah dua orang yang sangat bertolak belakang.

Dia jenius dan berbakat, sedangkan Hinata dianggap tidak berguna.

Dia disukai oleh banyak orang, sedangkan tidak ada seorangpun yang menyukai Hinata.

Dia kuat, sedangkan Hinata lemah.

Mereka berdua tidak akan bisa bersama.

Mereka berdua terlalu berbeda.

Namun mengapa…

Mengapa setiap kali menatap kedua matanya, Hinata merasa jiwa mereka adalah sama?

Hinata dapat membaca semua emosi yang disembunyikan oleh sepasang mata hitam itu.

Amarah, kebencian, dendam, rasa tidak puas, lelah, dan…

Kesepian.

Sasuke Uchiha itu kesepian.

Dia kesepian meski dikelilingi banyak orang.

Sama sepertinya.

Hinata merasa kesepian meski dikelilingi oleh anggota klan Hyuuga.

Ternyata mereka berdua memiliki kesamaan…

Hinata tidak tahu berapa lama ia menatap Sasuke, yang jelas kini Sasuke menoleh ke arahnya.

Hinata terkesiap. Ia telah ketahuan.

Sepasang mata hitam itu menatap Hinata dengan tatapan yang sulit diartikan. Mata hitam yang kelam dan dalam itu itu seakan jauh lebih tua dan menceritakan untaian kisah.

Hinata kembali merasakan tarikan itu.

Kini tarikan itu berubah menjadi sebuah ikatan.

Hinata bisa melihat semua rasa sakit yang disimpan di sepasang mata Sasuke.

Dan merasakannya…

Hatinya bisa merasakan rasa sakit itu.

Air mata Hinata mengalir dengan sendirinya.

.

.

"Apakah dia menyakitimu? Apakah dia berlaku jahat padamu?"

"Tidak, Kiba-kun. Sasuke tidak pernah menyakitiku atau berbuat jahat padaku." Jawab Hinata sambil mengelus Akamaru.

Kiba memalingkan wajahnya sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti 'Sasuke', 'brengsek' dan 'membalasnya'.

"Kami senang karena kau baik-baik saja, Hinata." Jawab Shino sambil membetulkan kacamata hitamnya.

Hinata tersenyum. "Mengapa aku tidak baik-baik saja?"

Shino dan Kiba saling bertukar pandang.

Hinata berpura-pura sibuk mengelus Akamaru. Ia dapat menebak apa yang dipikirkan kedua sahabatnya itu. Reputasi yang dimiliki Sasuke membuat semua orang curiga padanya, sama halnya seperti Kiba dan Shino. Hinata memahami itu. Hanya saja… ia merasa itu semua tidak adil untuk Sasuke. Pria itu sudah berubah, mengapa semua orang masih tidak mampu mempercayainya dan menerima keberadaannya di Konoha? Apa yang harus dilakukan Sasuke untuk membuktikan loyalitasnya pada Konoha?

"Kurenai-sensei dan Mirai merindukanmu." Kata Kiba sambil merubah topik pembicaraan. "Kau sudah jarang berkunjung. Mirai ingin sekali menunjukkan padamu lukisan yang telah ia buat."

Rasa bersalah muncul di hati Hinata. Ia tidak bermaksud menciptakan jarak antara ia dan Kurenai-sensei. "Besok aku akan mengunjunginya. A-apakah Kurenai-sensei marah karena aku jarang berkunjung?"

Shino melipat kedua tangannya di dada. "Dia tidak marah. Jangan mengkhawatirkan itu."

"Jadi… bagaimana rasanya menjadi seorang sensei?" Tanya Kiba sambil tersenyum lebar.

"Menyenangkan." Hinata tersenyum malu-malu. "Awalnya sedikit canggung, namun ketika telah terbiasa maka semua terasa menyenangkan."

"Lebih menyenangkan dari menjalankan misi bersama kami, huh? Misi terasa tidak sama tanpamu, Hinata."

"Bu-bukan seperti itu." Hinata menggelengkan kepalanya. "Menjadi seorang pengajar lebih terasa santai sementara menjalankan misi terasa menantang dan membuat bersemangat. Keduanya sama menyenangkannya." Tangan Hinata yang tengah mengelus kepala Akamaru terdiam. "Aku ingin berhenti untuk sementara waktu dalam menjalankan misi yang berat." Kata Hinata perlahan.

"Mengapa?" Tanya Kiba sambil mengerutkan keningnya.

Pelayan restoran datang dan mengantarkan pesanan mereka bertiga, err, berempat. Akamaru juga masuk hitungan. Pembicaraan diantara mereka berhenti sesaat karena mereka berempat sibuk menyantap pesanan mereka.

"Mengapa kau ingin berhenti menjalankan misi yang berat?" Tanya Kiba dengan mulut setengah penuh. Pertanyaannya tadi belum sempat dijawab dan ia masih penasaran.

Pipi Hinata bersemu merah. "A-aku harus menjaga kondisi fisikku. Aku tidak boleh terlalu letih."

"Huh?" Kini Kiba terlihat bingung. Apa maksud jawaban Hinata itu?

"A-aku harus sehat a-agar cepat ha-ha-hamil."

"Uhuk! Uhuk!" Mendengar itu, Kiba tersedak.

Dengan sigap, Shino menepuk-nepuk punggung sahabatnya yang malang. "Aku pernah mendengar jika calon ibu hamil harus mengurangi aktivitas fisik dan menghindari stress."

Hinata mengangguk tanda menyetujui pernyataan Shino.

Setelah kondisinya kembali normal, Kiba kembali berbicara. "Aku masih belum bisa menerima kenyataan jika… ugh!"

Di mata Kiba, Hinata tetaplah gadis remaja pemalu yang selalu mengenakan jaket yang kebesaran di tubuhnya. Dia masih belum siap menerima kenyataan jika sahabatnya ini sebentar lagi akan menjadi seorang wanita yang mengandung bayi Uchiha! Bayangan itu terlalu asing dan aneh baginya!

"Jangan salah paham, Hinata." Kiba mengusap wajahnya dengan gusar. "Aku tidak menentang itu. aku hanya, ugh!" Kini ia menuding perut Hinata yang masih rata. "Aku hanya tidak bisa membayangkan itu!"

"Kehamilan adalah suatu hal yang natural." Ujar Shino sambil kembali membenarkan kacamatanya.

"Aku tahu! AKU TAHU! Aku hanya butuh waktu untuk terbiasa, oke?!"

Hinata menggigit bibirnya untuk menahan senyum. Ia sangat menyayangi kedua sahabatnya ini.

.

.

Menjadi seorang Hokage sangat melelahkan. Jika boleh memilih, Kakashi lebih suka menghabiskan hari-harinya dengan bersantai sambil membaca buku favoritnya. Sayang sekali ia memiliki tugas dan tanggung jawab besar sebagai seorang Hokage. Kakashi harus rela menghabiskan hari-harinya dengan duduk di belakang meja bertarung menghadapi setumpuk dokumen yang membuatnya lelah secara fisik maupun mental. Terkadang ia ragu apakah Naruto sadar seperti apa tugas Hokage yang sesungguhnya. Apakah anak didiknya itu akan masih tetap menggebu-gebu untuk menjadi Hokage ketika sadar bahwa tugas Hokage lebih banyak dihabiskan di kantor?

Semoga saja iya. Kakashi ingin pensiun dini.

"Keberadaanmu disini benar-benar membantuku." Kata Kakashi pada Sasuke yang masih setia mendampinginya bekerja hingga pukul sebelas malam.

Sasuke mendengus namun tidak berkomentar apapun.

Kakashi menghela nafas. "Aku sudah tua, seharusnya aku menghabiskan hari-hariku dengan bersantai, bukannya bekerja hingga nyaris tengah malam." Ketika Kakashi teringat bahwa ia harus kembali bekerja besok pagi, ekspresinya menjadi masam. Ah, kapan ini semua bisa berakhir?!

"Kau bahkan lebih muda bila dibandingkan dengan para Hokage sebelumnya."

Kakashi diam. Bila dibandingkan dengan Hokage ketiga ataupun kelima, ia masih jauh lebih muda. Meski begitu, bukan berarti dia tidak boleh mengeluh karena lelah. Kakashi benar-benar mengagumi kerja keras para Hokage sebelumnya.

"Ah Sasuke…" Kakashi lagi-lagi menghela nafas. "Aku sangat berterima kasih atas semua kerja kerasmu, kuharap kau bisa selalu membantuku-"

"Aku pulang." Kata Sasuke sambil melenggang pergi. Sepertinya ia sudah bisa menebak maksud perkataan Kakashi yang menyuruhnya untuk selalu lembur.

Kakashi mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

.

.

Ketika Sasuke pulang, ia sedikit terkejut ketika menjumpai Hinata yang tertidur di sofa yang berada di ruang tamu. Mengapa wanita ini memilih tidur disini dan bukannya tidur di ranjang yang lebih nyaman?

Apakah wanita ini sedang menunggu kepulangannya? Pemikiran itu membuatnya mematung untuk sejenak. Kini ada seseorang yang menanti ia pulang.

Ternyata menikah tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.

Ia lalu mengguncang-guncangkan tubuh Hinata, berusaha membangunkannya.

Hinata langsung duduk sambil terkesiap. Ketika ia sadar bahwa Sasuke-lah yang membangunkannya, pipinya bersemu merah. "Maaf, aku ketiduran."

"Mm."

Hinata berdiri dengan tergesa-gesa. "A-apakah kau sudah makan malam? Masih ada sup dan ikan di dapur."

Sasuke tidak tahu apa yang membuatnya mau duduk dan menyantap makan malam meski waktu telah menunjukkan pukul tengah malam. Dia adalah seorang shinobi, dia tidak mungkin mati hanya karena melewatkan makan malam.

Sasuke menyantap makan malamnya dengan tenang. Hinata turut bergabung di meja makan, wanita itu tidak menyantap apapun akan tetapi ia memiliki secangkir teh hijau hangat.

"A-aku tidak tahu jika kau akan pulang selarut ini." Kata Hinata perlahan.

"Kakashi memberikan setumpuk pekerjaan padaku."

"Oh…"

Sasuke kembali melanjutkan makannya. Istrinya ini adalah wanita yang pendiam, ia bersyukur tentang hal itu. Ia tidak bisa membayangkan seandainya ia menikahi wanita cerewet yang selalu mengganggunya.

Setelah ia selesai makan malam, ia berniat mandi sedangkan Hinata mencuci piring dan mangkuk di dapur. Hinata adalah wanita yang pengertian dan tidak banyak mengeluh. Ia selalu tanggap dengan berbagai hal bahkan tanpa perlu diminta sekalipun.

Sebelum meninggalkan dapur, Sasuke kembali melirik Hinata secara sekilas. Sejujurnya ia tidak begitu mengenal nama 'Hinata Hyuuga' sebelum ia menikahi wanita itu. Yang ia tahu hanyalah mereka berdua pernah sekelas dan Hinata adalah seorang yang pendiam dan memiliki byakugan. Hanya itu. Selebihnya tidak ada. Bahkan Sasuke tidak begitu mengingat seperti apa rupa dari seseorang yang bernama 'Hinata' itu.

Ah, tunggu sebentar.

Ia mengingat satu hal lagi.

Sasuke mengingat sepasang mata itu.

Ketika ia masih berada di akademi bertahun-tahun lalu, ia pernah menatap sepasang mata Hinata Hyuuga.

Ia masih mengingatnya. Saat itu sedang pertengahan musim semi, ia duduk di kelas dengan bosan seperti biasa. Hari itu Naruto membolos sehingga suasana kelas tidak riuh seperti biasanya. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menatapnya, secara refleks ia menoleh. Tak jauh darinya, ada seorang gadis bermata pucat yang menatapnya. Pada awalnya ia berencana membuang muka, ia sudah terbiasa mendapatkan tatapan dari para gadis pengganggu, akan tetapi ada suatu hal yang membuatnya tidak mampu berpaling.

Sepasang mata itu tidak menatapnya dengan penuh damba, kebencian, rasa suka, kekaguman atau apapun itu.

Sepasang mata itu hanya menatapnya.

Akan tetapi Sasuke berani bersumpah jika saat itu juga sepasang mata pucat Hyuuga mampu melihat dirinya yang sesungguhnya…

Dirinya yang lemah, rapuh, dan terluka.

Dan ketika ada setitik air mata yang mengalir membanjiri pipi gadis itu, Sasuke bisa merasakan dinding yang ia bangun mengelilingi hatinya runtuh secara seketika.

Ia benci itu.

Ia benci perasaan itu.

Ia benci merasa lemah seperti itu.

Itulah mengapa ia membuang memori itu jauh-jauh. Ia tidak ingin memiliki memori dimana pertahanan hati yang ia bangun dengan susah payah runtuh dalam sekejap hanya karena setitik air mata gadis yang bahkan tidak ia kenal.

Dan kini memori itu muncul secara tiba-tiba membanjiri benaknya.

Mengapa ia tiba-tiba merasakan perasaan seperti itu?

Bahkan hingga saat ini Sasuke masih tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

.

.

Musim semi telah tiba, membawa kehangatan dan keceriaan bagi semua orang, termasuk pula bagi Hinata. Ia sudah tidak sabar lagi menanti Hanami yang sebentar lagi akan tiba.

Halaman belakang rumahnya kini ia jadikan kebun tomat. Benih tomat yang ia tanam kini mulai tumbuh. Akan butuh beberapa minggu lagi agar tanaman tomat itu bisa mulai berbuah. Halaman depan rumah kini juga diisi aneka jenis tanaman bunga. Beberapa mawar kini terlihat mulai kuncup. Hinata sengaja menanam mawar merah dan putih, mewakili simbol merah dan putih klan Uchiha. Ia tidak tahu apakah Sasuke menyadari niatnya ini.

Halaman samping diisi oleh beberapa tanaman herbal yang ia gunakan sebagai bahan obat dan salep. Sasuke tidak pernah protes ataupun menentang aktivitas berkebunnya. Hinata menganggap itu sebagai sebuah persetujuan.

Mereka berdua masih tidak banyak berbincang-bincang, akan tetapi tidak ada lagi rasa canggung ataupun kikuk diantara mereka berdua. Hinata merasa kesunyian diantara mereka justru merupakan suatu hal yang menenangkan.

Pernikahannya baru menginjak dua bulan namun semua orang, terutama ayahnya sudah bertanya-tanya apakah ia sudah hamil. Belum, ia belum hamil. Hinata tahu semua orang mengharapkannya untuk segera hamil, namun Hinata bisa apa? Ia tidak bisa mengatur kapan bayi akan datang dan tinggal di rahimnya. Ia dan suaminya masih tenang-tenang saja, mengapa orang lain justru merasa tergesa-gesa?

Hinata menghela nafas sambil kembali melanjutkan kegiatan menjemur baju. Cuciannya hari ini lumayan banyak. Setelah selesai menjemur baju ia akan mengepel lantai dan membersihkan jendela. Hari ini akademi sedang libur, itulah mengapa ia memiliki banyak waktu luang untuk melakukan pekerjaan rumah.

Hari ini Sasuke pergi menjalankan misi. Mungkin besok ia akan pulang. Banyak orang yang masih tidak mempercayai Sasuke karena reputasi yang disandangnya, namun semua orang mengakui kemampuannya sebagai salah satu ninja terbaik Konoha. Itulah mengapa Sasuke sering ditugaskan menjalankan misi yang dianggap sulit.

"Semoga kau bisa kembali pulang dengan sehat dan selamat, Sasuke." Kata Hinata sambil menatap langit berwarna biru cerah yang membentang luas. Hinata tahu Sasuke adalah ninja yang hebat. Meski begitu, ia selalu berharap agar suaminya itu selalu diberi perlindungan dimanapun ia berada.

.

.

Sasuke menghentikan langkahnya.

"Ada apa, Uchiha-san?" Tanya salah seorang rekannya ketika melihat Sasuke berhenti mendadak. "Apakah ada bahaya?"

"Tidak ada apa-apa." Jawab Sasuke sambil kembali melanjutkan perjalanannya.

Sasuke lalu meletakkan telapak tangannya tepat di jantungnya. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa hangat.

.

.