.
.
A/N = Jejeng! Apa kabar semuanya? Maafkan Karu karena baru muncul lagi ke permukaan FFN. Hehehe. Sebelumnya, Karu ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga puasanya lancar, ya. Amin!
Kemarin2 Karu lagi banyak sekali acara angkatan (jadi pusing), gara2 banyak acara, Karu jadi lupa deh mau update. Hehe. Kalau boleh jujur ya, sebenarnya Karu mungkin akan lupa selamanya jika tidak ada yang PM, loh! Wah, jadi terima kasih ya untuk yang PM dan juga review. Karu sudah balas PM satu per satu ya..
Okey, semoga para reader yang sudah menanti kelanjutannya memaafkan Karu yang update kelamaan dan semoga juga tidak kecewa dengan chapter special ini yang Karu janjikan dahulu (udah lama banget kayaknya). Seorang teman Karu kebetulan sudah baca chap 9 ini, dan katanya mungkin banyak yang kecewa karena ceritanya tidak sesuai harapan. Tapi, it's okay! Karu menulis ini untuk dinikmati bersama dan Karu sudah berusaha menuliskannya dengan semenarik dan seenak mungkin! Kiranya reader semua mengerti bahwa kadang ada chapter yang ceritanya sangat menarik dan ada juga yang biasa saja.
Yosh, itu dulu saja! Selamat Membaca! ^^
"The Magic School – My Lovely, Scarlet"
Fairy Tail Fanfiction
By Karura-Clarera
...
Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama
Rated: T Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action
Pairing: Jellal X Erza
Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo
20 Desember,
Hari memang bergulir cepat belakangan ini. Yeah, ini sudah bulan Desember dan sama sekali tidak terpikirkan oleh Erza apa yang spesial dari bulan ini. Dia memang selalu sibuk mengejar impiannya seperti biasa.
Hari sudah sore dan ini adalah hari Kamis. Jellal masih latihan khusus dengan senseinya. Jellal dan Hibiki terlihat lebih gigih belakangan ini. Erza tersenyum kecil melihat kegigihan mereka.
Kini Erza, berjalan santai di taman. Habis olahraga sore, hendak kembali ke kamar. Namun...
BZZ BZZ!
Sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Erza mendelik pada layar untuk mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.
'Kagura'
Erza menggenggam ponselnya dan menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Erzaaaa!" teriak Kagura dari ujung sana. Erza menjauhkan ponselnya jauh-jauh dari telinganya sebelum ia menjadi tuli.
"Ya, ada apa, Kagura?" tanyanya datar. Wajahnya sedikit redup akibat pikirannya yang kalut.
Kagura cekikikan dari ujung sana. "Rasanya Akaishi-kun sudah mulai lelah dengan penyamarannya, ya.." godanya yang membuat Erza mendecih.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya Erza seraya memijit-mijit tengkuknya yang terasa sedikit pegal.
"Oh ya." Kagura berdeham sebelum mengatakan hal yang ingin dia sampaikan, "Sebenarnya ada masalah buruk, Erza..." ungkapnya dengan ragu. Membuat Erza menghentikan langkah kakinya.
Erza menghela napas pelan. "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.
"Toosan memintamu untuk pulang."
Perkataan Kagura itu langsung membuat Erza serasa mendapat serangan jantung. Bagaimana mungkin? Pulang? Maksudnya?
"Apa maksudnya? Kau tahu, bukan? Aku tidak bisa pergi dari sekolah sihir Fairy Tail. Sebentar lagi aku juga akan mengikuti Ajang Double-S Class. Aku tidak bisa kembali ke Hargeon lagi dan menyerah pada usahaku menjadi penyihir selama ini." ucap Erza dengan keras tanpa disadarinya. Teman-teman yang berpapasan dengannya pun menatapnya heran.
"Toosan hanya rindu padamu dan ingin menghabiskan natal denganmu, itu saja." Terang Kagura. Mendengar itu, Erza jadi tertawwa kecil karena malu. Ia sangat takut kalau pamannya itu melarangnya untuk menjadi penyihir lagi.
"Ba-baiklah. Aku akan pulang liburan nanti. Mungkin hari Minggu aku akan berangkat ke Hargeon..." balas Erza dengan datar, "Hm, ya. Baiklah, sampai jumpa." Usai berbincang, Erza pun memutus sambungannya dan menaruh ponselnya di saku jaketnya lalu melanjutkan perjalanannya menuju asrama.
Semenjak Makarov meninggal dunia, Erza diasuh oleh pamannya – yang merupakan sepupunya Makarov – namanya Yajima, memiliki dua orang anak bernama Simon dan Kagura. Yajima tinggal di daerah yang sangat jauh dari Fiore, tepatnya di daerah Hargeon. Mereka sudah seperti keluarga inti bagi Erza. Hingga sekarangpun Erza dapat berada di Fairy Tail yang merupakan sekolah sihir elit dan cukup mahal ini berkat Yajima.
"Tadaima.." begitu sampai di kamar, Erza melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Ditengoknya isi rak itu dan sepatu Jellal tidak ada, menandakan Jellal yang belum kembali ke kamar. Kemudian ia melepaskan jaketnya dan hendak mandi dengan air hangat.
Erza pun melepaskan seluruh pakaiannya begitu di dalam kamar mandi, lalu segera memutar pemutar shower dengan riang. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kebahagiaan seperti ini.
"Hah, natal kali ini benar-benar membahagiakan..." gumam Erza di tengah air shower yang membasahi tubuhnya. Membahagiakan, karena pada akhirnya ia dapat mewujudkan impiannya.
Rasanya sudah sangat lama ia berada di sekolah ini, ia bertemu banyak teman. Ia juga mendapatkan bantuan juga dukungan dari banyak orang yang percaya padanya. Termasuk Jellal. Erza berpikir ia sangat beruntung karena bertemu dengan pria sebaik Jellal.
Usai setengah jam, Erza pun keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri-seri. Ia melirik ke arah dapur dan sedikit terlonjak kaget karena Jellal sudah berada di sana.
"Je-jellal!" seru Erza terkejut.
"Oh, maaf, aku mengagetkanmu." Sahut Jellal tanpa mengalihkan pandangannya dari microwave yang menyala.
Erza menghampirinya dan penasaran apa yang sedang dilakukan Jellal. "Sedang apa kau?" tanyanya sambil ikut memperhatikan microwave yang menyala itu.
"Tadi aku sempat mampir ke Carla Cafe dan membeli makan malam. Aku juga membelikannya untukmu." Terang Jellal datar. Erza beroh ria dan merasa sedikit heran. Tumben sekali Jellal terlihat sangat perhatian seperti itu.
"Kau sudah mandi?" tanya Erza.
Jellal mendecih, "Siapa yang mandi terlalu lama hingga aku mandi di kamar Gray, huh?" sahut Jellal pura-pura kesal. "apa yang kau lakukan di dalam, hah? Seperti wani-..." ucapan Jellal terputus begitu menyadari apa yang akan ia katakan itu. Sesaat ia malah membungkam dan menelan ludahnya sendiri.
"Jellal?" Erza menjentikkan jarinya di depan hidung Jellal. Pria berambut biru itu terkejut lalu geleng-geleng kepala. "Ada apa?" Erza semakin bingung. Jellal menatap Erza tak sengaja. Dan perlahan jantungnya mulai berdetak kencang lagi. Terlebih saat ia benar-benar baru menyadari selama ini ia telah berada satu kamar dengan Erza.
"Kau ini menyebalkan!" Jellal memalingkan wajah merahnya dan kembali memperhatikan makanan yang sedang dipanaskan di microwave itu. Erza memiringkan kepalanya karena bingung.
PING PING!
"Ah, biarkan aku saja yang menyiapkannya, Jellal." tawar Erza yang kemudian hendak membuka pintu microwave itu, namun Jellal langsung menepis tangan Erza.
"Kau duduk saja. Aku yang akan menghidangkannya." Ujar Jellal datar.
"Ta-tapi..."
"Cepat duduk!"
Erza pun menyerah dan memilih untuk menuruti Jellal. Erza pun terduduk di kursi makan dengan heran bertubi-tubi. Apa yang terjadi pada Jellal?
Melihat Erza, Jellal pun merasa sedikit bersalah. Ia memang sedikit sensitif ketika jantungnya berdegup kencang belakangan ini. Terlebih saat ia tahu bahwa insan yang ia sukai bukanlah seorang pria sungguhan, melainkan wanita. Sekali lagi, wanita! Ia berada satu kamar dengan wanita selama ini.
Jellal menghidangkan dua piring nasi curry untuknya dan Erza. Jellal pun duduk di hadapan Erza dan makan bersamanya. "Akaishi, apa kau sibuk saat natal nanti?" tanyanya di tengah acara makan malamnya.
Erza mengangguk setelah menyuapkan sesendok nasi curry itu ke dalam mulutnya. "Aku akan kembali ke rumah." Sahutnya tanpa menyadari ekspresi kecewa Jellal. "ada apa?"
"Ti-tidak ada apa-apa.." Jellal menyunggingkan senyum palsu untuk menyembunyikan rasa kecewanya. "omong-omong, dimana rumahmu? Jauh dari Fiore?"
"Begitulah. Rumahku ada di Hargeon. Kalau kau mau silakan mampir saja." Ucap Erza dengan tersenyum kecil. Sayang, senyum itu tidak menghapus kekecewaan Jellal.
"Sayang sekali..." gumam Jellal pelan.
Beralih pada Gray dan Loke yang sedang beres-beres kamar. Tumben sekali. "Hoi, Loke. Apa kau pulang ke rumah liburan natal nanti?" tanya Gray seraya menyulaki rak bukunya.
"Kau lupa rumahku dimana?" sahut Loke cepat.
"Eh, benar juga. Rumahmu di Inggris. Sangat jauh." Ucap Gray yang kemudian terkekeh sendiri karena lupa.
"Lagipula aku tidak ingin melewatkan acara Jellal di malam natal nanti. Hah, aku merelakan malam natalku hanya untuk Jellal." ucap Loke sambil berdecak-decak sendiri. "Bagaimana denganmu? Kau pulang ke rumah?"
"Tidak. Keluargaku berlibur ke Hawaii, aku tidak mau ikut karena terlalu panas. Jadi lebih baik aku di asrama saja." Sahut Gray tersenyum simpul.
Loke menghela napas setelah merapikan sepatu di rak sepatu dekat pintu. "Malam natal, ya... Malam yang hening dan damai, ulangtahun Jellal. Hah, hari ulangtahunnya dirayakan oleh semua orang. Bahagianya..."
Malam natal, 24 Desember, adalah hari ulangtahun Jellal. Hanya Gray, Loke, Natsu dan Gajeel yang mengetahuinya. Awalnya Jellal ingin mengajak Akaishi untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, Akaishi aka Erza harus kembali ke Hargeon. Sungguh disayangkan.
CHAPTER 9
~SPECIAL CHAPTER~
CHRISTMAS LOVE!
24 Desember,
Erza tiba di rumah Yajima yang terletak di Hargeon, kota pelabuhan besar yang cukup jauh dari Fairy Tail. Rumah yang besar namun bergaya Jepang kuno. Tamannya luas dan terdapat kolam ikan yang besar dan itu hanyalah sebagai hiasan depan rumah yang menyegarkan bagi Yajima.
"Tadaima." Seru Erza begitu tiba di dalam rumah. Kagura langsung berlari ke depan dan segera memeluk Erza.
"Hua, aku rindu padamu, Erza!" ujarnya seraya memeluk Erza erat-erat.
"Lepaskan, aku tidak bisa bernapas, tahu!" sergah Erza seraya berusaha melepaskan Kagura yang mencekiknya itu.
Beberapa detik kemudian, seorang pria tua dengan tongkat yang membantu jalannya itu menghampiri pintu depan dimana Erza dan Kagura berada saat ini. "Akhirnya kau pulang juga, Erza-chan." Ucap pria tua itu dengan pelan.
Kagura pun melepaskan pelukannya dan menoleh pada ayahnya itu.
"Tadaima, Yajima-ojisan." Ucap Erza seraya membungkukkan tubuhnya sesaat.
"Kau ini benar-benar tidak menggubris rasa kekhawatiranku, ya, Erza-chan. Kau sudah hampir tiga tahun pergi dari rumah ini dan tak kunjung kembali, bahkan kau juga jarang menelponku. Itulah mengapa aku akhirnya menyuruhmu pulang kali ini." jelas Yajima panjang lebar.
Erza merasa bersalah dan kembali membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. "Maaf, ojisan. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir."
"Aku tahu sekolah sihir itu sangat keras dan kadang melarangmu untuk pulang hanya karena peraturannya yang ketat." Tambah Yajima datar, "baiklah, aku tidak menyalahkanmu kalau jarang pulang. Yang terpenting kau sekarang akhirnya pulang dengan selamat. Okaeri, Erza-chan."
"Ya, ojisan."
Erza kemudian menuju kamarnya dan membereskan perlengkapannya.
TOK TOK!
Erza menoleh ke pintu yang sudah terbuka dan ada Kagura yang sedang berdiri dengan wajah berseri-seri di ambang pintu. "Oh, Kagura, masuk saja." Sahut Erza dengan seulas senyum.
Kagura pun masuk dan menutup pintu di belakang tubuhnya lalu terduduk di ranjang yang berada di dekat lemari pakaian. "Erza, saat ini kau sedang menjadi wanita atau pria?" tanya Kagura aneh. Erza meliriknya dengan heran. "maksudku, kau tetap menjadi Akaishi meski ini adalah hari libur?" sambungnya meluruskan.
Erza menghela napas dan menutup pintu lemari pakaiannya sebelum menjawab. "Yah, rasanya aku libur beberapa hari dulu dari Akaishi." Ujarnya yang kemudian beralih pada kopernya lagi.
"Hm, aku mengerti." Sahut Kagura sambil manggut-manggut, "kalau begitu mengapa kau membiarkan rambutmu itu tetap pendek?" kali ini Kagura menunjuk rambut merah Erza yang masih pendek seperti laki-laki itu.
"Apa maksudmu?" Erza berbalik tanya.
"Rambutmu pendek karena kau menggunakan sihirmu, kan? Maksudku, tidak usah menggunakan sihir itu lagi di sini, karena semua orang di rumah ini tahu rahasiamu, Erza." Terang Kagura dengan rinci. Hal itu membuat Erza sedikit tertegun.
"Baka.." cicitnya dalam tundukan. "rambutku pendek bukan karena sihir, aku memang memotongnya." Terangnya.
Mendengar itu, Kagura segera bangkit dari ranjang dan terkejut setengah mati. "Kau?! Memotong rambutmu sendiri, Erza..?!" tanyanya tidak percaya.
Erza hanya mengangguk dengan sendu. Sebenarnya ia memang sangat menyukai rambut merah panjangnya yang terlihat indah itu, tapi demi menjadi penyihir ia rela menggunting rambutnya.
"Kau ini bodoh, ya?!" teriak Kagura hingga terdengar ke seluruh ruang kamar. "kau memotong rambutmu, Erza? Kenapa?!"
Erza menghela napas, lalu menepuk bahu Kagura pelan. "Ini keputusanku, kuharap kau mengerti, Kagura." Terang Erza yang kemudian hendak keluar kamar, namun Kagura mencegahnya dan langsung mencengkeram tangan Erza agar gadis itu tidak pergi.
"Baka! Kau ini wanita, baka! Seharusnya kau menjaga rambut indahmu itu!" seru Kagura lagi, "kau tahu, kan, banyak orang yang iri dengan rambut merahmu?! Kenapa, kenapa, Erza?!"
"Kagura... kau kenapa?" Erza bingung.
"Ikut aku! Simon akan terkejut melihatmu seperti ini, tahu!" Kagura menarik Erza keluar rumah dan menuju ke salon yang letaknya dekat dengan rumah Yajima itu.
Erza yang pasrah ditarik Kagura itu merasa bingung setengah mati dibawa ke salon. "Kagura, apa yang kau lakukan, hah?!" cetus Erza begitu mereka sudah berada di dalam salon itu.
"Ada seorang stylish bernama Cancer di sini. Dia sangat terampil. Bahkan bisa memanjangkan rambutmu, meski kau telah memotongnya." Ungkap Kagura yang sedang mendaftarkan nama Erza pada resepsionis.
Erza tertegun. "Apa maksudmu?" tanyanya belum mengerti.
"Aku tidak nyaman melihat rambut pendekmu itu. Jadi selama berada di sini, kuharap kau memiliki rambut panjang seperti sebelumnya, begitulah."
Erza terdiam mendengar penjelasan Kagura itu. Benar, Kagura memang sangat feminim dan ia sangat memperhatikan penampilan. Bahkan Kagura juga sangat memperhatikan penampilan Erza, meski Erza hanyalah saudara angkatnya.
"Baiklah, aku mengerti." Ucap Erza dengan tersenyum kecil.
.
.
"Selamat Natal! Yey, malam natal akhirnya datang! Kali ini kita akan menyorot malam natal di Magnolia yang sedang diramaikan banyak pasangan malam ini..."
Acara televisi di malam natal ini membuat Jellal merasa semakin suntuk. Matanya berair karena ia menguap berkali-kali, ia sempat melirik jam dinding terdekat yang menunjukkan pukul 18.30. "Masih sore dan aku sudah sangat bosan." Gerutunya yang kemudian menguap. Kemudian ia berbaring di atas sofa depan televisi dengan mata menatap langit-langit putih. Kamar yang sepi, tanpa Akaishi aka Erza, sangat kosong, hampa dan membosankan bagi Jellal.
Sejak sore, Jellal hanyalah melakukan hal seperti ini. Sekali-kali ketiduran dan bangun-bangun kamarnya masih saja sepi. Mencoba untuk keluar dan bertemu temannya tapi...
Natsu: Maaf, Jellal! Aku ada kencan dengan Lucy sampai malam, sampai jumpa!
Gajeel: Aku juga ada acara konser di Fiore Art Tower. Shoo-bi-doo-bi-doo-Bop!
"Aku bahkan baru tahu kau bisa bernyanyi." Gerutu Jellal begitu Gajeel pergi meninggalkannya. Gray dan Loke pun sedang pergi entah kemana. Katanya sih, mereka sedang ada urusan. Tapi urusan apa, ya? Jellal juga tidak terlalu peduli.
Oleh sebab itulah Jellal memutuskan untuk berdiam sendirian di kamarnya sambil menonton siaran televisi yang tidak menarik tapi paling tidak membuat Jellal memiliki kegiatan. Jellal pun mematikan televisi dan memilih untuk tidur saja. Sial, malam natal yang indah bagi semua orang, hari ulang tahunnya, hari yang super spesial baginya, tapi semua orang sibuk dan melupakannya. Menyedihkan.
Sebelum ke tempat tidur, Jellal singgah di ruang belajar dan lagi-lagi ia membuka laci meja Erza. Dan ponsel dengan casing merah muda itu sudah tidak ada. Mengetahui itu, Jellal tersenyum simpul. "Jadi, itu milikmu, Erza.." gumamnya pelan, kemudian menutup laci meja Erza lagi. Jellal beranjak ke tempat tidur dan segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Ia tidak langsung tertidur, melainkan berkhayal sebelum tidur. Tiba-tiba saja ia teringat satu hal akan Akaishi yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri. "Yeah, jadi itulah kenapa kau sangat manis, Akaishi. Andai saja kau mengatakan kau adalah seorang wanita.."
Jellal benar-benar merasa sedang mabuk. Tertawa sendiri, senyum sendiri.
"Jangan berani-berani mengangkat kasurku, mengerti?!"
Perkataan Erza beberapa tempo lalu membuat Jellal terusik. Memang kenapa sih Erza sangat ketakutan seperti itu? Sampai-sampai Jellal tidak diperkenankan untuk melihatnya? Justru itu semakin membuat Jellal penasaran. Lagipula Erza juga sedang tidak ada, ia juga tidak tahu kalau Jellal membongkarnya.
Aksi Jellal pun dimulai. Ia mengangkat kasur Erza dengan gesit lalu mengambil novel-novel yang tersebar di bawah kasur itu. "Untuk apa ia menyimpan novel ini? Dia kan sering meminjam novelku, kenapa aku tidak boleh meminjam novelnya? Baka!" ujar Jellal pada diri sendiri. Ia mengambil beberapa buah novel dan ia mulai melihat-lihat.
Begitu membaca salah satu novel, wajah Jellal langsung merah padam bahkan ia sempat lupa bernapas saking shock-nya. "A-a-a-aka-ishi itu seorang wa-wanita, bu-bukan...? Di-dia adalah Er-erza.. tapi, mengapa ia membaca novel seperti ini?!" Jellal kemudian mengecek novel lainnya dan isinya adalah sama. Itu adalah novel dewasa, alias novel mesum yang biasa oleh pria dewasa. "aku tak menyangka Erza memiliki selera seperti itu. Mengerikan.." gumamnya setelah mengembalikan novel-novel itu ke tempatnya semula.
TOK TOK!
Pintu kamar Jellal terketuk dua kali. Jellal sedikit heran. Siapa yang mengetuk? Oh, jangan-jangan Akaishi. Jellal sudah meluncur ke pintu dengan riangnya. Ia pun langsung membuka pintu itu dengan berseri-seri, tapi langsung berubah sembilan puluh derajat begitu tahu siapa yang mengetuk pintu itu.
"Yahoo, Jellal!" seru Hibiki sambil melambaikan tangan dengan elegannya.
"Hai, Jellal-kun. Maaf mengganggumu!" tambah Eve.
Jellal cemberut begitu tahu bahwa Hibiki, Eve dan Ren lah sosok yang muncul di balik pintu kamarnya.
"Selamat malam natal, Jellal. Semoga kedamaian dan kebahagian menyertaimu selalu." Ujar Ren seraya mengulurkan tangannya.
Pemuda berambut biru itu malah melipat tangan di dada dan mendecih, "Iya, iya. Selamat malam natal. Lalu apa yang kalian bertiga inginkan? Jangan bilang hanya untuk mengucapkan selamat natal."
"Ah, tentu saja tidak. Kami juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun, Jellal. Panjang umur dan sehat selalu! Semoga kau berhasil memenangkan ajang Double-S Class bersama Hibiki-kun." Tambah Eve yang membuat Jellal menghela napas.
"Terima kasih. Aku kira kalian lupa hari ulang tahunku." Ungkap Jellal datar. Kemudian ia melirik Hibiki yang sedang menatapnya seraya tersenyum bersinar itu. "tidak perlu tersenyum aneh seperti itu, baka."
Hibiki terkekeh, "Jellal, kami bertiga akan pergi makan malam di Bezziana Restaurant. Kau tahu, kan? Restaurant bergaya Latin itu?" kata Hibiki seraya merajuk pada Jellal. Membuat Jellal sedikit jengkel.
"Heh, te-tentu saja aku tahu." Sahutnya pura-pura tahu. Padahal dia juga baru dengar ada restoran dengan nama aneh seperti itu.
"Bagus! Kalau begitu, ayo ikut!" ajak Ren seraya menarik Jellal keluar dari kamarnya.
"Baka! Aku ganti baju dulu kalau begitu. Tunggu aku." Terang Jellal yang kemudian kembali masuk ke kamar, menutup pintu keras-keras dan segera berganti pakaian dengan heboh. Setidaknya ia menghabiskan natal ini tidak seorang diri. Meski pasangannya adalah Hibiki, ia tetap bersyukur! "Terima kasih karena tidak membiarkan aku seorang diri, Tuhan!" gumamnya seraya berganti pakaian.
Usai berganti dengan mantel coklat muda dengan syal berwarna putih dan celana denim, Jellal pun keluar kamar. "Terima kasih sudah mengajak dan menungguku." Ungkap Jellal begitu keluar kamar dan mengunci pintunya lalu mengantungi kuncinya di saku mantel.
"Hoh, tidak usah malu-malu seperti itu kepada kami!" terang Eve bersemangat.
"Kami memang sejak awal ingin makan malam bersamamu, Jellal-kun." Terang Hibiki di saat mereka berempat berjalan beriringan menuju restoran yang dimaksud.
Jellal memiringkan kepala, "Heh, kenapa?" tanyanya.
"Karena kami mendapatkan voucher gratis. Dan voucher itu baru berlaku jika kita datang berempat. Selain itu, kami tahu kalau kau adalah satu-satunya di blok G yang tidak memiliki kegiatan apapun di malam natal yang indah ini." jelas Ren panjang lebar yang entah kenapa membuat hati Jellal seolah tertusuk pedang tajam.
"Tapi, malam ini sangat dingin, ya. Kukira angin tidak akan berhembus kencang seperti ini. Hah, aku lupa membawa topi rajutku!" keluh Eve seraya mengusap-usap rambutnya yang terasa sangat dingin.
Hibiki melemparkan sebuah topi rajut biru muda untuk Eve. "Pakailah, kebetulan aku membawa satu lagi." Ucap Hibiki datar.
"Terima kasih banyak, Hibiki!" Eve langsung memakai topi rajut itu. Hibiki membalas dengan seulas senyum kemudian ia melirik Jellal yang sedang menutupi mulutnya dengan syal.
PLUK!
Hibiki melepaskan topi rajut yang ia pakai dan dilemparkannya pada Jellal.
"Apa ini?" tanya Jellal bingung.
"Pakailah. Kau bisa sakit kepala jika membiarkan rambutmu kedinginan." Ucap Hibiki yang kemudian merapatkan mantelnya.
Jellal mendecih, ia kembali memakaikan topi rajut itu di kepala Hibiki."Aku tidak membutuhkannya. Kalau kulihat, kaulah yang lebih memerlukannya." Tutur Jellal datar. Hibiki pun mendengus.
Tak lama mereka berempat pun sampai di depan Bezziana Restaurant itu. Restoran yang bergaya antik dan didominasi dengan warna hitam-putih. Jendela-jendela besar mengantikkan restoran ini dan banyak lampu-lampu unik menghiasi. Jellal sedikit kagum melihat gedung restaurant tersebut.
"Kau akan tambah kagum kalau sudah masuk ke dalam, loh!" ucap Eve sebelum pada akhirnya mereka pun masuk ke dalam restoran tersebut. Jellal semakin penasaran bagaimana isi restoran itu.
"Selamat datang, tuan muda." Empat orang butler berjas rapi itupun menyambut Jellal dkk dengan membungkukkan tubuhnya hormat dan elegan. Jellal pun mengedarkan pandangannya pada ruangan dan benar saja, ia sangat mengaguminya. Di sudut ruangan terdapat panggung kecil dimana ada sekelompok orang yang memainkan musik klasik yang indah dan merdu. Mungkin restoran ini sangatlah ramai dengan pengunjung, namun restoran ini tetap terlihat nyaman dan lega berkat luas juga penataan ruangnya.
Seorang pelayan mengantarkan mereka ke meja yang telah dipesan oleh Hibiki. Jellal tercengang begitu menyadari siapa yang sudah ada di meja itu. "Ka-kalian..." katanya terbata.
"Selamat datang, Jellal!" balas mereka yang sudah duduk terlebih dahulu di kursi makan yang dipesan itu. Mereka adalah Natsu, Gajeel, Gray dan Loke. Jellal terkejut bercampur senang bercampur terharu.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah kalian bilang sedang sibuk masing-masing?" tanya Jellal sekaligus.
Mereka tertawa keras. Tepatnya menertawai Jellal. "Baka, kami hanya mengerjaimu. Kami hanya ingin membuatmu kesepian sesaat." Terang Gray santai.
"Jahat sekali." Gerutu Jellal. "jadi, kalian bekerjasama dengan Hibiki, dkk untuk menyukseskan rencana kalian, hah?" tanya Jellal seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Loke mengangkat bahunya. "Entahlah." Kemudian mereka tertawa bersama lagi. Jellal mendengus, namun akhirnya ia tersenyum lebar. "Terima kasih, kawan. Aku tak menyangka kalian merencanakan semua ini."
"Oh, ayolah. Seharusnya kau tahu mereka tidak mungkin melupakanmu, Jellal." Ungkap Hibiki tersenyum kecil.
"Awalnya Hibiki tidak mau, loh ikut dalam rencana mereka. Tapi, pada akhirnya Hibiki tersentuh dan mau melakukannya. Kau sekarang mengerti betapa baiknya Hibiki itu, kan?" kata Eve panjang lebar. Entah apa maknanya.
Jellal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hmph, maaf maaf." Sahutnya.
"Okey, karena kalian sekarang sudah menjadi kelas S+ dan satu kelompok untuk maju di Ajang Double-S Class, ayo foto berdua!" seru Natsu sambil mendorong-dorong Jellal ke dekat Hibiki.
"Eh, apa yang kau lakukan, baka?!" sergah Jellal.
"Sudah tradisi, tahu, yang menjadi kelompok S+ akan foto bersama! Tidak usah malu-malu!" sambung Ren sambil terkekeh bersama Eve.
Hibiki berdeham. "Akaishi bagaimana?"
"Oh, benar juga Akaishi tidak ada di sini. Hah, sementara dia diabaikan saja. Yang penting kalian yang foto bersama. Ayo merapat!" seru Gray yang sudah bersiap dengan ponsel untuk memotret Hibiki dan Jellal.
Jellal pun pasrah dan merapat dengan Hibiki untuk foto bersama. Wajahnya terlihat suram saat ini.
"Satu dua tiga! Cheese!" pekik Loke mengaba-aba. Meski demikian, Jellal tetap memasang wajah datar berbeda dengan Hibiki yang memasang wajah menawan.
"Gehee, yang penting Jellal foto bersama Hibiki." Cetus Gajeel dengan sesungging senyum.
.
.
Hargeon, Pukul 18.00
Usai pulang dari salon, beres-beres dan tidur sebentar, Erza keluar kamar dan mendapati kakak dari Kagura telah pulang dari kegiatannya bekerja.
"Oh, Erza, kau sudah pulang ternyata.." ucap pria itu, yang bernama Simon. Ia adalah kakak Kagura. Tubuhnya besar berbeda sekali dengan Kagura yang mungil dan imut.
Erza terdiam sesaat karena bingung menjawab apa. Simon dan Erza berbeda tujuh tahun. Saat ini Simon sudah bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan milik Yajima, ayahnya. Mengejutkannya lagi, setahun yang lalu Erza pernah menyukai Simon. Karena ia pintar, ramah, hangat dan begitu dewasa.
Meski begitu, cinta Erza hanyalah bertepuk sebelah tangan. Simon tidak pernah menganggapnya lebih, ia hanya menganggap Erza sebagai seorang adik kedua setelah Kagura.
"Kau terlihat kelelahan, ya." kata Simon lagi karena Erza tak kunjung menjawabnya. Simon mengusap rambut panjang Erza dengan seulas senyum. "kudengar kau menyamar menjadi seorang pria di sekolah sihirmu. Jadi, apa penyamaranmu sudah ketahuan?" tanyanya lembut dan perhatian. Erza merasa nada bicara Simon sangat jauh berbeda dengan nada bicara Jellal. Tapi mengapa justru pemuda berambut biru itu yang justru membuat jantung Erza berderap liar belakangan ini?
"Te-tentu saja sensei-sensei sudah tahu. Mereka kan penyihir handal, jadi tidak mungkin termakan oleh penyamaranku. Meski begitu, mereka menjaga rahasiaku dan membiarkanku untuk bersekolah di sana." Terang Erza panjang lebar.
Simon tersenyum lebar mendengar itu. Terlebih melihat wajah Erza yang berseri-seri saat menceritakan tentang sekolah sihirnya. "Hm, sepertinya Fairy Tail sangat menyenangkan, ya? Apa kau memiliki teman di sana? Hah, berarti temanmu pria semua, ya.."
"Benar, mereka semua pria." Sahut Erza.
"Apa ada temanmu yang sudah tahu penyamaranmu?" tanya Simon lagi cemas.
Erza tergelak, "Tidak ada! Tenang saja! Tak perlu cemas begitu, Simon-nii."
Pria berambut hitam itu mengangguk-angguk setelah menghela napas lega. "Aku cemas seorang temanmu mengetahui identitasmu dan mulai melakukan hal macam-macam padamu. Kau tahu, kan, pria zaman sekarang itu sangat lihai?!"
"Apa maksudnya lihai itu?"
"Yah, begitulah. Pokoknya hati-hati, Erza!" Simon menepuk kedua bahu Erza dengan seulas senyuman. Melihat senyum itu Erza sedikit bersemu merah karena wajah Simon begitu dekat. "oh, ya. Omong-omong aku ingin menonton pesta natal di Magnolia. Kau tahu, ada Festival Natal luar biasa malam ini di Magnolia." Ucap Simon antusias.
Erza berpikir sejenak mengenai Magnolia. 'Gawat! Magnolia adalah tempat terdekat dengan Fairy Tail!' pikir Erza dalam hati. "Oh, aku mengantuk sekali! Aku ingin ke kamar. Bye, Simon-niisan." Erza berbalik untuk menghindari Simon agar tak mengajaknya ke Magnolia. Namun Simon menarik baju Erza agar langkahnya terhenti.
"Kau bohong. Ayo, temani aku menonton festival itu!" ujar Simon seolah mutlak.
Erza menelan ludahnya. "Ke-kenapa aku? Ajak Kagura saja!" tolak Erza sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Simon di bajunya.
"Kagura sedang kencan dengan pacarnya, tahu." Balas Simon yang langsung membuat Erza tercekat. Maksudnya Erza baru tahu kalau Kagura memiliki pacar. "toosan sedang mendatangi pesta minum teh di rumah Warrod-sama. Jadi, hanya kaulah orang yang tidak sibuk di rumah ini." Erza dapat melihat senyum licik terukir di bibir Simon.
Gadis berambut merah itu menghela napas dan pasrah. "Baiklah, aku akan menemanimu. Aku ganti pakaian dulu." Kata Erza menyerah. Simon tertawa licik setelahnya.
"Oke, kita akan berangkat 15 menit lagi. Aku tunggu di ruang depan." Ucap Simon yang kemudian berlalu ke ruang depan. Erza menghela napas keras dan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Ia pun mengenakan mantel selutut berwarna baby pink dipadukan dengan rok selutut berwarna merah. Rambutnya pun ia biarkan tergerai bebas, mengingat sudah lama sekali ia tidak merasakan rambut panjangnya seperti ini, dan ia tutupi dengan topi bulu berwarna putih. "Yeah, ini lebih baik daripada diam sendiri di kamar saat malam natal." Erza tersenyum hambar. Tiba-tiba saja ia jadi teringat pada Jellal. "Apa ia akan sendirian juga malam ini?" tanyanya cemas. Dan beberapa saat kemudian ia langsung menampar pipinya sendiri. "mengapa masih memikirkan Jellal di saat seperti ini, baka!"
Lima belas menit kemudian Erza pun menuju ruang depan, tempat dimana Simon sudah menunggunya. "Okey, kita berangkat!" ucap Simon seraya mengeluarkan kunci mobilnya.
Mereka berdua pun memasuki mobil sedan putih milik Simon dan mobil itu melaju perlahan. "Memang festival natal itu dimulai jam berapa?" tanya Erza saat di dalam mobil.
"Jam sembilan."
"Heh, perjalanan ke Magnolia kan hanya memakan waktu satu jam. Untuk apa kita berangkat terlalu sore seperti ini?" tanya Erza heran.
"Aku ingin makan dulu, baka." Sahut Simon yang sambil fokus mengemudikan mobilnya itu.
Erza menggembungkan pipinya karena diejek baka. Ia pun memilih diam dan memandang luar jendela.
Satu jam kemudian, mereka sampai di Magnolia. Simon berhenti di depan restoran hamburger kesukaannya.
"Heh, kau ini masih suka memakan junk-food, ya?" Erza berdecak lidah.
"Oh, ayolah. Aku hanya memakannya seminggu sekali." Sahut Simon sambil terkekeh tidak jelas.
Erza kembali geleng-geleng mengingat bagaimana hidup tidak sehatnya si aniki angkatnya ini. Kurang lebih 45 menit mereka habiskan untuk makan kemudian mereka beranjak ke tempat Festival Natal di tengah kota Magnolia. Simon memarkirkan mobilnya di sebelah restoran Happy lalu berjalan ke dekat pintu masuk area festival.
RING RING RING!
Ponsel Simon berbunyi di tengah langkah kaki mereka menuju area yang sudah ramai dipadati oleh kerumunan pasangan muda itu. Simon meraih ponselnya dari saku mantel dan mengangkat telpon itu.
"Moshi-moshi?" ucapnya begitu menempelkan ponselnya ditelinga kanan. "hmm, siapa ini? ... Lisanna-chan?" mendengar Simon mengucapkan nama seorang wanita, Erza mendongak pada Simon yang kini berekspresi sangat cemas itu.
"Apa?! Dimana? Oke, aku akan ke sana!" Simon segera memutus sambungannya lalu menyimpan ponselnya di saku mantel.
"Ada apa, Simon-nii?" tanya Erza heran dan entah kenapa ia merasakan sesuatu yang berat membebani dadanya. Rasanya seperti sakit karena akan ditinggalkan atau bagaimana.
"Erza! Seseorang yang berarti bagiku masuk rumah sakit karena kecelakaan. Ia bekerja sebagai perawat dan malam ini ia lembur. Tapi, saat ia keluar rumah sakit, ia tertabrak mobil dan sekarang di UGD Magnolia Hospital." Jelas Simon panjang lebar dan susah payah. Entah kenapa napasnya jadi tidak teratur begitu saking paniknya.
"Oh, aku tahu rumah sakit itu. Aku akan mengantarkanmu, Si-.."
"Tidak usah. Aku membawamu ke sini hanya untuk festival ini. Kau silakan menikmati festivalnya dan aku sendiri yang ke rumah sakit. Beberapa jam lagi aku akan menjemputmu, okey?" potong Simon yang terdengar mutlak. Beban di dada Erza itu semakin terasa dan suaranya terasa hilang dari tenggorokannya.
Erza memaksakan senyum palsunya dan mengangguk, "Aku mengerti. Aku akan menunggumu di sini." sahut Erza pengertian. Usai berkata terima kasih dan memberikan seulas senyum, Simon segera berlari menuju mobil dan segera melesat ke Rumah Sakit.
Di tengah ramainya gadis-gadis muda yang menggandeng kekasihnya, Erza berdiang di tengah-tengahnya... sendirian... bahkan sebenarnya ia sama sekali sudah tidak tertarik menyaksikan festival natal yang terlihat meriah.
Gadis berambut merah itu meremas tali tasnya erat-erat untuk mengenyahkan perasaan sakit di hatinya. Simon memang selalu begitu. Ia pura-pura peduli di depannya, tapi kenyataannya ia sama sekali tidak peduli.
Erza berbalik dan ingin meninggalkan area festival. Namun, di saat berbalik, angin berhembus kencang dan menerbangkan topinya entah kemana. Jatuh di depan kaki seseorang. Erza berlari mengejar topinya dan ia tercekat mendapati seorang pria yang telah memungut topi bulu putih itu dari jalan aspal dan menyodorkan padanya.
"Ini milikmu, nona?" ujar pemuda itu datar. Erza tidaklah melihat topinya, melainkan wajah pemuda itu. Jantungnya mulai berdetak kencang dan wajahnya mulai memanas meski hembusan angin dingin membelai pipinya.
Tak hanya Erza, pemuda itu juga terlihat sedikit tercekat mandapati siapa yang ada di hadapannya. Mereka saling bertatapan diam dalam waktu cukup lama. Setidaknya waktu yang mereka butuhkan untuk mencerna kejadian tak terduga ini.
Jellal. Itulah sang pemuda yang memungut topi Erza.
"Kau... Erza?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Jellal begitu saja. Entah, mengapa ia harus bertanya dan mengapa ia begitu berharap bahwa gadis di depannya adalah benar-benar Erza alias Akaishi.
Malam natal ini memang untuk pertemuan mereka!
.
.
Magnolia, Bezziana Restaurant
20.30
Loke sudah mabuk tidak jelas bersama dengan Ren dan Gray. Sebenarnya Jellal menjadi bingung, mengapa acara makan malam ini menjadi acara mabuk-mabukkan bagi ketiga insan itu?
"Aku ditinggalkan Karen! Huaaa!" teriak Loke sambil memukul-mukul meja cukup keras. Beberapa orang di sekitarnya melirik Loke dengan bertanya-tanya. Gray yang setengah sadar dan mabuk itu membekap mulut Loke dengan tangannya.
"Diam kau, Loke buaakaa! Sudah sepantasnya wanita meninggalkanmu, playboy buaka!" sahut Gray ngelantur. Berbeda dengan Ren yang tertidur di kursinya sambil ketawa-ketawa sendiri.
Gajeel dan Natsu juga ketiduran di kursinya. Eve masih memakan hidangan penutup tanpa terusik dengan teman-temannya sedikitpun. "Hmm, Panna Cotta ini sangat enak! Hah, enak!" tuturnya berulang kali.
Jellal menghela napas. Hibiki yang duduk di sebelahnya pun menoleh padanya. "Kurasa ini adalah malam natal dan ulangtahunmu yang sangat kau nantikan." Tutur Hibiki membuka pembicaraan. Jellal kembali menghela napas.
"Dinantikan apanya.. aku biasa saja." Terangnya seadanya.
Hibiki nyengir tiba-tiba. "Halah, kau menantikan menghabiskan malam ini dengan wanita tercintamu, bukan? Maksudku kalian satu kamar, jadi kesempatan besar untuk menghabiskan malam bersama."
Mendengar pernyataan Hibiki itu, Jellal segera membekap mulut Hibiki dengan panik, takut Eve dan yang lain mendengar. Ia pun menengok-nengok pada Eve, Ren, Gray, Loke, Gajeel dan Natsu bergantian. Syukurlah, rasanya tidak ada yang mendengar perkataan Hibiki barusan.
"Jaga bicaramu, baka! Jangan sampai yang lain tahu Akaishi itu adalah Erza." Desis Jellal mencoba dengan suara sekecil dan seefektif mungkin didengar Hibiki.
"Tidak akan ada yang menyadarinya." Ujar Hibiki menenangkan.
Jellal pun menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Mendengarkan lantunan nada biola sesaat dan kembali berbicara, "Sebenarnya aku ingin mengatakannya hari ini..."
Hibiki yang sedang menyeruput minuman anggurnya melirik Jellal sesaat dan menaruh gelas piala di meja lagi usai meneguknya. "Mengatakan apa?" tanyanya datar.
"Aku mengetahui penyamarannya.."
"A-apa?" Hibiki terkejut.
"dan tahu kalau dia adalah Erza."
"Apa?!" Hibiki tambah terkejut. "kau tidak bercanda, bukan?!"
Jellal menaikkan sebelah alisnya dengan wajah kesal, "Memang aku terlihat bercanda?"
"Bu-bukan begitu maksudku. Jadi, kau bermaksud memberitahukannya pada Akaishi alias Erza?" tanya Hibiki dengan nada meninggi tapi masih dengan suara pelan agar Eve tidak mendengar.
Pemuda berambut biru yang ada di hadapannya kini menunduk sesaat, terdiam dan berpikir sejenak. "Aku merasa itulah yang seharusnya kulakukan." Terangnya.
Hibiki menyisir rambutnya dengan tangan kirinya sambil menghela napas. "Apakah Erza akan tetap seperti biasa jika kau memberitahukannya?" tanyanya dengan nada pelan. Ia pun melirik Eve yang tengah bersenandung sambil berselfie ria itu.
"Yah, kurasa begitu."
Hibiki menggeleng-geleng pelan lalu menatap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Hah, tak terasa sudah malam. Ayo kita pulang." Ucapnya menoleh pada Eve.
"Okey, ayo kita kembali ke asrama!" seru Eve bersemangat.
Jellal pun bangkit dari kursinya dan membangunkan temannya yang tertidur satu per satu. Begitupula Hibiki dan Eve. Namun baik Natsu, Gray, Gajeel, Loke, maupun Ren tidak ada yang sadar dari kemabukan mereka. Eve, Hibiki dan Jellal memutuskan untuk menggotong mereka bersama-sama. Eve membopong Loke, Hibiki membawa Ren dan Gajeel, Natsu dan Gray pun dipapah oleh Jellal. Mereka keluar restoran dengan susah payah dan di pinggir jalan Eve mencegat sebuah taksi bermuatan tujuh orang.
Begitu berhasil memasukkan semua orang mabuk itu ke dalam taksi, Eve duduk di bangku sebelah supir dan Hibiki di kursi baris kedua. "Jellal, kau tidak apa jalan sendirian ke asrama?" tanya Hibiki begitu Jellal mengatakan Hibiki saja yang masuk ke dalam taksi – sebab tidak cukup kursi.
Pemuda berambut biru itu tersenyum tipis dan mengangguk, "Bukan masalah. Lagipula aku penasaran dengan festival natal yang ramai di sana itu." Jellal menunjuk area festival yang sedang diramaikan pasangan-pasangan muda.
Hibiki menoleh sesaat pada area festival yang berada tidak jauh dari restoran Bezziana ini, "Hm, begitu. Ya sudah, kalau begitu hati-hati, Jellal." ucap Hibiki seraya melambaikan tangan.
"Hati-hati, Jellal-kun!" tambah Eve yang juga melambaikan tangan melalui jendela yang terbuka di sisinya dari dalam mobil.
Jellal membalas lambaian tangan itu sampai akhirnya mobil taksi itu melaju dan hilang dari pandangannya. Ia pun menghela napas di saat kesendiriannya. Jellal memutuskan untuk berjalan ke festival natal yang sedang digelar itu dan dengan jelas ia melihat orang disekelilingnya yang tengah bergandengan dengan pasangannya sementara Jellal memasukkan tangannya di saku mantelnya.
"Sayang, aku ingin membeli gulali di festival itu." ucap seorang gadis pada kekasihnya – yang tak sengaja didengar oleh Jellal.
"Tenang saja, sayang. Kita akan membeli apapun yang kau suka." Sahut sang pemuda yang merupakan kekasih gadis barusan. Lalu terlihat gadis itu kegirangan.
Entah mengapa Jellal merasa sedikit murung melihat adegan sekilas barusan. Yeah, ia memang sendiri saat ini. Sebenarnya memang bukan hanya dirinya yang seorang diri, karena festival ini dibuka untuk umum. Tapi tetap saja kebanyakan pengunjung festival ini adalah pasangan kekasih yang mesra-mesraan.
Angin dingin berhembus kencang tiba-tiba. Jellal menghentikan langkahnya karena tak sengaja ia melihat sebuah benda terbang di udara dan ia penasaran apa itu.
Jellal menyipitkan matanya, begitu benda itu jatuh di dekat kakinya dan ternyata itu adalah topi wol berwarna putih yang feminim. Jellal sempat mendengar suara langkah kaki yang berlarian ke arahnya, sang pemilik topi.
Jellal membungkuk sedikit, memungut topi itu lalu mengkibas-kibaskannya untuk membersihkannya dari debu. Kemudian Jellal mengulurkan topi wol itu pada seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. Dan di saat itulah jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.
Suara orang-orang disekitar mereka bagaikan pudar dan kabur untuk beberapa saat, saat kedua mata mereka bertemu. Pemuda berambut biru itu mematung dengan ekspresi tidak percayanya.
Erza.
Satu kata itulah yang membuat Jellal yakin kebenarannya. Di depan matanya, Erza, sungguh Erza. Benar-benar Erza, yang selama ini ada satu kamar dengannya. Mengapa ia bisa berada di sini?
"Kau... Erza?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Jellal begitu saja. Entah, mengapa ia harus bertanya dan mengapa ia begitu berharap bahwa gadis di depannya adalah benar-benar Erza alias Akaishi.
Erza mengedipkan matanya dengan bingung. Ia menerima topi itu dan kembali menatap Jellal yang masih mematung. Jellal mengenalinya!
"Ka-kau mengenalku?" hanya itu yang dapat ia utarakan kali ini. Ia tak berani berkata yang lain, takut Jellal akan mengetahui bahwa ia adalah Akaishi.
Sepintas Jellal berdeham pelan dan membuang muka. Sebelah tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. Tingkahnya sangat tidak wajar. Apakah ia sedang salah tingkah?
"Ka-kau... adik dari Laxus yang terkenal itu... kau juga masuk majalah beberapa tempo lalu. Bagaimana aku tidak mengenalmu?" terangnya sambil tertawa kecil. Melihat Erza yang tidak merespon, Jellal mengulurkan tangan kanannya. "perkenalkan, namaku Jellal Fernandes. Aku adalah penyihir kelas S+ Fairy Tail. Senang berkenalan denganmu,... Er-za."
Matanya berbinar dan menantikan balasan dari Erza. Sejuta pertanyaan menyelimuti otaknya, mengapa Erza? Mengapa ia bisa di sini? Apakah ini benar Akaishi, teman sekamarnya selama ini? Apakah ini orang yang sama? Atau...
"Senang berkenalan denganmu juga, Jellal-san. Seperti yang kau katakan sebelumnya, namaku adalah E-erza." Kata Erza seraya membalas uluran tangan Jellal. Susah payah ia menyebutkan nama aslinya sendiri. Sungguh aneh.
Tangan mereka saling bertautan dalam waktu cukup lama dan waktu yang cukup lama itu mereka habiskan dengan memandang satu sama lain.
'Akaishi.. apakah ini benar dirimu? Apakah kau benar-benar Erza?' batin Jellal dalam hati.
'Jellal... Apakah kau telah mengetahui penyamaranku, Jellal?' tanya Erza dalam hati.
.
.
Dan... akhirnya mereka berdua menyaksikan festival itu berduaan. Jellal berjalan beriringan dengan Erza di sebelahnya. Festival ini sangat ramai dikunjungi dan mereka sedikit kesusahan berjalan. Di tengah festival itu, Erza sempat terpisahkan dengan Jellal dan tertinggal, untunglah Jellal menyadarinya dan segera menggandeng tangan Erza.
"Festival yang sangat ramai, bukan?" ucap Jellal yang kemudian memasukkan tangan Erza ke dalam saku mantel bersamaan dengan tangannya sendiri.
Erza segera memalingkan wajahnya yang bersemu merah. "Hm, ya..."
Usai menonton pawai natal dan membeli gulali, mereka berdua keluar dari kerumunan dan memilih untuk mengobrol di taman terdekat dimana dikelilingi pagar pembatas dan pemandangan langit indah yang menaungi atas kepala.
Taburan bintang di atas langit itu begitu indah, membuat Jellal dan Erza yang melihatnya di pinggir pagar pembatas terkesima. Jellal menyandarkan tangannya di atas pagar pembatas dan Erza melihat bintang seraya mengunyah gulali yang ada di tangannya.
Jellal memandang Erza yang melihat ke langit. Wajahnya lucu sekali kalau sedang bahagia, batin Jellal. "Kau menyukai bintang?" tanya Jellal membuka pembicaraan.
Erza menoleh pada Jellal dan wajahnya mulai bersemu merah lagi menyadari Jellal yang sedang menatapnya dengan intens. "Hm, begitulah." Sahut Erza tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya pada langit lagi. Degup jantungnya yang sangat merdu itu terdengar sampai telinganya dan Erza tak dapat meredamnya. Bagaimana jika Jellal mendengarnya? rutuknya dalam hati.
Pemuda berambut biru itu menghela napas pendek lalu ia membalikkan tubuhnya, menyenderkan punggungnya pada pagar pembatas lalu menatap nyalang ke langit di atasnya. "Aku.. juga menyukai bintang.." tuturnya pelan.
"Benar juga. Sihirmu juga berhubungan dengan bintang, kan?" kata-kata itu meluncur dengan bebas dari mulut Erza tanpa disadarinya. Jellal menoleh padanya dengan datar. Erza pun salah tingkah karena keceplosan. Seharusnya Erza tidak mengetahuinya, bodoh. Batin Erza. "Ahhh, aku pernah membacanya di majalah sihir yang memuat artikel tentangmu." Ucap Erza menutupi. Ia pun cengingisan setelahnya.
Jellal terdiam untuk beberapa saat, membuat Erza semakin canggung. 'Dia benar-benar Akaishi.' Jellal tersenyum simpul dan ia tidak meresponnya. Pura-pura tidak tertarik dengan pernyataan Erza itu. Ia pun tersenyum simpul begitu melirik Erza yang sedang menghela napas seraya mengusap-usap dadanya sendiri.
"Oh, ya, Jellal." Erza membuka mulutnya lagi setelah beberapa saat. "maaf karena aku tidak membalas email-mu." Ucapnya.
Jellal memiringkan kepalanya, "Email?"
Erza mengangguk. Ia merogoh saku mantelnya dan menunjukkan email yang dimaksud kepada Jellal.
Jellal mendekatkan matanya pada ponsel yang ditunjukkan Erza dan membaca pesan itu. "Kapan aku pernah mengirim pesan seperti ini?" gumam Jellal yang terlihat seperti komat-kamit tidak jelas bagi Erza. 'Ah, sial. Ini pasti ulah Natsu. Awas kau, Natsu!' umpat Jellal dalam hati begitu menyadari Natsu-lah yang pasti mengirimkan pesan itu. Ia yakin seratus persen.
"Ho-oh, tidak apa, Erza-san." Ucap Jellal sambil mengacak-acak rambutnya. "lagipula, aku juga mengerti kau adalah orang yang sibuk." Tambahnya. 'tepatnya sibuk di Fairy Tail Magic School.' Imbuh Jellal dalam hati.
"Hm, baiklah. Terima kasih pengertiannya, Jellal-san." Balas Erza dengan lembut.
'Apa ini saatnya aku mengatakan yang sebenarnya?' tanya Jellal dalam hati. Ia kembali menatap Erza yang masih mendongak pada langit.
"Er-erza-san..." ucapnya tergagap. Keraguan masih menyelimuti keinginannya untuk mengatakan hal mengenai rahasia Erza.
Erza menoleh pada Jellal lagi dan menatap Jellal dengan bertanya-tanya, "Ada apa?" tanyanya.
'Haruskah... tapi, apa gunanya juga aku mengatakannya? Bagaimana jika Akaishi akan berubah dari biasanya dengan aku mengetahui penyamaran dirinya yang sebenarnya?' perasaan ragu dalam diri Jellal mulai berkecamuk. Yeah, ia tidak tahu apakah ini tepat dilakukannya atau tidak. "Hmm, Erza-san... sebenarnya.." ucapan Jellal sempat tersendat lagi untuk sesaat. Kini Jellal memalingkan wajahnya dari Erza.
"Sebenarnya?" tanya Erza semakin penasaran.
'Ayolah, Jellal.. tidak seharusnya kau menutupi sesuatu dan mencampuri urusan pribadi seseorang. Hah.. apa yang harus kulakukan..' Jellal kembali merutuk dirinya sendiri dalam hati.
"Je-jellal...?"
'Ini yang terbaik. Memang seharusnya aku menjelaskan yang sebenarnya dan tidak menutupi hal ini lagi.' Tekadnya dalam hati. Ia pun kembali berdiri tegap dan memandang Erza setelah menghela napas.
"Erza... sebenarnya aku... aku.. aku.."
BZZ! BZZ!
Ponsel Erza bergetar, Erza segera meraih ponselnya dan dilihatnya siapa yang menghubunginya. 'Simon'
"Angkatlah." Ungkap Jellal menyilakan.
Erza pun mengangguk dan mengangkat panggilan dari Simon. "Ya, Simon?" ucapnya begitu menempelkan ponselnya di telinga.
"Erza, aku sudah ada di parkiran yang tadi. Sudah larut, ayo kita pulang." Ujar Simon dari ujung sana.
Erza mengangguk, "Ba-baiklah, tunggu sebentar aku akan ke sana." Ucapnya. Setelah itu, Erza memutus panggilan dari Simon dan segera menaruh ponselnya di saku mantel lagi. "Ma-maafkan aku, Jellal-san. Kakakku sudah menyuruhku untuk segera pulang." Terangnya pada Jellal yang tidak bergeming.
"Hm, begitu.."
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Erza untuk terakhir kalinya.
'Rasanya ini bukanlah momen yang tepat.. kurasa Tuhan tidak mengijinkanku untuk mengatakannya saat ini..' Jellal tersenyum simpul dengan samar, "Bu-bukan apa-apa, Erza-san. Lagipula bukanlah hal penting." Akunya menutupi.
Erza memiringkan kepalanya sesaat, namun ia pun menyerah untuk penasaran. "Hm, baiklah kalau kau memang tak ingin mengatakannya." Ucapnya. "terima kasih untuk hari ini, Jellal-san. Maaf telah merepotkanmu. Maaf karena aku harus pergi meninggalkanmu duluan."
"Ah, tak apa, Erza-san. Aku senang bisa menghabiskan waktu denganmu." Perkataan Jellal barusan membuat Erza bersemu merah kembali dan degup jantungnya tak karuan lagi. Entah, perpisahan kali ini terasa menyenangkan atau menyedihkan. "dan, panggil saja aku Jellal. Tidak perlu dengan embel-embel –san." Imbuhnya.
Erza tersenyum tipis. "Baiklah, Jellal. Kau juga panggil aku Erza." Sahutnya. "baiklah kalau begitu, sampai bertemu lagi.. Jellal.."
"Ya, sampai bertemu lagi, Erza." Mereka pun saling memandang untuk terakhir kalinya sebagai Erza dan Jellal. Erza melambaikan tangan kemudian berlari meninggalkan Jellal.
Pemuda berambut biru itu membalas lambaian tangan dan perlahan Erza mulai menjauh sampai akhirnya menghilang dari pandangannya. Malam natal ini.. malam ulang tahunnya.. malam yang ingin ia habiskan dengan gadis yang ia sukai.. Akhirnya terwujud.
"Ini seperti mimpi.." gumamnya pelan. Benar-benar mimpi, yang hanya lewat dalam malam natalnya...
CHAPTER 9 END!
Bagaimana bagaimana? Silakan tulis pendapat kalian di review. Dan sebagai tanda menyesal karena telat update, Karu update sampai chapter 10. Selamat membaca chapter 10! ^^
BALASAN REVIEW CHAPTER 8
CN Scarlet = Waah, maaf yaa aku baru update lagi! Hehe. Semoga tidak kecewa dengan chap ini. Terima kasih untuk reviewnya! ^^
nuruko03 = Ohh, tenang, Nuruko-san. Nanti pengakuan Jellal kalau dia udah tau Akaishi itu Erza ada di chapter2 belakang, kok. Rasanya belum tepat kalau saat ini. Karu sudah memikirkannya.. Hehe. Terima kasih untuk review dan dukungannya, ya! Semoga tidak kecewa dengan chapter ini.. ^^
Ailasca-chan = Terima kasih banyak ya untuk reviewnya! Semoga tidak kecewa dengan chap ini. Hehe. ^^
Scarlet (Guest) = Untuk saat ini, mungkin Laxus belum tahu. Okey, Karu akan usahakan ya ngebanyakin moment Jerza dan juga Erza Hibiki. Karena Scarlet-san menyebut nama Lisanna, jadi kepikiran munculin Lisanna di chap ini tuh. Hehehe. Semoga ga kecewa dengan chapter ini, ya. Terima kasih banyak untuk reviewnya! ^^
tamiino = Iyaa nih, buat chapter romen. Hehe, semoga ga kecewa ya dengan chapter romen ini. Ga baik kalau dibuat canggung terus hehe. Okey, Makasih ya untuk reviewnya! ^^
jelza (Guest) = Sudah dilanjut, yaa. Maaf banget karena baru update.. Hehe, terima kasih banyak ya reviewnya! ^^
syivha (Guest) = Maaf ya, baru dilanjut ceritanya setelah sekian lama. Hehe. Terima kasih ya untuk review dan dukungannya! ^^
Ryou419 = Okey, semoga chap ini ga terlalu mengecewakan, ya. Kutunggu reviewnya lagi, terima kasih untuk reviewnya! ^^
cacao = Waah, maaf, ya sudah buat nangis. Hehe ^^ Ya, sepertinya Karu memang JerZa lover, nih. Hehe. Okey, terima kasih ya untuk reviewnya! Semoga tidak bosan mengikuti cerita ini! Hehe ^^
