Chapter 8

[REMAKE] Unforgiven Hero

By Santhy Agatha

Cast: Park Chanyeol - Byun Baekhyun and others

Rated: M

Disclaimer: Aku hanya nge-remake dan membuang sedikit kalimat yang menurutku sulit untuk diubah/? Dan aku juga menambah sedikit. Cerita asli adalah milik Santhy Agatha. Jadi, ini bukan cerita aku, ya? Aku hanya nge-remake, oke?

YAOI . Typo(s) . M-preg

"Lihat, Jinsuk Ajusshi menggila, dia memasak begitu banyak kue untuk sarapan." Chanyeol mengoleskan mentega lembut ke permukaan muffin panas, membuatnya meleleh dan berkilauan dengan aroma manis yang harum ke seluruh penjuru dapur.

Jinsuk yang sedang mengaduk sesuatu di dalam panci hanya tersenyum mencela dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Mereka sarapan di dapur yang menghadap ke timur, tempat sinar matahari pagi langsung masuk dan menghangatkan mereka. Menu sarapan mereka luar biasa. Muffin madu, biskuit kacang dan kelapa, nasi, sup, kimchi serta bulgogi yang baru saja matang.

Memang benar kata Chanyeol, Jinsuk menggila dalam memasak. Sepertinya dia terlalu senang karena tuannya datang, dan akhirnya ada yang bisa dia buatkan masakan istimewa.

Pagi ini seindah pagi-pagi yang lain. Baekhyun sampai tidak sadar bahwa mereka sudah melewatkan beberapa hari di pulau indah ini. Berbulan madu, begitu kata orang-orang. Dan memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar bersenang- senang sepanjang hari, makan, mengobrol, membaca, bercanda, dan bercinta dengan begitu panas di malam harinya.

Pipi Baekhyun memerah, mengingat malam-malam panas mereka. Chanyeol benar-benar sangat bergairah. Di pagi hari, saat mereka sudah bercinta semalaman, pria itu masih bangun dengan kejantanan mengeras dan mereka bercinta lagi. Seperti kata Chanyeol kepadanya dulu, pria itu memang selalu bergairah kepadanya.

"Jinsuk Ajusshi tampaknya sedang memasak besar hari ini." Baekhyun berbisik pelan sambil melirik ke arah Jinsuk yang tampak sibuk.

Chanyeol tersenyum simpul, "Memang, aku memintanya untuk menyiapkan makanan kita untuk seharian."

"Seharian?" Baekhyun mengernyit. Jinsuk biasanya selalu ada setiap saat di rumah ini. Begitu juga dengan para pelayan lainnya. Mereka selalu ada untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan mereka, setiap saat.

"Aku meliburkan semua pelayan mulai nanti siang sampai besok pagi mereka baru kembali. Jinsuk Ajusshi juga. Karena itu Jinsuk Ajusshi memasakkan kita makan siang dan makan malam untuk dihangatkan nanti malam."

"Kenapa kau meliburkan semua pelayan?"

Chanyeol tersenyum nakal, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Baekhyun dan berbisik menggoda, "Karena aku ingin hari ini kita di rumah seharian, hanya berdua."

Pipi Baekhyun memerah. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Chanyeol?

.

Rumah benar-benar benar sepi ketika para pelayan tidak ada di rumah, biasanya setiap saat Baekhyun akan berpapasan dengan para pelayan yang lalu lalang mengerjakan sesuatu di rumah ini. Sekarang suasana hening, tidak ada suara percakapan di lorong, kesibukan di dapur maupun suara langkah kaki orang-orang yang lewat.

Baekhyun dan Chanyeol menghabiskan hari itu dengan di perpustakaan. Chanyeol mengatakan akan menyelesaikan beberapa perkerjaan sedangkan Baekhyun memilih untuk membaca. Perpustakaan di rumah pantai itu cukup lengkap, dengan berbagai bacaan ringan di sana, koleksi milik ayah Chanyeol. Sepertinya ayah Chanyeol benar-benar berniat untuk bersantai ketika mengisi buku-buku untuk perpustakaan ini.

Tanpa sadar hari sudah siang ketika Chanyeol mengangkat kepalanya dan bergumam, mengalihkan Baekhyun dari bacaannya yang menarik.

"Aku lapar."

Baekhyun menutup bukunya dan tersenyum lembut, "Aku akan menyiapkan makanan."

Jinsuk telah menyiapkan semuanya dan memberitahu Baekhyun cara menghangatkan makanannya. Baekhyun mencampur salad dengan udang dan saus alpukat yang telah disediakan oleh Jinsuk, lalu menghangatkan bulgogi yang sudah disiapkan Jinsuk di panci.

Ketika Baekhyun sedang menuang kotak-kotak es batu ke dalam pitcher berisi es teh manis. Chanyeol datang ke dapur dan tersenyum. Dia mengendus ruangan dan mendekati Baekhyun dengan menggoda, "Aku bisa memperkerjakanmu sebagai koki pribadiku. Baunya harum, seharum masakan Jinsuk Ajusshi."

Baekhyun tertawa, "Jinsuk Ajusshi memang yang memasak semuanya, aku hanya mempersiapkannya." Dengan cekatan dia mengaduk Sup di panci.

Chanyeol mendekat dan memeluknya dari belakang dengan mesra. Mengecup Baekhyun dengan menggoda.

"Hentikan Park Chanyeol. Atau kau akan terciprat kuah yang sedang mendidih ini." Baekhyun mengingatkan Chanyeol, tetapi tidak ada penolakan dari tubuhnya. Chanyeol melingkarkan lengannya makin erat, jamarinya bergerak menggoda, mengusap perut rata Baekhyun dari luar kaos yang dipakai Baekhyun. Membuat Baekhyun mengerang, Kuah itu telah mendidih, dan Baekhyun mematikannya.

Chanyeol mengajak Baekhyun mundur dari kompor, masih memeluknya, dia bersandar di meja dapur dan membawa Baekhyun yang masih di peluknya dari belakang. "Kita bisa bercinta seharian di rumah, karena tidak ada orang lain di sini."

"Park Chanyeol!" Baekhyun berseru dengan pipi memerah malu, membuat Chanyeol tertawa dan mengecupi leher putih Baekhyun penuh gairah.

"Atau kita bisa bercinta di atas meja dapur." Chanyeol setengah menggigit leher Baekhyun, meninggalkan bekas kecil kemerahan di sana. Menandai bahwa Baekhyun miliknya sepenuhnya. Tangannya menelusup kedalam kaos Baekhyun dan jemarinya meraba lembut perut Baekhyun. "Bagaimana menurutmu, Park Baekhyun?"

"Jadi ini yang ada di benakmu ketika meliburkan semua pelayan?" Baekhyun berbisik lirih, untuk kemudian membiarkan bibirnya dilumat oleh Chanyeol dengan penuh gairah. Pria yang lebih tinggi duduk di atas meja dapur, lalu mendongakkan kepala Baekhyun ke belakang, dia lalu menunduk ke atas Baekhyun dan melumat bibirnya, dengan cara terbalik. Menciptakan sensasi yang berbeda. Membuat dia bisa mencecap, dan merasakan bibir Baekhyun dengan cara yang lebih sensual.

Tubuh Baekhyun melemas akibat ciuman itu sehingga Chanyeol harus menopangnya, dia bersandar sepenuhnya di tubuh Chanyeol, dan merasakan kejantanan Chanyeol mulai mengeras, menekan tubuh belakangnya. Dengan lembut, Chanyeol kemudian membalikkan tubuh Baekhyun dan beranjak turun dari meja dapur. Dia mengangkat tubuh Baekhyun hingga terduduk di atas meja dapur itu. Dikecupnya dahi Baekhyun lembut, hidungnya, pipinya dan kemudian kembali ke bibirnya lagi. Setiap kecupan Chanyeol membuat tubuh Baekhyun panas membara. Pria itu lalu membuka kaos Baekhyun dan membuangnya sembarang. Sehingga terlihat jelas kulit putih dan mulus Baekhyun.

Chanyeol itu memuja kulit mulus itu. Mengelusnya lembut, lalu mengecupnya, dan menjilatnya dengan menggoda. Membuat Baekhyun mengerang, merindukan hisapan Chanyeol di kulitnya yang membuatnya melayang, membuat tubuh Baekhyun lemas dan terbaring di atas meja dapur itu, dengan kaki menjuntai ke bawah.

Posisi Chanyeol sangat pas, karena tubuhnya tinggi, meja dapur itu pas setinggi pinggangnya. Dan sekarang dihadapannya, Baekhyun terbaring dengan kaki menjuntai ke bawah, kejantanannya yang sudah menengang, pahanya terbuka, siap menerimanya. Chanyeol menurunkan celana dalam Baekhyun, dan membukanya. Lalu dengan penuh gairah, tanpa peringatan apapun. Chanyeol segera melepaskan celananya dan menyatukan tubuhnya ke dalam kelembutan yang panas dan bergairah.

Kaki Baekhyun langsung melingkar di pinggang Chanyeol. Kemudian, ketika gerakan Chanyeol makin cepat dan bergairah, dia berdiri dan menumpukan tangannya di tepi meja dapur, membuat Baekhyun terbaring di sana penuh gairah, menerima desakan-desakan Chanyeol jauh di dalam tubuhnya yang menimbulkan gelenyar panas tak tertahankan. Chanyeol lalu mengangkat kaki Baekhyun yang semula melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke pundaknya. Posisi itu membuatnya semakin mudah bergerak, menemukan titik-titik kenikmatan Baekhyun yang ada jauh di dalam kelembutan holenya, dan membawa Baekhyun langsung ke puncaknya.

"Kau sungguh nikmat, Baek..." Chanyeol berucap di antara napasnya yang memburu, "Apakah aku nikmat untukmu, Baek?"

Baekhyun mencoba menjawab. Tetapi sensasi itu sungguh menguasai tubuhnya, membuatnya semakin tersengal dan larut dalam kenikmatannya.

"Jawab aku, Baek.." Chanyeol tak mau menyerah, "Apakah aku nikmat untukmu?"

Baekhyun mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Chanyeol yang membungkuk di dekatnya, "Kau... sangat..." suaranya tertelan oleh napas memburu dan erangan tertahan karena dorongan Chanyeol yang bergairah, susah payah dia mencoba berkata, "Kau... sangat nikmat... untukku..."

Chanyeol menatap Baekhyun dengan rasa memiliki yang dalam, "Kalau begitu, mari kita saling menikmati." Gerakannya menjadi semakin cepat, semakin bergairah, semakin tak tertahankan, "Ayo, Baek. nikmati aku.. puaskan dirimu..." Chanyeol berbisik parau, membimbing Baekhyun ke dalam pusaran gairah. Sehingga dia mencapai puncaknya dengan begitu cepat. Mencengkeram Chanyeol dalam kenikmatan orgasmenya, dan merasakan pria itu orgasme bersamanya, di dalamnya.

.

"Tadi sungguh luar biasa." Chanyeol tersenyum sambil menyuapkan suapan terakhir makan siangnya ke mulutnya.

Mereka akhirnya makan siang menjelang sore, karena Chanyeol memutuskan mereka harus melanjutkan beberapa lagi sesi bercinta di dapur sebelum makan. Pria itu sungguh memiliki fantasi yang gila dalam bercinta. Pipi Baekhyun memerah mendengar godaan Chanyeol. Chanyeol sudah berhasil mengubahnya dari pria pemalu yang tidak tahu apa-apa, menjadi pria sensual yang selalu merespon setiap rangsangan yang diberikan Chanyeol dengan luar biasa.

Tetapi Baekhyun menikmatinya. Dia sangat beruntung. Ada pasangan-pasangan yang tidak diberkahi kenikmatan di atas tempat tidur. Dan Baekhyun mendapatkan pasangan yang luar biasa nikmat di atas tempat tidur. Chanyeol selalu memuaskan Baekhyun, menunggu Baekhyun siap menerimanya, dan mengantarkan Baekhyun sampai ke titik terdekat orgasmenya sebelum kemudian mencapai orgasmenya sendiri.

"Ya, Yeol. Tadi memang luar biasa." Baekhyun akhirnya mengakuinya kepada Chanyeol, membuat Chanyeol tersenyum bahagia.

Selesai makan, Chanyeol mengajak Baekhyun berjalan-jalan ke pantai pribadi mereka. Malam sudah menjelang dan pria itu memakaikan salah satu jaketnya pada Baekhyun, membuat Baekhyun memakai jaket yang kebesaran di tubuhnya. Tetapi Baekhyun berterimakasih kepada Chanyeol karena melakukannya. Udara malam cukup dingin malam ini.

Langit yang gelap memayungi mereka, bertaburan bintang berkelap-kelip yang indah. Chanyeol mengajak Baekhyun berdiri di tepi pantai dan menatap ombak, "Aku dulu bukan orang yang baik, aku menyakiti banyak orang dan membuat mereka kecewa." Chanyeol bergumam pelan, tatapannya menerawang jauh, "Tetapi kemudian ada sebuah peristiwa yang menghantamku. Dan membuat aku berbalik arah."

Peristiwa apa? Baekhyun mengernyit dan menatap Chanyeol, ingin bertanya. Tetapi namja itu berdiri di sebelahnya dengan tatapan menerawang, seolah sedang larut ke dalam masa lalunya, sehingga Baekhyun kembali diam, menatap laut dan mendengarkan.

"Aku berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi lebih baik. Dan aku benar-benar sudah menjadi baik ketika aku bertemu kau." Chanyeol menghela tubuh Baekhyun ke arahnya, dan mereka berhadap-hadapan, "Sejak aku mencintaimu."

Dipeluknya Baekhyun erat-erat. Beberapa hari ini dia sangat bahagia, Tertawa bersama Baekhyun, menghabiskan setiap menit bersama pria cantik itu, dan tidak pernah merasa bosan. Kebahagiaan itu menyelipkan seberkas rasa takut di benak Chanyeol, setiap dia menatap Baekhyun yang tersenyum kepadanya, tanpa dapat ditahannya pertanyaan-pertanyaan selalu muncul di benaknya, Bagaimana kalau Baekhyun tahu kenyataan yang sebenarnya? Apakah Baekhyun mau tersenyum lagi kepadanya? Apakah Baekhyun akan meninggalkannya?

Chanyeol takut menghadapi itu semua. Membayangkan kalau Baekhyun pada akhirnya mengetahui semua itu secara tidak sengaja. Mungkin Baekhyun melihat berita di masa lalu, atau bertemu dengan orang di masa lalu yang kebetulan tahu tentang kecelakaan itu dan masih mengingat Chanyeol, atau banyak kejadian lainnya yang bisa membuat Baekhyun tahu. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Chanyeol sangat ingin menahan Baekhyun di pulau ini. Jauh dari kehidupan luar, berbahagia di dalam surga mereka sendiri tanpa ada gangguan dari pihak manapun.

Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Mereka mau tidak mau harus kembali ke dunia nyata. Dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Chanyeol harus bersiap menghadapi yang terburuk setiap saat. Apakah Baekhyun akan menuduhnya sebagai pembohong besar? Membangun pernikahan mereka di atas sebuah kebohongan?

Apakah dia harus memberitahu Baekhyun sekarang? Tidak. Ini bukan saat yang tepat. Mereka begitu berbahagia sekarang. Saat-saat ini terlalu berharga untuk dinodai oleh kebencian di masa lalu.

Chanyeol menelan ludahnya dan mengangkat dagu Baekhyun, agar menatapnya, "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, apapun yang akan terjadi nanti."

Chanyeol tampak bingung. Baekhyun membatin. Kenapa Chanyeol tampak begitu bingung? Apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam hati Chanyeol?

"Berjanjilah, Baek." Suara Chanyeol mendesak, dipenuhi oleh kebutuhan.

Baekhyun menyentuhkan jemarinya dengan lembut di alis Chanyeol yang berkerut, mencoba menenangkan suaminya, "Aku berjanji, Yeol."

Chanyeol mendesah lega, dan memeluknya era-erat. Mereka berpelukan diiringi deburan ombak dan taburan bintang.

.

"Kau harus mengatakan kepadaku." Lagi-lagi Kris menghalangi jalan Tao di lobi apartemennya.

Tao menatap Kris dengan jengkel. Beberapa hari ini Kris sangat mengganggunya, Kris muncul di mana saja, berusaha mengorek-orek rahasia yang mungkin disembunyikan oleh Tao, "Aku bisa menyuruh polisi menangkapmu kalau kau terus menguntit dan menggangguku seperti ini."

"Tidak perlu sampai seperti itu." Kris menarik napas frustasi, "Aku cuma butuh jawaban."

"Bukankah aku sudah menjawabmu? Kau berkali-kali bertanya kenapa aku merayumu malam itu. Aku sudah menjawab, mungkin karena aku sedang ingin bercinta! Titik! Itu saja jawabanku. Tetapi kau masih terus-menerus menggangguku. Sebenarnya kau ingin jawaban apa?"

"Karena jawabanmu bohong." Kris menatap Tao tajam, "Katakan padaku yang sebenarnya Tao, atau aku akan terus mengganggumu."

"Baiklah!", Tao setengah menjerit, tak tahan lagi. "Aku merayumu karena Chanㅡ maksudku Alex yang menyuruhku. Dia ingin membuat Baekhyun memergokimu sedang bercinta denganku!"

"Kenapa sajangnim ingin kau melakukan itu? Apa yang dia inginkan dari Baekhyun?"

Tao mengerang. Kris tidak akan berhenti mengorek informasi, dan dia tanpa sengaja telah membocorkan informasi penting kepada namja ini. Ya ampun. Chanyeol akan amat sangat marah kepadanya.

"Aku tidak tahu. Dia memintaku dan aku melakukannya. Aku tidak bertanya apa tujuannya dan kenapa. Kalau kau memang ingin tahu, tanyakan pada Alex sendiri." Tao membalikkan tubuhnya, kemudian berhenti dan menatap Kris penuh peringatan, "Jangan menggangguku lagi Kris. Atau aku akan melaporkanmu kepada polisi atas perbuatan tidak menyenangkan, dan aku tidak main-main." Serunya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Kris termenung di sana.

Dahi Kris berkerut memikirkan jawaban Tao. Jantungnya berdegup kencang. Jadi benar semua dugaannya. Semua ini sudah direncanakan oleh Alex. Pria itu dari awal mungkin sudah mengincar Baekhyun dan berniat menyingkirkannya, meskipun dengan cara yang licik. Kris menggertakkan giginya. Dia telah dijebak dan dipermalukan di depan Baekhyun, tanpa kesempatan untuk membela diri. Kemudian Baekhyun mencampakkannya begitu saja untuk menikahi Alex.

Kris tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas, ketika waktunya sudah tepat nanti.

.

"Aku ingin kau segera hamil." Chanyeol tersenyum sambil mengusap perut rata Baekhyun. Mereka sedang berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur setelah percintaan mereka yang panas dan bergelora. Tubuh mereka naked di balik selimut, saling memeluk erat.

Baekhyun yang sudah setengah tertidur di pelukan Chanyeol langsung terjaga mendengarnya. Hamil, mengandung anak Chanyeol. Pikiran itu terasa begitu menyenangkan untuknya. Memiliki anak-anak dari Chanyeol, yang tampan dan rambut gelap dan mata berkilauan, pasti amat sangat membahagiakan.

"Apakah kau mau mengandung anak-anakku?"

"Tentu saja, Yeol." Baekhyun tersenyum dan mendongakkan kepalanya, menatap Chanyeol lembut.

Chanyeol tertawa, tawa yang dalam dan terdengar seksi di telinga, mengalun lembut, "Kalau begitu kita harus giat mengusahakannya."

Baekhyun mengangkat alisnya, "Kau melakukannya pagi, siang, sore, dan malamㅡkurang giat apalagi?"

Tawa Chanyeol memenuhi ruangan. Dia memeluk Baekhyun dengan lembut, berdoa semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.

.

Seluruh pelayan sudah kembali ke rumah pagi ini dan kegiatan berlangsung seperti biasa. Baekhyun sedang di dapur belajar membuat kue bersama Jinsuk. Ketika suara ribut-ribut terdengar dari lorong, yang mau tak mau terdengar sampai ke dapur. Itu suara Chanyeol, sedang mengumpat- umpat di telepon. Mengumpat-umpat?

"Bagaimana mungkin dia bisa lolos? Ini pulau pribadi. Tidak sembarang orang bisa kemari." Kemarahan tercermin jelas dalam suara pria itu.

Suara di seberang telepon menjawab, tampak mencoba menjelaskan dengan panik. Tetapi kemudian Chanyeol memotongnya dengan tajam.

"Sudah. Kita bicarakan keteledoran yang dibuat anak buahmu nanti. Kau yang harus menanggung ini semua. Nanti. Begitu aku selesai membereskan masalah ini." Lalu Chanyeol menutup telepon dengan kasar. Membuat Baekhyun merasa kasihan pada siapapun yang menjadi lawan bicara Chanyeol di telepon.

Beberapa detik kemudian pintu dapur terbuka, dan Chanyeol masuk dengan wajah serius.

"Baekhyun-ah." Chanyeol memanggil dari ujung dapur. Membuat Baekhyun yang sedang bertaburan tepung dan membantu Jinsuk membentuk kue di cetakan menoleh,

"Ya?"

"Kemari, aku ingin bicara."

Chanyeol tidak pernah sekaku ini ketika berbicara kepadanya, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya. Apakah Chanyeol sedang marah. Kepada siapa? Kepadanyakah?

Dengan hati-hati dia melangkah keluar dapur, mengikuti Chanyeol ke arah teras samping. Chanyeol berdiri di sana, mondar-mandir dengan wajah gusar.

"Ada apa, Yeol?"

Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun dan merengkuh kedua bahunya, membuat Baekhyun dekat dengannya.

"Anak buahku mengacau. Kita akan kedatangan tamu. Bukan tamu yang menyenangkan, tetapi kita terpaksa menampungnya beberapa hari demi kesopanan. Aku harap kau mengerti."

Baekhyun menganggukkan kepala. Sedikit lega mendengar perkataan Chanyeol, Jadi hanya karena masalah itu? Seorang tamu, meskipun terasa aneh karena datang di bulan madu mereka, tampaknya tidak menjadi masalah besar. Baekhyun pasti bisa menghadapinya. Kalau begitu kenapa Chanyeol masih tampak begitu gusar?

Chanyeol yang masih mencengkeram kedua bahu Baekhyun mendesah kesal. "Dia bukan tamu biasa. Dia mungkin datang untuk mengacau, seperti yang Noona ramalkan. Aku minta maaf, Baek. Aku tidak menyangka dia akan seberani itu, menyusulku kemari."

"Siapa, Yeol?" Baekhyun berubah waspada, karena Chanyeol tampak begitu serius tentang tamu yang satu ini.

Chanyeol menatap Baekhyun pahit. "Dia mantan kekasihku, Baek. Anak buahku mengatakan dia tidak bisa mencegah kedatangannya kemari. Sekarang dia sedang dalam perjalanan dengan perahu boat kemari. Maafkan aku."

.

Memikirkan bahwa Chanyeol mempunyai mantan kekasih wanita sebelumnya, yang tentunya juga berbagi hal-hal intim bersama pria itu sungguh membuat semuanya terasa aneh.

Seharusnya Baekhyun siap. Sunhwa dulu pernah mengatakan kepadanya bahwa Chanyeol pernah punya beberapa kekasih yang berhubungan dengannya tanpa status, tapi Sunhwa tidak mengatakan jika ada wanita salah satunya. Baekhyun mungkin bisa melupakan itu semua kalau situasinya tidak seperti ini. Seorang mantan kekasih yang nekad tampaknya bertekad merebut Chanyeol kembali. Dan Baekhyun harus menghadapinya.

Astaga. Kenapa dia ada di dalam situasi begini? Apa yang harus dia lakukan? Dengan bingung Baekhyun memencet nomor ponsel Sunhwa. Dalam deringan kedua ponsel itu diangkat,

"Ada apa, Baek? Apakah kau sudah pulang dari bulan madumu?"

"Bukan. Aku ingin menanyakan sesuatu."

"Tentang apa?"

"Tentang mantan kekasih wanita Chanyeol."

Sejenak Sunhwa tertegun di seberang sana, lalu bergumam ragu. "Well sayang, menurutku ketika kita sudah menikah dengan seseorang, tidak perlu mengungkit-ngungkit masa lalu, apalagi mencari informasi tentang mantan kekasih pasangan kitaㅡ"

"Bukan begitu. Aku bukannya ingin menyelidiki masa lalu Chanyeol. Aku hanya ingin tahu apa yang harus kuhadapi. Mantan kekasih Chanyeolㅡentah yang mana tampaknya tidak terima dengan pernikahan ini, dan entah dengan jalan cerdik apa berhasil menyusul ke pulau iniㅡ dia sedang dalam perjalanan kemari, dan sebentar lagi sampai."

"Apa?" Sunhwa memekik marah, "Apakah dia Rachel?"

"Ya, namanya Rachel."

"Rachelㅡoh Astaga." Suara Sunhwa tertelan di seberang.

Baekhyun mengernyitkan kening, tiba-tiba diserang perasaan buruk karena kediaman Sunhwa, "Ada apa? Kenapa kau terdiam?"

"Karena mantan kekasih yang kau hadapi adalah musuh yang paling berat." Sunhwa menghela napas panjang, "Rachel bisa dikatakan kekasih permanen sajangnim. Rachel adalah wanita keras yang mandiri, terlalu terobsesi pada sajangnim dan hubungannya dengan sajangnim hanya demi kenikmatan semata. Tetapi sepertinya dia tidak rela sajangnim menjadi milik orang lain, karena dia terbiasa memiliki sajangnim untuk dirinya sendiri. " Sunwhwa menghela napas panjang, "Dia sangat pandai mengintimidasi lawannya. Hati-hati, Baek. Jangan sampai kau tertekan di bawah auranya."

Baekhyun mendesah ketika pembicaraannya dengan Sunhwa berakhir. Ternyata mantan kekasih Chanyeol yang akan datang kemari adalah yang paling hebat di antara semuanya. Jantung Baekhyun berdetak penuh antisipasi. Menanti apa yang akan terjadi nanti.

.

Ketika wanita itu memasuki rumah, dengan koper- kopernya dibawa oleh para pelayan, Baekhyun yang berdiri di belakang Chanyeol merasa bahwa mimpi buruknya benar-benar datang. Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi wanita ini? Dia bagaikan dewi yang datang dari surga. Keseluruhan dirinya sangat sempurna. Dari caranya berpakaian yang berkelas, tubuh sempurnanya yang indah, bentuk wajahnya yang klasik dan sensual, dibingkai oleh rambut panjang indah berkilauan. Bahkan bentuk alisnyapun sempurna. Baekhyun mengamati diam-diam dan merasa letih tiba-tiba.

"Kenapa kau datang kemari?" Chanyeol yang menyapa Rachel duluan, sikapnya waspada dan tidak bersahabat.

Rachel menatap Chanyeol dan tersenyum manis, "Kenapa kau tidak kemari dan memelukku seperti biasanya, Yeol? Aku rindu pelukanmu." Suara Rachel terdengar rendah dan seksi. "Dan kenapa aku kemari? Itu karena aku merindukanmu. Aku pulang dari luar negeri dan menunggu panggilanmu. Biasanya kau akan menghubungi dan menemuiku, aku sudah tak sabar melewatkan waktu berdua denganmu. Tetapi kau tidak mengunjungiku. Lalu kudengar kau sedang ada di pulau ini, jadi aku menyusulmu kemari."

Rachel sudah jelas menyadari kehadiran Baekhyun di belakang Chanyeol, tetapi hal itu tidak membuatnya menahan kata-kata vulgar dan penuh rayuannya kepada Chanyeol. Apakah Rachel tidak tahu bahwa Chanyeol dan Baekhyun sudah menikah? Baekhyun menghela napas dan mengalihkan pandangan kepada Chanyeol. Suaminya itu tampak tidak suka dengan kata-kata Rachel. Chanyeol mundur, seolah menjaga Baekhyun dari sambaran Rachel, "Aku sedang berbulan madu. Dengan pasanganku."

"Oh?" Rachel tampak tidak kaget. Berarti wanita itu sudah tahu bahwa Baekhyun adalah pasangan Chanyeol, betapa kejamnya dia mengucapkan kalimat penuh rayuan tadi kalau begitu.

"Tidak masalah untukku." Suara Rachel terdengar manis, "Aku ingin bertemu denganmu, Yeol, bukan dengan pasanganmu." Dengan langkah anggun dia mendekat dan berdiri di depan Chanyeol dan Baekhyun. Matanya dengan sengaja menelusuri Baekhyun dari atas ke bawah. Baekhyun tentu saja tidak sama dengan Rachel, dia pria, pria biasa, tidak mengenakan baju rancangan desainer ternama, hanya mengenakan kemeja longgar berwarna putih dan celana jeans yang sudah memudar warnanya.

Senyum Rachel kemudian lebih seperti senyuman mencemooh, "Baekhyun bukan nama pasanganmu." Rachel tersenyum manis kepada Chanyeol, seolah tidak menganggap Baekhyun ada, "Aku ingat saat-saat manisku ketika aku mendengar nama Baekhyun." Senyum Rachel tampak penuh arti dan tatapannya menggoda penuh rahasia, yang seketika itu juga membuat wajah Chanyeol merah padam karena marah.

Rachel tertawa ketika melihat reaksi kemarahan Chanyeol yang diharapkannya karena sindirannya, dia mengedikkan bahunya ke arah tangga, "Kuharap pelayan bisa menunjukkan di mana kamar tamunya, aku lelah karena perjalanan ini. Mungkin aku akan istirahat dan tidur sejenak." Dengan nakal dikedipkannya matanya kepada Chanyeol, "Meskipun aku tidak akan menolak kunjungan singkat di siang hari seperti yang biasanya kau lakukan dulu, Yeol." Rachel membalikkan tubuhnya dan melangkah anggun. Meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang membeku di dalam keheningan. Keheningan tidak mengenakkan yang menyesakkan dada.

TO BE CONTINUED

::

::

::

Halo. Gimana chapter ini? Rachel udah mulai ganggu nihㅠㅠtp tenang aja, ini happy ending kok *bocor*

Entah kenapa, aku jadi pengen cepet2 ngelesaiin ff ini. Jadi, aku bakal mulai update seminggu sekali itupun kalo ga sibuk ya.

Oh iya, ada yg kritik soal aku ga nyantumin nama kak Santhy ya? Maaf ya, sebenernya ada di disclaimer, mungkin ga keliatan karena ga aku bold ya? Maafin kecerobohan akuㅠㅠsekarang udah aku cantumin yaaa. Terima kasih yang udh ngasi tau!:-)

Dan terakhir, terima kasih untuk foll/fav/rev-nya!