Disclaimer - Masashi Kishimoto
A/N - Terima kasih atas review kalian yang sebelumnya. Iya kurasa 'nyonya' hinata tidak pantas karena itu lebih teruntuk orang yang sudah menikah atau mungkin yang sudah tua...hehehe *menggaruk-garuk bagian belakang kepala. Oh ya bagaimana menurut kalian? Di chap. sebelumnya dijelaskan kalau Shizune sudah tidak bekerja sebagai asisten Tsunade tapi akhirnya kembali kerja ke pekerjaan semula. Dan juga Misi yang diterima oleh tim tujuh, Misi pengawalan, sama seperti misi pertama yang diterima oleh tim tujuh yang dulu. Dan nampaknya, Naruto semakin nostalgia dengan tim-nya itu, akankah ia bisa bertahan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kon'nichiwa Naruto-sensei!
"Misi Cinta" Part 2
Opening - Counting Stars by OneRepublic
Chapter Cover :
(=) Shori, Aiko, dan Senshi memandang sejauh mata bisa melihat, dengan angin menerpa rambut mereka. Dan Hitai-ate panjang melingkari kepala mereka ikut tertiup desiran angin (=)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di tengah-tengah hutan, empat orang orang shinobi berjalan menyusuri jalan menuju tujuan mereka.
*suara perut keroncongan..
Shori memegangi perutnya yang kosong itu. Enzim dan Asam lambung berkobaran di perutnya, meminta sesuatu untuk dicerna, dan mulutnya terasa tawar.
*suara perut keroncongan yang lebih besar...
Sekali lagi, Shori mencoba untuk menghentikan suara jengkel perutnya itu. Tangan kanannya meremas perutnya sambil menahan nafsunya.
*suara perut yang lebih besar, bahkan mengalahkan suara kicauan burung (sweatdropped).
"Sensei, aku lapar. Kapan kita makan?" Shori menembak pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di kerongkongannya. Naruto menghela nafas, "Sesampainya kita di kota kecil terdekat, kecuali kau ingin makan kulit pohon dan dedaunan." gurau si jounin, Aiko dan Senshi tergelak sementara Shori melipat tangannya dan mendengus. "Tapi ayolah Naruto-sensei! Aku lapar sekali! Setidaknya kita berhenti di sebuah lapangan rumput dan piknik sebentar.." pinta Shori. Naruto menaikkan alisnya lalu melirik ke arah Senshi dan Aiko.
"Aku sih terserah kalian saja," Senshi berpura-pura bertingkah gagah, padahal ia menderita sama seperti Shori.
Aiko tersenyum iba, "Aku bawa tikar kecil, sepertinya cukup untuk berpiknik empat orang."
Naruto memandang ketiga muridnya itu yang seakan memohon untuk diberi makan, seperti binatang peliharaan saja. Akhirnya ia mengalah, tidak mungkin ia membiarkan tiga muridnya itu kelaparan ketika sedang menjalankan misi pertama mereka. Lagipula, bagi seorang dewasa seperti dirinya, ia bisa bertahan lama tanpa makan dan minum, contoh saat ia bertapa di Gunung Myoboku bersama Kakek Fukasaku tepat setelah 3 minggu setelah perang.
Ia bertapa bisa berjam-jam ataupun berhari-hari, asalkan tidak memaksakan diri, itulah yang sering diucap Nenek Shima. Untuk memperkuat Senjutsu-nya, bertapa adalah jalan alternatif untuk berlatih.
"YATTA!" Shori meluncurkan kepalan tangannya ke angkasa. "Ayo, tunggu apa lagi!? Ayo kita cari tempat untuk berpiknik!" Shori melangkahkan kaki dengan semangat, seperti seorang prajurit yang melaju ke medan perang. Jalannya sangat cepat, sampai-sampai tidak pantas untuk disebut 'jalan' lagi...
"Oi Shori! Tunggu kami! Bukankah sebelumnya kau berkata kalau kau kelaparan?!" pekik Aiko, mengejar Shori. Senshi hanya menggeleng-geleng dan menghela nafas, "Apa itu teman-temanku?" ucapnya dengan sedikit bumbu sarkasme.
Naruto mengacak-acak rambut Senshi sambil tertawa kecil, "Jangan terlalu kasar. Mereka itu rekan-rekan tim-mu, mau tidak mau, rela tidak rela, kau harus belajar terbiasa bersama mereka," nasihatnya. Senshi hanya tersenyum sembari memejamkan matanya, "Heh, Aku dan kedua orang itu sudah berteman sejak sebelum kami bisa memanja pohon mangga."
"Berarti, kalian sudah saling mengenal dari kecil?" tanya Naruto. Sebagai seorang guru, tidak ada salahnya jika saling mengenal murid-muridnya, betul 'kan?
Senshi tersenyum dan melihat ke angkasa, sembari berjalan. "Iya."
Naruto tersenyum, mengikuti muridnya. "Hm, baguslah. Kalian berarti sudah saling menerima, ikatan persahabatan kalian sudah dapat dijanjikan."
Senshi menoleh ke arah gurunya itu. Ia melihat ekspresi yang awalnya cerah, menjadi gelap dan murung. Penerus klan Taka ini sering sekali bertanya pada dirinya, kenapa setiap kali mereka akur ataupun bertengkar, pasti gurunya yang berambut pirang itu merenung. Selalu terdiam, dan pasti berkata "Baguslah" "Syukurlah", "Baiklah".
Akhirnya ia memutuskan untuk menyelesaikan hal ini.
"Naruto-sensei, bolehkah aku bertanya?" Senshi memecahkan keheningan antara mereka.
Naruto tersentak ketika salah satu muridnya menembakkan pertanyaan ke arahnya. "Oke, apa yang ingin kau tahu?" ucapnya.
"Kau pasti merasakan menjadi genin, ya 'kan?"
"Iya."
"Dan pasti kau punya banyak teman 'kan?"
"Hm..bisa dibilang..."
"Apa dulu kau juga termasuk dalam satu tim?"
"...err..iya.."
"Siapa saja rekan tim-mu? Dan bagaimana dengan tim-mu?"
"Kenapa tiba-tiba menanyakan tentang ini? Biasanya kau paling pendiam diantara teman-temanmu."
Senshi menghela nafas, "Yah..sebenarnya aku hanya penasaran, kenapa setiap kali aku, Shori, dan Aiko bekerja sama ataupun bertengkar, pasti kau mendesah ataupun terdiam. Nampaknya ada sesuatu yang membuatmu bersikap seperti itu," Senshi melipat tangannya. "Aku ingin tahu kenapa kau selalu begitu." Tatapannya lurus sekali, menembus kembali tatapan gurunya.
Naruto hanya berdehem dan mendesah, "Sepertinya kau ingin sekali berbicara tentang ini, tapi aku tidak bisa menceritakannya disini." Naruto mengacungkan telunjuknya ke arah sebuah lapangan, "Kedua teman-mu itu sudah kelamaan menunggu kita dan mereka nampaknya mengerang kelaparan tuh!"
Senshi memalingkan kepalanya, melihat kedua temannya, duduk risih sembari memegang peralatan-peralatan makanan yang sudah tersedia di tikar piknik. "HOI KALIAN LAMA SEKALI!" teriak Shori, yang terus memegang sumpitnya tak sabaran. Naruto tersenyum malu, "Hehehe...iya, maaf ya!"
Naruto, bersama ketiga muridnya membelah sumpit secara bersamaan, "Ittadakimasu!" mereka menyantap onogiri isi tuna serta nasi kepal rumput laut (sayangnya aku tidak tahu apa namanya..)
Mereka makan siang dengan penuh damai, sehingga angin pun ikut berbisik ke telinga mereka saking damainya. Seusai makan, Naruto menaruh kembali sumpit di atas piring piknik. Senshi melirik ke arah gurunya, mengambil kesempatan untuk bertanya kembali.
"Ehem," Senshi berdehem pelan, untuk mengambil perhatian. Ternyata malah semua kepala menoleh. "Sensei, boleh lanjutkan cerita tadi?" Senshi merapihkan tasnya sembari bertanya. Naruto tersentak sedangkan Shori dan Aiko kebingungan.
"Bercerita tentang apa?" tanya Shori, menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Senshi menoleh ke temannya yang berambut merah itu, "Aku bertanya pada Naruto-sensei, seperti apa timnya yang dulu." jawab Senshi. Shori mengangguk-angguk, "Oh! Souka.."
Naruto tergagap-gagap, ketiga muridnya kini berpaling ke arahnya. "Loh kok diam? Ayolah bercerita!" seru Aiko, yang terlihat penasaran itu. Naruto menghela nafas dan memainkan rambutnya, "Kenapa kalian penasaran sekali dengan sejarah tim yang dulu?" tanyanya.
"Karena sebagai guru dan murid, kita harus mempunyai hubungan yang baik!" jawab Shori yang disambut dengan anggukan dari Aiko. Naruto menatap sarkastik, "Tapi tidak perlu kepo seperti itu juga tak apa 'kan?" Shori, Aiko, dan Senshi serempak mengernyitkan alisnya.
Naruto tersentak dan menghela nafas lagi. Baiklah, ia mengaku kalah. "Darimana harus ku-mulai.."
"Bagaimana kalau pada saat pembagian tim? Kuyakin pada saat itu kau gugup karena tidak tahu siapa sensei-mu!" seru Shori.
Naruto tertawa kecil, "Sebenarnya, bukan begitu ceritanya..."
.
.
.
.
.
.
"Naruto, kau masuk satu tim dengan Sakura!" Iruka memerintah.
"Tamatlah riwayatku..." desis Sakura dengan kepala terpaku di atas meja.
"YATTAAA! Satu tim dengan Sakura-chan!" Naruto tersenyum lebar.
"Dan Sasuke Uchiha!" lanjut Iruka yang mendapat reaksi kaget dari kedua anak itu.
"Kyaaa! Sasuke-kun!" Sakura bersorak, hatinya berbunga-bunga.
Naruto yang semula-mula cetar membahana, lesu seketika, "Tamatlah riwayatku.."
.
.
"Naruto, apa yang sedang kau lakukan?!" Sakura berdecak melihat Naruto yang sedang menaiki bangku mendekati pintu kelas.
"Aku akan memberi sensei kita salam pembuka dari tim tujuh, salahnya sendiri ia terlambat." Naruto mencibir sembari menaruh penghapus papan tulis di atas daun pintu.
"Bodoh, mana mungkin sensei kita akan jatuh ke perangkap konyol-mu itu." lirih Sasuke dengan jari-jarinya yang menyilang di depan wajahnya.
"IYA! Sasuke-kun betul!" Sakura menimpal.
Namun tiba-tiba, seseorang masuk kedalam ruangan, membuka pintu, dan penghapus itu pun terjatuh di atas kepalanya.
"Hmm?" orang itu mengambil benda yang terjatuh di atas kepalanya dan bergumam, "Apa maksud dari ini?"
"M-maafkan kami s-s-sensei...aku sudah memperingati Naruto untuk tidak melakukan hal bodoh ini, tapi ia tidak mau mengerti!" Sakura menutup setengah wajahnya.
Sementara Sakura memohon maaf, Naruto malah tergelak terpingkal-pingkal tak henti-hentinya. "Hahahaha! Aku mengenaimu!" Naruto tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya.
Kakashi menghela nafas sembari mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, "Hhhmm...kesan pertamaku tentang kalian..."
"Kalian adalah sekumpulan idiot.."
Naruto, Sakura, dan Sasuke tertunduk malu *animestyle...
.
.
.
.
.
"Namaku Sakura Haruno, apa yang kusukai...umm makusudmu orang yang kusukai...*melirik*...dan aku tidak menyukai Naruto!"
.
.
"Namaku Naruto Uzumaki! Aku menyukai Ramen! Hal yang tidak kusukai adalah menunggu tiga menit setiap memasak ramen instan! Dan impianku untuk masa depan adalah menjadi seorang Hokage!"
.
.
"Namaku Sasuke Uchiha, tidak banyak yang kusukai, aku lebih nyaman menyebut ambisi, ambisiku adalah untuk membunuh seseorang."
.
.
Itu adalah ingatan yang mengambang di kepalanya. Dan dengan tarikan nafas, ia mulai menceritakan kisah tim-nya.
"Saat pembagian tim, aku benar-benar tidak peduli dengan siapa aku akan berpasangan. Tapi setelah aku mengetahui anggota perempuan dari tim-ku adalah seseorang yang kukenal, aku senang." Naruto tersenyum, dan tanpa disadari, pipinya sedikit merona. Aiko mengelus dagu-nya dan memandangi gurunya dengan tatapan curiga. "Aku penasaran siapa anggota perempuan ini...?" Shori mengernyitkan dahinya, mencoba untuk berpikir.
Aiko langsung menjentikkan jarinya. Membuat Naruto dan kedua temannya tersentak. "Sensei, mungkin kau punya kisah tak terselesaikan dengan anggota perempuan ini.."
Naruto mendelik, "A-Apa maksudmu?"
Shori ikut mendelik, "Aku tidak percaya...Naruto-sensei punya dua pacar!"
Senshi tersenyum sinis sedangkan Aiko tertawa. "Hei aku belum punya pacar, oke!" decak Naruto dengan gusar. Aiko terkikik geli mencoba menahan tawa-nya. "Naruto-sensei bilang ia belum mempunyai pacar, itu berarti dia berniat untuk mempunyai kekasih!" tembak Aiko, membuat wajah Naruto memerah.
Naruto segera membuang muka dan berdehem, "Lupakan tentang pacar atau kekasih, intinya aku tidak mempunyai pacar dan tidak mempunyai kisah dengannya." ia menyatakan dengan tegas.
Aiko terkikik geli, Shori menahan tawa seraya memegangi perutnya, sedangkan Senshi hanya menebar senyuman tipis sambil menghela nafas panjang.
Naruto melanjutkan ceritanya, "Kemudian ketika Iruka-sensei memberitahu kalau aku akan berpasangan dengan seorang jenius semasaku, aku malah menghiraukan saja. Tapi ternyata, si jenius malah menjadi teman dekatku.."
"Seiring waktu, aku dan kedua temanku terbentuk menjadi sebuah tim. Tapi kami tidak hanya menjadi sebuah tim, kami jadi bersahabat." ucapnya, mengingat kembali masa-masa tim tujuh yang dulu berjaya. Ketiga muridnya mendengarkan dengan serius. Ketiga-tiganya tak bergeming sama sekali.
Naruto tergelak, lucu...kenapa mereka begitu serius mendengarkan ceritanya?
"Tapi..semua berubah ketika kami menghadapi ujian chuunin,"
"Eh? U-Ujian Chuunin?" Shori terbata. Naruto mengangguk, merapihkan tas-nya dan mengisyaratkan tim-nya untuk melanjutkan perjalanan.
"Memang apa yang terjadi saat ujian chuunin, sensei?" tanya Aiko, penasaran menyelimuti pundaknya. "Salah satu rekan tim-ku, mengalami insiden..." bayangan Sasuke mulai terlihat jelas.
"Siapa namanya?" tanya Shori. Pertanyaan yang membuat Naruto terkejut. Ia sudah menduga kalau pertanyaan ini pasti akan muncul, tapi begitu berat baginya untuk memberitahu.
"Namanya..."
Hening...angin bertiup sepoi-sepoi...
"Sasuke Uchiha,"
Mata mereka terbelalak. Angin yang tadinya datang mengelus permukaan kulit mereka, kini menerpa tubuh mereka dengan kencang. Suasana berubah drastis setelah Naruto mengucapkan nama temannya itu, seakan alam terhubung dengan batinnya.
"M-Maksudmu...Sasuke Uchiha yang-"
"..Yang ditahan di penjara bawah tanah? Iya," jawab Naruto, tanpa membiarkan salah satu muridnya menyelesaikan pertanyaannya.
"Aku satu tim dengan Sasuke dan..apa kalian tahu Sakura Haruno?" Naruto menaikkan alisnya. Aiko tersentak, "Sakura Haruno, Kepala medis Konohagakure dan Sannin penerus Tsunade Senju? Tentu saja kami tahu!" Matanya berbinar, ia tidak akan berbohong kalau ia mengidolakan sosok kunoichi berambut bunga musim semi itu.
"Hm...aku satu tim dengan mereka berdua," ucap Naruto dengan nada rendah.
Senshi terdiam, dua orang sannin legendaris, satu tim dengan gurunya. Tunggu dulu!? Jika ada 3 sannin legendaris penerus sannin pendahulu, berarti seharusnya ada satu orang lagi, apa itu berarti...
Itu dia.
*Naruto-sensei seorang sannin!* batin Senshi. Mustahil! Gurunya sendiri...seorang...
Naruto melirik ke arah Senshi yang nampaknya termenung sendiri dengan pikirannya. Tapi dalam hati ia sudah tahu kalau Senshi akan mengetahui identitasnya lebih dahulu dari kedua muridnya. Apalagi yang harus dikatakan? Senshi memanglah yang paling peka diantara teman-temannya.
Tapi sebelum ia bisa berkata apapun...
Dihadapan mereka, sebuah gerbang megah berdiri kokoh...menghalangi sinar matahari.
"Hmm...nampaknya kita sudah sampai..."
Kerajaan Surga...
Ending AMV - Starlight by Muse
Next on KNS :
"Eh?! Apa yang dilakukan seorang putri kerajaan di pasar kumuh seperti ini?"~ "Jadi, kau Naruto Uzumaki ya? Murid Jiraiya? Namaku Inori Tsuya.."~ "INI MEMANG TUGASKU!"
End Note : Yo semua, kurasa ini benar-benar lama sekali. Mohon maaf, koneksi internet yang benar-benar...mendokusai! Perkiraanku hingga dua chapter sepertinya salah...tidak keburu karena koneksi yang menyebalkan ini, tapi setidaknya aku mampu meng-update chapter ini. Permintaan maaf yang sebesar-besarnya untuk kalian. Gomenasai minna-san!
Oke...jangan lupa stay tunned di chap. selanjutnya ya...
