"Ugh…"

Matthew perlahan-lahan membuka matanya yang daritadi terpejam. Kepalanya terasa berdenyut sakit, Tubuhnya juga luar biasa sakit, ada apa sih dengannya?

Dia baru saja ingin mengangkat tangannya untuk mengusap kepalanya saat dia tiba-tiba sadar kalau meskipun tangannya bisa bergerak, rasanya dari tadi dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya. Dia segera mengangkat selimut yang menyelimuti tubuhnya dan melihat kalau kini kakinya telah terantai kuat di tiang ranjang yang dipakainya untuk berbaring.

"A…apa-apaan ini?" seru Matthew sambil bangkit dari posisinya yang daritadi terbaring di atas ranjang, tapi sakit di kepala dan tubuhnya langsung membuatnya mengernyit kesakitan dan dia hanya bisa duduk diam di tempat, tanpa bergerak sedikitpun.

Dia segera memeriksa tubuhnya, selain kakinya yang terantai di ranjang, sepertinya tidak ada apa pun yang menunjukkan kalau dia diculik, tanda bahwa setidaknya penculiknya sedikit 'berperikemanusiaan' padanya, bahkan dilihat dari perban yang terdapat di tubuhnya, sepertinya penculiknya telah mengobati luka-lukanya…

Tapi masalahnya, siapa yang menculiknya?

Kenapa…sepertinya dia tahu, bukan, dia yakin dia tahu…siapa yang menculiknya?

Ya, dia yakin, sangat yakin, kalau yang menculiknya adalah…

"Ah, akhirnya kau sadar, Matthieu~" kata sebuah suara dari arah pintu bersamaan dengan suara pintu yang terbuka dan ada sesosok pria yang berjalan memasuk kamar tempat Matthew berada.

Matthew segera menoleh ke arah suara itu dan tidak lama kemudian, sebuah senyum tersungging di bibirnya, sebuah senyum manis, tanpa perasaan marah ataupun benci yang terkandung di dalamnya. Senyum itu tulus dan hangat, jelas akan menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya. "Kak Francis…" katanya sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan untuk memberi salam.

Francis terlihat tertegun sejenak melihat senyum di wajah dan perlakuan sopan pemuda Canada yang diculiknya itu sebelum sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Kau ini bodoh, naif, atau tak kenal takut, sih Matthieu? Kau pasti tahu kalau kau diculik dan bukan sedang dalam masa liburan VIP ke pantai eksotis, kan?" kata Francis.

Matthew kembali tersenyum manis pada Francis. "Tentu saja aku tahu, kak Francis, aku ini tidak bodoh," kata Matthew sambil kembali mengusap rambut pirangnya. "Rantai di kakiku sudah menjelaskannya dan kalau itu belum cukup kak Francis baru saja menegaskan kalau aku ini diculik."

"Lalu kenapa kau tenang-tenang saja begitu melihatku? Pakai tersenyum dan memberi salam dengan sopan kepadaku segala, itu bukan hal yang akan dilakukan seorang tawanan, Matthieu," kata Francis sambil ikut mengusap rambut pirangnya.

Matthew terdiam sejenak sebelum kembali tersenyum manis. "…Habis tak ada yang kutakutkan di sini, kak Francis bukan orang jahat, kan?" kata Matthew.

Francis tertegun mendengar perkataan pemuda Canada di hadapannya itu. Tiba-tiba sebuah tawa tersembur keluar dari bibirnya. "Hahaha, Matthieu, kau ini memang naïf" kata Francis. "Apa ada penculik yang tidak jahat?" tanyanya.

Matthew menganggukkan kepalanya dengan mantap ke arah kak Francis. "Kak Francis," katanya tanpa basa-basi.

Francis langsung terdiam.

"Kak Francis mau merawat lukaku, jarang, kalau tak mau dikatakan tidak ada, orang yang mau melakukan itu, berarti kak Francis bukan orang jahat, kan?" kata Matthew.

"Kau…tidak takut?" tanya Francis setelah lama terdiam begitu mendengar perkataan Matthew. "…Aku bisa saja membunuhmu…tujuanku menculikmu adalah agar Gilbert menderita, membunuhmu adalah salah satu caranya. Aku bahkan pernah mengirim orang untuk mencoba membunuhmu. Kenapa…bisa berlaku setenang dan sebaik itu padaku?"

"Kalau kukatakan aku tidak takut…aku bohong," kata Matthew pelan sambil menundukkan kepalanya. "Aku tahu, sangat tahu, kalau kak Francis punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk membunuhku. Bahkan mungkin kakak bisa membunuhku dalam tidur, dan aku tak akan sadar sama sekali. Tapi…" dia segera mengangkat wajahnya dan memandang Francis. Bola mata violet bertemu dengan bola mata berwarna biru sapphire. "…Kakak tidak akan, atau kalau aku berkata lancang, tidak bisa melakukannya, kan?"

Francis hanya diam dan memandangi pemuda Canada di hadapannya itu dengan wajah tanpa ekspresi. Dia hanya diam, membiarkan saja Matthew mengatakan semua perkataannya.

"Lagipula kalau kakak mau membunuhku, kakak juga akan memilih waktu. Kakak pasti tidak akan membunuhku sebelum setidaknya Gil mendapat jejakku dan mulai mencariku, karena itu berarti kakak akan kehilangan aset berharga untuk menyiksa Gil. Jadi…aku masih aman. Setidaknya…sampai Gil datang ke sini untuk menyelamatkanku," kata Matthew sambil kembali tersenyum.

Francis menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sedih. "Rasanya daripada menculikmu, aku merasa kalau kau secara sukarela menyerahkan diri padaku…" kata Francis pelan.

Matthew menganggukkan kepalanya. "Aku sudah tahu kalau kak Francis akan menculikku, karena hanya aku yang paling punya kemungkinan untuk diculik. Kakak tidak mungkin menculik kak Ludwig atau Feli, karena kakak…maaf kalau aku lancang, pasti tidak bisa menghadapi kak Ludwig secara terang-terangan dalam pertarungan terbuka, dan dia juga selalu bersama Feli, tidak memberikan kakak kesempatan sama sekali untuk menculik Feli. Karena itu aku tahu, kakak akan mengejarku, aku hanya mempersiapkan diri saja…" kata Matthew.

"Kalau kau tahu aku akan menculikmu, kenapa kau sama sekali tidak melawan? Kau…dengan kepandaianmu itu aku tahu, kau pasti sudah menebak apa yang akan terjadi di rumah itu dan mengantisipasi semuanya. Kau bisa melarikan diri…atau setidaknya diam di luar, kenapa malah ikut masuk dan memberiku kesempatan untuk menculikmu?" kata Francis. "Kenapa, Matthieu?"

"Banyak alasannya aku ikut masuk ke rumah itu…" kata Matthew. "Pertama, aku tidak mau hanya aku yang selamat sementara yang lainnya terluka. Kedua, bagaimana aku bisa melawan kakak, aku kan pingsan? Ketiga, bertarung dengan kakak saat aku terluka dan tak bersenjata seperti ini tak menguntungkanku, karena itu aku lebih memilih untuk ditawan, dan alasan terakhir..." Matthew kembali mengalihkan pandangannya ke arah Francis dan memandang ke luar jendela besar di sampingnya. "…Mungkin ini alasan egois dan konyol, tapi aku ingin…dengan aku berada di sini, mungkin aku bisa…menghentikan pertengkaran kakak dengan Gil…aku ingin mendamaikan kalian dan satu-satunya cara ya, kalian harus bertemu. Dengan aku ditawan, pertemuan kalian pasti tak bisa dihindari."

Francis memandangi pemuda Canada di hadapannya itu. "Kenapa…kau berpikir aku dan Gil bisa didamaikan? Dia merebut Jeanne dari hidupku, bagiku, itu tindakan tak termaafkan. Aku tak bisa, dan tak akan pernah, memaafkannya…seandainya dia meraih tangan Jeanne saat itu, dia tak akan tertembak. Dia tak akan tertidur koma seperti sekarang…itu semua adalah salahnya…"

Matthew kembali memandangi Francis. "Kakak…bisa sebut ini pemikiran bodoh seorang anak naif, kakak bisa tertawa saat mendengarnya, tapi aku percaya…kalau kakak dan Gil bisa kembali berdamai. Meski harus ada banyak darah dan air mata yang tertumpah, aku percaya kalau kakak dan Gil bisa kembali bersahabat," kata Matthew. "Apa pun yang terjadi aku akan membuktikan itu."

Francis menghela napas sebelum memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Matthew. "Kau memang anak naif, Matthieu," kata Francis sebelum berjalan keluar dari kamar Matthew dan menutup pintu kamar itu. Dia segera bersandar di pintu di belakangnya dan menghela napas sambil menutup mata dengan tangannya.

"Dasar Gilbert…bisa-bisanya memiliki pacar malaikat seperti Matthieu, sungguh tak cocok…" gumam Francis sambil tertawa hambar. "…Gara-gara itu aku sepertinya sudah menculik orang yang salah…" lanjutnya sambil berjalan menyusuri lorong-lorong rumah persembunyiannya itu.


Gilbert sedang asyik berbaring di sebuah padang rumput hijau yang sangat indah. Pepohonan hijau bagaikan menjadi penjaga bagi para bunga-bunga berwarna-warni yang menyembul malu-malu dari sela-sela pepohonan. Angin sejuk menerbangkan rambut putihnya, yang meskipun berantakan sedikitpun tak mengurangi ketampanannya. Matanya terpejam dan sebuah senyum manis tersungging di bibirnya. Dia bagaikan seorang putri tidur, yang tertidur dengan damai untuk menunggu sang pangeran menjemputnya.

Tiba-tiba dia mendengar suara langkah-langkah kaki berjalan mendekatinya. Dia tetap saja memejamkan matanya saat dia mendengar langkah-langkah kaki itu mendekatinya. Tidak lama kemudian, dia merasakan sinar matahari yang tadinya menyinari tubuhnya terhalangi oleh sesosok tubuh yang berdiri tepat di hadapannya. Dia baru saja ingin membuka matanya saat tiba-tiba berbagai batang bunga-bunga daisy dan aster langsung berhamburan di mukanya.

Gilbert langsung bangkit dari pembaringannya sambil menjerit (dia lebih suka menyebutnya berteriak karena baginya menjerit adalah kata gak awesome yang terkesan terlalu girly) saat dia merasakan bunga-bunga itu di wajahnya. Tangannya langsung sibuk membersihkan batang-batang dan kelopak-kelopak bunga yang bertebaran di wajah dan tubuhnya, oh, jangan lupakan juga tanah yang kini mengotori wajah dan bajunya.

Suara tawa yang terdengar di atasnya langsung membuat Gilbert menengok sambil merengut. Di hadapannya terlihat Matthew, kekasihnya tertawa manis melihat keadaan Gilbert. Gilbert semakin merengut mendengar tawa Matthew sebelum dia bangkit dan melemparkan diri ke arah Matthew, yang tentu masih tidak siap menampungnya, membuat keduanya langsung terjatuh ke karpet rumput hijau yang berada di bawah mereka, dengan posisi tubuh Gilbert menimpa tubuh Matthew.

"Aw…Gil…setidaknya kau kan bisa memberitahuku dulu…" kata Matthew sambil mengusap kepalanya yang terbentur ke tanah.

Gilbert tersenyum dan mencium dahi kekasihnya itu. "Hmm…tidak mau. Aku yang awesome ini lebih suka mengejutkanmu, itu akan menarik reaksi yang lebih awesome darimu," kata Gilbert. "Lagian anggap saja ini balas dendam karena kau sudah menimbun wajahku yang awesome ini dengan bunga dan tanah yang gak awesome…"

Matthew langsung tersenyum. "Wah, wah, kau dendam ya? Padahal aku susah payah mencari bunga itu, berpikir kalau artinya yang awesome cocok untukmu," kata Matthew.

Gilbert mengangkat alisnya. "Begitukah? Memang apa artinya yang awesome itu?" tanya Gilbert.

"Hmm…aku gak mau jawab, ah…habis kau membenturkan kepalaku, sih…" kata Matthew sambil pura-pura merengut.

Gilbert langsung tertawa. "Duhh~marah~, ayolah Mattie, ngambek itu gak awesome, kamu itu terlihat paling awesome kalau senyum~" kata Gilbert.

Matthew mengangkat alis. "Kau sedang merayuku?" tanya Matthew.

Gilbert menyeringai mendengar perkataan kekasihnya itu. "Apa aku yang awesome ini terlihat seperti sedang merayumu?" tanya Gilbert.

Matthew tertawa mendengar jawaban Gilbert. "Ya," kata Matthew sambil mencium bibir kekasihnya itu. "Kau sedang merayuku."

Gilbert tersenyum saat merasakan bibir kekasihnya itu menyentuh bibirnya. Dia segera mengalungkan tangannya di pinggang dan kepala Matthew dan berguling untuk mengubah posisi mereka, sehingga kini dia yang berada di bawah dengan Matthew menindih tubuhnya.

Setelah beberapa saat, keduanya segera menghentikan ciuman mereka berdua dan memisahkan bibir mereka berdua sambil tersenyum. Matthew segera merebahkan kepalanya di dada Gilbert sementara Gilbert mengusap sayang rambut kekasihnya itu.

"Serius, Mattie…apa arti bunga yang kau lempar ke wajahku yang awesome tadi?" tanya Gilbert pada kekasihnya itu.

Matthew tertawa geli mendengar perkataan kekasihnya itu. "Kau ini memang tak sabaran ya, Gil, tak sabaran itu gak awesome, lho, Gil…" katanya.

"Berisik!" seru Gilbert dengan wajah bersemu merah. "Aku yang awesome ini kan penasaran!"

Matthew tersenyum sambil kembali mencium bibir kekasihnya itu. "Bunga itu…artinya tak ada yang istimewa, kok," kata Matthew.

"Hah?" kata Gilbert.

"Hanya kurasa cocok denganmu saja…" kata Matthew sambil menjulurkan lidahnya menggoda Gilbert.

"A…apa-apaan itu, Mattie~pasti bohong! Jangan menggodaku yang awesome ini, dong! Gak awesome~" seru Gilbert sambil mencubit kedua pipi Matthew dengan gemas.

"Adududuh…iya, aku bohong…" kata Matthew sambil tertawa dan berusaha melepaskan tangan Gilbert dari pipinya yang kini bersemu merah. "Bunga daisy itu…um…" Matthew kembali membaringkan kepalanya di dada Gilbert. "Itu bunga simbol cinta. Arti umumnya…um…kalau aku tidak salah dengar dari kak Alfred, artinya…aku sangat mencintaimu…" gumam Matthew di dada Gilbert. "Dan…bunga aster itu…aku mendengarnya dari kak Arthur saat memberikan bunga sebagai balasan hadiah valentine dari kak Alfred, katanya arti bunga itu adalah…" dia segera menatap wajah Gilbert dan tersenyum. "Kamu…" dia mengusap bibir Gilbert dengan jarinya sambil tersenyum. "…adalah yang terbaik untukku…"

Gilbert terpana sebelum sebuah senyum tulus hangat tersungging di bibirnya. "Hmm…aku senang kau menganggapku yang awesome ini sepenting itu," katanya sambil kembali menarik Matthew untuk mempertemukan bibir mereka berdua.

Tiba-tiba pemandangan indah itu menghilang, berganti dengan kegelapan. Gilbert langsung memandang sekelilingnya dengan bingung. Gelap…di mana dia? Di mana Matthew? Tempat apa ini…

Tiba-tiba dari sudut matanya, dia melihat Matthew berdiri di kejauhan. Tanpa pikir panjang, dia segera melangkahkan kakinya dengan cepat, berlari ke arah kekasihnya itu. Saat itu tidak ada hal lain yang lebih dia inginkan selain menggenggam tangan kekasihnya itu, memeluknya, dan menciumnya. Dia hanya ingin berada di sisi kekasihnya itu.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai di belakang Matthew. Dia baru saja mengulurkan tangannya untuk memeluk kekasihnya itu…

Saat tiba-tiba saja terdengar suara letusan pistol menggema di kegelapan itu…dan Matthew tumbang tergeletak berlumur darah di tangannya.

Gilbert terpaku. Untuk sesaat, dia hanya bisa diam, tidak mampu bereaksi apa pun saat tiba-tiba saja dia merasakan tubuh kekasihnya itu menubruk pelan tubuhnya dengan hangat cairan merah kental darah mewarnai baju dan dadanya. Bau anyir menusuk dari darah itu menyadarkan Gilbert, membuatnya segera memeluk kekasihnya itu dengan kalut.

"Mattie…Mattie!" jeritnya sambil mengguncang tubuh kekasihnya itu, berusaha mendapatkan respon apapun dari kekasihnya, respon yang membuktikan kalau kekasihnya itu masih hidup. Dia segera mengusap wajah Matthew dengan tangannya yang telah ternoda darah, tak peduli kalau kini warna merah di tangannya mengotori rambut dan pipi pucat Matthew.

"Percuma Gilbert, dia tak akan bangun lagi…" kata sebuah suara di hadapannya.

Gilbert segera mengangkat kepalanya. Dia melihat Francis berdiri di hadapannya sambil tersenyum sinis, sebuah pistol yang masih berasap tergenggam erat di tangannya.

"Fran…Francis…" desis Gilbert sambil tetap memeluk Matthew.

"Ya, aku Francis," kata Francis sambil tetap tersenyum. "Hey Gil…" panggilnya sambil menjilat bibirnya dengan lidahnya, bagaikan pembunuh psikopat yang sedang memojokkan korbannya. "Bagaimana rasanya melihat mayat Matthieu?"

Gilbert langsung membeku mendengar perkataan Francis. Dia kembali memandang kekasihnya yang masih terbaring di tangannya. Manis…dia tetap manis, bagaikan putri tidur yang tertidur, hanya saja warna merah yang menetes dari mulut dan bajunya…mengatakan lain.

"…Ma…mayat…?" gumam Gilbert pelan. Ya, yang ada di pelukannya bukan lagi kekasihnya yang dicintainya dengan sepenuh hatinya. Kini yang ada di pelukannya hanyalah seonggok daging tak bernyawa. Tubuh dingin yang putih pucat bagaikan patung es dengan warna merah darah yang menghiasinya …sungguh, karya seni Tuhan yang indah…sekaligus keji…membuatnya ingin terus memandangnya dan di saat yang sama…sungguh ingin mengalingkan tatapan mata dari tubuh itu…

"Ya, mayat," kata Francis dengan santai, seolah-olah mereka berdua sedang membicarakan masalah sepele seperti keadaan cuaca hari ini dan bukannya nyawa seseorang. "Manis kan? Dia bagaikan putri tidur, tapi dia jauh lebih manis…kalau dihiasi dengan warna merah darah seperti ini…indah, merah cocok sekali untuknya…"

"Kenapa…" gumam Gilbert sambil memeluk erat tubuh kekasihnya itu. "KENAPA KAU MEMBUNUHNYA, FRANCIS?"

"Aku? Membunuhnya?" kata Francis sambil tertawa. "Kau tidak salah, Gilbert? Karena setahuku kaulah yang membunuhnya."

Gilbert terkesiap. "A…aku…?" katanya pelan.

"Ya, kau," kata Francis sambil tersenyum, tapi pandangan matanya jelas menunjukkan kemarahan yang amat sangat. "Seandainya tiga tahun lalu kau menolong Jeanne, keadaannya tidak akan seperti ini. Aku tidak akan menyimpan dendam padamu! Aku tidak akan bersikap begini keji untuk membalas dendam padamu! Aku tidak akan membunuh Matthieu! Jadi sebenarnya semua ini salahmu! Aku membunuh Matthieu karena kau!"

"Tidak…" gumam Gilbert sambil menutup telinganya. Tidak, dia tidak mau mendengarnya. Tidak, ini tidak benar! Bukan! Bukan dia yang membunuh kekasihnya itu.

"Matthieu mati karena kau! Kau yang sudah membunuhnya!" seru Francis.

"TIDAK!" jerit Gilbert. "BUKAN AKU YANG MEMBUNUHNYA!"


"MATTIE!" jerit Gilbert sambil bangkit dari pembaringannya. Napasnya terengah-engah, seakan-akan dia baru saja berlari dengan jarak yang sangat jauh. Wajahnya pun bersimbah peluh dingin, dan tubuhnya gemetar ketakutan.

"Mimpi…" gumam Gilbert sambil mengusap rambut dan wajahnya yang bersimbah peluh. "…Hanya mimpi buruk yang gak awesome…"

Setelah dia tenang, dia melihat ke sekeliling kamarnya. Mulanya dia sedikit bingung karena bukan warna putih dinding rumah sakit yang menyambut matanya, melainkan warna biru pucat dari kamarnya dan Matthew di tempat persembunyian mereka.

"Oh ya, West menjemputku pulang setelah Yao mengatakan aku sudah cukup 'awesome' untuk pulang dan mengistirahatkan diri di rumah…" gumam Gilbert sambil menyandarkan diri di kepala ranjangnya dan memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya.

Mimpi tadi…sungguh terasa nyata. Sungguh sampai sekarang, tangannya masih belum berhenti gemetar. Dia seperti masih bisa merasakan hangatnya darah Matthew di tangannya. Itu benar-benar mimpi, kan? Bukan kenyataan? Ya, hanya mimpi…mimpi yang tak akan jadi nyata. Dia akan berusaha agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan.

Dia melirik ke arah meja kecil di samping ranjang yang biasa dia tempati bersama Matthew. Di sana bertumpuk beberapa figura foto, ada fotonya bersama teman-temannya, keluarganya, dan tentu…Matthew…dia mengambil sebuah foto. Fotonya bersama Francis dan Antonio…sebelum semua insiden soal Jeanne itu terjadi.

Di foto itu mereka bertiga terlihat sangat bahagia, tertawa tanpa beban…sungguh bagaikan sahabat yang terlihat takkan berpisah selamanya. Kenapa? Kenapa semua itu harus terjadi? Kenapa penembak itu harus menembak Jeanne? Kenapa Jeanne harus jatuh koma? Kenapa Francis harus menyalahkannya? Kenapa pemuda Perancis itu harus membencinya begitu dalam hingga begitu ingin membalas dendam padanya? Kenapa tidak dia saja yang menjadi korban? Kenapa begini dan kenapa begitu, semua pertanyaan itu terbersit di otaknya setelah kejadian penculikan Matthew.

Meski dia ingin membunuh Francis, ingin melukainya dan menyiksanya dengan begitu sangat akibat tindakannya menculik Matthew yang menurutnya sudah kelewatan, ada sisi hatinya yang ingin membiarkan saja Francis membunuhnya, ada sisi yang ingin membiarkan Francis menyiksanya, karena dia merasa itu hak pemuda Perancis itu padanya, ada sisi yang ingin Francis mendapatkan balas dendam yang dia inginkan untuk menebus dosanya.

Dia merasa bersalah, itu jelas. Dia tidak bisa melupakan jeritan kesedihan pemuda Perancis itu saat memeluk kekasihnya yang berlumuran darah itu, tidak bisa melupakan sorot mata kemarahan dan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya untuknya. Semuanya masih terasa segar di ingatannya, tak akan dan tak bisa terlupakan.

Tapi dia tak bisa…

Karena pemuda itu tak pernah memutuskan untuk membunuhnya. Pemuda itu ingin membunuh orang-orang yang dekat dengannya. Dia ingin Gilbert merasakan penderitaan kehilangan orang yang disayangi, seperti yang dia rasakan saat dia kehilangan Jeanne.

Dan itulah yang tidak bisa Gilbert ijinkan…

Karena sampai mati sekalipun, dia tidak mau, atau mungkin tidak sudi adalah kata yang lebih tepat, untuk kehilangan orang-orang yang sangat dia sayangi.

Dia tak mau kehilangan bentakan dan gamparan frying pan Elizaveta saat mereka bertengkar…

Dia tak mau kehilangan kata-kata datar tanpa ekspresi yang diucapkan Roderich sekedar untuk menghinanya (tentu secara tak langsung)…

Dia tak mau kehilangan tawa dan tingkah jahil Antonio yang selalu menggodanya…

Dia tak mau kehilangan senyum mengancam Ivan yang meski sanggup membuat orang gemetar ketakutan, hanya membuat Gilbert semakin getol menentangnya…

Dia tak mau kehilangan helaan napas frustasi dan ceramah panjang lebar dari adiknya tentang berbagai hal yang sudah dilakukan Gilbert…

Dia tak mau kehilangan senyum manis dan pelukan hangat Feliciano yang selalu dia berikan sekilas pada Gilbert sebelum pemuda Italia itu berlari pergi untuk mencari Ludwig, sementara Gilbert hanya berdiri terpaku di tempat…

Dia tak mau kehilangan ucapan tajam menghina Alfred yang selalu berkata dia tak rela adiknya pacaran dengan orang asem…

Dan diatas segalanya…dia tak rela kehilangan cinta Matthew…

Ya…dia tidak mau kehilangan semua itu. Dia bahagia…semua hal itu adalah hidupnya. Kehilangan semua itu…sama saja menghilangkan nyawanya. Dia tidak siap…dan mungkin tidak akan pernah siap untuk kehilangan semua itu. Dia akan lakukan apa saja…bahkan kalau perlu membunuh sekalipun, asalkan semua hal itu tidak lenyap dari hidupnya…

Ya...semuanya…

Gilbert kembali meletakkan figura foto yang dipegangnya ke meja di samping ranjang dan memandang keluar jendela, ke arah langit malam gelap yang hanya diterangi dengan bintang-bintang yang bertaburan di kain beludru alam berwarna hitam pekat itu…

Ya…Dia yakin…dia bisa…dia akan membawa kembali Matthew pulang ke hadapannya, kembali ke pelukannya. Dan seandainya dia bisa, akan dia buka mata Francis secara paksa…akan dia buat pemuda Perancis itu mengerti kalau masalah Jeanne bukanlah salahnya. Dia tidak bisa, dan tak akan pernah bisa disalahkan…karena itu memang bukan salahnya. Keadaan Jeanne sekarang adalah takdir, dan tidak peduli seberapa pun meratap dan menangis…semua itu tak akan berubah.

Meski sebenarnya…dia tahu, Francis pun tak bisa disalahkan…dia tak bisa munafik…berkata memang jauh lebih mudah daripada merasakan. Dia tahu kalau seandainya hal yang sama terjadi pada Matthew, dia pun pasti akan melakukan hal yang sama. Seandainya Matthew yang terbaring di tempat Jeanne, dia pun pasti akan membalas dendam pada pelakunya…karena sudah melukai Matthew…

Ya…masalah ini sebenarnya tak punya titik temu. Ini hanya masalah hati, masalah dua sudut pandang berbeda yang harus bertemu untuk diselesaikan. Tanpa pemahaman dari kedua belah pihak, permasalahan ini takkan selesai. Kedua hati ini harus bertemu, seperti Rio dan Bella…masalahnya Rio…bisa memaafkan Bella…

Tapi dia tahu…Francis takkan pernah bisa memaafkannya…

Tapi dia harus mencobanya. Kehilangan Matthew bukan pilihan untuknya. Dan meskipun dia rela mati di tangan Francis…dia tak bisa. Sungguh, dia rela, sangat rela, mati untuk Matthew, tapi Matthew…tak pernah rela dia mati.

Matthew tak pernah mengijinkannya mati. Pemuda Canada itu selalu berkata kalau sampai Gilbert mati, sampai kapanpun tak akan pernah ada ampun keluar dari mulut dan hatinya untuknya. Dia harus hidup. Apa pun alasannya, bagi Matthew, tak ada kata 'mati' untuk Gilbert.

Baginya lebih baik membunuh, daripada Gilbert mati untuknya…Dia melarang Gilbert mati konyol, apa pun alasannya…

Karena itu dia tak bisa, tak boleh, mati. Meski harus membunuh Francis, dia tak akan mati. Pertarungan ini hanya memiliki dua pilihan…dibunuh atau membunuh…dan dibunuh…tak masuk dalam daftar 'sesuatu yang bisa dilakukan' olehnya. Dia tak boleh mati, apa pun alasannya, tak boleh mati…dia tak kenal, dan tak akan pernah mengenal, kata dibunuh…

Karena itu, seandainya bisa…dia ingin memilih dunia abu-abu…pilihan ketiga…di mana tak ada pilihan membunuh atau dibunuh. Dia ingin semuanya kembali, kembali seperti semula. Dia ingin Matthew kembali…bersama Francis. Dia ingin pemuda Perancis itu kembali menjadi sahabatnya.

Masalahnya apakah dunia itu ada? Apakah pilihan itu bisa dia wujudkan?

Dia harus coba…dia harus coba wujudkan itu…

Wujudkan impian konyol tentang dunia sempurnanya…

Duni sempurna yang bahagia…dimana dia bisa tertawa dan bahagia bersama semua orang yang dia cintai dan sayangi…


Author note:

Horee~chapter baru~.

Huah…bisa juga ngebikin nih fanfic hingga selesai. Dikira, di tengah persiapan ujian, nyelesain fanfic ini bakal sulit. Ah tapi tenang aja, masih dua minggu lagi ujiannya, masih lama…santai… Tapi, Ahh~pak dosen~apaan sih, pas pelajaran sejarah literature Inggris itu? Kenapa bapak musti ngejelasin 'romance relationship between USA and UK'? tahu nggak pak, bagi saya pernyataan bapak soal 'romance relationship' itu rancu~! Jadinya kan daripada dengerin bapak, saya malah mikirin USUK? Pelajarannya gak masuk, kan~ -PLAK, itu mah elo aja yang bego- Ahem, kayaknya saya udah gak nyambung…abaikan saja kegalauan ini…

Baiklah, kembali ke masalah fanfic…

Dan…buat yang mau (ato mungkin malah mengharap sekali) Francis menyiksa Matthew…maaf sekali… saya gak bisa melakukan itu. Alasannya…banyak sebenarnya…

Pertama, teman baik saya protes. Katanya kalau Francis menghajar Matthew habis-habisan, jadinya KDRT katanya…maklum dia penggemar FrUK jadi ya…dia nganggep Mattie (bersama Alfred, tentu saja) itu anak Francis ama Arthur…jadi begitulah…tak rela katanya sosok 'papa' sempurna di pikirannya hancur karena Francis tega melakukan tindak kekerasan sama anak sendiri…

Kedua, saya pembenci KDRT, ya…keluarga kan harusnya yang damai-damai aja, jangan berantem dan saling menyiksa. Keluarga itu harus sayang menyayangi, makanya saya gak mau Francis yang notabene papanya Matthew, menyiksa Mattie abis-abisan…(oh, tapi Kirkland brother sih perkecualian…saya sangat rela ngeliat Scott nyiksa Artie habis-habisan. Kalau Kirkland brother adem ayem gak ada hiburan dong… –dicekek Arthur-)

Ketiga, saya kurang referensi. Mau dicari di cerita yang mana Francis nyiksa Mattie? Mau nyari dalam fanfic berbagai bahasa, Indonesia, Inggris, ato Perancis (mengingat cuma tiga bahasa itu yang saya bisa) juga gak ada ceritanya Francis menyiksa Mattie, maklumlah, Francis itu aslinya seprotektif Alfred dalam mengurusi Matthew…jadi ya…karena gak punya referensi saya gak bisa bikin…

Keempat, sifat Matthew dan Francis sangat tidak mendukung untuk ngebikin adegan penyiksaan, apalagi kalau yang jadi lawannya bukan orang yandere psikopat macam Ivan ato Natalya…soalnya Matthew itu sopan banget sih…masa gak kasihan? Dan Francis…saya rasa dia gak seheartless itu kan, meskipun dia dalam mode DarkFrance sekalipun? Sama Arthur aja dia gak segitunya (padahal Arthur kan musuh bebuyutannya dia), masa sama Matthew tega? Kalau lawannya psikopat macam Ivan sih oke, saya maklum…Ivan kan gak punya rasa kasihan kalau sudah mutusin menyiksa orang…-digampar pipa-

Kelima, saya bener~ gak bisa banget bikin adegan gore. Saya bener-bener gak bisa (baca: Gak sanggup dan gak tega) mikirin penyiksaan sadis yang top (Alasan kenapa anak ini ngefans banget ama kak Arekey, soalnya gorenya kak Arekey 'ngena' banget, bener-bener bikin merinding, sementara dia…-pundung-), jadi daripada saya bikin gore jelek dan para readers kecewa, jadi…ya, saya putuskan saya gak bikin aja.

Keenam, kalau saya bikin Matthew dihajar Francis, seluruh plot yang sudah saya pikirkan hancur lebur dan saya malas mikir plot baru…jadi ya begitulah…hanya murni malas sebenarnya…-digiles-

Berdasarkan alasan itu, saya akhirnya memutuskan biarlah Francis menghajar Gilbert saja nantinya. Saya bener~gak sanggup membuat Francis menghajar Matthew. Bagi yang merasa kecewa, mohon maaf banget~yang sebesar-besarnya. Jangan marahi dan benci saya ya…mohon ampun banget…-sembah sujud-

Baiklah, waktunya balas review ya…

Aiko-chan Lummierra: Bener UkePrussia itu sungguh awesome! Dan…DarkSpainxPrussia? Antonio menyemei Gilbert? Apa mungkin? Kalau DarkSpainxEngland, saya percaya~ -disembelih pake kapak-. Huahh~Alfie ngeraep Artie? Bisa-bisa setelah cerita ini selesai, Alfie bakal disembelih Scott, jangan lupakan dong kalau Kirkland Brothers itu sama saja protektifnya dengan Alfie ke Matthew…kan kasihan~ -dilempar burger sekarung-. Dan Mattie gak diapa-apain kan? Kalau sampai Francis ngeraep Matthew, dia gak setia sekalee~Jeanne kan masih hidup, walaupun koma…Kejam sekali, pacar koma, malah selingkuh, meski saya rasa, ya…Francis memang berkemungkinan melakukan itu…-dilempar duri mawar-. Baiklah, makasih udah review…

Matthew Shinez: RomaCan? Oh, itu pasti gara-gara habis baca RomaCan di hetalia Inggris, dua orang ini lumayan juga ternyata…tapi sayang, saya lebih suka seme mereka berdua yang jadian! Saya lebih cinta PrusSpa! –digampar-. Dan Gilbert kamu katain sakit jiwa? Dia gak gila, kakak gue nggak gila, cuma kurang waras! –apa bedanya?-. Dan kamu mau ikut nyelametin Matthew? Silakan daftar di tempat Gilbert dan Alfred dan ikuti audisinya… –digiles-. Makasih udah review…

Yukaeri: Ya…mau bagaimana lagi, penculikan Matthew ini konflik utama fanfic saya, gak bisa diapus lagi…terpaksa, deh…-PLAK-. Oh yeah, yandereAlfred itu memang keren! Sangat keren! Mari lestarikan YandereAlfred! –digiles truk- Dan…nasib Matthew sudah saya katakan di sini, tapi dark Francenya tunggu chapter yang masih jauh~di depan ya? Dan masalah tanda baca, saya sudah coba koreksi sebisanya sih, nih…tapi gak yakin juga. Jadi kalau masih ada kesalahan, mohon maaf ya~. Oke, makasih udah review…

Fujoshi Anonim: Eh, adegan SpaManonya keren? Makasihhh~ -PD banget- Lovi itu memang cool kalau dalam mode mafia, percaya sama saya! Dia keren sekali, bukan kamu aja yang cinta, saya juga, sayang, dia sudah punya Antonio –dilempar kapak- Dan 'Dark personality' mereka? Dibilang muncul juga…saya jamin masih lama! –BRAKKK- soalnya chapter-chapter depan, kayaknya gak ada action dulu, jadi sabar aja ya~. Wokeh makasih udah review…

Kureha-alpha: SpaManonya hot? Makasih~. Dan Lovi memang uke teladan, mau bagaimana dia tipikal uke! Satu-satunya yang bisa dia semei tuh cuma adiknya sama Matthew, hebat, kan? Dia itu uke sejati, wajar kalau harus bersikap selayaknya uke teladan…–ditembak- Dan Giripan…sedang dalam tahap pengerjaan, janji, dalam waktu dekat pasti ada Giripan, tapi Rochu…Duh, ini susah mampus, pikir-pikir dulu ya…-dilempar panda-. Mattie gak papa nih, gak papa, kamu gak usah khawatir, ya…Oke, makasih udah review…

Bonnefoy Clementie: Galau? Semuanya galau? Saya juga ikutan galau? Dan chapter ini semakin galau, hidup galau! –PLAK, sadar, mbak- Dan FraNada? Emang ada hint seperti itu? Ya…-ngeliat naskah-. Kayaknya di chapter ini, rada ada dikit emang ya. Tapi gak papalah! Peduli amat! –dibuang ke jurang-. Makasih udah review…

Shinju Ageha: Mohon maaf sebesar-besarnya karena saya gak ngapa-ngapain Matthew! Alasannya sudah dijelaskan di atas, mohon maklum –digampar-. PruSpa, emang ada? Ya, terserah andalah mau menafsirkan bagaimana soal Antonio ama Gilbert itu, maklum PruSpa adalah satu dari seribu pair favorit saya, maklum saja kalau saya kebablasan…-dicekek Gilbert-. Kemunculan Kiku masih dalam tahap pengerjaan ya, tunggu aja dalam waktu dekat ini pasti muncul…Makasih udah review…

Miss. Celesta: Ah Rusia~ emang ada orang yang bisa nandingin tuh negara Uni Soviet? Perasaan kalau pairing RussiaxAnyone, hampir bisa dipastikan semenya pasti Rusia. Sudahlah, negara ini memang seme sejati, tak ada yang bisa menandinginya…-dilempar pipa-. Dan makasih udah review…

Yukiyuki del tempest: kamu gak usah maksa ke Perancis, deh! Matthew juga gak saya apa-apain, jadi tenang aja! Saya tahu kok, ongkos ke Perancis mahal ampun-ampunan…-digeplak-. Saya gak bisa lepasin Matthew sekarang, nih. Kalau dilepasin, cerita saya buntu, deh. Jadi saya tetap harus nyekap Matthew dulu, tapi tenang aja, saya janji, gak akan (baca: gak bisa) ngapa-ngapain Matthew, jadi kamu gak usah khawatir, ya… Oke, makasih udah review…

Putri Luna: Saya udah update kilat, nih. Dan di sini sudah saya katakan kalau Matthew gak diapa-apain, kan? Maaf kalau kamu kecewa karena tak ada penyiksaan seorang Matthew. Makasih udah review, ya…

Eka Kuchiki: Eh, kakak udah selesai UAS, enak ya…saya baru UAS dua minggu lagi. Untung soalnya gak susah banget, toh cuma opini-opini doang…tapi tetep! Dua minggu lagi ujian! –histeris-. Ahem, kembali serius…Soal Francis…itu murni karena kehabisan casting. Maunya Ivan, tapi Ivan sudah saya pakai di awal-awal, jadi akhirnya terpilihlah Francis sebagai antagonis, tapi setuju, darkFrance tuh keren sangat! Dan masalah typo dan tanda baca, sudah saya coba perbaiki sebisanya, tapi kalau masih ada kesalahan, mohon maaf ya…maklum refleks, sudah kebiasaan nulis dialog tanpa tanda baca, sih. Oke, makasih udah review ya , kak…

Oke, seperti biasa, bagi para readers read and review ya…

Sekian