Chapter 9: Impulsive

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna

Saya, tidak pernah absen dalam menyapa para reader dan dunia! Halo! Bagaimana kabarnya? Baik? Sebenarnya saya udah rencana gak publish dulu hari minggu ini, karena senin sampai sabtu depan, udah deadline lusinan tugas, tapi ya gak apalah, itung aja refreshing.

Enjoy!

Dreamy Cherry Blossom: Requiem~

Main pair : VY2 Yuuma & Aria, Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"Dalam akhir, dalam penderitaan. Dunia yang kacau, berisi konflik dan perpecahan, disinilah aku, mencari kebenaran, mencari keadilan, dalam sebuah idiom perkataan yang terasa membengkak dalam kehancuran."

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutipsatu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!

XOXOX

"Yuuma?"

Aria menegang, mendengar hal yang seharusnya tidak akan pernah Yuuma ingat lagi untuk katakan, membuat Aria merasa takut.

"Apa yang barusan kau ucap?"

Tanya Aria lagi, masih dengan rasa takut dalam dirinya.

Yuuma masih tertunduk lemas, dia masih memegangi kepalanya. Dari posisinya, Yuuma tidak kelihatan akan bicara untuk sementara waktu. Hati Aria berdetak dengan kencang, seakan menunggu balasan akan hal yang sangat tabu untuk dibicarakan. Selang waktu 5 menit, Yuuma membuka mulutnya, membuat Aria seperti akan mati jika hal yang keluar dari mulut Yuuma tidak sesuai harapannya.

"Aria, kau tahu kotak Pandora?"

Ucap Yuuma, yang lantas membuat Aria memiringkan kepala dengan ekspresi aneh.

"Ma-maksudmu, kotak yang menyimpan rahasia, dimana jika kita membukanya, rahasia yang tersimpan di dalamnya tidak akan bisa disembunyikan lagi?" Ucap Aria, melankolis.

Yuuma masih mengangguk, dia tidak ada niatan untuk membalasa perkataan Aria tentang definisi harfiah dari kotak Pandora.

"Apa, apakah aku pernah 'bermain' bahkan 'membuka' kotak Pandora tersebut?"

Tanya Yuuma, nafas Aria makin tersendat walau tidak terlalu jelas, dia takut kalau percakapan ini akan mengarah ke hal yang tidak Aria inginkan. Maksudnya, Aria takut kalau maksud dari kata 'bermain' dan 'membuka' adalah, bahwa Yuuma pernah mengetahui kebenaran yang seharusnya tidak ia ketahui.

Yuuma masih terdiam, sedangkan Aria masih memasang wajah ragu, ragu untuk menjawab apa. Aria membuka mulutnya, dia akhirnya memutuskan untuk membawa kebohongan di pihaknya, dengan senyuman yang sangat lebar serta mimik wajah yang dia buat semeyakinkan mungkin, Aria menjawab pertanyaan itu.

"Tidak, tidak pernah, kau selalu mengerjakan semuanya dengan baik, tidak ada yang harus kau khawatirkan." Ucap Aria masih dengan senyum palsu.

"Jangan bohong." Ucap Yuuma.

"Apa?"

"Jangan berbohong kepadaku, ekspresimu terlihat jelas kalau berbohong."

"Ma-maksudmu?"

"Perkataan yang tergagap adalah contoh kalau kau sedang berbohong." Balas Yuuma.

"Ti-tidak! Aku hanya gugup karena kau terlalu membawa ini ke arah yang serius!" Teriak Aria.

Keduanya canggung, tidak ada yang berani membuka percakapan lagi. Bunyi lonceng terdengar di taman tempat mereka berada, menandakan jam tiga sore. Jam 3 sore adalah masa transisi dimana anak-anak dibawah umur 10 tahun harus kembali ke rumahnya. Anak-anak yang barusan berlarian dengan wajah bahagia, langsung berhamburan ke berbagai arah mencari orang tua atau pengasuhnya, mengajak mereka pulang. Taman mulai diisi oleh orang yang lebih dewasa, paling tidak anak SMP atau atasnya.

Yuuma dan Aria yang merasa ditatapi tatapan yang mengintimidasi mereka, akhirnya merasa rishi. Mereka dikira sebagai orang pacaran yang lagi bertengkar. Akhirnya, dengan wajah masih setengah kesal, Aria menarik Yuuma pergi dari taman dengan langkah cepat.

"Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan, tapi kalau mau mengajak debat, jangan di tempat ramai seperti tadi, malunya setengah mati tahu!" Ucap Aria sambil ngomel-ngomel di sepanjang jalan.

Yuuma yang mengikutinya hanya menghelas nafas, entah dia kerasukan apa tadi. Tapi, Yuuma sepertinya sudah keterlalulan tadi, dia mengatakan hal-hal yang tidak jelas dan dia sadar akan hal itu.

"Apa tadi aku mengatakan hal bisa membuatmu semarah ini?" Tanya Yuuma.

"Hah?!"

"Bagiku, Aria yang ngomel lebih menakutkan daripada Aria yang mengacungkan senjata api langsung ke wajahku." Ucap Yuuma.

"Baguslah kalau kau peka." Jawab Aria.

"Jadi, bisa kau jelaskan, kemana arah pembicaraan kita di taman tadi? Soalnya, aku juga tidak terlalu mengerti arahnya kemana. Aku hanya merasa kalau ada kebohongan dalam setiap perkataanmu." Balas Yuuma.

Aria hanya bisa terdiam, merasa Aria tidak dalam mood baik untuk diajak bicara, Yuuma akhirnya diam tanpa suara.

.

.

.

"Nishino-san!"

Mendengar namanya dipanggil, Aria berbalik, ini adalah hari dimulainya operasi Jormungand, ketika Aria tengah merakit beberapa senjatanya (dia habis membersihkan part senjatanya), dia mendengar ada orang yang memanggilnya dari lorong diluar ruangan dia berada.

Aria membuka pintunya dan melihat siapa yang memanggil, dia hanya melihat Cul di sana.

"Ada apa sensei? Ada yang salah?"

"Tidak, aku hanya ingin mengingatkanmu, karena hanya kau yang belum diberitahu."

"Ada apa?" Ucap Aria lagi memotong perkataan gurunya tersebut.

"Kita akan diawasi penuh oleh kepala sekolah, dia mengirim dua guru sebagai supervisi untukku. Jadi, kalau bisa, jangan sampai membicarakan hal diluar misi atau divisi kita bisa tercoreng namanya." Ucap Cul.

Aria hanya mengangguk-angguk paham, awalnya dia berpikir, untuk apa supervisi dalam sebuah operasi? Bukannya mereka hanya mengganggu? Terlebih lagi, jika diawasi diam-diam begini, Aria jadi merasa operasi ini malah tidak akan bisa maksimal. Akhirnya Aria tetap tutup mulut, toh buat apa dia protes sekarang?

.

.

.

"Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?!" Yuuma berteriak di dalam sebuah Chinook. heli yang memiliki dua baling-baling tersebut mulai merendah menyentuh daratan, mereka diturunkan di sebuah daerah gurun diluar kota, dari informasi yang mereka dapat, jalur distribusi pemasokan senjata melewati daerah tersebut, sebuah daerah di batas antara provinsi.

Yuuma melihat regunya satu persatu, Lui dan Aria mengagguk, Len sudah turun dan berlari maju duluan, membuat Yuuma kerepotan dengan tingkah laku Len yang memang susah diatur.

Hakuo dan Ryuto baru turun setelah keempat regu utama maju jauh, Luo dan Ring mengikuti regu utama dari belakang dalam jarak sekitar 800 meter.

"Perhatikan sekitar, aku akan mengunggah hasil dari satelit mengenai daerah ini." Ucap Ryuto, Hakuo hanya mengangguk tanda setuju,

"Luo, kita harus bagiamana? Aku tidak pernah melewati sebuah daerah sebesar ini! Bagaimana jika tiba-tiba ada peluru tidak dikenal menembus kepalaku?!" Ring masih sibuk panik sambil berlari mengejar regu utama. Membuat si empunya rambut hitam yang dikuncir melingkar ─Luo, menggelengkan kepalanya.

"Kemana Len?! Bukannya dia tadi masih terlihat?!" Teriak Yuuma, agak panic, misi ini bisa saja berantakan karena tindakan semena-mena dari Len.

"Sabar, kita bisa melihatnya sebentar lagi" Ucap Aria sambil tetap memegang senjata bertipe long barrel yang dia bawa sedari tadi.

.

.

.

"Huff… Untung aku bisa duluan, sepertinya merepotkan jika aku harus bertarung bersama Yuuma dan yang lain." Ucap Len, dia sudah ada di dekat konvoy yang diduga adalah pembawa senjata.

Len berlari duluan karena ingin mempercepat waktu, dia juga tidak bisa menunjukan kemampuan penuhnya jika berada bersama yang lain? Tunggu… Penuh?

"Sekaranglah saatnya! Excalibur!"

Len mengeluarkan sebuah pedang dengan ornament cemerlang yang terbuat dari emas. Tanpa basa-basi, Len menyerbu konvoy itu sendirian, dia menangkis setiap peluru yang ditujukan kepadanya dengan tameng yang selalu ia bawa.

Len meloncat dengan gerakan putaran vertical ke atas salah satu truk konvoy, dia menghancurkan truk yang ada di posisi paling depan agar truk dibelakangnya mau mengerem laju mereka. Rencana Len berhasil, dia mengeluarkan cengiran horror atas usahanya yang tidak sia-sia.

"Sekarang waktunya bersenang-senang."

Len mengganti senjatanya menjadi dua buah handgun dengan ornament aneh, dia menembak dengan gaya bertarung yang juga sangat aneh, dengan menekan pelatuk senjatanya menggunakan jari tengah dan posisi handgun yang horizontal ─dengan kata lain, laras senjatanya ada si samping kepalan tangannya, dia menembakan peluru satu persatu ke arah yang sangat abstrak. Peluru tersebut memantul-mantul dengan mulus di bebatuan dan mengenai orang-orang yang bersembunyi di belakang badan truk untuk menembakinya.

"Apa-apaan orang ini! Dia gila! Dia gila! Keluarkan Humanoid! Cepat!" Salah satu orang yang mengendarai truk memberi instruksi untuk mengeluarkan pasukan mesin yang mereka bawa. Kargo truk-truk besar itu membuka satu persatu, dari puluhan truk konvoy yang tadi sudah dihancurkan perjalanannya oleh Len . Dari dalamnya keluar berbagai bentuk mesin berukuran besar berwujud seperti manusia. Semua mesin tanpa awak tersebut melihat Len sejenak, dan tanpa aba-aba menembaki Len dengan missile yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari.

Len hanya tersenyum, dia mengubah senjatanya menjadi sebuah scythe, dia melompat dan melempar scythenya tersebut, gagang scythe tersebut terlepas dengan sebuah rantai pada tiap-tap bagian bilang scythe tersebut, yang masih menjadi penghubung setiap bilah gagang yang sudah terpisah. Tiap bagian gagang yang terpisah memiliki panjang sekitar 20 cm.

Bagaikan sebuah naga yang mengamuk, scythenya berputar melindungi Len dan menyayati satu persatu dari ratusan missile kecil yang menuju ke arahnya. Asap mengebul tinggi, terlihat di dalamnya wajah Len yang terasa sangat menikmati aksinya sendiri.

"Apa-apaan dia?! Keluarkan rudal korosif!"

Para orang-orang putus asa tersebut menembakan missile lagi dari dalam robot humanoid yang mereka bawa, kali ini setiap robot hanya mengeluarkan satu missile, missile tersebut mengejar Len dengan respon yang lebih lambat dari missile yang sebelumnya. Membuat Len sempat mengendurkan penjagaan, ketika missile tersebut masih dalam jarak 10 meter dari Len, missile-missile itu meledak menjadi sebuah bola hitam yang menghilangkan apapun yang terkena radius ledakannya. Ledakannya terlihat seperti sebuah matahari-matahari hitam yang meledak bersamaan di satu tempat.

"Apa itu?!" Yuuma menyadari ada suara ledakan daritadi, akhirnya focus mencari arah ledakan ketimbang mencari Len.

Yuuma dan yang lain sudah melenceng terlalu jauh dari jalur target, dia terlalu sibuk mencari Len, padahal Len sudah memulai pesta daritadi.

'Yuuma! Yuuma!' Sebuah suara keluar dari alat transmisi Yuuma, mengenalkan suara tersebut sebagai suara Ryuto.

'Semua regu, segera ke sumber ledakan, prakiraan jauh, 4,96 mil, kordinat 12' 98"AZ, Len ada di sana, dia sudah menyerang musuh terlebih dahulu! Musuh menggunakan 4 rudal korosif dengan daya ledak anti-matter! Seharusnya itu cukup untuk menghilangkan seisi kota kecil dalam sekejap!'

Yuuma langsung mendecih pelan, operasi yang sudah dia siapkan sematang mungkin hancur karena perbuatan Len. Yuuma sudah ingin langsung menghajar Len di tempat jikalau operasi ini berantakan terlalu parah, tapi Aria memegang tangannya dengan erat.

"Apa?! Apa kau tidak lihat perilaku anak baru itu?!"

"Tenang Yuuma, aku tidak merasa dia akan kalah dalam ledakan seperti itu!" Ucap Aria.

"Tetap saja dia sudah mengacau!"

BUK!

Aria memeluk punggung Yuuma agar Yuuma mau berusaha lebih tenang, usahanya berhasil, otot Yuuma yang sedari tadi tegang, langsung mengendur walau hanya sedikit.

"Aku akan mengikuti nasihatmu, kita akan melihat keadaan, tapi jika operasi ini melenceng lebih jauh dari kelihatannya, aku, sebagai ketua divisi, tidak akan segan-segan memenggal kepala anak itu di tempat."

Aria hanya bisa meneguk ludah, baru kali ini ia melihat Yuuma memasang wajah yang kelewat serius. Aria hanya bisa mengangguk, menyetujui perkataan Yuuma, dia ingat kalau mereka masih diawasi, kesalahan seperti apapun akan menurunkan pamor mereka di sekolah, sebisa mungkin Aria tidak ingin menambah masalah, walau dia bisa saja memutar balikan masalah itu seperti tidak pernah ada. Ingat, Aria yang memiliki dunianya sendiri bukan?

Di sisi Len, asap masih mengebul tinggi, butiran partikel pasir menghalangi jarak penglihatan, membuat tidak ada seorang yang tahu apakah Len masih hidup atau tidak. Tiba-tiba, kumpulan asap itu bolong dan menuju satu titik, dari dalamnya keluar sebuah pedang yang langsung menancap ke salah satu robot humanoid yang daritadi menyerang Len.

"Tidak kusangkan, kalian memiliki senjata bahaya seperti ini, kalau zirah ini tidak kupakai, aku pasti sudah mati."

Sosok Len terlihat menggunakan sebuah baju zirah lengkap berawarna hitam, baju tersebut tidak terlihat tergores sama sekali. Len menarik pedang yang tadi menancap di salah satu besi rongsokan yang kini sudah tidak bisa bergerak lagi. Dia melepas zirahnya dan mengganti senjatanya lagi, sebuah pelindung tangan ada di tangannya, dia kini memasang kuda-kuda pertarungan jarak dekat.

Dalam satu hentakan, diri Len menghilang, dia menghajar mesin dihadapannya satu persatu, setiap pukulan dan tendangan Len berhasil menembus besi-besi keras tersebut, humanoid juga tidak tinggal diam, dia melancarkan berbagai macam serangan kepada Len, tapi Len dengan mudah bisa menghindari serangan tersebut. Ketika Len ingin meninju salah satu humanoid yang tersisa, tiba-tiba tinjunya dimentalkan, orang-orang yang Len lawan pertama kali sempat memasang sebuah sihir penghalang otomatis di sekitar mesin yang mereka bawa.

Len tidak tinggal diam, dia mengeluarkan pedang lain, kali ini dia mengeluarkan dua pedang langsung, pedang yang bercorak emas tadi, Excalibur, dan pedang berwarna gelap yang dikelilingin kegelapan yang sangat tidak biasa, Durandal

Len mengayunkan kedua pedangnya secara menyilang, membuat sebuah serangan tebasan menyilang yang berbeda warna di setiap garis silangannya, dalam satu dorongan, semua penghalang dan sisa-sisa humanoid yang ada hancur berkepingan dalam tebasan berukuran besar yang Len lancarkan.

Orang-orang kini menatap Len dengan ekspresi ketakutakn setengah mati, Len menjilat bilah pedangnya dengan tatapan senang, dan hanya menyisakan sebuah jeritan kesakitan yang amat sangat bersamanya.

Memang terasa singkat, hingga Yuuma dan regunya datang melihat apa yang dilakukan Len, daerah tandus luas tersebut hancur berantakan, dengan Len berdiri di hadapan Yuuma dan yang lain, tubuhnya penuh darah, seringai muncul di wajahnya.

"Aku bodoh sekali bisa melupakan jati diriku, akulah si penakluk dungeon, aku dikenal sebagai yang tidak memiliki rasa ampun di dalam dungeon manapun. Kalian, para boneka, seharusnya sudah tidak hidup ketika melihatku di dalam dungeon, tapi berhubung sempat ada gangguan, aku sempat melupakan siapa aku." Ucap Len, yang tidak dimengerti oleh yang lain.

"Apa maksudmu, Len?! Kau sudah menghancurkan operasi ini, aku tidak akan segan-segan memenggal kelapamu sekarang juga!" Ucap Yuuma menjawab ocehan Len.

"Kau, Yuuki Yuuma, kau sepertinya masih lupa siapa dirimu, dan kalian semua yang melihat ini, aku bisa mengatakan kepada kalian, kalau kalian telah dibodohi selama ini, oleh gadis di sana." Len menunjuk Aria.

"Aku tidak peduli mau kalian percaya atau tidak, aku akan menghancurkan misi ini, operasi ini, Jormungand, aku akan membunuh semua target kalian terlebih dahulu, lalu kalian, dan yang terakhir aku akan menghancurkan dungeon ini! Demi membalas Pandora." Lanjut Len.

Yuuma sempat tersentak ketika mendengar kata Pandora, tapi dia mengesampingkan itu dan kembali membawa dirinya ke kenyataan di depannya.

"Dungeon, dungeon! Apa yang kau bicarakan?! Jangan mengigau mentang-mentang kau akan mati sebentar lagi." Yuuma mengeluarkan senjatanya dengan tatapan sangat marah.

"Maaf, aku tidak akan meladeni kalian dulu, aku akan membunuh target kalian terlebih dahulu, dah… Kita akan bertemu lagi!"

Len menghilang dari pandangan mereka, menyisakan rasa takut dan bingung. Aria yang paling shock dari semua kejadian ini, jadi maksud Hakuo, kenapa dia masih bisa bersama Len, karena memang seharusnya mereka tidak bersama. Aria adalah ingan dungeon, Len adalah pemburunya, sebaik apapun hubungan mereka, mereka tidak akan bisa berteman, Aria sudah sering mendengar dari Rin ─dari Pandora, tentang penakluk dungeon. Kali ini, dia merasakan langsung apa itu penakluk dungeon.

Yuuma tidak memikirkan perkataan Len yang lain, yang dia bisa ingat adalah, kalau Len sudah menghancurkan operasi penting bagi diri Yuuma. Yuuma sendiri tidak tahu, kalau maksud dari perkataan Len bahwa Yuuma belum ingat adalah, kenyataan bahwa Yuuma seharusnya bisa mengingat bahwa dia sendiri adalah palsu, dia sudah mati, dan dia dihidupkan lagi oleh Aria sebagai inang dari dunia tempatnya berada, dungeon.

.

.

Di sisi lain, Pandora yang tengah memejamkan mata di tengah langit gelap membuka matanya.

"Len… Sampai kapan kau akan mengerti? Menghancurkan Pandora tidak akan membawa keharmonisan pada dunia yang sudah rusak ini?"

XOXOX

Chapter 9 selesai~~

Gilak! Saya yang mikirin chapter ini aja, udah gila sendiri, nanti perkembangannya bakal sangat dramatis dimulai dari sekarang, hubungan Yuuma dan IA, serta kebencian Len dan Rin akan makin kuat dan lebih 'complicated'. Saya sudah bilang, fict ini gak akan sampai chapter 20, mungkin 15 sudah selesai ^^

Len mengingat lagi ingatannya saat di chapter sebelumnya dia sempat mengeluarkan Excalibur dan Durandal yang tidak sempurna untuk mengancam Yuuma yang sudah membodohinya di kamarnya ketika dia baru bangun, rasa cinta dan bencinya terhadap Rin dan Pandora tidak bisa hilang dan membawanya kembali ke kenyataan.

Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian