Halo reader semua!

Maaf ya lanjutannya lama banget TT tugas sekolah menumpuk jd ga sempat bkin lanjutannya

Semoga semua memaafkan kami *bow

Happy reading!\(•`▽´•)/

~Chapter 8~

Suasana awal musim semi mengawali pagi Sakura. Sepasang emerald indah miliknya perlahan terbuka, mengerjap memandang sekeliling. Lalu ia menyadari kalau disebelahnya tidak terlihat adanya eksistensi Uchiha Sasuke. Pemuda yang kemarin telah resmi menjadi suaminya tidak ada disebelahnya lagi.

Ditengah lamunannya, pemuda yang menjadi pusat pikirannya keluar dari kamar mandi yang berada di seberang Sakura. Tubuh suaminya hanya berbalut jubah mandi, mau tak mau membuat wajah gadis bersurai pink itu bersemu kemerahan. Terlihat lucu, seperti buah tomat yang ranum.

Tanpa mempedulikan sang istri, Uchiha Sasuke langsung menuju ke arah almari pakaian dan mengambil sebuah setelan kemeja berlengan panjang dan sebuah celana panjang hitam. Terakhir, pemuda Uchiha itu mengambil jas hitamnya.

"Cepat mandi. Kutunggu di meja makan."

Kalimat itu diucapkan dengan nada rendah yang terkesan biasa saja, namun Sakuran tahu kalau itu merupakan perintah mutlak sang suami. Dia hanya sebuah boneka yang senantiasa mengikuti perintah tuannya.

~.~

Ruang makan yang mewah itu terasa sunyi, tidak ada yang memulai pembicaraan. Dan tampaknya, Sakura yang tidak tahan dengan hawa mencekam di sekitarnya mulai berinisiatif untuk membuka percakapan, sebagaimana yang dilakukan pasangan muda lainnya.

"Setelah ini kau berangkat kerja?"

"Hn."

Tanggapan yang singkat dan dingin itu membuat Sakura sedikit merutuki kebodohannya yang lancang memulai percakapan. Dalam hati tentunya.

Setelah momen yang canggung itu, tidak ada lagi yang mencoba membuka suara. Sasuke yang memang sejak awal tidak ingin berbasa-basi atau berbicara tetap diam dan melanjutkan sarapan paginya dengan tenang, sedangkan sang istri yang awalnya berusaha memecah keheningan sekarang malah ikut-ikutan terdiam karena tidak tahan dengan suasana yang tegang.

"Aku berangkat." Kata Sasuke dingin setelah menghabiskan makanannya yang dibalas Sakura hanya dengan anggukan kaku.

~.~

Seharian ini hati Sakura dipenuhi dengan kejemuan. Tidak ada yang dapat dikerjakannya. Mungkin setelah ini gadis itu akan mempertimbangkan niatnya meminta izin kepada suaminya untuk melanjutkan kariernya sebagai designer.

Saat berkeliling mansion yang besar itu, kakinya berhenti di depan sebuah pintu menuju ruang yang sepertinya hampir tidak pernah dikunjungi. Perpustakaan pribadi.

Hatinya tiba-tiba meronta supaya dirinya masuk ke dalam, Sakura mulai memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk. Di dalam, dia mendapati beberapa rak yang terisi penuh dengan berbagai macam buku dan diselimuti debu yang cukup tebal.

Pandangan matanya tertumbuk pada sebuah buku tebal bersampul merah marun di atas meja. Sebuah album foto. Tangannya mulai membuka beberapa helai halaman album foto yang secara tidak sengaja ditemukannya. Terlihat sebuah keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia. Semua yang ada dalam foto itu terlihat mirip, berambut hitam dengan mata yang berwarna senada, dan akhirnya dia meyakini kalau salah satu dari dua anak kecil dalam foto itu adalah sang suami― Uchiha Sasuke.

Sakura terus melihat semua foto yang ada dalam album itu, sepasang manik emeraldnya bergerak menelusuri setiap inci foto. Tanpa sadar, sebuah senyum simpul terus menghiasi wajah cantiknya. Entah kenapa hatinya tenang, melihat pemuda yang dicintainya saat masih kecil. Tatapan tanpa dosa pemuda itu, berbeda sekali dengan tatapan dinginnya sekarang. Mengingat hal itu, membuat senyumnya berganti dengan senyum miris.

Tanpa disadarinya waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Dia menghela nafas panjang dan beranjak meninggalkan ruangan penuh buku tersebut.

~.~

Sakura sedang mencoret-coret kertas saat terdengar suara ketukan pelan. Mungkin dari pelayan.

"Ada apa? Pintunya tidak dikunci."

"Nyonya, apa anda mau makan sekarang?" Tanya pelayan itu sopan.

Sakura berpikir sebentar, sampai akhirnya menjawab, "Nanti saja. Aku menunggu Sasuke pulang."

Mendengar jawaban dari Sakura, pelayan itu mengangguk dan menunduk sopan lalu meninggalkan kamar itu.

~.~

Jam menunjukan pukul delapan malam. Seorang pelayan kembali mengetuk pintu kamar tempat seorang gadis bersurai pink melamun sendirian.

"Sudah pukul delapan. Apa anda tidak makan duluan saja?" Kata pelayan itu.

Gadis bersurai pink itu kembali berpikir. Dia juga sudah merasa lapar sekarang, perutnya berontak minta diisi. Namun Sakura masih ingin menunggu suaminya datang dan makan bersama. Setidaknya masih ada yang menemaninya.

"Biasanya dia pulang pukul berapa?" Tanya Sakura kepada pelayan dihadapannya.

"Tuan Uchiha tidak selalu pulang tepat waktu. Terkadang dapat sampai tengah malam atau tidak pulang." Kata pelayannya jujur. Semua pelayan di mansion ini tentu tahu kebiasaan tuannya.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya Sakura memutuskan untuk tidak menunggu pemuda Uchiha itu makan malam.

"Baiklah." Katanya dengan helaan nafas panjang.

~.~

Sungguh miris melihatnya. Biasanya para pengantin baru pasti mengalami masa honeymoon mereka, atau paling tidak suasana diantara mereka masih sangat hangat. Namun tidak bagi pasangan muda Uchiha ini. Bahkan sehari setelah pernikahannya pun dia malah makan malam sendirian tanpa ditemani sang suami.

Gadis itu memang tidak bisa protes juga kepada suaminya. Dia sadar diri. Sebagai pemimpin sebuah perusahaan besar, tentu Sasuke sangat sibuk. Gadis itu juga sadar bahwa mungkin apa yang dilakukan suaminya ini untuk menghindarinya. Sakura sadar bahwa pemuda itu sekarang membencinya. Setiap mengingat akan hal itu hatinya terasa teriris. Tanpa sadar cairan bening meluncur dari pipi porselennya.

"Apa kau membenciku sebegitunya?" Gumamnya.

~.~

Uchiha Sasuke melewati ruang keluarga di rumahnya. Obsidiannya tertuju pada seorang gadis bersurai pink yang tertidur di sofa. Istrinya, Sakura menunggu kedatangannya. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.

Tanpa pikir panjang pemuda itu menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju kamar mereka. Setelah meletakan Sakura di kasur yang nyaman dan menyelimutinya pemuda itu memilih untuk membersihkan diri dan mengikuti sang istri berkelana dialam mimpi.

Sebelum pemuda Uchiha itu benar-benar terlelap dia menyempatkan diri mencium bibir sang istri.

"Aku membencimu." Gumamnya lirih.

~.~

Langit mulai menampakan sang surya. Sepasang emerald perlahan membuka. Sang pemilik merasa tubuhnya terasa berat. Disadarinya Sasuke memeluknya dari belakang, sangat erat bahkan membuat gadis bersurai pink itu sulit bernafas. Jantungnya terasa berdebar dua kali lebih cepat. Sensasi yang pernah dirasakannya dulu bersama pemuda yang telah menjadi suaminya sekarang, sebelum pemuda itu membencinya.

Setelah cukup lama membiarkan posisi mereka seperti itu, Sakura mencoba melepaskan diri tanpa ingin mengganggu tidur sang suami. Diingatnya kembali kemarin malam dirinya menunggu Sasuke pulang dan tertidur di sofa.

"Apakah dia menggendongku ke kamar?" Gumam Sakura seakan baru menyadari sesuatu.

~.~

Gadis musim semi itu bertekad akan menjadi istri yang baik bagi suaminya. Meskipun sang suami membencinya. Sakura akan tetap berusaha menjadi istri yang baik. Mungkin untuk menebus dosanya kepada pemuda itu, ataukah karena Sakura masih sangat mencintai Sasuke? Hanya dirinyalah yang tahu jawabannya.

~.~

Uchiha Sakura menyiapkan pakaian untuk suaminya. Setelah itu dia membangunkan Sasuke. Pemuda itu tidak menolak segala yang telah dilakukan istrinya kepadanya, namun pemuda itu juga tidak menanggapinya. Tidak ada kata-kata manis yang biasa dilontarkan pasangan muda ataupun sekedar kata terima kasih.

Mereka berdua tetap sarapan bersama. Kali ini Sasuke yang membuka pembicaraan dulu.

"Nanti malam ada pesta ulang tahun perusahaan. Belilah gaun yang pantas. Kau bisa menggunakan credit card yang kemarin kuberikan." Kata pemuda itu singkat.

"Ya." Jawab Sakura tanpa berusaha menolak sedikit pun.

~.~

Gadis bersurai pink itu sibuk mempersiapkan segala yang akan dikenakannya nanti malam. Hal ini cukup efektif untuk menghabiskan waktunya yang benar-benar senggang. Ini lebih baik daripada harus berdiam diri dirumah.

Saat memasuki sebuah toko yang terlihat sangat mewah gadis itu nampak bingung memilih apa yang akan dikenakannya. Gadis itu harus bisa tampil sebaik mungkin malam ini. Dia tidak ingin mengecewakan pemuda Uchiha itu.

Gadis musim semi itu terlihat sangat menawan. Semua orang pasti akan langsung teresona dengan kecantikannya. Mungkin saat orang-orang melihatnya dengan Uchiha Sasuke dipesta nanti orang-orang itu hanya dapat mengerang kecewa.

~.~

Sepasang obsidian tanpa sadar memandang kagum pada gadis dihadapannya. Sebuah senyum tipis menghiasi wajah pemilih obsidian tersebut. Namun sebelum sang gadis menyadarinya senyum itu sudah dihilangkan dari wajahnya, berganti dengan wajah datarnya seperti biasa.

"Ayo." Katanya singkat.

~.~

Media masa berkumpul didepan hotel tempat pesta itu akan dirayakan. Mereka berusaha meliput orang-orang penting yang datang, tidak terkecuali pasangan muda Uchiha.

Tentu saja mereka berdua berusaha menghindar dari terjangan publik saat meuju pintu masuk. Mungkin orang-orang juga ingin tahu perihal hubungan mereka yang terlalu banyak mengandung misteri. Semua orang jelas heran ketika pemuda Uchiha itu tiba-tiba mengumumkan pernikahan dengan Haruno Sakura, seorang rookie-designer Paris.

Tangan Sakura menggelayut manja di lengan kekar milik Sasuke. Sepertinya mereka berdua memang berencana untuk membuat publik tahu bahwa hubungan mereka hangat. Tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi dibalik semua ini.

Setiap orang memandang iri terhadap pasangan Uchiha itu. Benar-benar pasangan sempurna secara fisik. Namun sekali lagi, apa mereka semua tahu apa yang ada dibalik semua ini?

~.~

Sejujurnya Sakura sangat jenuh, tidak ada yang dikenalnya disini. Sasuke juga malah mengabaikannya dan berbicara dengan orang lain. Ya, dia memang biasa diabaikan sang suami.

Saat melamun dan duduk disebuah kursi yang cukup jauh dari keramaian, seorang pemuda yang kira-kira seumurannya menghampirinya sambil malambaikan tangan.

"Hai." Sapa pemuda itu.

Sakura tersadar dari lamunannya dan secara refleks membalas singkat sapaan pemuda itu. Sesaat kemudian keningnya berkerut, berusaha mengingat apa dia mengenalnya.

"Kenapa kau memilih menyendiri disini?" Tanya pemuda itu. Tampaknya dia sedang berusaha untuk berbasa-basi dengannya.

Akhirnya Sakura memilih untuk meladeninya, daripada dia mati kebosanan di acara ini. Tanpa mereka berdua sadari, sepasang obsidian tengah memperhatikan gerak gerik kedua insan tersebut.

"Hanya ingin saja." Jawab Sakura asal.

"Alasan macam apa itu?" Tanya pemuda itu geli. "Kenalkan namaku Inuzuka Kiba." Katanya sambil mengulurkan tangan yang dibalas dengan jabatan singkat dari Sakura.

"Namaku ..." Tampak gadis itu berpikir sebentar sebelum dia berkata, "Sakura." Pada akhirnya Sakura memilih untuk tidak menyebutkan nama marganya yang baru.

Mereka berdua berbincang cukup lama, terkadang Sakura tertawa kecil mendengar lelucon yang dilontarkan pemuda itu. Tentu saja pemuda Uchiha yang tengah memperhatikan mereka sekarang sedang menahan amarah, gigi-giginya bergemeltuk geram.

Setelah pesta usai, Uchiha Sasuke langsung mendekati kedua orang itu. Obsidiannya memandang tajam pemuda bernama Kiba.

"Sakura, ayo pulang." Katanya singkat dengan nada dingin. Dia tidak mengindahkan Kiba yang juga berada disitu.

Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Sasuke langsung menarik tangan sang istri mengikuti langkahnya. Gadis bersurai pink itu dengan tertatih-tatih berusaha mengikuti langkah pemuda yang tengah menariknya.

~.~

"Apa yang kau lakukan dengan orang itu?" Tanya Sasuke dingin, obsidiannya memandang tajam gadis dihadapannya.

"M-maksudmu siapa? Kiba? Aku hanya berbincang santai dengannya." Jawab Sakura tergagap dipandang seperti itu oleh seorang Uchiha.

Bungsu Uchiha itu pun mendengus kesal mendengar jawaban sang istri. "Jangan sebut namanya, bitch." Desis pemuda itu tajam.

"Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun dengannya!" Balas Sakura mulai kehabisan kesabaran.

"KAU ISTRIKU! Jadi berlakulah sebagai istri yang baik!" Kata Sasuke keras. "Kukatakan sekali lagi, aku tidak suka melihat milikku didekati orang lain! Dan jangan lupa perjanjian kita." Sasuke merendahkan volume nadanya saat mengucapkan kalimat terakhir, tapi kalimat terakhirnya diucapkan dengan penuh penekanan dan tajam. Obsidiannya berkilat nyalang kala menatap emerald yang bergetar ketakutan.

Sakura diam tak bergeming. Cairan bening sudah mengalir melalui pipi porselennya. Tidak ada kata-kata yang dapat diucapkannya untuk membalas perkataan pemuda dihadapannya, lidahnya kelu dan pita suaranya tercekat hingga tak mampu mengeluarkan argumen yang ditujukan pada sang suami.

Pemuda itu nampak puas dengan apa yang telah dilakukannya kepada sang istri. Seringaian licik menghiasi wajahnya. Memang tadi dia sangat kesal karena Sakura seenaknya berbincang dengan orang lain, namun sekarang dia cukup puas dengan hasil kerjanya. Seperti alasan awalnya menikahi Sakura, pemuda itu ingin balas dendam, tetapi apakah dihati pemuda itu perasaan cinta benar-benar telah hilang tak berbekas? Apakah perasaan kesal yang tadi dirasakannya murni karena tidak rela apa yang menjadi miliknya didekati orang lain? Ataukah karena pemuda itu dibakar api cemburu?

Tbc..

Gimana menurut kalian ceritanya? Maaf ya kalo kurang memuaskan ╥ ﹏ ╥ akhir - akhir ini ide menghilang bagai butiran debu #plak

Jangan lupa kasih kritik dan saran ya biar kita bisa memperbaiki di chapter selanjutnya

Thankyou~

Balesan review chapter sebelumnya..

eL-yuMiichann : wah makasih udah mau review :) jadi malu dipuji gt ^/^

Blue bubble : iya ini lagi dlm proses XD

Qren : sip ini lg dlm proses sasuke jd baik #plak

Hanazono yuri : siap! (ง'̀⌣'́)ง

White moon Uchiha : nti mereka juga bahagia kok :)

LimeGreenRolls : makasih ;) secepat yg kt bisa :)

Sasusaku kira : makasih :) pasti :D

Big thanks bwt semua reader yang udah mau review di fic ini semoga fic ini bisa menghibur

Tofu tomato~