My Prince [A NaruSaku Fanfiction]

.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more

Riz Riz 21

presented

.

.

.

Chapter IX

.

.

.

Aku hanya bisa duduk ditepi kasur yang tadi menjadi tempat tidur Sai dengan raut wajah yang mirip seperti orang linglung. Seragamku yang basah sudah diganti—tentu saja. Terima kasih untuk Shino yang dengan cekatan langsung mengambilkan aku satu stel baju ganti yang entah didapatnya dari mana.

"Aku sungguh minta maaf Sakura-chan," kata Naruto dengan tidak jelas karena mulutnya penuh dengan onigiri tapi kedua matanya menatapku dengan sangat lembut.

Ugh. Menatap kedua mata Naruto berlama-lama sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku sepertinya.

"Ternyata selain Pangeran miskin, anda juga seorang Pangeran mesum." Sai memberikan Naruto tatapan tajam yang langsung membuat Naruto itu cemberut.

"Aku tidak sengaja! Habisnya aroma Sakura-chan seperti onigiri!" seru Naruto sambil mengikat dasinya sendiri.

"Aku sungguh minta maaf atas nama Pangeran, untung saja Kiba menemukan seragam ganti untukmu," kata Sai lalu menatapku dengan tatapan bersalah yang berlebihan.

"Iya-iya, sudah jangan meminta maaf lagi. Lagian tadi itu juga tidak disengaja." Jujur, lama-lama aku gerah dengan segala permintaan maaf itu.

"Sakura-chan~! Kamu yang terbaik!"

Detik selanjutnya yang tubuhku rasakan hanya pelukan dari Naruto yang begitu hangat dan menyesakkan, aku menoleh dan mendapati senyuman lebar yang sudah begitu khas terpampang diwajahnya. Spontan aku pun menarik sudut bibirku dan ikut tersenyum—meski senyumanku tidak bisa dibilang sebagai senyuman lebar.

SAKURA END POV

.

.

.

Naruto dan keempat bodyguard sudah memulai sarapan mereka yang aneh dan tentunya mereka lakukan didalam ruangan kesehatan. Sakura masih duduk ditepi kasur dan menatap kelima laki-laki dihadapannya dengan tengah sarapan dengan keadaan yang amat terbalik dari kenyataan. Terlihat keempat bodyguard Naruto duduk dikursi dengan meja panjang berisikan berbagai makanan dihadapan mereka—meja dan makanan yang entah datang darimana.

Berbeda dengan Naruto yang duduk dilantai dengan satu piring berisikan kulit roti dihadapannya. Sakura benar-benar bingung harus bersikap seperti apa saat melihat keadaaan yang berbanding terbalik itu. Sebenarnya disini siapa yang bangsawan (Pangeran Naruto) dan siapa yang pelayan (keempat bodyguard Naruto).

"Aku mau makan sedikit lagi," kata Naruto begitu isi piringnya habis pada Sai.

"Tidak bisa. Anda harus berlatih disiplin!" Sai menatap Naruto dengan tatapan yang tajam.

"Latihan disiplin memang berat," kata Shikamaru yang dengan nyamannya memasukan berbagai makanan kedalam mulutnya.

"Harusnya anda bersyukur karena pagi ini, Sakura-san membawakan onigiri." Sai menatap kotak yang masih berisikan banyak onigiri buatan Sakura.

Sakura memberikan tatapan sedikit kaget pada Sai, rasanya ini pertama kalinya bodyguard Naruto menyebut namanya.

"Ah! Benar juga!" Naruto langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri kotak berisikan onigiri yang ada disamping kasur tempatnya tidur tadi.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa tidur di ruang kesehatan?" tanya Sakura dengan hati-hati begitu Naruto memakan satu onigiri buatannya.

"Oh, Sasuke-teme memberikan Sai kuncinya," jawab Naruto santai tanpa menyadari aura gelap dari keempat bodyguard-nya.

"T-T-Teme?" ulang Sakura yang tidak percaya, bukannya teme itu artinya… you know. "Kenapa kamu memanggil Sasuke-sensei seperti itu? Itu kan tidak sopan."

"Um?" Naruto menatap Sakura dengan tatapan polos tak berdosa. "Memangnya kenapa? Aku sudah memanggilnya seperti itu sejak umur sepuluh tahun."

"Nani?"

Baiklah sebenarnya ada hubungan apa antara Naruto dan Sasuke?

.

.

.

Sekitar sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi, terlihat kawasan Tokyo High School sudah dipenuhi oleh para murid. Sakura menatap kakinya yang tengah melangkah dengan tidak bersemangat, pikirannya entah mengapa mendadak dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan salah satunya mengenai hubungan macam apa yang terjadi diantara Naruto dan Sasuke.

Mereka tidak mungkin berkeluarga, karena dengan jelas dan padat marga mereka berdua berbeda belum lagi ciri-ciri fisik mereka yang juga sangat bertolak belakang satu sama lain. Naruto memiliki warna mata dan rambut yang cerah—biru laut dan pirang yang menjurus kewarna cahaya matahari sedangkan Sasuke memiliki warna mata dan rambut yang gelap—hitam onyx dan biru malam.

Sakura juga tahu dirinya tidak bisa bertanya pada Naruto lagi saar melihat gelagat aneh dan tatapan mata yang tajam dari keempat bodyguard Pangeran muda itu. Mereka sepertinya sengaja menyembunyikannya atau memang mereka harus menyembunyikannya?

BRUK!

"Aduh!" seru Sakura dengan repleks dan tubuhnya terdorong kebelakang.

"Kamu tidak seharusnya melamun, Nona Haruno," kata seseorang yang ditabrak Sakura dengan nada tenang.

"G-Gomennasai—" Sakura mendongak lalu kedua matanya melebar dan rona merah yang tipis menghiasi wajahnya. "Sasuke-sensei…"

"Hn?"

"Ah, ohayou gozaimasu sensei!" kata Sakura dan langsung membungkukan tubuhnya sedikit.

"Ohayou," balas Sasuke dengan singkat. "Jadi? Apakah kamu kurang makan sehingga melamun seperti tadi?"

"Iie, tadi aku sedang memikirkan sesuatu sensei," jawab Sakura dengan nada pelan karena tengah memikirkan sesuatu yang tiba-tiba muncul dikepalanya.

"Lebih baik kamu segera kembali ke kelas," nasehat Sasuke lalu menepuk pelan bahu Sakura sebelum akhirnya meninggalkan gadis berambut merah muda itu.

"Tunggu Sasuke-sensei!" seru Sakura yang menahan lengan Sasuke dengan kedua tangannya.

Sasuke langsung menoleh dan memberikan tatapan kaget pada Sakura yang tentunya tatapan kaget itu segera berubah menjadi tatapan dinginnya yang biasa. "Ada apa?"

"Aku ingin bertanya sesuatu, sensei."

"Silahkan."

"A-Apakah Sasuke-sensei memiliki hubungan dengan Naruto?" tanya Sakura dengan ragu, itu semua karena fantasi liarnya yang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak tentang hubungan Sasuke dan Naruto.

"Hubungan?" Sasuke menatap Sakura dengan bingung yang langsung membuat gadis itu menunduk. Seringai mulai terukir dengan indah diwajah tampan Sasuke. "Menurutmu?"

"I-Itu…"

"Kamu bisa bilang aku ini kenalannya Naruto-dobe." Sasuke berkata dengan dingin lalu melepaskan kedua tangan Sakura yang ada dilengannya. "Sebaiknya kamu kembali ke kelas."

Sakura cengo, apa kata Sasuke tadi? 'Naruto D-Dobe'? Itu kan panggilan yang juga sama tidak sopannya dengan panggilan yang Naruto sebut saat di ruang kesehatan lagi! Belum lagi Naruto itu seorang Pangeran alias calon Raja disebuah kerajaan. Kenapa Sasuke memanggilnya dengan tidak hormat seperti itu? Sakura kembali dibuat bertanya-tanya.

Apakah Naruto dan Sasuke itu teman? Sahabat? Tapi tadi kata Sasuke, dia hanya kenalannya Naruto. Tapi mana ada seorang kenalan yang memberikan panggilan 'tidak sopan' seperti tadi! Tapi… Tapi…, inner Sakura saling beradu. Sakura mengacak rambutnya dengan kesal lalu kedua matanya melebar saat menyadari bahwa Sasuke sudah sangat jauh didepannya—dia belum selesai bertanya!

"Tunggu dulu Sasuke-sen—"

TENG! TENG! TENG!

.

.

.

"Sakura-chan! Kamu dari mana saja sih?" tanya Naruto yang langsung tersenyum lebar begitu melihat Sakura yang melangkah masuk ke dalam kelas.

"Ah, aku tadi dari toilet," jawab Sakura dengan lembut dan tak lupa membalas senyuman Naruto. Sakura tidak berbohong, dia memang habis dari toilet sebelum bertemu dengan Sasuke dilorong tadi.

"Kamu beruntung! Sepertinya Kakashi-sensei akan datang terlambat," kata Naruto sambil memakan onigiri buatan Sakura tadi yang masih tersisa banyak—mungkin bisa untuk makan siang nanti.

"Kakashi-sensei memang selalu datang terlambat," sahut Ino yang tanpa sengaja mendengar perkataan Naruto.

"Ya, aku tahu." Naruto menyibukkan diri dengan memakan onigiri yang ada ditangannya.

Sakura tersenyum tipis—entah apa maksud senyuman itu, lalu berjalan menuju bangkunya sendiri. Senyumannya sedikit melebar saat menemukan Hinata yang tengah tersenyum lembut kearahnya, setidaknya senyuman dari sahabatnya itu bisa membuat mood nya sedikit lebih tenang.

.

.

.

Ini sudah sekitar lebih dari duapuluh menit sejak bel masuk berbunyi, tapi Kakashi sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Biasanya guru yang sering sekali terlambat dan membaca buku yang entah apa itu hanya terlambat lima belas menit atau kurang, tapi sayangnya kejanggalan keterlambatan Kakashi ini sama sekali tidak disadari oleh para anak didiknya yang masih sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Sakura tersentak, tidak menyadari bahwa Naruto ternyata sejak tadi ada disamping mejanya dengan tangan dan kepala yang berada diatas mejanya. Tatapan mata Sakura langsung berubah menjadi heran, apa yang dilakukan Naruto?

"Kenapa?" tanya Sakura pada akhirnya karena sejak tadi mereka hanya saling menatap dan Sakura mulai tidak tahan dengan degub jantungnya yang berisik.

"Apakah terjadi sesuatu padamu Sakura-chan?" tanya Naruto yang tiba-tiba menatap Sakura dengan begitu dalam.

"Eh?" Sakura dengan penuh hati-hati mencoba menghindari tatapan mata Naruto tapi tentu saja hal itu tidak semudah yang dikirannya.

"Kamu hari ini jadi pendiam, um.. sejak kita keluar dari ruangan kesehatan tadi." Naruto masih asik menatap Sakura. "Apa yang terjadi atau mungkin apa yang menganggu pikiranmu?"

"Tidak ada apa-apa kok," jawab Sakura sambil mencoba tersenyum—yang akhirnya malah menjadi senyuman yang amat kaku.

"Benarkah? Kamu tidak menyembunyikan apa pun kan?" Naruto terlihat tidak percaya dan terus mendesak Sakura.

"Benar. Memang tidak ada ap—"

Gruyuk~

Diam, baik Sakura maupun Naruto sama-sama terdiam saat mendengar suara itu. Entah mengapa dunia juga ikut terdiam meski kenyataannya kelas mereka sangat ramai dengan suara-suara para murid yang asik berbincang atau tengah bermain kartu atau apapun itu yang membuat suara ramai yang sedikit menanggu. Tapi bagi Sakura dan Naruto dunia serasa sangat hening seperti tidak memiliki suara.

Tiba-tiba Naruto tersenyum dengan lebar dan menatap Sakura yang tengah merona malu dengan lembut.

"Ahaha. Sakura-chan lapar ya?" tanya Naruto dengan hangat.

"A-Aku…"

Hap.

Kedua mata Sakura melebar saat merasakan onigiri yang menyentuh bibirnya, terlihat bahwa Naruto lah yang menyodorkan onigiri itu.

"Sakura-chan belum sarapannya?" Naruto masih menatap Sakura dengan hangat. "Maaf, karena sibuk membuat onigiri untukku dan yang lainnya. Sakura-chan jadi terlambat sarapan. Onigiri nya masih banyak, Sakura-chan makanlah."

Sakura hanya diam, hatinya terasa hangat begitu juga wajahnya. Dengan gerakan pelan Sakura mengambil onigiri yang ada ditangan Naruto dan memakannya dengan sama pelannya.

"Terima kasih, Naruto."

"Kembali kasih, Sakura-chan."

DEG.

.

.

.

Bel istirahat baru saja berbunyi yang langsung disambut oleh para murid yang berjalan keluar kelas menuju kantin untuk makan siang atau halaman sekolah untuk sekedar bermain. Sakura sendiri berada dibarisan para murid yang ingin pergi ke kantin bersama Ino karena mereka sama-sama tidak membawa bekal—coret, sebenarnya Sakura membawa bekal yang hanya berisikan onigiri.

Selesai membeli beberapa makanan yang diinginkan, Sakura dan Ino langsung berjalan menuju kelas agar bisa memakan makan siang mereka bersama dengan Hinata atau mungkin juga bersama dengan Naruto berserta keempat bodyguardnya.

"Wah! Hinata-chan memang selalu menepati janjinya!" suara Naruto yang nyaring langsung terdengar begitu Sakura dan Ino berjalan masuk ke kelas.

"Aku juga membuatkan untuk kalian," kata Hinata kepada keempat bodyguard Naruto.

"Tidak seharusnya kamu melakukan ini, Hinata-sama," kata Sai dengan tegas.

"Aku hanya membuatkan bekal untuk teman-temanku," kata Hinata sambil tersenyum lembut lalu kedua manic lavender-nya menatap Sakura dan Ino. "Sakura-chan, Ino-chan, aku membuatkan kalian bekal makan siang."

Sakura dan Ino sama-sama tersentak, tapi dalam artian yang lain. Ino langsung bergegas mendekati Hinata dan menerima bekal makan siang yang Hinata tawarkan, berbeda dengan Sakura yang masih berdiam ditempatnya. Pikiran Sakura terasa semakin berat, perkataan Naruto yang tadi didengarnya dan panggilan Sai pada Hinata lah yang membuat pikirannya memberat. Belum lagi fakta bahwa Hinata membuatkan bekal makan siang untuk mereka semua—Naruto, Sakura, Ino, Kiba, Shikamaru, Shino, dan Sai.

Apakah Hinata juga memiliki suatu hubungan rahasia seperti halnya Sasuke dan Naruto?

Tapi hubungan macam apa yang dimiliki ketiga orang itu?

"Sakura-chan, sini! Kamu tidak mau kalau makan siangmu aku makan kan?" panggil Ino pada Sakura yang masih berdiam diri didekat pintu kelas.

"Ah! Jangan makan makan siangku!" Sakura langsung berjalan mendekati kedua sahabatnya dan menampilkan raut ceriannya yang biasanya, hanya saja itu palsu.

.

.

.

Sakura melangkah kakinya keluar gedung Tokyo High School dengan tidak semangat, sangat berbeda dengan langkah kakinya tadi pagi yang melangkan dengan begitu semangatnya—terlalu semangat malahan. Sakura menghela napas lalu mendongak, menatap Ino, Hinata, Naruto, Shikamaru, Kiba, Sai, dan Shino yang berada tak jauh didepannya—mereka terlihat hanyut kedalam pembicaraaan yang entah apa. Bukannya Sakura tidak ingin membaur, dirinya hanya sedang tidak bersemangat.

Apalagi jika didekatnya terdapat Hinata dan Naruto—entah mengapa.

Mungkinkah Sakura cemburu? Dengan cepat, kepala Sakura langsung mengeleng dengan cukup kuat.

PLUK.

Sakura menoleh saat merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya dengan pelan, terlihat Sasuke yang juga tengah menatap Naruto dan kawan-kawan didepan sana.

"Sasuke-sensei?" lirih Sakura.

"Rasanya sungguh aneh jika melihatmu yang tidak terlihat bersemangat seperti ini," kata Sasuke dengan tenang dan menatap Sakura.

"Ah…." Sakura menghela napas pelan dan menunduk, bingung harus menbalas apa.

"Dan kenapa kamu sendirian disini sedangkan teman-temanmu didepan sana?" tanya Sasuke yang kembali menatap kedepan—kearah Naruto dan kawan-kawan yang sudah hampir mencapai gerbang.

"Aku hanya sedang merasa tidak bersemangat untuk membaur dengan mereka," jawab Sakura dengan nada pelan tapi masih bisa didengan oleh Sasuke dengan jelas.

"Hn?" Sasuke terlihat bingung. "Aku pikir kamu adalah gadis yang selalu bersemangat, nona Haruno."

"Ini semua karena Naruto!" seru Sakura tanpa sadar. "Ini juga karena Sasuke-sensei dan lagi ini juga karena Hinata-chan!"

"Apa maksudmu?"

"Aku benar-benar bisa gila jika pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan apa yang kalian bertiga jalin itu belum terjawab!" Sakura menatap Sasuke dengan tatapan tegas.

"Hah? Tadi pagi kamu hanya bertanya tentang hubunganku dan Naruto-dobe," kata Sasuke dengan santainya dan mengabaikan tatapan tegas Sakura.

Sakura menganga, "Aku tidak tahu kalau kamu orang yang juga sedikit menyebalkan, sensei," katanya.

"Itu karena kamu tidak mengenalku." Sasuke mengangkat bahunya lalu berjalan menjauhi Sakura. "Jaa."

"Tidakkah Sasuke-sensei ingin bertanya apa pertanyaanku tentang kalian bertiga?!" seru Sakura begitu Sasuke berjarak sekitar tiga meter darinya.

Sasuke menoleh dan berkata dengan tenang, "Siapa yang kamu maksud bertiga?"

"Dirimu, Naruto, dan Hinata-chan!"

"Aku akan menjawab satu pertanyaan darimu." Sasuke berbalik dan menatap Sakura dari tempatnya berdiri, membiarkan jarak tiga meter menjadi sekat antara dirinya dan gadis berambut merah muda itu.

Dengan tenang, Sakura menarik oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida lalu mulai bertanya, "Apakah kalian—maksudku dirimu, Naruto, dan Hinata-chan itu bersahabat?"

"Sahabat?" ulang Sasuke yang dibalas anggukan mantap dari Sakura. "Aku tidak merasa bahwa aku dan Naruto-dobe bersahabat."

"Apa?"

"Begitu juga dengan Naruto dan sahabatmu itu."

Oh, tidak. Pikiran negative tentang hubungan Naruto dan Hinata mulai kembali memenuhi isi otak Sakura.

.

.

.

To Be Continue


Author's Note :

Aku minta maaf untuk segala kekurangan yang ada di chapter 9 ini, jika kemarin aku bilang chap 8 adalah chap yang paling lama dibuat maka chap 9 adalah chap yang paling sulit dibuat. Padahal semua rangka isi chap 9 sudah tersusun rapi dikepalaku, tapi semuanya langsung hilang begitu saja saat aku mulai menulisnya—entah mengapa. Aku benar-benar sangat frustrasi saat membuat chap ini bahkan berniat untuk kembali hiatus, tapi aku tidak akan tenang jika sampai membuat para reades kecewa karena sikapku ini. Karena itu aku sungguh minta maaf jika para readers sekalian merasa chapter 9 ini terasa ganjil, jangga, maksa, est.

Biasanya aku selalu mendengarkan musik/lagu saat menulis untuk merilekskan pikiranku, tapi akhir-akhir ini semua musik/lagu yang aku dengar sama sekali tidak membantu. Mungkin kalian memiliki rekomendasi musik/lagu untukku? Aku mendengarkan semua jenis/genre musik/lagu, jadi jangan sungkan memberikan aku rekomendasi jika kalian memilikinya :)

.

Big Thanks to :

Galura no Baka Lucky22, rohimbae88, SR not AUTHOR, Uni-chan552, adityapratama081131, fannyc, KenSherlocken, Guest, lutfi, uchiha sherly, Mao-chan, sasukeku.

.

Q&A :

Hinata itu putri kan? Ah, putri bukan ya~~ #digampared. Hinata itu bangsawan? Bisa jadi-bisa jadi. Sasuke itu Pangeran? Um, untuk ini masih dibiarkan menjadi misteri. Kenapa Kiba DKK suka nyiram Naruto pake air, bukannya Naruto itu Pangeran? Karena itu menyenangkan~ #plak #authornya_ngaco

.

Thanks for reading.

Mind to Review?