Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.

.

.

.

Setelah kepergian Neji barusan, Sasuke jadi curiga dengan tingkah menyebalkan Ketua Klub itu. Kenapa sepertinya dia menikmati sekali jika mempermainkan perasaan orang lain? Bahkan kejadian dengan Karin dulu pun seperti ini. Dia selalu sengaja mendekati Karin ketika mereka baru pertama kali masuk ke dalam klub ini. Saat itu, Karin memang selalu menempel pada Sasuke. Bahkan Karin melamar menjadi manajer di klub ini pun karena ingin dekat selalu dengan Sasuke.

Dan kemudian, tanpa sepengetahuan Sasuke, Neji mengajak Karin berkencan diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Sasuke. Entah bagaimana caranya, mereka memang menjalin hubungan yang cukup lama meski dalam hitungan bulan. Akhirnya Neji yang memutuskan untuk berhenti karena menyadari Karin yang belum juga bisa melepaskan Sasuke dari perasaannya. Semua itu diketahui oleh Suigetsu yang nyatanya diam-diam mengikuti Karin yang kadang pergi bersama Neji.

Akhirnya Karin pun bercerita pula bahwa memang mereka berkencan, tapi tidak lama. Dan itu pula diputuskan oleh Neji seorang. Karin memang meminta untuk tidak mempublikasikan hubungan mereka pada siapapun. Neji pun menyetujui itu. Soal ini pun hanya Suigetsu yang tahu karena Suigetsu yang terlanjur tahu dan Karin tak punya pilihan selain menceritakannya. Karin sudah meminta Suigetsu untuk tidak memberitahu Sasuke, tapi dasar Suigetsu memang bermulut menyebalkan, dia membocorkan semuanya di depan Sasuke.

Makanya Sasuke tahu bahwa Neji menjalin hubungan dengan Karin di belakang mereka dan memutuskannya begitu saja. Tentu saja karena itu Sasuke jadi tidak suka dengan Neji. Dan sekarang… laki-laki itu malah mendekati Sakura dengan alasan yang sama.

Entah mengapa sekarang Sasuke sedikit khawatir dengan perasaan bodoh gadis berambut pink itu. Dia memang gampang terbawa perasaan dan terlalu bodoh untuk menyadari perasaan orang lain padanya. Bagaimana kalau dia mengiyakan saja jika Neji benar-benar serius padanya? Lalu memutuskannya begitu saja?

Sasuke bisa menjamin gadis bodoh itu akan menangis bermalam-malam sampai matanya membengkak karena diputuskan seperti itu. Apalagi si bodoh itu terlihat begitu polos. Sasaran empuk!

Akhirnya Sasuke berhenti memikirkan hal konyol itu dan langsung menuju lokernya. Paling tidak si bodoh itu sudah diperingatkan kalau Neji adalah laki-laki yang tidak baik untuk diajak berkencan. Jika sampai dia tetap melakukannya karena terlena dengan popularitas Neji, itu bukan salah Sasuke lagi!

Kenapa pula Sasuke memikirkan perasaan gadis itu?!

.

.

*KIN*

.

.

Karin terkejut mendengar percakapan antara Hyuuga Neji dan Uchiha Sasuke barusan setelah selesai dengan pertemuan klub tadi.

Benarkah Sasuke seperti itu pada semua gadis yang memiliki perasaan padanya?

Jadi… Karin selama ini?

Apakah benar… selama ini Neji hanya mendekati gadis-gadis yang memiliki perasaan pada Sasuke? Tapi bukan hanya Karin yang saat itu gadis yang memiliki perasaan pada Sasuke. Ada banyak dan tak terhitung. Bahkan mereka adalah…

Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Neji pada Sasuke?

Dan malangnya… kenapa Karin… baru mengetahui hal seperti ini?

.

.

*KIN*

.

.

Ujian akhir semester sebentar lagi akan dilaksanakan. Sekarang sedang musimnya orang-orang mulai giat belajar. Sampai hari ini, setidaknya setelah pengumuman soal turnamen Sasuke itu diumumkan, Sakura masih menunggu Sasuke untuk berangkat sekolah bersama dan pulang bersama. Juga masih membawakan tasnya. Meskipun tak banyak yang mereka bicarakan, tapi sekarang itu menjadi kegiatan rutin untuk mereka berdua. Terkadang juga Sakura sempat bertanya bagaimana turnamen yang akan mereka hadapi nanti.

"Ugh, soal yang ini bagaimana sih?" keluh Ino setelah sedari tadi dirinya berkutat dengan latihan soal-soal bersama Sakura yang saat ini tengah berada di ruang perpustakaan pada jam istirahat ini. Untungnya perpustakaan ini sudah diperbaiki. Awal dari malapetaka Sakura…

"Bukankah soal itu sudah dijelaskan oleh Ibiki Sensei minggu lalu? Bagaimana ujianmu nanti…" ujar Sakura.

"Hei, aku ini tidak punya otak secerdas dirimu. Tidak ikut kelas tambahan saja sudah bersyukur…" balas Ino.

"Ah iya, kelas tambahan… berarti orang-orang yang ikut kelas tambahan, tidak bisa berpartisipasi dalam turnamen ya?"

"Itu kan sudah jelas! Tapi tenang saja, Sasuke-kun itu punya otak cemerlang! Dia kan peringkat pertama di angkatan kita…"

"Aku tidak membicarakan dia kok," sanggah Sakura.

"Heee, seperti aku tidak tahu saja. Kau kan khawatir kalau dia tidak bisa ikut turnamen nanti."

Sakura hanya menghela napas saja. Mau menyangkal juga dia memang khawatir kalau Sasuke tidak bisa ikut turnamen kali ini. Ditambah lagi Sasuke harus mengejar ketertinggalannya dengan anggota lain. Kata Suigetsu, Sasuke bisa ikut berpartisipasi jika dia bisa lolos dari standar waktu kecepatan yang ditentukan oleh klub. Sebenarnya itu bukan masalah karena rekor kecepatan Sasuke selalu di atas standar klub, bahkan di atas standar turnamen. Tapi mengingat kondisinya saat ini, kemungkinan itu bisa jadi yang terburuk. Sasuke saja sampai kalah dari Ketua Klub waktu pertandingan kemarin.

Tentu saja itu bisa jadi masalah untuk Sasuke jika nanti―

"Hei, aku baru lihat itu."

Lamunan Sakura terhenti ketika suara Ino menginterupsinya.

"Apa?" tanya Sakura tak mengerti.

Ino kemudian menunjuk ke arah leher Sakura dengan telunjuk kanannya. Matanya begitu awas memandangi sesuatu yang dilihatnya dengan intens sedari tadi itu.

"Aku baru lihat kau memakai itu."

Akhirnya Sakura menyadari ke arah mana telunjuk dan mata Ino terfokus dari tadi.

Begitu meraba leher dan kerah seragamnya, ternyata kalung yang belakangan ini sering dipakai oleh Sakura keluar dari tempatnya. Biasanya Sakura memang selalu menyelipkannya di balik kerah supaya tidak terlihat. Hari ini sepertinya Sakura lupa menyelipkannya masuk.

"Ah~ ini. Jimat keberuntungan. Sebenarnya ada sepasang. Kalung dan cincin. Tapi aku―"

Tiba-tiba Sakura menghentikan kata-katanya sendiri. Bisa gawat kalau dia sampai keceplosan mengatakan bahwa cincinnya ada pada Sasuke. Meskipun tidak dipakai oleh Sasuke, tapi tetap saja kenyataan kalau cincin itu ada pada Sasuke bisa membuat Ino curiga dan ada banyak pertanyaan bodoh… argh! Kenapa jadi begini rumit memikirkannya?!

"Dimana cincinnya? Kau tidak memakainya juga?" tanya Ino antusias sambil memeriksa kedua tangan Sakura dan melihat-lihat jarinya.

"Tentu saja tidak! Aku tidak memakai cincinnya…"

"Benarkah itu jimat keberuntungan? Dalam hal apa? Cinta? Keuangan? Prestasi?"

"Semuanya! Kau mau apa?"

"Wuah, jimat yang hebat! Kalau dia ampuh lebih hebat lagi. Aku suka desainnya. Kau beli dimana?"

Benar…

Sasuke tidak mungkin memakainya. Apa sebaiknya Sakura memintanya lagi saja? Toh sayang jika tidak digunakan… tapi kan itu harus dipakai sepasang… kalau tidak…

Argh… apalagi sekarang yang dipikirkan oleh Sakura sih?!

.

.

*KIN*

.

.

"Kau tidak perlu lagi menungguku."

Heh?

"Hah?"

"Mulai hari ini Karin akan menemaniku berlatih bersama Suigetsu. Lagipula aku sudah bisa memakai kolam renang sekolah. Kau tidak perlu repot lagi menungguku. Dan mulai hari ini juga kau tidak perlu lagi menungguku pulang dan pergi sekolah."

Sakura terkejut mendengar kata-kata Sasuke setelah sepulang sekolah ini. Dia memang terkejut, tentu saja Sakura mengakuinya, bahkan Sakura sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi kemudian ada perasaan lain yang membuatnya…

"Oh, jadi… aku tidak perlu membawakan… tas mu lagi kan?"

Sasuke kemudian mengangguk satu kali dan menatap datar pada Sakura. Seolah-olah mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Seolah-olah Sakura hanya fans isengnya Sasuke yang tidak sengaja bertemu dan bicara sambil lalu begitu saja.

"Ah, baguslah. Jadi kau tidak butuh aku lagi kan? Kalau begitu aku… aku pulang lebih dulu…"

Setelah Sakura mengatakan hal itu, Sasuke justru berlalu begitu saja.

Sakura merasa aneh. Jelas sangat aneh. Kenapa tingkah Sasuke jadi begitu? Walaupun Sakura tahu kemungkinan cedera Sasuke itu sudah membaik, setidaknya orang itu…

Tunggu, apa yang Sakura harapkan di sini?

Saat Sakura akan berbalik meninggalkan sekolah ini, dirinya kembali berbalik dan tidak lagi mendapati Sasuke yang tadi masih berada di belakangnya. Cepat sekali langkah orang itu…

Kenapa tiba-tiba?

.

.

*KIN*

.

.

"Sasuke."

Ketika jam istirahat berlangsung, Karin mendekati tempat duduk Sasuke. Saat itu hampir sebagian anak sudah keluar dari kelas mereka memang. Sedangkan Sasuke masih asyik sendiri menyalin catatannya.

"Ketua mengatakan kalau anggota klub bisa memakai kolam untuk latihan sebelum ujian dilaksanakan. Karena ujian tinggal satu minggu lagi, kau punya waktu satu minggu untuk menggunakannya."

"Aku mengerti."

"Dan juga… aku yang akan menemanimu berlatih. Kau tidak keberatan untuk itu kan?"

"Maksudmu?"

"Maksudku… kau tidak memerlukan gadis itu lagi menemanimu kan? Bukankah kau hanya butuh dia untuk cedera-mu saja? Sekarang cedera-mu sudah lebih baik kan? Lagipula, dia sama sekali tidak mengerti soal latihanmu. Akan lebih baik orang yang mengerti tentang latihanmu yang menemanimu, bukan begitu?"

Sasuke diam sejenak. Kata-kata Karin memang masuk akal. Orang yang lebih mengerti tentang latihannya jauh lebih baik daripada orang yang tidak berpengalaman sama sekali. Tapi…

"Sasuke?" panggil Karin kemudian yang melihat laki-laki berwajah dingin ini justru diam tanpa reaksi.

"Baiklah. Aku akan mengajak Suigetsu berlatih juga."

Tadinya Karin berharap mereka bisa berdua saja. Tapi entah mengapa…

Ya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

.

.

*KIN*

.

.

Sasuke tiba di tempat loker klub mereka. Entah mengapa ada sesuatu yang tertinggal setelah bicara dengan Sakura tadi. Dia memang mengatakan kalau dia tidak butuh Sakura lagi…

Tentu saja, sekarang Sasuke sudah ada di dalam klub ini. Jelas dia lebih butuh Karin yang lebih paham soal latihan ini daripada Sakura. Apalagi ini menyangkut turnamen yang sudah susah payah didapatkannya. Karena waktu itu, Karin sudah mengatakan pada Sasuke kalau dia yang akan menemani Sasuke latihan untuk mengembalikan rekornya seperti sebelum cedera. Tentunya bersama Suigetsu. Dan jelas Sasuke tidak punya alasan untuk menolaknya. Sasuke tahu itu. Jika dia terus bersama gadis itu… entah apa yang akan terjadi padanya. Apalagi Neji…

Memikirkan orang itu rasanya membuat Sasuke mendidih saja. Apalagi kata-katanya yang terakhir itu!

"Oi, Sasuke. Aku tidak lihat Sakura-chan hari ini. Apa dia tidak tahu kau latihan?" tanya Suigetsu yang baru masuk ke ruangan loker itu.

"Dia tidak akan datang," balas Sasuke.

"Heee? Kenapa? Padahal aku ingin mengajaknya bermain!"

"Dia tidak akan datang lagi. Jadi dia tidak punya alasan ada di sini."

"Hah? Serius…? Jadi… jadi dia tidak akan datang lagi kemari? Dia juga… tidak akan… menunggumu lagi?"

"Kenapa kau mengatakannya berulang-ulang begitu? Sana ganti baju, kita harus mulai latihan!"

Sasuke kemudian segera menutup lokernya. Suigetsu baru menyadari jika dari tadi Sasuke sudah berganti pakaian renangnya dan kemudian menuju kolam renang.

Merasa sedikit janggal, Suigetsu akhirnya keluar dari ruang loker itu dengan masih mengenakan kemeja atasannya walau dia sudah memakai celana renangnya. Sasuke benar-benar sudah ada di dekat kolam bersama Karin. Karin?

Heee? Jadi hari ini ada Karin?

Sebenarnya memang Karin sih yang menemani Sasuke berlatih sebelum cedera-nya waktu itu. Karin juga yang sibuk sana sini saat Sasuke mengalami cedera dan membantunya banyak hal, bahkan sampai menyalinkan semua catatan dan tugas Sasuke ketika tangannya belum bisa digerakkan. Semua itu kemudian dialihkan pada Sakura yang entah mengapa berubah menjadi tangan kanan Sasuke.

Tapi… jika melihatnya mendadak seperti ini rasanya…

Apa mereka bertengkar?

Kenapa Suigetsu jadi memikirkan hal ini? Kepalanya jadi sakit…

.

.

*KIN*

.

.

Setelah kemarin ditinggalkan begitu saja… apanya yang ditinggalkan sebenarnya?

Sakura berpikir keras sejak semalaman, kenapa sikap Sasuke tiba-tiba dingin—tidak sih, sebenarnya Sasuke memang selalu bersikap dingin pada siapa saja… tapi kemarin itu… mendadak sekali…

Karenanya, pagi ini Sakura bermaksud menunggu Sasuke seperti biasa di stasiun kereta tempat mereka biasa bertemu. Sakura sengaja datang lebih awal supaya dia tidak ketinggalan laki-laki berambut gelap itu. Sekitar 20 menit Sakura menunggu di stasiun kereta itu, akhirnya Sakura bertemu juga dengan Sasuke yang baru tiba di sana. Sakura bermaksud untuk menegurnya, yaa berlari ke arah Sasuke seperti biasanya.

Tapi hari ini, Sasuke seperti tidak mengenali dirinya.

Sasuke terlihat tak acuh dan mengabaikan Sakura yang jelas-jelas ada di sampingnya walaupun hanya berjarak dua atau tiga meter saja. Seperti mereka tidak saling mengenal sebelumnya.

Ketika kereta mereka datang, Sakura masih terpaku diam karena terlalu terkejut dengan reaksi tiba-tiba dari Sasuke itu. Sikap yang seolah-olah… seperti…

Bahkan ketika pintu kereta akan segera tertutup, Sakura masih ada di luar kereta.

Dan kemudian ketika pintu kereta tertutup, kereta itu pun juga ikut menjauh perlahan-lahan…

Yang tadi itu… apa?

Sakura akhirnya menunggu kereta berikutnya. Sepertinya dia akan terlambat, tapi Sakura tidak memikirkan itu. Dirinya terus dibuat bingung oleh sikap ambigu Sasuke itu…

Apakah dia bersikap begitu karena Sakura melakukan kesalahan? Atau karena Sasuke mulai membenci Sakura? Atau karena Sasuke mulai muak dengan kehadiran Sakura? Tapi selama ini bukannya Sasuke yang selalu menginginkan Sakura membawakan ini itu untuknya? Tapi kenapa sekarang?

Bahkan sejak tiba di kelas pun, wajah Sakura terus mengerut bingung tak mengerti.

Sakura yakin dia tak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa Sakura merasa dia sepertinya melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan dan tak pantas diampuni?

"ARGH! DASAR SIALAN! APA MAUMU SIH?!" pekik Sakura akhirnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Ino yang jelas-jelas kaget karena berada di depannya sampai menggigit ujung sumpitnya. Matanya juga terbelalak lebar karena aksi nekat bocah pink itu.

Jelas saja, saat ini kan mereka ada di kafetaria sekolah. Ingat, K-A-F-E-T-A-R-I-A! Tempat yang ramai dikunjungi oleh semua anak di sekolah ini! Semuanya berkumpul jadi satu!

Bahkan untuk beberapa saat, setelah Sakura berteriak heboh itu, adegan di tempat ini jadi begitu sunyi dan senyap lantaran pekikan Sakura tadi. Semua orang langsung melihat gelagat heboh Sakura. Tapi beberapa detik kemudian, keadaan kembali normal dan suara berisik sana sini terdengar lagi.

"Hei, kenapa kau berteriak begitu? Kau mau cari perhatian?" ledek Ino.

Sakura mengambil botol air mineralnya yang meneguknya sampai habis. Sekarang Sakura malah merasa seperti baru saja meneguk botol sake. Kepalanya jadi kosong dan tak bisa berpikir apapun.

"Benar-benar menyebalkan!" geram Sakura.

"Ada apa denganmu sih? Kau sudah jadi orang aneh sejak pagi tadi. Wajahmu juga terus mengkerut seperti nenek-nenek ketika di kelas."

"Ino, bagaimana perasaanmu jika tiba-tiba seseorang yang kau kenal dengan baik secara mendadak—BENAR-BENAR MENDADAK—tidak mengenalimu bahkan mengabaikanmu. Apa yang kau rasakan?" tanya Sakura dengan serius.

"Haa? Tentu saja kesal. Aku akan menghajarnya karena tiba-tiba tidak mengenaliku seperti itu. Memangnya dia pikir dia siapa?"

"BETUL! Sekarang aku benar-benar ingin menghajarnya!" geram Sakura.

"Nee, kau membicarakan siapa? Sasuke-kun?"

Wajah Sakura yang tadinya mendadak berapi-api mendadak berubah memelas. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh, Ino sudah tahu kalau itu jawabannya. Saat akan bicara lagi pada Sakura yang mendadak memelas itu, tiba-tiba Sakura mengangkat wajahnya. Terkesan terkejut, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Saat Ino mengikuti arah pandang Sakura itu, ternyata di belakang Ino, ada rombongan lain yang membuat pandangan Sakura tak bisa dialihkan. Ino yakin Sakura memang melihat tiga orang itu, tapi satu-satunya yang jadi pusat perhatian Sakura justru tidak melihat Sakura sama sekali. Seolah-olah tidak ada siapapun. Orang itu tetap fokus di depannya, bersama dengan seorang gadis berambut merah dan berkacamata.

"Hei, ada apa dengan kalian? Bertengkar?" bisik Ino yang kemudian selesai melihat adegan drama televisi itu. Mereka berdua bahkan tidak saling melihat satu sama lain. Benar-benar seperti orang asing…

Sakura tak menjawab pertanyaan Ino. Kembali lagi Sakura menundukkan kepalanya.

.

.

*KIN*

.

.

Kejadian di kafetaria tadi membuat Sakura merasa benar-benar aneh. Dia merasa kesal tapi juga sedih secara bersamaan. Setelah dari kafe itu, Sakura sempat bertemu lagi dengan Sasuke di koridor kelas, tapi seperti tadi, Sasuke seperti sama sekali tidak melihatnya. Seolah-olah bayangan Sakura di depan mata Sasuke itu seperti halusinasi. Atau bahkan hantu mungkin.

Apa yang mungkin sudah dilakukan oleh Sakura sebenarnya?

Wajah Sakura tetap murung bahkan setelah sekolah usai hari ini. Sebenarnya hal itu bukan sesuatu yang perlu disesali atau disedihkan. Tapi rasanya tetap… menyebalkan.

"Kau benar-benar tidak tahu kenapa dia begitu?" tanya Ino lagi ketika mereka sudah tiba di loker sepatu.

"Kalau aku tahu mana mungkin aku begini…" lirih Sakura.

Ino tak percaya melihat temannya bisa berubah jadi begini melankolis. Tapi tetap, sebagai perempuan, Ino bisa memposisikan keadaannya seperti Sakura. Bagaimana rasanya seseorang yang beberapa bulan terakhir ini selalu menempel pada kita dan kemudian dalam satu hari dia langsung tidak mengenali kita. Seperti amnesia.

"Sakura-san."

Sakura mendapati tiba-tiba Hyuuga Neji menghampirinya begini di loker sepatu. Bahkan Ino juga ikut kaget melihatnya.

"Senpai…" gumam Sakura.

"Maaf mendadak mengganggumu. Apa kau… punya waktu hari ini?" tanya Neji kemudian.

"Eh? Ada… apa?"

"Adik sepupuku sangat menyukai yukata yang kau pilihkan waktu itu. Jadi Bibi-ku ingin aku membelikan kimono juga untuknya karena akan ada acara keluarga dalam waktu dekat ini. Aku tidak begitu ingat tokonya lagi. Apa… kau bisa membantuku?"

Sakura diam tak mengerti. Bukankah waktu itu Sakura sudah… ya sebenarnya memang menolak sih, tapi mereka memang masih berteman seperti biasa.

"Sakura senggang hari ini, dia pasti mau menemani Senpai!" celetuk Ino.

Sakura menoleh pada Ino karena kaget mendengar kata-kata Ino itu, tapi Ino kemudian membisikkan sesuatu pada Sakura.

"Hei, apa salahnya pergi dengan Senpai? Kau mau terus-terusan mengkerut seharian begitu memikirkan hal bodoh hah? Kau seperti ini pun, Sasuke-kun tidak akan peduli tahu!"

Setelah yakin melihat Sakura pergi bersama Neji, sekarang Ino yang tinggal di sini memastikan mereka berdua benar-benar pergi. Sekarang ada apa lagi dramanya?

Seperti biasa, pergi dengan Neji selalu terlihat berbeda. Neji banyak bercerita ketika mereka berjalan bersama. Neji bahkan berjalan tepat di sebelah Sakura. Bahkan memastikan bahwa Sakura berada di jalur yang aman untuk pejalan kaki. Hal-hal kecil yang jauh berbeda ketika Sakura berjalan bersama dengan Sasuke. Saat bersama Sasuke, laki-laki itu selalu berjalan lebih dulu dan meninggalkan Sakura di belakangnya.

Walaupun begitu, Sakura mengerti kalau Sasuke dan Neji adalah dua orang yang berbeda. Sakura tak bisa mengharapkan kemungkinan Sasuke akan bersikap seperti Neji atau sebaliknya. Mereka punya cara masing-masing dalam memperlakukan seseorang.

Kali ini mereka kembali lagi ke toko kimono itu. Neji mengatakan kalau bibinya ingin kimono dengan warna cerah untuk upacara minum teh yang akan diadakan minggu depan nanti. Karena hari itu, adik sepupu Neji yang akan membuatkan tehnya. Sakura pernah dengar soal acara minum teh yang terkenal formal di adat Jepang. Sepertinya ini adalah acara yang sangat penting mengingat Neji begitu serius memilih motif yang tepat untuk kimono yang akan dibelinya nanti.

"Terima kasih atas bantuannya, Sakura-san. Aku benar-benar lupa letak toko ini," kata Neji setelah mereka keluar dari toko kimono itu.

"Tidak apa-apa Senpai. Aku senang bisa membantu Senpai."

"Oh ya, kau suka cake atau parfait mungkin?" tanya Neji tiba-tiba.

"Aku suka semuanya," jawab Sakura dengan senyum lebarnya.

"Baiklah, aku tahu toko cake dan parfait yang enak."

"Eh?"

"Aku mau traktir karena sudah membantuku menemukan toko ini. Kalau kau menolak, berarti kau tidak menghargai kebaikan hatiku."

Sakura baru akan bicara lagi, tapi kemudian Neji sudah menarik tangannya untuk segera mengikutinya. Sekarang… sikap orang ini juga membuat Sakura bingung bukan kepalang. Sepertinya waktu itu Neji sempat marah pada Sakura akan meninggalkannya begitu saja saat acara festival kemarin. Tapi hari ini… dia bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi. Sebenarnya Sakura sempat bingung dengan perlakuan ini. Tapi mengingat bahwa Neji adalah laki-laki yang baik, mungkin tak ada salahnya.

.

.

*KIN*

.

.

Suigetsu terus memperhatikan Sasuke dengan mimik curiga yang luar biasa tajam. Kejadian di kafetaria hari ini sukses membuat Suigetsu penasaran bukan main. Tentu saja, sejak kemarin sebenarnya Suigetsu sudah benar-benar penasaran. Hanya saja dia tidak punya waktu untuk meluangkannya. Sasuke sibuk latihan dan menghindar ketika Suigetsu ingin bicara berdua saja dengannya. Apalagi si Karin malah jadi pengganggu yang serius di antara mereka berdua. Keadaan ini benar-benar membuat Suigetsu kesal bukan main.

Memang yang latihan di kolam renang sekolah ini bukan hanya Sasuke dan Suigetsu saja. Beberapa anggota klub juga ikut latihan mengingat turnamen ini adalah acara bergengsi untuk klub mereka. Jelas saja mereka ingin masuk sebagai daftar partisipan turnamen dengan membawa nama sekolah mereka. Walaupun Suigetsu bukan termasuk orang-orang itu. Suigetsu memang bukan tipe orang yang menghamburkan energi percuma sih. Jika menurut Suigetsu dia bisa melakukannya, maka Suigetsu akan melakukannya tanpa perlu usaha keras. Jika Suigetsu tidak bisa, dia tidak akan bersusah payah untuk membuat keajaiban dengan sesuatu yang percuma.

Akhirnya setelah lama menanti dengan mengamati latihan Sasuke yang terus dipandu oleh Karin dengan memberikan instruksi juga memegang stopwatch sebagai tolak ukur waktu Sasuke, ada juga kesempatan yang diberikan oleh langit pada Suigetsu.

Sasuke duduk di pinggir kolam sementara Karin pergi karena sepertinya handuk yang digunakan Sasuke sudah lumayan basah, jadi Karin pergi mengambilkan handuk baru. Segera saja Suigetsu berlari dengan kecepatan tinggi untuk mendekati Suigetsu.

Jangan salahkan Suigetsu jika rasa ingin tahunya begini besar. Sejak dulu Suigetsu memang tidak bisa dibiarkan penasaran begini.

"Hei!" tegur Suigetsu yang kemudian ikut duduk bersila di belakang Sasuke yang masih duduk di pinggir kolam renang. Kaki Sasuke juga masih berada di dalam air kolam.

"Kau tidak latihan?" tegur Sasuke.

"Aku bisa mempertahankan rekor-ku meski tidak latihan. Lagipula aku tidak cedera sepertimu!" sindir Suigetsu.

Sasuke kemudian menghela napas pendek sambil menatap tajam pada kolam dihadapannya itu.

"Hei, ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Pertanyaanmu akan kujawab jika relevan dengan latihan ini."'

"Kau bertengkar dengan Sakura-chan?" tembak Suigetsu langsung mengabaikan kalimat Sasuke sebelum ini.

"Apa maksudmu?"

"Kau pikir aku tidak melihatnya di kafetaria tadi? Kau benar-benar mengabaikan Sakura-chan loh! Kalian seperti tidak saling mengenal… ada apa? Kau benar-benar bertengkar dengannya?" desak Suigetsu lagi.

Sasuke hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Suigetsu. Dan hal ini sungguh membuat Suigetsu kesal bukan main jika diacuhkan seperti ini.

"Sasuke—"

BRUUAAK!

Suigetsu langsung tersungkur ke depan ketika punggungnya ditendang dengan kuat dari belakang.

"Hei! Kenapa kau mengganggu Sasuke hah?!" tegur Karin.

"Aku tidak mengganggunya! Kenapa kau malah menendangku?!"

"Sasuke perlu konsentrasi untuk latihannya. Jadi jangan ganggu!" kata Karin.

Suigetsu baru akan menyambar kata-kata Karin lagi, tapi Sasuke langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengambil handuk baru yang dibawakan oleh Karin.

Entah kenapa, Suigetsu malah terfokus pada Sasuke yang mengambil handuk itu. Mata Suigetsu terus memicingkan tatapannya pada Sasuke. Berharap orang itu menyadari bahwa—

Eh?

Sekilas tadi, seperti Suigetsu memperhatikan sesuatu yang sangat asing. Sesuatu yang bahkan… tidak pernah dipikirkan oleh Suigetsu…

Baru akan memperhatikannya lebih lanjut, Sasuke sudah pergi menuju papan start di kolam renang itu. Sepertinya dia sudah mau mulai lagi. Tapi kenapa dia minta handuk tadi kalau dia mau masuk lagi ke dalam air?!

Tunggu…

Apakah selama ini Sasuke memang memakai cincin di jari kelingking kirinya?

.

.

*KIN*

.

.

Karena Sakura tidak enak memesan lainnya, jadinya Neji memesankan satu potong cake dan parfait ukuran sedang untuk Sakura. Jelas saja Sakura menolak setengah mati, tapi Neji mengatakan kalau mereka bisa membagi dua cake dan parfait itu jika Sakura tidak bisa menghabiskannya sendiri.

Sebenarnya Sakura senang bisa mengobrol seperti ini lagi dengan Neji yang ramah padanya. Mereka bahkan sempat berebut buah cherry yang ada di parfait itu. Sejak mendung di hatinya dari pagi tadi menguasai diri Sakura, sekarang mendadak matahari bersinar hangat memenuhi hatinya. Bahkan Sakura sempat lupa jika hari ini dirinya pernah diliputi perasaan tidak menyenangkan karena si sialan itu!

Setelah puas mengobrol dan juga menghabiskan cake juga parfait tadi, akhirnya hari sudah menjelang malam. Neji bermaksud mengantar Sakura, tapi Sakura menolaknya dengan halus karena arah rumah mereka yang benar-benar berlawanan.

Akhirnya mereka pun hanya berpisah di stasiun kereta seperti biasa.

"Terima kasih sekali lagi untuk hari ini, Sakura-san," ujar Neji.

"Eh, tidak kok. Harusnya hari ini aku yang berterima kasih karena sudah mentraktir-ku cake dan parfait yang enak. Tapi… rasanya aku jadi tidak enak pada Senpai," balas Sakura.

"Kenapa? Bukankah hari ini kau sudah menemukan toko itu untukku?"

"Hm, tapi rasanya tidak sebanding dengan apa yang… Senpai…"

"Begitukah? Hm… jadi apa kira-kira yang bisa membuatmu merasa lebih baik?"

"Ah… itu…"

Sakura tampak ragu untuk menjawabnya. Wajahnya terlihat bingung. Juga bimbang. Neji memahami apa yang membuat Sakura selama ini terus merasa bimbang dan bingung saat Neji berusaha mendekatinya. Mungkinkah Sakura membutuhkan kepastian? Jika orang itu yang tidak memberikannya kepastian… apakah sebaiknya… Neji yang memberikannya?

"Sakura-san," panggil Neji mendadak.

"Ya, Senpai?"

"Sebaiknya… perasaanmu itu… kau lupakan saja."

Sakura mendadak membeku mendengar kata-kata Neji. Perasaan mana yang harusnya dia lupakan?

"Senpai…"

"Kau mungkin tidak menyadari karena kau tidak pernah merasakannya sebelum ini. Tapi aku tahu dengan jelas perasaanmu saat ini. Karena itu, demi kebaikanmu, sebelum kau merasa jauh lebih sakit dari ini… sebaiknya kau lupakan saja."

"Apa… yang harus kulupakan?" tanya Sakura tak mengerti. Tentu saja karena kebimbangan jelas merayapi perasaannya saat ini.

"Perasaanmu pada Uchiha Sasuke."

Jantung Sakura langsung mencelos mendengar satu nama itu. Semua perasaan Sakura… memang berputar pada satu nama itu. Tapi… apakah benar Sakura tidak menyadarinya sama sekali?

"Kau mungkin tidak tahu soal ini. Tapi Uchiha Sasuke, selalu menghindari semua gadis yang memiliki perasaan padanya. Kalau kau mengerti soal ini, berarti kau sudah tahu kan kenapa kau harus melupakan perasaanmu pada Uchiha Sasuke?"

Mata Sakura terasa panas. Entah mengapa sepertinya sesuatu menggenang di pelupuk matanya. Sakura bahkan sampai harus menggigit bibir bawahnya karena rasa sesak menumpuk di dadanya.

Apakah… benar begitu?

"Maaf kalau aku mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan untukmu. Tapi aku berpikir… sebaiknya kau mengetahui sifat laki-laki itu yang sesungguhnya. Karena aku merasa… kau terlalu baik untuk memikirkan seseorang yang egois seperti Uchiha Sasuke."

"Tidak. Senpai… mengatakan hal yang baik. Harusnya aku berterima kasih pada Senpai. Terima kasih, sudah memikirkan perasaanku selama ini. Aku benar-benar… berhutang banyak pada Senpai," kata Sakura akhirnya.

"Kau… tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja. Kalau begitu, aku pulang duluan Senpai. Terima kasih untuk hari ini dan… sampai nanti," ujar Sakura sambil membungkukkan punggungnya dan berbalik lalu berjalan lumayan cepat mencari kereta untuknya pulang.

Kalau benar begitu, artinya…

Dia benar-benar laki-laki brengsek!

.

.

*KIN*

.

.

Suigetsu terus memperhatikan tingkah laku Sasuke yang kembali berubah. Sasuke sekarang ini seperti Sasuke saat Suigetsu pertama kali mengenalnya. Dia dingin pada siapa saja dan jutek. Dia juga lebih banyak diam sekarang. Jika tidak ditanya, dia tidak akan mengatakan apapun. Karin juga semakin menempel padanya. Lebih menempel lebih dari biasanya. Makanya Suigetsu tidak punya kesempatan untuk bicara dengan Sasuke berdua saja. Karin selalu menginterupsi mereka dan menganggap Suigetsu mengganggu Sasuke.

Beberapa hari ini juga, Suigetsu sering melihat Neji pulang bersama dengan Sakura. Mereka berdua selalu terlihat berdua, kadang juga teman Sakura yang berambut pirang itu juga ada bersama mereka. Begitu bertemu dengan Suigetsu, Sakura juga tampak seolah-olah tidak mengenalinya. Dia berlalu begitu saja. Kenapa mereka sekarang seperti orang asing?

Bahkan secara langsung, Suigetsu menjadi saksi hidup bagaimana ketika Sakura bersama teman pirangnya itu bertemu Sasuke bersama Karin di koridor sekolah. Mereka berpapasan begitu saja seolah-olah benar-benar tidak saling mengenal, atau bahkan pernah saling mengetahui bersama. Mereka benar-benar jadi orang asing satu sama lainnya.

Serius, ada apa sebenarnya ini?

Dan juga, beberapa hari ini mengawasi Sasuke… Suigetsu menyadari satu fakta penting. Hal itu sebenarnya memang penting tapi jika tidak diperhatikan dengan seksama, tidak akan ada seorang pun yang tahu. Sepertinya diam-diam Sasuke menyembunyikan ini. Karena sikapnya yang menakutkan itu jadi tidak banyak orang yang mau memperhatikan dia.

Hari ini Suigetsu dengan jelas memperhatikan bahwa Sasuke benar-benar memakai sebuah cincin di jari kelingking kirinya. Cincin itu terlihat kecil memang, makanya jika tidak diperhatikan dengan serius, tidak akan ada yang menyadarinya jika Sasuke memakai cincin. Apalagi cincin itu terselip di jari paling kecil. Bahkan Suigetsu bertaruh jika Karin pun tidak tahu bahwa Sasuke memakai cincin. Karin terlalu fokus pada wajah tampan Sasuke saja!

Cincin apa itu?

Kenapa Suigetsu tidak pernah tahu bahwa Sasuke punya cincin seperti itu?

.

.

*KIN*

.

.

Karena sering terlihat bersama-sama, banyak yang menduga bahwa Neji dan Sakura mulai menjalin hubungan serius. Tapi Sakura terus menyangkal bahwa mereka hanya berteman baik. Ino juga sesekali menodong Sakura soal hubungannya dengan si Senpai itu. Tapi sepertinya Sakura benar-benar tidak memiliki perasaan apapun pada Neji. Dia terlihat terlalu biasa bersama dengan Neji. Sakura juga kembali lagi seperti Sakura yang dulu. Ino jadi merindukan saat-saat ketika melihat Sakura mengeluarkan berbagai ekspresi histerisnya jika bersama dengan Sasuke. Apa yang membuat Sakura kesal karena tingkah laki-laki itu.

Tapi sepertinya… Sasuke tidak begitu memikirkan Sakura. Buktinya dia bisa dengan mudah melupakan Sakura begitu saja. Sudah jelas bahwa keberadaan Sakura sama sekali tidak penting untuknya.

Ya, hanya waktu yang bisa menjawab perasaan Sakura yang sesungguhnya sih.

.

.

*KIN*

.

.

Minggu ujian sudah selesai dilaksanakan. Hari ini juga adalah hari terakhir ujian akhir semester mereka. Setelah pengumuman nilai nanti, kegiatan baru akan dimulai lagi. Terutama klub-klub yang sudah mulai mempersiapkan diri untuk menuju turnamen masing-masing.

"Sasuke, kau mau langsung berlatih hari ini?" tanya Karin begitu kelas mereka sudah bubar.

"Tidak. Aku akan mulai latihan besok."

"Ah, begitu. Bagaimana kalau kita pulang sama-sama?" tawar Karin.

"Maaf Karin. Aku ada keperluan lain. Sampai nanti."

Selalu begini. Sasuke selalu menolak untuk pulang bersama Karin. Kapan pun Karin mengajaknya untuk pergi keluar Sasuke selalu menolaknya. Jika Suigetsu yang mengajaknya, Sasuke ada kemungkinan untuk ikut. Tapi jika hanya berdua dengan Karin, Sasuke selalu menolak. Walaupun mungkin Karin selalu terlihat berdua dengan Sasuke di sekolah, tapi setelah di luar sekolah, Sasuke selalu memilih sendirian.

Ketika Sasuke mengambil tasnya dengan tangan kirinya, Karin tampak memperhatikan tangan kiri Sasuke saat itu.

Ada cincin yang melingkar di jari kelingkingnya.

Cincinnya memang kecil dan bermotif sepasang sayap. Karin sudah lama memang memperhatikan cincin Sasuke itu. Tapi Karin tak punya kesempatan untuk bertanya. Karin memang selalu menghindari membahas masalah pribadi dengan Sasuke, karena Karin tahu dengan jelas bahwa Sasuke tidak suka seseorang bertanya mengenai masalah pribadinya. Dan adanya cincin itu pun adalah masalah pribadi Sasuke.

Tadinya Karin berharap Suigetsu akan bertanya, karena Karin tahu laki-laki usil itu selalu memandangi Sasuke dengan serius dan ingin tahu. Tapi dia hanya diam. Seolah menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Tentu saja itu membuat Karin gatal bukan main.

Kalau Karin yang mulai… Karin takut Sasuke akan menganggap Karin terlalu ingin ikut campur masalah orang lain dan kemudian menjauhi Karin. Sasuke memang selalu begitu. Selalu menjauhi orang-orang yang mencoba ingin mencari tahu soal dirinya dan mendekatkan diri pada Sasuke. Entah apa alasan dibalik itu semua.

Hari ini pengumuman nilai sudah dipajang di papan nilai.

Karin sudah ikut berkerumun di antara anak-anak yang memenuhi papan pengumuman itu. Sasuke tidak ikut berada di kerumunan itu karena dirinya sudah yakin bahwa nilainya tidak mungkin berada jauh. Dia memang percaya diri untuk beberapa hal.

Tapi Karin tetap ingin mengetahuinya. Begitu melihatnya, ternyata benar, nama Sasuke ada di peringkat pertama. Karin sendiri ada di peringkat sepuluh. Si bodoh Suigetsu itu ada di urutan 30. Memang tidak seperti kelihatannya, Suigetsu itu sebenarnya cukup pintar, tapi dia terlalu malas. Dia melakukan apa yang dia mau dan tidak suka dipaksa.

"Ayo Ino! Cepatlah!"

Dari arah berlawanan, Karin melihat sosok gadis berambut pink itu berlarian menuju papan pengumuman itu.

Reflek Karin melihat papan pengumuman itu dan tidak sengaja menemukan nama Haruno Sakura di peringkat lima.

"Haa~ untuk apa aku lari-lari begini…" keluh seorang gadis yang berambut pirang itu begitu mendekat ke arah Sakura.

"Wah, peringkatmu naik Ino! Lihat, kau ada di urutan 28!" seru Sakura.

"Setidaknya aku bebas dari kelas tambahan. Akhirnya aku bisa kencan~!"

"Hei, apa kencan saja yang ada di otakmu?"

"Makanya kau seharusnya segera mencari kekasih supaya kita bisa kencan ganda!"

"Apa?"

Karin kemudian berlalu begitu saja sembari melewati mereka berdua yang masih asyik bercakap-cakap, yang juga bercampur dengan suara-suara anak-anak lain yang heboh dengan papan pengumuman mereka.

Karin sempat berpapasan dengan Sakura yang akhirnya melihat ke arah Karin juga. Tapi kemudian mereka sama-sama hanya melihat satu sama lain tanpa bertegur sapa atau bahkan tersenyum. Saat jarak mereka semakin mendekat, Karin menyadari sesuatu yang dilihatnya tanpa sengaja.

Kenapa sepertinya Karin mengenali motif kalung yang dipakai oleh gadis berambut pink itu?

.

.

*KIN*

.

.

"Sasuke, kau sudah lihat nilaimu?" tanya Suigetsu yang akhirnya menemukan saat Sasuke sendiri tanpa diikuti oleh Karin.

"Tidak. Tapi aku sudah tahu nilaiku."

"Ah~ tentu saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan soal nilai. Sekarang ini kau hanya perlu untuk fokus kepada turnamen saja~"

Sasuke menutup buku bacaannya dan melihat ke arah Suigetsu yang duduk di atas meja tepat di sebelah meja Sasuke. Suigetsu terus menatap ke arah buku Sasuke. Sepertinya ada sesuatu yang aneh dengan orang ini.

"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Sasuke akhirnya.

Suigetsu tersenyum dan turun dari tempat duduknya yang tadi berada di atas meja.

"Tidak percuma otakmu bagus. Ayo keluar. Kita bicarakan ini di tempat terbuka saja."

Suigetsu jelas mengajak Sasuke untuk keluar dari kelas mereka karena memang hari ini tidak ada lagi jadwal pelajaran. Mereka bisa berpuas-puas bermain di sela-sela class meeting. Apalagi liburan sebentar lagi akan dimulai berikut dengan beberapa anak yang terpaksa mesti mengikuti kelas tambahan karena nilai ujian mereka yang jatuh.

Suigetsu mengajak Sasuke untuk duduk di pinggir atap sekolah yang kebetulan sedang kosong hari ini. Biasanya beberapa orang memanfaatkan tempat ini untuk berkencan, makan siang bersama, tidur siang atau bahkan kabur dari pelajaran.

"Tidak biasanya kau mengajak bicara di tempat seperti ini," buka Sasuke setelah mereka tiba di sini.

Suigetsu berdiri membelakangi pagar kawat yang membatasi atap sekolah ini, sambil bersandar dan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

"Apa kau bertengkar dengan Sakura-chan?" tembak Suigetsu langsung.

Sasuke mengerutkan dahinya bingung.

"Apa yang sedang kau bicarakan ini?"

"Bagaimana ya… hm… jujur saja padaku. Kenapa tiba-tiba mendadak kau menjauhi Sakura-chan? Apakah sebelum ini… terjadi sesuatu?"

"Suigetsu, pembicaraan seperti ini sama sekali tidak penting."

"Tentu saja penting. Tentu ini penting, Sasuke. Ini sangat penting untukmu."

"Kenapa kau berpikir ini penting untukku?"

"Aku sudah cukup lama mengenalmu. Dan jujur, selama aku mengenalmu, saat kau bersama Sakura-chan adalah saat dimana aku menyukai dirimu. Kau menjadi dirimu sendiri. Bahkan aku baru mengetahui sifatmu yang sesungguhnya jika kau bersama dengan Sakura-chan."

"Omong kosong!"

"Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi orang lain menyadarinya. Aku tahu, mungkin kau punya alasan kenapa kau harus menjauhi Sakura-chan. Dan kupikir—"

"Cukup!"

Suigetsu menghentikan kata-katanya. Wajah Sasuke terlihat marah. Entah emosi itu ingin diperlihatkannya pada siapa, tapi saat ini Sasuke benar-benar sangat marah.

"Semua yang kau katakan soal gadis itu benar-benar menyebalkan!"

"Akhirnya aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya."

Sasuke mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Saat ini dirinya benar-benar mendidih. Satu hal yang memang tidak disukai Sasuke dari Suigetsu. Dia terlalu pintar untuk membaca perasaan orang lain. Kenapa kemampuan itu tidak dia gunakan untuk saat-saat lain saja. Ya, kecuali untuk saat seperti ini. Sasuke tidak membutuhkannya untuk saat ini.

"Sasuke, jika kau tidak menyampaikan perasaanmu dengan baik, kau akan berakhir menjadi orang yang paling brengsek di dunia ini. Jangan membohongi perasaanmu sendiri dan tanya apa yang kau inginkan."

Sasuke tampak diam dan tidak menyahuti kata-kata Suigetsu lagi. Suigetsu kemudian mendekat dan menepuk pundak Sasuke. Suigetsu tidak percaya dia harus melakukan hal bodoh seperti ini untuk sahabatnya. Yaaa, karena Sasuke adalah sahabatnya makanya Suigetsu mau melakukan hal menggelikan ini.

"Kau tahu kenapa orang lain lebih mengetahui apa yang kau inginkan daripada dirimu sendiri? Itu karena kau selalu menunjukkan perasaanmu dari sikapmu, bukan kata-katamu. Dan sikapmu, selalu terlihat jelas!" bisik Suigetsu sebelum akhirnya meninggalkan Sasuke sendirian di sana.

.

.

*KIN*

.

.

"Sasuke, hari ini kau mau kemana?" tanya Karin setelah pulang sekolah hari ini.

"Pulang," jawab Sasuke singkat sembari membereskan mejanya.

"Oh, begitu. Sampai nanti."

Sasuke menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari kelasnya. Kata-kata soal Suigetsu tadi masih terngiang di kepalanya.

Begitu Sasuke keluar dari kelas, Karin memandangi punggung Sasuke yang mulai menjauh hingga akhirnya keluar dari kelas mereka. Kenapa Karin tidak pernah bisa memahami Sasuke? Atau sebenarnya Sasuke yang sebenarnya tidak pernah mau membuka hatinya untuk orang lain. Dia selalu menyimpan semua perasaannya sendirian. Seolah-olah itu adalah cara terbaik untuk dirinya sendiri.

Sasuke selalu menolak kepedulian orang lain untuknya. Sasuke selalu membuat dinding pembatas antara orang lain dan dirinya. Seolah-olah orang lain adalah penyusup asing di dalam dunianya sendiri. Sasuke punya dunia yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain. Setidaknya hal itulah yang Karin pahami dari Sasuke.

Tapi…

Tapi kenapa dengan gadis itu…

Kenapa harus gadis pembawa malapetaka itu?!

Karin memastikan baik Suigetsu maupun Sasuke sudah tidak ada lagi di sekolah ini. Mungkin mereka berdua benar-benar sudah pulang sekarang. Karin kemudian mulai berkeliling sekolah. Klub hari ini masih libur, jadi otomatis kolam renang masih kosong. Rencananya memang klub akan kembali dibuka setelah liburan musim panas dimulai. Mereka akan memulai training camp untuk menghadapi turnamen mendatang.

"Haruno Sakura-san?"

Gadis berambut pink itu bersama teman pirangnya menoleh ke arah Karin ketika akhirnya Karin menemukannya tidak sengaja berada di loker sepatu. Mereka tampak masih bercakap-cakap dengan riang dan saling melempar ejekan. Sakura tampak terkejut melihat Karin. Tentu saja, ini benar-benar kejutan kan?

"Ya, ada apa?"

Tidak diduga ternyata suara Sakura terdengar begitu ramah. Dia tetap menyunggingkan seulas senyuman pada Karin. Namun itu sama sekali tidak menggoyahkan keinginan Karin. Hanya teman pirangnya saja yang terlihat bersikap waspada pada Karin.

"Ketua Klub kami memanggilmu. Dia… menunggu di kolam renang sekolah."

Raut muka Sakura berubah. Sepertinya situasi ini cukup mirip dengan waktu itu. Seseorang mendadak memanggilnya ke kolam renang sekolah. Dan kemudian hal itu… terjadi.

"Ketua Klub-mu? Neji Senpai? Tidak biasanya dia memanggil Sakura ke sana. Senpai selalu mendatangi Sakura kok," celetuk Ino, teman pirang Sakura itu.

"Aku cuma menyampaikan pesan," kilah Karin dengan senyum tipisnya.

"Benarkah? Kalau begitu, aku juga ikut ke sana," sahut Ino.

"Tapi Ketua ingin Sakura ke sana seorang diri. Ada… yang ingin dia bicarakan," lanjut Karin.

Ino langsung menatap curiga pada Karin. Gadis berambut merah ini selalu menempel pada Sasuke dan tidak suka dengan Sakura.

"Nee, sebaiknya kau tidak perlu ke sana. Aku curiga gadis ini membohongi kita. Ayo kita pergi saja," bisik Ino, berusaha untuk suara tidak terdengar Karin.

"Baiklah, aku akan segera ke sana," kata Sakura akhirnya.

"Hei, kau tidak dengar aku?" kata Ino lagi.

"Aku juga ingin membicarakan hal penting," ujar Sakura, pandangannya kemudian berfokus pada Karin yang ada di depannya. Wajahnya tetap tersenyum, tapi rautnya sudah berubah serius.

"… dengan Senpai," lanjut Sakura akhirnya.

"Sakura…"

"Aku akan segera kembali, tunggu aku ya," kata Sakura bersemangat.

Ino tak bisa berkata apa-apa lagi setelah akhirnya Sakura memutuskan untuk mengikuti gadis berambut merah itu. Perasaan Ino selalu tidak enak jika melihat ekspresi serius Sakura seperti itu. Tapi Sakura sudah memutuskannya. Ino tidak ingin meragukan keputusan Sakura. Dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tanpa diduga oleh Karin, Sakura menurut begitu saja saat mengikuti Karin ke kolam renang. Dan seperti dugaan Karin, kolam ini kosong. Tentu saja, karena ini adalah hari pengumuman nilai ujian tidak banyak orang yang menghabiskan waktu di klub. Mereka lebih memilih bersenang-senang sebelum memulai liburan musim panasnya. Apalagi sebentar lagi ada turnamen dan kemungkinan klub tidak akan mendapatkan jatah liburan musim panas mereka karena fokus pada latihan berat mendatang.

Karin dan Sakura berhenti tepat di pinggir kolam renang. Tatapan gadis itu pada Karin terlihat begitu tenang.

"Maaf aku harus berbohong padamu. Ketua, sebenarnya tidak menyuruhmu kemari," ujar Karin kemudian.

"Aku tahu."

Karin sedikit terkejut. Apakah dia benar-benar tahu atau dia berpura-pura mengetahuinya?

"Kau… sudah tahu?"

"Apakah ada yang ingin kau bicarakan denganku? Mengingat kau mengajakku ke tempat yang tidak ada orangnya begini?"

Karin mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Entah mengapa saat ini Karin sama sekali tidak bisa menahan emosinya. Dia terlalu… terlalu kesal bahkan untuk meredakan amarahnya. Melihat gadis ini… hanya dengan melihatnya saja membuat Karin begitu kesal. Karena gadis itu… terlalu banyak ada di dalam kehidupan Sasuke. Karin membencinya karena sudah merenggut apa yang harusnya bisa dilakukan oleh Karin untuk Sasuke. Dia yang memulai semua malapetaka di dalam hidup Sasuke, tapi kenapa dia juga yang menjadi penyelamat dalam hidup Sasuke? Ini benar-benar tidak adil.

"Aku terkesan kau sudah mengetahui niatku membawamu kemari," sahut Karin.

Ekspresi wajah Sakura masih terlihat begitu tenang. Dia diam menunggu Karin. Membuat Karin merasa…

"Haruno Sakura-san, apa maksudmu berkeliaran di dalam hidup Sasuke? Apa niatmu sebenarnya?"

Ekspresi tenang Sakura itu berubah menjadi terkejut. Matanya terbelalak tak percaya.

"Maaf?"

"Pertama, kau menyebabkan malapetaka di dalam hidup Sasuke. Kau hampir merenggut masa depannya karena cedera yang kau buat padanya. Lalu kemudian kau terus menempel padanya seperti parasit. Kau berpura-pura mendekatinya dengan menjadi tangan kanannya. Apa niatmu sebenarnya? Apakah… kau sengaja melakukan ini dari awal?"

"Karin-san, aku—"

"Jadi begitu caramu mendekati Sasuke? Kau sengaja membuatnya cedera dan kemudian mendekatinya, lalu menempel padanya. Kau memanfaatkan cederanya supaya kau bisa berada di sisinya? Kau benar-benar menjijikkan!"

"Kurasa kau salah paham akan sesuatu di sini. Aku sama sekali—"

"Kalau begitu menjauhlah dari hidup Sasuke! Bukankah Sasuke sudah menyuruhmu untuk menjauhinya?! Kenapa kau masih berada di dalam hidupnya!" pekik Karin kemudian.

Sakura mendadak terdiam. Dia tak menyangka Karin akan berkata seperti itu padanya. Benarkah ini yang dipikirkan oleh Karin selama ini tentang Sakura?

"Aku tidak pernah berusaha untuk membenci seseorang yang berusaha mendekati Sasuke. Kupikir, Sasuke tidak akan pernah terganggu dengan perasaan orang lain padanya. Tapi kenapa… kenapa karenamu… karena kau ada di hidup Sasuke… kau sudah menghancurkan segalanya! Kau menghancurkan hubunganku dengan Sasuke, kau hampir menghancurkan masa depan Sasuke… apalagi yang mau kau hancurkan dalam hidup Sasuke?"

Sakura kembali terdiam. Kenapa Karin berkata begitu pada Sakura? Sakura tidak pernah bermaksud menghancurkan apapun di sini. Tapi kenapa kata-kata Karin terdengar begitu benar untuk Sakura?

"Kalau kau tidak muncul, kalau kau tidak menyebabkan cedera pada Sasuke, kalau kau menjauhi Sasuke sejak awal… semua ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan kehilangan beasiswanya, dia tidak perlu bersusah payah untuk ikut turnamen ini dan dia… tidak perlu mengalami cedera itu! Semua ini salahmu Haruno Sakura!"

Benarkah semua ini salah Sakura? Benarkah semua yang dikatakan oleh Karin itu?

Tidak. Itu tidak benar.

Sakura kemudian menenangkan dirinya sendiri. Menarik napas dengan perlahan dan menghembuskannya dengan perlahan juga.

"Kenapa ini jadi salahku?" balas Sakura kemudian.

Karin terbelalak kaget. Sepertinya Karin tadi sudah cukup menjatuhkan mental Sakura untuk membuat merasa bersalah. Tapi kenapa gadis ini…?

"Apa?"

"Kubilang… kenapa ini jadi salahku? Kalau aku sejak awal memang sengaja membuatnya cedera, aku tidak hanya membuat tangannya cedera, aku akan membuat tangannya patah! Kalau aku sengaja mendekatinya, aku pasti akan terus menempel dan merayunya! Kalau aku mau menghancurkan masa depannya, aku tidak akan membiarkan dia kembali berenang lagi. Apa kau paham itu?"

Karin tampak terkejut mendengar itu.

"Kau—"

"Kalau kau ingin menyalahkanku atas semua yang terjadi padanya, kenapa kau tidak mulai mencari tahu dulu apa yang telah terjadi padanya? Daripada kau menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padanya, kenapa kau tidak mulai mendukungnya saja? Apakah dengan menyalahkan orang lain kau bisa mengembalikan semuanya seperti di awal? Tidak bukan?"

"Apa? Kenapa kau sok tahu sekali?!"

"Sasuke-kun… tidak akan menyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya. Tidak sepertimu. Kau hanya membuat Sasuke-kun terlihat buruk dengan menyalahkan orang lain—"

"Kau tidak tahu apa-apa soal dia?! Berhenti mengoceh seperti kau tahu segalanya!"

Tiba-tiba Karin kehilangan kesabarannya dan mencengkeram kerah seragam Sakura. Dengan sangat kasar, Karin menarik kerah Sakura hingga kancing teratas Sakura lepas. Sakura berusaha melepaskan tangan Karin, tapi tanpa diduga, Karin pun menarik rantai kalung yang terselip di leher Sakura hingga putus. Tentu saja Sakura terbelalak melihat kalungnya sudah berpindah ke tangan Karin.

"Kembalikan kalungku!" sentak Sakura.

Tapi Karin langsung menjauhkannya dari tangan Sakura. Karin tertawa miris melihat motif kalung sialan ini. Benar-benar…

Karin kemudian bersiap mengarahkan kalung itu ke kolam yang berada di dekat mereka.

"Karin-san jangan!" pekik Sakura kemudian.

"Kau benar-benar gadis yang menyebalkan! Lebih baik kau menghilang supaya Sasuke melupakanmu!" geram Karin.

Dengan gerak cepat, Karin kemudian melempar jauh-jauh kalung Sakura hingga tenggelam ke dalam dasar kolam. Seperti dugaan Karin, gadis itu hanya fokus pada kalungnya dan segera masuk ke dalam kolam itu tanpa berpikir dua kali.

Kenapa kalung itu begitu penting untuknya?!

Karin hanya memandangi betapa gadis itu berusaha mengambil kembali kalungnya yang sudah jatuh ke dalam dasar kolam itu. Tapi setelah beberapa lama, gadis itu tidak muncul lagi ke permukaan kolam.

Jangan-jangan—

Baru saja Karin akan melihat kolam itu lebih dekat, seseorang berlari masuk ke dalam kolam itu dan segera…

Segera…?

.

.

*KIN*

.

.

Ino menunggu Sakura di dekat loker sepatu dengan perasaan berdebar yang sangat tidak enak. Sakura mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja. Tapi kenapa perasaan Ino jadi begini tidak enak? Kenapa… apa yang salah dengannya?

"Hei, bukankah kau teman Sakura-san?"

Ino terkejut melihat Neji tiba-tiba menghampirinya di sini. Saat itu Neji bersama dengan seorang temannya.

"Senpai…? Kenapa… Senpai ada di sini…?"

"Oh, aku baru saja selesai rapat dengan pengurus klub untuk training camp kami. Kau sendirian di sini?"

"Tidak, tadi… manajer klub kalian… bilang kalau Senpai menunggu Sakura di kolam renang," jelas Ino terbata-bata.

"Kolam renang? Sakura-san ke sana sekarang?" entah kenapa Neji malah berubah panik. Tentu saja membuat Ino pun ikut panik.

"Senpai! Sakura… bagaimana Sakura?"

Neji masih ingat ketika dirinya pertama kali bertemu dengan Sakura. Gadis itu hampir tenggelam di dalam kolam renang sekolah mereka. Saat itu pun sama, seseorang memanggil Sakura ke sana. Tapi kali ini, manajer klub mereka?

Tanpa banyak berpikir, Neji diikuti dengan Ino berlari menuju arah kolam renang. Saat itu Tazuna yang biasa menjaga kolam tidak ada di tempat. Begitu tiba di sana, Neji terkejut melihat Karin ada di pinggir kolam renang.

"Sakura!" pekik Ino yang langsung berlari mendekati kolam itu.

Entah bagaimana keadaannya, ada Suigetsu di pinggir kolam yang membantu Sasuke yang sudah membawa Sakura muncul ke permukaan. Sasuke memeluk Sakura yang kelihatannya masih setengah sadar di dalam pelukan Sasuke.

Neji tak percaya melihat pemandangan yang dia lihat hari ini. Karin juga tak bisa berkata apa-apa sekarang.

"Sepertinya dia terminum cukup banyak air kolam, aku akan membawanya ke klinik sekolah," ujar Sasuke setelah tiba di pinggir kolam. Pakaiannya benar-benar basah kuyup karena dia masih memakai seragam lengkap. Sasuke bahkan melepaskan kemejanya dan hanya memakai baju kaosnya. Kemejanya itu dia sampirkan ke tubuh Sakura.

"Biar aku saja yang menggendongnya. Kau harus berganti pakaian, Sasuke," ujar Suigetsu yang masih memapah Sakura bersama Ino yang sudah nyaris menangis melihat keadaan Sakura.

"Suigetsu, sebaiknya kau segera mencari dokter klinik itu sebelum dia pulang karena ini sudah hampir waktunya sekolah tutup. Biar aku yang menggendongnya, cepatlah," perintah Sasuke yang segera mengambil alih Sakura untuk disandarkan ke punggungnya.

Ino pun membantu Sasuke dengan menjaga tubuh Sakura tetap berada di punggung Sasuke selagi Sasuke mempersiapkan dirinya.

"Baiklah! Aku mengerti!"

Suigetsu pun segera berlari keluar dari areal kolam renang itu untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Sasuke.

Setelah Sasuke berdiri dengan Sakura yang berada dalam gendongan di punggungnya, Sasuke sempat menatap Karin dengan pandangan yang begitu dingin. Sepertinya Karin terkejut karena tidak tahu bahwa Sasuke ternyata ada di kolam ini.

Neji merasa kesal sekali karena kali ini bukan dirinya yang menolong gadis itu. Apakah dia terlambat selangkah lagi?

"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Neji setelah Sasuke bersama Ino membawa Sakura menuju klinik sekolah.

Sekarang hanya tinggal Neji berdua dengan Karin saja.

"Sekarang kau malah membuat mereka semakin dekat saja. Padahal Sasuke sudah menjauhi Sakura-san!" kata Neji tak sabar.

"Aku hanya ingin balas dendam," lirih Karin.

"Balas dendam? Kau hanya melakukan hal bodoh! Kenapa kau harus membalas dendam kalau akhirnya hanya begini? Kau malah mendekatkan mereka lagi!"

"Karena aku tahu perasaanku tidak akan pernah sampai pada Sasuke! Sasuke… tidak akan pernah menyadari perasaanku… aku hanya merasa kesal kenapa Sasuke harus memilih gadis itu. Padahal selama ini… selama ini aku selalu ada untuknya…" isak Karin.

"Apakah kau pernah melakukan sesuatu yang membuat Sasuke menyadari perasaanmu?" tanya Neji kemudian.

Karin terdiam.

Tidak, tidak pernah. Karin memang tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat Sasuke menyadarinya. Dia terlalu sibuk membuat Sasuke merasa nyaman dengannya sehingga Sasuke tidak akan pergi kemana pun dan membuat dirinya selalu berada di sisi Sasuke. Karena bagi Karin, seperti itu sudah cukup.

"Perasaanmu tidak akan pernah sampai padanya, karena kau selalu membiarkan Sasuke menutup hatinya untukmu. Kau hanya berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuknya dan berharap Sasuke tidak mengusirmu pergi. Harusnya sekarang kau paham kenapa Sasuke tidak pernah menyadari perasaanmu."

Seusai mengatakan hal itu Neji kemudian meninggalkan Karin yang mulai menangis tersedu-sedu di sana.

Kenyataan memang menyakitkan. Tapi hidup dalam bayang-bayang jauh lebih menyakitkan…

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hola minna eheheh, sepertinya fic ini bertambah panjang yaaa… apa mulai terasa membosankan?

Hm, scene yang membuat saya paling deg-degan itu pas menulis bagian Suigetsu yang menyadari jika Sasu pake cincin. Hehehe, apakah scene itu terlalu aneh?

Ada yang mau berbagi dengan saya scene pada di chap ini yang membuat kalian deg-degan?

Ok, saya bales review dulu yaa…

Zarachan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut, makasih banyak semangatnya hehehe

Williewillydoo : makasih udah review senpai… huum, akhirnya ada yang ngerasa sakit juga jadi Karin. Saya juga sebenernya bikin peran seperti Karin itu pengen ada yang ngerasain diposisi dia juga heheheh makasih yaaa

Mimicucu : makasih udah review senpai… iya tadinya mau pake judul itu, tapi ternyata sudah terlalu banyak yang pake dari berbagai fandom, makanya pengen bikin yang beda aja hehehe ini masih bisa berubah lagi kok judulnya… tergantung mood…

Hanazono yuri : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

Nasyaila : makasih udah review senpai… ahahah iya ya, saya selalu mikir kayaknya cinta pertama tuh kesannya polos banget. Jadi perasaannya jauh lebih tulus ketimbang dapet cinta ke sekian ya hehehe

Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… wah iya yaa heheh, ntar saya sesuaikan dengan sitkon kalo gitu ehehhe

Nathaniasskck : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

Sweettomato : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi hehehe

Ayuniejung : makasih udah review senpai… ahahah iya emang sifat tsunderenya itu pas banget sama dia heheheh

Chizuru Mey : makasih udah review senpai… ah~ saya jadi semangat untuk lanjut hehehe. Iya, soalnya belakangan saya lagi susah banget nyari mood yang bagus. Biasanya mood saya lebih keluar ketika saya sedih banget, depresi banget gitu. Iya sih, harusnya Neji jangan maafin Saku secepet itu yaa heheh tapi ntar malah jalan di tempat dong kalo Nejinya gak bergerak hehehe

Kirara967 : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut, oke, ntar saya cari sitkon yang baiknya gimana ya hehehe

Dinauchiharuno : makasih udah review senpai… ahahah iya, nanti ya kalo adegan romansnya, soalnya belum sampai ke sana heheheh

Q Lenka : makasih udah review senpai… iya lagi mood ngubah judul sih heheheh

TheLimitedEdition : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

DaunIlalangKuning : makasih udah review senpai… ahahah makasih banyak, saya pikir alurnya udah pasaran loh soalnya kan temanya udah biasa. Makasih udah suka fic saya ya hehehe

CEKBIOAURORAN : makasih udah review senpai… ahahah makasih yaaa

Aikaa-chan : makasih udah review senpai… uhum, soalnya Sasu itu kan emang orangnya tertutup jadi wajar kalau keinginannya gak mudah dipahami orang lain. Seenggaknya begitulah yang saya tangkap setelah menonton ulang semua ep Naruto Shippuden hehehe

Titiktitin : makasih udah review senpai… maaf gak cepet updatenya hehehe makasih sekali lagi udah suka sama fic saya hehehe

Guest : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut.

Mitsuki Uchiha : makasih udah review senpai… makasih semangatnya hehehe

Cherrys : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi heheh

Makasih yang udah ngeluangin waktu buat fic saya

Jaa Nee!