CHAPTER 09.
oh my gosh...
udah sepanjang ini??
O.o
makasih lagi buat yang setia baca dan review...
many many much pisan hatur thank you...
X3
eh, ada yang sadar kadar tampil Sasuke berkurang ga...?
maaf ya..., kalo ada yang kecewa...
di chapter selanjutnya, dia eksis lagi dah!
makanya..., baca terus ya...
:p
maaf juga kalo ada yang ga disuka dari fic ini...
namanya juga Yvne amatir...
hampura euy...!
Dx
TOLONG BILANG KALO KALIAN UDAH BOSEN BACANYA.
I'll end up writing it, if you want.
lagi-lagi ga nemu lagu yang pas...
huweee!!
X(
Naruto buka punyanyah sayah.
WARNING
OOCness, hha...
"Duduklah.", Tsunade memerintah pirang lainnya yang sedang menghadap.
"Ada apa, Tsunade-sama?", Yamanaka muda bertanya setelah duduk di seberang meja kekuasaan Hokage.
Tsunade membuka sebuah map yang ia selipkan di antara tumpukan map lainnya. Map itu segera ada di hadapan Yamanaka muda, terbuka untuk dibaca. And after the reading, I can tell that it wasn't an ordinary-file...
"Tapi..- Bagaimana anda...??", Ino menatap sang Hokage heran.
Tsunade merebahkan badannya ke kursi dan menyilangkan tangannya, bermuka serius, "Aku Hokage, Yamanaka. Dan untuk mengingatkan, aku juga seorang ninja medis."
Ino membiarkan pandangannya kosong, tapi lalu menatap dengan nyala di matanya, "Kalau begitu kita harus memberitahunya!!"
Kali ini Tsunade mengerutkan alis, "Jangan gegabah, nona muda. Ini baru perkiraan, kita tidak bisa 'menyerang' dengan keyakinan hanya 50-60 persen."
Ino terlihat bernafas engah, "62 persen sudah cukup, Hokage-sama...! Kita bisa membuat Sakura tahu...-"
"Aku bilang jangan gegabah!"
"-...siapa ayah asli dari bayi di dalam kandungan Taira!!"
Spotted at Hokage's Office ; the blondies held a secret that could 'save' our avenged prince. Bet you all wanna know who's the father of Taira's bump as big as I do... But it's later, in a full different story...
"Hai, Sakura...!!", Taira berjalan mendekati Sakura yang memucat, "Sedang apa kau di sini...??"
Sakura berusaha mencari jawaban. 'Hanya melihat-lihat' tidak lagi akan berhasil di sini. Ia menjawab, "Aku... sedang mencari hadiah untuk kelahiran anakmu- maksudku, anak kalian..."
Taira tersenyum lebar, "Oh... Kau baik sekali, Sakura...!"
Sakura tersenyum.
Seketika itu Taira melihat sosok Tsukihiro, "Dan aku lihat kau membawa teman..."
Sakura berpaling, "Oh, ya. Taira, ini Tsukihiro. Tsukihiro, ini Taira..."
Kedua orang itu berjabat tangan dan memperkenalkan diri sekali lagi.
"Em... Permisi nyonya, ini baju yang anda minta...", seorang pegawai bicara pada Taira.
"Oh iya iya! Semuanya, aku mencoba baju dulu ya...!", Taira menerima baju yang pegawai tadi berikan, "Sasuke-kun, kau bisa bantu aku...?"
Sasuke menatap Taira, "Tidak."
Taira memincingkan mata sinis dan berjalan ke arah fitting room.
"Uchiha-san.", Tsukihiro menyapa sopan dengan balasan anggukan Sasuke.
Sakura merasa inilah saat yang tepat untuk segera pergi dari kondisi 'aneh' itu. Dengan cepat, ia mengambil sepatu mungil yang ia pegang tadi, "Aku mau bayar ini, dan langsung pulang. Sampaikan salamku pada Taira, Sasuke..."
"Aku antar.", Tsukihiro menawarkan.
Sakura terdiam untuk beberapa saat. And again with the bittersweet answer..., "Baiklah."
Sasuke memandangi Sakura cukup lama. Terus sampai dua sosok itu berjalan ke meja kasir. Terus sampai Tsukihiro membayar sepasang sepatu yang Sakura pilih. Terus sampai mereka menghilang ke balik pintu. Terus sampai...
"Sasuke-kun, bagaimana menurutmu??", Taira berputar di depan cermin.
Sasuke tidak melihatnya sedikit pun, "Hn."
'Cause the ice-cube only melt to a blossoming lady...
"Sudah sampai...", Sakura berbalik ke arah Tsukihiro, melihatnya mengangguk pelan, melihat dari kejauhan Ino berjalan ke arahnya.
Sakura melihat Tsuki kembali, "Aku akan menghadiahkan ini atas namamu...", ia melihat ke arah bungkusan rapi yang berisi sepatu pilihannya.
Tsukihiro tersenyum, "Kau yang memilih, pakai saja namamu..."
Sakura menggeleng, "Tidak... Aku..-"
"Kalau begitu namakan saja kita berdua.", Tsukihiro memotong. Sakura menahan nafas.
"Aku tidak akan menamakannya, bagaimana kalau begitu...?"
"Saku!!", Ino yang sudah dekat melambaikan tangan, "Dan... Tsukihiro...", sambungnya ketika sudah mencapai posisi mereka berdua.
"Hai, Ino...", Tsukihiro membalas, "Aku rasa aku harus pergi sekarang.", ia mulai berpamitan.
"Oh, baiklah. Ya...", Sakura tersadar kembali, "Terima kasih sudah mengantar, dan sepatunya...", Sakura tersenyum, "Sampai nanti, Tsuki."
"Sampai nanti, Sakura, Ino.", dan dengan itu, Tsuki berjalan menjauh.
Ketika jaraknya sudah 'aman', Ino memberi Sakura tatapan tanya.
"Apa? Ia hanya mengantar, Ino...", Sakura membuka kunci pintu rumahnya.
Ino menaikkan alis.
"Dan sedikit membantu dalam memilihkan hadiah untuk kelahiran bayi Taira dan Sasuke nanti...", Sakura menyelesaikan penjelasannya.
Yamanaka muda mengangguk, "Baiklah... Tapi kenapa aku merasa itu belum cerita keseluruhan...?", ia mengikuti Sakura masuk ke rumah mungil itu.
The blond girl really does has a strong feeling...
Sakura berjalan menuju dapur. Membuka kulkas dan mengeluarkan 2 botol minuman dingin.
"Aku bertemu Taira dan Sasuke di Pleau..."
"KAU APA??", Ino hampir meremukkan botol yang ia pegang.
Pinky covers her right ear, "Ya Tuhan, Ino... Kau tidak perlu berteriak..."
Ino menarik nafas, menenangkan diri. "Jadi... Taira dan Sasuke bertemu kau dan Tsukihiro..., di Pleau...??"
Jawabannya hanya anggukan.
"Wow. Wow wow wow. Tidakkah itu sedikit..., 'rumit'...??"
Sekali lagi anggukan, "Percayalah, Ino. Kau tidak akan pernah merasakan ketegangan sepertiku tadi."
Ino melihat sahabatnya dengan senyum khawatir, tapi lalu tertawa. "Hei, Saku. Lucu juga kalau menghitung orang yang berkumpul di Pleau seperti yang kau bilang tadi itu sebenarnya ada 6.", Ino berkata sambil melihat perut Sakura.
"Ha-ha-ha, Ino, ha-ha-ha.", Sakura membalas sinis. Ia meminum sedikit. "Hei, apa yang membuatmu menyusulku?"
Ino menghela nafas. Which is bad...
"Aku tahu ini gila, Saku. Tapi..., kau harus menerima Sasuke lagi.", Ino mengakhiri dengan tatapan meyakinkan.
Sakura tertawa sarkasme, "Menerima siapa...? Dan kenapa...?"
Ino terduduk di kursi tinggi, "Urgh, aku tahu ini sulit, Saku. Tapi percayalah, kau tidak akan menyesal kali ini...!", ia melebarkan mata, "Dan kau harus memberitahu soal... itu.", Ino menunjuk perut Sakura.
Sakura menggeleng, "Kau pasti sudah mulai tertular 'kegilaan' Naruto..."
Ino meletakkan minumannya, "Ya Tuhan, Sakura!! Untuk SEKALI, pecayalah kata-kataku...!!"
Sakura melihat dengan sebelah alis terangkat, "Dan aku harus percaya karena...??"
"KARENA SASUKE BUKAN AYAH DARI BAYI TAIRA!! Hmp!", Ino mengakhiri 'pengakuannya' dengan menutupi mulutnya sendiri.
Sakura terdiam.
What a shocking news...
"Sasuke... apa...?", Sakura mulai bicara.
Ino menggeleng cepat, "Jangan beritahu Tsunade-sama aku memberitahumu."
Sakura semakin terlihat kaget, "Tsunade-sama tahu??"
Ino menghela nafas, "Aku tidak bisa menahan diri, Saku... Aku harus memberitahumu, maksudku, kau sudah cukup menderita, jadi ketika Tsunade-sama memberitahuku, aku tidak bisa tidak memberitahumu, aku..-"
"Siapa ayah sebenarnya?", Sakura memotong penjelasan Ino.
Kali ini, pirang menahan, "Itu tidak penting. Yang penting sekarang, kau harus memberitahu Sasuke!"
Sakura tersenyum sinis, "Dan membiarkan seorang ibu muda terlantar?? Aku rasa tidak, Ino..."
Ino menatapnya tidak percaya, "Kalau begitu, kau itu apa?? Wanita yang dengan rela badannya dipakai untuk membawa bayi orang??"
Sakura tersadar akan kondisinya, dan bertahan..., "Aku akan tetap menunggu sampai bayinya lahir..."
morning...
Sakura melangkahkan kakinya ke arah bagian kehamilan. Miris, ia melihat hampir semua dari calon ibu di situ diantar para calon ayah. Sakura memilih duduk di pojok dekat meja kecil, menghindar dari segala pemandangan yang 'indah'.
Seketika itu terdengar keributan.
"Siapkan ruangan operasi...!"
"Panggil dokter yang tersedia!!"
Suara-suara itu melewati tatapan panik orang-orang di ruangan. Ada ibu yang akan melahirkan. Ketika ranjang sudah memasuki ruang operasi, seorang perawat keluar lagi, bicara pada perawat lainnya, "Mana dokternya??"
"Tidak ada dokter yang tersedia... Bagaimana ini??", perawat yang satu menjawab, berusaha tidak panik.
Sakura melihatnya dengan khawatir. Lalu dengan dasar rasa iba, ia berdiri dan menghampiri dua perawat itu, "Aku saja."
Perawat-perawat itu jelas kaget, "Tapi, Haruno-san... Anda sedang cuti, kan...?"
Sakura menggeleng, "Aku harus menolong ibu itu. Siapkan semuanya!", peritahnya pada dua perawat tadi, dan keduanya segera mengangguk, memasuki ruang operasi.
Sakura baru saja akan memasuki ruang operasi ketika ia melihat sang ayah yang baru datang, berjalan santai.
Sasuke.
-
-
Taira sudah berada di bawah pengaruh obat bius pada ranjang operasi. Bayinya dipastikan prematur. Sakura berusaha konsentrasi pada operasi yang ia tangani, bukan pada sang ayah yang berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangan tanpa berekspresi sedikitpun, seperti dulu...
"Posisinya sungsang.", Sakura bicara. Sekali ia bicara, para perawat di sekelilingnya bergerak, melakukan ini dan itu. Tangan Sakura meraih ke dalam badan Taira, menarik manusia mungil itu keluar.
Cairan yang bercampur darah memang membalut tubuh kecilnya.
Tapi Sakura bisa melihat jelas warna sedikit rambut di kepala bayi kontroversial itu.
"Perak...??"
tbc—
HAHAHA.
GANTUUUUNG.
(ketawa psycho)
ada yang bisa nebak ayahnya siapa??yang jelas bukan OC...
MHUAHAHAHAHAH.
(ahem)
kalo review-nya cukup, aku cepet update...:p
jadi...
review, please...?
xo xo ,
Yvne Devolnueht
