Beda sebenarnya sama, sama tapi berbeda. Ketika keduanya melebur, maka jadilah ia monokrom.
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
.
.
MONOKROM
.
Chapter 8
.
Eyang Chiriku
.
[Sakura]
Satu bulan lebih bibi membawaku ke sebuah gunung jauh dari kota yang berdekatan dengan pantai, mama dan kakak juga ikut. Di sana bibi mengenalkanku dengan eyang Chiriku, eyang Chiriku juga seorang Haruno, kepalanya botak dengan alis tebal, sekilas terlihat jika eyang Chiriku ini sangar karena guratan-guratan di wajahnya tapi sebenarnya dia baik dan aku sangat menghormatinya seperti aku menghormati bibi.
Eyang Chiriku seorang pengabdi yang taat, kata bibi dia menghabiskan hampir seluruh umurnya hanya untuk beribadah kepada Tuhan. Di sana eyang Chirikulah yang terus membimbingku, mengajariku cara mengendalikan energi secara bertahap, mengatur emosiku, dan membuatku jauh lebih sabar dalam menghadapi segala hal yang buruk.
Hari pertama berkunjung, bibi langsung merendamku di bawah air terjun yang benar-benar dingin. Katanya untuk membersihkan tubuhku, mama yang melihatku menggigil terus saja meminta bibi untuk menyudahinya, tapi sia-sia bibi tidak bergeming. Kakakku malah pergi dan lebih memilih bermain di pantai, benar-benar kakak yang jahat!
Jika matahari terbit bibi akan merendamku di bawah air terjun, dan saat matahari tenggelam aku akan melanjutkan meditasi di sebuah ruangan didampingi eyang Chiriku hingga pagi. Kegiatan itu terus berulang sekitar tiga minggu. Satu minggu terakhir barulah eyang Chiriku dengan telaten dan penuh kesabaran membimbingku cara mengatur apapun yang bergejolak dalam tubuhku. Rasanya ruang dalam tubuhku yang dahulu begitu sesak kini kosong bersamaan dengan kelegaan yang kurasakan.
Oh iya, ingat dengan harimau putih yang kutemui dalam mimpi dan membawaku kembali, kini dia menjadi temanku. Namanya Haru, kemanapun aku pergi dia selalu ikut dan hal itu membuatku risih. Haru yang mengetahuinya menyarankan solusi untuk memberikan rumah padanya, awalnya aku tidak mengerti dengan rumah yang ia minta, mana mungkin aku bisa membelikannya rumah uangpun aku tak punya, hahahaa.
Haru mengatakan bahwa rumah yang ia maksud adalah sebuah benda yang selalu melekat di tubuhku, dia akan berdiam di situ dan terus bersamaku tanpa memperlihatkan wujudnya. Akupun langsung teringat dengan sebuah kalung bunga sakura yang kata mama, papalah yang memberikannya meski aku sama sekali tidak ingat karena waktu itu aku masih bayi. Haru menyetujuinya, dan akupun senang. Haru memiliki suara papa, membuatku merasa nyaman ketika berbicara dengannya.
Satu hal yang harus kalian tahu tentang Haru, Haru telah berumur ribuan tahun, itulah yang membuatnya terlihat kolot dan kadang tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan. Dahulu dia seorang pengawal klan Haruno dan telah disumpah untuk terus mengabdi. Dari Harupun aku mengetahui sedikit perjalanan klan Haruno meski tidak banyak.
Semakin hari aku semakin mengerti tentang mengapa para makhluk gaib itu terus mendekatiku, mereka mengincar darahku. Bahkan jika hanya mendapatkan setetes darah kekuatan mereka akan meningkat berkali-kali lipat. Dan untuk manusia yang bersekutu dengan jin pun sangat tergiur dengan darahku, darah ini dapat membuat mereka berumur panjang tanpa mengamalkan ilmu kekebalan ataupun pancasona.
Entah terlahir sebagai pewaris adalah keberuntungan atau musibah, bibi menyuruhku agar memikirkannya sendiri. Bibipun tak pernah mengetahui mengapa semua ini bisa terjadi pada klan Haruno, semua jejak masa lalu seolah terkubur atau memang ada yang berusaha menyembunyikannya, itupun praduga eyang Chiriku. Kepalaku sakit jika memikirkannya!
Sejak kepulanganku dari gunung itu, kondisiku berangsur kembali normal. Akupun tak lagi merasa sedih dengan kematian kak Itachi meski kehilangan itu masih terus terasa. Tiap mengingatkan, tiap itu pula aku terus memanjatkan doa untuknya. Aku memutuskan untuk pindah sekolah, tragedi itu benar-benar membuatku trauma, bahkan sekalipun hingga kini aku tak pernah berkunjung atau sekadar melewati sekolah itu.
Itu bukan kunjungan terakhirku, setiap aku merasa pertahananku goyah maka aku akan kembali pada eyang Chiriku. Pernah dini hari kakak membawaku ke gunung karena aku berteriak-teriak tidak jelas sedang bibi tidak berada di rumahnya. Aku benar-benar merepotkan keluargaku.
.
.
"Sakura cepatlah! Kau mau terlambat?"
"Iya maaa..."
Kuhampiri cermin untuk memastikan segalanya telah sempurna. Aku berputar dua kali, hanya untuk menutupi rasa gugupku sekaligus rasa bahagiaku yang amat sangat. Sebelum keluar kamar aku menyempatkan untuk berdoa, menyampaikan segala rasa syukur dan kembali meminta bibimbingan untuk jalan hidupku berikutnya pada-NYA.
Aku menuruni tangga dengan tergesa, tak baik membiarkan orang menunggu terlalu lama, menunggu itu menyakitkan! Di bawah kulihat kakakku Gaara dengan kameranya, ada mama yang membantu eyang berdiri sesaat setelah melihatku, ada pula bibi Tsunade dengan senyum khasnya. Ah, berkali-kali kulihat bibi dia sama sekali tidak berubah sejak dulu, bahkan mamalah yang terlihat berubah jauh lebih tua.
"Lama sekali nonaaaa..."
"Eitssss.." Kutangkap tangan kakakku sebelum ia mengacak rambutku, enak saja, aku menyiapkan rambutku selama satu jam dan dengan entengnya dia ingin merusaknya kembali!
"Gaaraaaa..."
"Baiklah mama, aku tidak berulah.." Kakakku mengangkat ke dua tangannya tanda menyerah, aku mencintai mamaku karena dia selalu mengerti dan aku heran dengan kakakku karena rasa cemburu yang sama sekali tidak dia miliki.
"Kalau begitu, sebelum berangkat kita buat kenang-kenangan dulu.." Kakakku menyiapkan kameranya, aku membantu eyang Chiriku untuk berdiri di sebelahku, kali ini aku di tengah karena hari ini adalah hariku.
Selalu begitu, setiap hari penting kakakku akan menjadi fotografer dadakan. Hasil fotonya telah banyak menghiasi dinding-dinding rumah, dan kebanyakan dari figura itu adalah wajahku, entahlah kata kakak aku adalah model terbaiknya atau memang dia tak punya model lain. Tak lupa kupanggil Haru, meski tak akan tertangkap kamera yang pasti aku tahu dia di sana.
Aku berdiri di tengah, di samping kananku ada eyang Chiriku, aku memeluk lengannya. Di sebelah kiriku ada mama, dan di sebelah eyang Chiriku ada bibi Tsunade, di depan kami Haru siap dengan posisi selojoran andalannya, dan kakakku entahlah terserah dia mau di mana.
"10 detik cukup?" Seru kakakku masih menyetel kameranya
"Itu terlalu lama, pikirkan rematik eyang..!"
'TAK'
"Awww.." Mama memukul kepalaku dengan tas tangannya, rasanya sakit sekali.
"Perhatikan ucapanmu!" Tegur mamaku dengan senyum palsunya.
"Hahaha, cepatlah rematikku mulai kambuh," Eyang Chiriku malah puas tertawa.
"SIAAAPPPP..." Kakakku berteriak lalu, lalu berlari memeluk mama manja dengan kepala di senderkan ke bahu mama, sama sekali tidak pantas apalagi dia lebih tinggi dari mama. Mama hanya senyum-senyum saja.
"Sakura rindu papa.."
'TIIII TIIIITTTT TITITITITITIIII CKLIIIKKK'
.
.
Bersyukurlah atas apa yang Tuhan kasih, sejatinya untuk meraih kebahagiaan dibutuhkan penderitaan yang berkali-kali. Hari ini, hari penamatanku untuk sekolah menengah pertama. Aku berlari memeluk mama sesaat setelah upacara selesai.
Kulihat likuid yang menetes dari mata yang tak pernah menatap buruk padaku. Di saat orang-orang mengatakan aku aneh, maka mama selalu memeperlakukanku sebagai anak normal. Jika aku mempertanyakan mengapa? mama akan menjawab "Sakura tidak aneh, ia hanya berbeda, dan itu yang membuatnya istimewa!"
"Hei Nona, ada yang butuh pelukan di sini.." Suara kakakku membuat palukan mama mengendor, aku beralih memeluknya.
Kali ini kubiarkan kakak mengacak rambutku sepuasnya, memang itulah kebiasaannya. Kakak terhebat sedunia, hanya aku yang memilikinya!
"Ehemmm" Bibi mendekat dengan menggandeng eyang Chiriku, aku langsung menghambur memeluk mereka.
Dua guru yang sangat aku hormati, guru yang bahkan jauh lebih hebat dari guru-guruku di sekolah. Bagiku mereka adalah penyambung hidupku kini, aku tidak yakin masih bisa berdiri di sini jika tidak ada mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah kematian papa, aku sangat merindukannya. Tak pernah putus doaku untukmu papa, aku yakin Tuhan selalu menjaga papa. Mataku tertutup untuk wujud papa, jadi aku tak khawatir dengan sesuatu yang menyesatkan jalan papa di sana.
Suasana haru semakin larut kala menyadari jika hari ini bukan hanya hari perpisahanku dengan sekolah, tapi juga hari perpisahanku dengan keluargaku. Aku menangis bukan karena tak rela. Tapi karena rasa takutku menghadapi hari esok tanpa mereka.
Aku menyadari tengah menentang takdir yang diwariskan leluhur, tak akan kuikuti jejak mereka. Menentang bukan berarti melawan, cukup diam dan ikuti alurnya hingga permainan takdir sendiri yang membawamu di akhir dan perangilah!
Berjudi dengan takdir yang mempertaruhkan hidup, aku sudah siap!
.
.
[Normal]
'TOK..TOKK..'
Bukannya membuka pintu, seseorang di balik selimut malah semakin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan kasur. Ia mendengar namun tak kuasa untuk lepas dari jeratan kantuk yang kian menjadi-jadi.
'TOK TOK TOK TOK'
Ketukan pintu semakin keras menandakan ketergesahan seseorang yang berada di balik pintu untuk segera berjumpa dengan dia yang tengah bergulat dengan kenyamanan selimut. Sang empunya kamarpun mulai mengumpulkan kesadarannya, dia tahu, semakin dibiarkan maka ketukan itu malah semakin menjadi-jadi dan tidur nyenyaknya tak akan bisa disebut tidur nyenyak lagi.
Dengan langkah sempoyongan, mata yang menyipit dan sesekali menabrak benda berserakan yang tak terlihat akibat suasana gelap serta tak adanya niat untuk membuka mata menyebabkannya berjalan tanpa arah.
'CKLEK'
Pintu terbuka perlahan, mempertemukan seorang gadis yang rapi dengan ransel di punggungnya dan seorang pria dengan rambut acak-acakan, mata tertutup dan iler yang belum sempat mengering.
"Kakaakk..." Sakura mengatur suaranya agar tak terlalu keras dan tak terdengar berbisik juga
"Apaa?"
"Antar aku ke gunung," Masih dengan nada yang sama, melihat kakaknya yang jauh lebih mirip zombi dari pada manusia.
"Jangan bercanda, kembalilah tidur.." Gaara tak habis pikir, ada apa dengan otak adiknya? Sakura memanglah gadis yang berbeda, keinginannya selalu tak wajar, tapi untuk sekarang biarkan Gaara terlelap sedikit. Gaara benar-benar tak sanggup menolak rayuan kasur yang sejak tadi seolah memanggil-manggilnya untuk segera kembali tidur.
"Kakak, pagi nanti bibi akan membawaku pergi. Setidaknya aku harus ke gunung dulu, mengertilah.." Sakura mulai mengeluarkan jurus andalannya, menggoyang-goyangkan tangan Gaara dengan suara yang dibuat semanja mungkin.
"Kau sadar jam berapa sekarang? Kembali ke kamarmu!" Kali ini Gaara terpaksa membentak adik kesayangannya itu, bukan kali pertama Sakura meminta ke gunung di pagi buta dan itu tidak wajar. Gaara sudah siap berjalan kembali ke kasurnya, namun tangan dingin Sakura lebih dulu menghentikan langkahnya.
"Kakak.."
.
Hari masih gelap, udara begitu dingin menyengat membuat kaca jendela mobil sport putih milik Gaara penuh dengan titik embun. Gaara tak henti-hentinya meruntuki diri akibat pertahanannya yang lemah di hadapan Sakura. Adik gilanya itu berhasil menggiringnya pergi hanya dengan sebuah tatapan memohon dengan likuid bening yang hampir tumpah. Entah dari mana Sakura belajar melakukan itu, yang pasti sakura telah berhasil memanfaatkan kelemahannya untuk dirinya sendiri.
"Kau gila Sakuara!"
"Hehehehee.."
"Berhenti sok polos, kau berhutang penjelasan pada mama dan bibi pagi nanti."
"Kan ada kak.."
"Dan berhenti menyerahkan semua kesalahanmu padaku, belajarlah untuk menanggungnya sendiri Sakura!" Gaara memotong perkataan Sakura. Setiap kali Sakura melakukan hal yang dia ingin kan sendiri akan berakhir pada Gaara yang selalu ikut serta, dan menyedihkannya lagi semua yang dilakukan Sakura akan ditanggung oleh Gaara. Inilah akibat dari seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
"Iya, maaf kak tapi aku harus memastikan sesuatu." Sakura menunduk, menyadari kesalahannya yang memang selalu merepotkan Gaara. Namun tak ada pilihan lain, Sakura belum diperbolehkan mengendarai mobil sendiri. Makanya meminta tolong Gaara adalah jalan satu-satunya, mengingat selama ini Sakura tidak memiliki satupun teman.
"Kakak STOPPP!" Gaara menghentikan mobilnya tiba-tiba akibat teriakan Sakura.
"Apa-apaan kau Sakura!" Gaara berteriak kaget dengan tingkah Sakura, ia mengedarkan pandangan untuk memastikan apa yang membuat Sakura ingin berhenti. Namun tak ada apa-apa di depan sana.
"Tunggu di sini!" Tak menjawab perkataan Gaara, Sakura langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju kabut hingga hilang di pandangan Gaara.
Apa yang dilihat Gaara berbeda dengan apa yang dilihat Sakura. Gaara tak melihat sebuah cahaya putih kebiruan beterbangan di depan mereka, namun Sakura begitu jelas melihatnya. Sakura berjalan mengikuti cahaya itu, dalam lima langkah ia berhenti sejenak memandang sekitar, dan kembali berjalan. Seperti ada magnet yang menarik Sakura untuk terus mengikuti cahaya itu, dan entah sejak kapan cahaya itu perlahan berubah menjadi seorang wanita dengan lilitan kain biru di tubuhnya.
Pakaian yang dia kenakan sama sekali tak ada jahitan, hanya sebuah kain yang dililit hingga membungkus tubuhnya dengan lekukan yang enak di pandang. Wanita itu memiliki rambut panjang yang senada denganya, pink. Hanya saja wanita ini lebih tinggi dibanding Sakura.
Tak lama wanita itu berhenti, dan Sakurapun ikut berhenti memberikan jarak sekitar tiga meter di antara keduannya. Wanita itu berbalik, dan berhasil membuat Sakura membulatkan matanya. Sakura seperti bercermin, wajah dan matanya mirip dengan Sakura. Yang berbeda adalah tanda segel di kening wanita itu mirip dengan milik Tsunade tapi Sakura tidak memilikinya.
"Si..siapa?"
Wanita itu menjawab dengan senyum dan anggukan pada Sakura. Membuat Sakura semakin heran dan ketakutan sendiri.
"Ra..sakuraa.. SAKURA!" Gaara menggoyang-goyangkan bahu Sakura. Sudah lima menit mereka sampai, dan sudah lima menit pula Gaara berusaha membangunkan Sakura yang tertidur atau malahan pingsan.
"Ya Tuhaan.." Seketika Sakura bangun, dengan keringat dan wajah yang memucat. Gaara langsung menyodorkan air pada adik malangnya.
"Kamu kenapa, mimpi buruk?" Sakura mengangguk dan meminum air pemberian Gaara. Sakura sama sekali tak menganggap apa yang ia alami hanya sekadar mimpi, semuanya seperti nyata. Malah Sakura heran mengapa ia tertidur di mobil sedang jelas tadi Sakura bersama dengan wanita itu.
"Istirahatlah, kau mungkin lelah, kita tunda saja ke gunungnya."
"Bagaimana bisa menundanya kalau kita sudah sampai."
Tak menghiraukan ucapan Gaara, Sakura langsung keluar mobil dan berlari menuju tangga yang akan membawanya ke kediaman eyang Chiriku. Gaara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gegabah Sakura.
Gaara tak mengikuti Sakura, seperti biasa ia hanya mengantar dan tak berani untuk naik ke gunung itu. Ada sesuatu yang membuat Gaara enggan untuk naik ke gunung, dan ia tidak mengetahui apa itu. Gaara memutar mobilnya menuju pantai untuk beristirahat menunggu pagi.
Sakura mengeratkan jaketnya, menapaki anak tangga dengan tergesa. Tak lupa ia melafalkan doa untuk sekadar meminta izin melewati tempat itu.
"Tidak usah terlalu memikirkan apa yang wanita itu katakan Sakura.." Sedikit kaget mendengar suara Haru. Ternyata benar, Sakura tidak sedang bermimpi bertemu dengan wanita yang mirip dengannya. Entah penanda apa yang membawa wanita itu muncul, Sakura harus mencari tahu.
"Dia tidak memiliki aura negatif Haru,"
"Bukan tidak memiliki Sakura, tapi sama sekali tidak ada aura negatif ataupun positif."
"Ada juga yang seperti itu?"
"Cepat atau lambat kau akan segera tahu.."
"Diamlah, kau tambah membuatku pusing, sama saja dengan bibi,"
"Saya tidak yakin tindakan Anda benar kali ini," Sakura menghentikan langkahnya, ada rasa kesal mendengar Haru meragukan dirinya kini. Selama ini Haru selalu mendukung apa yang Sakura lalukan, atau memang tindakan Sakura kali ini salah?
"Haru, jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" Sakura menengadah menatap langit, berharap gelap masih disana.
"Patuh pada aturan,"
"Masalahnya aku pemberontak Haru, jangan terlalu lama diam. Menerkamlah sebelum kau diterkam! Tuhan akan mengabaikan mereka yang diam." Sakura kembali melanjutkan langkahnya, kali ini tak tergesa karena dia tahu malam masih panjang.
"Manusia yang terlalu banyak mempertanyakan hukum Tuhan, tanpa sadar... hatinya akan terpenjara, mungkin seperti Anda."
"Hahahaa, aku memiliki hukumku sendiri Haru, aku tak akan menghalangi campur tangan Tuhan. Setidaknya sebelum semuanya terjawab, kuharap Tuhan selalu bersamaku."
"Pasti!"
Sakura menyunggingkan seulas senyum mendengar jawaban Haru, suntikan penyemangat bagi Sakura walaupun hanya dengan satu kata.
"Dia mengatakan aku harus segera ke pulau itu, tak ada waktu lagi!" Sakura mengingat-ingat pembicaraan singkatnya dengan wanita yang mirip dengannya. Entah benar atau hanya permainan jin, yang Sakura tahu di pulau itu segalanya mungkin akan terjawab atau malah akan berakhir? Atau tidak keduanya?
"Terlalu terobsesi dengan satu hal itu tidak terlalu baik, sama halnya dengan tindakan Anda malam ini."
"Kau pikir kenapa aku harus bersemedi di air terjun saat pagi, dan melarangku untuk melakukannya saat malam hari?"
Sebelum Haru menjawab pertanyaan Sakura, mereka telah sampai pada tujuannya. Bukan menemui eyang Chiriku, tapi mencari kebenaran pada air terjun. Haru memiliki perasaan yang tidak enak dengan tindakan Sakura kini, bahkan sejak tadi dia berharap pagi segera datang. Tapi sepertinya, tak ada yang bisa menghentikan rasa penasaran Sakura.
"Sakuraa.."
"Sssttt, diamlah kau akan membangunkan eyang!"
Sakura membuka jaket dan ranselnya. Seperti biasa, ia melangkahkan kakinya pada batu pertama yang agak lebar menuju tengah air terjun.
"Sssshhhh dingin.." Air pada malam hari memang jauh lebih dingin. Tapi itu tak menjadi halangan untuk Sakura. Semakin jauh melangkah, ia semakin dekat dengan pertengahan air terjun dan tubuhnyapun semakin tenggelam.
"Eh?"
Sakura kaget namun hanya sebentar, ia merasakan ada yang menyentuh kedua kakinya, terus membimbingnya untuk melangkah semakin dalam. Saat tiba di tengah, Sakura tidak mengetahui jika permukaan air terjun bisa sedalam ini, menenggelamkan tubuhnya yang sebelumnya hanya sebatas pinggang. Jelas sudah siapa yang memegang kakinya, karena kini ia tengah memegang tangannya menuntunnya ke sebuah pintu berwarna emas yang begitu bersinar bahkan di bawah air.
"Sakura kembali!" Samar Sakura mendengar suara Haru, tapi orang yang menuntunnya memegang erat tangan Sakura, tak memberi kesempatan untuk menolak.
Dia seorang wanita, memiliki rambut panjang yang lebat. Pakaiannya seperti pakaian kerajaan dengan mahkota kecil di pucuk kepalanya, cantik sekali pikir Sakura. Semakin lama, Sakura merasa dadanya Sakit ia harus bernafas untuk mendapatkan udara. Beberapa kali Sakura mencoba lepas dari pegangan wanita itu tapi tidak bisa.
"Sial!" Sakura melihat pintu emas di depannya semakin dekat dan semakin terbuka. Tapi sebelum Sakura memasuki pintu itu, seseorang terlebih dahulu menarik rambutnya ke permukaan, rasanya sakit sekali.
"Haahhhhh..." Sakura merauk udara sebanyak-banyaknya saat tiba di permukaan. Paru-parunya sakit, dan ia merasa begitu dingin.
"CEROBOH!"
Kondisi Sakura tidak memungkinkan untuk mencerna bentakan eyang Chiriku. Tubuhnya terangkat ke daratan, namun jiwanya seperti terbawa oleh wanita bermahkota di bawah sana. Lututnya gemetar, bukan tanpa tenaga, namun hawa dingin yang Sakura rasakan jauh lebih menusuk setelah ia terangkat dari air.
"Eyang, ada apa dengan Sakura?" Suara Mebuki memecah hening pada pagi itu. Setelah mendapati kedua anaknya tidak di rumah, bergegaslah ia menemui eyang Chiriku. Mebuki kenal dengan watak Sakura, hal semacam ini sudah tak membuatnya kaget lagi.
"Anak ini, kapan dia bisa belajar mematuhi aturan! Ckckck.." Eyang Chiriku menggelengkan kepalanya, jelas sekali ia melihat sebuah rambut hitam di dalam air yang perlahan tenggelam dan lenyap di bawah sana. Sedikit saja ia terlambat, maka Sakura tak akan bisa keluar lagi.
"Sudah jangan bertanya yang macam-macam dulu, batu Sakura masuk!" Eyang Chiriku meninggalkan Sakura yang masih linglung bersama Mebuki yang masih terus menuntut jawaban padanya.
Pagi hari yang harusnya sejuk dan menyegarkan, berubah menjadi tragedi pelik yang harusnya bisa dicegah kalau saja Sakura tidak menuruti egonya, setidaknya itu yang dipikirkan Eyang Chiriku. Semakin lama perkembangan perilaku Sakura semakin susah untuk dikendalikan, kehadiran Haru hanya memberi sedikit dampak, selebihnya selalu Sakura yang mengambil alih kendali.
Apa yang dipikirkan Eyang Chiriku, sepertinya sama dengan seseorang yang tengah berada di ruang meditasi, Tsunade.
"Jangan menunda terlalu lama Tsunade, waktu tak bisa menunggu dan tak akan bisa dikejar!" Eyang Chiriku mengambil tempat di sebelah wanita paruh baya yang sejak tadi hanya bisa mencuri dengar dari kejadian di luar sana.
"Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan dihadapi Sakura di sana nanti,"
"Akan lebih baik jika kita tidak tahu, sedang di sini kita jelas tahu keberadaan Sakura tidak lah aman!" Eyang Chiriku sedikit mengertak sikap Tsunade yang dianggap terlalu lembek pada Sakura.
Tsunade diam, hanya batinnya yang tengah berdialog dengan logika yang menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa apa yang kita tidak ketahui mungkin akan jauh mengerikan dari pada apa yang jelas kita tahu. Tapi, Tsunade hanya menyimpan semuanya dalam kebisuan. Membantah eyang Chiriku hanya akan memperpanjang masalah, terlebih Tsunade jelas tahu jika segala yang ada di sana akan menjawab segala keingintahuannya.
"Bersiaplah, kita bawa Sakura sekarang!" Satu jawaban dari Tsunade membawa senyum dari bibir keriput eyang Chiriku.
.
.
MONOKROM
