What Happened?!

Summary : "Midorima-kun, bila kau tidur disini kau bisa-bisa terkena demam loh,"|"Sayangnya Akashi, aku tidak berpikiran untuk mengalah dalam hal ini, nanodayo,"|"Kau tidak bercanda dengan ucapanmu kan, Taiga?" RnR please~

Kuroko no Basket bukan milik saya, kalau milik saya pasti Kuroko sudah saya jadikan uke para GoM.

Fict ini terinspirasi dari sebuah anime yang akhir-akhir ini saya sukai. Jadi, silahkan menikmati fanfiction ini :D


"Ha—ah, hari ini benar-benar melelahkan. Aku ingin segera tidur," gumam Kuroko berjalan lemas ke arah kamarnya. Niat awalnya ia ingin membuka kenop pintu di hadapannya, namun niat itu langsung saja hilang ketika melihat sebuah kamar dengan tulisan 'Jangan ganggu aku, nanodayo!' yang tak jauh dari kamar tidurnya.

'Sepertinya aku tau itu kamar siapa.' Batin Kuroko cengo dengan wajah datarnya 'tapi, kalau memang si kacamata lumut itu tidak mau diganggu, mengapa kamarnya sedikit terbuka?'

Akhirnya, lelaki bersurai baby blue itu memutuskan untuk mengintip sedikit apa yang sedang dilakukan oleh Vampire bersurai hijau lumut tersebut. Diintipnya sedikit melalui celah-celah,

"Permisi," ucap Kuroko pelan, takut ketahuan sang pemilik kamar

Hal pertama yang dilihat oleh Kuroko adalah alat-alat yang biasa ada di sebuah laboratorium. Di kamar itu juga terdapat beberapa tanaman herbal dan sebuah lemari besar berisikan buku-buku yang Kuroko sendiri tak ingin mengetahuinya. Lelaki manis itu kembali mengedarkan pandangannya pada setiap sisi kamar,

'Found you!' batin Kuroko—yang entah mengapa—senang hanya karena menemukan sang empu kamar yang kini tengah memejamkan mata di sofa 'Apakah dia tidur?' benak Kuroko bertanya-tanya

Dengan memberanikan diri, Kuroko melangkahkan sepasang kakinya untuk berjalan ke arah Midorima, sang empu kamar. Tampak Midorima yang tengah memejamkan mata tanpa mengenakan kacamata kesayangan miliknya, Kuroko tersneyum tipis.

"Midorima-kun, bila kau tidur disini kau bisa-bisa terkena demam loh," ujar Kuroko pelan, ia melanjutkan "Ah, aku lupa bila kalian itu vampire. Ne, apa vampire juga bisa terkena demam?" Kuroko terkekeh pelan "Manusia serigala saja bisa demam, mungkin vampire juga bisa terkena demam."

Entah mengapa bibir Kuroko terus mengeluarkan kalimat yang panjang-panjang. Tidak seperti dirinya yang biasanya. Kuroko mengendikkan bahunya tanda tak peduli akan tingkah lakunya yang keluar dari karakter kesehariannya.

Kuroko mendekatkan dirinya pada Midorima yang masih tetap memejamkan matanya. Tangan kanannya terjulur, berniat untuk mengusap kepala hijau itu. Ya, Kuroko memiliki kebiasaan yang bisa dikatakan sedikit aneh—ia suka mengusap kepala seseorang yang sedang tidur.

"Apa yang kau lakukan?" Midorima membuka kedua matanya dengan pandangan datar "Kuroko, tau kah kau—"

"Tidak aku tidak tau," Kuroko memotong ucapan Midorima dengan tampang poker face dan masih mengusap kepala bersurai hijau lumut tersebut

"Makanya dengarkan orang sampai selesai, jangan dipotong seenaknya, nanodayo." Geram Midorima menepis tangan Kuroko

"Gomennasai,"

"Ha—ah, aku tidak percaya aku terbangun hanya karena bau darahmu," Midorima memasang kacamatanya kembali "Itu bukan berarti aku tertarik padamu, nanodayo." Kuroko hanya mendengus geli akan sifat tsundere milik Midorima

"Duduklah, aku akan membuatkanmu teh," Midorima beranjak dari sofa empuknya dan membiarkan Kuroko duduk manis

Beberapa menit kemudian, Midorima kembali dengan sebuah nampan berisikan secangkir teh. Kuroko berusaha menahan senyum ketika sekelebat pikiran 'Midorima-kun pantas jadi butler,' dan sejenisnya menghampiri otaknya yang berimajinasi tinggi.

"Arigatou," ucap Kuroko kalem saat lelaki tsundere itu menaruh cangkir berisikan teh tersebut di hadapannya, Kuroko kembali mengarahkan pandangannya ke ruangan Midorima "Jadi ini Laboratorium milik Midorima-kun? Apakah ada yang menggunakan selain dirimu? Akashi-kun mungkin?" Kuroko mengangkat cangkir di hadapannya

"Tch, aku tak akan mengijinkan siapapun—terutama dia untuk menyentuh laboratoriumku ini, nanodayo," jawab Midorima berjalan menuju jendela besar di ruangan tersebut, lelaki itu sepertinya sudah mulai melamun

"Apakah Midorima-kun membenci Akashi-kun?"

"Memang aku pernah bercerita bila aku menyukainya, nanodayo? Yang benar saja, kami saudara, baka."

"Kau tau benar apa yang kumaksud, Midorima-kun," Kuroko menatap sebal pada Midorima, lalu ia meniup pelan teh di tangannya dan meminumnya "Sepertinya Midorima-kun memang membenci Akashi-kun," tambah Kuroko setelah menyesap cairan manis itu

Tiba-tiba saja cangkir di tangan Kuroko terjatuh, membuat benda dengan ukiran indah itu pecah berkeping-keping dan mengotori lantai. Kuroko memandang Midorima tak percaya,

"Aku hanya memasukkan obat tidur saja, dosisnya sedikit nanodayo." Ujar Midorima seakan tau apa yang ada di pikiran lelaki yang kini tengah menatapnya tajam

'Ternyata dia bisa berekspresi seperti itu juga ya, nanodayo,' tutur Midorima dalam hati, lelaki berkacamata itu perlahan mendekati Kuroko

Kuroko yang mendeteksi bahaya, segera saja memaksa otot-otot tubuhnya untuk bangun dan pergi dari ruangan itu. Tapi apa daya, sepertinya obat dari Midorima mulai bereaksi. Terbukti dari tubuhnya yang mulai lemas dan matanya yang berkunang-kunang.

BRUKK!

Pemuda manis itu tersungkur di lantai dengan telapak tangan yang sempat tersayat pecahan mendesis menahan rasa perih di tangannya.

"Kkh.."

Kuroko tak menyangka, benar-benar tak menyangka bahwa vampire yang paling tenang di mansion ini sangatlah licik rupanya. Lain kali, ingatkan dia untuk tidak menilai seseorang dari tampang dan sikap kesehariannya. Kuroko menghela nafas pasrah. Ia tau betul akan bagaimana kejadian setelah ini,

'Hanya ada satu kemungkinan. Vampire berkepala lumut yang menyebalkan ini akan menghisap darahku,' batinnya pasrah

"Kau benar-benar merepotkan, nanodayo," ujar Midorima tanpa rasa bersalah dan membuat Kuroko gondok sendiri "Kau membuat udara di sekitar sini bercampur dengan bau darahmu dan laboratoriumku menjadi kotor, nanodayo."

'Dipikir salah siapa aku jadi terluka begini, huh?!' rutuk Kuroko menahan emosinya

Midorima dengan segera menarik lengan Kuroko, di tundukkannya kepala bersurai hijau itu ke arah telapak tangan Kuroko.

"Ssh…" Kuroko kembali mendesis ketika ia merasakan sebuah benda kenyal dan basah menyentuh telapak tangannya yang terluka

Midorima mendorong Kuroko tanpa peringatan. Membuat lelaki beriris indah itu merasakan sakit pada punggungnya yang bertabrakan dengan lantai yang dingin. Midorima mengusap pipi Kuroko lembut.

"Tidak akan ada yang mendengarmu atau bahkan peduli ketika kau teriak, nanodayo." Masih dengan mengusap pipi Kuroko

Kuroko menghela nafas "Memang siapa yang akan berteriak, Midorima-kun?" Kuroko memandang tepat pada iris hijau di atasnya itu "Aku sudah lelah berteriak sejak kemarin,"

Ya, Kuroko sudah lelah berteriak ataupun kabur dari vampire bersaudara yang menjadi tunangannya itu. Percuma saja, karena pada akhirnya ia harus menyerahkan darahnya pada mereka semua sebagai tugas seorang tunangan yang baik.

'Ironis. Apakah aku sudah menerima mereka sebagai tunanganku?' benak Kuroko menghela nafas berat

"Baguslah kalau kau sudah mengerti, nanodayo." Midorima mendekatkan wajahnya pada leher Kuroko dan membenamkan sepasang taringnya pada leher tersebut. Menghisap darah manusia di bawahnya dengan tenang, tak sebrutal saudara-saudaranya.

"Nggh…" Kuroko menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan nikmat dari dalam mulutnya

Midorima masih sibuk menghisap darah tanpa mempedulikan Kuroko yang kesusahan menahan desahan. Tubuh Kuroko terasa sangat lemas, kedua matanya yang terpejam erat kini perlahan mulai rileks, deru nafasnya juga mulai teratur dan dengkuran halus mulai menggantikan desahan dari bibir Kuroko Tetsuya.

"Efek obatnya bereaksi di saat yang tidak tepat, nanodayo. Eh, tapi bukan berarti aku menikmati aktifitas tadi, nanodayo," gumam Midorima sendirian

Lelaki tinggi itu mengangkat tubuh Kuroko dengan mudah dan menyempatkan diri untuk mengejek Kuroko, setelah itu ia melangkah keluar kamar berniat mengembalikan Kuroko ke kamar pemuda biru tersebut.

"Shintaro," sebuah suara menyapa pendengaran Midorima "Tetsuya adalah milikku," suara itu kembali melanjutkan ucapannya dan menghilang begitu saja

"Sayangnya Akashi, aku tidak berpikiran untuk mengalah dalam hal ini, nanodayo," Midorima melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar Kuroko.


Di dalam sebuah hutan yang jauh dari mansion para vampire, terlihat beberapa orang yang tengah berkumpul dengan wajah serius mengelilingi api unggun.

"Kau tidak bercanda dengan ucapanmu kan, Taiga?" tampak seorang lelaki berwajah tampan tengah menginterogasi sahabatnya

"Kau kira aku akan bercanda di saat genting begini? Kau kira aku akan bercanda bila sesuatu buruk terjadi pada hidup Kuroko?!" balas sahabatnya—yang dapat kita ketahui adalah Kagami Taiga—dengan nada emosi yang tertahan

"Maafkan aku kalau begitu," kata lelaki berwajah tampan itu. Lelaki itu adalah sahabat Kagami selain Kuroko. Panggil saja Himuro Tatsuya, lelaki yang memiliki tailalat di bawah mata kanannya dan poni yang menutupi mata kirinya ini adalah seorang pendeta—sama seperti ayah Kuroko Tetsuya.

"Himuro-kun, kau tau Kagami-kun tidak bercanda. Jangan menggodanya sekarang, waktunya tidak tepat tau!" kini seorang perempuan berambut merah muda mengomeli Himuro dengan gaya berkacak pinggang, membuat Himuro terkekeh pelan. Perempuan ini bernama Momoi Satsuki.

"Maaf, maaf, Momoi-chan,"

"Kalian berhentilah bercanda. Kita harus menyusun rancana untuk merebut Kuroko kembali. Bagaimana pun dia adalah sahabat kita sejak kecil," kini perempuan berambut coklat pendek bernama Aida Riko yang tengah duduk di samping Kagami mengeluarkan pendapat . Kagami mengangguk setuju.

'Dan calon pendamping hidupku kelak,' batin Kagami menambahi dengan penuh harap

"Jadi, menurut cerita Kagami, Kuroko kini tinggal dengan vampire mesum dan menjadi tunangannya?" tanya seorang lelaki berambut belah tengah dengan pose sok berpikir, ekornya yang sejak tadi bergoyang-goyang tanda ia tertarik dengan apa yang tengah terjadi

"Benar, Takao! Dia vampire dekil mesum yang berani mencuri ciuman pertama Kuroko!" teriak Kagami marah, kontan Kagami langsung saja mendapat pukulan di kepalanya dari Aida Riko

"Kau berisik Kagami,"

"Sudah-sudah. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana rencana kita selanjutnya," ujar Himuro merelai Kagami dan Riko yang hendak memulai pertengkaran. Semua mata tertuju padanya dengan pandangan dongkol.

'Dipikir siapa yang sejak tadi tidak serius?!' batin semuanya menahan diri untuk tidak menjitak lelaki tampan itu.

_TBC_

REVIEW TIME!

Lunette Athella_KagaKuro itu Cuma slight aja *tawa miris* ada pair kok di bagian akhir. Maaf ya baru bisa updet sekarang,*bow*

.7_Ahomine emang baka dan hentai XDD Maaf baru bisa updet sekarang,*pundung*

Park Hyesung-Shiranai Yukou_Iya dia tau, kan mereka teman masa kecil ;) Ahaha, saya tidak janji. Sebenarnya pembagian karakternya itu random. Tergantung mood saya sih XDD *digeplak*Maaf baru bisa lanjut sekarang.

Rea_kebangkitan saya/salah! Haha, saya tidak bisa janji.

Gemini otaku-chan_Hahaha, tuntutan naskah, *ditendang Ahomine* maaf baru bisa updet sekarang *bow*

Witchsong_Terima kasih pujiannya ;) itu masih rahasia perusahaan XDD maaf baru bisa updet sekarang,

Ichika07_iya iya,*ikutan lirik-lirik* Habisnya, saya ingin sekali buat Kagami jadi manusia serigala. Ironis emang, melihat dia takut sama spesies anjing tapi di cerita ini malah jadi salah satu spesies anjing itu sendiri,*ngakak*

Mey-chan_Saya ikut turut bersuka cita atas terlukanya 'junior' si ahomine daikil. Kuroko pas itu lagi mengalami lola(loading lama) jadi lupa ama rencananya XDD Papa Kiyoshi kapan muncul? Saya juga gak tau, hiks *digeplak* Iya, ambil Kagami sendiri aja ya, nanti saya siapin cemilan saat kau ke TKP. Maaf baru bisa updet sekarang,

Kitami Misaki_Sebenernya sempet bingung mau ngasih ini fict dengan judul apa. Yang kepikiran Cuma 'What Happened!' doing. Maaf baru updet sekarang~