OOC, OC, Many typo(s), bener-bener gaje and many others *plakplak
I beg you DO NOT READ it, if you HATE the best pair for me
May you enjoy my second fic ^^
My life is so bright and full of spirit, when you are sitting here. Beside me.
Please, don't disappear anymore.
You never understand that i am not complete anylonger without you.
Second Project of Mine
Sickness by Rin
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Main Pairing : SasuxNaru slight ShikaxNaru
Rate : T
Setting : AU
Italic words : Sasuke or Naruto's thought
*just remind that this is not real story*
"Apa maksudmu Aoki?"
Suara berat itu memenuhi telinga dari sang kepala pelayan yang sedang menerima panggilan luar negeri dari tuan mudanya.
"Itulah maksud saya, Tuan."
"Jangan main-main."
Aoki tahu apa yang membuat suara tuannya penuh dengan getar dingin dan penuh kemarahan tersirat ini. Ya, tapi itulah kebenaran.
"Saya tidak pernah berani untuk bermain dengan anda, Tuan. Kecuali saat anda masih kecil, dulu. Ah, saya rindu masa itu," Aoki terkikik pelan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Aoki."
Aoki sudah tahu dengan jelas kalau sekarang tuan mudanya pasti sedang mengeluarkan tatapan yang penuh sorotan dingin dari iris tegas obsidian itu. Tatapan yang dapat membuat siapapun yang menatapnya merinding. Tapi, dia sudah sangat terbiasa menghadapi tatapan itu dari banyak keluarga Uchiha. Ada yang lebih menyeramkan dan lebih berkharisma saat menatap orang lain dengan tegas, lebih dari Uchiha Sasuke.
Siapa lagi kalau bukan kepala keluarga utama Uchiha saat ini, Uchiha Fugaku.
"Pulanglah Tuan Muda," lirih Aoki.
"..."
Yah, mungkin kalian menganggap perkataan Aoki tadi adalah sesuatu yang konyol. Tentu saja. Bagaimana bisa Uchiha Sasuke kembali ke Jepang kalau alasan utamanya untuk kembali kini telah memudar? Orang yang dikasihinya begitu dalam malah bertunangan dengan orang lain? Kenyataannya yang menghancurkan hubungan mereka berdua memang dirinya.
Dialah yang memulai semua ini. Dialah yang menghancurkan semua ini. Dia yang membuat semua ini terlalu sulit untuk diperbaiki lagi.
'Damn it.'
"Tidak."
Jeda sebentar menghiasi percakapan tak langsung itu.
"Tuan, habiskanlah liburan anda disini," sambung Aoki pelan
"Tidak ada libur disini," Sasuke langsung menjawab. Dia berbohong.
"Hari ini sampai lusa, kuliah anda diliburkan karena tugas-tugas anda sudah selesai semua."
"What? Bagaimana kau tahu?"
"Ufufu, jangan meremehkan saya, Tuan."
Tiba-tiba saja Sasuke merasa bodoh karena sudah menanyakan pertanyaan tadi pada kepala pelayannya itu. Memang, dia mendapat libur tiga hari. Rencananya, Rabu besok dia ingin pergi mengunjungi kakaknya yang ada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Aoki memang sudah berumur, namun jangan pernah meremehkan kemampuannya dalam mencari informasi tentang siapapun yang dikehendakinya. Dia adalah mantan tangan kanan dari seorang Uchiha Fugaku, sang Direktur Utama. Kemampuan yang hampir setara dengan kepala keluarga Uchiha, bisa kalian bayangkan 'siapa' dan 'bagaimana' Aoki sekarang?
Mereka terdiam. Sama sekali tidak memikirkan berapa biaya yang telah terpakai untuk pembicaraan lama yang seharusnya singkat ini.
"Anda lemah, Tuan," lirih Aoki.
Sasuke yang mendengar itu terkesiap. Seumur hidupnya tidak pernah ada seorang pun yang menyebutnya lemah. Sungguh, dia adalah pribadi yang selalu mengandalkan diri sendiri.
"How dare you, Aoki," desis Sasuke geram.
"Seharusnya anda mempertahankan dia. Anda masih punya waktu sebelum semua ini terjadi,"
"...Tapi, anda hanya diam, bukankah itu lemah, Sasuke-kun?"
Sudah lama Aoki tak pernah memanggilnya 'Sasuke-kun'. Panggilan ini digunakan Aoki saat dia masih berwujud seorang anak kecil dulu.
"..."
"Anda masih punya waktu untuk mendapatkan Tuan Naruto."
"..."
"Tuan... Saya hanya tidak ingin semua terulang lagi. Saya tahu anda tak 'lengkap' tanpa Tuan Naruto," Aoki berkata lagi. Dia sungguh-sungguh dalam mengucapkan kata itu pada Tuannya.
Entah kenapa, rasanya di dalam hati kecil milik lelaki bungsu Uchiha itu terbersit suatu kehangatan. Ada harapan yang bertebaran di relung kecil hatinya. Membisikkan sesuatu yang membuatnya merasakan keyakinan yang membuncah.
Dia harus pulang.
Dia harus menemui Naruto.
Dia akan merebutnya kembali dari Shikamaru meski apapun yang terjadi nanti.
Dia tak ingin kehilangan pemuda yang dikasihi dan dicintainya dengan caranya yang tak akan pernah bisa diikuti oleh orang lain itu.
Dia sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran pemuda beriris kilau batu mulia itu.
Dia sudah terlalu kecanduan dengan aroma segar yang khas, yang selalu menguar dari helai rambut keemasan itu.
Dan dia sudah terikat begitu dalam dengan senyum lebar yang sering ditampakkan pemuda berkulit kecoklatan itu kepadanya.
Uchiha Sasuke sudah sangat terlalu rindu pada kehangatan yang selalu diberikan Naruto pada jiwa dinginnya. Naruto selalu memberikan kehangatan walau tanpa diminta Sasuke, selalu walau caranya tidak bisa dimengerti banyak orang.
Namikaze Naruto benar-benar sudah berhasil dalam mengisi penuh relung-relung hati sang lelaki bungsu Uchiha.
"Aku akan pulang," bisiknya pelan.
"Maaf?"
"Hn."
Terdengar desahan lega dari headset yang menempel manis di kedua telinga Sasuke. Sasuke yakin kalau saat ini senyuman lebar terpasang di wajah berumur milik Aoki.
Tapi dia tidak yakin, bisakah dia sampai tepat waktu? Waktu di Jepang lebih cepat 15 jam daripada Canada. Lagipula jika dia berangkat sekarang, di Jepang sudah pagi dan acara pertunangan itu sudah dilakukan.
"Tidak akan sempat, Aoki," desis Sasuke. Bulir keputusasaan tersirat dalam perkataannya.
"Ah, maaf Tuan. Maksud saya adalah pertunangan mereka akan diadakan lusa jika berdasarkan waktu di Canada. Jika anda berangkat sekarang, anda akan sampai di Jepang pukul 8 malam. Dan pesta itu akan berlangsung pada pukul 9 malam, Tuan."
"..."
Masih ada jalan dari Tuhan, rupanya.
Dan, ada satu hal lagi yang mengganggu pikiran Sasuke. Dia tidak punya tiket untuk pulang. Penerbangan dari Canada ke Jepang itu berkala. Hanya ada waktu tertentu. Penerbangan terakhir akan dilakukan pukul 19.00, dua puluh menit lagi.
Rupanya, suara hati Sasuke seakan dipahami oleh Aoki.
"Jangan khawatir, sudah saya siapkan tiketnya Tuan."
Sasuke tersentak. Kemudian, seulas senyum kecil tergambar di wajah tampannya.
"Kau memang..."
"Itulah saya, Tuan Muda," kata Aoki sarkatis dengan senyuman lebar yang tersungging di bibirnya.
.
.
Langit sudah berubah menjadi gelap saat Sasuke menjejakkan kakinya ke bandara Narita. Setelah perjalanan cukup panjang selama 10 jam 20 menit, Sasuke akhirnya sampai ke tanah kelahirannya.
Sang ratu cahaya mengintip malu-malu dari balik awan, rupanya cuaca Jepang malam itu agak sedikit mendung. Angin sejuk dari pendingin ruangan bandara menerpa pelan kulit pergelangan tangan Sasuke yang tak tertutup bagian jaketnya. Diliriknya jam tangan yang melingkar nyaman di pergelangan tangan kirinya.
'Sudah Jam 8. Tepat sekali perkiraan Aoki itu.'
Rasa lelah mengigit pelan seluruh tubuhnya. Dia bahkan tidak tidur sama sekali dalam perjalanan cukup panjangnya tadi. Otaknya tak mampu berhenti memikirkan Naruto. Memikirkan alasan mengapa Naruto bisa secepat itu melupakannya. Hanya karena salah paham tak terselesaikan ini, besok dia akan bertunangan dengan Shikamaru.
Sasuke mendesis pelan, "Damn."
Jari-jari Sasuke menusuk dengan pelan ke arah telapak tangannya. Tangan itu mengepal dengan kuat seakan merutuki betapa bodohnya dia sampai bisa berpikir bahwa penyebab semua ini 'hanya' kesalahpahaman. Hanya, kesalahpahaman belaka.
Sayangnya kesalahpahaman ini tak berhasil diluruskannya sampai sekarang. Jadi jangan salahkan Naruto yang sama sekali tak mengetahui–pikirnya– tentang kenyataan yang sebenarnya.
Sasuke tahu, bahwa kesalahannya itu tidak bisa dimaafkan begitu saja. Jika dia yang dikhianati seperti itu, entah apa yang akan dilakukannya kepada orang yang mengkhianatinya.
Hatinya masih terasa sakit saat mengingat mata indah itu mencairkan setetes kristal bening.
Dia tahu... sungguh tahu. Dan dia pun mengerti.
Pantang bagi Naruto untuk menangis. Tidak pernah sekalipun dia menangis selama mereka bersama. Tidak pernah, sampai sembilan bulan yang lalu.
Kepingan ingatan itu semakin merajai kendali pikiran lelaki bungsu Uchiha ini.
Rasanya sungguh seperti genggaman tak pelan yang perlahan meremas 'sesuatu' di dalam hatinya. Setelah delapan bulan pun rasa sakit itu masih terus menyerang, terus terngiang sampai dia tak bisa tidur dengan baik. Sehingga dia tak pernah bisa tidur lebih dari dua jam untuk setiap hari.
Mengabaikan pikiran yang semakin lama semakin menggila memenuhi kepalanya, Sasuke menghentikan sebuah taksi dan segera memintanya untuk mengantarkannya ke sebuah hotel berbintang 4 tempat acara pertunangan itu akan segera dilaksanakan sekitar 45 menit lagi.
Sasuke menggumamkan sesuatu dalam bahasa Ibunya. Dia menunduk. Memohon kepada Tuhan dengan segenap hatinya. Memohon atas akhir yang bahagia untuk semua kesakitan ini.
"Bitte Gott, nicht halten ihn von mir weg." (1)
.
.
"Maaf, Pak. Jalanan sedang macet total. Kelihatannya ada sebuah kecelakaan yang terjadi di persimpangan jalan," kata supir Taksi kepada Sasuke.
"Lalu?"
"Biasanya untuk keadaan macet begini, mobil tak akan bisa bergerak. Kita hanya bisa menunggu sampai kecelakaan itu dibereskan oleh petugas."
"Jadi?"
"Kita hanya bisa menunggu."
"..."
"Bagaimana, Pak?"
"Ini," Sasuke menyerahkan beberapa lembaran uang 10.000 yen kepada supir itu. Dia membuka pintu untuk segera keluar dari taksi.
"Pak! Kembaliannya!"
"Ambil saja."
Dan Sasuke meninggalkan supir Taksi yang terbengong-bengong dengan uang kembalian yang tidak dapat dibilang sedikit itu.
Sasuke segera berlari melewati deretan mobil-mobil yang hanya bisa diam dan 'lumpuh' di sepanjang jalan utama itu. Dia sama sekali tidak ambil pusing dengan bunti klakson yang membahana di sepanjang jalan yang dia lalui.
Diliriknya ponsel tipis miliknya, sebuah alamat hotel tercetak celas di bagian saved message yang diterima Sasuke dari Aoki.
Shibuya Street 12th, Morning Glory's Ballroom Hotel and Resort.
Sasuke mengenal lokasi tempat itu. Dan–s yukurlah– tempat itu tak begitu jauh dari tempat dia berada sekarang. Tak dipedulikannya tatapan terpana setiap orang yang dilaluinya, dia hanya terus berlari dan berlari.
Diliriknya jam tangannya dan tak lama kemudian dia mendesis.
"God, sepuluh menit lagi!"
Tak ayal lagi, Sasuke menambah kecepatan larinya–yang sudah di atas normal itu
Tak dipedulikannya napasnya yang terengah pelan. Dia tak ingin terlambat, tidak lagi.
Sebuah bangunan bertingkat tinggi dan berkilau gemerlap lampu terlihat tak jauh lagi dari tempat Sasuke berada. Di bagian atas bangunan, terdapat sebuah papan etalase yang terpampang dengan bangga, dan bertulis "Morning Glory's Hotel and Resort".
Sesampainya di depan hotel itu, Sasuke menetralkan kembali paru-parunya yang kekurangan oksigen. Dihirupnya perlahan udara dingin yang membungkus tubuhnya yang berkeringat karena 'acara' tadi.
Tanpa mengubah wajah datarnya, Sasuke melangkah dan melewati pintu otomatis yang terbuka tiap kali ada pengunjung yang masuk dan keluar. Sesampainya di dalam, Sasuke disambut oleh seorang resepsionis laki-laki yang menyapa dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Hn. Apa di sini diadakan acara pertunangan?"
"Ya, Tuan. Banyak acara pertunangan yang dilakukan disini setiap minggunya. Namun, untuk minggu ini hanya ada dua buah acara, Tuan," kata resepsionis itu ramah.
"Siapa?"
"Atas nama tuan Hiruma dan... tuan Nara. Dan acara tuan Nara baru saja dilaksanakan beberapa waktu yang lalu, Tuan."
"Dimana?"
"Di Ballroom hotel ini, Tuan. Di lantai tiga, di sanalah tempatnya."
"Hn. Vielen Dank," Sasuke berkata pelan dan segera menuju lift yang berada tak jauh dari meja resepsionis.
Dia sengaja menggunakan kata 'terima kasih' dalam bahasa Jerman supaya kata-yang-paling-jarang-diucap lelaki bungsu Uchiha itu tak dimengerti oleh resepsionis tadi.
"Gleich, Herr," balas resepsionis yang tersenyum ramah tanpa diketahui oleh Sasuke. Ah, ternyata sang resepsionis mengerti dan mendapatkan kata kehormatan dari seorang Uchiha Sasuke.
.
.
Sasuke segera melangkahkan kakinya dengan cepat setelah keluar dari lift yang–baginya– bekerja sangat lambat itu.
Ditatapnya sekelilingnya, dan dia menemukan sebuah ruangan yang cukup luas untuk menampung lebih dari seribu undangan. Di sana ada sebuah papan pemberitahuan bahwa acara yang diadakan di Ballroom ini adalah milik 'Nara & Namikaze'.
Sasuke berjengit saat melihat kedua nama itu tersusun sejajar. Seharusnya nama keluarganya yang ada di samping marga Namikaze itu.
Dibuangnya segala keraguan yang selama ini terus menghantui kepalanya. Menggerogoti jantungnya perlahan.
Semua kesempatan yang akan terjadi hari ini tak akan dilewatkannya. Sekecil apapun itu. Apapun, yang bisa membuat Namikaze Naruto kembali pada Uchiha Sasuke.
Saat memasuki ruang gemerlapan yang megah itu, Sasuke mendapati bahwa banyak sekali makanan yang tersaji di situ. Tapi, di antara makanan yang disusun secara prasmanan itu, dia sama sekali tidak menemukan ramen.
'Aneh,' batinnya.
"Mereka cocok sekali ya."
Sasuke berhenti berjalan dan mendengarkan pembicaraan dua perempuan yang berada tak jauh darinya.
"Um, rambut pirangnya indah sekali. Kawaii, ne."
Sasuke terkesiap. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak ingin apa yang ada di pikirannya saat ini ternyata benar sudah terjadi. Untuk memastikan, dia kemudian mendatangi kedua perempuan tadi.
"Apa acara ini sudah berlangsung?"
"Eh?" kata kedua perempuan itu terkejut saat melihat lelaki tampan mendekat pada mereka.
"Mereka sudah resmi... bertunangan?" tanya Sasuke sambil menyembunyikan nada getir dalam suara rendahnya.
"I-iya. Baru saja mereka saling memasangkan cincin pertunangan," kata salah satu dari mereka menjawab dengan gugup.
Sasuke terdiam.
Dia sudah terlambat, terlambat.
Tapi seketika itu pula Sasuke tersadar akan tekadnya. Apapun jadinya, apapun hasilnya, yang terpenting saat ini Sasuke harus meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
Di antara dia dan Naruto.
Lelaki bermata hitam obsidian ini berbalik dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mencari sesosok yang sangat dikasihinya.
Tiba-tiba, dilihatnya seorang lelaki yang menggunakan tuksedo berwarna hitam yang serasi dengan kulit tubuhnya yang berwarna tan itu.
Tanpa direncanakan, Sasuke berlari menyongsong sosok itu. Dia sungguh yakin bahwa lelaki di depannya adalah Naruto.
Benar saja.
Sasuke menarik lengan lelaki itu untuk berhadapan dengannya. Yang dirindukannya selama ini akhirnya terpampang dengan sangat nyata di hadapannya. Sosok di depannya bukan hanya sekedar mimpi.
"Hei! Apa mak-"
"Sa... suke?" sambungnya.
.
.
Naruto begitu terkejut saat merasakan lengannya ditarik dengan sangat tidak sopan oleh seseorang di belakangnya. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah orang yang menarik lengannya dengan kasar itu.
Mereka terdiam.
Sasuke begitu merindukan sosok di depannya. Dia sudah tahu hal itu, hanya saja dia tak menyangka sebegini besar rasa rindunya pada Naruto.
"Naruto..." bisiknya. Didekatkannya tubuhnya dengan Naruto. Direngkuhnya kehangatan yang selalu melingkupinya itu.
"..."
Merasakan Naruto tak melawan, Sasuke semakin mengeratkan pelukannya pada Naruto.
"Lepaskan aku," lirih Naruto dalam dekapan Sasuke.
"Tidak," jawab Sasuke langsung.
"Lepaskan, Sasuke."
"Nein. Du bist mein, Dobe," bisik Sasuke di telinga kiri Naruto. (2)
"Shikamaru ada di sini, Sasuke,"
Tubuh Sasuke menegang saat mendengar Naruto menyebut nama Shikamaru. Dia tidak suka Naruto menyebut nama selain namanya. Sungguh.
Meski kenyataannya sekarang Naruto adalah tunangan resmi dari seorang Nara Shikamaru, itu tidak akan menghalanginya.
"Jangan. Hanya ada aku, Naruto."
"Sas–"
Ucapan Naruto terpotong saat sesuatu yang dingin bercampur hangat menyentuh bibirnya. Sasuke menciumnya pelan. Naruto berusaha melepaskan Sasuke darinya. Sedang yang bersangkutan sama sekali tak terganggu dengan usaha Naruto untuk lepas.
Sasuke mengeratkan dekapannya di tubuh Naruto. Lengan kirinya memeluk pinggang Naruto erat. Sedangkan tangan kanannya menyentuh tengkuk Naruto untuk memperdalam kecupannya pada Naruto.
Naruto yang terkejut atas perlakuan Sasuke padanya menutup bibirnya erat. Sasuke semakin frustasi sehingga dia menggigit pelan bibir bawah Naruto.
"Akh."
Sasuke segera memperdalam bagian yang diserangnya. Disentuhnya rongga dalam mulut Naruto dengan lidahnya.
"Umh... A–ah," Naruto mengerang pelan saat Sasuke menyentuh dan membawa lidahnya untuk menari bersama.
Sasuke semakin menggila atas rasa yang sudah lama hilang ini. Kepalanya mendadak terasa peningg. Badannya terasa panas. Dia tak akan pernah bisa lepas dari candu Naruto.
Sasuke terus menciumi Naruto dengan keras. Seakan ingin menunjukkan pada Naruto bahwa dia begitu merindukan Naruto.
"Ha-aah... Sa–suke... Cuku–hmph," erang Naruto lagi. Sasuke kembali menciumnya. Tak memberinya kesempatan untuk mengambil napas barang sedikit saja.
Para undangan yang ada di ruangan itu membelalakkan mata saat melihat ada dua orang lelaki tampan sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri itu. Terlebih lagi, suara-suara desahan dan erangan yang tercipta di sekeliling mereka meningkatkan suhu yang semakin panas.
Mereka hanya terpana melihat adegan yang terjadi secara langsung di hadapan. Bahkan ada yang sampai mengabadikan moment itu lewat lensa kamera ponselnya.
Setelah lebih dari sepuluh menit, akhirnya Sasuke melepaskan Naruto. Dipandanginya sosok di depannya yang terengah sambil menghapus saliva mereka yang bercampur. Wajahnya memerah karena kurangnya pasukan oksigen yang dibutuhkannya.
Direngkuhnya lagi Naruto dalam pelukannya. Didekapnya dengan erat seakan tak ingin melepasnya lagi.
"Ich brauche dich, Naruto," bisiknya di pundak Naruto. Menikmati aroma yang selalu membuatnya nyaman itu. (3)
Naruto tak bereaksi. Dia terlalu terkejut atas semua ini.
Di tengah ruangan yang kini sunyi senyap, sesosok lelaki yang rambutnya dikuncir tinggi mendatangi Sasuke dan Naruto.
"Sasuke," suara seseorang yang sangat dikenalnya terdengar di telinganya.
Sasuke menengadahkan kepalanya.
Mata hitam tegasnya bertemu pandang dengan mata berwarna sama milik sosok di depannya. Yang membuatnya terkejut, ada sesosok wanita yang berdiri di sampingnya.
Wanita itu memiliki rambut yang berwarna pirang sama seperti Naruto. Sasuke terdiam. Seakan mencerna ada kejadian yang terasa tak wajar baginya.
"Um, rambut pirangnya indah sekali. Kawaii, ne."
Dia sama sekali tidak menemukan ramen dalam sajian prasmanan.
Dan... Shikamaru sedang menggenggam tangan wanita berhelai rambut pirang yang ada di sampingnya sekarang.
.
Sasuke berbisik pelan sambil tetap merengkuh erat Naruto dalam dekapannya.
"Shikamaru. Siapa dia?"
To Be Continued
(1) Kumohon Tuhan, Jangan Jauhkan dia dariku.
(2) Tidak, Kau milikku
(3) Aku membutuhkanmu
R/N
Maaf updetnya lama, Minna-sama. Rin sedang sedih karena nilai rin yang tak begitu memuaskan T^T
Tapi rin sudah melakukan yang terbaik, jadi tidak menyesal. Hehe *malah curhat*plak
Maaf juga kalau chap ini aneh T^T dan adegan kissu itu, maaf kalau tidak suka. Pertama kali rin bikin yang begituan, jadi malu sendiri *plak
Lalu tentang perbedaan waktu Kanada dan Jepang itu rin cari lewat web seorang teman. Hehe, tapi rin lupa apa alamatnya, jadi kalau bingung anggaplah misalnya di Jepang hari Kamis, Maka di Kanada hari Rabu. Anggaplah acara pertunangan itu hari Rabu, dan Sasuke menelepon Aoki hari Selasa :D
Anyway, makasih banyak yang sudah mendukung rin lewat Facebook, Review bahkan PM. Rin senang. Sungguh.. T^T.
Well, give me your opinion, please~ *kitten no jutsu*
Special Thanks and this fic dedicated for them :
Sou, Nhia-san, Muthia Momogi, Ci-chan, Harucha me Hana, Dark Dobe, Touru-san, Kouru Ryuki, Shinki-san, Itazura Ryuuki, Zumi, SlythGirlz Phantomhive aka Yuki-san, Chic-kun, Tori Nadeshiko, LUKIAST, Yufa-san, Chi-nee, Micon, Orange Naru, Fujoshi Nyasar, Ai-san, mechakucha no aoi neko, sizunT Hanabi, Vipris, Matsuo Emi, Fi-chan, Sana-chan, Uchi-san, Akayuki Kaguya-chan, ulquiora ekor empat, sabaku no machi, , tsukiyomi hikari, Beside The World, Firenze Firefly, Pochi, Riri-chan, Chi-nee, Risa-chan, Vii-san :D
And You, Readers :D
Ucapan terima kasih juga rin haturkan kepada kalian yang memberikan masukan untuk You Stupid, Sasuke.
Terima kasih banyak, Minna-sama T.T
