Tittle:

Marriage not dating

Cast:

Park Chanyeol (23yo)

Byun Baekhyun (22yo)

Other

Genre:

Romance, Drama

Rating:

T - M

Summary:

Chanyeol yang menjadi CEO di suatu perusahaan dan terkenal akan ke-brengsek-annya, namun apa jadinya bila dia bertemu dengan yeoja mungil yang membawa dampak baik baginya?

Warning:

GS FOR UKE. NO BASH. NO COPY-PASTE (?). GASUKA LEBIH BAIK GAUSAH BACA.

.

~~ HAPPY READING ~~

.


BRAK!

Pintu utama terbuka dengan kerasnya, disana, tepat di ambang pintu, berdiri seorang yeoja licik, Irene. Ia tersenyum remeh ketika mendapati Chanyeol dan Baekhyun yang sedang berpelukan. Irene sendiri bisa membuka pintu apartement di karenakan mastercard yang Chanyeol berikan padanya.

"Bagus, Park." sindirnya. Baekhyun kini tengah terdiam di samping Chanyeol, namun jari-jari mungilnya memegang erat ujung baju Chanyeol.

Chanyeol masih memandang yeoja ini dengan tatapan datar, ia sebenarnya sudah menduga bahwa Irene akan datang. Dan benar saja, yeoja menjijikan ini datang. "Kau mau apa?" tanyanya dengan dingin.

Irene tertawa sejenak, "Kau bilang mau apa!? Hey, tentu saja untuk menemuimu, Park." ujarnya menatap mata Baekhyun dengan tatapan yang membunuh.

"Keluarlah. Kau menggangu quality timeku bersama istriku ini." ujar Chanyeol santai, ia memeluk kembali tubuh Baekhyun.

Irene membelalakan matanya, "Ch..anyeol ah.. kau bilang dia istrimu? Kau lupa? Aku calon istrimu." ujar Irene membela.

"Baru calon, dan lagipula aku tidak berniat menikahimu. Jadi buang saja jauh-jauh harapan tinggimu itu." jawab Chanyeol sangat menusuk hati. Ia memang berniat menyelesaikan masalahnya dengan Irene secara perlahan dan bertahap.

Irene memandang tidak percaya kedua insan di hadapannya ini. " Kau bilang apa? Tidak-tidak, kau pasti bercanda." telak Irene.

"Apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda?"

Irene terdiam, dan sebuah seringai mematikan ia keluarkan. "Baiklah jika itu kemauan mu, aku akan menarik seluruh saham appaku dan akan ku pastikan perusahaanmu akan bangkrut." ujarnya penuh kemenangan.

"Tarik saja saham appamu. Aku tidak butuh. Lagipula surat perjanjian itu sudah kubakar, dan untuk masalah perusahaan aku bisa memulainya kembali dari awal."

Baekhyun tersenyum simpul, ia sangat suka jawaban Chanyeol yang terdengar tenang namun mematikan.

Irene membelalakan matanya kembali, mulutnya sudah terbuka lebar, dan hatinya seperti tertohok. "Sialan kau Park! Aku hamil anakmu!" jawabnya lagi mencari jalan.

"Aku selalu mengeluarkannya di luar. Jadi jangan mengada-ngada. Lebih baik kau pulang, lalu beritahu appa mu untuk menarik sahamnya dari perusahaanku. Aku tidak yakin ia akan mengabulkannya." ujar Chanyeol dengan kemenangan yang penuh. Baekhyun tersenyum, bukan, ia bukan menertawakan Irene, namun ia sangat suka dengan tanggung jawab Chanyeol. Dan Chanyeol menempati janjinya agar selalu bersama ia.

Irene menghentakan kakinya ke lantai dengan keras, dan berlalu keluar apartement. Tidak lupa juga sebuah mastercard miliknya ia lempar begitu saja. 'Tunggu pembalasanku, Park.'

"Chanyeolie, aku rasa kau terlalu jahat dengannya." ujar Baekhyun dengan polosnya.

"Dia lebih jahat. Dia menjerumuskanku pada hal buruk, dan juga aku rasa, dia sudah tidak waras." kesal Chanyeol.

Baekhyun tersenyum seketika, "Terimakasih." ujarnya

"Untuk?" tanya Chanyeol menggantung.

"Karena kau memilihku. Bukan dia." jawab Baekhyun lagi seraya mengecup lembut bibir Chanyeol.

Chanyeol menatap tidak percaya Baekhyun yang sudah mencuri ciumannya. "Kau menciumku?"

Baekhyun menunduk malu, semburat merah muncul di kedua pipinya, "Anggap saja itu tanda terimakasihku." ujarnya dengan malu.

Chanyeol menyeringai nakal, "Kau menggodaku?" tanyanya mempersempit kembali jarak keduanya.

Baekhyun dapat merasakan jantungnya kembali bergedup, seluruh tubuhnya seakan berdesir, dan aroma tubuh Chanyeol sangat menusuk penciumannya. "Ani.." ujarnya menunduk malu.

Chanyeol menangkupkan pipi merah Baekhyun dengan kedua tangannya, bibirnya dengan cepat melumat bibir ranum Baekhyun. Ia menekan lembut tengkuk Baekhyun memperdalam ciumannya. Baekhyun seakan mengerti, perlahan membuka kedua belah bibirnya, memberi jalan masuk untuk Chanyeol. Lidah keduanya berperang dengan cukup panas, seakan berlomba untuk mendominasi. Saliva keduanya jatuh seiring panasnya ciuman ini. Tubuh ramping Baekhyun sudah mendekap erat pada Chanyeol. Dan Chanyeol membawa nya menuju kamar.

Brak

Tubuh Baekhyun terhempas, matanya yang sayu menatap wajah Chanyeol.

"Baek, bolehkah?" tanya Chanyeol yang benar-benar sudah tidak bisa menahannya. Ia tidak perduli lagi jika Baekhyun baru saja sembuh.

Baekhyun mengangguk lucu, ia menenggelamkan kepalanya tepat di dada Chanyeol.

Chanyeol memulai kembali aksinya, ia mengecup leher, telinga, dan bahu Baekhyun secara bertubi tubi. Dengan lembut ia membawa kembali Baekhyun kembali dalam ciumannya, tangannya dengan cepat membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya dan juga Baekhyun.

Tangan Chanyeol mengelus pelan namun pasti paha dalam Baekhyun tanpa menghentikan ciumannya. Baekhyun memekik kaget ketika merasakan tangan Chanyeol yang sudah memijat lembut payudaranya. Ia merasakan seluruh ototnya menegang terutama bagian pusatnya.

"Yeolshh...ahh"

Chanyeol semakin menjadi ketika mendengar desahan istrinya ini, tidak tanggung-tanggung ia menghisap leher Baekhyun, memberinya tanda banyak.

"Enghh... Yeoliee.." desah Baekhyun dengan sensual, tangannya perlaha meremas kejantanan Chanyeol, mengelusnya perlahan namun pasti membuat Chanyeol menggeram.

"Yeoliee.. bolehkah aku memakannya?" tanyanya dengan tatapan menggairahkan.

Belum sempat Chanyeol menjawabnya, Baekhyun melahap habis milik Chanyeol, mengemutnya layaknya sebuah permen, kepalanya ia maju mundurkan seirama dengan hisapannya.

"Ahhh..Baekshh.. Sudah-sudah, disini aku yang bekerja" ujar Chanyeol menarik kejantanannya dari mulut Baekhyun. Ia menidurkan segera tubuh Baekhyun, dan lidahnya melahap milik Baekhyun, memainkan klitorisnya dengan perlahan

"Enngggh... Chanyeolsshh.."

Desahan Baekhyun menggema memenuhi ruangan, membuat birahi Chanyeol semakin meningkat, dengan cepat ia mengarahkan kejantanannya tepat di depan kewanitaan Baekhyun.

"Aku akan memasukannya, Baek." bisik Chanyeol seirama dorongannya memasuki liang hangat Baekhyun.

Baekhyun tahu ini sangat sakit, namun ia menahan segala kesakitannya, ia tidak ingin membuat Chanyeol kecewa. "Arghh Chan..." desahnya ketika seluruh kejantanan Chanyeol berhasil masuk sepenuhnya.

"Aku tahu itu sangat sakit, maaf." bisik Chanyeol kembali, ia mendiamkan miliknya sejenak agar Baekhyun terbiasa. Baekhyun menggeleng kepalanya, tatapannya sangat sayu, "Move please.." pintanyanya

Chanyeol tersenyum dengan semangat memaju-mundurkan tubuhnya, berusaha mencari G-Spot sang istri. Tangannya juga tidak tinggal diam, ia meremas kuat kedua payudara Baekhyun.

"Ahhh..Chan..Disituu.." pinta Baekhyun kembali ketika merasakan titik terdalamnya tersentuh.

Chanyeol mempercepat genjotannya, peluhnya terus mengucur seiring kecepatannya. "Ah.. Baeksh.. Sempit sekalihsh.." geram Chanyeol.

Tepat dihentakannya ke tiga, Chanyeol menembakan benih spermanya tepat di dalam liang Baekhyun. Menaruhkan sebuah benih bayi di dalam rahim sang istri.

"Terimakasih, Baek. Aku mencintaimu." bisik Chanyeol memeluk erat tubuh Baekhyun.

"Nado.." bisik Baekhyun memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Sinar mentari pagi memasuki kamar sepasang suami istri ini, seakan menyuruh keduanya terbangun. Sementara Baekhyun perlahan membuka kelopak matanya, namun menyipitkan kembali matanya akibat pancaran sinar pagi. Ia mencoba terbangun dengan perlahan, seluruh tubuhnya sangat pegal terlebih bagian pusatnya terasa perih dan nyeri. Dengan susah payah, ia menuju kamar mandi. Meninggalkan Chanyeol yang masih terlelap.

Aroma jasmine serta harum nasi goreng membuat tidur Chanyeol sedikit terusik, kedua matanya terbuka dan melihat sisi sampingnya, benar, Baekhyun sudah tidak ada. Dan ia yakin, wanita ini tengah memasak di dapur. Dengan cekatan ia berdiri mengambil boxer serta kaus nya, memakainya dengan asal dan melangkah menuju dapur.

" Kenapa tidak membangungkanku hm?" bisik Chanyeol dengan posisi memeluk Baekhyun dari belakang. Baekhyun yang awalnya terkejut mulai terbiasa, ia melanjutkan kembali memasaknya.

" Morning, Chanyeolie Oppa " sapa Baekhyun menolehkan kepalanya sekilas.

" Morning kiss nya mana?" tanya Chanyeol dengan kepala yang ia taruh tepat di bahu mungil Baekhyun.

Baekhyun terkekeh pelan, "Duduklah dulu, aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu." ujarnya

Chanyeol dengan berat hati melepaskan pelukannya, ia berjalan gontai menuju meja makan. Kepalanya ia tangkupkan dengan kedua tangan, dan pandangannya tak lepas dari sosok yeoja di hadapannya.

" Makanlah, aku tahu kau sangat lapar." perintah Baekhyun memberikan satu piring nasi goreng buatannya.

Chanyeol menggeleng cepat, "Morning kiss dulu." rengeknya seperti anak kecil.

Baekhyun memajukan badannya berniat memberikan sebuah kecupan, namun Chanyeol sudah mensabotasenya terlebih dahulu, tengkuknya di tekan lembut oleh laki-laki ini. Hingga keduanya larut dalam ciuman panas pada pagi hari.

"Hah..hah..hahh!" ujar Baekhyun saat ciumannya sudah terlepas, ia meraup rakus oksigen sebanyak mungkin. Hampir saja ia mati akibat berciuman.

"Kau ingin membunuhku ya?" kesal Baekhyun kembali terduduk di depan Chanyeol.

Chanyeol hanya menyengir dan melahap nasi goreng di hadapannya cepat.

"Kau tidak ke kantor?" tanya Baekhyun disela makannya.

Chanyeol mengangguk, "Aku akan kesana nanti, kenapa? Kau ingin ikut? Mungkin kita bisa mencoba gaya baru bercinta kita di kantor nanti." ujarnya Chanyeol cepat dan dihadiahi satu pukulan keras di kepalanya.

"Aish Baek, kenapa kau memukulku?" kesal Chanyeol mengusap kepalanyanya. Meskipun kesal namun ia tidak memberhentikan aktivitas makannya ini.

"Otakmu otak mesum! Membuatku tidak selera makan!" ketus Baekhyun seraya membawa piring makannya yang sudah kosong menuju westafel.

"Tidak selera makan tetapi habis satu piring. Dasar wanita." sinis Chanyeol membalas dan melahap sisa-sisa terakhir makannya.

Baekhyun memutar bola matanya malas, "Cepatlah mandi, lalu pergi ke kantor setelahnya." ujar Baekhyun

"Kau mengusirku!?"

Baekhyun mematikan air keran, "Dasar bodoh, sudah cepatlah kau mandi. Baumu sangat menyengat." ujar Baekhyun dengan satu tangan menutup hidungnya.

"Baiklah, sepertinya mandi bersama tidak buruk." ujar Chanyeol seraya mengangkat tubuh Baekhyun dan membawanya menuju kamar mandi. Ia seakan tidak perduli oleh pekikan dan omelan Baekhyun sepanjang jalan.


Kedua sejoli ini berjalan meninggalkan mobil, senyum keduanya tidak pernah terlepas sejak tadi. Jari-jemari mereka telah bertautan dengan eratnya, tidak lupa juga di jari mereka telah melingkar indah sebuah cincin pernikahan. Ini pertama kalinya mereka pakai dengan bersamaan, mengingat Chanyeol tidak pernah memakainya.

"Chanyeolie Oppa.." panggil Baekhyun seiring kakinya melangkah memasuki kantor.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, ia menunduk menatap wajah yeoja mungil ini, "Kau tadi memanggilku apa?" tanya Chanyeol

Baekhyun menggigit sebelah bibirnya gugup, "Chanyeolie Oppa. Wae?" tanya dengan malu. Chanyeol segera menarik hidung mungil yeoja mungilnya ini.

"Coba beritahuku, apa alasannya." ujar Chanyeol

Baekhyun mengerucutkan bibirnya, tangannya mengusap hidungnya yang memerah akibat ulah Chanyeol ini, "Karena Oppa lebih tua dariku." ujarya dengan polos.

Chanyeol tersenyum seketika, ia mengusak surai brown istrinya dan mengecupnya cepat, "Kau kenapa imut sekali sih?" tanya Chanyeol. Jujur saja, Chanyeol sempat berpikiran bahwa umur Baekhyun adalah palsu. Bayangkan saja, tingkah lakunya bahkan seperti anak kecil, salah satunya merengek jika persediaan starwberrynya habis di kulkas.

"Aku memang imut sejak dulu." ujar Baekhyun dengan cueknya. Chanyeol tertawa kecil, ia sudah seperti terlihat ahjussi mesum yang pedofil saat ini.

Seluruh karyawan memandang kagum kedua insan ini, mereka sedikit tidak percaya Chanyeol dapat tertawa lepas, tersenyum, bahkan menyapa mereka. Chanyeol yang mereka kenal sangat dingin, irit tersenyum, dan juga irit bicara itu telah berubah. Dan mereka sedikit berterima kasih pada yeoja mungil yang membawa dampak baik bagi sajangnim mereka.

"Yeol, kenapa semua orang membicarakanmu sih? Kepalaku pen... Oh, kau.. Byun Baekhyun?" ujar Jongin sedikit terkejut mendapati Chanyeol bersama Baekhyun. Menurut pengetahuannya, Chanyeol sangat tidak suka pada Baekhyun.

"Ne. Annyeonghaseo, Jongin-ssi" sapa Baekhyun sedikit membungkukan dirinya.

Jongin menatap Chanyeol dengan tatapan sulit diartikan, namun Chanyeol hanya mengedikan bahunya dan tersenyum. "Tidak usah se-formal itu Baekhyun ah, kau bisa memanggilku Jongin atau Kai." ujar Jongin.

Chanyeol mendelik tidak suka, "Kai!? Nama macam apa itu? Jangan mau Baek, panggil saja dia hitam." ujar Chanyeol cepat membuat Baekhyun tertawa kecil.

"Sialan! Aku tidak hitam tetapi sexy! Dasar jerapah bertelinga besar." balas Jongin tidak mau kalah.

Baekhyun yang sedikit bingung akhirnya melerainya, "Hey sudah-sudah. Kalian ini selalu saja bertengkar sejak SHS dulu. Aku akan memanggilmu Jongin Oppa, tidak apa kan?" tanya Baekhyun.

"Yak! Tidak usah pakai embel-embel Oppa! Itu menjijikan Baek." pekik Chanyeol yang sebenarnya sudah terbakar api cemburu.

Jongin memeletkan lidahnya, meledek. "Jangan dengarkan dia Baek. Kalau gitu mulai sekarang kau panggil aku Jongin Oppa." ujar Jongin.

Chanyeol memutar bola matanya malas, ia seraya mendudukan diri di depan laptop. Melihat perkembangan kantor akibat ia tinggal beberapa hari belakangan.

"Apa kantor ada masalah?" tanya Chanyeol fokus menatap laptopnya. Ia sebenarnya tengah merajuk pada Baekhyun.

Baekhyun terkekeh dalam diam, ia tahu suaminya tengah merajuk, namun ia tetap menghiraukannya. Ia mendudukan dirinya di sofa dan diikuti Jongin setelahnya.

"Tidak ada, semua aman." ujarnya seraya berdiri kembali, "Sudahlah, aku ingin kembali keruanganku. Bye Baek.." sambungnya mengusap pelan bahu Baekhyun, dan sukses mendapatkan satu tatapan mematikan dari Chanyeol.

Baekhyun masih terdiam, Jongin sudah pergi, sementara Chanyeol masih berkutat pada laptopnya. Ia sendiri tengah mengutak-atik telfon genggamnya, mengecek akun SNSnya.

Diam-diam, Chanyeol mencuri lirikan pada Baekhyun. Ia mengumpat kesal karena telah di abaikan, "Yak Baek! Aku tengah merajuk tapi kau tidak meresponnya." kesal Chanyeol dengan mempoutkan bibirnya.

Baekhyun memasukan kembali telfon genggamnya pada tas, ia tertawa kecil setelahnya. Kakinya melangkah mendekati Chanyeol, memeluknya dari belakang dengan gerakan sensual. "Merajuk karena cemburu?" bisiknya tepat di telinga Chanyeol.

Chanyeol menelan kasar salivanya dengan susah payah, jantungnya berdegup seiring tingkah Baekhyun yang menggodanya. "Kau menggodaku?" tanya Chanyeol seraya menarik Baekhyun untuk terduduk dalam pangkuannya.

Gantian, kini Baekhyun yang berdegup kencang, ia sedikit menyesal menggoda Chanyeol tadi. "Ka..kau mau apa?" tanyanya dengan gugup.

Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan wajah Baekhyun, "Tentu saja membuat anak, kantor sedang lenggang." bisiknya.

Tidak sadar keduanya, sebuah derit pintu telah terbuka. Menampilkan Jongin serta Tn. Park yang tengah terkejut mendapati Chanyeol dan Baekhyun dalam posisi ini.

"Yeol! Kau gila?" pekikan Jongin membuat keduanya terkejut dan membenarkan kembali posisi mereka. Baekhyun menggigit bibir bawahnya, ia menunduk malu.

Chanyeol memutar bola matanya malas, "Dasar pengganggu. Kalau saja kau tidak datang, pasti aku sudah bisa menggenjotnya dengan gaya yang terbaru."

Pletak!

Sebuah jitakan keras dari Baekhyun mendarat dengan tepat di kepala Chanyeol. Otak Chanyeol sepertinya sudah tidak waras. "Jaga ucapanmu bodoh!" ujarnya.

"Annyeong Aboeji" sapa Baekhyun dengan riang, ia seraya memeluk sebentar tubuh aboejinya ini.

Tn. Park tersenyum setelahnya, "Kau apa kabar? Bagaimana? Apa tubuhmu masih ada yang sakit?" tanya Tn. Park seraya mengajak Baekhyun untuk terduduk.

' Sangat banyak. Badanku sangat pegal dan juga nyeri.' batin Baekhyun.

"Tidak ada aboeji, aku baik-baik saja." ujar Baekhyun cepat.

Tn. Park menaikan alisnya sebelah, "Lalu kenapa kau memakai syal? Setahuku cuaca hari ini sangat panas." ujarnya membuat Baekhyun bersemu merah.

"Tentu saja untuk menutupi kissmark dari Chanyeol." ujar Jongin sekenanya.

Chanyeol mengumpat kesal, namun ada benarnya juga perkataan Jongin. Jelas-jelas tubuh Baekhyun penuh dengan tanda merah hasil perbuataannya.

"Sudah-sudah, ada apa? Kenapa kau datang kembali?" tanya Chanyeol membuat Jongin tersadar akan tujuannya datang.

Jongin menepuk dahinya keras, "Ini gawat! Beberapa perusahan menarik sahamnya tanpa alasan yang jelas." ujar Jongin sedikit di bumbui kepanikan.

' Ternyata kau bertidak sejauh ini, Irene '


To Be Continue


Maaf NCnya ga hot. Aku ngetiknya gemeteran wkwk. Biarkan chapter ini mereka berlovey-dovey/? dulu. Chaper depan konfilk lagi deng~

Maaf juga kalo ini gaseperti yg kalian kira/bayangkan. Heheheh, dan juga aku sengaja update hari ini karena libur! *sujud sukur*

Ohiya, terimakasih untuk reviewnya, aku seneng membacanya satu-satu. Dan untuk kakak guest yg ngelarang/? aku buat NC, maaf aku sudah berjanji sebelumnya. Jadi aku tampilkan. Hehe maaf maaf ^^

Review nya udah sampe 200 lebih omg omg *nangis darah* aku seneng banget! makasih semuaaaa *kecup kecup kecup manja* . Ohiya baca cerita terbaru aku dong/? Judulnya Sorry, I'm Lying. Kkk review jangan lupa:p

.

Karena An nya udah kepanjangan, maka akhir kata aku ucapkan...

Review lagi pleasee? ^^~~^^