Summary : Aku mempunyai teman chatting, sebelumnya tidak ada pembicaraan yang menarik diantara kami tapi…suatu ketika…*ga tau ah mw ketik apaan, bingung ini summarynya mw kayak bijimane….btw…ini cuma cerita klasik aja ya n kagak ada konflik yang cetar menbahana…terserah mw baca apa kagak but…klo suka ya Alhamdulillah…
Author: Juzie chan
Disclaimer : Juzie…ahahahaha *ditendang ama Om Kubo* Ampun…ini...Author cuma minjam tokoh om Kubo ya….^^
Pairing : IchiRuki, slight IchiHime (oh my gosh!) emmmm…ntar diliat mw pairing apa lagi ya
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, ceritanya kuno banget, hina, menjijikkan, menjemukan, membuat mual, bete, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
.
.
.
ini Ichigo's POV ya!
CH 9
Meet you again
.
.
.
Chappy syalala : Ichigooooooooo
Ichigo orange : apa?
Chappy syalala : ichigo km masih ada d seiretei kah?
Ichigo orange : y..knp?
Chappy syalala : lama km ya di seiretei?
Ichigo orange : lumayan lama…knp?
Chappy syalala : cuma tanya saja
Ichigo orange : cape deh..kirain km mau k sini
Chappy syalala : :)) kenapa juga aku hrs ke kamar hotel laki-laki..
Ichigo orange : ya temani aku di sini…bosan juga sndirian seharian terus di kamar
Chappy syalala : tdk mau ah…nanti km melakukan hal yg tdk senonoh lg..
Ichigo orange : jiaaaahh…siapa juga? Paling km yg iseng..
Chappy syalala : :))
Ichigo orange : Rukia..bsk km ada acara apa?
Chappy syalala : acara apa ya..nanti bsok saja aku pikir mw kmn
Ichigo orange : hah?
Chappy syalala : knp?
Ichigo orange : masa km tidak tau mau apa bsk?
Chappy syalala : ada deh..
Ichigo orange : bisikin donk
Chappy syalala : switswitjfsnkjfgaldjgkfjbgdfbn
Ichigo orange : apaan itu?
Chappy syalala : hehehehehe..ada deh..
Sudah lebih tiga minggu aku berada di Seiretei. Bukan seperti perjalanan sebelumnya yang hanya memakan waktu kurang dari seminggu kemudian aku bisa bersenang-senang, tapi seharian penuh aku terus berada di depan laptopku, di dalam kamar hotel. Eits, bukan untuk online semata tapi untuk memonitoring perangkat lunak dari sini sementara perangkat yang di pusat sedang diperbaiki karena saat ini jaringan sering terputus atau eror.
Untung saja tiap malam Rukia selalu menemaniku, walaupun secara online karena ia tidak bersedia menemuiku di kamar hotel. Okelah karena dia adalah seorang gadis, tidak etis memang bila seorang gadis mendatangi seorang pria bujang di kamar hotel.
Akhirnya aku mendapatkan kabar dari Ishida bahwa perangkat di pusat telah selesai diperbaiki. Lega rasanya karena akhirnya aku bisa beristirahat setelah berhari-hari terus stand by di dalam kamar hotel. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin jalan bersama Rukia. Apalagi daerah ini adalah daerah pantai, mungkin kami bisa berenang atau ke pulau atau kemanalah berhubung aku tidak pernah sekalipun berwisata di Seiretei walaupun aku sudah sering berkunjung di sini.
Ichigo orange : halo Rukia..
Chappy syalala : halo Ichigo..bagaimana keadaan km di sana?
Ichigo orange : lumayan…hampir karatan di hotel
Chappy syalala : knp tdk sampai karatan saja sekalian…. :))
Ichigo orange : enak saja! Oh ya, Rukia..bsk km kmn?
Chappy syalala : tdk tau
Ichigo orange : kt ketemu yuk. temani aku jalan-jalan..
Chappy syalala : ehm…knp bukan skrg saja Ichigo?
Ichigo orange : sekarang?
Chappy syalala : iya sekarang. Aku skrg ada di anjungan, km tdk mau k sini? kt main sama2..
Ichigo orange : kalau begitu km diam di sana saja ya..jgn k mana2 oke!
Aku langsung saja beranjak dan mengambil jaketku yang kugantung di kursi lalu keluar dari hotel. Cepat-cepat aku berlari meninggalkan hotel menuju anjungan, tidak apa-apa karena anjungan lumayan dekat dari hotel.
Kini aku berada di anjungan. Rasanya capek juga setelah berlari dari hotel, nafasku jadi tersengal-sengal mungkin karena selama lebih tiga minggu aku tidak berolah raga.
Aku melihat-lihat di sekeliling, ternyata di sini sangat ramai, banyak pengunjung wisata…terutama bule dan juga banyak jajanan makanan khas Seiretei, di sini juga banyak pengamen rupanya. Aku jadi teringat Rukia sering sekali mengatakan kalau dia seorang pengamen. Mungkinkah Rukia benar-benar seorang pengamen?
Aku berjalan-jalan keliling mencari sosok mungil teman chat-ku itu. Susah mencarinya karena di sini terlalu ramai.
Akhirnya pandanganku kini menemukan sosok gadis mungil yang mengenakan jaket hitam, bercelana hitam selutut dan juga topi baseball-ku... Aku yakin itu adalah topiku karena ada tanda tangan pemain baseball andalanku walaupun dari jarak jauhpun aku sangat mengenali topi itu. Siapa lagi kalau bukan Rukia, kepala dan bahunya bergerak-gerak mengikuti iringan musik dari pengamen. Entah apa yang ia lakukan dengan topiku itu…topi itu jadi lebih cocok di kepalanya sekarang. Aku langsung berlari untuk menghampirinya.
"Ichigo!" serunya ketika melihatku yang kini berdiri di sampingnya, ia lalu melihat jam tangannya," cepat sekali kau sampai di sini.."
"Hotel tempatku menginap memang dekat dari sini koq," aku beralasan.
"Ah…" Rukia cepat-cepat menyeret kursi untukku, "ayo duduk di sini, Ichigo!" serunya.
Aku lalu duduk, beristirahat sebentar untuk mengatur pernafasanku sambil melihat-lihat sekelilingku.
"Ichigo…kamu mau?" Rukia menawarkan manisan yang entah itu terbuat dari apa.
"Tidak," tolakku, "aku tidak begitu suka yang manis-manis."
"Oh…" Rukia lalu melahap manisan itu.
"Em…Rukia," gumamku, "malam-malam begini…apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku, "ini sudah lumayan malam…"
Dengan jenaka Rukia mengedipkan matanya, "untuk mengamen, Ichigo…" ucapnya yang jelas-jelas hanya bercanda saja.
"Oh ya?" ujarku tak percaya, "lalu mana gitarmu? Aku tidak yakin kalau kau bisa memainkan gitar, coba kau mainkan!" tantangku.
Rukia lalu berdiri dan mendatangi salah-satu pengamen di sini, ternyata dia meminjam gitar rupanya.
"Kau tahu, aku adalah pengamen terbaik di Seiretei," ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Kalau begitu…silahkan mainkan!"
Rukia lalu memainkan gitar itu sambil bernyanyi. Ia memainkannya dengan sangat asal-asal, dan juga suaranya…aku tidak bisa untuk tidak tertawa, tingkahnya itu benar-benar lucu, kurasa dia sedang melawak di hadapanku.
"Terima kasih…terima kasih…" ucapnya sambil membungkuk.
"Rukia, kalau saja ada pengamen yang bernyanyi seperti kau, orang-orang pasti akan kabur," ucapku sambil tertawa.
"Kenapa bisa begitu? Suaraku bagus koq!"
"Iya iya…memang bagus…tapi jauh lebih bagus lagi kalau kau tidak bernyanyi…"
"Sembarangan saja…" cibirnya lalu ia mengembalikan gitar itu ke pemiliknya.
Astaga, tiba-tiba saja perutku terasa lapar. Rasanya aku ingin makan tapi di sini hanya ada makanan jajanan. "Rukia…" panggilku, "kau tidak laparkah? kita makan dulu yuk!" ajakku.
"Makan? Di sini ada banyak makanan, Ichigo…tinggal kau pilih."
"Tidak…aku maunya makan makanan yang berat."
"Kalau begitu…" Rukia menunjuk sesuatu, "itu sepertinya cukup berat untuk dimakan," ternyata yang ia tunjuk adalah batu karang berukuran besar yang tidak jauh di sana.
"Ha ha ha," aku melotot ke arahnya.
Rukia malah terkekeh. "aku cuma bercanda…"
"Um…Rukia…kau tahu tempat makan yang enak? Tempat makan yang buka jam-jam begini," tanyaku serius.
"Tentu aku tahu, Ichigo," sahutnya, "bagaimana kalau kita makan mie, mie ramen khas Seiretei, rasanya jauh lebih enak dari mie naga di Karakura."
"Oke boleh.."
Rukia lalu menarikku untuk keluar dari anjungan. "tempatnya dekat dari sini…jalan kaki sebentar sudah sampai koq," kata Rukia.
Rukia membawaku masuk ke lorong, lalu melalui gang-gang sempit. Aku jadi sedikit ragu…apa memang ada warung atau kedai di tempat seperti ini tapi aku tetap mengikuti Rukia. Entah kami sekarang berada di mana, karena sudah berkali-kali kami berbelok ke kiri ke kanan. Aku jadi sedikit khawatir bagaimana nanti caraku kembali ke hotel.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Rasanya mengejutkan karena memang ada kedai mie ramen di sini, apalagi kedainya sangat ramai. Rukia lalu menarikku masuk.
"Hai, Urahara-san!" Rukia menyapa pemilik kedai mie ramen ini dengan akrabnya.
"Hei, Kuchiki-san," balas pria berambut kuning bertopi bulat tinggi dan mengenakan kimono, pria itu melirik, "kau ke sini dengan pacar barumu ya…ehehehe," godanya.
"Sembarang…" gumam Rukia, "ini teman baruku!"
"Oh…teman baru toh, lalu…mana pacarmu itu?"
Rukia menyerngit. "Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Abarai-kun…"
Oh…ternyata Rukia sudah punya pacar rupanya…
"Dia bukan pacarku!" terang Rukia, "dia sudah ditelan bumi barangkali…oh ya, aku pesan mie ramen spesial, satu yang pedas seperti biasa…yang satu tidak pedas ya!"
"Oke!"
"Eh, aku duduk di dalam ya, di sini ramai sekali," ujar Rukia.
"Hehehehe…oke oke," kata pria bernama Urahara itu sambil senyam-senyum, "pasti mau pacaran di dalam..."
"Apa kau bilang?" tanya Rukia yang tidak jelas mendengar ucapan Urahara-san.
"Hehehehe…tidak…silahkan masuk!"
Rukia lalu mengajakku masuk ke dalam, di suatu ruangan di balik ruangan pengunjung lainnya. Tempatnya sepi dan sedikit gelap, tapi setidaknya di ruangan ini tidak ribut dan panas. Kami lalu duduk di meja yang menghadap ke dinding.
"Kau sering ke sini, Rukia?" tanyaku.
"Um…lumayan, kalau mau makan di jam segini.." sahutnya.
"Sendirian?"
"Bersama teman biasanya."
"Teman yang bernama Abarai, kah?"
Mata besar Rukia menatapku, mungkinkah pertanyaanku yang barusan terlalu berlebihan dan terlalu ingin tahu. Rukia ke sini dengan siapapun itu memang bukan urusanku. Aish…kenapa aku ini?
"Temanku bukan cuma dia, Ichigo…" sahutnya, "aku ke sini kadang-kadang juga dengan teman yang lain."
"Oh…" hatiku langsung merasa lega, aku juga bingung apa maksudnya ini.
"Lalu…" Rukia bersuara, "kapan kau akan pulang ke Karakura?" tanyanya.
"Lusa," jawabku.
"Jadi, besok kau masih ada di sini, kan?"
"Ya…"
Rukia mangguk-mangguk.
"Pesanan datang!" seru seorang gadis remaja berambut hitam yang membawa pesanan kami dengan nampang yang cukup besar.
"Terima kasih, Ururu," kata Rukia setelah gadis bernama Ururu itu meletakkan pesanan kami di meja. Ia membungkuk sekali sebelum keluar meninggalkan kami.
Aku langsung mengambil sumpit dan entah apa yang terjadi padaku aku langsung melahap mie ramen itu tanpa meniupnya atau menunggu hingga tidak terlalu panas. Reflex aku memuntahkan kembali mie ramen itu dari mulutku sebelum mulutku melepuh.
"Ichigo!" Rukia juga terkejut, cepat-cepat ia mengambilkanku tissue dan melap sisa-sisa kuah panas di daguku. Kurasakan bibirku hampir melepuh. "Coba aku lihat!" Rukia memperhatikan bibirku, aku jadi gugup karena jari-jarinya memegang pipiku. Kutatap matanya yang sedang sibuk memeriksa bibirku, kenapa mata itu sangat indah ya? Aku jadi tidak bisa mengalihkan pandanganku karena begitu indahnya. Pandangan Rukia tiba-tiba beralih ke mataku, cepat-cepat kealihkan pandanganku tapi kurasa agak telat. Mungkin ia sadar kalau tadi aku terus menatapnya? Ia melepaskan tangannya dari pipiku dan memundurkan pundaknya. Tiba-tiba ia tertawa. "Astaga…kenapa kau bisa makan seperti anak kecil?" ucapnya sambil tertawa, ia lalu menuangkan air ke gelas dan menyerahkan padaku.
"Terima kasih, "ucapku agak malu-malu sambil mengambil gelas itu kemudian meminumnya.
"Wadoooooow, Kuchiki-san!" pekik seseorang di belakang yang adalah pria pemilik kedai ini alias Urahara-san, "ternyata kau benar-benar pacaran di sini!" serunya lalu tertawa.
"Pacaran? Pacaran kepalamu," gerutu Rukia.
.
.
.
"Ichigo…" Rukia memanggilku setelah kami keluar dari kedai, "Kau sudah mau kembali ke hotel? Tidak maukah kamu melihat rumahku dulu?" tanyanya, "rumahku sudah tidak jauh loh dari sini…"
"Oh, ya?" ujarku, "tapi…" aku menimbang-nimbang kembali, "apa kau tinggal sendirian? Maksudku…tidak baikkan kalau seorang gadis yang tinggal sendirian membawa seorang pria ke rumahnya malam-malam begini…"
"Jangan khawatir, rumahku ramai koq," kata Rukia kemudian ia menarik tanganku, mengajakku jalan menuju rumahnya, "saat ini teman-teman berkumpul di rumahku…" katanya.
Dan tidak jauh dari lokasi kedai kami sudah mendapatkan jalanan besar. Walaupun jalanan besar tapi daerah ini sepi, kalau dilihat-lihat….daerah ini mungkin pernah menjadi kota, mungkin bisa disebut kota tua.
Rukia menarikku menyebrangi jalan dan sampailah kami di depan ruko bertingkat tiga.
"Ini rumahmu, Rukia? Ruko?" tanyaku sembari menunjuk ruko yang ada di depan kami.
Rukia hanya menyaut dengan senyuman yang simple kemudian ia menggeser pintu ruko itu dan nampaklah ruangan lumayan besar dengan banyak computer dan beberapa layar LCD besar. Ada tiga pria…ralat, ada dua pria dengan satu anak laki-laki berambut perak, berada di depan layar LCD, sedang bermain game online sepertinya.
"Halo semua!" seru Rukia, "Mama telah kembali…tralala tralala…"
"Hei, Kuchiki, darimana saja ka-" pria berambut hitam terdiam begitu melihatku, seorang pria berambut kuning dan anak laki-laki berambut perak kini menoleh ke arahku untuk melihatku.
"Perkenalkan, Ini adalah teman baruku, namanya…Kurosaki Ichigo," seru Rukia.
"Oh…" ujar Pria berambur hitam dengan plester di pipinya, "hai, Kurosaki!" sapanya.
"Ichigo, dia itu namanya Hisagi Shuhei," kata Rukia.
"Hai, Hisagi-san," aku membalas sapa pria bernama Hisagi itu.
"Yang di tengah itu, namanya Kira Izuru," Rukia menunjuk pria berambut kuning.
"Hai, Kira-san," sapaku.
"Hai…" Kira menyaut sambil mengangkat rendah tangannya.
"Yang di sana itu, Hitsugaya Toushiro…"
Pria itu tetap menghadap ke arah layar.
"Walaupun badannya seperti anak-anak…tapi dia itu seumuran denganku…" bisik Rukia.
"Yang bernama Hitsugaya itu?" tanyaku berbisik dan Rukia menjawabnya dengan anggukan.
Seseorang seperti masuk dalam ruangan ini, eh…dua orang ternyata satu pria dengan kepala botak yang glowy dan yang satunya adalah seorang gadis yang lumayan manis…eh ralat ralat, ternyata dia pria rupanya, astaga…
"Halo, Kuchiki!" seru pria berpenampilan wanita itu, "tadi diluar aku dan Ikkaku sempat melihatmu…tapi karena kau jalan dengan pria jadi kami tidak menegurmu…" pria itu lalu memandangku, "siapa tuh?" tanyanya.
"Ini adalah teman baruku, berasal dari Karakura…namanya Kurosaki Ichigo," ucap Rukia memperkenalkanku dengan kedua pria itu.
"Halo Kurosaki…namaku Ayasegawa Yumichika," kata pria yang mungkin tepatnya adalah waria, "teman seumur hidupku ini namanya Madarame Ikkaku."
"Hai, Bro!" si kepala botak bernama Madarame itu menyapaku.
"Hai…" balasku.
"Oh ya, dimana Momo dan Matsumoto?" tanya Rukia ke kedua temannya itu, "bukannya mereka tadi ada di sini juga?"
"Mereka keluar tidak lama setelah kau keluar," sahut Madarame, "mereka berdua cari cowok barangkali."
"Aduh…aku lapar sekali…" kata Ayasegawa, "kita makan di dalam dulu, yuk," ia mengajak Madarame ke dalam.
Aku lalu mengambil duduk di belakang sementara Rukia mengambilkanku minuman. Waktu aku menoleh ke samping, aku melihat dua kardus besar yang berisikan kaset CD. Karena penasaran aku pergi mengecek kaset CD apa itu, kenapa sangat banyak ya? dan saat aku melihat dan memegangnya….ternyata semuanya CD aplikasi computer, tapi bajakan!
Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, ternyata kaleng minuman yang Rukia bawa.
"Ini minumanmu, Ichigo…" kata Rukia sambil menyodorkan kaleng minuman.
Aku meraihnya kemudian kembali duduk di sofa bersama Rukia.
"Rukia…semua CD-CD itu untuk apa?" tanyaku, "kenapa banyak sekali?"
"Ihihihihihi…" Rukia malah terkikik, "itu bisnisku, kawan!"
"Bisnis? Kau menjual CD bajakan?"
"Lebih tepatnya membuatnya…." sahut Rukia, "aku dan teman-temanmu membuat CD aplikasi itu…kenapa? Kau mau juga? Aku bisa memberikanmu gratis.."
"Tidak," jawabku.
"Hei, Kurosaki!" seru Hisagi memanggilku, "apa kau tidak mau ikutan bermain game?"
"Tidak," jawabku, "aku lihat-lihat saja.
Sambil minum aku memperhatikan ketiga pria itu bermain game. Tidak lama kemudian ada yang masuk lagi…saat aku menoleh, nampak dua gadis cantik memasuki ruangan ini, yang satunya seorang gadis cantik berambut coklat ikal, tubuh tinggi dengan belahan dada yang benar-benar menggoda, yang satunya seorang gadis cantik bertampang polos.
"Hei…darimana kalian?" sapa Rukia ke kedua gadis itu.
"Biasalah…cari mangsa," sahut gadis berambut coklat sambil cengar-cengir, "cari bule gitcyu loh…ehehehehe."
"Aku cuma menemani saja…" sahut yang satunya.
"Eh eh…" ujar si rambut coklat ketika memandangku, "siapa tuh, siapa tuh?" tanyanya.
"Perkenalkan…ini teman baruku, namanya Kurosaki Ichigo."
Aku lalu berdiri dan sedikit membungkuk ke arah kedua gadis itu.
"Hai…namaku Matsumoto Rangiku," sapa si rambut coklat memperkenalkan dirinya..
"Aku, Hinamori Momo…" si tampang polos memperkenalkan dirinya.
"Dia temanmu ya, Kuchiki? Ehm…tadinya kukira pacarmu…" kata Matsumoto-san.
"Memangnya aku berpacaran dengan semua teman priaku?" cibir Rukia. "Eh, temanku ini dari Karakura lho!" serunya tiba-tiba.
"Benarkah?" sahut Matsumoto.
"Iya," ujar Rukia, "Ichigo, Matsumoto ini juga lumayan sering ke Karakura…dia model di sana juga…" ucapnya padaku.
"Hehehehehe…keluargaku juga banyak yang tinggal di Karakura, mungkin siapa tau kau mengenalnya."
"Ya…" sahutku, "atau jangan-jangan malah tetanggaku."
Matsumoto malah terkekeh. "ya sudah…aku ngantuk nih…" katanya, "Momo…kita bobo di atas, yuk!" ia malah berjalan ke arah pria berambut perak bernama Hitsugaya yang kini sedang berkonsentrasi penuh bermain game, mencubit pipinya tiba-tiba lalu menarik lari Hinamori untuk menaiki tangga. Hitsugaya mengomel-ngomel sendiri.
Aku dan Rukia kembali duduk. Rasanya aku sedikit bosan berdiam diri saja di sini, apalagi speaker game ketiga pria itu full, rasanya kepalaku mulai pening karena tidak tahan dengan suara-suara ribut game.
"Rukia…" gumamku, "di sini ribut sekali…" bisikku.
"Em…kalau begitu…kita ke atas saja, bagaimana? Di atas sangat tenan, kau tidak akan mendengar apapun dari sini lagipula…ada yang ingin kuperlihatkan."
Rukia lalu mengajakku ke lantai dua…lantai tiga ternyata. Walaupun ini ruko tapi ternyata ada lumayan banyak kamar di sini. Waktu hendak naik ke lantai tiga, aku sempat melirik kardus-kardus berisi CD bajakan yang terletak di samping tangga. Sepertinya benar kalau Rukia dan teman-temannya itu memproduksi CD-CD bajakan.
Lantai tiga benar-benar sangat gelap, tidak satupun lampu yang dinyalakan kecuali lampu di balkon luar sana. Kini kami sampai di depan pintu suatu ruangan. Rukia mengangkat keset kaki dan mengambil kunci yang ada di bawahnya. Segera ia membuka pintu ruangan itu, dan saat pintu itu terbuka…itu adalah kamar.
Rukia menarikku ke dalam kamar gelap itu, ia menuntunku untuk duduk di tepi ranjang lalu ia menyalakan sesuatu yang bercahayakan sangat unik, seperti ada cahaya yang keluar dari gelembung merah di dalam air…ah, itu lava lamp.
"Kau duduk di situ dulu, ya…" ia lalu menuju lemarinya dan mencari-cari sesuatu di sana.
Pandanganku menjelajah ke seluruh sudut kamar ini. kamarnya tidak begitu luas, hanya ada lemari pakaian, meja yang di atasnya ada laptop dan ranjang yang hanya muat untuk satu orang, dindingnya penuh dengan wallpaper chappy. Ah, ini tentu kamar seorang gadis, kamar Rukia. Rasanya aku jadi gugup berduaan saja dengan Rukia di dalam kamar. Aish kenapa aku jadi mulai gelisah ya? ini memang bukan pertama kalinya aku berduaan dengan seorang gadis karena dulu aku cukup sering masuk ke dalam kamar Tatsuki teman SMA-ku, tapi… Rukia berbeda dengan Tatsuki, Tatsuki sudah kuanggap sebagai laki-laki tapi Rukia? aduh, pikiranku sudah mulai mengarah ke hal yang tidak-tidak. Bagaimanapun aku ini adalah pria normal, mana bisa aku berlama-lama berduaan dengan seorang gadis di dalam kamar, apalagi gadis itu cantik, mana kamar ini cahayanya gelap. Tapi…kenapa ya Rukia mengajakku ke sini? ke dalam kamar? Aku jadi teringat cerita-cerita dewasa di mana wanita mengajak si pria ke dalam kamar lalu terjadi…
"Ichigo~" aku tersentak mendengar suara Rukia yang terdengar berseri-seri. Kini ia duduk di kursi berkaki roda di depan meja. Ia menyodorkanku kaleng besar berbentuk pipih.
"Biskuit?" tanyaku setelah mengambil kaleng itu.
"Buka saja, Ichigo, aku ingin meminta sedikit bantuan darimu…"
Aku lalu membuka kaleng itu, isinya adalah kartu-kartu…aku mengernyit. Sim card?
"Kenapa ada banyak sim card?" tanyaku bingung sambil memandangi sim card yang memenuhi isi kaleng itu. "Sim card milik siapa ini?"
"Oh…aku memungutnya di jalan," sahutnya polos, "pokoknya kalau aku menemukan sim card di jalan atau dimanapun…aku pasti memungutnya."
Aneh…benar-benar kebiasaan yang aneh.
"Untuk apa kau mengumpulkan sim card ini semua?" tanyaku bingung, "kau ingin membuat kerajinan kah atau apa?"
Rukia cengengesan. "dulu kau pernah bilang kan kalau kau bisa melihat isi sms hanya dengan nomor sim card?"
"Terus?"
"Kalau begitu…bantu aku membuka isi sms pemilik sim card itu semua, aku ingin sekali melihatnya…kira-kira isinya apa ya? pasti lucu…" ia malah terkikik.
Aku meringis memandangnya. Jadi, dia mengumpulkan semua ini untuk itu ya…astaga… aku menutup kaleng itu dan meletaknya di ranjang. "Aku tidak bisa," kataku, "sudah kubilang kan, aku tidak bisa sembarang membuka isi sms orang karena itu menyangkut privasi, lagipula…sim card itu terlalu banyak, kau ingin membunuhku dengan membuka satu-persatu sim card itu?"
"Kalau terlalu banyak…ya lima saja dulu…" ujar Rukia tanpa dosa, "lagian…cuma kau dan aku saja yang tahu, aku akan menjaga rahasia. Ayolah, Ichigo…aku ingin sekali melihatnya!"
"Tidak bisa, sudah kubilang kalau itu privasi orang!" suaraku mulai meninggi. Rukia tercengang menatapku, ia terkejut sepertinya dengan reaksiku tadi. Ia diam dan terlihat kesal. Yah…beginilah jika berurusan dengan gadis kekanak-kanakan, jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi dia pasti kesal, begitulah Rukia.
Aku lalu menarik kursi yang Rukia duduki untuk mempersempit jarak kami. Mungkin aku bisa memberikannya sedikit pengertian.
Aku menatap mata Rukia lekat-lekat. "Begini Rukia…aku memang bisa membuka semua isi sms dari sim card itu semua…cuma…itu privasi pemiliknya, memang benar cuma kau dan aku yang tahu tapi…tidak etis kalau aku membukanya, coba kau bayangkan jika sim card-mu sendiri yang kubuka, kira-kira kau marah tidak?" tanyaku hati-hati.
Rukia terdiam sebentar. "mungkin…" gumamnya.
"Nah…coba tempatkan dirimu ke pemilik sim card-sim card itu…dan ternyata kau menyimpan suatu rahasia…kira-kira kau bersedia kah untuk dibuka?"
Rukia menggeleng dengan polosnya.
"Karena itu…aku tidak bisa membukanya tanpa seizin pemiliknya..."
Ia terdiam, mungkin memikirkan semua ucapanku. Matanya yang benar-benar indah menatapku dalam…kenapa mata itu sangat indah? Seperti permata emethyst…membuatku berdebar-debar dan ingin selalu menatapnya.
"Ya…aku mengerti," ucapnya akhirnya.
Aku tersenyum ke arahnya. "Gadis pintar," ucapku sambil menepuk pelan pipinya. Aish…apa yang kulakukan barusan? menyentuh pipi Rukia, astaga…cepat-cepat aku menggeser tubuhku agar lebih jauh dari Rukia sebelum aku melakukan hal yang tidak-tidak lagi.
"Ichigo, kau bilang kalau dari hotel view pantai sangat indah," serunya tiba-tiba. "dari sini juga kita bisa melihat pantai…" ia lalu menarikku, menuju ke balkon dan benar saja, pemandangan pantai ternyata juga terlihat jelas dari sini.
"Di sini juga pemandangannya indah….memang tak seindah di hotel pasti," ucapnya.
"Tapi dari itu…ada yang jauh lebih indah."
"Apa itu?"
"Kau."
Rasanya aku ingin menampar bibirku sendiri karena telah mengucapkan hal yang tidak seharusnya aku ucapkan.
Rukia menatapku tertegun sebentar lalu akhirnya ia terkekeh. "Kau bisa saja, Ichigo…"
Mau tidak mau aku ikut-ikutan tertawa saja. Ya…memang aku bisa saja tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya. Rukia tertawa dengan latar pantai yang indah…benar-benar lukisan yang sangat cantik.
.
.
.
To be Continue..
.
.
.
Syukurlah chap ini bisa diapdet...hehehehe...sorry ya kalo cerita dari chap ke chap rada-rada pendek...padahal ini dah chp 9 tapi ceritanya masih awal-awal mnurutku...-_-. sepertinya fic ini bakal panjang bgt chap-nya...huhuhuhu. Btw...bulan ini terlalu banyak yg terjadi #halah!# tentang capreslah...piala dunialah...and ga lama lagi ramadhan ya, untuk ujian masuk PT dah selesai...mudah-mudahan nanti apdetnya lancar tiap minggu, gpp kn klo ceritanya tiap chapnya pendek yg penting apdetnya rutin :D
Rini desu. ulqui ngapain ya...emmm emmm XD maybe sebagai pemanis aja #plak# iyya...ichiruki ketemu kembali...ahahaahaha. iyya amplop sebenarnya...sorry ya tiponya parah -_- but...typo is art #plakk
darries. hehehehehe...iya ntar mau dipikir cowok lain buat Ruki, ga pindah tugas cuma ada trouble aja di sana... (jgn minta untuk dijelaskan lebih detail karena juzie juga ga terlalu menger soalnya :D)
Suu. iya tengkyu :-* iya iya...kasiank hime-nya...moga-moga dia bahagia selalu #ini apaan coba?
