.
.
A Romantic Story About Love "HAEHYUK YAOI VER" (Remake Story)
.
Desclaimer:
Cerita ini adalah murni bukan karya saya, ini hanya bentuk Remake dari Novel luar biasa karya Santhy Agatha dengan judul asli "A Romantic Story About Serena". Dengan perubahan genre menjadi Boys Love alias YAOI, pergantian cast sesuai dengan bayangan saya serta penambahan dan pengurangan di sana sini sesuai dengan kebutuhan jalan cerita. Semua Cast yang nantinya ada di sini murni milik Tuhan, Orang Tua, dan diri mereka sendiri, karena saya hanya meminjam nama. Tapi untuk Lee Donghae, masih diharapkan hanya menjadi milik saya dan hanya dengan Lee Hyukjae saya rela berbagi ^ , ^.
Untuk penggambaran sosok Donghae dan Hyukjae dalam cerita ini, silahkan bayangkan seperti gambar cover-nya ya...
.
Bagi yang tidak suka dengan semua yang berbau Remake, jangan dibaca, Monggo silahkan langsung tutup ini halaman dengan cara klik tanda silang di pojok kanan atas. Jangan ada bash apalagi hujatan, karena itu terlalu buang-buang energi anda.
Terima Kasih
.
Selamat Membaca ^^
.
.
BAB 12
Hyukjae berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Donghae. Dia berlari penuh air mata ke kamar perawatan Siwon. Kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan.
Ketika sampai di depan pintu perawatan nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih di tutup rapat. Leeteuk tergopoh-gopoh mengejarnya
"Hyukjae, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan kondisinya."
Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Hyukjae diijinkan masuk. Hanya lima menit untuk sekedar menengok Siwon, setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisi Siwon lagi.
Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya. Mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai dan membuat Hyukjae menanti. Tapi, mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya.
"Siwonnie..."
Suara Hyukjae serak oleh emosi, dan tangisnya meledak. Dia menghampiri tepi ranjang, ke arah Siwon yang masih terbaring pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya. Tapi kali ini tunangannya itu hidup dan membuka mata.
Hyukjae meraih tangan Siwon dan menciumnya, lalu menangis.
"Siwonnie..."
Banyak yang ingin Hyukjae ungkapkan. Dia ingin mengucap syukur karena Siwon akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Siwon memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.
Air mata tampak menetes dari pipi Siwon. Lelaki itu mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah,
"Stttt...Kau tidak boleh bicara dulu." Gumam Hyukjae lembut, mencegah Siwon yang berusaha terlalu keras.
"Mereka memasang selang di tenggorokanmu, untuk jalan makananmu. Kau koma selama kurang lebih dua tahun."
Mata Siwon menatap Hyukjae, tatapannya tampak begitu tersiksa. Dengan lembut Hyukjae mengusap air mata di pipi Siwon.
"Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi. Tapi sekarang, kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya. Sekarang..."
Hyukjae menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam.
"Sekarang kita harus mensyukuri karena kau akhirnya terbangun, ya?"
Siwon menganggukkan kepalanya, dan seulas senyum dengan susah payah muncul dari bibirnya.
"Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu lagi." Bisik Hyukjae lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka.
Ketika Hyukjae akan beranjak, genggaman Siwon di tangannya menguat. Dengan lembut Hyukjae menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Siwon.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi. Tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang."
Pegangan Siwon mengendor, lelaki itu mau mengerti. Dengan lembut Hyukjae mengecup dahi Siwon dan melangkah menjauh keluar ruangan perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah menghampiri Leeteuk. Leeteuk masih berdiri di sana dan Hyukjae langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras.
"Dia sadar Hyung... Dia akhirnya sadar... Aku masih tak percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Siwon memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini sia-sia... Tapi sekarang..."
Hyukjae terisak.
"Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dia sadar... Dia kembali dari tidur panjangnya, dia ada di sini untukku..."
Dengan lembut Leeteuk mengelus rambut Hyukjae,
"Ini semua karena perjuanganmu sayang, Tuhan melihat keyakinanmu maka ia mengabulkannya."
Mata Leeteuk juga berkaca-kaca, terharu melihat pasangan yang sudah hampir menjadi legenda karena kekuatan cintanya di rumah sakit ini, akhirnya akan berujung bahagia.
Tapi kemudian, Leeteuk menyadari kehadiran Donghae di ujung ruangan. Masih bersandar di pintu lorong ruang perawatan, dengan wajah tanpa ekspresi. Dengan lembut dilepaskannya Hyukjae dari pelukannya.
"Eh, mungkin aku harus pergi dulu. Mungkin masih ada hal-hal yang ingin kalian bicarakan?" Leeteuk mengedikkan bahunya ke arah Donghae.
Baru saat itulah sejak pemberitahuan Leeteuk tadi, Hyukjae menyadari kehadiran Donghae di ruangan itu. Pipinya langsung memerah mengingat pernyataan cinta Donghae, sesaat sebelumnya. Tapi dia sungguh tidak bisa berkata apa-apa. Setelah Leeteuk meninggalkan ruangan itu, suasana menjadi begitu canggung. Mereka terjebak dalam keheningan yang tidak menyenangkan.
"Dia sadar." Gumam Donghae akhirnya, memecah keheningan.
Hyukjae menganggukkan kepalanya, belum mampu bersuara. Donghae tampak berfikir kemudian.
"Kau bahagia?" Tanyanya kemudian, lembut.
Hyukjae mengernyitkan keningnya. Donghae telah berubah, menjadi sedikit lebih manusiawi, menjadi sedikit mudah disentuh. Donghae yang dulu tidak akan mungkin menanyakan itu padanya. Donghae yang dulu pasti akan langsung memaksa membawanya pulang tanpa peduli perasaan Hyukjae.
"Ya, aku bahagia." Seulas senyum kecil muncul di bibir Hyukjae saat membayangkan Siwon.
Donghae mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya. Senyuman yang diberikan Hyukjae ketika membayangkan lelaki lain, ketika membayangkan Siwon.
"Bagus," Gumam Donghae datar, kemudian menatap Hyukjae lembut.
"Mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan yang mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu. Kau pasti ingin fokus dulu dengan kondisi Siwon... Jadi kupikir aku akan kembali lagi saja nanti."
"Terima kasih Donghae." akhirnya Hyukjae bisa berkata-kata, pelan.
Donghae tersenyum miring.
"Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan ucapan terima kasih? Hyukjae yang aneh."
Dengan hati-hati Donghae mendekat. Setelah yakin bahwa Hyukjae tak akan menjauh, dia merengkuh Hyukjae ke dalam pelukannya.
"Ingat kata-kataku tadi." Bisiknya lembut.
Donghae menunduk dan memberikan Hyukjae sebuah ciuman yang singkat tetapi tetapi begitu menggetarkan bagi Hyukjae. Dan pergilah Donghae, meninggalkan Hyukjae yang masih berdiri terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Donghae.
..:: [HaeHyuk] ::..
"Dia sadar."
Donghae menyesap minumannya sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai atas kantornya. Sungmin, yang masih bersama Kyuhyun hanya diam terpaku. Donghae sudah menceritakan semuanya kepada mereka tadi, tentang sadarnya Siwon dari komanya. Dan sekarang lelaki itu hanya terdiam dan mengulang-ulang kata 'dia sadar' 'dia sadar' sambil menatap keluar.
Sungmin menarik napas mulai tak sabar, sedangkan Kyuhyun hanya mengetuk-ketukkan tanggannya di lutut. Donghae masih belum menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Kurasa karena perkembangan baru yang tidak terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Hyukjae?"
Pertanyaan Sungmin itu membuat Donghae mendadak memutar tubuhnya. Dengan tajam menghadap Sungmin dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.
"Dia belum memilih." Gumam Donghae setengah menggeram.
"Detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya, membalas pelukanku dan aku yakin ia akan menerima ajakan untuk pulang bersamaku."
"Sudahlah Hyung, sekarang kan tunangannya yang setia ditungguinya selama dua tahun sudah sadar. Kau tidak bisa..."
Tanpa sadar Kyuhyun bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh permusuhan dari Donghae.
"Aku... Aku hanya mencoba memaparkan kenyataan di depanmu." Suara Kyuhyun hilang tertelan karena tatapan Donghae makin tajam. Sungmin menghela napas sekali lagi.
"Donghae, Kyuhyun benar. Sadarnya Siwon ini bukankah merupakan tujuan hidup Hyukjae selama ini? Biarkan mereka berbahagia Hae, mereka pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan ketidak pastian yang menyiksa."
"Tidak!" Donghae tetap bersikeras.
"Aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Hyukjae salah memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Siwon mungkin hanya kasihan."
"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau perasaannya kepadamulah yang mungkin hanya perasaan sesaat karena keadaan yang dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm Syndrome?" Sela Sungmin jengkel.
Donghae tercenung, tentu saja dia tahu apa itu Stockholm Syndrome, dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Hyukjae kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan. Dengan gusar diusapnya rambutnya.
"Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti. Setelah kondisi tunangannya lebih baik."
Sungmin tidak berkata-kata. Dan Kyuhyun hanya diam, tak tahu harus bicara apalagi.
..:: [HaeHyuk] ::..
Dua hari kemudian, Hyukjae berdiri di depan ruangan perawatan Siwon dengan cemas, tangannya menggenggam tangan Leeteuk, setengah menangis. Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan dari dalam. Teriakan Siwon.
"Hyung..."
Hati Hyukjae terasa di iris-iris, menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Siwon setelah 2 tahun adalah teriakan kesakitan.
"Tidak apa-apa Hyuk, itu pertanda bagus. Siwon memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya. Tetapi kalau Siwon bisa mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah semakin membaik."
Leeteuk menggenggam tangan Hyukjae, membagikan kekuatannya. Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak hingga Hyukjae hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes satu-satu tanpa dapat ditahannya
"Berapa lama lagi Hyung?"
Menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan untuk Hyukjae.
"Sebentar lagi, nanti mereka akan mengizinkanmu menemuinya."
Dengan lembut Leeteuk mengusap-usap punggung Hyukjae.
"Dia harus melalui ini sayang, dan nanti akan banyak kesakitan lagi. Tapi ini proses penyembuhan, dia pasti akan sembuh."
Hyukjae menganggukkan kepalanya, memejamkan matanya, menunggu. Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Hyukjae masuk.
Dengan hati-hati, Hyukjae melangkah masuk ke ruangan perawatan Siwon. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya. Tetapi sekarang berbeda, Siwonnya tidak tidur. Siwonnya tidak menutup mata, dia bangun, sadar dan hidup.
Hati Hyukjae sesak oleh euforia yang membuncah. Hyukjae duduk di sebelah ranjang, dan Siwon langsung menyadari kehadirannya. Tangannya membuka dan dengan lembut Hyukjae menyelipkan jemarinya kesana,
"Hai." Sapa Hyukjae lembut.
Siwon tersenyum, lalu mengeryit karena gerakan sederhana itu ternyata menyakitinya.
"Sa...kit." Gumamnya susah payah.
Hyukjae tersenyum lembut, sebelah tangannya mengusap dada Siwon yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di dadanya.
"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan dan dadamu."
Siwon mengeryit lagi.
"Berapa lama?" Suaranya serak dan terpatah-patah.
"Apanya?"
"Tidur... Berapa lama?"
Hyukjae mendesah lembut.
"Dua tahun" Jawabnya pelan. Dan langsung menerima tatapan penuh kesedihan dari Siwon.
"Tapi dua tahun tidak terasa lama, yang penting kau bangun. Kau berjuang dan aku bangga padamu." Sambung Hyukjae cepat-cepat.
Siwon tampak sedikit lega mendengar penjelasan Hyukjae, tapi lalu dia mengernyit lagi.
"A-bojie... O..Omoni...?"
Hyukjae menggenggam tangan Siwon erat-erat.
"Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu."
Dan hati Hyukjae bagaikan diremas-remas ketika melihat Siwon memejamkan mata dan menangis. Dengan lembut diusapnya air mata Siwon, dikecupnya pipi lelaki itu yang kini begitu pucat dan tirus.
"Tapi aku yakin mereka sudah tenang disana. Mereka pasti bahagia sekarang, mengetahui kau sudah sadar."
Siwon membuka matanya dan menatap Hyukjae lembut.
"Maaf."
"Kenapa?" Hyukjae mengernyit.
"Karena... Kau... Ditinggal..sendiri..."
Air mata ikut mengalir di pipi Hyukjae.
"Aku tidak apa-apa, lihat? Aku sehat dan baik-baik saja. Aku bertahan untukmu. Dan sekarang kau yang harus berjuang untukku. Kau harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku."
Siwon mengangguk dan memejamkan mata, percakapan singkat itu membuatnya begitu kelelahan. Dengan lembut Hyukjae mengusap rambut Siwon.
"Istirahatlah sayang, tidurlah. Aku akan ada saat kau terlelap, aku akan ada saat kau bangun lagi."
Dengan lembut Hyukjae terus mengusap rambut Siwon sampai nafas lelaki itu berubah teratur dan tertidur pulas.
"Dia kuat, dia akan baik-baik saja."
Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan Hyukjae. Dia menoleh dan mendapati Sungmin sudah berdiri di sana, entah sejak berapa lama.
"Sungmin Hyung?"
Sungmin tersenyum dan melangkah mendekat.
"Yah kau pasti tidak menduga kedatanganku, aku kesini bersama seseorang."
Sungmin mengedikkan kepalanya ke arah pintu. Hyukjae mengikuti arah pandangan Sungmin dan wajahnya memucat melihat Kyuhyun berdiri di sana. Tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan ragu-ragu.
"Dia datang untuk minta maaf." Jelas Sungmin lembut begitu melihat ekspresi ketakutan Hyukjae.
"Dia sudah meminta maaf kepada Donghae dan Donghae mengusirnya. Menyuruhnya meminta maaf padamu karena kaulah yang dilukainya."
Donghae. Nama itu melintas di benak Hyukjae. Donghae dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Hyukjae terasa penuh, tapi dia mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk Donghae. Dia harus fokus kepada Siwon, kepada tunangannya.
"Mungkin kita bisa berbicara di luar?" Sungmin berucap setengah berbisik, melirik ke arah Siwon yang sedang tertidur pulas.
Hyukjae mengangguk mengikuti Sungmin sampai ke ujung lorong. Dengan diam-diam Kyuhyun mengikuti mereka.
"Maaf."
Gumam Kyuhyun ketika mereka sudah ada di lorong yang sepi, dia mengeryit sedikit ketika melihat bahwa Hyukjae menjaga jarak kepadanya. Sedikit berlindung di belakang Sungmin, terlihat sekali jika Hyukjae takut kepadanya. Kyuhyun mengusap rambutnya penuh perasaan bersalah.
"Aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu, aku salah paham dan berbuat fatal... Mungkin aku memang pantas menerima luka-luka akibat semua pukulan ini..."
Kyuhyun mencoba menatap Hyukjae selembut mungkin, menunjukkan ketulusannya sebesar mungkin agar Hyukjae yakin.
"Kumohon jangan takut padaku Hyukjae, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal, aku malu."
Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Hyukjae, dia menatap lelaki di depannya ini. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pengacara Donghae ini, mereka berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Kyuhyun hanya berinteraksi dengan Donghae, mengabaikannya.
Tetapi sekarang lelaki ini terlihat begitu tulus. Tulus dan berantakan, dengan memar di mana-mana, meskipun tidak mengurangi ketampanannya. Hyukjae mencoba menganguk dan memunculkan senyum kecil meskipun dia masih menjaga jarak.
"Iya." Jawab Hyukjae pelan.
Kyuhyun menatap Hyukjae dalam-dalam, mencari kepastian di sana, dan yang dilihat di mata Hyukjae adalah ketulusan.
"Aku dimaafkan?" Tanyanya pelan.
Hyukjae akhirnya tersenyum lepas.
"Iya."
Dengan lembut Kyuhyun membalas senyuman Hyukjae.
"Sekarang aku tahu kenapa hati Donghae Hyung yang keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut." Gumamnya pelan, membuat pipi Hyukjae merona.
Dengan lega Sungmin menarik napas panjang.
"Kalau begini masalah sudah selesai." Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun.
"Nah Kyu, bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku ingin berbicara berdua dengan Hyukjae. Percakapan dokter dengan keluarga pasien, kau tahu."
Kyuhyun meringis dengan pengusiran itu, lalu mengangguk.
"Oke, telpon aku kalau kalian sudah selesai."
Gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah diseret mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan. Mereka berdua menatap kepergian Kyuhyun dan Sungmin tersenyum.
"Dia sangat menyesal kau tahu."
Hyukjae mengangguk.
"Ne, aku mengerti." Lalu Hyukjae menatap Sungmin dengan penuh ingin tahu.
"Hyung ingin bicara tentang apa denganku?" Kecemasan tampak terdengar dari suara Hyukjae. Apakah terjadi sesuatu dengan Siwon? Sungmin tersenyum mencoba menenangkan Hyukjae.
"Tenang saja, Siwon akan baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Siwon, dia bilang Siwon bisa kembali pulih meski proses pemulihannya bisa berlangsung lama."
Dengan lembut Sungmin menggenggam tangan Hyukjae.
"Hyuk, apakah dokter sudah memberitahukan kepadamu tentang kemungkinan... Kemungkinan bahwa Siwon bisa lumpuh selamanya?"
Hyukjae mengangguk, tidak tampak terkejut.
"Pada saat Siwon jatuh koma pun, dokter sudah memberitahukan kemungkinan itu padaku. Dokter bilang kalau meskipun nanti Siwon sadar, dia bisa lumpuh selamanya."
"Tapi kemungkinannya tidak seratus persen, masih ada harapan 20 persen bahwa Siwon bisa berjalan lagi kalau dia ada di tangan yang tepat..."
"Maksud Hyung?" Hyukjae mengernyitkan keningnya.
"Maksudku, aku merekomendasikan diriku untuk merawat Siwon. Kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang dan saraf, jadi aku bisa merawat Siwon dengan baik... Nanti ketika dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, Siwon harus terus menjalani terapi dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi."
"Apakah... Apakah Hyung diminta Donghae melakukannya?"
Hyukjae menatap Sungmin sedikit curiga. Kebaikan hati pria cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Donghae memaksa Sungmin menawarkan ini kepadanya? Sungmin mengangkat bahu dan tersenyum lagi.
"Donghae memintaku memang, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Siwon."
Sungmin menepuk pundak Hyukjae hangat.
"Kau tahu almarhum suamiku... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai Siwon."
"Astaga!" Hyukjae menutup mulutnya dengan jemarinya, begitu terkejut mendengar ucapan Sungmin.
"Yah astaga." Sungmin tersenyum.
"Dunia ini sempit bukan? Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya." Tatapan Sungmin berubah serius.
"Tapi sungguh Hyuk, kondisi Siwon ini kupandang sebagai kesempatan kedua. Aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama. Itupun kalau kau mengizinkan."
Hyukjae menganggukkan kepalanya, terharu.
"Iya Hyung, aku akan sangat senang dan lega sekali menyerahkan perawatan Siwon di tangan dokter sepertimu."
.
.
A Romantic Story About Love "HAEHYUK YAOI VER" (Remake Story)
.
.
BAB 13
"Tidak enak." Siwon mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Hyukjae kepadanya.
Hari ini adalah tiga minggu sejak Siwon tersadar dari komanya, kondisinya sudah mulai membaik. Dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu. Dokter sendiri memuji perkembangan Siwon yang luar biasa pesat, tekad lelaki itu begitu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.
"Kau harus memakannya." Gumam Hyukjae sedikit geli dengan kemanjaan Siwon yang seperti anak-anak.
"Ini menyehatkanmu."
"Rasanya seperti muntahan." Gumam Siwon, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Hyukjae lalu mengernyit ketika menelan.
Ekspresinya membuat Hyukjae tergelak, tapi kemudian Siwon meraih tangan Hyukjae yang tidak memegang sendok. Ekspresinya seketika berubah serius.
"Hyukkie, tak terbayangkan rasa terima kasihku padamu... Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku..."
"Stttt." Hyukjae meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Siwon.
"Perjuanganku sepadan, kau akhirnya bangun kan?"
"Tapi..." Ekspresi kesedihan menghantam Siwon.
"Aku... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."
"Siwonnie..." Hyukjae menyela sedikit marah.
"Kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama. meskipun begitu..." Suara Hyukjae berubah sendu.
"Meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku... Tidakkah itu cukup?"
Mata Siwon tampak berkaca-kaca.
"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu..."
Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka. Hyukjae dan Siwon menoleh bersamaan, lalu Hyukjae tersenyum. Sungmin ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa. Sekarang bahkan Sungmin sudah mulai akrab dan berteman dengan Siwon.
Tapi senyuman Hyukjae langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang Sungmin, itu Donghae!
Donghae yang sama. Donghae yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Hyukjae tidak pernah berhubungan dengan Donghae lagi sejak Siwon sadar dari komanya. Donghae selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan Sungmin. Seperti ketika Donghae memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Siwon dan ketika Donghae memaksa Hyukjae setuju - lewat bujukan Sungmin – agar Hyukjae dan Siwon pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Siwon sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.
Sekarang lelaki itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram, membuat Hyukjae bertanya-tanya. Apakah Donghae mendengarkan percakapannya dengan Siwon tadi. Apakah Donghae tidak senang mendengarnya.
"Dokter Lee."
Siwon menyapa ramah ketika Hyukjae hanya diam saja, lalu menatap ingin tahu ke arah lelaki tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus kepada Hyukjae.
"Halo Siwon, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus."
Sungmin menyadari Siwon menatap ke arah Donghae, lalu menyikut pinggang Donghae untuk menarik perhatian Donghae yang terarah lurus kepada Hyukjae.
"Dan ini Donghae, dia... eh bosku dan bos Hyukjae juga."
Donghae menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Siwon, menelusurinya dengan tajam dan meneliti. Inikah laki-laki yang dicintai Hyukjae sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba-tiba pikiran jahat melintas di benaknya. Apa yang akan diperbuat Siwon jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Hyukjae sudah menjual kesuciannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?
"Donghae." Sungmin bergumam ketika Donghae hanya menatap dan tidak bersuara.
Donghae lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Siwon.
"Salam kenal, aku adalah... Atasan Hyukjae di tempat kerjanya... Kebetulan kami ehm cukup ... akrab."
Sedikit senyum muncul di bibir Donghae ketika menyadari Hyukjae dan Sungmin tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya. Siwon menerima jabatan tangan Donghae dan tersenyum tulus.
"Terima kasih." Meskipun Siwon sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Donghae seolah-olah ingin membunuhnya.
"Aku senang kondisimu semakin membaik." Gumam Donghae tenang, tapi terdengar seolah-olah mengatakan, kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?
Hyukjae mengernyit mendengar nada suara Donghae itu, lelaki itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Hyukjae untuk mengakui sesuatu? Mengakui apa? Apakah Donghae ingin agar Hyukjae mengakui segalanya di depan Siwon? Mengakui bahwa dia sudah menjual kesucian dan tubuhnya demi membiayai biaya operasi Siwon?
Hyukjae akan mengakuinya, itu pasti. Dia tidak mungkin membohongi Siwon. Siwon mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Hyukjae terpaksa melakukan semua itu demi dirinya. Lalu mungkin Siwon akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh, lelaki itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidak suci.
Hyukjae begitu mengenal Siwon hingga yakin akan hal itu, dia lelaki berpikiran terbuka. Tetapi yang Hyukjae takuti adalah Siwon akan semakin menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat Hyukjae harus berjuang sendirian demi dirinya. Dan Hyukjae tidak mau Siwon mengalami itu semua. Tidak di saat kondisi Siwon masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan.
Nanti, Hyukjae pasti akan mengakui semuanya, tetapi tidak sekarang. Karena itu dia langsung memelototi Donghae mengingatkan, memastikan Donghae melihat isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Donghae malahan tersenyum meremehkan.
"Donghae Sajangnim ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja." Jelas Hyukjae cepat begitu melihat kebingungan di mata Siwon.
"Tempatmu sekarang bekerja Hyukjae, kamu masih bekerja di sana." Sela Donghae tajam.
Hyukjae ternganga mendengar bantahan Donghae, kehabisan kata-kata. Sementara lelaki itu tersenyum datar pada Siwon.
"Kami sempat mengalami sedikit kesalah pahaman. Aku menuduh Hyukjae melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan. Tetapi sekarang aku sudah menyadari kesalahanku." Donghae menatap Hyukjae penuh arti.
"Dan dengan rendah hati, aku meminta Hyukjae kembali padaku."
Kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Hyukjae merona. Sungmin langsung berdehem memecah kecanggungan yang terasa di sana.
"Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalah pahaman." Gumamnya ceria.
"Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Siwon."
"Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter." Siwon tersenyum, perhatiannya teralih dari Donghae dan Hyukjae.
"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu." Sungmin tersenyum, lalu menatap Hyukjae dan Donghae.
"Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin memeriksa kondisi Siwon."
Dan dalam diam Donghae dan Hyukjae melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.
"Well dia tampak sehat." Gumam Donghae kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Hyukjae tajam, Hyukjae menganggukkan kepalanya.
"Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?" Sambung Donghae jahat.
Hyukjae membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Donghae.
"Donghae! Jahat sekali kau!" Mata Hyukjae tampak berkaca-kaca.
"Sungmin Hyung bilang masih ada kesempatan bagi Siwon untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh."
"Sampai berapa lama lagi Hyuk? Kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi? Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?" Donghae mendesis kesal.
"Dan kata Sungmin Hyung, dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal..."
"Donghae!" Hyukjae setengah berteriak, menghentikan kata-kata Donghae. Pipinya memerah mendengar ucapan Donghae yang begitu vulgar. Donghae mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.
"Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Sungmin Hyung kepadaku." Tiba-tiba Donghae mendekat dan merengkuh pundak Hyukjae.
"Bagaimana Hyuk? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? Padahal aku tahu..." Mata Donghae menyala-nyala.
"Aku tahu betapa kau adalah seseorang yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua... Tidak disentuh..Tidak di..."
"Hentikan!"
Kali ini Hyukjae benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca. Donghae terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Hyukjae tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Donghae ingin merengkuhnya.
"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik." Desis Hyukjae tajam.
"Aku mencintai Siwon, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja... Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli. Yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi..."
"Tidak butuh yang lain lagi?"
Kata-kata Hyukjae yang penuh cinta kepada Siwon itu menyulut kemarahan Donghae. Dengan kasar direngggutnya Hyukjae ke dalam pelukannya.
"Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!"
Dengan tanpa diduga-duga, Donghae mencium bibir Hyukjae. Pertama kasar, meluapkan kemarahannya disana, melumat bibir Hyukjae dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya.
Oh! betapa dia ingin menghukum pemuda ini karena menyakitinya! Oh berapa dia merindukan pemuda ini! Ciumannya melembut ketika merasakan bibir pemuda yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya.
Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Hyukjae erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu. Hyukjae yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya. Aroma Donghae, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka. Dan secara alami, Hyukjae membalas pelukan dan lumatan Donghae.
Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Donghae melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah. Dengan lembut Donghae menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Hyukjae, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.
Kemarahan Donghae mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada.
"Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku." Bisik Donghae lembut.
Hyukjae memejamkan mata berusaha menggeleng.
"Aku tidak merindukannya." Erang Hyukjae mencoba melawan.
Donghae menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Hyukjae dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Hyukjae gemetaran.
"Teruslah berbohong?" Bisik Donghae di telinga Hyukjae.
"Tapi tubuhmu tidak bisa membohongiku. Tubuhmu merindukanku sayang, dan aku merindukanmu." Bisik Donghae di sela-sela kecupannya.
Hyukjae mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Donghae, dia memang merindukan lelaki itu. Sering di malam-malam dia berbaring di sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Siwon dia merindukan Donghae. Merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Donghae di telinganya ketika tertidur pulas.
Tapi Hyukjae menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Siwon, Siwonnya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun. Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya. Air mata mengalir deras di pipi Hyukjae.
"Aku merindukanmu Donghae."
Pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga Donghae membuat gerakan lelaki itu yang sedang mencumbu Hyukjae terpaku. Donghae langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Hyukjae agar menatapnya,
"Apa? Katakan sekali lagi, katakan."
Donghae mendesak ketika Hyukjae menghindari matanya.
"Katakan sekali lagi sayang, aku perlu mendengarkan lagi."
Hyukjae menarik napas panjang, lalu menatap mata kecoklatan yang berbinar-binar itu.
"Aku merindukanmu Donghae." Gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.
"Demi Tuhan." Donghae memejamkan matanya lama, lalu memeluk Hyukjae erat.
"Betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu..."
Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Donghae menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad.
"Kita harus berbicara dengan Siwon."
"Jangan!" Hyukjae langsung berteriak mencegah dan ketakutan.
"Jangan Donghae!"
Mata Donghae berkilat-kilat.
"Kau harus menentukan perasaanmu Hyuk, aku atau Siwon. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu." Gumamnya tegas.
Hyukjae menangis lagi, tangannya bergerak lembut, mengelus pipis Donghae. Lelaki itu langsung memejamkan matanya.
"Donghae... Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Tapi Siwon lebih membutuhkanku. Tanpaku dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau lelaki yang hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpaku." Gumam Hyukjae lembut.
Ketika Donghae membuka matanya, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Hyukjae.
"Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?" Suara Donghae terdengar begitu pedih.
"Apakah aku harus luka parah seperti Siwon dulu biar kau memilihku?"
"Donghae!" Hyukjae berseru spontan, terkejut.
"Jangan pernah... Jangan pernah berpikir seperti itu, kau... Kau pasti bisa memahami keputusanku."
Donghae melihat air mata Hyukjae yang mengalir dan mengusapnya lembut. Kemudian Donghae merangkum pipi Hyukjae dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.
Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan. Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Donghae.
"Dasar bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu itu dan tersenyumlah!"
.
.
..:: [TBC] ::..
.
.
