Daniel menguap, berkedip, lalu menguap lagi. Bisik-bisik para murid di lorong sepenuhnya di acuhkan. Disampingnya, Daphne berjalan acuh dengan raut datar sambil sesekali menimpali percakapan Pansy dan Theo yang berjalan di belakang mereka.

Memasuki aula besar, suasana riuh tiap asrama dan sebagian Slytherine menyapa mereka berempat. Santai, Daniel menyisir rambut keritingnya turunan Evan Rosier itu malas lalu kembali menguap. Memperlihatkan sepasang taring kecil yang manis. Ia pun duduk disebekah Draco yang sudah berada di aula terlebih dahulu bersama Blaise. Theo secara otomatis duduk di sebelah pemuda keturunan Itali tersebut dan Pansy juga Daphne duduk didepan mereka.

"Kenapa ramai sekali?" Tanya Pansy kepada Blaise sambil memindahkan makanan ke piringnya.

Pewaris Zabini itu melempar sebuah koran daily prophet kedepan dua gadis itu.

"Tawanan Azkaban, Sirius Black melarikan diri? Pantas sekali banyak dementor di luar sana." Dengus Daphne menatap bayangan para dementor dari balik jendela Hogwarts.

"Lalu? Itu saja?"

Pansy membuang daily prophet kembali pada Blaise yang di hindari dengan baik olehnya.

Diam-diam Daniel melirik kearah Draco yang memakan makanannya dengan acuh tidak tertarik.

"Ekhem. Perhatian semuanya." Seluruh kebisingan hening sejenak, menatap fokus kepada kepala sekolah Hogwarts yang berdiri di tengah aula.

"Seperti yang sudah diberitahukan oleh daily prophet. Buronan Azkaban, Sirius Black melarikan diri. Ini mungkin menjadi catatan pertama dalam sejarah. Karena itu penjaga Azkaban akan berada di sekitar Hogwarts sampai Sirius Black di temukan. Dan karena itu juga, kegiatan quidditch sementara ditiadakan."

Seruan protes meledak seketika. Dumbledore dengan senyum lembut menyuruh para prefect tiap asrama menenangkan anggotanya.

Sekilas tatapan Albus Dumbledore itu bersitatap dengan amber dingin Rosier muda, membawa kilat misterius yang membuat Daniel mengepalkan tangan kuat.

"Dasar pak tua tidak tau malu." Desis si pemilik mata amber begitu tatapan mereka terputus. Mengepalkan tangan semakin kuat, Daniel dengan kejam membunuh monster dalam dirinya yang berusaha mendobrak keluar.

"Seharusnya di beritahukan kemarin, dasar bodoh!" Cela seorang senior tingkat lima Slytherine dalam bisikan. Slytherine memang selalu bicara sambil berbisik.

Suasana kembali riuh seperti biasa. Mari kita lihat ke asrama singa, tepatnya trio emas Gryffindor itu.

"Aku baru tau kalau ia cuek."

"Maksudmu 'mione?"

"Daniel Rosier itu Neville,"

Trio Gryffin menoleh ke meja ular. Terlihat Daniel dengan malas melambaikan tangannya, mengusir setiap anak yang mencoba mengajaknya bicara dengan dalih berkenalan. Ia terlihat sibuk berdiskusi dengan Daphne sambil sesekali memakan makanan yang disuapkan pangeran Slytherine.

"Perasaanku saja atau si Rosier dekat dengan si ferret itu?"

"Pertanyaannya Ron, sejak kapan kau peduli? Dan urusan Malfoy dekat dengan siapa, kau cemburu? Ia sudah tidak lagi mengganggu kita sejak libur natal tahun lalu." Balas Hermione heran. Ia kembali memakan makanannya sambil membaca buku, mengacuhkan tatapan sebal Ron.

"Ngomong-ngomong 'mione. Benar ya, Slytherine itu punya hierarki nya sendiri?" Tanya Neville sambil kembali melirik meja ular.

"Tentu saja bung..."

"Mereka punya sistem hukumnya sendiri..."

"Dan hierarki mutlak yang di setujui semua anak Slytherine.."

Ucapan si kembar Weasley mengalihkan perhatian trio Gryffin dan beberapa pasang mata lain.

"Terima kasih atas penjelasannya Fred dan George." Ujar Hermione, si kembar mengangguk kemudian kembali berjalan pergi menuju asrama Hufflepuff.

"Kalian lihat Malfoy cs itu?" Gadis itu menunjuk meja tengah Slytherine yang diduduki Draco cs.

"Kursi ditengah yang ditempati Malfoy adalah puncak tertinggi. Kalian tau kan, sejak tahun kedua Malfoy telah duduk di kursi itu, artinya ia telah di akui menjadi Prince of Slytherine, diikuti kursi kanan dan kirinya. Seperti tatanan kerajaan, kursi kiri diperuntukkan tangan kanan dan kursi kanan diperuntukkan pasangan. Sedangkan kursi didepan mereka di peruntukkan jendral. Walau pun ada prefect, tetapi keputusan harus disetujui para jendral." Yang lain menggut-manggut mendengarnya.

"Artinya si Zabini adalah tangan kanan, Parkinsons dan Grenggrass adalah jendral. Lalu si Nott dan Rosier itu siapa? Terlebih Rosier, kursi kanan untuk pasangan kan?"

Hampir semua murid Gryffin dan sebagian Hufflepuff yang mendengar menoleh, melihat penuh seksama. Memang, sejak Malfoy duduk disana bangku sebelah kanannya selalu kosong. Dan kini di tempati oleh seorang murid pindahan bernama Daniel Rosier. Mereka semua kembali menatap gadis nomor satu itu penasaran. Sepertinya topik akan masalah kaburnya tahanan Azkaban terlupakan begitu saja.

"Kalian tidak bisa berpikir ya..."

"Si Nott kan pasangan Zabini.."

"Wajar kalau mereka duduk bersama kan.."

Ucapan tiba-tiba si kembar menuai delikan protes dari banyak pasang mata. Menampilkan cengiran, si kembar berjalan cepat menuju asrama Ravenclaw.

"Biar kujelaskan. Selama ini kan setiap ada yang ingin duduk di sebelah kanan Malfoy akan terlebih dahulu di tendang menjauh oleh Parkinsons atau Grenggrass kan.. Kalau di Rosier itu baik-baik saja disana, bahkan sampai dibuat tertawa seperti itu.." Tunjuk Hermione kearah Daniel yang terbahak mendengar celaan Pansy. "Artinya jelas kan.. Ia pasangan seorang Draco Malfoy." Jelasnya. Ia menghabiskan jus labu kemudian bangkit berdiri membawa buku-bukunya.

"Kalau mau lebih paham, tanyakan saja sendiri pada mereka." Lanjut gadis itu kemudian berlalu setelah mengatakan kepada Neville ia akan ke perpustakaan sebelum jam pertama mulai.

Meninggalkan yang lain dalam proses perncernaan penjelasannya itu.

"APA?!"

Sepasang mata amber itu menyipit saat mendengar teriakan heboh dari asrama Gryffindor dan Hufflepuff itu. Matanya semakin menyipit tak kala ia melihat para gadis Ravenclaw dan asramanya sendiri yang berbisik dengan wajah merona dan menunjuknya sambil terkikik.

Memutar mata, Daniel menyender acuh di dada Draco menuai pekik heboh dari para gadis itu. Draco menyodorkan sepotong pie yang langsung di tolak Daniel. Mengerti, Draco kembali menghabiskan makanannya sambil menjawab beberapa pertanyaan Blaise.

"Perasaanku saja, atau para siswi itu memang menunjuk ke arahku?" Ucap Daniel dingin.

"Abaikan mereka. Kau tidak makan lagi?" Sahut Daphne lembut, Daniel menggeleng lalu meletakkan wajahnya di meja.

Blaise dan Theo terkekeh kecil, sedangkan Pansy sibuk mencela seorang gadis tingkat empat yang ngotot ingin berkenalan dengan Daniel.

"Kalian pacaran?" Tanya Daniel tiba-tiba kepada Blaise dan Theo yang berbisik.

Blaise menoleh sebelum menggeleng. "If you don't mind, call me Blaise. And not, he's not my boyfriend. But, he's my fiance." Jawab Blaise dengan senyum kecil, disebelahnya Theo menampilkan cengiran malu.

"Em, maaf soal kemarin. Kau bisa memanggilku Theo." Theo berujar malu-malu, Daniel mengangguk kecil.

"Tidak apa-apa, kalian bisa memanggilku Daniel."

Sementara Daniel mengobrol dengan dua sahabatnya, Draco mengedarkan pandangan. Menyipit saat melihat kepala sekolah menatap kearah Daniel dengan pandangan kosong. Ia heran, tapi juga tidak suka. Mata Albus menyimpan rahasia tak terduga pada kekasih kecilnya? Draco akan awasi penipu itu. Di sisi lain, kedua sahabat perempuannya menebar aura dingin pada asrama lain agar tidak bicara macam-macam.

"Yo, ular kecil kesayanganku."

Daniel cemberut, yang lain terpekik karena gemas. Sebuah tubuh besar menimpa punggung dan kepalanya. Juga membangkitkan death glare maut legendaris milik pewaris Malfoy.

"Woho, santai dragon. Aku hanya bicara sebentar."

"Minggir dari atasku Arlo! Kau berat!"

"Tidak mau, aku sudah nyaman."

Sementara mereka berdebat, di meja Ravenclaw, Ivory menggelengkan kepala disertai kekehan manis Luna. Dari arah meja guru, Remus Lupin tersenyum tipis mendengar suara manja yang sedang protes itu. Severus Snape melirik sedikit kemudian kembali makan.

"Gah! Menyebalkan!" Rutuk Daniel menyikut perut kembaran Ivory itu.

Arlo terkekeh dan dengan senyum dingin menggeser seorang anak tahun pertama yang duduk disebelah Daniel. Membuat anak tersebut dengan takut pindah ke bangku lain.

"Sebelum jan malam, temui Ivory di menara astronomi. Aku sedang menghemat sihirku untuk bulan baru nanti." Ujar Arlo santai, mengabaikan dengusan sebal sepupu angkatnya itu.

"Dan ada seseorang yang ingin bertemu denganmu dragon. Aku pergi dulu, bye girls." Lanjutnya, menepuk bahu Draco dan mengedip kepada dua gadis dihadapan mereka yang dibalas anggukan oleh Daphne dan Pansy. Sudah biasa.

"Hey big snake.."

"Bagaimana kalau kau ikut kami..."

"Kami punya sesuatu untukmu.."

Si kembar Weasley berjalan dengan senyum mencurigakan kearah Arlo yang terkekeh. Ia paham sekali apa yang mereka mau.

"Tidak hari ini, twins. Aku sibuk."

"Ayolah bung.."

"Kau tidak seru..."

Mengacuhkan keributan yang dibuat kembar Weasley dan sepupunya, Daniel menoleh ke arah Draco.

"Siapa yang ingin bertemu denganmu, Drake?" Tanya Pansy bingung.

"Entahlah, ayo pergi. Jam pertama akan segera dimulai." Jawab Draco. Dengan lembut ia membantu Daniel bangkit.

Mereka berjalan pergi kecuali Pansy yang baru akan masuk kelas saat pukul sepuluh nanti. Mereka berpisah didepan tangga berputar. Blaise dan Theo ke sebelah kiri, sedangkan yang lain ke arah kanan.

Memasuki kelas, Slytherine bergabung dengan Gryffindor. Sebuah lemari yang mengeluarkan suara gaduh menarik perhatian para murid. Tidak terkecuali Draco, Daniel, dan Daphne. (baru sadar mereka trio D xd)

"Nah anak-anak. Hari ini kita akan mulai pelajaran dengan boggart. Siapkan tongkat kalian. Sebelumnya, ada yang tau apa itu boggart?"

Remus Lupin tersenyum tipis melihat acungan jari dari trio emas Gryffindor. Diam-diam sepasang mata amber memutar mata, lelah dengan adegan carmuk. Jawaban mereka di hadiahi 30 poin asrama.

Setelah penjelasan dan praktek singkat dari Remus, murid-murid di persilahkan untuk maju. Satu-persatu dari mereka di bujuk untuk mengatasi rasa takut mereka. Dari yang mengerikan menjadi tawa riang. Tersisa dua anak, Neville dan Daniel. Dengan bijak, Neville ditahan oleh Remus.

'Oh yeah, the-boy-who-alived huh?' Batin Daniel lelah.

"Mr. Rosier, silahkan maju." Ucap Remus lembut.

Daniel menghela napas kemudian berjalan maju. Boggart didalam lemari bergerak riuh, mencoba keluar. Begitu Daniel sampai didepannya, lemari itu langsung diam.

Kriekk...

Kabut abu-abu tipis mengudara begitu pintu lemari terbuka membuat para murid mengerenyitkan kening bingung. Sigap, Daniel mengacungkan tongkatnya kedepan. Di lain pihak, Remus dan Draco merasakan perasaan tegang, ada yang salah.

'Daniel..'

Sebuah bola putih muncul perlahan, melayang-layang kemudian berhenti didepan tongkat Daniel. Seolah mengejek, bola tersebut menabrakkan dirinya pelan ke tongkat.

Hening sejenak...

"HAHAHAHAHAHA!!!!"

Sebuah tawa menggelegar terdengar dari dalam bola putih itu, membuat semuanya menutup telinga spontan. Terkecuali Daniel yang semakin mengeratkan genggamannya di tongkat.

Ia menggigit bibir bawahnya, menahan geraman yang ingin keluar.

"Riddikullus!"

Bruakk..

Hening lagi.. Kali ini lebih mencengkam.

Semua melongo melihat Daniel yang merapal mantra sekaligus menghancurkan boggart.

Tes..

Setetes darah mengalir keluar dari sela bibir, rautnya dingin kejam. Kaki mungil itu berbalik, berlari keluar kelas.

Sadar,Draco segera melesat Daniel diikuti Daphne. Para murid lain saling berbisik ricuh. Bingung dengan apa yang terjadi.

"A-ah.. Baiklah. Karena jam sudah habis, silahkan keluar. Dan Mr. Flint, tolong sampaikan kepada Mr. Rosier untuk menemuiku begitu ia tenang." Ucap Remus membubarkan kelas setelah berpesan kepada salah satu anak asrama Slytherine.

Sang surai coklat madu terduduk kosong di kursi. Ia merasakan sesuatu yang aneh, dan perasaan bersalah luar biasa karena membuat Daniel harus menghadapi boggart. Ada apa?

"Dan!"

Isakan mengalir lembut, kakinya masih membawanya pergi, telinga seolah tidak mendengar panggilan namanya. Hanya tawa itu, suara tawa itu yang diingat, lagi dan lagi.

"Daniel!"

"Mr. Rosier, Mr. Malfoy, Ms. Grenggrass. Berhenti sekarang! Hei!"

Draco berdecih, disampingnya Daphne melemparkan death glare kepada seorang Head boy yang tadi mencoba menghentikan mereka.

Para siswa yang lain segera menyingkir. Berbelok, mereka memasuki lorong yang jarang di lewati siswa.

"Itu Daniel?"

Sebuah suara feminim dan halus menyapa indra pendengarannya. Masih sambil berlari, Daniel mendongak. Walau matanya buram karena air mata, ia masih mengenali dua sosok yang sedang berdiri di dekat jembatan besar. Ternyata ia berlari hingga kawasan belakang Hogwarts.

Isakannya semakin jelas, larinya semakin cepat. Ia melompat ke pelukan sosok yang lebih tinggi, cepat.

"Whops. Hati-hati, Dan."

Isakannya berubah menjadi jerit tangis. Tangan mungilnya mencengkram jubah depan sosok itu.

"Dan.. Hosh.. Niel.. Hosh.."

Sepasang mata berwarna steel blue mendekati silver itu menyipit. Memandang dingin dua sosok yang sedang terengah. Tangan kanannya memeluk Daniel, sedang tangan kiri mengelus punggungnya.

"Good morning, Ms. Archilles. Maaf mengganggumu." Salam Daphne setelah nafasnya stabil. Ia melirik cemas ke arah Daniel.

Ivory mengangguk. Pewaris Lady of Ravenclaw itu memberi peringatan lewat mata kearah Draco yang berjalan mendekat.

Draco menggeram rendah, matanya memicing tidak suka. Dengan sangat terpaksa ia harus patuh, sekali lihat saja ia paham. Gadis bernama Ivory itu punya aura yang kuat dan berbahaya, juga ada sesuatu yang membuat Draco mau tidak mau tunduk.

"Halo Draco, Ms. Grenggrass. Ada apa dengan kalian berdua dan Daniel?" Tanya Luna ceria. Ia maju selangkah, menutupi bayangan Ivory bagi Draco.

"Luna." Nadanya mempringati.

"Tidak apa-apa Ivo. Kita berada di lorong tersembunyi, terlebih lagi ini sudah masuk jam pelajaran selanjutnya, tidak ada orang." Balas Luna sendu. Gadis itu memandang Draco dan Daphne bergantian.

"Kalian membawa nirgles yang sedih. Boleh aku tau ceritanya?"

Daphne melirik, yang dilirik membuang muka karena kesal. Ia pun menghela napas dan mulai bercerita.

Delapan menit kemudian ia menghela napas. Ivory dan Luna saling melirik paham. Sekali sentak, tubuh mungil Daniek berada dalam gendongan Ivory. Gadis itu berjalan mendekat kearah Draco. Menyadarinya, Draco mengulurkan tangan, mengambil alih tubuh Daniel dari gendongan.

"Tenangkan ia. Untuk sementara, keberadaanmu sangat dibutuhkan kondisi jiwanya. Jangan memaksanya, tinggal didekatnya sementara waktu. Jika sampai purnama ia masih kosong, temui aku. Ayo Luna."

"Tunggu.. Bagaimana dengan.."

"Dia akan bersamaku sementara."

Draco mengangguk kecil, sedangkan Daphne masih memandang datar.

"Hiks.. Ivo.." Rengekan itu membuat Draco menunduk. Melihat kekasih kecilnya yang menatap nanar kepergian gadis Archilles itu.

Ivory berhenti bersama Luna. Luna tersenyum lembut, "Yang kau butuhkan bukan Ivory, Dan. Tetapi mate-mu. Sampai jumpa. " Ujar Luna riang, ia melambai kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

"Oh, Draco. Kau tetap ke menara astronomi ya." Teriak Luna dari balik belokan.

"Drake?"

"Kita kembali Daphne. Akan kujelaskan di asrama."

End of Chapter 7