DISCLAIMER
Visual Novel 'Rewrite' by Key Visual Arts 2011, Romeo Tanaka and Yuuto Tonokawa
Fanfic 'Truth Behind of That Gloves' by Sachiya Haruyuki 2014
Aku disini.
Terbaring di kasur sebuah kamar rumah sakit. Namun aku tak sendiri. Ada beberapa dokter yang memeriksakan tubuhku. Melakukan beberapa tes dan semacamnya. Ya. Itu karena mereka ingin memberitahuku seberapa bahayanya racun yang berada dalam panti asuhan itu.
Aku baru ingat mereka sempat mengatakan gejala-gejala negatif akan timbul pada orang biasa jika mereka berada dalam tempat itu selama sepuluh menit. Namun, aku sudah disana selama lebih dari 30 menit, termasuk saat Lucia juga ikut masuk ke dalamnya. Setelah aku mengatakan apa-apa yang kulakukan di panti asuhan itu mereka menanyaiku beberapa pertanyaan. Terutama soal tubuhku.
Tapi aku sendiri juga merasa tak percaya. Jika memang tempat itu segitu berbahayanya, kenapa kau memasang pagar yang bahkan mudah sekali untuk didaki? Itu menjadi pertanyaan besar buatku. Sudah begitu, nampaknya para dokter disini juga sudah lama mengetahui malapetaka panti asuhan itu. Dan mungkin juga termasuk cerita hantu tentang Asahi Haruka sendiri.
Ah, sudahlah.
"Tennouji... Bagaimana keadaanmu? Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Seperti yang sudah kukatakan, aku takkan mati."
Lucia masuk ke dalam kamar. Ia nampak khawatir. Seperti para dokter sebelumnya, ia menanyakanku beberapa hal yang terkesan aneh. Dan sekali lagi, aku hanya menjawab semuanya baik-baik saja.
"Para dokter sangat terkejut. Mereka mengatakan tubuhmu adalah satu dari satu milyar kasus, atau bahkan lebih jarang dibanding itu. Apa sebenarnya kau ini?"
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku Tennouji Kotarou. Murid kelas dua SMA."
"Hahaha... Itu hampir terlihat bodoh betapa normalnya dirimu."
"Dari apa yang mereka lakukan terhadapku, aku rasa racunmu memang sangat berbahaya."
"Begitulah..."
"Tapi aku tak apa-apa, jadi jangan khawatirkan aku."
"I-Iya..."
"Fuuu... Aku ingin secepatnya bisa keluar dari rumah sakit- mm?"
Lucia mengambil posisi bersimpuh di sampingku lalu memelukku. Wajahnya penuh dengan rasa lega, dan matanya penuh dengan air.
"Syukurlah... Kau tak mati karenaku..."
"Yeah. Memelukku seperti ini takkan meninggalkan tanda apapun."
"Kau benar... Aku belum pernah... Merasakan kehangatan seseorang... Sedekat ini..."
Ucapannya bukanlah sesuatu yang terasa berlebihan karena memang benar adanya. Dia akhirnya bisa menemukan seseorang, yang bisa disentuhnya tanpa harus menggunakan sarung tangannya.
...
...
...
"Ups~ Apa aku datang di waktu yang salah?"
Tak kusangka ada orang yang tak terduga datang kesini. Dan dia, Nishikujou-sensei?
"Hm? Ah! Ahem!"
Ketika Nishikujou-sensei muncul, muka Lucia memerah dan kembali ke posisinya semula. Aku bahkan tak menyangka ia akan datang juga kesini. Dan baru kusadari aku tak pernah memberitahu siapapun selain Lucia jika aku ingin ke rumah sakit. Jadi, dia tahu darimana aku ada disini?
"N-Nishikujou-sensei... Kenapa kau ada disini?"
"Uhuhuhu... Aku adalah guru SMA di siang hari~ Tapi ketika malam hari, aku adalah-!"
"Guh!"
Aku tidak mau membayangkan sesuatu yang teramat buruk. Tiba-tiba saja nada bicara Nishikujou-sensei berubah serius. Tak seperti biasanya.
"Seorang guru juga. Uhuhuhu~"
*sweatdropped*
"Sensei! Jangan mempermainkanku!"
Sialan. Aku tertipu dengan tingkahnya. Nishikujou-sensei, sebenarnya berapa umurmu!?
"Tapi kau beruntung. Aku tak menyangka kau lahir untuk mengobati racun Lucia-chan. Itu, sungguh sebuah keajaiban."
"Dan para dokter tidak henti-henti menanyakan ini padaku."
"Uhuhuhuhuhu..."
Mereka belum tahu apa-apa soal kekuatanku. Jadi mereka berasumsi bahwa imunitasku pada racunnya adalah sesuatu yang kudapat secara alami. Tapi aku merasa tak ingin menjelaskan itu sekarang, jadi aku membiarkannya.
Tapi, tunggu dulu.
Lucia-chan?
Racun?
"Nishikujou-sensei, jangan bilang kau menjadi guru SMA Kazamatsuri berbarengan dengan masuknya Inchou kah?"
"Haauu~ Rahasiaku terbongkar begitu saja?"
Nishikujou-sensei bereaksi seperti hendak menangis ketika aku berkata begitu. Ya ampun.
"Huhuhu. Kau benar, Tennouji-kun. Tepatnya aku yang selama ini mengurusi Lucia-chan dan Shizuru-chan hingga masuk sekolah yang sama denganmu."
Jika apa yang dikatakan Nishikujou-sensei itu benar, berarti memang sangat beralasan jika Lucia dan Nishikujou-sensei dikenal dekat. Tapi aku juga tak menyangka jika Shizuru juga begitu.
Tapi aku penasaran. Hubungan seperti apa yang ketiganya miliki?
"Baiklah... Tennouji-kun, aku perlu mengatakan beberapa hal padamu. Kau siap?"
"I-Iya..."
Kembali ekspresi tak biasanya terlihat dari wajah Nishikujou-sensei. Tapi kali ini penuh dengan kekhawatiran.
"Saat ini, media massa tengah mengincarmu, Tennouji-kun. Terutama saat kau keluar dari panti asuhan itu?"
"Eh?"
Oh, kelihatannya aku mengerti kemana maksud pembicaraan ini.
"Dari apa yang kau katakan sepertinya aku mengerti keinginanmu, Nishikujou-sensei. Kau memintaku untuk tutup mulut atas kejadian di Santa Brosia jika ada wartawan yang menanyakan ini. Apa aku salah?"
"Benar~ Malah aku ingin kau untuk melupakan apapun mengenai Santa Brosia. Kau bisa keluar dari tempat itu tanpa mengalami dampak negatif secara ajaib. Tapi akan sangat berbahaya jika mereka mengetahui bagaimana itu bisa terjadi padamu."
"Kalau memang sampai segitu berbahayanya, kenapa disana hanya ada dua pagar yang bahkan bisa dipanjati begitu saja?"
"Itu kami yang memasangnya. Dan itu juga kesalahan kami."
Lucia mengatakan itu dengan kepala agak tertunduk. Dan aku akhirnya bisa mengerti satu hal. Kesalahan mereka membiarkanku masuk ke dalam panti asuhan itu sejak awal.
Tapi akhirnya muncul satu pertanyaan lain.
"Lucia, bagaimana kau tahu aku akan pergi kesana?"
"Aku tak berpikir laki-laki sepertimu akan menghentikan investigasimu hanya karena aku menangis, makanya aku memperhatikanmu. Hari itu. Sejak awal."
Hee. Mengikutiku dari awal saat aku naik sepeda lalu melintasi hutan dengan jalan kaki, itu benar-benar gila. Dari pandanganku, terutama dari sikap Lucia, lebih terlihat seperti pasukan khusus ketimbang hubungan guru dengan murid.
Mungkin aku akan menanyakan itu nanti.
"Biar kukatakan sekali lagi. Kami ingin kau untuk melupakan panti asuhan itu, dan takkan pernah mengatakan tentang ini pada siapapun. Itu saja. Lagipula ini juga demi dirimu. Ingatlah itu."
Nishikujou-sensei berkata demikian sambil menunjuk pipi kiriku. Tentu saja akan sangat berbahaya bagiku, dan mungkin bagi kedua orang ini jika aku tak melakukan yang mereka minta. Bagiku yang terpenting sekarang adalah untuk tidak meninggalkan Konohana Lucia sendiri.
Jadi, selamat tinggal, Santa Brosia.
"Baik, baik... Aku takkan mengatakan hal ini pada siapapun. Lagipula, aku juga masih ingin hidup normal."
"Te-Terima kasih."
Tapi itu juga berarti.
"Dan ini juga sangat buruk bagi kalian jika aku mengatakan pada siapapun mengenai kalian, 'kan? Walaupun kalian tak mengatakan padaku mengenai diri kalian secara langsung, aku yakin kalian pasti berada dalam suatu hal yang teramat rahasia. Apapunlah itu."
Dan aku juga sebenarnya tak ingin tahu itu sekarang.
"Yap. Itu benar~ Dan, ah. Pemikiranmu juga sangat tajam sekali, Tennouji-kun~"
"Berarti kita dalam posisi yang sama sekarang. Aku bisa membuat permintaan untuk diriku sendiri."
"Pe-Permintaan?"
"Ya ampun, kira-kira apa ya?"
Aku langsung menoleh ke arah Lucia.
"Inchou, kau ingat kotak makan siang yang kau buat itu? Itu rasanya enak sekali. Kau sangat baik dalam hal memasak, 'kan? Biarkan aku mencobanya sekali. Itu permintaan pertamaku."
"Apa!? A-Apa yang kau...!?"
Wajah Inchou memerah dan mulai marah. Tapi Nishikujou-sensei justru tertawa.
"Huhuhuhuhuhuhuhu! Hmm, tidak terlalu berat, toh lagipula kita ini berada dalam sesuatu yang rahasia~ Lucia-chan, kau bisa melakukan itu demi kita, 'kan?"
"Ke-Kenapa...!?"
"Pe-rin-tah. Kau mau kan~?"
"Uu... A... U... Di-Dimengerti..."
Nomor dua,
"Semenjak kau akan memasakkan sesuatu untukku, ijinkan aku mengunjungi rumahmu dan makan malam denganmu. Oh iya, jangan sesuatu yang pedas."
"Ke-Kenapa aku harus memasak untukmu, Tennouji!?"
"Tak ada pilihan~ Itu juga perintah!"
"A-! A-A-... Di-Dimengerti..."
Nomor tiga,
"Pakai kostum maid ketika aku datang. Jangan lupa bando mu atau garterbelt mu!"
"Ke-Kenapa aku harus menggunakan itu!? Mati saja kau!"
"Baiklah, perintah selanjutnya~"
"Uu... Ga... Uuu... Di-Dimengerti..."
Nomor empat,
"Disaat itu, kau harus memanggilku 'master'!"
"T-Tennouji Kotarouuuuuuuu, musuhnya para wanitaaaaaaaaaa!"
"Okay~ Itu adalah perintah selanjutnya~"
"Uu... Ga... Uuu... Di-Dimengerti..."
Aku tak menyangka Lucia akan bereaksi seperti ini. Sudah begitu, aku terus melanjutkannya hingga permintaan ke delapan belas.
"Baiklah, aku perlu persiapan untuk beberapa pemeriksaan setelah ini..."
[Skip Time]
Sudah beberapa hari semenjak saat itu. Tapi hidupku masih sangat biasa, aku masih tak percaya. Mungkin ini adalah 'hadiah' karena tak mengatakan pada siapapun tentang rahasia yang tanpa sengaja kuketahui. Juga soal diriku sendiri.
Sesuatu, yang teramat rahasia. Dan Inchou merupakan salah satunya. Mungkin. Dan mereka akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan padaku jika aku memberitahu siapapun tentang ini.
"Atau mungkin justru tak ada yang percaya padaku jika aku memberitahu mereka."
Bahkan Nishikujou-sensei juga berada di dalamnya. Bukannya apa-apa, hanya saja aku tak menyangka akan begini. Aku pernah berbicara padanya di sekolah saat itu. Tapi dia lebih sering bicara padaku seperti biasa selayaknya pada murid lain.
Kenyataan lebih aneh dari fiksi atau apapun itu. Atau mungkin kenyataan diisi oleh hal-hal yang hanya bisa diduga oleh sesuatu yang fiksi.
Bicara soal mereka, aku jadi ingat Konohana Lucia, yang masih memegang peran sebagai ketua kelas, seperti biasa. Dia bisa berbaikan dengan Chihaya untuk sesaat. Tapi setelahnya, kembali bertengkar. Mungkin itu tak lagi membuat kelas terasa tak nyaman, namun itu masih sangat menggangguku. Mungkin aku akan mencoba lagi mendamaikan mereka berdua.
Aku juga telah diminta untuk melupakan Santa Brosia. Tapi jika aku memberitahu masa lalu kelam Lucia pada Chihaya, aku yakin dia pasti mengerti.
Sudah hampir waktunya harvest festival. Seluruh kota mulai bersiap-siap. Aku akan memanfaatkan entusiasme itu untuk membantu mereka berdua berbaikan, mungkin. Aku berniat akan berusaha melakukan itu di waktu ketika festival dimulai.
"Aku yakin ini jalan yang benar..."
Disini. Aku bisa melihat apartemen milik Lucia. Aku ingat dia berada di lantai dua, paling jauh di belakang. Dan aku berada disini tepat waktu,
Jam delapan malam. Jam mentalku masih sangat bagus seperti ponsel lainnya.
Harusnya kita janji bertemu jam tujuh. Tapi kemudian ia memberiku pesan, untuk datang satu jam lebih lambat.
Kenapa aku mengunjungi rumahnya hari ini? Dia hanya mengatakan padaku untuk datang tanpa penjelasan apapun, tapi kupikir aku tahu kenapa.
"Padahal itu hanya candaan konyol saat di rumah sakit waktu itu. Aku tak berpikir ia akan menganggapnya serius."
Beberapa hari yang lalu aku meminta Lucia untuk melakukan banyak hal bodoh sebagai gantinya menyuruhku untuk menjaga rahasia mereka. Termasuk memasakkan sesuatu untukku. Aku hanya menganggap itu sebagai lelucon. Aku tak mengharapkan dia akan benar-benar melakukannya.
Sebenarnya, menganggap sesuatu seperti itu dengan benar-benar serius adalah hal yang sering dilakukan Inchou. Dia meninggalkan racun pada apapun yang ia sentuh. Memasakkan sesuatu pada orang lain tak pernah menjadi pilihan baginya hingga sekarang. Racunnya memaksanya terisolasi pada semua orang. Aku hanya bisa berharap diriku sebagai perkecualian akan memberinya sedikit semangat.
"Tak ada gunanya memikirkan itu. Aku masih ragu soal ini."
Datang ke rumah seorang perempuan untuk memakan masakan yang dibuat untukku, setelah berbagai hal yang telah terjadi. Aku belum pernah melihat sesuatu yang luar biasa terjadi disamping pada sebuah game.
Hmm, harusnya aku tak boleh ragu begini.
"Kamar 204. Konohana... Yap, ini dia."
*ding-dong* *ding-dong*
Setelah beberapa saat, aku bisa mendengar suaranya melalui intercom. Tapi suaranya terkesan, tegang?
~ To be Continued ~
