THIS FANFIC IS YAOI!
IF YOU DONT LIKE IT GET OUT OF THIS FANFIC!
IM SERIOUSLY WARNING YOU!
HANA ..DUL...SET!
GET OUT!
...
Summary : Sebuah kenyataan yang sangat amat di benci kedua namja yang sangat amat bertentangan,bukan takdir yang menemukan mereka akan tetapi nasib buruk dan rasa ketidakpedulian dari keduanya
Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romance, School life
Warning : Yaoi, OOC, Typo, Author Labil
Rated : T (maaf para yadongers)
_╩ Ξ ╩_
I Understand...I Just Don't Care
Chapter 9
"hoksi...nan neo joh-a aniya? (Mungkinkah...aku menyukaimu?)"
Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!
Sehun menatap Luhan datar dengan detak jantung yang berdetak abnormal atas perkataan namja tersebut barusan. Ia tidak tau bahwa tindakannya akan membuat Luhan mengatakan hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Menunjukkan ruangan yang penuh dengan kaktus dapat membuat Luhan berkata demikian? Apakah dirinya tidak sedang bermimpi sekarang? Namja datar tersebut tersenyum lembut memikirkan betapa konyolnya hal tersebut. Mungkin Luhan terlalu polos untuk ukuran orang yang tidak pernah peduli tentang hal apapun,sedetik kemudian ia langsung melangkahkan kakinya kearah Luhan. Memandang Luhan dalam diam.
'aku takkan pernah jatuh cinta lagi' Sehun bersumpah dalam hati. Bersumpah tidak akan pernah jatuh cinta lagi jika perkataan Luhan barusan memang benar adanya.
"bisa kau ulangi?" Sehun berhenti melangkahkan kakinya tepat didepan Luhan. Meminta agar namja tersebut mengulangi perkataannya. Ia hanya ingin memastikan bahwa seluruh tubuh dan sistem saraf nya tidak bergetar tanpa perkataan yang mungkin saja hanya candaan belakang yang diucapkan namja tersebut. Sekaligus juga memastikan perasaannya kepada Luhan.
Luhan menatap lantai dibawahnya untuk menghindari tatapan Sehun dan bercicit kecil layaknya seekor tikus "aku bertanya... Apakah mungkin aku menyukaimu Sehun-ah?"
"kau ingin memastikannya?"
Luhan mendongak dan menatap penuh kebingungan "mwo?"
Cup~
Sehun menarik tengkuk Luhan lembut dengan menggunakan tangan kanannya. Perlahan tangan kirinya ikut turun untuk memeluk pinggang Luhan agar lebih dekat dengannya. Melumat kecil bibir tersebut dengan gerakan lembut sambil menutup kedua kelopak matanya. Namja tersebut terlalu larut dengan akal pikirannya sendiri tanpa menyadari bahwa Luhan sedang mengerjabkan matanya akibat serangan ciuman yang tiba-tiba dilakukan namja tersebut sekarang.
Ia tidak peduli tentang bagaimana respon Luhan selanjutnya. Sehun hanya perlu memastikan hal tersebut,memastikan bahwa dirinya benar benar sudah terlampau jauh menyukai namja dihadapannya.
Sementara Sehun mencoba untuk memastikan hal tersebut,bibir Luhan bergetar hebat setiap Sehun mendaratan beberapa ciuman dan lumatan kecil ke bibirnya. Bergetar tanpa alasan yang jelas dan Luhan juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya sekarang.
Selang beberapa waktu ciuman tersebut berakhir. Sehun yang merasakan bahwa bibir Luhan bergetar hebat memang memutuskan untuk berhenti. Namja datar tersebut lebih memilih untuk menyatukan kening nya dan Luhan agar menempel dan mengusap kedua pipi Luhan secara lembut.
Menenangkan Luhan sekaligus menenangkan hatinya yang berdegup seperti anak kecil yang baru saja berlari keliling lapangan bola, saat kedua matanya masih menatap Luhan yang membeku dalam diam Sehun masih mencoba untuk mengusap kedua sisi pipi namja rusa tersebut.
"neo gwenchana?" Sehun bertanya saat tidak mendapatkan respon yang ia nantikan. Ia sungguh berharap bahwa Luhan akan menampar keras atau setidaknya menghadiahkan Sehun beberapa pukulan karna mencium dirinya beberapa saat yang lalu. Sehun lebih memilih Luhan melakukan hal tersebut daripada harus melihat Luhan diam dan tidak menjawab pertanyaannya maupun hal lainnya.
"lepaskan tanganmu dan minggir sekarang juga Sehun-ssi" Luhan sedikit mengangkat wajahnya dan menatap Sehun tajam. Mengisyaratkan bahwa dirinya sangat amat marah sekarang juga. Sehun yang menyadari hal tersebut hanya dapat menurut akan tetapi tidak melangkahkan kakinya seinci pun dari hadapan Luhan.
"kau tidak ingin pergi dari hadapanku?" Luhan meninggikan suara saat melihat betapa menyebalkan sikap seorang Sehun di matanya sekarang.
"shireo. Ku pikir kau menyukaiku"
Luhan tersenyum meremehkan "apakah aku pernah memintamu menciumku sebelumnya Sehun-ssi?"
Deg!
Sehun menelan ludah nya kasar dan menjawab singkat "ani"
"lalu apakah kau pernah mendengar aku mengatakan bahwa aku mencintaimu? Karna jika kau berharap seperti itu,aku ingin menegaskan sesuatu Sehun-ssi..." Luhan menarik napas dalam untuk melanjutkan perkataannya
"aku tidak menyukaimu seperti yang kau pikirkan. Aku tidak menyukaimu seperti itu" Luhan menekan kan setiap perkataan yang dilontarkannya,namja rusa tersebut tidak berhenti sampai disitu karna sedetik kemudian ia mulai berkata kembali
"aku menyukaimu karna kau melakukan hal yang menurutku sangat terlampau baik dan sedikit menggangapmu sebagai teman baru dalam kehidupan normal ku Sehun-ssi. Tapi sepertinya aku salah dan aku sungguh berharap bahwa bayaran kompensasi mu berakhir disini..."
"...Galkhae (aku pergi dulu)"
SRET
Sehun menggengam lengan Luhan erat saat namja rusa tersebut ingin melangkahkan kedua kakinya pergi "apakah kau tidak bernafas saat berbicara sebanyak itu? apakah hatimu tidak bergetar sedikit pun dengan semua sikap yang kulakukan?"
Deg!
Luhan menepiskan genggaman tangan Sehun saat merasakan bahwa jantungnya sedang berdetak keras, namja tersebut kemudian menatap Sehun datar "hm..ne..hatiku bergetar. Lalu?"
Sehun tertegun entah karna apa. Ia hanya memilih memastikan indera pendengarannya kembali dan bertanya pada namja dihadapannya "jeongmal? (benarkah?)"
"ne hatiku bergetar Sehun-ssi,lalu kau ingin apa,eoh?"
"berkencanlah denganku"
Luhan kembali tersenyum meremehkan "kita sedang melakukannya sekarang dan ini juga sudah berakhir Sehun-ssi. Kompensasimu sudah berakhir,arrasoe? Jadi kuharap kau menjaga sedikit jarak mulai sekarang"
Sehun menggertakan gigi nya sambil menutup matanya erat atas perkataan yang keluar dari bibir Luhan,sungguh sikap Luhan terlampau jauh dari apa yang sebenarnya diharapkan oleh Sehun sendiri
"berkencan denganku bukan sebagai bayaran kompensasi Luhan sonbae! Berkencanlah denganku karna sepertinya kau membuatku tertarik" Sehun mengatakannya dengan raut wajah yang serius dan membuat semua sistem sarafnya ikut merasakan kegugupan saat mengatakannnya.
"tertarik?" Luhan mengerutkan kedua alisnya
"ne. Aku tertarik denganmu"
Luhan tidak bodoh untuk mengetahui maksud Sehun sekarang. Ia sungguh sangat amat paham bahwa namja yang selalu bersikap tidak peduli terhadap semua orang ini,sedang mencoba untuk menjalin sebuah 'hubungan' dengannya.
Akan tetapi Luhan tidak menyukainya sama sekali. Bahkan sekarang,saat ini juga hal yang ingin dilakukan Luhan adalah pulang. Ia terlalu lelah dengan degupan jantung yang semakin tidak terkontrol hanya karna sikap namja yang ada dihadapannya sekarang.
"Hhhhh..." Luhan menghela napas berat untuk memikirkan beberapa kata. Ingin menjelaskan betapa dirinya sangat ingin mengatakan bahwa namja datar yang ada dihadapannya sebuah situasi yang sangat amat buruk jika dirinya dan Sehun menjalin sebuah 'hubungan'
"dengarkan aku Sehun-ssi. Aku sungguh mengerti dan paham maksudmu sekarang. Sangat amat paham" Luhan menekankan kalimat terakhirnya untuk menegaskan kalimat selanjutnya
"keunde...nan nappeun salam-i anieyo Sehun-ssi (tapi...aku bukanlah seseorang yang jahat Sehun-ssi) untuk itu aku akan mengatakan satu hal kepadamu..."
Luhan mengambil napas dalam dan menampakkan wajah yang dipenuhi keseriusan dan kesakitan yang dalam sebelum melanjutkan perkataannya
"berkencan dengan ku atau menjalin 'hubungan' denganku itu artinya kau akan menghadapi sebuah rasa depresi dan serangan panik yang kurasakan saat jam sebelas malam,atau pada saat jam dua pagi atau mungkin juga serangan panik yang kurasakan pada saat jam lima pagi hari Sehun-ssi. Itu artinya serangan panik itu akan berlangsung hampir setiap harinya,setiap jam,setiap saat bahkan dapat berlangsung selamanya.."
Luhan menutup matanya erat dengan napas yang mulai sesak,tapi ia tidak berhenti sampai disitu. Ia tau mengatakan hal yang menyakitkan seperti ini akan membuat kondisinya semakin memburuk. Tapi ia tidak memperdulikan hal itu lagi dan mulai melanjutkannya dengan nafas yang dipenuhi rasa sesak.
"...menjalin 'hubungan' dengan ku itu juga berarti bahwa kau akan menghadapi saat dimana aku sangat marah terhadap diriku sendiri dan semua hal yang ada disekitarku. Dan kau akan melihat bagaimana aku sangat tidak cukup baik untuk mengontrol itu semua,karna aku memang tidak punya keahlian sama sekali untuk mengatasi hal seperti ini Sehun-ssi"
Luhan mengatur napas yang tidak terkontrol. Luhan kembali merasakan sesak di dadanya dan memberanikan diri untuk melihat bagaimana ekspresi Sehun saat Luhan mengatakan sedikit tentang kehidupannya yang memang tidak normal semenjak dirinya masih kecil. Dan yang dapat Luhan temukan hanyalah sebuah ekspersi datar seorang Oh Sehun.
Luhan menatap wajah Sehun yang saat ini hanya menampakkan wajah datarnya saat Luhan mengatakan hal yang menurut Luhan sangat amat menyiksa dirinya sekarang. Menyiksa karna mengharuskan dirinya mengingat kembali masa itu. Masa lalu yang sangat ia benci
"kau sudah mendengar sebagian besarnya Sehun-ssi. Jadi kuharap kau menjauh dari hadapanku karna aku tidak akan pernah peduli dengan semua orang yang berada disekitarku. Bahkan suatu saat nanti namamu bahkan tidak akan mencerahkan hariku sama sekali. Aku tidak peduli dengan semua itu"
"..."
"Tapi sepertinya kau akan tetap melakukan tindakan konyolmu. Apakah tebakanku benar?" Luhan kembali menatap Sehun tajam. Namja tersebut kemudian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Sehun setelah mengatakan "jangan melakukan hal konyol itu lagi"
"Berhenti"
"..." Luhan tidak menjawab dan terus melangkahkan kedua kakinya untuk pergi dari hadapan Sehun.
"YA! Kubilang berhenti!"
"..."
"Xi Luhan!"
"..."
Sehun menelan ludahnya yang tercekat ditenggorokan dengan paksa sambil masih memanggil Luhan "Xi Luhan.."
"..."
"Lu"
"..."
'bisakah kau berhenti?'
'Jebal...' –Sehun
_╩ Ξ ╩_
Luhan melangkahkan kaki dengan gerakan lambat dan dengan keseimbangan yang bisa dikatakan sangat amat buruk. Namja tersebut bahkan sempat tersandung beberapa kali. Ia hanya dapat terus menunduk ditengah hujan deras yang kembali mengguyur kota Seoul tersebut.
Ia masih tidak mengerti tentang bagaimana bisa tubuhnya bahkan hatinya terasa sangat lemah sehabis membentak dan menatap tajam seorang namja bernama Oh Sehun.
Sepatutnya ia merasa senang atau mungkin sedikit bernafas lega,akan tetapi hal yang justru terjadi adalah munculnya sebuah perasaan bersalah dan sakit yang dirasakan disaat yang bersamaan.
Ia dengan jelas membentak namja datar tersebut,menatap dengan penuh kebencian dengan mengucapkan kata yang terlampau teramat dingin. Menjelaskan tentang situasi dirinya yang dipenuhi dengan rasa putus asa setiap kali mengingat masa lalunya.
Tentang bagaimana serangan panik yang selalu ia dapatkan hampir setiap malamnya. Dan juga tentang bagaimana dirinya sangat menolak perkataan Sehun yang ingin menjalin sebuah 'hubungan' dengan Luhan.
'SHIT! Tidak bisakah kau berhenti berdetak saja!' Luhan merutuki jantungnya sendiri dalam hati.
Saat kedua kakinya masih terus berjalan,tanpa disadari namja rusa tersebut,sesosok namja yang lebih tinggi darinya sedang melangkahkan kakinya tepat dibelakang Luhan. Menatap punggung Luhan yang bergetar hebat dibawah hujan yang sangat deras.
Ia tentu saja tau bahwa Luhan tidak menangis. Tapi ia juga tau bahwa Luhan sangat amat tersiksa sekarang,tanpa alasan yang tidak terlalu dipahami oleh Sehun sendiri. Mengingat perkataan namja rusa tersebut beberapa waktu yang lalu saja sudah cukup membuat Sehun merasakan hal yang membuatnya tersiksa melihat betapa tersiksanya namja tersebut mengucapkan kata demi kata yang keluar
Ia hanya ingin namja tersebut berbalik menatapnya. Menatap dirinya yang sedang mencoba mempertahankan perasaannya. Sehun mencoba mempertahankan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupnya,tidak bisakah Luhan melihatnya? Sehun kembali mengehela napas berat
Langkah Luhan terhenti saat melihat pantulan diri Sehun dari kaca halte bus yang berjarak dua meter dihadapannya. 'dia mengikutiku?' Luhan mempertanyakannya dalam hatinya sendiri. Luhan kembali menyipitkan kedua matanya untuk memasitikan apakah penglihatannya tidak salah dan mengangap bahwa namja tersebut bukan Sehun.
Setelah beberapa detik terdiam. Luhan mulai menggertakan gigi dan mencoba untuk menahan amarahnya yang kembali memuncak.
"bisakah kau berhenti mengikutiku Sehun-ssi?
"..."
Luhan berbalik dan menatap Sehun dengan tatapan tajam dengan mata yang mengisyaratkan kelelahan dan sebuah sorot mata yang nampak sangat layu. Sehun sekali lagi mengetahui bahwa namja dihadapannya sedang dalam kondisi buruk sekarang. Mata Luhan menjelaskan semuanya. Bagaimana bisa namja rusa tersebut masih memaksakan diri menatap Sehun tajam dengan menggunakan mata yang hampir layu tersebut? Sehun sungguh tidak tahan melihatnya.
"apa kau tuli? Bisakah kau berhenti mengikutiku? Apa kau tidak mendengar semua perkataanku beberapa menit yang lalu Sehun-ssi?"
"aku mendengarnya" Sehun menatap Luhan datar "lalu kenapa,eoh?"
"berhenti mengikutiku"
"jika aku melakukannya mungkin aku akan menyesal meninggalkanmu ditengah hujan seperti ini! Aku tertarik denganmu,apa kau tidak melihatnya dengan jelas? Apa kau terlalu mencintai namja tiang listrik itu sehingga kau tidak melihat semua orang yang ada disekitarmu?"
Sehun menjatuhkan harga dirinya dengan mengatakan hal tersebut. demi Tuhan apakah Luhan sebuta itu untuk mengetahui betapa Sehun sangat ingin menarik perhatian namja tersebut? Apakah tidak ada celah sedikit saja agar namaja seperti dirnya masuk kedalam kehidupan namja tersebut?
Sehun mengusap wajahnya yang dan menyingkirkan beberapa tetes air hujan yang mulai menumpuk menghalangi penglihatannya. Ia kembali menatap Luhan datar sesaat setelah dirinya mulai mengambil ahli kembali tubuhnya yang sempat tidak terkontrol karna sikap Luhan yang terlampau keras kepala.
"masuk kedalam mobilku sekarang juga sebelum aku benar benar gila dan menyeretmu dari sana" Sehun mengangkat tangan kanannya dan mengisyaratkan agar sopir pribadinya mendekat dengan mobil sport yang ditumpanginya.
Sehun kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap Luhan. Namja datar tersebut kembali menjatuhkan harga dirinya dengan memohon agar Luhan menurutinya sedikit. Menatap Luhan seolah olah meminta agar namja tesebut cepat melangkahkan kakinya kearah Sehun agar dirinya dapat mengantarkan namja tersebut pulang.
"Shireo" Luhan menggelengkan kepala dan kembali menolak ajakan Sehun. ia tau bahwa sikapnya sekarang terlampau tidak sopan,akan tetapi jika Luhan tidak melakukannya maka dapat dipastikan bahwa namja datar bernama Oh Sehun akan semakin menempel padanya.
"Hhhh.." Sehun menghela napas panjang dan melangkahkan kaki kearah Luhan dan melepaskan hodie yang ia kenakan. Hodie tersebut sangat tipis dan sudah sangat basah,akan tetapi namja tersebut hanya memikirkan bagaimana caranya agar Luhan tidak terlalu basah ditengah hujan yang mengguyur mereka berdua,walaupun kondisi Sehun yang juga terlihat hampir buruknya dengan keadaan Luhan sekarang.
"masuklah. Kau akan semakin membenciku jika kau terserang demam tinggi" Sehun membenahi dan mengatur letak hodienya sendiri disekitar bahu Luhan dan sekitar lengan namja rusa tersebut.
"masuklah..." Sehun kembali mengatakannya. Pergerakan tangan Sehun tiba tiba terhenti saat tidak mendapat respon dari Luhan
"masuklah Lu..."
"kumohon.."
Deg!
BRUK
Luhan kehilangan keseimbangannya saat jantungnya berdetak keras. Sehun yang melihatnya tentu saja langsung menahan berat tubuh namja tersebut dengan memegang kedua sisi bahu Luhan.
Luhan kembali menatap wajah Sehun sebentar sebelum menjatuhkan tubuhnya kearah tubuh Sehun. Meletakan kepalanya diceruk leher Sehun yang entah mengapa terasa hangat. Napas Luhan mulai tidak terkontrol saat Sehun membawa kedua tangannya memeluk dirinya dan membawa Luhan lebih dekat kedalam pelukannya. Sehun merasakan deru napas Luhan yang menyapa lehernya dan sedikit menggelitik seluruh sarafnya.
Membuat rasa nyaman didalam hatinya dan rasa sakit diwaktu yang bersamaan sehingga membuat dirinya mengeratkan pelukannya. Membuat Luhan kembali menahan napas yang hampir habis dan memutuskan untuk menutup matanya. Pingsan.
_╩ Ξ ╩_
Baekhyun tersenyum lebar dan menampilkan deretan giginya kepada namja sedatar dinding yang ada di hadapannya. "annyeong Sehun-ah~"
Sehun memperhatikan namja yang berdiri dihadapannya dengan tatapan datar "aku tidak menelponmu"
"Kyungsoo sedang dalam tahap yang sangat buruk sekarang" Baekhyun menjawab enteng dan tanpa seijin Sehun,namja mungil tersebut melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Sehun.
"kau sepertinya tidak punya sopan santun yang baik" Sehun kembali mengatakan hal yang sangat menusuk untuk namja yang sekarang sedang melangkahkan kaki keberagai arah dan memperhatikan rumahnya yang terbilang cukup besar.
Baekhyun menatap Sehun dengan pandangan tidak percaya atas perkataannya "aish...jinjja. kupikir sikapmu lebih hangat jika ada dirumah,ternyata prdiksiku semuanya salah Sehun-ah"
Baekhyun sungguh sangat tidak mengerti dengan sikap Sehun yang hampir sama miripnya dengan Luhan. Dingin dan tidak peduli dengan semua orang. Mungkin Baekhyun beruntung karna Luhan tidak menunjukkan ekspresi datar seperti halnya Sehun. akan tetapi perbedaan nya terlampau mendekati. Bagaimana bisa namja seperti Sehun sangat tahan untuk hidup seperti ini?
Baekhyun kembali menghela napas dan menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri karna sempat melupakan tujuan utamanya setelah mendapat titah dari Kyungsoo untuk menjemput Luhan beberapa saat yang lalu. Ia sebenarnya sangat amat khawatir sekarang,dikarenakan kondisi Kyungsoo yang sangat amat buruk sehabis pelajaran berakhir. Kyungsoo memang bisa menyembunyikan ekspersinya didepan Luhan saat di gerbang SM High School. Akan tetapi namja tersebut tidak dapat menyembunyikannya didepan Baekhyun yang selalu menjahili namja bermat bulat tersebut.
Dan hal yang makin membuat Baekhyun jauh lebih khawatir lagi adalah titah yang diucapkan namja bermata bulat tersebut kepada dirinya. Sebuah perintah untuk menjemput Luhan dari rumah Sehun.
"dia dikamarku" Sehun mengucapkannya setelah melihat ekpresi Baekhyun yang tampak mencari seseorang.
"seharusnya kau bisa langsung mengantarnya Sehun-ah"
"shireo. Aku tidak mau"
"jika kau tidak mau lalu kenapa menelpon kami dan mengatakan untuk menjemput Luhan hyung yang berada dirumahmu Sehun-ah?" Baekhyun kembali menatap Sehun dengan pandangan tidak suka. Sungguh namja datar bernama Sehun sangat terlampau aneh. Beberapa menit yang lalu Sehun dengan jelas mengatakan bahwa Luhan berada di rumahnya dengan kondisi buruk.
Hal ini tentu saja membuat Kyungsoo panik dan menyuruh Baekhyun untuk datang dan menjemput Luhan. Bukankah alangkah lebih baik jika namja datar tersebut mengantarkan Luhan langsung ke apartemennya dan tidak perlu harus menyuruh Baekhyun untuk pergi kerumah namja datar tersebut.
"aku tidak pernah mengatakan untuk menjemputnya" Sehun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya
"Kondisinya tampak sangat buruk sekarang dan aku tidak tau harus berbuat apa" Baekhyun tampak terkejut saat melihat ekpresi Sehun yang berubah menjadi sendu saat mengucapkan kalimat terakhir.
_╩ Ξ ╩_
"dia butuh Kris" Baekhyun menggengam tangan Luhan yang nampak pucat seperti halnya wajah namaj rusa tersebut. Tangan Luhan tidak hanya pucat. Tangan tersebut bahkan sangat dingin layaknya mayat hidup.
Wajah,tangan yang sangat dingin dan pucat tersebut bahkan nampak lebih parah dikarenakan keringat yang bercucuran dimana mana. Luhan tidak demam. Tapi sangat tersiksa. Kedua hal ini yang dapat disimpulkan oleh Baekhyun.
Namja mungil tersebut kemudian menatap Sehun yang nampak jauh lebih tersiksa meskipun hanya menampakkan wajah datar. Baekhyun memang melihat bahwa wajah Sehun menampakkan ekspersi yang terlampau datar. Akan tetapi tatapan matanya sangat terlihat jelas. Sangat jelas bahwa namja tersebut sangat tersiksa sama halnya dengan Luhan.
"Sehun-ah~ kau tidak mendengarku?"
"Aku mendengarnya. Tapi ia tidak membutuhkan namja tiang listrik itu" Sehun menatap Baekhyun sekilas dan melangkahkan kakinya menuju sisi lain ranjang Luhan. Menatap Luhan yang kembali mengerutkan kedua alisnya.
"dia tidak membutuhkan namja tiang listrik itu. Sepertinya dia mimpi buruk" Sehun mengatakannya setengah berbisik
"eum..ne dia memang sering mimpi buruk. Dan kau tidak sepatutnya mengatakan hal buruk tentang Kris, Sehun-ah~"
Sehun membeku. Namja tersebut kemudian melipat kedua tangannya didepan dada dan memandang namja didepannya dengan tatapan yang mengisyaratkan agar namja tersebut menceritakan maksudnya. Karna jika Sehun boleh berkata jujur. Ia sama sekali tidak menyukai bahwa sosok Kris yang terkesan overprotektif di bela walaupun hal tersebut hanya lah sebuah omongan belakang.
'cepat jelaskan sebelum aku mendepakmu keluar' Sehun kembali menggerutu dalam hati saat namja didepannya masih belum mengetahui arti tatapan Sehun
"ah...jadi kau belum mengetahuinya?"
"dia menggangapku sebagai musuh. Tentu saja dia tidak akan menceritakan sesuatu yang penting" Sehun kembali menatap Luhan dan berfikir bahwa perkataan nya barusan memang benar adanya. Selama ini Luhan memang selalu menjaga jarak darinya. Seolah menggangap bahwa Sehun adalah musuh terbesarnya.
Baekhyun tersenyum kecil kemudian mengangkat lengan kanan Luhan dan menyisingkan kemeja putih tersebut. Baekhyun menghela napas sejenak dan menatap Sehun yang tampak kebingungan melihat sebuah luka yang terpatri jelas di tangan kanan Luhan. Luka yang terlihat menyakitkan
"ini luka bakar"
"kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku tau ini luka bakar" Sehun menatap Baekhyun datar. Sungguh Sehun tidak terlampau bodoh untuk mengetahui bahwa luka yang ada di lengan Luhan adalah luka bakar. Hal yang membuat Sehun cukup terkejut adalah kenyataan bagaimana luka tersebut tampak sangat jelas dan sangat dalam.
Ia kini paham kenapa Luhan menutupi lengan kanannya dengan menggunakan kasa saat pertandingan basket yang berlangsung saat acara konyol tersebut diadakan. Ternyata hal tersebut karna namja rusa ini ingin menutupi luka bakar tersebut,dan juga karna lengan baju olahraga yang di design pendek.
'Sepertinya permanen' Sehun masih memperhatikan luka Luhan dengan penuh tanda tanya yang sangat besar didalam otaknya.
"jadi bagian mana yang ingin kau tau lebih dulu Sehun-ah?" Baekhyun tersenyum dengan senyuman yang bisa dikatakan tidak seperti biasanya. Hari ini ia kan mengatakannya kepada Sehun meskipun akan sangat berat karna ia tidak meminta izin Luhan terlebih dahulu.
Baekhyun menepis semua pikiran yang mengatakan bahwa Luhan akan membunuhnya. Toh tatapan Sehun yang kebingungan sekarang membuat Baekhyun tidak dapat mundur dan menundanya. Mungkin saja hal yang justru terjadi adalah ia mati di tangan Sehun daripada mati di tangan Luhan. Dan Baekhyun tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia harus bernafas dan menikmati masa mudanya,bukan?
"terserah"
Baekhyun menggaguk dan menatap Luhan "arrasoe. Eummm..jadi harus kumulai dari mana? Ah...haruskah kumulai saat Luhan dan Kris hyung bertemu di sebuah pelelangan anak?"
Deg!
"atau haruskah aku memulainya saat Luhan hyung ditelantarkan oleh appa kandungnya?"
Deg!
"atau mungkin aku harus menceritakannya saat Luhan hyung mendapat kekerasan fisik dari seluruh teman kelasnya hanya karna tidak memiliki seorang ayah?"
Deg!
"ah aku tau! Bagaimana jika aku menceritakannya saat Luhan hyung hampir saja terbakar hidup hidup dalam sebuah ruangan yang dia bangun bersama Kris dengan susah payah?"
Deg!
"atau mungkin aku harus mence-"
"STOP IT!" Sehun membungkam mulut Baekhyun dengan melemparkan tatapan tajam kearah namja mungi tersebut. Kepalanya berdenyut sakit saat mendengarkan deretan peristiwa yang sangat buruk yang diceritakan namja mungil tersebut. Pelelangan anak? Ditelantarkan? Kekerasan fisik? Hampir dibakar hidup hidup? Sehun menghela napas berat dan mengusap wajahnya kasar. Apakah namja yang ada dihadapannya layak mendapat perlakuan seperti itu?
Hening..
Hening cukup lama tersebut berakhir saat Baekhyun melihat bahwa Sehun mulai mengatur kembali nafasnya.
"ayahnya meninggalkan ia dan ibunya saat Luhan hyung berusia lima tahun Sehun-ah. Ayahnya pergi bersama wanita lain saat ayah kandungnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Meninggalkan anak kandungnya dan memilih merawat anak orang lain yang bukan darah daging nya"
Sehun kembali menatap Baekhyun yang tersenyum miris "kau tau ini mungkin sangat lucu . Bagaimana bisa mereka berdua dapat bertemu hanya karna sekotak coklat dan diculik dengan penculik yang berbeda,kemudian di pertemukan kembali dipelelangan anak" Baekhyun kembali tersenyum miris
"Luhan hyung selamat dari pelelangan mengerikan itu dan mulai menjalani kehidupan normalnya bersama ibunya. Hanya sesaat. Sampai ia kembali bertemu dengan Kris hyung yang menawarkan sebuah pertemanan yang sangat indah." Baekhyun kembali tersenyum lebar saat memikirkan betapa ceria nya wajah Luhan saat menceritakan cara konyol Kris yang mengajak dirinya berteman. Menawarkan pertemanan dengan cara menculik Luhan dan membawanya keatap sekolah.
"Ah aku lupa mengatakan bahwa Krsi hyung juga selamat dari pelelangan mengerikan tersebut. Kau tau mereka sangat bahagia saat itu. Sampai tiga tahun lalu muncul sebuah masalah baru yang mengharuskan Luhan hyung mendapat luka bakar permanennya. Mereka ikut terikat masalah tersebut."
"masalah?"
Baekhyun mengganguk "eum..ne. Kris hyung memiliki seorang paman" Baekhyun terdiam dan mencoba menerawang dan meyakinkan dirinya sendiri untuk menceritakan hal selanjutnya.
"aku juga memiliki seorang paman"
Baekhyun mengalihkan pandangannya dan menatap Sehun tajam "aku tidak menanyakan paman mu Sehun-ah!"
"lalu kenapa diam dan tidak melanjutkan perkataanmu barusan,eoh?" tidak mau kalah akan sikap Baekhyun yang memandang dirinya tajam. Sehun lebih memilih menatap pemuda itu datar karna berhasil membuat dirinya penasaran akan masa lalu Luhan.
Apakah namja mungil dihadapan Sehun tidak melihat bahwa Sehun sudah cukup menderita mendengar certianya barusan? Terlebih lagi apakah namja bernama Baekhyun tersebut harus menjeda dan membuat Sehun semakin tersiksa karna terlalu lama menjeda perkataannya.
"mian. Sepertinya kau kesal"
Sehun mengganguk pelan "aku sangat kesal sekarang jika kau tidak melanjutkannya"
Baekhyun menghela nafas sekali lagi "Hhhh...arrasoe. Paman Kris hyung memiliki dendam yang cukup besar kepada kedua orangtua Kris. Awalnya dia hanya berniat mencelakakan Kris hyung,tapi hal yang terjadi adalah dia membuat luka baru untuk seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang dendam dan semua hal tersebut..."
'Luhan?'
"emu..ne. Dia Luhan hyung. Aku tidak tau pasti apa yang terjadi karna Luhan hyung tidak terlalu jelas menceritakannya,akan tetapi baik dia dan Kris hampir sama seperti satu kesatuan Sehun-ah"
"maksudmu?" Sehun mengerutkan kedua alisnya
"jika Kris yang mengambil langkah pertama dan menyerang semua orang untuk melindungi Luhan hyung. Maka hal yang dilakukan Luhan hyung adalah menjadi pedang utama untuk memberikan pukulan telak kepada semua orang yang membully mereka berdua pada saat itu"
Baekhyun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan pelan menuju pintu kamar Luhan "jadi...kau tidak punya hak untuk mengatakan hal buruk tentang Kris hyung,Sehun-ah"
"dia hanya merasa bersalah"
"aniyo" Baekhyun tertawa kemudian memutuskan untuk berbalik saat mendengar perkataan Sehun yang menyimpulkan bahwa Kris merasa bersalah terhadap Luhan
"Kris tidak merasa bersalah Sehun-ah. Dia bahkan mencintai Luhan hyung sebelum masalah besar tersebut terjadi. Dia lebih dulu menawarkan pertemanan,kau tidak ingat? Dan hal yang lebih indah terjadi adalah Kris mencintainya dan memutuskan untuk pergi sebelum pamannya bertindak lebih jauh mengancam Luhan. Kedua orangtua Kris yang memutuskannya karna mereka juga menyukai Luhan hyung dan tidak ingin menyakitinya"
Perkataan Baekhyun barusan dapat disimpulkan sebagai perkataan yang jujur karna Sehun dapat melihat bahwa namja tersebut mengatakannya dengan tatapan yang dipenuhi keseriusan.
"tapi bukan berarti kau tidak memiliki kesempatan Sehun-ah" Baekhyun tersenyum lebar dan melangkahkan kakinya pergi. Sepertinya malam ini hyung kesayangannya akan menginap dirumah namja datar bernama Oh Sehun. Hal terburuk yang terjadi mungkin dirinya akan diomeli oleh namja bermata bulat yang sedang dalam kondisi yang tidak kala buruknya dengan kondisi Luhan sekarang.
_╩ Ξ ╩_
Luhan membuka kedua matanya. Mengusap wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya dan melirik jam digital yang ada di atas meja yang terletak disamping kanan tempat tidurnya. Hal pertama yang dapat disimulkan oleh otaknya adalah sebuah fakta bahwa dirinya tidak sedang terbangun di dalam kamarnya.
"neo gwenchana?" Luhan menoleh dan mendapati seorang Sehun sedang menatapnya dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan tentu saja dengan ekspresi datar.
"eum.." Luhan menjawab singkat dan memutuskan untuk mengatur posisinya kembali agar lebih nyaman.
"jadi ini yang kau namakan serangan panik?"
Pergerakan Luhan tiba tiba berhenti seketika. Namja bermata rusa tersebut menghela nafas berat saat Sehun tidak mengalihkan pandangannya dan terus menatap Luhan intens. Meminta jawaban atas pertanyaan Sehun barusan.
"eum..ne. tapi aku beruntung"
"beruntung?"
"yeah...aku beruntung hari ini karna tidak perlu berteriak keras seperti biasanya"
Sehun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan pelan menuju sisi kanan ranjang Luhan dan memberikan segelas air yang terletak diatas meja tersebut "apakah itu bisa disebut sebuah keberuntungan jika tidurmu terganggu setiap harinya?"
"entahlah...tapi aku pernah mendapat yang lebih buruk"
"jeongmal? (benarkah?)"
"eum..ne. Saat Kris pertama kali meninggalkanku,aku bahkan sampai terbangun dengan nafas yang sesak dan keringat yang bercucuran dimana mana" Luhan tersenyum miris saat memikirkannya. Sepertinya Kris sangat berpengaruh besar dalam kehidupan normalnya.
Sehun menghela nafas berat dan memposisikan tubuhnya untuk berbaring disamping Luhan. Luhan yang awalnya terkejut dengan tindakan semena mena namja datar tersebut sontak bungkam setelah Sehun memberinya tatapan yang mengisyaratkan bahwa tempat tidur ini miliknya. Luhan yang cukup lelah karna serangan panik yang baru saja di alaminya tentu saja tidak punya pilihan lain selain menggeser tubuhnya kearah kiri dan memberikan ruang cukup untuk Sehun.
Luhan menutup matanya dengan menggunakan lengan kanannya. Menghalau pandangannya agar tidak menatap Sehun dan agar dirinya cepat terlelap dan melupakan mimpi buruk yang kembali menyapanya untuk kesekian kalinya.
SRET
Luhan menoleh dan menatap wajah Sehun dan menatap lengan kanannya yang digenggam erat namja datar tersebut. Kedua alis Luhan tampak mengerut dengan dipenuhi tanda tanya akan tindakan Sehun yang kembali melakukan tindakan konyol dengan cara mengusap lembut lengan Luhan. Awalnya hanya mengusap pada daerah telapak tangan,akan tetapi perlahan tangan Sehun semakin turun dan menyentuh tepat pada luka bakar Luhan
Sehun menatap Luhan dengan pandangan yang sulit diartikan dan terkesan mengintimidasi namja rusa tersebut "apakah masih sakit?"
Deg!
"berhenti menatapku seperti itu Sehun-ssi" Luahan menelan ludahnya yang tersangkut ditenggorokannya,bahkan raut wajah Luhan tampak sangat lemah dari sebelumnya saat Sehuntidak berhenti menggengam bekas luka bakarnya dengan erat,namun tidak sampai menyakitinya
"aku bertanya apakah ini sakit?"
Luhan semakin menunduk dan kedua manik matanya mulai berkaca kaca saat Sehun tidak berhenti menanyainya.
Sehun berbisik lembut "apa kau tidak mendengarku?"
"aku mendengarnya" Luhan mengigit bibir bawahnya. Ia tau bahwa Sehun sudah mengetahuinya. Mengetahui masa lalunya yang menyakitkan. Luhan sekarang merasa jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Ia tidak tau pasti sejauh mana Sehun mengetahuinya,tapi ia dapat menyimpulkan bahwa Sehun sudah dapat dipastikan mengetahui semuanya.
"aku bertanya apakah ini masih sakit?"
Luhan mendongak "sangat. Neomu apeuda Sehun-ah (sangat sakit Sehun-ah)"
"hiks...neomu apeuda...aku tidak bisa berhenti bermimpi buruk Sehun-ah. Neomu apeuda..hiks...eottoke Sehun-ah,eoh? (apa yang harus kulakukan Sehun-ah?)"
Air mata Luhan jatuh pada akhirnya. Dinding pertahanan yang dia bangun sendiri jatuh hanya karna menatap wajah Sehun yang tampak sakit saat Luhan mengatakannya. Mengatakan bahwa luka bakar dan penderitaan di masa lalunya begitu menyakitkan dan tidak akan sembuh dalam kurun waktu tiga tahun. Bagaimana mimpi buruk yang selalu dialaminya menjadi suatu penghalang dan pemicu besar dari semua sikap ketidakpeduliannya. Bahkan saat Kris sudah berada disampingnya,mimpi buruk tersebut tidak berhenti.
"sumi meotdorok apeuda (ini sangat menyakitiku sampai aku tidak bisa bernafas)" Luhan menghapus air mata sialan yang tidak dapat berhenti keluar dari matanya. Sungguh harga dirinya sangat jatuh saat ini. Kembali dirinya dihadapkan pada situasi yang sangat dibencinya sekaligus menyesakkan dada
"kenapa kau menangis,eoh?"
"..." Luhan tidak menjawab dan memajukan tubuhnya agar dapat bersandar didada bidang Sehun. Ia butuh tempat bersandar sekarang. Hatinya sudah terlampau hancur saat memikirkan betapa menyedihkannya dirinya yang tampak buruk dihadapan Sehun.
Terkadang Luhan tidak mengatakan apa yang dia rasakan,bukan karna dia tidak ingin mengatakannya. Tapi karna Luhan tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Oleh karna itu Luhan memilih bungkam dan menangis sejadi jadinya di dada Sehun malam itu. Melampiaskan perasaannya yang sangat tersiksa semenjak luka bakar tersebut terpatri ditangan kanannya. Mengingatkannya akan masa lalu yang begitu memilukan dada.
Sementara Luhan masih menangis,Sehun lebih memilih melonggarkan genggaman tangannya dan menyelipkan tangan kirinya ketubuh bawah Luhan dan menarik namja rusa tersebut agar lebih dekat darinya. Memeluk Luhan dalam diam karna memang ia bingung harus melakukan apa. Sehun mungkin tampak seperti orang yang sangat mengharapkan agar Luhan melihatnya dari pada harus menangis selayaknya orang yang tersiksa. Tapi ia juga hanya dapat bungkam saat Luhan tidak bisa berhenti menangis saat namja tersebut butuh seseorang untuk bersandar.
"Hhhh..." Sehun menghela napas panjang dan menuruti instingnya dengan mengusap luka bakar Luhan yang masih ditutupi lengan kemeja putih yang Luhan kenakan. Memandang Luhan yang kembali bergetar dalam pelukannya dan sedetik kemudian,perlahan tapi pasti ...
...
...
...
mencium lembut luka bakar Luhan.
_╩ Ξ ╩_
Chanyeol berdiri memandang sesosok namja mungil yang sedang duduk disalah satu kursi yang ada di taman SM High School. Memandang tanpa ada niat untuk menyapa ataupun mendekat. Penolakan yang dikatakan namja mungil bernama Baekhyun beberapa hari yang lalu sudah cukup membuat hari harinya terasa sangat amat...entahlah...putus asa dan tanpa harapan?
'neo saranghae molla (kau tidak tau tentang cinta)"
Chanyeol kembali menutup mata erat. Dirinya sungguh sangat amat berbeda semenjak kata dari Baekhyun terucap dan selalu tertanam baik di otaknya. Dia tidak tau tentang cinta? Apakah itu merupakan sebuah alasan baru untuk menolak cinta seseorang?
Chanyeol selalu memikirkannya,bahkan hampir setiap jam dalam beberapa hari belakangan. Memikirkan kembali tentang perasaannya. Jika memang benar sebuah perasaan tersebut bukanlah cinta,lalu apa yang harus dikatakan dan diucapkan namja tersebut untuk seorang Byun Baekhyun?
Chanyeol tersenyum miris saat melihat namja mungil bernama Byun Baekhyun tersebut menutup kedua kelopak matanya erat dan meresapi sinar matahari yang mulai jarang menampakkan diri karna terjadinya musim hujan yang menurutnya sangat menyebalkan.
"kau menghalangi jalanku"
Chanyeol kembali tersenyum miris saat mendengar suara seseorang yang ia tau siapa pemiliknya. "Sehun-ah~ apakah menurutmu aku gila?"
"ne. Tentu saja. Kau tidak ingin melangkahkan kaki dari sana? Kau menghalangi jalan seseorang" Sehun menatap Chanyeol denagn tatapan datar seperti biasa. Ia terlalu lelah untuk mempertanyakan sikap Chanyeol yang akhir-akhir ini makin terlihat lusuh dan seperti orang yang kehilangan nyawa
"dia selalu menutup matanya Sehun-ah" Chanyeol berkata tanpa melepaskan pandangannya pada Baekhyun yang masih setia menutup mata
Sehun tentu saja tidak bodoh untuk mengetahui bahwa namja yang sedang ditatap Chanyeol adalah seorang namja bernama Baekhyun "kau ditolak?"
Chanyeol kembali tersenyum miris "hm...ne"
Sehun menepuk sedikit bahu Chanyeol,mencoba sedikit memberi semangat kepada namja tersebut. Sehun merasa memiliki nasib yang sama dengan Chanyeol sekarang,akan tetapi sesungguhnya perbedaannnya terlalu besar dalam berbagai aspek
"dia selalu menutup matanya,mungkin terlalu takut untuk melihat hal buruk yang ada didunia ini Sehun-ah" Chanyeol berkata dengan penuh keseriusan sambil terus menatap Baekhyun.
"dia selalu tersenyum kepada semua orang. Menanyakan bagaimana kabar semua orang yang ia temui setiap harinya. Bagaimana menurutmu Sehun-ah? Apakah ini bukan cinta?"
"maksudmu?"
"maksudku ...apakah memandang seseorang dan memperhatikannya seperti orang gila dapat disebut cinta?" Chanyeol akhirnya mengalihkan pandangannya kewaajah datar Sehun. meminta pendapat dari seseorang yang bahkan tidak pernah berkencan sebelumnya. Meminta beberapa nasehat yang mungkin saja akan menambah kesedihan akan penolakan Baekhyun. Tapi namja yang memilki tinggi diatas rata-rata tersebut sudah terlampau pasrah,sehingga dia tidak menyadari hal tersebut.
"..."
Chanyeol tersenyum miris saat tidak mendengar jawaban Sehun "kau tidak bisa menjawabnya"
"cinta bertepuk sebelah tangan masih tetap disebut cinta. Tapi jika kau terus menginginkannya kau akan terluka. Bahkan sangat terluka. Tapi kalau berfikir tentang orang itu,jantungmu terus berdebar debar,bukankah itu masih lebih baik daripada tidak punya perasaan cinta Chanyeol-ssi?"
Chanyeol menghela nafas berat dan tersenyum kecil 'jadi ini masih disebut cinta?'
Chanyeol kemudian menoleh dan mendapati wajah seorang namja dengan wajah angel dengan ekspresi yang bisa dikatakan gembira akan tetapi terluka disaat yang bersamaan. Chanyeol tentu saja mengetahui siapa namja dihadapannya. Seorang sonbae yang merupakan namja yang harus dihindarinya. Bukan karna dia terlalu takut,karna sebenarnya wajah namja tersebut terkesan normal dari namja yang pernah ia temui.
Seorang namja angel yang sekaligus menjadi evil sonbae yang berada di SM High School tersebut masih berdiri sambil menatap salah satu namja yang berada di taman SM High School.
Chanyeol yang melihat hal tersebut tentu saja ikut mengikuti arah pandangan Suho dan terhenti saat melihat bahwa orang yang dipandangi Suho adalah seorang namja dengan lesung pipi yang sekarang sedang mendudukan dirinya di salah satu kursi taman lengkap dengan earphone yang terpasang di telinganya.
"gomawo Suho sonbae"
"Hm.."
Chanyeol melangkahkan kakinya kearah Baekhyun setelah meyakinkan dirinya sendiri. Sungguh semua hal yang dikatakan oleh Suho merupakan sebuah senjata baru yang membangkitkan kembali perasaannya.
_╩ Ξ ╩_
"kau ingin apa?" Baekhyun tersenyum remeh kepada Chanyeol yang baru saja memposisikan dirinya duduk disamping bangku miliknya.
Chanyeol mengedikan bahu dan tersenyum lebar sehingga menampakkan deretan giginya "entahlah"
Baekhyun ikut tersenyum kecil sebelum menggubah ekpersi wajahnya menjadi datar lengkap dengan tatapan tajam yang ditujukkan untuk seorang Chanyeol "kkeojyeo (enyahlah)"
"shireo"
"MWO?!"
"shireo. Aku tidak mau. Kau tau ini adalah tempat umum jadi aku boleh duduk disini sesuka hatiku Baekhyun-ah"
"eummm..." Baekhyun tampak berfikir keras sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menjauh "selamat menikmati bangku taman itu"
SRET
"Ya! lepaskan! kau tidak mau melepaskannya?" Baekhyun mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Chanyeol dari lengan kanannya dengan menepiskan tangan tersebut,walaupun memperoleh hasil yang nihil.
"ini masih disebut cinta Baekhyun-ah"
Baekhyun berhenti meronta dan mengerutkan kedua alisnya melihat ekpresi Chanyeol yang hanya ikut diam setelah mengatakan perkataan yang membuat Baekhyun tampak kebingunggan.
Chanyeol mengganguk pelan dan mengangkat wajahnya untuk menatap Baekhyun. Menatap dengan penuh kesungguhan kepada satu satunya namja yang membuatnya menjadi orang yang selalu tersenyum menjadi seseorang yang tampak lusuh hanya karna kata penolakan yang diucapkan namja mungil tersebut
"ini masih disebut cinta Baekhyun-ah"
Deg!
PENYAKIT YANG MENYERANG SISTEM PERNAFASAN – TBC
Annyeong~ ai datang lagi bawa chap 9 *muter lagu Peter Pan*
Wah~ ternyata ff ini bentar lagi tamat readernim! BWUHAHAHHAHHA *evil laugh*
Fiuh *ngelap keringat*
Oke pertama mari kita ucapkan selamat untuk Chanyeol oppa yang ulang tahun kemaren. SAENGIL CHUKHAHAEYO CHANYEOL OPPA~ *nyalain kembang api*
Oke sepertinnya ai gak bisa terlalu banyak ngomong untuk chapter ini. ai cuman berharap bahwa penjelasan tentang masa lalu Luhan dapat cukup kalian mengerti semua. Untuk Kris...sepertinya dia akan kembali dichapter 10. Bagi Krishan shiper silahkan bergembira ria untuk chapter depan
Dan untuk balasan review sepertinya juga akan ai balas di chapter depan. Bagi readernim yang penasaran tentang panjangnya ff ini. sepertinya kalian gak perlu khawatir karna ff ini gak bakalan nginjak sampe chapter 17 dan akan ai usahakan akan tamat bulan desember dengan pair yang masih belum ai tentukan. Ai masih perlu mempertimbangkan tentang pairnya karna ada salah satu temen ai yang minta jadi Krishan,eh buset dah ai kan HunHan hard shiper! Tapi setelah mendengarkan curahan(?) hati dia. Ai jadi bimbang T^T
Tapi kayaknya cinta ai kepada Hunhan terlalu besar deh. Jadi kayaknya ai harus pertimbangin hal ini lagi. Lagi pula antusias readerinim semua sangat menambah semangat ai untuk nambahin Hunhan moment nya. YEHET!
Ai seneng loh baca review para reader semuanya. Apalagi kalau seorang author yang ngebaca,selain nambah masukan dan saran. Hal ini secara gak langsung bikin kebanggaan tersendiri. Wow apakah kalian tau bahwa jumlah yang ngview ff ini semakin banyak? Ai makin shock sekaligus nangis dalam diam saat ngeliat grafiknya. Kemana perginya orang orang yang ngebaca ff ini? kenapa tidak meninggalkan jejak? Tapi ai udah mulai kebal sama yang kayak ginian,karna...AI TERLALU MENCINTAI KALIAN SEMUA *PLAK* #Apaansih?
Untuk jadwal ff,sepertinya bulan desember akan sangat berjalan lama karna ai harus mengikuti ujian semester satu. Maklum udah kelas tiga dan bentar lagi lulus *bow* Huh! Tapi tenang aja karna ai akan kembali fokus dengan ff ini setelah ujian berakhir.
oke ai rasa udah cukup dan tolong bagi silent reader ai kasih warning sekali lagi untuk cepet-cepet tobat. Arrasoe? Dan buat readers baru. Welcome to the dark side baby~ #apaansih?
.
.
.
.
.
Silahkan tinggalkan jejak kalian sebanyak mungkin *bow*
