The Dark Shadow Chapter 8 – Choice
Cast: Ino Yamanaka – Naruto Uzumaki – Menma Uzumaki.
Disclaimer: Masashi Kishimoto. Naruto.
Warning: Typo, OOC, dan segala warning-warning lainnya.
.
.
.
Happy Reading~
~*0*~
Setelah apa yang terjadi pagi tadi, hampir satu hari penuh, mood Ino menjadi buruk. Ia terus merutuki sikap keras kepala Naruto, yang bersikukuh untuk enggan membuka hati, dan membiarkan orang lain membantunya.
Dan, ia juga merutuki permintaan Ibiki yang melarangnya menyebutkan tentang Menma. Ino tahu memang bukan pilihan bijak mengatakan hal itu. Terlebih lagi Naruto baru saja mengenalnya. Itu pasti hal yang sulit.
Tapi, membiarkan Ino menolong Naruto dengan cara diam-diam seperti ini, sama sekali tidak membantu. Rasanya Ino seperti tengah menyusuri gua tak berujung.
Alhasil, seharian ini Ino hanya di pusingkan dengan pilihan menyerah untuk menolong pria itu, atau menghilangkan kemarahannya dan menolong pemuda itu.
Tidak mau satu harinya tersia-siakan dengan menyesakkan kepala. Akhirnya Ino memutuskan untuk menghabiskan sisa harinya dengan menyesap teh di belakang rumahnya. Menikmati elusan angin sore pada dirinya, dan membawa lari semua beban di kepalanya yang terasa akan meledak itu.
"Ino!"
Ino yang semula tengah bersantai sambil meminum teh di belakang rumahnya sontak saja menoleh.
"Aku ada di belakang, Ten, masuk saja."Jawab Ino tanpa ada niatan untuk beranjak sama-sekali.
Tak lama terdengar suara langkah kaki penuh semangat dari arah pekarangannya.
"Selamat sore Ino!" Ten-ten tersenyum dengan tangan melambai sambil berlari kearah Ino.
"Selamat sore... ada apa Ten?" tanya Ino setelah gadis itu duduk di sampingnya. "Omong-omong, kau mau teh?" tawar Ino.
"Boleh. Kalau tidak merepotkan."
"Tentu saja tidak. Tunggu di sini, aku akan ambil dulu." Ucap Ino lalu segera bangun dan berjalan masuk kedalam rumah.
..
"Ini," Ino menyodorkan segelas teh pada Ten-ten, dan juga sebuah piring berisi tiga buah kue Mochi.
"Jadi.. kenapa kau datang ke sini?"
"Kau tidak suka?" tanya Ten-ten memasang wajah sedih. Yang di balas dengusan oleh Ino.
"Hentikan, Ten. Aku tidak suka jika kau memasang wajah seperti itu. Lagipula aku hanya bertanya."
"Ya, ya, aku tahu. Ehmm... aku ke sini... tidak ada apa-apa, aku hanya bosan saja."
"Oh."
"Omong-omong, Ino. Sejak kemarin aku tidak melihat paman. Dimana paman?"
"Ayah sedang ke Kyoto."
"Mengunjungi makam bibi?"
"Ya."
"Kenapa tidak ikut?"
"Kau lupa dengan permintaan terakhir ibuku?"
"A! Aku ingat. Hehe." Ten-ten menggaruk kepala, dan nyengir.
Ino meletakkan tehnya. "... padahal aku ingin sekali berkunjung." Ino menghela nafas sedih, lalu meringkuk dan memeluk kakinya.
"Eum.. jangan sedih Ino, kau akan bisa segera mengunjungi makam bibi."
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah punya kekasih sekarang, dan tinggal meresmikannya ke jenjang yang lebih serius saja."
"Siapa?"
"Yang kemarin. Pria pirang itu. Dia tampan, kau pandai sekali mencari pria. Kau harus ajari aku cara melakukannya... huft, aku mulai bosan melajang." Ucap Ten-ten santai, lalu menyesap tehnya.
"Dia bukan kekasihku,"
"Uhuk!" Ten-ten tersedak. "Eh? Bukan?"
"Ya, bukan. Dia... pasienku."
"P-pasien?" Ten-ten mengernyit. "...aku pikir kau sudah berhenti."
"Memang.. tapi... ada sesuatu yang mengharuskanku kembali membuka buku pasienku."
"Apa itu? Dan separah apa penyakitnya?" tanya Ten-ten.
"... itu rahasia, Ten. Aku tidak bisa memberitahu siapapun mengenai separah apa dan gangguan apa yang di alami pasienku."
"Aih, baik, baik, aku tahu." Ten-ten kembali menyesap tehnya, lalu menggigit kue Mochinya.
"Ten," panggil Ino pelan.
"Mm?"
"Menurutmu... orang seperti apa aku ini?" tanya Ino dengan menatap Ten-ten. Sementara yang ditatap sontak menelan Mochinya dengan paksa.
"Kau orang yang baik."
"Bukan itu. Tapi bagaimana aku sebagai seorang dokter?"
"Eh?... em.. entahlah, aku belum pernah diobati olehmu." Ucap Ten-ten jujur.
"Kau mau mencoba berobat denganku?"
Ten-ten berjengit. "Ehehe, terima kasih. Tapi, kondisi kejiwaanku masih baik-baik saja, Ino." Ucap Ten-ten spontan, yang sontak mengundang gelak tawa Ino.
.
.
.
Keesokan harinya Ino terlihat sibuk menata bunga di tokonya, juga mengeluarkan persediaan bunga dari kebun belakangnya, untuk mengisi stok bunga yang sudah menipis di toko.
Di setiap pekerjaan yang tengah Ino lakukan, ia tak henti-hentinya tersenyum mengingat betapa manis tingkah Naruto di malam ia menginap di apartemen pria itu. Namun, terkadang ia merengut saat diakhir waktu kebersamaannya bersama Naruto, yang ia harapkan manis, justru berakhir aneh.
Ditambah lagi saat bayangan Menma tengah menatapnya kecewa ikut melintas. Ino meletakkan pot yang tengah dibawanya ke tempat dimana ia memang ingin meletakkannya sejak awal. Lalu mendesah.
"Kenapa...?" Ino mengusap wajahnya dan mendengus.
Apa yang aku pikirkan... aku tidak boleh sampai menyukainya. Sekarang posisiku disini adalah sebagai orang yang akan membantunya untuk sembuh. Aku tidak boleh sampai memakai perasaan disini. Walau pun paman memintaku untuk mencintai Naruto... rasa-rasanya akan sulit. Sekali pun aku mencintainya, dan berhasil membantunya menyingkirkan Menma. Lalu... bagaimana selanjutnya? Bagaimana kehidupanku setelah itu? Tidak mungkin aku meminta Naruto untuk melanjutkannya kehubungan yang serius, sementara kasta dan derajatku dengan Naruto sangat jauh. Ini akan sulit.
"Ohayou!" Ino menoleh dan menemukan Konohamaru tengah melambaikan tangan dengan semangat kearahnya.
"Ohayou. Kenapa hanya datang sendiri? Dimana Suigetsu dan Yahiko-nii?"
"Tidak tahu. Aku langsung ke sini, karena aku pikir mereka sudah duluan."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena rumah mereka kosong."
"Benarkah? Apa mungkin mereka pergi ke suatu tempat sebelum ke sini?" gumam Ino pada dirinya sendiri.
"Mungkin... jadi, Ino-nee, apa yang bisa aku bantu?" tanya Konohamaru.
"Oh, bisa kau antarkan bucket bunga lily itu pada bibi Kurenai? Hari ini peringatan kematian paman Asuma."
"Ah, iya. Aku lupa. Baiklah. Kalau begitu, bisakah Neesan membuatkanku juga? Aku tidak mungkin mengunjungi makam paman dengan tangan kosong. Keponakan macam apa aku ini?" Ino tersenyum.
"Aku sudah menyiapkannya. Dan gratis untukmu." Ucap Ino. Konohamaru tersenyum senang.
"Benarkah? Waaahh... terima kasih Ino-nee. Kalau begitu aku akan mengambilnya." Konohamaru berucap, sebelum kemudian berlari kearah meja kasir. Dan meraih dua buah bucket bunga lily itu.
"Aku pergi dulu, Ino-nee." Ucap Konohamaru dengan melambaikan tangan. Yang juga dibalas lambaian oleh Ino.
Ino tersenyum. Lalu melangkahkan kakinya kearah kasir.
"Ohayou!" Ino menoleh dan menemukan seorang pria berkulit pucat tengah tersenyum padanya.
"Sai, ohayou." Ucap Ino balas tersenyum.
"Kenapa kau sendirian, Ino-chan? Dimana yang lain?"
"Konohamaru baru saja pergi untuk mengantar bunga. Dan mengunjungi makam paman Asuma. Sementara Suigetsu dan Yahiko-nii... aku tidak tahu."
"Oh." Tanggap Sai. "Jadi... apa pekerjaanku?"
"Ada beberapa bunga yang harus di antar. Tapi, aku tidak yakin bisa di antar tepat waktu jika hanya kau yang melakukannya. Di karenakan jarak tempat setiap pemesan bunga lumayan jauh. Aku juga tidak bisa membantu karena harus jaga toko." Ucap Ino dengan menggaruk keningnya.
"Ohayou minna!" Ino dan Sai melirik kebelakang dan menemukan Suigetsu dan Yahiko yang baru saja masuk.
"Syukurlah kalian sudah datang. Konohamaru bilang, ia melihat rumah kalian kosong saat akan berangkat kemari, kalian dari mana?" tanya Ino dengan mata menyipit.
"Ehehee... maaf Ino-chan. Kami makan ramen dulu sebelum kemari."
"Ramen? Pagi seperti ini kalian sudah makan ramen? Kalian bisa sakit."
"Ahahaha... mau bagaimana lagi. Jika sudah ingin, sulit di abaikan." Ino menghela nafas.
"Terserah saja. Sekarang cepat ambil bunga yang harus dikirim di ruang penyimpanan, dan segera antar." Ucap Ino.
"Baiklah.." patuh ketiga pemuda itu. Lalu segera pergi ke ruang penyimpanan.
"Ohayou, Ino.." Ino berpaling lalu melihat siapa yang memanggilnya.
"Bibi Haori, ohayou. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Ino saat melihat pemilik toko roti itu mengunjungi tokonya.
"Aku ingin membeli bunga."
"Eh? Bukankah anda baru mengganti bunga tulipnya beberapa hari yang lalu? Apa sudah layu?"
"Bukan, bibi ingin membeli bunga untuk diletakkan di makam."
"Oh? Ini ulang tahun anak bibi? Astaga, kenapa aku bisa lupa?"
"Tidak apa-apa, Ino. Bibi tahu akhir-akhir ini kau sibuk."
"Bibi duduklah. Aku akan membungkusnya dengan cepat."
"Baiklah."
"Ino-chan, kami berangkat dulu." Tepat saat Ino akan ketempat ia menyimpan bunga-bunga tulipnya, Sai, Suigetsu dan Yahiko keluar dari ruang penyimpanan.
"Iya, hati-hati." Ucap Ino. Lalu segera pergi keruangan yang dikhususkan untuk bunga-bunga tulipnya.
"Bibi Haori, kami tinggal dulu. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, hati-hati anak-anak." Ucap Haori lembut.
...
"Ini, bi. Maaf membuatmu menunggu." Ucap Ino menyerahkan bucket berisi bunga tulip pesanan Haori.
"Terima kasih, Ino. Oh, omong-omong, sampai kapan kau akan membiarkan tamumu diluar?"
"Apa?" tanya Ino bingung.
"Pemuda pirang itu, sejak pagi ia berada di depan tokomu. Bahkan sebelum kau membuka toko. Sebelum masuk bibi sudah mengatakan padanya untuk masuk. Tapi, dia bilang kau belum mengizinkannya. Apa itu benar?"
"T-tidak. Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak tahu kalau di depan ada orang."
"Benarkah? Lalu yang aku lihat itu siapa? Ah... terserah saja. Sudah ya Ino-chan. Bibi permisi dulu. Sampai jumpa."
"Ya... sampai jumpa." Ino terdiam sepeninggalan Haori. Lalu berbalik hendak kembali ke mejanya.
"Aaaaaa!" Ino berteriak kaget saat melihat sosok Naruto di balik jendelanya. Tengah berdiri dan menatapnya dengan padangan lugu.
Ino berhenti berteriak lalu mengusap dadanya. Ia dengan segera berjalan kearah jendela, tempat di mana Naruto kini masih berdiri diam.
"Apa yang kau lakukan di situ?!" tanya Ino dengan nada kesal.
"A-aku─"
"Cepat masuk, sebelum pelangganku melihatmu berdiri di sana, lalu berlari pontang-panting keluar dari toko karena mengira kau hantu." Ucap Ino.
Naruto mengangguk kaku, dan berniat masuk melalui jendela.
"Hei! Apa yang mau kau lakukan?!"
"Kau menyuruhku masuk 'kan?" tanya Naruto dengan polosnya. Yang sontak membuat Ino tepuk dahi.
"Aku punya pintu di sana, dan kau bisa memasukinya. Aku bahkan tidak meletakkan kertas doa apapun yang sekiranya akan membuatmu terbakar."
"Aku bukan setan."
"Terserah! Sudah cepat masuk." Ucap Ino dan segera berbalik kearah meja. Entah kenapa rasanya jantungnya berdegub kencang saat melihat wajah lugu Naruto.
Sementara Naruto terdiam, dan pipinya perlahan bersemu. Ia tersenyum manis lalu berjalan kearah pintu depan Ino. Menuruti kata-kata gadis itu untuk masuk melalui pintu.
Ino menarik nafas, lalu berpaling. "Sejak kapan kau di sana?" tanya Ino saat Naruto sudah berdiri dihadapannya.
"S-sejak tadi pagi."
"Kenapa aku tidak melihatmu?"
"I-itu... itu karena... aku bersembunyi."
"Kenapa kau bersembunyi?"
"Aku sedikit ragu menemuimu. Dan mengatakan maksudku."
"Kenapa kau ragu?"
"Aku takut ini akan menyakitimu."
"Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?" tanya Ino mulai was-was.
Naruto menghela nafas. Sebelum kemudian merogoh sesuatu dari kantong jasnya.
"Ini," Ino mengernyit saat Naruto menyerahkan sebuah amplop padanya. Ia meraihnya dengan cepat dan mata menyipit curiga pada pria itu.
Ino menatap isi amplop itu dan terbelalak saat melihat terdapat uang di dalamnya. Ino mendongak dan menatap Naruto.
"Apa... ini?"
"Kau mendekatiku karena itukan? Aku tahu. Dan aku sudah memberikannya padamu, s-sekarang menjauhlah dariku." Ino mengepalkan tangannya dan tanpa sadar rahangnya terkatup. Ino mencengkeram amplop itu lalu melemparnya kebawah dan menginjaknya dengan sadis, sementara matanya fokus menatap Naruto yang kini terbelalak.
"I-Ino..."
Ino mendengus. "Dasar bodoh."
"Apa?"
"Pergi."
"..." Naruto menatap Ino dalam diam. Sementara Ino terlihat membuang muka enggan menatap Naruto.
Pada akhirnya Narutohanya mampu tertunduk, dan berbalik melangkah pergi dari toko Ino.
Ino menghela nafas, sebelum kemudian melirik kearah pintu yang baru saja tertutup. Ino menggaruk kepalanya. Dan menjerit kesal.
"Apa wajahku ini terlihat seperti orang yang suka memeras? Sialan. Aku tidak akan membantunya."
Ino terdiam. Namun, tiba-tiba wajah sedih Naruto membayanginya. Ia kembali mencengkeram kepalanya.
"Tidak, tidak, aku tidak akan tertipu. Aku tidak akan tertipu dengan wajah lugunya. Dan yang pasti aku tidak akan mau membantunya. Tidak akan pernah."
.
.
.
Ino menghela nafas, lalu menatap pintu di depannya dengan ragu. Pintu apartemen Naruto. "Apa yang aku lakukan di sini?" sekali lagi Ino menghela nafas. Lalu melirik kearah kantong yang ia bawa. Kantong berisi Ice Cream coklat dan ramen instant. "Aku bahkan membeli ramen... Ice Cream... sebenarnya apa yang aku harapkan?"
Ino mendengus. "Lebih baik aku pulang dan memakannya sendiri." Ino menggaruk kepalanya. Lalu berbalik hendak pergi.
Klik.
Ino membeku, dan ingin berlari, namun ia dibuat membeku saat mendengar seseorang menyebut namanya.
"Ino..." Ino berpaling. Dan tersenyum kikuk saat melihat Naruto berdiri di belakangnya dengan sebuah kantong sampah.
"H-hai..." Ino mengangkat tangannya. Dan tersenyum. "Aku membawa ramen."
"Ino aku─"
"Aku tahu... kau sudah memintaku pergi. Tapi, aku tidak bisa. Karena... karena kita belum makan ramen dan Ice Cream.." Ino mengucapkannya dengan cepat dan wajah tegang.
Apa ini?!
Naruto terdiam, sementara Ino tetap berdiri dengan tubuh kaku.
"Baiklah. Anggap aku mengabulkan satu permintaanmu. Kita akan makan ramen bersama. Dengan syarat kau akan menjauhiku setelah ini."
"... ayo kita mulai masaknya.." ucap Ino mengalihkan perhatian. "Kau buang saja sampahnya, aku akan menunggu." Ucap Ino lagi dan segera berlari masuk ke dalam apartemen Naruto.
.
.
.
"Waahhh! Ini enak." Ucap Ino dengan semangat meletakan mangkok besar yang semula berisi ramen itu keatas meja.
Sementara Naruto yang ada di sampingnya, hanya makan dengan perlahan dan tatapan terus mengarah pada Ino.
Seulas senyum tipis tersungging dibibirnya. Pasalnya ini kali pertama ia melihat seorang wanita yang ia kira sangat perfectionis bisa meminum kuah ramen layaknya meminum sake, di hadapan pria yang baru dikenal.
Klup!
Kedua mata Ino berbinar saat melihat Ice Cream coklat yang tadi ia bawa, dan dengan semangat ia meraih sendok.
"Ini lebih terlihat kau makan sendiri dari pada makan dengan orang lain. Apa sekarang aku terlihat seperti bayangan bagimu?" Ino mendongak dan menatap Naruto sebelum kemudian nyengir.
"Maaf, untuk pertama kalinya aku bisa bebas makan seperti ini." Ucap Ino sambil memakan Ice Creamnya. "Mmmm... mungkin juga untuk yang terakhir... mungkin." Ino mengendikkan bahu acuh. Dan terus menyendok Ice Creamnya secara perlahan.
"Mungkin lebih baik kau biarkan saja semua terjadi apa adanya. Kau tidak harus memaksa untuk terus menjadi wanita sempurna. Cantik bukan berarti kurus, kan?"
"Untuk orang zaman dulu? Ya, tentu. Tapi, tidak untuk di zaman yang serba menuntut kesempurnaan seperti sekarang ini. Cantik itu menyakitkan."
"Apa kau akan terus melakukannya hingga kau tua?"
"A, a!" Ino menggelengkan kepalanya. Lalu mengacungkan satu jari. "Aku akan berhenti ketika aku sudah menemukan sosok yang mencintaiku apa adanya, dan menerima diriku dalam bentuk apapun. Dan di saat itulah aku akan lepaskan semua siksaan ini."
"Sosok yang kau maksud itu seperti apa? Kekasih? Atau suami?"
"Teman seumur hidup." Ucap Ino sambil tersenyum manis. Lalu kembali menyuapkan sesendok Ice Cream ke mulutnya.
"Teman seumur hidup? Suami, kan?"
"Apa tittle suami itu benar-benar bisa menjamin dia akan bersama denganku selalu? Tidak. Perceraian bisa saja terjadi. Jadi, intinya teman seumur hidup itu adalah orang yang tidak akan pergi dariku. Walau pun aku tidak benar-benar tahu apa sebenarnya teman seumur hidup itu. Apa mungkin seorang anak?" ucap Ino dengan gumaman di akhir katanya.
"Apa kau tidak suka perpisahan?"
Ino menggeleng. "Entah itu perpisahan dalam artian putus, atau perpisahan dua dunia. Aku tidak suka. Karena itu akan menyisakan luka yang sangat dalam, dan sulit untuk di sembuhkan. Dan aku tak pernah suka."
Naruto diam, tapi mengangguk sebagai respon bahwa ia mengerti. Ino tersentak dan ingat maksud kesekiannya datang ke tempat Naruto.
Ia meraih tas yang berada di kursi sebelahnya, dan mengambil sesuatu dari sana.
"Aku baru ingat, aku ingin menggembalikan uang yang kau berikan tadi." Ucap Ino sambil menyodorkan amplop coklat pada Naruto. "Tenang saja, aku sudah mengganti amplopnya. Karena aku injak tadi. Tapi, aku tidak mengambil sepeserpun. Sungguh." Jelas Ino.
"In─"
"Kau sudah salah menyangka diriku, Naruto. Bukan karena uang aku mendekatimu."
"..."
"Naruto... aku mohon, biarkan aku membantumu."
"Aku baik-baik saja. Kenapa kau ingin membantuku?" tanya Naruto dengan kening berkerut.
"Tolong... buat aku berpihak padamu. Katakan kau meminta untuk diselamatkan.."
"Apa maksudmu?"
Maafkan aku paman. Aku harus memberitahukannya sekarang.
"Naruto..." Naruto mengernyit saat Ino kembali menyebut namanya. "Atau Menma."
Kedua bola mata itu melebar saat mendengar Ino menyebut nama Menma.
"Bantu aku untuk memilih siapa yang harus aku tolong? Naruto... atau Menma? Yakinkan aku." Ucap Ino lagi. Sementara Naruto masih tampak terdiam shock.
"K-k-kau... tahu?"
"Apa yang tidak seorang Ino Yamanaka ketahui?"
"Aku serius Ino. Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Naruto menuntut.
"Aku sudah berteman denganmu sejak lama."
"Apa? Kita bahkan baru mengenal." Ucap Naruto tak percaya. Namun, tiba-tiba air mukanya berubah. "Kau... kau sudah mengenal Menma?"
"Sebelum kau." Ucap Ino. "Dan aku adalah orang yang dicintai Menma." Mata Naruto terbelalak. Lalu perlahan mundur.
Naruto menggeleng. "Itu artinya, kau juga tahu aku berbohong tentang kejadian malam itu? Itu artinya kau tahu bahwa yang sedang berhadapan denganmu itu, adalah Menma?"
"Ya.."
"Sejak kapan? Sejak kapan kau sadar aku adalah Menma?"
"Hari pertama, aku berjalan-jalan denganmu sebagai seorang mantan rekan bisnis." Ucap Ino santai sambil menyendok Ice Creamnya.
"Apa kau juga tahu... Menma memiliki diriku?"
"Tidak. Aku tidak tahu. Awalnya aku kira Naruto adalah nama lainnya setelah kembali dari... entahlah. Kematian?"
"Tidak, ini buruk. Kau tidak boleh dekat dengan kami, Ino. Atau kau akan terluka."
"Aku dekat dengan kalian atau jauh sekali pun. Aku tetap akan terluka. Jadi, biarkan aku membantu kalian."
"Apa?"
"Jika aku mencintai salah satu dari kalian. maka hanya dialah yang akan bersamaku, dengan menggunakan satu fisik saja."
"Bagaimana jika keduanya? Bagaimana jika kau menyukai kami berdua?"
"Maka aku akan membunuh kalian berdua. Aku rasa itu akan menyelesaikan semuanya?" Ucap Ino dengan santainya.
"Ino..."
"Kau tidak benar-benar mengenalku... aku ini adalah pembunuh berdarah dingin."
"Kau bercanda?" tanya Naruto dengan dua mata melotot.
"Pfftt!" Ino mengatup mulutnya. Namun, setelah itu ia tertawa. "Aku bercanda. Astaga. Sudahlah, apapun yang terjadi nanti, aku yang akan tanggung jawab."
Naruto terdiam. Dengan mata terus mengarah pada Ino.
"Haah.. aku tidak percaya. Ini jauh lebih mudah dari yang aku perkirakan."
"Apa?"
"Aku pikir kau akan shock, atau semacamnya mendengarku mengatakan bahwa aku tahu kau memiliki alter-ego. Tapi kau jauh lebih tenang dari yang aku perkirakan."
"Hal mengejutkan tentang Menma, adalah makanan sehari-hariku. Tapi, jujur saja, kali ini cukup memukulku." Ucap Naruto sendu. "Ino,"
"Hm?"
"Kau bilang kau tidak suka perpisahan. Lalu bagaimana perasaanmu saat kau berpisah dengan Menma?"
Deg!
Ino berhenti menyendok Ice Creamnya dan menatap Naruto yang menatapnya dengan tatapan datar.
"Ekhm!" Ino berdehem sekali. Lalu meletakkan sendoknya, dan duduk tegak menghadap kearah Naruto. "Tentu, aku sangat tidak menyukainya. Dan karena itulah saat aku kembali bertemu dengannya, aku jadi sangat membencinya."
"Kenapa kau membencinya?"
"Dia sudah menggambil semuanya."
"Seperti apa? Uang? Apa dia menipumu?"
Ino menggeleng pelan. "Lebih dari itu, dia mengambil semua kepercayaan, dan kasih sayangku. Dan juga diriku." Ino menghela nafas. "Entahlah... apa itu benar salahnya atau karena aku yang mudah jatuh pada pesonanya? Dan aku menyesalinya." Ucap Ino.
"Apa itu artinya kau juga menyesali pertemuanmu denganku?" tanya Naruto pelan, hampir seperti bisikan. Untungnya Apartemen Naruto dalam keadaan hening luar biasa. Hingga memudahkan Ino untuk mendengar apa yang Naruto katakan.
"Ya." Jawab Ino langsung. Naruto yang mendengar itu sontak terdiam. "Bertemu denganmu, dan menemukan sebuah fakta mengejutkan. Setiap wanita pasti tidak pernah ingin ini terjadi. Berselingkuh dengan dua tubuh yang berbeda saja sudah sulit. Apa lagi dengan dua sosok dalam satu tubuh?"
Butuh waktu lama bagi Naruto untuk mencerna ucapan Ino. Sebelum kemudian ia mendongak dan menatap Ino. "Kau dan Menma... memiliki hubungan?"
"Hubungan yang tidak jelas. Kami teman, tapi seperti kekasih. Atau mungkin suami istri."
Naruto mengusap wajahnya. "Ini semakin sulit."
"Tidak akan sulit jika kau biarkan hatimu terbuka, dan juga membiarkan orang lain membantu."
"Tidak.. ini tidak bagus." Naruto menggeleng. Lalu kembali menatap Ino. "Kau harus menjauh dari kami Ino."
"Tidak. Kau tahu, memintaku menjauh, hanya seperti meminta sebuah batu untuk bergeser─tidak akan di dengarkan. Sudah saatnya wanita cantik dan pintar ini kembali turun tangan untuk menolong orang."
"Apa?"
"Kau banyak bertanya hari ini."
"..."
"Jangan banyak tanya dan dengarkan aku." Ucap Ino dengan menatap mata Naruto. Sementara yang ditatap menggulirkan matanya kesegala arah. "Apa yang kau rasakan sekarang? Apa kah ada orang lain yang terbangun dalam dirimu dan mendengarkan percakapan kita?"
"Tidak... entahlah. Aku merasa kosong, aku rasa dia sedang tidur."
"Bagus. Kita bisa memanfaatkan waktu seperti ini."
"Tapi,"
"Eh?"
"Setiap kali aku... aku menatap fotomu... Menma menggeliat. Aku takut, jika aku menatapmu secara langsung seperti ini, Menma tiba-tiba terbangun. aku tidak pernah bisa tahu pasti kapan dan bagaimana ia bisa bangun."
"Kau apa? Kau punya fotoku."
"Maaf, aku pernah memotretmu diam-diam. Aku sungguh minta maaf." Ino tersenyum geli. Lalu tiba-tiba mencubit kedua pipi Naruto.
"Kenapa kau begitu manis?" ucap Ino dengan menarik-narik pipi Naruto dan memanyunkan bibirnya.
Sementara yang dicubit nampak diam menatap Ino yang entah kenapa terlihat sangat cantik dimatanya.
Dan tiba-tiba saja ia mengecup bibir Ino singkat bahkan sampai membuat Ino membeku. Naruto ikut membeku dengan mata membulat dan tangan yang menyentuh bibirnya sendiri.
"A-a-apa yang kulakukan. I-Ino maafkan aku. Aku.. aku.." Ino tersadar dan menatap Naruto yang terlihat gugup. Tanpa sadar Ino menatap sedih kearahnya.
Lihat betapa polosnya dirimu.. Naruto. Berapa banyak Menma mengambil waktumu hingga kau terus terkurung dengan sikap anak berusia 7 tahun seperti itu? Lihat betapa kau tak bisa mengontrol rasa gugupmu. Aku minta maaf karena tak pernah menyadari dirimu. Maaf karena membiarkan Menma bertemu dan menyukaiku hingga membuatnya semakin kuat, dan semakin menenggelamkanmu dalam tidur. Maafkan aku.
Ino menangkup pipi Naruto hingga membuat pemuda itu terdiam dengan wajah tertegun.
"Ino,"
"Shut.." Ino tersenyum. "Aku akan mengajarimu, untuk tidak menghentikan sesuatu sebelum tercapai." Ucapnya singkat. Lalu dengan tiba-tiba mengecup Naruto cukup lama, tapi hanya sekadar kecupan ringan yang tulus. Untuk pertama kalinya, Ino mencium seorang pria dengan tulus. Lalu perlahan Ino menjauhkan wajahnya. Lalu mengelus wajah Naruto.
"Biarkan aku membantumu.."
Naruto menatap mata Ino, mencoba mencari celah dari mata gadis itu. Namun, nihil. Aquamarine itu kini dipenuhi oleh keyakinan.
Dan pada akhirnya Naruto mengangguk mengiyakan.
"Selamatkan aku..." Ino tersenyum mendengarnya.
"Pasti."
TBC
