*menyungkurkan diri (?) ke tanah* Maafkan author yang tidak bertanggung jawab ini. Sebelumnya, saya meminta maaf kepada semua readers dan reviewers saya, awalnya saya pikir semester ini saya bisa lebih leluasa dalam dunia kepenulisan. Tapi, nyatanya realita tidak sesuai ekspetasi. Jika semester kemarin ada neraka, semester ini rasanya saya sedang dijajah dan disuruh kerja rodi *plak*. Oke, anak semester tua sedang disibukkan dengan jurnal dan sejenisnya untuk membuat skripsi. Sekali lagi saya meminta maaf atas ketidaknyamanan semua orang. Saya mohon semuanya memaklumi kesibukan saya. Terima kasih.

Summary : "It's about our secret". Rahasia antara Karin dan Kazune. Mereka mempunyai hubungan spesial, mereka sepakat untuk menyembunyikan rahasia itu dari semua orang. Namun, semua menjadi tidak mungkin ketika Kazune tidak bisa menahan perasaannya. (Bad summary)

Disclamer : Kamichama Karin milik Koge Donbo-sensei seorang, not anyone else

Rating : T++++ (plak)

Pairing : Hanazono Karin dan Kujyou Kazune

Warning : Typo, OOC, OOT, gaje, mengada-ada

~Kamichama Karin~

Secret : Uji Nyali

"Kenapa juga aku harus sesial ini? Aku hanya ingin kehidupanku di kampus tenang!"

Oke, bayangkan saja, saat ini aku sedang berteriak keras-keras sambil menarik rambutku frustasi. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk melepaskan semua beban ini. Seharian aku sudah dibuat tegang dengan rapat dewan dadakan yang harus dilalui oleh Kazune, sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa sebentar lagi aku akan dijadikan target pem -bully-an—ah, pada dasarnya aku sudah di -bully sejak awal sih.

Kazune menyilangkan tangannya di depan dada dengan kepala sedikit tertunduk, tanda dia sedang berpikir dengan serius. Aku beruntung karena dia tidak mempermasalahkanku yang baru saja berteriak keras di malam hari.

Aku terus menatap Kazune yang masih pada posisi awalnya. Namun, lama-lama aku jadi panik kembali karena dia tidak segera berbicara. Kalian tahu, Kazune sudah sering menghadapi masalah di kampus. Karenanya, dia selalu bisa mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cepat.

Jadi, bisa bayangkan kenapa dia harus berpikir selama itu? Ini masalah rumit, aku tahu itu! Bahkan terlalu rumit untuk Kazune.

"Kazune~" sambil berjalan dengan ling-lung, aku mendekati Kazune dengan wajah putus asa. Ketika berada di dekatnya, ku taruh tanganku di bahu Kazune untuk menopang tubuhku yang mulai merosot.

Akhirnya Kazune mendongkak, membuat diriku mau tidak mau merasa masih mempunyai harapan.

Benar saja, Kazune langsung menatap mataku lurus, "Karin," ucapnya dengan tenang, "aku masih belum menemukan solusi yang bagus. Tapi, aku akan segera memikirkannya."

Seketika itu juga aku merosot dan terkapar di lantai. Aku pun mulai merengek.

"Bagaimana jika aku tidak masuk saja waktu acara itu? Aku akan izin sakit, aku akan meminta surat dokter agar aku diizinkan untuk tidak mengikuti acara itu," ucapku disela-sela rengekanku.

Bukannya merasa kasihan, Kazune malah menatapku dengan pandangan bosan—dan tidak berperasaan, "Tenangkan dirimu dulu, Karin. Aku bilang aku akan mencarikan solusinya, kan?"

"Aku sudah tidak kuat lagi, Kazune," ucapku mulai memeluk kaki Kazune.

"Tidak-tidak, kau akan baik-baik saja. Kau masih memiliki harapan. Himeka dan Michi berada di pihakmu. Kau harus berani untuk menghadapi Rika," suara Kazune yang awalnya berkobar penuh semangat, lama kelamaan melembut. Dia bergerak untuk jongkok di sampingku. Kazune pun tersenyum dengan lembut sambil mengelus rambutku.

Ketika melihat tatapan mata Kazune yang begitu lembut menatapku, entah kenapa aku merasa tenang. Rasa gelisahku menghilang begitu saja, digantikan rasa nyaman dan keyakinan bahwa aku akan baik-baik saja.

"Kau akan melindungiku, kan?" tanyaku terucap begitu saja dari mulutku.

Kazune terlihat sedikit terkejut. Namun, dia mengembalikan senyum lembutnya dan mengangguk pelan, "Aku sudah berjanji akan melindungimu, kan? Ku pikir aku tidak perlu mengucapkannya berulang kali."

Rasanya, perutku seperti ada yang menggelitik. Membuatku tertawa kecil karena geli. Akhirnya ku tegakkan badanku lagi, menyejajarkan diriku di depan Kazune. Setelahnya, segera ku peluk orang yang sedang berada di hadapanku tersebut.

Aku pun berbisik, "Terima kasih."

Mungkin aku terlalu naif dan terbawa suasana. Tanpa aku sadari, mungkin Kazune sudah tersenyum penuh kemenangan sejak aku memeluknya tadi. Karena hal selanjutnya yang terjadi adalah dia menggendongku dan berjalan menuju kasur.

"Baiklah, sudah malam. Waktunya istirahat. Otakku sudah pada batasnya untuk membuat sebuah solusi dari permasalahan yang datang bertubi-tubi ini," ucapnya santai dan menaruhku di atas kasur, dia mendekatkan wajahnya dengan jari telunjuk menempel di hidungku, "besok, kau yang masak untuk sarapan! Jadi, besok kau yang harus bangun pagi!"

Dengan gerak cepat, Kazune segera memposisikan dirinya untuk tidur di sampingku. Tanpa mempedulikan aku yang masih bingung, dia menarik selimut dan segera membaringkan badannya. Bahkan dia tidur sambil memunggungiku.

Alisku berkedut. Dengan kesal ku tarik satu guling dan ku tempatkan guling tersebut di antara aku dan Kazune.

"Oyasumi!" ucapku dengan nada yang sengaja ku buat sebal. Setelah itu aku mematikan lampu dan membaringkan badanku.

...

Usai kuliah di jam pertamaku hari ini, akhirnya aku memiliki waktu untuk istirahat. Seharusnya aku bahagia karena mendapatkan kesempatan itu. Tapi, untuk pertama kalian, aku berharap jam kuliah berlangsung selama-lamanya.

Kalian tahu kenapa aku bisa berpikir gila seperti itu?

Pada dasarnya, mungkin aku sudah mulai memasuki tahap gila. Namun, masih tahap ringan. Aku bahkan terkejut aku bisa berpikir seperti itu. Dan aku bersyukur karena aku masih sadar bahwa aku baru saja berpikir gila. Semoga kegilaan ini tidak berkembang dengan cepat.

Baiklah, akan ku jelaskan kenapa aku bisa berpikir seperti itu.

Akan ku ceritakan apa yang terjadi ketika aku masih di rumah setelah bangun tidur tadi.

Flashback ~

Pagi hari. Aku terbangun di pagi hari! Mendahului Kazune.

Aku mungkin pernah bangun lebih dulu dari Kazune, tapi hanya beberapa kali saja. Seringnya, Kazune yang selalu bangun terlebih dahulu.

Aku sama sekali tidak terkejut ketika Kazune berkata kepadaku, "Kau begitu mengkhawatirkan kehidupan kuliahmu, ya? Sampai-sampai kau bisa bangun pagi mendahuluiku."

Oke, dia memang benar. Aku tidak akan protes karena memang aku sedang mengkhawatikan kehidupan kuliahku. Jujur saja, sebenarnya ketika tidur, aku selalu mendapat mimpi buruk. Membuatku harus bekali-kali terbangun dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhku.

Awalnya aku sudah mencoba untuk menenangkan diri di balkon, kemungkinan hampir satu jam aku berada di balkon, anehnya Kazune tidak segera bangun untuk menemaniku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur lagi.

Sialnya, aku harus menerima mimpi buruk lagi ketika terlelap. Berkali-kali! Itu sebabnya aku bisa bangun lebih dulu dari Kazune. Karena ketika jam menunjukkan pukul lima, aku segera turun dari kasur dan menuju dapur.

Kazune baru mengikutiku turun ketika pukul enam. Meskipun terlambat satu jam, ternyata dia sudah mandi dan sudah mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kampus.

Ketika kami berdua sedang sarapan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyinggung masalah yang harus ku hadapi beberapa hari lagi.

"Nee, jadi kau sudah menemukan solusi untuk masalahku kali ini?" tanyaku penuh harap, namun kali ini ku coba untuk terlihat tidak peduli agar Kazune tidak menjailiku.

Kazune yang sedang asyik membaca koran, tiba-tiba menurunkan korannya sedikit untuk mengintipku. Matanya yang biru menatapku dengan tenang, "Belum," jawabnya singkat dengan nada yang begitu tenang juga.

Lantas aku segera berteriak histeris. Tanpa sadar ku lemparkan telur mata sapi yang baru saja ku masak, yang semula masih berada di teflon. Telur tersebut mendarat dengan mengenaskan di pangkuan Kazune. Beruntung—ku pikir—karena telur tersebut tidak langsung berada di pangkuan Kazune. Koran yang sedang dibaca Kazune menyelematkan celana yang sedang dia pakai.

Harusnya aku tidak terkejut ketika mata Kazune segera menatapku dengan tatapan tajam nan dingin. Namun, tetap saja aku merasa ngeri ketika merasakannya. Aku hanya bisa terkekeh sambil menggaruk belakang kepalaku.

"Maaf, aku benar-benar panik," ucapku terkekeh lagi.

Kazune membungkus telur mata sapi yang malang itu dengan koran paginya. Dia berdiri dan berjalan mendekati dapur. Sambil membuka lemari kecil tempat celemek berada, tangan Kazune melemparkan koran tersebut ke dalam tong sampah.

"Aku akan masak sendiri. Kau makan dulu saja, ada kuliah pagi, kan?" ucapnya datar tanpa memperhatikanku. Kazune mulai memakai celemeknya.

Aku menghela nafas dan memberikan teflon yang ada di tanganku untuk Kazune. Setelah itu aku berjalan ke meja makan dan mulai makan terlebih dahulu.

Aku tidak tahu apa yang sedang dimasak Kazune, namun dia begitu lama sehingga aku sudah menghabiskan sarapanku sebelum dia selesai masak. Akhirnya, aku pamit untuk berangkat ke kampus terlebih dahulu.

~ End of Flashback ~

Nah, karena kejadian—atau tragedi—di pagi hari tersebut, akhirnya aku menemukan jalan buntu untuk masalahku. Dan aku merasa bersalah karena sudah membuat mood Kazune jelek di pagi hari.

Jika aku terus mengikuti kegiatan belajar-mengajar di jam kuliah, ku pikir aku tidak perlu repot-repot memikirkan masalah lain yang tidak masuk dalam hal akademik. Kazune selalu memperingatkanku agar tidak mencampur-aduk hal itu. Ketika aku kuliah, aku harus fokus belajar saja, lupakan masalah di rumah. Namun, jika kuliah sudah selesai, aku harus memikirkan masalahku yang tidak berhubungan dengan kuliah.

Itu sebabnya aku ingin jam perkuliahan terus berlangsung. Agar aku tidak perlu memikirkan masalahku diluar kuliah.

Tapi, aku sadar itu terlalu naif. Jadi, aku memutuskan untuk menerima semua ini.

Ku kemasi barangku dari bangku dengan segan-segan. Aku sama sekali tidak memiliki motivasi. Ini belum jam makan siang, tidak mungkin aku datang ke kantin karena akan percuma.

Apa aku harus ke ruang UKS untuk menemui Himeka?

Tidak. Itu akan membuat posisiku semakin sulit lagi. Bisa-bisa jika ketahuan Rika, aku akan dikerjai habis-habisan ketika uji nyali nanti.

Ah, bicara tentang itu, sebenarnya aku makin tertekan lagi ketika melihat poster untuk acara tersebut sudah tertempel di mading fakultas tadi pagi. Aku tidak habis pikir, kapan poster itu ditempel? Ku pikir kemarin aku masih belum melihatnya.

"Karin-chan, setelah ini kau mau kemana?" ucap seseorang yang tanpa ku sadari sudah berdiri di depan bangku yang ku tempati. Ah, Miyon.

Aku tersenyum ketika melihatnya, aku bahkan lupa bahwa aku sudah mempunyai teman di kampus saat ini.

"Bagaimana jika ke perpustakaan?" tanyaku sambil berdiri.

Miyon terlihat sedikit bingung, "Ah, ku pikir kau bukan tipe orang yang suka membaca buku, tapi sepertinya aku salah menilai."

Hampir saja aku menjatuhkan buku yang berada di dekapanku. Aku terkekeh sebentar dan menjawab, "Memang aku bukan tipe orang yang suka membaca, aku hanya bingung harus kemana. Tidak mungkin kita ke kantin di jam segini, kan?"

Miyon pun ikut tertawa dengan wajah malu-malu, "Benar juga," dia menggaruk belakang kepalanya, "jika ingin mendapat tempat nongkrong, kita bisa pergi ke taman."

Aku mulai melangkah terlebih dahulu. Melihatku sudah melangkah, Miyon segera mengikuti langkahku sambil menyejajarkan dirinya di sampingku.

"Bukannya aku tidak mau ke taman, tapi terlalu ramai. Dan juga..." hampir saja aku menyinggung tentang keadaanku yang harus terus waspada ketika berada di kampus. Aku segera mengatupkan mulut berharap Miyon tidak mendengar ucapanku yang terakhir.

"Dan juga, apa?"

Tentu saja dia mendengarkan ucapanku! Hampir saja aku menjambak diriku sendiri kalau saja aku tidak menahan diri. Aku segera menatap Miyon dengan wajah penuh tanya, tapi mungkin wajah panikku lebih terlihat karena Miyon segera menautkan alisnya penuh selidik.

"Kau sedang dalam masalah, Karin-chan?" tanya Miyon lagi masih dengan ekspresi penuh selidiknya.

Ku kibaskan tanganku cepat-cepat, "Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja aku sedikit khawatir tentang acara uji nyali yang harus kita hadapi dalam waktu dekat ini."

Aku berdo'a dalam hati, semoga Miyon termakan umpanku. Semoga dia melupakan tentang 'dan juga...' yang awalnya tidak sengaja ku ucapkan.

Bingo! Benar saja. Miyon terlihat sedikit terjingkat, seperti sudah mengingat sesuatu yang penting namun bisa dia lupakan dengan mudah. Setelah itu, wajahnya berubah menjadi muram.

"Benar juga, semua mahasiswa baru wajib mengikuti acara tersebut, ya?" ucap Miyon lesu.

Sekuat tenaga aku menahan diri agar tidak bersorak. Untung saja perhatian Miyon segera teralihkan dengan hal tersebut. Dilihat dari ekspresinya yang lesu, mungkin saja dia juga kurang antusias dalam mengikuti acara rutin yang diadakan oleh fakultas.

Ku jentikkan jariku, "Nah, aku takut jika kita berada di tempat umum yang ramai, dan ada senior yang akan menjadi panitia acara tersebut, mereka bisa menghabisi kita nantinya," ucapku bersemangat namun dengan volume yang dijaga, "kau pasti dengar desas-desusnya."

Miyon mendekatkan dirinya sambil menganggukan kepala, "Acara uji nyali ini merupakan acara lanjutan dari ospek, kan? Karena para senior tidak puas menghabisi kita saat ospek berlangsung, mereka melanjutkannya dengan acara ini."

Tanganku segera merangkul Miyon. Ku taruh kepalaku di atas bahu gadis tersebut. Aku pun mulai berlaga seperti orang menangis.

"Kau memang teman yang sangat pengertian, ku pikir hanya aku yang merasakan hal ini," ucapku masih melakuka fake crying.

Miyon menghela nafasnya dengan berat, "Baiklah, untuk sementara jangan membuat ulah di depan senior. Mari kita ke perpustakaan," ucap gadis tersebut menunjuk ke arah dimana perpustakaan berada.

Dengan semangat membara, ku tegakkan badanku dan mengangguk dengan yakin. Akhirnya, kami berdua melangkah tanpa ragu menuju ke perpustakaan.

...

Mungkin memang aku yang terlalu meremehkan semangat mahasiswa atau memang aku yang berpikir terlalu dangkal. Perpustakaan yang ku pikir akan menjadi tempat nyaman karena sepi—dalam arti tidak ada orang di dalamnya—namun, pada kenyataannya hal itu berbanding terbalik dengan ekspetasiku.

Memang kenyataan tidak semuanya bisa sama dengan ekspetasi.

Karena terlalu banyak penghuni—entah itu yang membaca buku, hanya numpang tidur, mengerjakan tugas dan sebagainya—aku harus berputar-putar untuk mencari kursi kosong. Bahkan untuk dua orang saja, aku sulit mencarinya.

Ku dekatkan diriku untuk berbisik di telinga Miyon, "Nee, kau sudah menemukan kursi kosong untuk kita? Di bagian sini tidak ada."

Sebenarnya kami berdua membagi tugas untuk mencari kursi kosong. Masing-masing, aku dan Miyon sepakat untuk membagi ruang perpustakaan menjadi dua bagian. Aku berputar mencari tempat searah dengan putaran jarum jam. Miyon sendiri melakukan sebaliknya.

Setelah beberapa detik hening, Miyon mendekatkan dirinya namun dia menatap ke satu sudut tertentu, "Ada tempat kosong, tapi sepertinya kita tidak bisa menempatinya."

"Hah?! Kenapa kita tidak bisa menempatinya?" tanyaku mencoba untuk tidak berteriak, "mana tempat itu?" tanyaku sambil mengikuti arah pandang Miyon.

Jari Miyon menunjuk ke suatu tempat, namun dia tidak melakukannya dengan terang-terangan, "Disana, tapi melihat orang yang sedang duduk di tempat itu, kita tidak mungkin bisa menempatinya."

"Dakara, memangnya kenapa kita tidak bisa menempatinya?" tanyaku bingung ketika melihat seorang pemuda yang sedang duduk di salah satu tempat di pojokan perpustakaan. Pemuda tersebut sepertinya tertidur, dilihat dari posisinya yang sedang menyilangkan tangan di atas meja, wajahnya pun tersembunyi di atas silangan tangan tersebut.

Aku benar-benar tidak mengerti maksud Miyon, kenapa juga kami tidak bisa duduk disana? Sedangkan jika dihitung, tempat tersebut masih bisa diduduki sekitar tujuh orang lagi. Memang pemuda itu siapa? Penguasa di perpustakaan ini?

Miyon mencubit tanganku pelan, mungkin karena aku tidak segera menanggapi ucapannya. Ku angkat alisku menandakan bahwa aku ingin dia mengucapkan penjelasannya lagi.

"Kau tidak tahu, ya? Yang duduk disana itu adalah wakil ketua BEM. Ini pertama kalinya Karin-chan masuk ke perpustakaan, kan? Jika sudah melihat ada wakil ketua duduk di salah satu meja, itu artinya meja tersebut tidak boleh diduduki oleh orang lain selain anggota inti BEM," jelas Miyon panjang lebar, namun volumenya masih tetap dijaga.

Alisku bertautan. Ya, memang. Saat ini aku sedang dalam mode antara bingung dan kesal, "Memang sebegitu besarnya ya kekuasaan para anggota inti BEM di fakultas ini?" tanyaku dengan nada kesal.

"Tentu saja kekuasaan mereka besar. Mereka adalah orang kepercayaan para dosen. Mana bisa kita menentang mereka dengan mudah," bisik Miyon kembali mencubit lenganku, mungkin tadi aku berkata terlalu keras. Karena saat ku sadar, orang-orang di sekitarku mulai menatapku dengan tatapan tidak suka.

Baru saja aku menghela nafas berat—oke, aku benar-benar kesal—tiba-tiba suasana di perpustakaan terdengar sedikit hening—memang sebenarnya sudah hening—tapi, keadaannya terasa semakin menegang.

Aku sedikit terkejut ketika ada dua orang yang sedang berbincang dengan volume pelan, mereka melewatiku yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan. Himeka dan Michi, mereka berdua berjalan dengan santai menuju arah tempat duduk di pojokan ruangan.

Baru beberapa langkah melewatiku, pandangan Michi bertemu pandangan dengan mataku. Pemuda tersebut segera menghentikan langkahnya, diikuti oleh Himeka yang segera ikut menatapku.

"Karin-chan, apa yang sedang kau lakukan disini?" ucap Himeka terlebih dahulu, dia pun tersenyum manis.

Michi sendiri hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Punggung Miyon terlihat menegak dengan sendirinya. Gadis tersebut bergeser untuk berlindung di belakang punggungku. Dia pun berbisik, "Kau kenal dengan mereka, Karin-chan?"

Sementara menghadapi keadaan yang begitu cepat dan membingungkan ini—oke, aku selalu menahan diri agar tidak berkomunikasi dengan Himeka dan Michi di depan umum—aku hanya bisa terkekeh sambil menggaruk belakang kepala.

"Aku tidak menemukan tempat duduk kosong," jawabku setelah cukup lama memikirkan jawaban yang tepat. Sementara ku abaikan pertanyaan dari Miyon yang masih berada di belakangku.

Michi dan Himeka segera bertukar pandang.

"Mau ikut duduk bersama kami?" tanya Michi sambil menunjuk tempat kosong di pojok ruangan.

"Eh, memang boleh?" tiba-tiba saja Miyon muncul dan berdiri di sampingku. Ada apa dengan gadis ini? Ku pikir dia merasa takut dengan keberadaan Himeka dan Michi.

Menanggapi pertanyaan Miyon, Himeka pun tersenyum, "Boleh saja, lagipula agenda kami hari ini hanya membicarakan tentang laporan acara ospek yang harus dievaluasi ulang."

"Ya, kalau kalian nanti ingin menjadi anggota inti BEM, mungkin itu akan bermanfaat juga," lanjut Michi sambil menaikkan bahu.

Miyon segera melebarkan senyumnya. Gadis tersebut menunduk dalam-dalam, "Terima kasih banyak, akan kami terima tawarannya!"

Belum sempat aku menanggapi karena terlalu terkejut, akhirnya aku hanya bisa pasrah ketika Miyon menarikku mengikuti Himeka dan Michi yang melangkah di depan kami. Kalau memang benar agenda mereka adalah untuk membicarakan tentang evaluasi acara ospek, itu artinya Kazune dan Rika juga akan ikut dengan mereka.

Ah, bicara tentang mereka berdua, sepertinya mereka belum memperlihatkan batang hidung mereka.

Ketika sampai di pojok ruangan, Himeka menggoyang lengan si wakil ketua dengan pelan sambil memanggil namanya, "Jin-kun, lekas bangun sebelum Kazune-chan datang."

Orang yang dipanggil Jin tersebut perlahan mulai bergerak. Kepalanya terangkat terlebih dahulu memperlihatkan wajah pemuda yang terlihat seperti memiliki watak keras. Matanya yang hitam pekat—dan bulat besar—menatap Himeka dengan pandangan bosan.

"Jangan salahkan aku jika aku tidur, kalian lama sekali," ucap Jin terdengar kesal, pemuda tersebut pun mulai memperhatikan sekelilingnya dan berakhir menatapku dan Miyon—yang mungkin asing di matanya.

"Siapa mereka?"

Benar saja, Jin segera bertanya dengan nada tidak suka. Ekspresinya pun masih terlihat kaku dan kesal. Mungkin, dia lebih kesal lagi karena harus melihat ada orang lain di kerumunan yang seharusnya tidak sederajat dengan dia.

"Gadis berambut pirang ini namanya Hanazono Karin, dia masih mempunyai hubungan darah denganku. Lalu, satunya..." ucap Himeka terhenti sambil menatap Miyon penuh tanya.

"Ah, perkenalkan namaku Yi Miyon. Tolong panggil aku Miyon. Aku adalah teman sekelas Karin-chan," ucap Miyon dengan nada ceria. Aku bahkan tidak paham darimana kepercayaan dirinya tersebut.

Jin memperhatikan Miyon sekilas, kemudian beralih menatapku. Setelah lama bertukar pandang denganku, dia menyunggingkan senyumnya—mungkin lebih tepatnya seringaian.

"Eh, jadi bisa dibilang, Karin ini juga termasuk sepupu Kazune, ya?" tanya Jin masih dengan senyumannya, "kalau begitu, silahkan duduk. Mau duduk dimana? Di samping Himeka, atau mungkin di sampingku?"

Michi menghela nafas panjang, "Ayolah, Jin. Jangan ganggu Hanazono-san. Kazune akan marah kepadamu nanti."

Jin segera menyerukan nada protes, "Kenapa juga si blonde itu marah? Aku kan hanya menawari sepupunya untuk duduk di sampingku. Aku tidak akan menyentuhnya!"

Menanggapi hal itu, Himeka menarik Michi agar dia duduk di samping Jin, "Karin-chan akan duduk di sampingku, dan di samping Karin-chan akan diduduki oleh Miyon-chan."

Melihat hal tersebut, Jin segera tersungkur di atas meja, "Himeka, kejam sekali. Malaikat lembut yang kejam. Hatimu tidak selembut ekspresi luarmu."

Seperti tidak terganggu dengan ucapan Jin, Himeka hanya tersenyum. Michi sendiri mulai menepuk-nepuk punggung Jin sambil berbisik, "Jika kau menggoda Himeka juga, mungkin tidak hanya Kazune saja yang marah."

Dengan demikian Jin semakin menjadi-jadi. Namun, dia hanya terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak berteriak.

Baru saja aku dan Miyon menempatkan diri di posisi masing-masing, tiba-tiba saja sebuah seruan datang dari belakang punggungku.

"Maaf kami sedikit terlambat, aku dan Kazune harus datang menemui dosen terlebih dahulu," ucap suara seorang gadis yang benar-benar ku ingat, ya benar, dia adalah Rika.

Karena penjelasannya tersebut, kami yang sudah duduk di pojok ruangan mulai memperhatikan Rika—bahkan Miyon sekalipun. Melihat ada orang lain selain anggota inti BEM, senyum Rika tiba-tiba menghilang. Dia menatap aku dengan pandangan yang tajam.

"Kenapa harus ada orang lain di tempat ini? Kita akan mengadakan rapat, tahu kan?" ucap Rika dengan nada penuh penekanan. Matanya pun terus menatapku dengan pandangan benci.

Kazune mungkin mendengar ucapan Rika, dia yang semula berjalan santai di belakang Rika kini menampakkan dirinya. Ketika pandangan kami bertemu, dia tersentak kecil. Namun, cepat-cepat Kazune mengalihkan pandangannya.

"Katakan padaku, di antara kalian bertiga, siapa yang mengundang mereka?" tanya Kazune dengan nada dingin, matanya semakin menyipit lagi, "Jin?"

Jin segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Wajahnya pun terlihat panik, "Serius, kali ini bukan aku."

Michi segera menepuk mulutnya untuk menahan tawa. Himeka sendiri tersenyum kasihan melihat Jin kemudian dia mengalihkan pandangan untuk menatap Kazune dan Rika secara bergantian.

"Kali ini bukan Jin-kun. Aku yang telah mempersilahkan mereka untuk duduk disini," jelas Himeka dengan nada kalem.

Cepat-cepat Michi menambahi, "Aku melihat mereka sedari tadi berdiri di tengah ruangan. Lagipula, rapat kali ini tidak terlalu rahasia, kan? Nyatanya kita lakukan di perpustakaan."

Tangan Rika segera tersilang. Wajahnya segera terdongkak tinggi dengan matanya yang memincing sambil menatapku, "Tidak bisa begitu. Mereka bukan anggota inti..."

Ucapan Rika terhenti ketika Kazune menepuk pundaknya, "Tidak masalah, memang benar rapat ini tidak terlalu rahasia," dia mulai berjalan untuk menempatkan diri duduk di samping Jin, dengan kata lain, dia berhadapan denganku, "Himeka baru sekali melakukannya, kenapa tidak kita toleransi?"

Jin terlihat tidak terima, "Kenapa kau bisa sesantai itu jika Himeka yang melanggar peraturan? Itu namanya intimidasi!" serunya diikuti suara desisan panjang dari penjuru ruangan.

Michi segera menutup mulut Jin. Diikuti Kazune yang memukul kepala Jin dengan laporan yang sedang dia bawa. Rika pun ikut mencubit pipi Jin dengan gemas.

"Kita sedang di perpustakaan, ingat?!" ucap Rika dengan nada penuh penekanan, gadis tersebut kemudian melirik aku sebentar sebelum menempatkan diri di samping Kazune, "tidak usah mengulur waktu lagi, lebih baik kita mulai rapatnya."

Kazune berdehem terlebih dahulu. Wajahnya berubah menjadi lebih serius dari biasanya. Matanya beralih menatap ke arah Michi, "Michi, notulen, siap?"

Michi segera menyiapkan buku beserta pen. Kemudian pemuda tersebut mengangguk dengan mode serius juga.

Himeka pun menegakkan punggungnya. Wajah kalemnya masih terlihat namun hampir seluruhnya ditutupi oleh ekspresi serius. Jin yang awalnya terlihat kocak pun kini juga sudah ada pada mode seriusnya. Rika sendiri terlihat makin menyeramkan lagi—wajahnya, oke.

Kazune mulai membuka lembar laporan yang ada dihadapannya. Dia mulai mengatakan sesuatu dengan cepat—aku tidak paham sepenuhnya. Ku lihat Michi segera menggerakkan pen-nya di atas kertas, tangannya begitu lihai mengikuti kecepatan bicara Kazune.

Sesekali Rika menanggapi ketika Kazune bertanya tentang detail dari permasalahan yang ada di laporan tersebut. Sama halnya dengan Jin, namun pemuda itu tidak terlalu banyak bicara. Tidak seperti Rika.

Lama kelamaan aku mulai panik. Ku lirik Himeka yang sedari tadi diam. Namun, dilihat darimana pun gadis tersebut tidak membuyarkan konsentrasinya. Meskipun tidak ikut berbicara, Himeka terlihat masih bisa mengikuti alur dari rapat itu.

Merasa semakin terpojokkan dengan suasana yang tidak begitu mengenakkan, akhirnya ku alihkan pandanganku untuk menatap Miyon. Aku begitu bersyukur ketika melihat gadis berambut hijau tersebut menatap sekelilingnya dengan mulut yang terbuka lebar. Oke, itu artinya bukan hanya aku saja yang tidak bisa mengikuti alur dari orang-orang menakutkan di sekitar kami.

Entah berapa lama, tapi Kazune tiba-tiba saja mengakhiri penjelasan panjangnya dan menatap anggotanya satu persatu, "Ada yang ingin ditanyakan?"

Himeka mengangkat tangannya. Setelah dipersilahkan Kazune, gadis tersebut menurunkan tangannya terlebih dahulu, "Untuk masalah biaya pengeluarannya, sepertinya kita mendapat laba. Ku pikir itu bisa menjadi masalah jika tidak dituntaskan dalam laporan."

Kazune kembali membuka laporannya dan berhenti di lembaran tempat detail biaya dari acara tersebut. Matanya bergerak-gerak dengan serius menekuni setiap deret angka yang ada di atas kertas itu.

"Hm, tidak masalah jika ada laba. Masukkan ke dalam uang kas untuk biaya tambahan di acara tahun depan. Kita bisa lebih menghemat agar para peserta juga tidak mengeluarkan biaya terlalu banyak," jelas Kazune kembali menutup laporannya, dia kembali menatap para anggotanya, "ada yang lain?"

"Apa tidak masalah jika memasukkan uang tersebut ke dalam kas?" tanya Jin memusatkan pandangan pada laporan yang ada di hadapan Kazune.

Kazune menatap Jin dari ujung matanya, "Aku sudah menanyakannya ketika rapat dewan, tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut."

Semua orang—kecuali aku, Miyon dan Kazune—menganggukan kepala mengerti. Michi yang semula masih sibuk menulis kini berhenti dan menaruh pen-nya di atas meja. Dia menatap Kazune, "Sudah cukup? Atau masih ada lagi?"

"Tidak ada, rapat selesai," ucap Kazune membuat wajah serius nan tegang dari orang-orang di sekelilingnya mulai memudar.

Michi segera memberikan lembarannya pada Himeka untuk bertanya sedikit tentang masalah keuangan yang baru saja mereka bahas. Jin sendiri langsung tersungkur di atas meja tidak peduli ketika tangannya sedikit memukul tangan Kazune. Rika merenggangkan ototnya dan tersenyum lega. Kazune sendiri menghela nafasnya pelan.

"Rika, kita bagi rata pekerjaannya, ya?" tanya Michi setelah dia selesai berurusan dengan Himeka.

Rika terdengar tidak terima, "Kenapa juga aku harus mengurusi laporan? Bukannya sejak awal kerjaanku adalah membuat proposal acara? Untuk laporannya kan urusanmu."

"Latar belakang saja, ku mohon! Dan sedikit pada bab 3, yang lainnya biar aku yang urus," ucap Michi memohon.

Rika menatap Michi dengan pandangan kejam, "Ti-dak-ma-u!" ucapnya penuh dengan penekanan.

"Kazune~!" ucap Michi dengan nada lebih memelas lagi.

Kazune menghela nafas dan menatap Rika sekilas, "Rika, bantu Michi. Lagipula untuk bab 1 sampai bab 3 kan menjadi tanggung jawabmu."

Kali ini Rika mengerang tidak terima. Namun, nadanya berbeda dengan yang tadi. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain lagi.

"Nee, sudah selesai, kan? Aku boleh pergi ke kantin, kan?" tanya Jin tiba-tiba menegakkan punggung.

Kazune menatap Jin dengan datar, "Terserah kau saja."

Jin terlihat bersemengat. Dia berjingkat dan segera menarik tas yang semula berada di bawah kursinya. Masih dengan senyum yang mengembang, dia menatapku, "Karin, kau mau ikut ke kantin bersamaku?"

Michi yang semula sedang berbincang ringan dengan Himeka dengan posisi tangan yang menopang kepala tiba-tiba tersungkur di meja. Himeka pun segera menatap Jin dengan pandangan memperingatkan. Kazune awalnya terlihat sedikit terkejut, namun dia mencoba menutupinya dan terus menyilangkan tangan di depan dada. Rika sendiri segera menggembungkan pipinya, terlihat sebal.

"Dasar playboy," gumam Rika dengan nada sebal.

Michi bangkit dan menatap Jin dengan pandangan penuh arti, "Sudah ku bilang, jangan ganggu Hanazono-san," ucapnya dengan nada yang sangat pelan.

"Jin-kun, Karin-chan akan tetap disini bersamaku," ucap Himeka dengan nada protektif.

Mendengar itu, Jin segera menyerukan nada protes, "Eh, kenapa, Himeka? Ku pikir kau tidak akan masalah jika aku menjadi sepupu iparmu."

Michi terpaku seperti orang yang berada di dalam balok es. Himeka hanya bisa terbelalak sambil menatap Jin. Rika sendiri segera memandangku dengan tatapan tajam. Kazune, alisnya terlihat berkedut keras, dia pun makin menundukkan kepalanya dengan tangan yang terlihat semakin tersilang erat.

"Ah, sepertinya sebentar lagi jam makan siang dimulai. Setelahnya kami akan ada kelas, jadi mungkin kami tidak punya banyak waktu untuk makan siang," tiba-tiba saja tangan Miyon menarikku agar berdiri, "kami mohon pamit dulu ya!"

Setelah menunduk—hanya Miyon saja—tanganku ditarik oleh Miyon yang sudah berlari terlebih dahulu. Aku benar-benar bersyukur aku telah diselamatkan dari jurang kematian yang sudah berada di depan mataku tadi.

...

Harusnya aku sadar bahwa Kazune akan marah. Ya, dia memang sedang marah saat ini.

Ngomong-ngomong, mungkin ini agak aneh, aku sendiri bingung dengan sifat Kazune. Awalnya, memang dia yang berkata kami tidak akan satu mobil lagi ketika berangkat atau pulang kuliah. Tapi, nyatanya, sekarang aku sedang berada di mobil Kazune saat perjalanan pulang.

Saat menunggu taksi yang biasa lewat di depan fakultas, tiba-tiba saja mobil Kazune terhenti di depanku. Awalnya aku panik, akhirnya setelah dirasa tidak ada orang lain yang melihat, aku memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Kazune.

Setelah masuk aku segera menunjukkan nada protesku, namun Kazune sama sekali tidak menanggapinya. Bahkan, setelah dia menjalankan mobilnya, dia tidak berbicara sama sekali dan terus fokus menatap jalanan di depannya.

Lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang?

Mengingat tentang sifat Kazune, dia memang sering melakukan hal itu. Ketika dia marah, dia akan diam dan tidak akan menatap lawan bicaranya. Meskipun begitu, dia tetap menjalankan apa yang sedang dia kerjakan tanpa merasa terganggu dengan mood jeleknya.

Ku ketuk-ketuk kaca mobil dengan gelisah. Aku tidak suka dengan suasana ini, terlalu menakutkan meskipun aku sudah sering melalui hal-hal seperti sekarang. Ini bukan pertama kalinya buatku, tapi rasanya masih menakutkan ketika Kazune marah.

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, ku tolehkan wajahku untuk menatap Kazune. Bisa ku lihat matanya yang sipit terlihat menatap depan dengan tajam. Bibirnya pun terkatup rapat seperti sebuah pintu dengan seribu kunci. Aku yakin sekali, bukan urusan mudah untuk membuat Kazune berbicara ketika dia marah.

"Ano, untuk acara uji nyalinya, apa sudah mendapat pencerahan?" tanyaku dengan nada selembut mungkin, sedikit salah nada bicara bisa membuat amarah Kazune semakin berkobar.

Kazune terus menatap depan, bibirnya pun tak bergerak sedikitpun. Oke, mungkin aku harus lebih bersabar lagi.

"Aku tidak bisa melakukan banyak hal, tapi sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan Rika berbuat seenaknya sendiri," ucap Kazune tiba-tiba. Aku sedikit terharu meskipun nada bicaranya terdengar sangat dingin. Setidaknya dia sudah mau bicara.

Ku anggukkan kepalaku, "Kau tahu? Sekarang aku sudah memiliki teman, mungkin aku bisa menjadi lebih kuat dari sebelumnya," ucapku mencoba untuk rileks, "gadis yang bersamaku saat di perpustakaan tadi, namanya Miyon."

"Hm, gadis yang tadi?" ucap Kazune dengan nada yang sama, namun bisa ku lihat dia sedikit melirikkan matanya ke arahku meskipun hanya sekilas, "tidak buruk juga anak itu."

"Benar, kan? Awalanya aku juga agak bingung, dia tiba-tiba mendekatiku. Aku baru tahu bahwa dia seumuran dengan kita, hanya saja nasibnya sama denganku," sebisa mungkin aku membuat suasana menjadi semenarik mungkin.

Saat kami berhenti di lampu merah, Kazune memutar kepalanya untuk menatapku sepenuhnya, "Eh? Dia juga menunda kuliahnya satu tahun? Tapi, aku yakin alasannya tidak seperti dirimu," ucapnya dengan wajah polos. Wajah dinginnya hilang tanpa sisa.

Alisku berkedut keras. Aku mungkin lega karena Kazune sudah tidak memasang wajah dinginnya lagi, tapi mendengar ucapnnya, aku jadi jengkel sendiri.

"Memang alasannya beda, setidaknya yang ku tahu, dia memang lebih pintar dari aku," ucapku sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Kazune tertawa. Dia menepuk kepalaku sekali dan segera terpaku kembali ke jalanan. Melihat itu, aku ikut tersenyum. Untunglah, Kazune tidak seburuk yang dulu, setidaknya dia mulai bisa menenangkan dirinya lebih cepat.

...

Beberapa hari berlalu.

Benar saja, ketika kami mendapat dispensasi libur untuk hallowen, tapi libur itu hanya sebuah formalitas semata. Nyatanya, kami harus mengikuti kegiatan yang diadakan oleh fakultas. Terima kasih banyak, mahasiswa baru memang sering mendapatkan perlakuan seperti ini, dengan dalil karena kami masih baru mentas dari bangku sekolah dan masih memiliki semangat yang tinggi.

Ya, itu berlaku untuk anak-anak yang baru saja keluar dari SMA, tapi untuk aku yang harus menunggu satu tahun, kegiatan ini terasa begitu menyebalkan.

Pagi hari kami dikumpulkan di kampus untuk diberi pengarahan tentang acara yang akan kami lalui. Sebenarnya acara ini sangat rahasia—infonya—bahkan Kazune pun selama ini tidak pernah membocorkan apa-apa kepadaku.

Mungkin memang sudah kesepakatan. Lagipula, Kazune juga sudah menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak akan mencapur-adukkan masalah pekerjaannya dengan masalah kami di rumah.

Jadi, hari-hari berlalu, dan ketika aku bertanya apakah Kazune sudah memiliki solusi agar aku tidak di-bully oleh Rika, dia tidak pernah menjawab dengan pasti. Selalu saja, "Aku tidak bisa berbuat banyak. Sebisa mungkin aku akan mencegah Rika berbuat seenaknya."

Oke, harusnya aku percaya pada Kazune. Dia tidak mungkin membiarkan gadis sadis itu mencelakakan aku atau para peserta yang lain. Kazune tidak suka kekerasan, dia pasti mengutuk Rika jika gadis tersebut berani macam-macam.

Kembali lagi, setelah aku dan para peserta lainnya mendapatkan pengarahan, kami diperintah untuk bersiap-siap dengan barang bawaan kami. Untuk itu, kami masih memiliki waktu sampai sore hari untuk mencari barang-barang yang harus dibawa.

Bukankah mereka seperti iblis? Aku yakin sekali Rika telah merencanakan semua ini.

Ya, ketika rapat di perpustakaan—yang kebetulan aku bisa mengikuti rapat tersebut—Rika mengatakan bahwa untuk proposal acara, dia yang bertanggung jawab. Jadi, pada dasarnya, semua ide-ide gila yang harus kami laksanakan ini adalah ide dari Rika.

Sayang sekali Kazune tidak bisa berbuat banyak. Ah, dia juga sudah mengatakannya kepadaku berkali-kali, bahwa dia tidak bisa berbuat banyak untuk acara ini.

Mengingat itu, sepertinya acara hallowen ini merupakan akhir dari deretan acara wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa baru. Oke, ini yang terakhir kalinya, jadi aku masih memiliki semangat untuk melewati semua ini.

Ngomong-ngomong, sayangnya untuk acara ini, aku harus berpasangan dengan lawan jenis. Aku tidak yakin Kazune akan menyetujui hal ini, tapi sekali lagi ku ingatkan diriku bahwa Kazune tidak bisa berbuat banyak.

Itu artinya aku berpisah dengan Miyon. Ah, tapi setidaknya nasib Miyon tidak seburuk nasibku. Jika aku harus berpasangan dengan orang yang tidak aku kenal—kemungkinan besar dia adik kelasku—sedangkan Miyon, dia harus berpasangan dengan teman masa kecilnya. Begitu beruntungnya anak itu.

Ketika jam makan siang, kami dikumpulkan di kantin untuk makan siang beserta pemberian informasi dimana kami akan melakukan uji nyali.

Hiruk-pikuk keramaian yang berasal dari hampir semua meja yang ada di kantin berangsur menghilang ketika ada dua orang masuk ke dalam kantin dengan wajah serius masing-masing. Benar saja, Kazune masuk didampingi oleh Rika.

Ketika berada di tengah ruangan, Rika menyilangkan tangannya dan mulai memperhatikan sekeliling dengan pandangan tajam. Kemudian, dia berteriak, "Mohon perhatiannya!"

Suara bisik-bisik yang semula terdengar kini hilang sepenuhnya. Kazune terlihat menatap Rika sekilas seperti memberikan ucapan terima kasih, kemudian dia beralih kepada kertas yang ada di genggamannya.

"Untuk acara uji nyali ini akan diadakan di hutan yang ada di belakang kampus. Kami sebagai panitia sudah menyurvei dan tidak ada hal yang membahayakan disana," ucap Kazune agak berteriak, kemudian dia melepaskan pandangannya dari kertas dan mulai menatap sekelilingnya, "selama kalian mengikuti instruksi dari kami, kalian semua akan selamat."

"Dengan kata lain, tidak ada jaminan untuk orang-orang yang tidak mengikuti aturan," tambah Rika sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

Suasana di dalam kantin terasa agak sesak, atmosfirnya. Dilihat dari ekspresi setiap peserta yang ada di kantin, sepertinya memang semua orang merasa tertekan dengan pemberitahuan tadi.

Keadaan menjadi hening beberapa saat sebelum Kazune berkata lagi, "Ada yang ingin ditanyakan?"

Seorang anak menaikkan satu tangannya tinggi-tinggi, "Kak, untuk waktu pelaksanaannya, dimulai jam berapa?"

Mata Kazune segera beralih untuk menatap anak tersebut. Dengan wajah datar dia menjawab, "Uji nyali dilakukan mulai pukul 10 malam tepat, sampai semua peserta melakukan uji nyali. Jika tidak melebihi perhitungan kami, setidaknya acara akan selesai sebelum matahari terbit. Sekitar jam 5 pagi."

"Kita akan berangkat ke tempat tujuan setelah matahari terbenam. Pastikan semua barang yang diperlukan sudah kalian miliki. Setelah sampai, kalian akan dipersilahkan untuk tidur setelah makan malam," lanjut Rika masih dengan ekspresi mengintimidasi miliknya.

Kazune menarik nafasnya dan kembali mengedarkan pandangan, "Pastikan kalian tidur setelah makan malam, jika tidak, artinya kalian tidak akan tidur selama sehari," ucapnya dan berbalik, "sudah cukup, setelah makan siang, kalian dipersilahkan untuk melanjutkan pencarian barang yang diperlukan."

"Terima kasih atas perhatiannya."

Itulah perkataan terakhir Kazune sebelum berlalu dari kantin bersama dengan Rika yang mengikutinya.

Dengan cepat ku kemasi nampan makan siangku. Mataku mulai mencari keberadaan Miyon. Ketika menemukan gadis berambut hijau itu, aku segera berlari ke arahnya.

"Miyon!" panggilku ketika sudah dekat dengan gadis tersebut.

Miyon berbalik dan melambai ke arahku, "Karin-chan, kau sudah menemukan semua barang yang diperlukan?"

Ku tunjukkan wajah paling sedih yang ku miliki, "Itu dia, aku butuh bantuanmu untuk mengumpulkannya."

...

Sedikit info, sebenarnya barang-barang yang kami butuhkan untuk uji nyali yang harus kami cari sendiri adalah barang-barang yang sudah disiapkan oleh panitia dan disembunyikan di penjuru fakultas. Intinya, kami sebagai peserta harus berusaha mencari barang-barang tersebut.

Bagaimana dengan pengalamanku saat mencari barang-barangnya? Oke, aku akan bercerita sedikit.

Setidaknya pencarian yang paling ekstrim untukku adalah mencari barang-barang tersebut di gudang penyimpanan untuk alat kebersihan. Bayangkan saja aku harus masuk ke dalam ruangan penuh debu. Aku tidak habis pikir, siapa orang yang telah menaruh barang itu di gudang? Bahkan melihat ruangannya dari luar saja sudah seperti masuk ruangan uji nyali.

Tapi, berkat bantuan dari Miyon dan teman masa kecilnya—namanya Yuuki kalau tidak salah—akhirnya aku berhasil mengumpulkan semua barang yang diperlukan.

Sebenarnya, saat ini acara sudah dimulai. Dan aku harus mengantri untuk mendapatkan giliranku pergi uji nyali, dengan kata lain, aku akan masuk ke dalam hutan malam-malam.

Beruntung karena kebiasaan burukku yang suka tidur, setelah makan malam, aku bisa segera terlelap tanpa terganggu dengan suara anak-anak lain yang sedang asyik mengobrol. Jika dibandingkan peserta yang lain, aku satu-satunya peserta yang terlihat bugar. Maksudnya, teman-temanku ini rata-rata menguap ketika mereka menunggu giliran.

Namun, lucunya, ketika mereka akan mendapatkan giliran pergi masuk ke hutan, mereka jadi bugar kembali. Aku sendiri sudah terlihat siap sekali—meskipun pada dasarnya aku merasa begitu tegang.

Ngomong-ngomong, aku heran dengan pasanganku, kenapa dia tidak segera datang? Memang urutan kami berada di urutan agak akhir, tapi ku pikir tadi panitia sudah menginstruksikan agar semua peserta berkumpul.

Malam semakin larut, dan kurang beberapa pasang anak lagi sebelum giliranku pergi. Dengan perasaan panik, ku edarkan pandanganku untuk mencari Miyon. Tapi, aku tidak segera menemukannya.

Ah, iya. Dia kan mendapat giliran diawal-awal. Kemungkinan dia sudah berada di pos-pos terakhir saat ini.

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, ku acungkan satu tanganku, "Permisi, kak, pasanganku belum juga datang," ucapku sambil menatap Michi—orang yang jaga pintu masuk.

Michi segera menatapku. Dia sedikit terkejut ketika mata kami saling bertemu. Pemuda tersebut hanya terdiam sambil terus duduk di posisi awalnya, namun dia mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Himeka, disini ada anak yang pasangannya tidak datang," teriaknya memanggil Himeka yang ternyata berada tidak jauh dari posisi Michi.

Himeka berbalik dan mendekat ke arah Michi. Ku lihat gadis tersebut berbincang dengan Michi, suaranya terlalu pelan sehingga aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Setelah cukup lama berbincang dengan Michi, akhirnya Himeka pergi meninggalkan kami. Melihat itu, aku hanya bisa menatap mereka dengan pandangan gelisah. Jangan bilang semua ini sudah dimulai, acara bully yang dilakukan oleh Rika spesial untukku.

Tak lama kemudian, Himeka kembali ke tempat Michi bersama dengan Kazune dan Jin. Entah kenapa, Rika tidak ikut dalam kerumunan itu.

Terlihat Kazune berbincang sekilas dengan Michi, kemudian semua pandangan mata empat orang itu segera tertuju kepadaku. Kazune menganggukan kepalanya dan kembali menggerakkan bibirnya untuk berbicara dengan Michi. Kemudian dia melangkah mendekatiku diikuti Himeka dan Jin di belakangnya.

Kazune berhenti tepat di depanku. Wajahnya yang stay cool berhasil menyihirku, namun cepat-cepat ku sadarkan diriku.

"Kapan terakhir kali kau melihat pasanganmu? Dia masih ikut kan ketika kita semua berangkat dari fakultas?" tanya Kazune dengan nada tenang.

Aku menganggukan kepala, "Aku memang masih melihatnya ketika kita berangkat, bahkan ketika makan malam. Selesai itu, aku sudah tidak tahu karena peserta cewek dan cowok dipisah untuk tidur di tempat yang berbeda."

Jin menyilangkan tangannya di depan dada, "Terus, dia tidak ikut acara ini? Dia kan sendirian, apalagi dia seorang gadis."

"Tapi, ini sudah aturannya, bukan, Jin-kun? Semua mahasiswa baru wajib mengikuti acara ini," sela Himeka terdengar panik, "akan bahaya jika Rika mengetahui hal ini," tambah Himeka dengan suara lirih.

Namun, Jin segera menyetujui pendapat Himeka. Dia tundukkan kepalanya sambil memegangi dagu, terlihat seperti orang yang sedang berpikir.

Kazune kembali menatap mataku, kali ini dia terlihat lebih serius dari sebelumnya, "Kau masih sanggup melewatinya?"

Ku garuk belakang kepalaku dan aku pun terkekeh, "Tentu saja, jika ditanya seperti itu, jawabanku adalah tidak."

Ketiga orang dihadapanku tersebut menghela nafas panjang secara bersamaan. Jin segera menyunggingkan senyum maklumnya.

"Bagaimana jika aku yang menemani dia?" tanya Jin sambil menatap Kazune.

Himeka segera melotot, Kazune sendiri—mungkin tidak bisa menahan diri—akhirnya memperlihatkan ekspresi tidak setuju miliknya. Bahkan melebihi ekspresi tidak setuju dari Himeka.

"Kau harus tetap bekerja," jawab Kazune dengan nada tenang meskipun wajahnya terlihat masih agak kesal, "jangan lepas dari tanggung jawabmu."

Melihat dua orang temannya itu, Jin terkekeh tanpa merasa bersalah, "Aku hanya bercanda."

Kazune kembali memfokuskan pandangannya kepadaku, dia kembali menghela nafas sebelum berkata, "Maaf jika kami terlihat jahat, tapi karena ini sudah aturan, kamu harus tetap mengikuti acara uji nyali ini sendiri."

"Untuk pasanganmu yang menghilang, kami akan segera mencarinya. Jika ketemu, tentu saja kami akan memberi dia sanksi karena sudah menyalahi aturan," tambah Himeka menatapku dengan iba. Namun, dia mencoba untuk tersenyum.

"Hey, sekarang giliranmu!" seru Michi membuyarkan perhatianku pada ketiga orang yang sedang berada di hadapanku.

Aku menatap balik Michi dengan tatapan horor. Kemudian ku alihkan pandanganku sekali lagi pada tiga orang di hadapanku. Mereka semua tersenyum kepadaku, namun mata mereka menyiratkan pandangan kasihan.

"Semoga berhasil," ucap mereka bertiga kompak masih dengan senyuman mereka masing-masing.

Sebelum pergi, Michi menepuk punggungku sekali dan memberiku ucapan semangat. Sebelum melangkah lebih dalam lagi, ku tarik nafasku dalam-dalam dan ku hembuskan dengan keras. Ku coba untuk meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Setelah itu, aku segera melangkah dengan yakin dan mulai memasuki hutan yang terlihat kelam.

...

"Tidaaakkk! Hentikan!"

"Aku tidak mau!"

Yang berteriak itu adalah aku. Akan ku katakan dengan jelas, sebenarnya aku adalah tipe-tipe orang penakut. Aku sama sekali tidak suka dengan hal-hal yang berbau mistis, horor dan sebagainya.

Hebat sekali pasanganku, karena dia menghilang, aku harus melewati semua ini sendiri. Selain itu, aku mengutuk Rika yang telah membuat ide untuk uji nyali ini. Mungkin saat ini dia sedang memperhatikanku dari suatu tempat.

Dan, betapa bahagianya dia ketika melihat aku berlari dan berteriak ketakutan sambil menyusuri jalanan hutan yang tidak mulus. Karena hal itu, sesekali aku sempat terjengkal jatuh.

Sebenarnya aku merasa kesakitan, namun karena rasa takutku lebih besar dari rasa sakitku, jadi aku membiarkannya berlalu. Mungkin berkali-kali aku jatuh, secepat itu pula aku berdiri dan berlari menuju pos selanjutnya.

Sedikit bercerita tentang keadaanku saat ini, sebenarnya sedari tadi wajahku sudah basah. Entah basah karena keringat atau basah karena air mata. Meskipun sedang ketakutan, aku sadar diri bahwa aku sedang menangis saat ini.

Baru saja aku melihat palang penanda pos selanjutnya. Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang, membuat langkahku terhenti seketika. Karena anginnya benar-benar kencang, aku harus menghentikan langkahku dan menutupi mataku agar tidak terkena debu yang berterbangan.

Ketika angin sudah berhenti, terdengar suara aneh dari belakangku. Tubuhku segera menegak kaku dan bulu kudukku berdiri. Dengan sisa-sisa keberanianku, ku coba untuk menatap 'sesuatu' yang berdiri di belakangku tersebut.

Sebingkai wajah dengan mata yang bengkak sebelah segera memenuhi pandanganku. Aku sangat yakin bahwa 'sesuatu' itu sedang berada di dekatku, sangat dekat sekali.

Karena terkejut, reflek aku memukul 'sesuatu' tersebut dengan senter. Tanpa mempedulikan 'sesuatu' yang terlihat kesakitan karena ku pukul, aku memejamkan mata dan berlari. Tentu saja teriakanku tidak ketinggalan ketika aku meninggalkan pos tersebut.

Kakiku terus saja berlari meskipun sesekali kaus kaki panjang yang ku kenakan harus tersangkut semak-semak yang memiliki duri. Ketika berasa sudah cukup jauh dari pos sebelumnya, pelan-pelan ku buka mataku. Karena aku menangis, mataku agak buram tertutup air mata.

Belum sempat otakku berproses, tiba-tiba saja pijakan pada kakiku menghilang. Seketika itu juga badanku segera terperosok dan jatuh. Aku berteriak sebisa yang ku lakukan dengan sisa tenagaku.

Selanjutnya yang bisa ku rasakan adalah rasa sakit pada sekujur tubuhku yang sedang terguling jatuh dari atas tebing. Beruntung karena tebing tersebut tidak terlalu dalam, karena detik berikutnya tubuhku terangkat di udara sebentar sebelum jatuh ke dalam air. Aku tidak ingat apakah aku bisa berenang atau tidak. Karena aku merasa sudah tidak memiliki tenaga, ku putuskan untuk membiarkan diriku mengambang di dalam air.

Sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, entah kenapa aku merasa bahwa ini adalah akhirnya.

...

Aku bisa mendengar ada orang yang sedang memanggil namaku. Suaranya yang jauh terdengar semakin mendekat. Namun, saat ku coba untuk mencari sumber suara tersebut, aku hanya menemukan ruang hampa. Begitu kosong dan gelap.

Meskipun begitu, aku bisa merasakan bahwa ada seseorang yang memeluk tubuhku. Dia memelukku dengan erat membuat nafasku terasa sesak.

Karena keadaanku saat ini, sebenarnya aku tidak seberapa yakin. Tapi, meskipun terasa pelan, sepertinya saat ini ada orang yang sedang menciumku. Tak lama kemudian, ku rasakan ada orang yang menekan dadaku berkali-kali.

Aku terbatuk dengan keras. Dadaku terasa sakit karenanya. Sejurus cahaya masuk ke dalam penglihatanku. Membuatku harus mengerjapkan mata beberapa kali sebelum aku bisa melihat keadaan sekitar.

Hal pertama yang ditangkap oleh penglihatanku adalah wajah Kazune yang terlihat panik ketika mata kami bertemu. Namun, ekspresinya segera berubah menjadi marah—aku tidak tahu kenapa dia bisa terlihat semarah itu.

Ketika Kazune sudah berada di dekatku, dia melakukan sebuah gerakan aneh. Membuat kepalaku berbenturan lagi dengan tanah. Kepalaku menjadi pusing, ditambah lagi suara di sekitarku yang bersautan dan mendengung di telinga. Karena sudah tidak kuat menahan beban pada tubuhku, aku memilih untuk memejamkan mata kembali. Dan aku pun kembali terlelap.

~ Tsuzuku ~

Hai, otsukaresama deshita. Akhirnya setelah mendapatkan liburan beberapa hari—setelah hari raya saya harus mengikuti UAS—saya menyempatkan diri untuk menulis cerita ini. Kabar baiknya, saya menyelesaikannya dalam dua hari. Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya juga membuat fanfic, tapi di fandom lain. Jadi, setelah penantian panjang para reviewers dan reader, saya persembahkan chapter 9 ini. Terima kasih untuk semuanya yang masih setia membaca dan tentunya menunggu update-an dari saya. Well, cukup sekian uneg-uneg dari saya. Sekarang waktunya membalas review.

lightflower22-san : Selamat (lagi)! Telah menjadi reviewer pertama saya di chap 8. Sungguh menyenangkan mendapatkan tanggapan dengan cepat *plak*. Well, dichap ini mungkin gak semanis chap sebelumnya. Karena jika terlalu manis, bisa-bisa nanti kena diabetes. Semoga Lighflower-san bisa menikmati chapter ini. Terima kasih.

Sakura Suzuka-san : Cium balik *tampar*. Selamat penasaran lagi ya untuk chapter 9, dek Sakura (sesuai permintaan). Btw, sekarang aku sudah semester enam loh *ditimpuk*. Selamat nyengir-nyengir lagi waktu ngeliat ada update-an chapter 9 ya. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk review.

Ratna Tanhy-Chan-san : Monggo, boleh panggil Ai-chan kok. Onee-sama juga boleh *plak*. Wow, terima kasih telah memberanikan diri untuk review. Santai lah, kita seneng-seneng disini *timpuk*. Sebenarnya kita sama kok, saya lebih suka cerita tentang persahabatan. Saya suka romance tapi jika dicampuri dengan genre humor. Kalo 100% romance, bisa kena diabetes nanti. Well, chapter ini review lagi ya!

lia-san : Yeiy, akhirnya saya menyelesaikan chapter 9 juga! Cerita kali ini sepertinya lebih panjang dari sebelumnya. Saya suka yang panjang-panjang (mie maksudnya). Bagaimana dengan chpater 9 ini, Lia-san? Masih seru kah? Atau kurang greget? Alhamdulillah, tugas semester enam lebih 'neraka' dibandingkan tugas semester lima. Tapi, sebentar lagi saya melewati semua itu. Well, terima kasih telah review. Chapter ini review lagi ya!

Visto Septiano A.P-san : Terima kasih atas pujiannya. Ini sudah saya update loh. Mohon bersabar, ini ujian *plak*. Untuk menghadapi saya memang harus membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Saya akan mengajarimu menjadi orang sabar *ditimpuk*. Enaknya gimana ya? Dosen-dosen tahu atau malah tidak tahu? Ikuti terus ceritanya sampai last chap ya!

Xiaomi-san : Waduh, saya sudah menyiapkan cabe biar nggak diabetes (apa hubungannya coba?). Ini sudah next chap loh. Jangan lupa membaca dan review lagi ya! Terima kasih.

MinReri Kujyou-san : Entah kenapa saya bahagia mendapat review dari MinReri-san *devillaugh* #plak. Saya juga berharap ada orang seperti Kazune di dunia nyata *dilemparitomat*. Saya sudah fokus kuliah loh, buktinya cerita ini nggak saya sentuh selama hampir setengah tahun *nangisbombay*. Terima kasih atas reviewnya ya! Chap ini jangan lupa review lagi.

genichi-san : Author-san sudah update loh. Selamat menikmati lanjutan ceritanya. Jangan bosen nunggu, jangan bosen baca dan jangan bosen review. Terima kasih!

amanahsulis-san : Walah, baru baca awalan review dari Amanahsulis-san, saya sudah meleleh sendiri *plak*. Apalagi dipanggil author-sama, Puncak bisa banjir nih gara-gara es di kutub meleleh (naudzubillah). Akan ku bersihkan lumut-lumutnya dengan update-an ini. Dijamin menyenangkan haha *plakplak*. Terima kasih atas reviewnya!

Atsuko Maeda-san : Jin sudah saya masukkan di chap ini. Memang sejak awal Jin sudah menjadi daftar artis yang akan keluar di fanfic saya *plak*. Seperti yang diharapkan, di cerita ini, saya memang menjadikan Jin sebagai karakter yang suka dengan Karin. Mari kita sama-sama mem -bully Kazune *ditimpukKazune*. Nanti lah nanti, masalah buka-bukaan mah enak belakangan *plak*. Well, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk review. Chap ini review lagi ya!

Nur-san : Sudah dilanjut sama author ini. Selamat menikmati sambil minum kopi ya *plak*. Sebisa mungkin akan saya selesaikan sampai last chap, tenang saja. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk review!

liana-san : Waduh, saya memang suka romantis, tapi perlu diselingi genre-genre yang lain ya biar nggak kena diabetes *plak*. Maafkan author tua ini, karena saking sibuknya dengan tugas kuliah, saya benar-benar tidak memiliki waktu untuk melanjutkan ceritanya dengan cepat. Well, yang penting sekarang saya sudah update. Terima kasih atas reviewnya, selamat menikmati chapter ini!

Guest1 : Sudah NEXT! Mari membaca! Selamat menikmati dan jangan lupa review lagi. Terima kasih!

namiramdd-san : DEMI APAPUN, AUTHOR SUDAH UPDATE CHAPTER 9! *maafcapslockjebol*. Selamat menikmati chapter 9, semoga chapter ini tidak mengecewakan. Terima kasih juga atas reviewnya, jangan lupa review lagi ya!

sasuke uchiha-san : Tenang-tenang, semuanya bisa diatur kok. Author ini memang sebenarnya sudah memikirkannya sejak awal. Jika di chapter awal-awal Karin yang menjadi korban bully, mulai chapter ini ayo jadikan Kazune korban bully *plak*. So, pasti, Karin tetap menjadi orang nomer satu yang di-bully *tampar*. Terima kasih sudah review, adikku *doubleplak*. Jangan lupa review lagi ya!

mariyani cute-san : Semoga chapter ini makin seru ya, meskipun tidak ada romance-nya. Selamat menikmati! Sesekali ngerasa sakit hati nggak apa kan ya? *plak*. Terima kasih sudah review. Jangan lupa review lagi ya!

Fitri-san : Chapter 9 siap dihidangkan! Selamat menikmati *plak*. Terima kasih atas reviewnya, jangan lupa review lagi ya!

Melihat banyak tanggapan, bahkan sampai bulan ini pun, saya jadi terharu. Memang sepertinya banyak yang menunggu saya agar saya update lanjutan dari cerita ini. Sedikit penasaran, author ingin bertanya bagaimana pendapat para reader tentang chapter 9? Ada yang kurang? Atau membosankan? Mohon tinggalkan pendapat Anda di kolom review ya! Karena semua itu akan membantu author untuk melanjutkan ceritanya. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya!

R

E

V

I

E

W

P

L

E

A

S

E