o0o

naunau01 presented

GORE fict for this chapter

Just for 14+

EXO, Leeteuk, Taemin, Hyoyeon-Sooyoung is HERE!

This is OOC, typo(s), NOT REAL, and for dominant genre always I mention at startup

IF YOU DON'T LIKE THIS FICT, CLOSE THE TAB, WILL YOU?

o0o

.

.

.

.

.

The story is begin

.

.

.

.

.

MIRROR

Chapter 9

.

.

.

.

Last time in last chap : SuLay scene {Seoul Memorial Hospital ( Tuesday, 8th October)}

Now : One place (Thursday, 10th October)

.-.

.-.

.-.

Chanyeol tidak mengingat apapun bagaimana dia bisa sampai disini. Disebuah kamar bernuansa biru putih yang nyaman, dengan seorang gadis berambut hitam panjang agak ikal di hadapannya. Gadis itu menatapnya penuh selidik sekaligus khawatir, namun tetap menjaga jarak dengannya karena ia berdiri di samping lemari pakaian besar bewarna hitam.

" Ini—" Chanyeol kembali melemparkan pandangan ke sekitar "—dimana?"

" Tuan baik-baik saja?" gadis itu malah balik bertanya.

Chanyeol mengernyit. " Entahlah. Kepalaku terasa berat. Aduuh…" Chanyeol mengerang, membuat gadis itu langsung berdiri tegak dan menghampiri Chanyeol. Tapi baru saja selangkah maju, gadis itu berhenti. Tampak seperti sedang menahan diri untuk tidak mendekat. Chanyeol yang sekilas melihat itu merasa bingung sekaligus tersinggung, walau dia lebih memilih untuk merasa tersinggung. Memangnya aku ini apa? batin Chanyeol jengkel, aku kan bukan orang jahat.

" T—tuan istirahat saja dulu," kata gadis itu cepat, terdengar sangat aneh dan tidak jelas di telinga Chanyeol.

" Huh? Maaf, kau bilang apa? Akh, kepalaku…"

" A—aku akan ambilkan sarapan." Setelah selesai bicara, gadis itu berbalik dan melangkah keluar dengan tergesa. Bukan, bukan tergesa. Tetapi lebih tepatnya kabur.

Chanyeol menggeleng, tapi akibatnya sangat fatal karena kegiatannya barusan malah membuat kepalanya terasa berputar-putar dan perutnya mual. Chanyeol mencengkram kuat tepi meja kecil di samping ranjangnya, matanya terpejam erat, berkonsentrasi penuh untuk mengumpulkan kesadaran. Dan setelah dirasakannya kepalanya mulai membaik dan perutnya tidak bergejolak lagi, Chanyeol membuka mata dan berdiri. Agak sempoyongan namun dia berhasil berdiri tegak, lalu mulai meneliti keadaan sekitarnya dengan kesadaran yang masih on-off itu.

Iya, benar, dia sedang berada disebuah kamar. Kamar yang mewah. Bukan karena perabotannya, tetapi karena kesederhanaan dan kelapangannya. Tidak seperti kamar kakak dan kedua orang tuanya yang fantastis itu, atau kamarnya sendiri yang agak berantakan. Sebab ini hanyalah kamar seorang gadis yang Chanyeol perkirakan masih SMA. Dia bisa melihat sebuah seragam tergantung di gantungan baju.

Kamar ini tak banyak perabot, seperti yang dikatakan di awal, kamar ini lapang karena memang tidak banyak perabot. Perabot yang bisa dibilang besar hanya ada lemari, ranjang, meja rias, meja belajar, dan rak buku. Hanya itu. Sisanya, dibiarkan kosong.

Tiba-tiba, Chanyeol merasa penasaran dengan gadis pemilik kamar ini. Sebab tidak ada petunjuk yang memberitahu identitas si gadis. Bahkan, foto pun tidak ada, atau sekedar kalender atau poster idol yang kebanyakan remaja perempuan simpan di dinding kamar mereka.

Chanyeol menghampiri meja kecil di samping ranjang. Hanya ada lampu tidur di atasnya dan sebuah buku bacaan. Dia melihat ada laci di bawahnya. Chanyeol sempat ragu untuk membuka laci itu, tapi setelah membulatkan tekad dan meyakinkan diri bahwa tindakan ini tidak salah, Chanyeol pun membukanya.

.

.

.

Terkunci.

.

.

Chanyeol pun sadar bahwa sebenarnya ini tidak boleh, apapun alasannya. Untung lacinya terkunci, pikirnya lega, mungkin sebaiknya memang jangan dibuka.

.

.

.

TAP, TAP, TAP…

Chanyeol tersentak dan langsung melompat ke ranjang, lalu merebahkan diri. Dalam hati, dia kembali menggerutu kenapa tadi pakai acara lompat segala kalau hasilnya malah membuat kepalanya kembali berdenyut.

.

.

KRIET… pintu terbuka. Dan gadis itu kembali dengan senampan makanan yang dari baunya saja sudah dapat ditebak. Pasti semangkuk bubur hangat dan roti panggang isi. Ditambah dengan segelas susu. Dan samar-samar, Chanyeol mencium aroma madu. Chanyeol membuka sedikit kelopak matanya, mencoba mengintip. Ternyata gadis itu tengah menatapnya polos dan Chanyeol langsung membuka mata, bangkit perlahan.

" Maafkan aku telah merepotkan Anda," kata Chanyeol dengan suara serak.

Gadis itu tersenyum, duduk di tepi ranjang dan meletakan nampan di atas pangkuannya. Ia mendongak, menatap Chanyeol dengan pandangan ramah. " Tidak apa-apa, ahjussi."

" Ahjussi?" Chanyeol terkejut. Setua itukah dirinya di mata gadis itu?

Gadis itu mengedip. " Eh? Ahjussi tidak boleh? Apakah aku harus memanggil—"

" Oppa. Panggil aku oppa. Aku tidak setua itu tahu!" timpal Chanyeol agak sewot yang membuat sang gadis tersenyum geli.

" Ne, oppa—?"

" Chanyeol."

" Cha—chanyeol oppa."

" Bagus!" Chanyeol mengacungkan dua jempol dan gadis itu hanya tersenyum. Kemudian gadis itu segera meletakkan nampan di atas kaki Chanyeol yang tengah selonjoran, memberi kode pada Chanyeol untuk makan.

" Ah, gamshamnida."

Gadis itu mengangguk. Kemudian berkata, " Oppa, aku harus pergi karena suatu urusan. Tidak apa-apa kan kalau kutinggal sendiri?"

Gerakan Chanyeol mengunyah roti melambat. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan seperti sedang memutuskan. Kemudian, Chanyeol mengangguk dan tersenyum.

" Silahkan. Aku tidak keberatan."

" Gamshamnida oppa."

" Ah, seharusnya aku yang berterima kasih." Chanyeol terkekeh pelan. " Terima kasih banyak—?"

" Lee Arang." Gadis itu tersenyum, membungkukkan badan, lantas segera pergi setelah sebelumnya mengambil tas kecil dan jaket kulit berwarnahitam dari balik pintu. Meninggalkan Chanyeol yang tampak senyum-senyum sendiri sambil menatap sarapan di depannya.

" Lee Arang," gumamnya, tersenyum kecil, dan kembali mengunyah rotinya. Senyumannya tak pernah luntur sedikitpun.

o0o

o0o

o0o

Continue

o0o

o0o

o0o

Chanyeol membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjap sebentar, kemudian meregangkan tubuh sebelum bangun. Kepalanya tak lagi sakit, hanya pening sedikit tapi itu tidak masalah. Dia bisa minum obat nanti.

Iseng-iseng Chanyeol menoleh ke arah jam dinding, antara penasaran dan tidak. Di jam, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Menyadari itu bola mata Chanyeol nyaris melompat keluar. Secara otomatis, otaknya mulai mengkalkulasi sendiri berapa lama ia tidur.

Saat itu juga, Chanyeol langsung ingat : ini hari apa?

Kemudian : dan ini dimana?

Memikirkannya saja sudah membuat kepala Chanyeol makin penat.

Chanyeol mengerang frustasi, kemudian merogoh kantong belakang celananya, mencari iPhone. Setelah mendapatkannya, Chanyeol segera membuka kunci pengaman dan membuka aplikasi kalender disana.

Tertulis : 10 Oktober

Chanyeol langsung lemas. Belum lagi bertumpuk-tumpuk pesan singkat dan eligio dari kakaknya, orang tuanya, dan asisten pribadinya. Iya, dia punya asisten. Banyak sekali asisten. Tapi sekarang, Chanyeol terlalu letih untuk menelepon salah satu diantara mereka. Akhirnya dia memilih untuk membaca secara cepat setiap pesan yang masuk.

Pada intinya, semua isinya sama. Yaitu : KAU DIMANA DAN APAKAH KAU BAIK-BAIK SAJA? Dan, disetiap pesan yang dikirim kakaknya dan salah satu asisten pribadinya yang…eum, gaul, pasti selalu dilengkapi dengan bermacam-macam emot serta tanda baca yang berlebihan hingga matanya terasa seperti kecolok. Chanyeol mendesah berat. Ia masukkan iPhone-nya ke saku celana. Ia sudah sangat yakin ketika nanti tiba di rumah, dia akan dimarahi habis-habisan. Dia paling takut jika ayah dan kakaknya marah besar, sedangkan ibunya jika sedang marah, malah menangis. Hal itu justru membuat Chanyeol kelabakan.

Jadi pada intinya, siapapun yang akan memarahinya nanti di rumah, tak ada yang mendekati kata 'mendingan'.

Kemudian Chanyeol mengeluarkan dompetnya, memastikan apakah masih ada cukup uang untuk pulang. Pulsanya habis jadi dia tidak bisa menelepon atau mengirim pesan singkat pada siapapun. Jadi dia akan menunggu sampai ada yang menghubunginya, dan selama menunggu, Chanyeol akan mencari tempat penjualan pulsa elektrik terdekat. Karena setahunya, kamar gadis ini tidak dilengkapi telepon.

Yeah, uangnya lebih dari cukup. Chanyeol menghembuskan napas lega. Sekarang, dia siap pulang.

Chanyeol berdiri dan dengan hati-hati memindahkan nampan yang ia letakan di bawah ranjang. Kemudian, ia kenakan sweter hitam, kacamata, dan topinya sebelum mengambil sepatu lalu mengenakannya dengan cepat. Setelah yakin tak ada yang tertinggal, Chanyeol merapikan tempat tidurnya dan membawa peralatan makan ke dapur untuk dia cuci. Ternyata benar, rumah kecil ini tak dilengkapi telepon karena ketika dia melewati ruang tengah (yang sepertinya ruang tamu juga), tak ada telepon disana.

Setelah semuanya beres, Chanyeol mencari kertas dan pena. Kemudian Chanyeol segera menulis pesan singkat disana. Isinya :

Dear Arang,

Terima kasih banyak atas kebaikanmu mau menolong dan merawatku selama 2 hari ini. Aku minta maaf jika telah menyusahkanmu.

Sekali lagi, aku minta maaf sekaligus berterima kasih sebanyak-banyaknya.

Chanyeol Wu

Chanyeol meringis ngeri melihat tulisannya yang besar-besar dan mirip ceker ayam itu. Tetapi ia segera melipat suratnya ketika teringat akan waktu. Ia letakan surat itu di atas ranjang di kamar gadis itu, kemudian meninggalkan beberapa lembar uang disana, beserta sebuah kenangan kecil : sebatang coklat yang tidak sempat ia makan. Coklatnya sudah agak lembek, tapi masih enak. Chanyeol yakin akan hal itu.

Chanyeol mengedarkan pandangan ke sekitar, berusaha mengingat semuanya tentang gadis ini untuk yang terakhir kali. Kemudian Chanyeol memejamkan mata, menarik napas dalam, dan segera keluar lewat jendela.

Chanyeol berlari kencang menembus malam, tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari jendela kamar si gadis.[]

.-.

.-.

.-.

.*.*.*.*.*.*.*.*.

.-.

.-.

.-.

Di sebuah mansion megah, dalam waktu yang sama…

.-.

.-.

.-.

" Sudah ayah bilang berapa kali, hah?! Awasi adikmu itu! Dia sedang tertekan karena kejadian yang baru saja dia alami. Sekarang dia malah menghilang. Tak tahukah kau kalau anak itu mempunyai potensi besar untuk membuat keributan?! Kau sendiri tahu seperti apa dia, hah?!"

Kris hanya menunduk menghadapi kemarahan ayahnya. Perasaannya tak enak sekaligus bersalah karena telah lalai menjalankan salah satu kewajibannya : mengawasi Chanyeol. Sejujurnya ia juga sangat khawatir pada Chanyeol yang tampak uring-uringan setelah di DO secara sepihak oleh sekolahnya. Dua hari yang lalu, Chanyeol memintanya untuk menjemputnya di kafe langganannya. Tetapi begitu tiba disana, ia tidak menemukan Chanyeol. Kris pun terpaksa berkeliling Seoul seharian itu untuk mencari Chanyeol yang tidak jelas kabarnya karena ponselnya tidak bisa dihubungi.

Ayahnya mendesah berat, memijit-mijit keningnya sendiri. Ia menyuruh pelayannya untuk membuatkannya teh hijau. Sedangkan Kris tetap diam, menunggu.

.

.

.

.

.

.

" Sekarang—" kata ayahnya setelah cukup lama diam. Suaranya terdengar lelah dan sedih. Ia menatap Kris dengan pandangan khawatir yang tak bisa dijelaskan, "—pergi cari adikmu. Dan jangan berani pulang sebelum kau menemukannya. Arraseo?"

Kris mendongak lantas mengangguk patuh. " Ne, algessemnida. Kalau begitu, aku pergi dulu ayah."

" Yeah," ayahnya mengibaskan tangan, " pergilah. Ingat, jangat berani pulang sebelum kau menemukannya."

Kris berdiri lalu membungkuk hormat, kemudian berjalan cepat keluar ruangan, terus berjalan tanpa mengurangi kecepatannya. Ia menghampiri salah satu mobilnya dari sekian banyaknya mobil yang ia miliki. Dan Kris segera mengeluarkan mobilnya dari pekarangan, sebelum melaju dengan kecepatan maksimum menembus malam.[]

.-.

.-.

.-.

.-.

.*.*.*.*.*.*.*.*.

.-.

.-.

.-.

.-.

Sementara itu…

.

.

.

Chanyeol terengah-engah. Kakinya terasa sangat pegal setelah berlari 'maraton'. Kerongkongannya terasa kering dan ia yakin ia dehidrasi. Bagian bawah perut agak kesebalah kiri pun juga terasa sangat sakit. Chanyeol berdiri tegak, masih terengah-engah, celingukan mencari kedai atau warung minuman yang bisa ia kunjungi. Matanya langsung berbinar begitu melihat sebuah kedai yang ramai. Samar-samar, dia mencium bau buble tea. Dengan segera Chanyeol kesana, tak sabar mengairi kerongkongannya yang sudah seperti Gurun Sahara itu.

.

.

.

.

" Em, permisi," kata Chanyeol pada seorang pelayan. Pelayan itu segera menghampiri Chanyeol dengan senyum merekah. " Selamat datang di Bogi Restaurant, tuan. Mau pesan apa?"

" Eum… Buble tea ada?" tanya Chanyeol salah tingkah karena keramahan sang pelayan.

" Tentu saja tuan. Mau yang rasa apa?"

" Em…Apa saja deh," jawab Chanyeol tak peduli karena mendadak malas berpikir. Pelayan itu segera mencatat pesanannya, dan ketika pelayan itu hendak pergi, Chanyeol menahannya.

" Eum, boleh aku minta dua gelas?" Chanyeol tersipu. " Dan semangkuk ramyeon."

Pelayan itu sepertinya berusaha menahan tawa. " Baik tuan. Pesanannya akan segera datang dalam 10 menit."

" Gamshamnida."

" Ne."

Chanyeol bernapas lega. Ia segera menselonjorkan kakinya dan menyenderkan tubuhnya pada kursi. Kemudian ia menurunkan tudung sweternya, melepas topi juga kacamata. Secara otomatis, tangannya merapikan rambut pirang kecoklatannya yang agak berantakan.

.

.

.

.

.

" Wah, wah, wah… Lihat gaya si Tuan Muda ini," kata seseorang dengan nada dingin mengejek, yang mampu membuat Chanyeol membeku. " Seperti raja dunia saja!"

Chanyeol menghembuskan napas dan memutar bola mata malas, kemudian kembali duduk tegak dan segera membalas tatapan dingin si empunya suara yang kini telah duduk manis di kursi kosong tepat di hadapannya. Lawan bicaranya menyeringai, matanya menatap Chanyeol dengan tatapan jijik sekaligus benci yang tak berusaha untuk disembunyikan.

" Aku tak mau mencari masalah denganmu," kata Chanyeol datar, " jadi pergilah!"

" Whoah…. Apa aku tak salah dengar?!" Dia tertawa mengejek. " Kau minta apa tadi? Aku pergi? Maaf Say, tapi kau bukan pemilik kedai ini. AKULAH pemilik kedai ini."

Mendengar itu Chanyeol merasa mati kutu. Tapi ia berusaha menyembunyikan kekalahannya dengan menatap tajam lawan bicaranya yang terus saja menyeringai sombong sekaligus meremehkan. " Kalau begitu, tentu saja sebagai pemilik kedai ini, kau peduli pada pengunjung bukan? Jangan ganggu kenyamanan pengunjungmu."

" Alasan yang bagus, Chanyeol Wu," katanya sambil memutar-mutar serenceng kunci di ujung jarinya. " Tapi jangan harap dengan itu aku akan melepaskanmu."

Chanyeol mengedik. " Urusan kita sudah selesai, Huang Zi Tao. Bukankah kau sudah menghancurkanku sesuai dengan keinginanmu?"

Huang Zi Tao atau Tao, mendongakkan kepala dan tertawa keras-keras hingga hampir semua orang disana menoleh menatapnya. Namun Tao tak peduli. Dia tetap tertawa keras hingga bahunya berguncang-guncang, dan hanya dengan itu saja sudah sanggup membuat Chanyeol merasa terintimidasi. Chanyeol bergerak-gerak gelisah di kursinya. Tangannya mencengkram erat pegangan kursi, namun ia masih berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi jika ia tak mau menyesal nantinya. Ia memutuskan untuk mengalah kali ini, membiarkan Tao menganggapnya lemah atau apalah. Karena mengalah bukan berarti kalah, bukan?

Setelah tawanya mereda, Tao kembali menatap Chanyeol. Seringai tercipta di bibirnya dan itu sangat mengerikan. Chanyeol makin erat mencengkram pegangan kursi, berusaha sekuat tenaga untuk tidak merusak wajah 'Panda Brengsek' di depannya. Napasnya memburu karena ketidakstabilan emosi, tapi ekspresi Chanyeol masih terlihat tenang.

" Kenapa Chanyeol?" tanya Tao dengan suara pelan, mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol, menatap tepat di manik mata Chanyeol yang membesar. Memiringkan kepala dan menatap Chanyeol seolah Chanyeol adalah boneka. " Kau ingin menghajarku, hmm?" Tao tersenyum. " Silahkan. Aku tidak peduli." Dia terkekeh pelan. " Atau kau ingin membunuhku?" Tao membelai lembut pipi Chanyeol sekilas. " Silahkan. Tapi kupastikan tak akan ada yang selamat dan tak ada kata ampun untuk orang-orang disekitarmu."

Chanyeol menyipitkan mata. Semburan udara dingin keluar dari paru-parunya, menghantam telak tepat di wajah Tao. Tapi Tao tak menghiraukannya dan malah terus melanjutkan kegiatannya.

" Kau tahu kenapa aku membencimu?" tanyanya, " sebab kau memang patut dibenci."

Chanyeol diam.

" Ahh… Jadi kau tak mengerti rupanya." Tao menjauhkan wajahnya dari wajah Chanyeol dan kembali duduk santai. Tangannya disilang di depan dadanya. " Kalau kau tak mengerti, bagaimana aku menjelaskannya padamu, huh?"

" Apa masalahmu?" tanya Chanyeol jengkel. Suaranya menjadi bertambah besar dan dalam ketika dia sedang menahan amarah. Matanya tak kuasa menyipit hingga membentuk garis hitam yang menusuk. " Apa karena Choi Sulli?"

Tao mendelik padanya, dan Chanyeol tahu bahwa dia tepat mengenai sasaran. Karena itu Chanyeol berusaha untuk tidak menyeringai, walau gagal karena tetap saja sudut bibirnya sedikit terangkat dan tatapannya berubah menjadi tatapan kemenangan. " Kau tidak suka karena Sulli lebih memilih diriku daripada kau? Karena aku lebih baik darimu, dan karena aku bukan namja brengsek yang mau begitu saja mengikuti permintaan orang lain seperti sapi yang dicocok hidungnya?"

Tao mendengus. " Sulli memilihmu karena dia tidak bodoh. Kau itu hanya dimanfaatkannya. Kau tahu? Kandungannya sudah menginjak usia 3 bulan dan ia berhak untuk mencari seorang ayah. Dan sasarannya adalah kau, Chanyeol Wu."

Chanyeol mengedik santai. Ia menatap Tao tanpa ekspresi. " Dia mencari ayah yang bertanggung jawab karena kau adalah namja berengsek, Huang Zi Tao." Chanyeol mulai menyeringai. " Semua orang selalu menganggapmu seperti itu. Seandainya kita dibandingkan, semua orang akan menyingkirkanmu dalam waktu lima detik, bahkan kurang."

" Kau yang berengsek, Chanyeol," desis Tao. Matanya menyipit, alisnya bertaut. " Kau merebut Sulli dariku, sialan!"

" Aku tidak merebutnya. Dialah yang melihatku."

" Kau tidak pantas dilihat. Siapa yang ingin melihat pembunuh, eoh?"

Chanyeol menelan ludah gugup dan melirik ke sekitar. Semua orang kini tengah menatapnya karena Tao mengucapkan kalimat tadi dengan suara keras. Ia mengalihkan tatapannya pada Tao, melihatnya menyeringai puas. Kepalanya mendongak angkuh dan dia melipat kedua tangan di dada. Ia senang sekali karena kembali berhasil menjatuhkan Chanyeol.

" Aku bukan pembunuh," kata Chanyeol sambil mencabut sehelai benang dari lengan jaketnya. " Kita berdua tahu siapa yang pembunuh disini, Tao."

Tao makin menyeringai. " Sayangnya hanya kita berdua saja yang tahu, Chanyeol. Orang lain hanya tahu bahwa kaulah pembunuh. Bukan aku."

" Kebenaran akan datang."

" HAH! Kebenaran?!" Tao menyemburkan kata itu seolah itu adalah sebuah aib. Ia mendengus jijik dan tertawa terpingkal-pingkal. Sesekali ia menggeleng-geleng. " Mengapa kau jadi religius begini, Yeol? Setan apa yang memasukimu? Atau, malaikat mana yang tersasar ke dalam jiwa iblismu, eoh?"

Chanyeol menggeram. " Kau yang iblis. Kau lah yang hina."

" Apa?" Tao menyipitkan mata. " Kau bilang apa? Katakanlah sekali lagi."

" Kau—" Chanyeol berdiri, menuding. Tubuhnya bergetar karena amarah. Rahangnya mengeras, dan ia menatap Tao seperti ingin membakarnya hidup-hidup. " Iblis! Kau pembunuh! Kau hina, Huang Zi Tao. Kau MUNAFIK! Seharusnya kau tidak pernah hidup! Kau pantas mat—"

Namun, belum selesai Chanyeol bicara, Tao sudah bangkit dari kursi begitu cepat hingga tampak kabur. Gerakannya begitu tak terduga hingga menyebabkan kursi yang didudukinya terjungkal ke belakang. Chanyeol bahkan belum sempat mencerna apa yang dilihatnya ketika tiba-tiba saja Tao sudah ada di depannya, mencengkram kerah baju dibalik sweternya hingga lehernya terasa sangat sakit. Orang-orang disekitar mereka memekik dan melarikan diri, membuat suasana menjadi kacau balau di dalam kedai maupun di luar.

" BERANI KAU BICARA SEPERTI ITU, AKAN KUPATAHKAN LEHERMU!" bentak Tao dengan suara menggelegar yang mampu memecahkan gendang telinga. Matanya melotot liar dan memerah, begitupun dengan wajahnya yang sudah bersimbah keringat. Chanyeol dapat merasakan andernalin yang mengalir cepat di bawah permukaan kulit Tao, dan Chanyeol tahu betul bahwa Tao sudah melebihi ambang batasnya. Ia tak akan ragu jika Tao melakukan hal-hal nekat dan mengerikan sekarang juga. Ia berani bertaruh untuk itu.

.

.

.

" Kau akan membayar mahal untuk itu, Chanyeol Wu Keparat!"

Tao mempererat cekikkannya pada leher Chanyeol, membuat Chanyeol megap-megap seperti ikan kehabisan air.

" Kau akan membayar semuanya. Aku bersumpah, .MATI!"

" L—lepas…Arghh!"

Chanyeol mendongak, berusaha mencari pasokan udara yang makin menipis. Dirasakannya seluruh tubuhnya menjadi dingin dan kebas. Kedua tangganya berusaha melepas cekikan Tao. Namun tenaganya sudah sangat berkurang sehingga ia tidak dapat melepaskan cekikan itu. Dan ketika Chanyeol merasa kedua kakinya tak lagi menyentuh tanah, Chanyeol memejamkan mata dan menelan ludah, berpikir, apa yang telah kau lakukan Chanyeol? Kau mendatangkan ajalmu sendiri!

Dan detik selanjutnya, Chanyeol merasa tubuhnya menjadi sangat ringan. Lingkungan disekitarnya mengabur menjadi kelebatan-kelebatan tidak jelas, dan ia masih dapat mendengar pekikan orang-orang yang makin menjadi-jadi.

Kemudian, dia merasa tubuh bagian belakangnya menghantam sesuatu yang dingin dan keras.

.

.

PRANG!

.

.

Tubuh Chanyeol terhempas hebat hingga menabrak pintu jendela samping yang tertutup dan menciptakan ledakan pecahan kaca yang berhamburan ke ruangan. Chanyeol tak langsung bangkit, dia malah mengerang sakit karena merasakan perih luar biasa di punggung, kepala bagian belakang, tangan, kaki, dan sisi kiri wajahnya. Masih dengan mengerang tertahan, Chanyeol membuka mata, sekilas melihat Tao telah memegang sebuah belati dan melangkah menghampiri Chanyeol. Chanyeol terengah, melirik kaki dan tangannya, kemudian melotot ngeri begitu melihat sebongkah kaca cukup besar yang ternoda darahnya menancap disana. Dan ketika dia melihat Tao lagi, Tao sudah berjarak tak lebih dari 20 meter darinya, rambut hitam yang berkilat itu menutupi sebelah matanya dan dia bisa melihat seringai kejam di bibirnya.

" Kau belum tahu ya bagaimana rasanya mati?" desisnya, lalu tertawa. " Sayang sekali. Tapi jangan khawatir, Chanyeolku sayang… Kau akan merasakannya sebentar lagi, dan maafkan aku, karena setelah ini kau tak bisa bangkit lagi. Kau tidak beruntung. Hahaha…!"

Chanyeol terengah-engah. Kakinya menendang-nendang, berusaha mendorong tubuhnya menjauh. Menyebabkan bokongnya tergores serpihan kaca dan menambah daftar perih di tubuhnya.

" Kau kira itu sakit, huh?!" Tao menjilat bibirnya. " Yah, baiklah. Aku akan menunjukanmu rasa sakit itu."

Dan Tao mengangkat tangannya, siap menghujamkan belati ke target yang telah terkunci. Chanyeol memejamkan mata, berharap rasa sakitnya akan cepat hilang dan semua ini berakhir. Ia ingin sekali menangis. Di dalam hati, ia berusaha untuk menyampaikan ucapan maaf pada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Tak lupa ucapan terima kasih dan ucapan perpisahan. Ia benar-benar ingin menangis, namun ditahannya. Ia merasa takut, namun disembunyikannya.

.

.

Dia masih ingin hidup.

.

.

Hidup dengan normal.

.

.

.

Dan Chanyeol pun menunggu. Ia terus mengulang-ulang ucapan maaf-terima kasih-selamat tinggal di dalam hati. Dan saat-saat seperti itulah, Chanyeol sadar akan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang berhubungan dengan dirinya setelah dia tak ada lagi di dunia.

.

.

.

.

Apakah Tuhan itu memang ada?

.

.

.

Jika ada, kemana nyawanya akan melayang? Ke surga, atau neraka?

.

.

.

Dan mengapa dia baru memikirkan itu sekarang? Sungguh, selama ini, kemana saja ia? Mengapa dia baru menyadari bahwa Tuhan itu ada? Bahwa Tuhan itu nyata?

.

.

.

.

Chanyeol tak dapat lagi membendung air matanya. Ia takut. Takut luar biasa. Takut mati. Takut Tuhan. Takut dihukum oleh-Nya. Dia takut setakut-takutnya, terlebih ketika maut mulai mencengkram kulitnya, menolak untuk melepaskan.

Tapi ia bisa apa? Inilah akhirnya.

.

.

.

.

Tiba-tiba ia mendengar pekikkan seseorang, kemudian suara benda menghantam sesuatu dengan keras dan diakhiri suara bedebum yang aneh. Dengan cepat Chanyeol membuka matanya, segera mencari sumber suara. Hatinya kalut jika yang menyelamatkannya adalah Kris. Karena dia tahu bahwa walau Kris jago bela diri, tapi dia bukan tandingan Tao. Kris pasti 'habis' di tangannya dalam hitungan detik.

Dan betapa terkejutnya Chanyeol saat ia melihat orang yang telah menyelamatkannya, orang yang tengah bergulat dengan Tao, orang yang tengah mempertahankan diri sekaligus merebut pisau dari tangan Tao, adalah seorang namja berpakaian coklat tua, celana hitam, sepatu sandal, dan berambut coklat eboni pendek setengkuk.

.

.

Ya tuhan ya tuhan ya tuhan ya tuhan YA TUHAN!

.

.

.

.

.

" B—Baekhyun!"

Orang itu menoleh, menatap Chanyeol dengan tatapan penuh kehangatan sebelum menghilang karena hantaman keras Tao di wajahnya. Baekhyun tersungkur dan pingsan begitu saja.

" Byun Baekhyun!"

" O-hohoho… Ini namjachingu-mu, hah? Dasar kalian manusia hina!" Tao meludah. " Sampah masyarakat! Kalian menjijikan!"

Chanyeol tidak menghiraukan Tao. Entah kekuatan darimana, Chanyeol mampu berdiri dan melangkah menghampiri Baekhyun. Ia bersimpuh di samping Baekhyun sambil mengabaikan rasa sakitnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengangkat kepala Baekhyun agar bersandar di pahanya. Chanyeol mendongak, matanya dikaburkan rasa benci dan dendam yang teramat sangat hingga tatapannya tampak berkabut.

" Kau… benar-benar iblis, Huang Zi Tao!"

" Itulah aku, Chanyeol Wu." Tao tergelak. " Kau baru menyadarinya, hah?! Kau baru sadar? Dasar tolol!" makinya tanpa ampun. Tapi kemudian, matanya berkilat mengerikan, dan Chanyeol berusaha menelan bulat-bulat rasa takutnya.

.

.

.

" Aku mempunyai sesuatu yang lain," katanya, separuh berbisik. " Bagaimana jika aku…membunuh dua burung dengan satu batu?"

Chanyeol mempererat rengkuhannya pada Baekhyun yang masih tak sadarkan diri, berusaha melindungi Baekhyun. Melihat itu Tao kembali terbahak, sebelum akhirnya menatap tajam Chanyeol dan Baekhyun bergantian. Genggamannya pada belati makin erat, dan Chanyeol tahu bahwa Tao telah membidik sasarannya, siap mengambil alih kehidupan yang mulai berputar menuju akhir.[]

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Okeh, ini kayaknya kekerasan BANGET. DON'T TRY THIS AT HOME!

Chapter ini bener-bener butuh perjuangan dalam pembuatannya. Karena itu, khusus chapter ini, boleh nggak aku minta WAJIB REVIEW? Untuk mengetahui apa respon & pendapat kalian mengenai chapter ini & chapter-chapter sebelumnya.

Review sebanyak-banyaaaakkkkk…nya yah. Baru nanti aku lanjut lagi. (^_^d) ;)

Dan terakhir, terima kasih untuk kalian, para pembaca—berbagai dukungan, antusiasme, saran, kritik yang membangun, serta pujian tak pernah gagal menceriakan hariku. TERIMA KASIH KARENA TELAH MENJADI BEGITU HEBATNYA!

A/N : Balasan review ada di PM masing-masing (^_^d).