Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Kejutan di dalam nyaa :) Hayoo temukan

Disclaimer : Cerita ini pure milik Gloomy Rosemary aka Cupid Kms

.

.

Previous Chapter

"Kelak...Kau akan mengandung...Dear"

Baekhyun terbelalak lebar, dan memaksa memutar tubuh menghadap Chanyeol. "Aku namja! hentikan! aku tak suka leluconmu...Tuan"

Pangeran Sulung itu hanya mengulas senyum, seraya mencium lama jemari lentik Baekhyun.

Tapi setelahnya, tatapan itu berubah tajam. Membuat Baekhyun meremang seketika.

"Aku tak pernah bercanda..." Desisnya seraya mendekatkan wajahnya, menyelami dalam-dalam manik berwarna biru itu

"Karna Aku—yang akan menanamkan rahim itu ke dalam perutmu"

.

.


Blood On A White Rose

Chapter 9

.

.

.

"Kau ... menyukainya Baby?"

Baekhyun menengadah dan tersenyum manis, tatkala ibunya menghampirinya dan membelai lembut surai hitamnya. Membuatnya semakin bersemangat merangkai setangkai demi setangkai mawar putih itu ke dalam vas putih kecilnya.

"Hm... rangkaian bunga yang sangat cantik Sayang" Gumam Jaejong sembari mengangkat tubuh mungil itu ke atas pangkuannya. Baekhyun bersungut kesal, karna kesenangannya sempat terusik namun tawa kecilnya pecah begitu saja saat Jaejong mengecupi pipi chubbynya bertubi-tubi.

"Eum! ahahaha...ge—li Eomma"

"Jinjja? A—Eottohkkae, Eomma tidak mau berhenti" Canda Jaejong masih terus menggelitik perut gempal itu, membuat pemiliknya semakin terpingkal lepas karenanya.

Semua tawa kecil Baekhyun seakan mempermanis senja yang terbias hangat dari tralis jendela itu.

Hingga beberapa saat setelahnya, Jaejong tampak terkesiap begitu seseorang mencium pipinya dari belakang. 'Chupp'

"Apa yang sedang kalian lakukan hm? Aku pulang Boo"

"Appaa!" Seru Baekhyun antusias, begitu melihat Yunho. Kedua tangan kecilnya terangkat ke atas, berharap pria itu lekas menyambutnya dan mengangkat tubuh kecilnya.

Dan benar saja, Yunho tertawa renyah seraya mengulurkan tangan ingin meraih tubuh Putra semata wayangnya.

Namun...sesuatu yang lain tiba-tiba terjadi.

Detak jam tak lagi terdengar, sepenuhnya bisu dan kaku megiringi semilir angin di luar yang mendadak beku.

Baekhyun mengerjap bingung, melihat Ayahnya mematung.. "Appa.." Panggilnya seraya mengguncang tangan ayahnya, tapi pria itu hanya diam maski tersenyum dengan tangan terbuka.

Baekhyun beralih menatap Ibunya, hal yang sama pun Ia lihat dari sosok cantik itu. Tak ubahnya seperti manekin, kedua orang tuannya hanya diam bergeming. Membuat baby mungil itu terperanjat ketakutan bahkan mulai beringsut-ingsut turun dari pangkuan Jaejong sambil terisak.

"E-eommaa~" Rengeknya seraya menarik-narik kemeja Ibunya.

Tiba-tiba saja, sesosok bayangan hitam melesat mendekatinya, menyita perhatian Baekhyun hingga isakkan itu mendadak terhenti

"Baekhyun..." Panggil sosok itu, begitu berdiri tepat di hadapan Baekhyun.

Baby mungil itu tersentak namun tetap menengadah, mencoba melihat wajah sosok itu. "Ung—

Baekhyun mengerjap cepat saat sosok pucat itu berlutut, hingga Ia bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.

Baekhyun tau, sosok di hadapannya kini adalah seorang yang asing, tapi entalah Ia benar—benar tak merasa takut sedikitpun, malah...rasa ingin taunya semakin menjadi melihat pria pucat bermata elang di depannya

"Nuguseyo?" Tanya Baekhyun masih dengan memandang penuh tanya pada sosok pemilik mata amber itu.

"Kau telah melihatku " Ujar sosok itu lagi seraya menyingkirkan petal mawar putih di puncak kepala Baekhyun.

Bocah mungil itu mempoutkan bibir, itu bukanlah jawaban yang diinginkannya. Ia beralih menoleh ke belakang"Eomma...Appa...siapa Ahjjusi ini?" Tanyanya seraya mengguncang tanngan kedua orang tuanya.

Tapi, semua hanya nihil. Baik Jaejong maupun Yunho hanya diam tanpa geming sedikitpun. Membuat sosok itu –Chanyeol- terkekeh pelan melihatnya.

"Kau hanya bisa mendengarku ... Baekhyun"

Baekhyun berkacak pinggang "Mengapa Ahjjusi masuk kerumah Baekhyun?" Tanyanya kesal

Chanyeol hanya menatapnya tajam. Memandang lekat dua mata sipit di hadapannyan "Untuk melihatmu tentunya"

"Melihat Baekhyun? Waeyoo?" Tanya Baekhyun seraya menepuk dada, mencoba melugaskan.

Kedua mata amber itu berkilat, mengiringi seringai yang tersimpul tajam di bibir merahnya. Chanyeol meraih tengkuk Baekhyun berniat mengklaim bibir mungilnya, namun untuk sepersekian detik ia berhenti. Menyisakan desah nafas yang menyentuh bibir tipis itu.

Vampire itu berubah pikiran, Ia terkekeh pelan sebelum akhirnya meraih tangan Baekhyun "Karena kau pendampingku...Baekhyun" Bisiknya seraya mencium lama punggung tangan Baby mungil itu.

Baekhyun diam, tertegun dengan bagaimana cara pria itu memperlakukannya.

"Ahjjus—

Baekhyun mendadak terbelalak lebar, begitu pria itu tiba-tiba lenyap... menyisakan kepulan asap samar di hadapannya.

"Kau... Pendampingku Baekhyun"

Suara tanpa raga tiba-tiba saja terdengar, terus menggema berulang – ulang memenuhi setiap sudut ruangan.

"E-eomma...Appa" Gagap Baekhyun gemetar. Ia merangkul kuat tangan Ibunya, tapi rasa takutnya semakin menjadi kala suara asing itu kembali menghantuinya, sesaat samar ... namun sesaat kemudian mengeras. Baekhyun memang tak mengerti apapun makna akan gema itu.

Ia hanya ketakutan dan mulai menangis keras, hingga tanpa sengaja tangan mungil itu menyentak vas kecilnya.

PRANK

Baby mungil itu menggeleng kecewa melihat rangkaian mawar putih itu remuk di bawahnya, ia merunduk ingin memungut setiap petalnya. Namun tiba-tiba saja Baekhyun menjerit kala semua petal mawar putih itu penuh dengan rembasan darah.

Baekhyun memaksa menoleh pada orang tuanya, bermaksud ingin mengadu dan mencari perlindungan. tapi nyatanya...jeritan itu semakin terdengar histeris.

Begitu sepasang suami istri itu tiba-tiba penuh dengan lumuran darah pekat.

"AAAAAAAAAAAHHHHHHH!"

.

.

.

~ChanBaek~

.

"Baekhyun.." Sebelah tangan kekarnya terangkat, menangkup wajah yang masih menggeleng resah dalam dekapannya.

"Hks...Ngh!"

Ia sedikit berdecak, melihat air mata mulai merembas dari kelopak mata yang masih terpejam itu.

"Buka matamu ...Dear" Bisiknya seraya membelai surai pirang kecokelatan itu.

"Eomma...ngh! hks"

Chanyeol mengernyit mendengarnya, Ia beralih bangkit dan kembali menepuk pelan pipi Baekhyun...mencoba menyadarkannya dari mimpi buruk itu.

"Baekhyun—

"HAH! EOMMAA!"

Baekhyun tiba-tiba bangkit terduduk, kedua matanya terbelalak nanar...sedikit pias akibat rembasan bening di pelupuk matanya.

Membuat Pangeran Sulung itu bergerak sigap, menarik namja yang masih terengah itu ke dalam pelukannya.

"Ssshh..." Desisnya seraya mencium puncak kepala Baekhyun, berusaha menenangkannya.

"Eo—mma.." Lirih Baekhyun sambil meremas kuat-kuat selimut tebalnya, kedua matanya masih menatap tak tentu. Terlalu cekam, karna mimpi buruknya.

Chanyeol beralih menyentuh wajah tirus itu, menangkupnya.. berharap Baekhyun hanya menatap padanya.

"K-kau...mengapa kau ada di sana?!" Racau Baekhyun tiba-tiba, seraya meremas kedua tangan yang masih menangkupnya.

Chanyeol kembali mengernyit, menerka mimpi buruk macam apa yang sebenarya terjadi pada namja mungil itu.

"Kau datang! lalu semuanya berubah!" Racaunya lagi, kali ini air mata lolos cepat dari pelupuknya.

Pangeran Sulung itu tak berucap apapun selain menatap lekat kedua mata sapphire di hadapanya, membiarkan Baekhyun terus meracau hingga Ia mengerti, hal pelik macam apa yang tengah membekap benak Baekhyun saat ini.

"Itu hanya mimpi...Dear"Bisik Chanyeol, seraya membawa kepala Baekhyun agar bersandar di dadanya.

Tapi anak itu mengelak, dan kembali menyentak dengan tatapan menuntut.

"Tidak! itu bukan mimpi!" Serunya, meyakini mimpi itu adalah penggalan dari sebagian ingatannya.

"itu benar-benar dirimu! Aku melihatmu!" Lanjut Baekhyun lagi, seakan tak puas ingin menyudutkan Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau ada di sa—

"Karena aku masa depanmu"

Baekhyun tercekat, Ia menggeleng pelan ingin menghindar...Namun tatapan tajam itu seakan membelenggunya, dan membuatnya tetap pasif.

"Kau melihatku... Karena aku masa depanmu" Ujar Chanyeol lagi, seraya menyeka sisa keringat dingin yang masih merembas di kening Baekhyun.

Baekhyun menyentak tangan Chanyeol, lalu mendunduk... Masih tak ingin lepas dari penggalan mimpi buruknya. Mengapa orang tuanya mendadak penuh darah seperti itu? mungkinkah ada kaitannya dengan Chanyeol?

Kedua tangan lentiknya masih bertaut erat, menerka-nerka makna dari semua mimpi itu. Hingga tiba-tiba saja Ia memekik terkejut, begitu sebuah lengan merengkuh perutnya, menariknya kuat dan membuatnya kembali terhempas di ranjang.

"Ah!"

BRUGH

"Tak ada yang perlu kau cemaskan dari mimpi itu.." Chanyeol kembali merangkul perut Baekhyun, membuat Baekhyun bersungut ingin melepaskannya. "Karena kau bersamaku saat ini.." Bisiknya lagi seraya menjilat pundak Baekhyun.

Detik itu pula, Baekhyun stagnan dengan mata membulat lebar. Ia kembali mengingat...malam yang sempat Ia lewatkan bersama pria itu.

Baekhyun benar-benar tak melupakannya, bagaimana ia menjerit dan mendesah memalukan di bawah pria itu. Ya...Ia benar-benar mengingatnya dengan sangat baik.

Wajahnya merona, rasa paniknyapun meningkat. Dan ia tak bisa berdiam diri seperti ini, membiarkan pangeran vampire itu kembali membuat jantungnya menggila, atau lebih parah lagi.

"Ugh! Jangan seperti ini! Lepaskan tanganmu" Seru Baekhyun masih dengan wajah bersemu merah, Ia tak terbiasa dengan jarak sedekat ini. merasa...jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat tiap kali Pria itu menyentuhnya. Dan Chanyol...mampu membuatnya lupa akan mimpi buruk itu.

"Kenapa?"

"Aku tak menyukainya! Lepaskan!"

Chanyeol terkekeh, alih-alih melepaskannya... Pria itu malah menambah satu lengan yang lain hingga benar-benar memeluk erat perut Baekhyun. Membuat keduanya semakin menempel erat. Tak pelak, apa yang dilakukannya semakin menyulut semburat merah di wajah bocah mungil itu

"Yack! Kau tak mendengarku?!Lepaskan aku!"

"Aku tidak mau.."

"Aku akan berteriak! jadi lepaskan tanganmu!"

"Lakukan saja...aku akan mendengar teriakanmu"

"Argh! Mengapa kau menyebalkan sekali!"

Chanyeol tiba-tiba terkekeh, membuat senyum itu terulas spontan di bibir tebalnya. Ah sungguh! Dadanya tak pernah sepenuh ini sebelumnya, Ia tau...Baekhyun membuat semuanya semakin lugas, bahwa Ia benar-benar mencintai namja cantik itu.

Namun,Chanyeol tak pernah tau...senyumnya membuat Baekhyun diam terpana, hingga tanpa sadar jemari lentiknya terangkat menyentuh bibir tebal itu.

Chanyeol sedikit terkesiap, tapi setelahnya Ia menyeringai dan menatap Baekhyun intens, bahkan semakin merunduk mendekatkan wajah keduanya. Merasa, namja cantiknya sepertinya semakin menunjukkan sikap terbuka padanya.

Gerakan Pangeran Sulung itu membuat Baekhyun lekas tersadar, Ia mengerjap panik, seakan tengah merutuk 'pabboya Byun Baekhyun'

Tapi gerakannya kalah cepat, begitu Chanyeol menangkap jemarinya...menariknya semakin mendekat. Dan mengikis sedikit demi sedikit sekat di antara keduanya.

Baekhyun mengerjap kalut. "Y-yang tadi itu..aku—

Chupp

Kedua mata sapphire itu membulat lebar, begitu Chanyeol benar-benar menciumnya. Ia menahan nafas, menyadari bibir tebal itu tak bergerak sedikitpun selain menempel di bibirnya.

hingga tiba-tiba saja, tubuhnya meremang mendapat satu hisapan lembut di belahan bibir atasnya. Baekhyun kembali mengerjap cepat, sadar...lidah Chanyeol mulai menggelitik deretan giginya, dan menyusup masuk begitu mendapat celah.

"Ah...mnnhh"

Ah sial! dadanya mendadak sesak...seakan lupa bagaimana cara untuk bernafas dengan benar.

"Ughtt~ mmh"

Di sela ciuman itu, Chanyeol mengernyit...merasakan sesuatu yang salah. Ia membuka mata yang sempat terpejam. Lalu mengerjap melihat wajah Baekhyun merah padam dengan dahi berkerut resah.

Pangeran Sulung itu beralih melepas pagutannya, dan menghela nafas pelan...melihat Baekhyun saat ini.

"Kau tak bernafas?" Ujarnya kemudian

Membuat bocah yang masih memejamkan mata dengan tangan terkepal erat itu, mendadak membulatkan mata lebar. "N-ne?" Tanya Baekhyun bingung

Chanyeol terkekeh sambil memijit pelipisnya sendiri. "Setidaknya bernafaslah saat kita berciuman"

BLUSH

Baekhyun kembali membulatkan mata lebar, lalu menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya

'idiot..' Batinnya pada dirinya sendiri

"Biarkan aku menciummu lagi...jangan menutup wajahmu seperti itu" Canda Chanyeol, seraya menarik tangan Baekhyun. Tapi...namja mungil itu mengelak, bahkan memalingkan tubuh masih dengan tangan menutup rapat wajahnya.

Ah sungguh! Baekhyun benar-benar merasakan malu yang hebat saat ini.

"Buka tanganmu.." Bujuk Chanyeol

"Ash! Shirreoo! (aku tidak mau!)"

"Dear..."

"Ugh!" Kekeuh Baekhyun, sambil meringkuk bulat. Meski nyatanya dadanya kembali berdegup mendengar panggilan sayang itu.

Chanyeol berdecak melihat sikap yang menurutnya terlalu menggemaskan itu.

Dengan senyum terkembang, Ia mengalah...dan lebih memilih memeluk Baekhyun dari belakang.

"Kau ingat apa yang kita lakukan semalam?" Bisik Chanyeol, mencoba memulai pembicaraan

Baekhyun yang mendengarnya, mendadak menggigit bibir bawahnya sendiri.

"Tidak!" Bohong Baekhyun, lalu kembali menggigit bibirnya. Ah sial! Jika saja Ia bisa meremas jantungnya sendiri untuk berhenti berdebar sebodoh itu.

Pangeran Sulung itu kembali mengulas senyum. Baekhyun mungkin bisa mengelaknya, tapi debaran jantung anak itu, tak pernah menipu.

"Bisakah aku menghisap darahmu?" Tanyanya, meski sebenarnya Ia hanya memastikan. Mencoba peluang, jika memang Baekhyun bersedia maka anak itu memang telah jatuh memendam perasaan untuknya.

"..."

Tak ada jawaban apapun, Baekhyun masih kekeuh menutup dirinya. Dengan tubuh meringkuk.

Semilir angin di luar, membuat derak ranting yang patah. Menyadarkan Chanyeol.. jika sebenarnya ia memiliki kepentingan lain di luar sana.

"Aku hanya bercanda..." Gumam Chanyeol seraya membelai surai pirang Baekhyun. Sesaat setelahnya Ia bangkit, meraih kemeja di sisinya. "Aku akan pergi...Panggil aku jika—

GREB

Chanyeol terbelalak begitu tangan ramping itu terulur dan menarik ujung kemejanya. Dengan wajah kemerah-merahan itu, Baekhyun mencoba menengadah untuk menatap Chanyeol.

"B-bukankah, kau hanya meminum darah dariku sa-saja?"

"..."

Pangeran Sulung itu tak berucap apapun, hanya diam memandangnya dengan smirk terpatri. Membuat Baekhyun semakin kewalahan mengatur nafasnya sendiri. Ia tak sedang bercanda di sini, mengapa pria itu hanya menyeringai bodoh seperti itu?

"J-jika memang haus, ambil saja! Tak p-perlu bertanya!"

"Hn...?"

Kali ini, Chanyeol beralih kembali beringsut mendekat. Membuat Baekhyun cepat-cepat melepas remasan tangannya dari kemeja pria itu.

Baekhyun meneguk ludah payah, melihat pria itu benar-benar memenjarakan dirinya di kepala ranjang. Meski gugup, tapi Baekhyun tetap memiringkan kepalanya dengan mata terpejam erat.

Chanyeol terpukau. terlalu antusias melihat bagaimana Baekhyun merelakan dirinya seperti ini. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh semerbak mawar itu. meniupnya pelan dengan nafas panasnya, hingga membuat Baekyhyun mendesah kecil dan makin memiringkan kepalanya

"Ah.."

Nafasnya semakin memberat, kala bibir itu mengecupi belakang telinga Baekhyun ... terus bergerak turun menyusuri leher namja cantik itudengan sensual.

Baekhyun lemas dan menggigil hingga hanya mampu bersandar pada kepala ranjang. Membiarkan Pangeran Sulung itu, mencumbu lehernya lagi dan lagi.

Hingga tiba-tiba saja.

"A-AKH!" Matanya terbelalak, dengan bibir terbuka lebar.. di saat taring tajam itu benar-benar menusuk pangkal lehernya.

Chanyeol menggeram nikmat, benar-benar meresapi darah yang mulai merembas menyentuh indra pengecapnya. kedua matanya berpendar, tiap kali seteguk demi seteguk darah mulai mengalir ... menawar dahaganya

Baekhyun menengadah hebat. "Ahtt...mmhh!" Sebelah tangannya terangkat untuk meremas surai Chanyeol. "P-pelan ahhss!" Desisnya ngilu, meski demikian Ia tetap memiringkan kepalanya. menunggu... hingga pria itu benar-benar puas akan darahnya. tak peduli, pandangannya semakin mengabur dan tangan yang mulai lunglai di kedua sisi tubuhnya. "Nnhhh..."

.

.

Setitik darah masih menetes di sudut bibirnya, tak cukup menyemarkan smirk menawan yang masih terulas di bibir merah itu. Usai mengakhiri hisapannya.

Chanyeol mengangkat wajah, menatap lekat namja mungil yang masih bersandar lemas di kepala ranjangnya.

"Dear..." Panggilnya seraya menarik tubuh ringkih itu, hingga kini beralih bersandar di dadanya.

Baekhyun sedikit membuka matanya, terlalu sayu akibat pening. "Kau kenyang sekarang?" Celetuknya kemudian.

Membuat Pangeran Sulung itu terkekeh geli, mereka 'vampire' tak mengenal kata kenyang. Dan Baekhyun cantiknya benar-benar membuat detik itu semakin berharga dengan setiap lelucon kecilnya

"Terima kasih.." Bisik Chanyeol setelahnya.

"..." Namja mungil itu diam, tak menjawab meski nyatanya kedua mata sipitnya mengerjap mengiyakan.

Baekhyun beralih mendorong dada Chanyeol, lalu beringsut-ingsut berbaring sendiri. "Aku lelah.." Ujarnya seraya meringkuk membelakangi Chanyeol. "Kau terlalu banyak menghisap darahku...jadi biarkan aku tidur" Gerutunya lagi sambil memejamkan mata.

.

"Aku mencintaimu..." Bisik Chanyeol saat merengkuh tubuh mungil itu, dan memeluknya dari belakang. Berulang kali Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di tengkuk Baekhyun, membuat namja cantik itu merengek padanya.

"Hentikan...Nhh! Biarkan aku tidur!"

Chanyeol semakin mendekapnya gemas, dan meraba perut datar itu dengan antusias.

"Suatu saat...kehidupan kecil akan bersemayam dalam perut ini"

Baekhyun mendadak membuka kembali kedua mata sapphire nya. Menerka-nerka maksud dari ucapan pria itu.

"Apa maksudmu?"

"Kelak...Kau akan mengandung...Dear"

Baekhyun terbelalak lebar, dan memaksa memutar tubuh menghadap Chanyeol. "Aku namja! hentikan! aku tak suka leluconmu...Tuan"

Pangeran Sulung itu hanya mengulas senyum, seraya mencium lama jemari lentik Baekhyun.

Tapi setelahnya, tatapan itu berubah tajam. Membuat Baekhyun meremang seketika.

"Aku tak pernah bercanda..." Desisnya seraya mendekatkan wajahnya, menyelami dalam-dalam manik berwarna biru itu

"Karna Aku—yang akan menanamkan rahim itu ke dalam perutmu"

Baekhyun tercekat. Jika saja Ia bisa mengingkari semua yang di lihatnya, tatapan tajam itu seakan tak bisa ditelak. Ia tau, tak ada kebohongan di baliknya.

Tapi... Ia merasa bodoh jika harus mempercayai semua itu. Dan apa maksud menanam rahim?

Sungguh di luar logikanya.

Baekhyun berniat bangkit ingin protes, tapi kepalanya kembali berdenyut pening. akibat darah yang menyusut banyak dari tubuhnya.

"Kembalilah tidur..." Bisik Chanyeol seraya mencium mesra kening Baekhyun

Namja cantik itu reflek memejamkan mata, lalu membukanya kembali begitu Chanyeol mengakhirinya...namun yang terlihat Pria itu telah lenyap dari hadapannya.

Baekhyun menghela nafas pelan, mungkin saja Ia tengah berhalusinasi mendengar Chanyeol mengatakan kalimat bodoh itu. Ya...mungkin karena anemianya.

"Hahaha...yang benar saja menanam rahim" Tawanya hambar. "Apa kau dokter bedah?!" Gerutunya lagi seraya menarik selimut.

"Kau pikir aku percaya?! maldo andwae!" Baekhyun kembali menyentak kesal seraya menjejak asal selimutnya.

Namun sedetik kemudian Ia kembali menarik selimutnya lagi, dan menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memerah dengan blanket itu. "Ugh! Apa yang terjadi?! Seharusnya aku membencimu!"

.

.

.

..


"Lihat! LIHAT APA YANG AKAN TERJADI JIKA MANUSIA ITU TETAP HIDUP!"

Seorang wanita tiba-tiba menyentak murka, di hadapan beberapa pria kekar ...pengikutnya.

Ia merasa segalanya semakin buntu, jalan dan pemberontakan yang selama ini dibangunnya seakan nyaris runtuh, hanya karna kehadiran seorang manusia dalam alam itu.

"..." Tak ada satupun yang berani mengangkat wajah, kuasa wanita itu terlalu agung untuk ditelak. Hanya putranya – Zico- yang terlihat angkuh, menatap setiap pengikut itu

"Kyuhyun tak bermain dengan ucapannya! Keparat itu telah merapalkannya! Arrghhhh! Bagaimana jika manusia itu benar-benar mengandung janin itu?!"

"Ibu—

"Kau! kulahirkan dan kubesarkan...bukan untuk menjadi PECUNDANG!"

Zico mengeras. terlalu muak mendengar wanita itu kembali merendahkannya.

"Kudengar... ritual penyatuan itu, akan dilakukan saat bulan purnama kali ini" Ujar Siwon menyela

Victoria diam menatap tajam pria berlesung pipit itu, lalu setelahnya tersenyum licik. "Ada gunanya kau berada di sini Choi Siwon" Desisnya seraya melangkah mendekat, lalu membelai dada bidang itu dengan jemari lentiknya.

"Tentu saja...kau bisa mengandalkanku sebagai sumber—

"Tidak, tapi aku ingin kau yang menerkam rubah kecil itu"

Siwon terbelalak, menduga sesuatu yang picik dari cara bicara itu.

"Kau tak ubahnya ular berkepala dua Choi Siwon. Jika memang kau di pihakku... bunuh anak itu untukku. Bukankah kau memiliki lidah api, setiap mantra yang kau ucapkan akan mampu menyihir siapapun bukan?"

"Tidak, jika itu keturunan Kyuhyun... Victoria!"

"Aku tak mengatakan kau harus menyihir mereka, tapi manusia itu! bunuh anak itu sebelum darah Chanyeol hidup dalam tubuhnya!" Desis Victoria geram.

" Aku tak akan bisa melakukan apapun, jika sampai itu terjadi" Pungkasnya

keduanya tak menyadari, seorang pria muda terlihat menyelinap keluar... kedua tangannya terkepal erat, seakan membawa dendam besar.

Berkali-kali ia mendengar cacian itu, tapi kali ini rasanya terlalu berlebih! Ia pun seorang pangeran! tak sepantasnya wanita itu merendahkannya sepicik itu, meski nyatanya Dia Ibunya.

"Akan kubuktikan Ibu, aku yang akan membunuh manusia itu"

.

.

.


"Putraku..." Pria itu lekas membuka matanya, begitu merasakan sosok yang dinantinya benar-benar berdiri tegap di hadapannya. Sementara Sehun terlihat menuangkan cairan merah pekat ke dalam gelas di sisi Kyuhyun.

"Jika Ayah memanggilku kemari hanya untuk menentang keputusanku, lebih baik aku memohon diri" Sergah Chanyeol seraya menundukkan kepala sesaat, lalu setelahnya memutar tubuh ingin pergi.

"Di mana santunmu pada Ayah?! Manusia itu benar-benar merubah pribadi—

Sehun bungkam begitu Kyuhyun mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan padanya untuk tetap diam.

"Aku hanya ingin bicara denganmu, selayaknya Ayah dan Putranya"

Chanyeol menghentikan langkahnya, menunggu kalimat lain...yang mungkin saja kembali terucap dari sosok Raja itu.

"Aku merasakan aura yang lain dari anak itu.." Ujar Kyuhyun, menarik perhatian Pangeran Sulung itu hingga kembali memutar tubuh menghadapnya. Chanyol tau... Baekhyun yang dimaksud oleh Ayahnya saat ini.

"Apa maksud Ayah?" Chanyeol mengernyit, menerka makna dari senyum tersimpul milik Ayahnya

"Aku menarik ucapanku tempo lalu, kini aku menginginkanmu mempertahankan anak itu untuk alam ini" Tukas Kyuhyun lagi, menyimpul seringai tersirat. Terlihat tajam.. namun penuh perhitungan di baliknya.

Baik Pangeran Sulung maupun Pangeran Bungsu itu, makin mengernyit tak mengerti akan ucapan Raja Vampire itu.

Sehun yang semula menentang, kini beralih membuka suara. "Apa yang sedang Ayah bicarakan sebenarnya?"

Kyuhyun hanya terkekeh pelan, seraya menyesap darah ranum dalam gelasnya. Lalu setelahnya Ia kembali menatap Chanyeol.. lekat.

"Kelak, kau akan tau... maksud dari ucapanku"

Chanyeol hanya diam memandangnya. Mengapa ayahnya memberi teka-teki seperti itu?

Tak perlu dilugaskan pun Ia tau, sampai kapanpun dirinya akan tetap mempertahankan Baekhyun.

"Hanya itu yang ingin Ayah katakan padaku?"

Kyuhyun mengangguk pelan, masih dengan simpul senyum misteriusnya. Membuat Pangeran Sulung itu mengambil langkah, ingin beranjak dari hadapan singgasana itu.

"Ah! Satu hal lagi... persiapkan dirimu. Karena ritual penyatuan untukmu, hanya menghitung hari" Pungkas Kyuhyun, dan detik itu pula... Chanyeol benar-benar melenyapkan dirinya
Sehun beralih menatap Ayahnya. Mencoba menelisik maksud sebenarnya dari Penguasa Vampire itu.

"Apa maksud Ayah sebenarnya?" Tanya Sehun lagi

Kyuhyun hanya memejamkan mata, seraya meletakkan gelas beningnya. "Tidakkah kau merasakannya?"

Kyuhyun membuka mata dan menatap tajam ke depan. "Kemampuan yang lain...perlahan mengalir dalam diri inang itu, Dia dan keturunan kakakmu akan membawa kekuatan besar untuk alam ini"

Sehun tercekat mendengarnya, mungkinkah benar apa yang dikatakan Ayahnya itu?

.

.

.

.


"nnh~"

Baekhyun sedikit mengernyit, merasakan suhu beku kian membuatnya kedinginan. Ia semakin mengeratkan selimutnya, namun Baekhyun merasakan sesuatu yang ganjal. Beberapa kali namja cantik itu mengerjap, dan begitu kedua matanya terbuka... Ia nyaris menjerit, begitu wajah seorang pria terpampang di hadapannya. Menyangga kepala dengan senyum lebarnya dan mengamati dirinya yang sedang tidur.

Itu bukan Chanyeol!

"KAI!" Teriaknya kemudian, seraya bangkit lalu menarik selimut, untuk menutupi dadanya...seakan berpikir dirinya masih telanjang saat ini, oh ayolah Ia ingat apa yang dilakukannya dengan Chanyeol semalam dan pagi ini... tapi setelahnya Baekhyun menghela nafas lega... begitu menyadari tubuhnya berbekalkan pakaian lengkap.

"Mheehee...Annyeong" Ucap Kai, masih tersenyum lebar sambil melambaikan sebelah tangannya dengan ceria.

"M-mengapa kau di sini?" Baekhyun mendelik penuh curiga, dan begitu sadar... Ia membekap cepat lehernya dengan kedua tangannya sendiri. "Kau ingin menggigitku?! Andwae!" Seru Baekhyun tak terima.

"Ha? T-tidak! Tidak! Jangan menuduhku seperti itu, Chanyeol Hyung bisa membunuhku" Gagap Kai seraya menyilangkan kedua tangannya.

"Lalu?"

"Aku hanya ingin melihatmu..itu s-saja" Kekeuh Kai, sambil bersedekap.

Baekhyun masih menatapnya penuh curiga, namun melihat kai mengerjap polos padanya membuatnya berdengus jengah lalu memukul cepat dahi vampire itu.

"Jangan berkedip seperti itu padaku!" ketusnya.

Kai hanya meringis seraya menggosok dahinya sendiri. "Kakak...kau tau? Kau benar-benar imut" Celetuknya seraya menyangga kepala dengan kedua tangannya, lalu kembali menatap Baekhyun antusias.

"Mwo? Yack! Sejak kapan aku menjadi kakakmu!" seru Baekhyun jengkel.

"Karena kau pendamping Chanyeol Hyung... Jadi aku memanggilmu kakak ipar"

Baekhyun menggerutu sambil memalingkan tubuh, menyembunyikan wajah yang sebenarnya merona karena ucapan itu.

"Imut..." Celetuk Kai lagi, tak puas menggoda Namja kelewat menggemaskan itu.

"Berhenti memanggilku seperti itu!"

"Ah waee? Kau sangat imut... cute... cute.. cu—

Kai menutup rapat bibirnya, begitu melihat sebuah tangan lentik kembali terangkat... siap dihempas kapan saja.

"Ah neee... Mianhae kakak ipar" Gumam Kai sambil tersenyum-senyum.

Baekhyun meliriknya kesal, tapi setelahnya Ia menatap sendu keluar ... tepat pada objek di luar tralis jendelanya. "Dimana Luhan?"

"Seperti biasa, menemani Pangeran Bungsu" Jawab Kai cepat.

Baekhyun hanya menghela nafas, dan tetap menatap sendu keluar. "Adakah tempat aman untukku berjalan diluar?" Gumamnya tiba-tiba. membuat Kai mengerjap dan turut mengikuti arah pandang namja cantik itu.

Kai tau, sepertinya Baekhyun tengah jengah saat ini. Ah... benar, berdiam diri tak melakukan apapun di ruangan ini tentu membuatnya suntuk bukan main.

"Ada.." Sahut Kai cepat

"Benarkah?"

Kai tersenyum lebar melihat wajah berbinar itu. "Ya... tempat penuh dengan mantera pelindung. Di belakang puri ini, kau akan melihat semak lebat. Jika kau menyusurinya ke dalam, akan terlihat sisi lain dari alam ini. tak terlalu luas... tapi kurasa kakak ipar akan menyukainya. Apa Chanyeol Hyung belum mengajakmu kesana?"

Baekhyun menggeleng, tapi kedua matanya masih mengerjap penuh binar. Seakan tak sabar ingin melihat tempat itu.

"Ah... jika Chanyeol Hyung datang, mintalah itu padanya"

('Kai!')

Vampire itu mendadak mengacak surai hitamnya kesal, begitu mendengar panggilan telepati Ayahnya –Yesung-.

Tapi Ia masih ingin berlama-lama dengan Baekhyun.

('Ibumu mencarimu... Pulanglah')

"Tck! Sebentar Ayah!" Sahut Kai spontan

Membuat Baekhyun mengerjap. "Kau bicara denganku?"

"Ah hehehe...a-aniya kakak ipar"

('KAI! PULANG ATAU SEMUA KELELAWARMU IBU BUANG!')

Kai mendadak terlonjak, kali ini Ibunya yang berteriak. Cepat-cepat Kai bangkit berdiri, "Kakak sesuatu yang genting telah terjadi, aku harus kembali" Ujarnya pada Baekhyun, lalu merangsak terbirit-birit meninggalkan kamar megah itu.

.

.

Baekhyun mengerjap tak mengerti selepas kepergian Kai, tapi Ia tersenyum. Cukup senang... berkawan dengan makhluk aneh itu selain Luhan.

Sesaat setelahnya, namja cantik itu kembali menatap keluar teralis jendela. Mengingat kembali ucapan Kai akan suatu tempat di luar sana.

Ia beralih beringsut turun, melangkah mendekati balkon puri megah itu. bukan Baekhyun namanya jika tak mengikuti rasa ingin taunya, Ia tak peduli Chanyeol akan membawanya ke sana atau tidak. selama dirinya bisa, tentu Baekhyun lebih memilih pergi seorang diri. Lagi pula...itu tempat yang aman untuknya bukan?

.

.

.

"Di belakang puri ini?" Gumam Baekhyun yang telah berpijak di halaman puri, Ia sedikit mengedarkan pandangan ke sekitar..memastikan tak ada yang melihatnya kali ini.

.

Kedua mata sapphire itu, berbinar penuh. tatkala melihat semak yang dimaksud Kai.

Tanpa pikir panjang, Baekhyun berlari kecil mendekatinya...sedikit menyibak semak itu membuat sekat, lalu melangkah masuk.

.

.

"Daebaakk..." Pekik Baekhyun girang,begitu berpijak di dalamnya...hal pertama yang Ia lihat adalah langit yang biru. sangat kontras dengan alam vampire sebelumnya, yang penuh dengan awan berkabut.

Baekhyun melompat-lompat antusias, kedua mata sapphirenya semakin dimanjakan dengan ratusan bahkan ribuan tanaman penuh warna di sekelilingnya.

Dan mawar putih di seberangnya, menjadi satu-satunya bunga yang menyita perhatiannya kali ini. Baekhyun berlari ingin menyentuhnya, melompat satu demi satu batuan di tengah sungai jernih itu ... untuk menggapai tempat mawar tersebut.

"Yeppeodaa" Serunya lagi, merasa takjub dengan semua mawar-mawar itu. Baekhyun sempat terkesiap begitu sinar mentari menerpa bunga itu, dan kilau keemasan terbias dari setiap petalnya. Apa itu magis?

Senyum manisnya terkembang begitu saja, tentu Baekhyun semakin antusias ingin memetik beberapa tangkai mawar itu untuk Ia letakkan di kamarnya.

Namun, pandangannya seakan kembali tersita... begitu beberapa kunang-kunang mengitarinya dan hinggap di jemari lentiknya

Baekhyun mengernyit heran. Hari masih terbilang cukup siang dan terang... tapi kelip kunang-kunang itu seolah tak kalah dengan bias mentari. Tetap berklau dan cantik. Ada denting nyaring yang terdengar, seakan serangga misterius itu tengah bersenandung lirih memanggil-manggilnya.

Baekhyun terpana ingin menyentuhnya... tapi kunang-kunang itu kembali terbang. Tak ingin merelakannya...Baekhyun beranjak berdiri untuk mengejar, mengikuti semua kunang-kunang itu...hingga membawanya masuk ke dalam semak yang lain.

TAP

Baekhyun mengerjap kikuk, kala tak mendapati jejak kunang-kunang itu. Kemana perginya?

Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain...menyibak beberapa dahan tanaman perdu, barang kali melihat kilau sinarnya. tapi rasanya... nihil.

Hingga tiba-tiba saja, ia berjengit terkejut begitu mendengar tawa seorang anak kecil.

Ia berdebar...menduga sesuatu yang buruk, tatapannya pun menatap penuh awas ke sekitar mencari-cari sumber suara itu.

"Siapa di sana?"

"..." Tapi tak ada jawaban, membuat Baekhyun meremang menyadari kesendiriannya.

"Ahahahaha"

Lagi...tawa riang itu kembali terdengar. Baekhyun makin menciut, hingga menyudutkan dirinya di sebuah pohon pinus besar.

Hingga beberapa detik setelahnya, kedua mata birunya membulat lebar...melihat seorang anak kecil berlarian riang, membawa setangkai mawar putih. lalu menyelinap masuk ke dalam semak. "Ahahahaha"

Aneh sekali, mengapa seorang bocah yang terlihat berusia 3 tahunan berada di tempat seperti ini? mungkinkah jebakan? Batin Baekhyun. Namun sesaat kemudian Ia menggeleng kasar, berusaha menepis pikiran negatif itu.

"Hei kau.." Panggil Baekhyun berharap anak itu mendengar. "Adik kecil.." panggilnya lagi, kali ini dengan membawa langkahnya masuk ke dalam semak, tempat di mana anak itu berlari ke dalamnya

"Ahahaha"

Baekhyun mengernyit, saat memasuki tempat itu, tak jauh berbeda dari sebelumnya namun terasa lebih lembap. Dan tawa anak itu masih saja menggema

"Adik kecil, di mana kau?" Panggil Baekhyun sambil menelisik ke sekitar.

"Yya... mengapa kau bermain-main di tempat seperti ini?" Baekhyun beralih merangkak, barangkali anak itu bersembunyi di bawah perdu. Tapi Ia tak melihat apapun.

"Keluarlah, jangan bersembunyi. Dimana orang tuamu eum?" namja cantik itu kembali membujuk, seakan memang tengh berkomunikasi dengan anak misterius itu. Walau nyatanya Ia memang hanya bicara seorang diri.

"Orang tuamu pasti mencemaskanmu, jika kau—

Baekhyun seketika stagnan, begitu melihat sebuah air terjun kecil di sisinya.

Riaknya begitu jernih, namun sesuatu yang aneh mendadak terjadi begitu gemericik air itu berubah memadat, menyerupai cermin besar di antara guanya.

Baekhyun reflek menutup bibir dan nyaris menjerit. Dengan apa yang dilihatnya kali ini. Ia benar-benar melihat pantulan dirinya dalam cermin itu.

Tapi sosok yang lain ada di dalamnya.

Ya... Chanyeol berdiri di sisinya menggenggam tangannya. Dan seorang anak kecil berada dalam gendongan pria itu.

Anak itu?

Tunggu!

Baekhyun meremas kerahnya sendiri, kakinya reflek melangkah ke belakang karna terkejut. Anak itu... adalah anak yang dilihatnya beberapa saat yang lalu.

apa hubungannya? mengapa Chanyeol dan anak asing itu di dalam cermin itu. Dan mengapa Ia tersenyum bersama mereka?

'BRUGH'

Baekhyun terperanjat begitu punggungnya menabrak seseorang, Ia menjerit histeris...takut kalau-kalau semua ini jebaakan, atau bahkan hantu yang ingin menangkapnya di hutan seperti ini.

"AAAAHHHH!"

"Sshhh..."

"LEPASKAN AKU! AHHH! JANGAN MENANGKAPKU!" Ronta Baekhyun ketakutan

"ini aku...buka matamu Dear"

"C-Chann—" Baekhyun membuka cepat kedua matanya, begitu mendengar suara menenangkan itu. Lalu menghambur dan merangkul panik perut Chanyeol. seakan menunjukkan ia ketakutan. "Ini benar-benar dirimu?" Racau Baekhyun memastikan.

Pangeran Sulung itu tersenyum tipis, lalu membelai pelan punggung sempit... namja yang masih menggelayut gemetar dalam pelukannya itu. "Hn... ini aku, tenanglah. Mengapa kau di tempat seperti ini seorang diri? aku mencarimu Dear"

Baekhyun menggeleng, dan makin mengeratkan rangkulannya. Sungguh demi apapun itu. ia benar-benar jera tak ingin pergi seorang diri lagi tanpa Chanyeol.

Chanyeol hanya memejamkan mata melihatnya, setidaknya Ia telah menemukan Baekhyun. Walau dalam kondisi ketakutan seperti ini.

"Apa yang kau lihat hm?" Tanya Chanyeol seraya menyentuh dagu Baekhyun. Tapi anak itu menolak dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Chanyeol.

Tapi sebelah tangannya terangkat, menunjuk tepat pada sebuah mata air terjun di seberang keduanya.

"Ka-kau di sana" Gumam Baekhyun lirih

"Hn?"

"Ku bilang kau di sana!" protes Baekhyun seraya mendongak, menatap penuh kesal pada namja tampan itu.

Chanyeol terkekeh melihatnya, menyibak surai pirang Baekhyun ke atas sebelum akhirnya menangkup wajah tirusnya. dan mengecup kecil ujung hidung mancung itu.

Baekhyun berdengus sambil memalingkan wajah, kembali berusaha menyembunyikan wajah tersipu itu dari Chanyeol

Tapi beberapa detik kemudian, Ia memekik tak suka...begitu Chanyeol ingin membawanya melangkah menunju mata air terjun itu.

"Kau melihat mata air terjun ini?" Tanya Chanyeol setelahnya, Baekhyun hanya mengangguk tanpa sedikitpun berniat melihat ke arah air itu.

"Lalu apa yang kau takutkan hn?"

Baekhyun mendadak menatap Chanyeol tak mengerti. Bukankah pria itu melihat pantulan dirinya di dalam cermin air itu?

"Kau di dalam air itu"

"Aku?"

"Y—ya...kau di dalam sana" kali ini Baekhyun memutuskan kembali melihat air itu, dan sama seperti sebelumya air itu berubah memadat, menyerupai cermin besar. Dan di sanalah Ia melihat pantulan tiga sosok.

Chanyeol mengernyit. Mata air di depannya saat ini kerap disebut cermin masa depan. Tak ada satupun yang bisa membacanya di alam ini. Tapi mengapa Baekhyun?—

"Bukankah itu hanya air yang mengalir?" Tanya Chanyeol mencoba memastikan keyakinannya.

Baekhyun menggeleng pelan. "Bukan... itu sebuah cermin besar" Celetuk Baekhyun seraya membentangkan kedua tangannya.

Pangeran Vampire itu beralih menatap Baekhyun dan mata air itu bergantian. ia tak melihat cermin apapun selain air yang mengalir dari puncak tebing ini.

Jika demikian, mungkinkah ini yang dimaksud ayahnya kala itu?
Chanyeol melangkah kebelakang tubuh Baekhyun, lalu memegang kedua pundaknya. Pria itu merunduk...dan berbisik di telinga Baekhyun.

"Apa yang kau lihat di dalam cermin itu Dear?"

Baekhyun mengerjap, lalu menatap lekat pantulan tiga sosok di hadapannya.

"Aku..." Gumam Baekhyun.

"Lalu?"

"Kau dan seorang anak laki-laki dalam gendonganmu"

Chanyeol terbelalak lebar mendengarnya, Ia menarik bahu sempit itu...untuk menatap kedua mata sapphirenya lekat-lekat.

"Seorang anak laki-laki?" Chanyeol kembali memastikan, bahwa ia memang tak salah mendengar.

"Ya... sebelumnya aku melihatnya berlarian. Lalu berakhir di dalam cermin itu. Mengapa kita bersamanya? Siapa anak itu?" Tanya Baekhyun bertubi-tubi, sambil mengerjap menuntut jawaban pada pria tinggi itu.

Sepersekian detik Pangeran Sulung itu terlihat tertegun, tak mampu berkata apapun selain memejamkan mata. Ia meraih kedua tangan Baekhyun, dan menciumnya begitu lama. Membuat namja cantik itu semakin kikuk diperlakukan demikian.

"Kedua mata yang kau miliki saat ini. Membawamu melihat masa lalu dan masa depan. Kau memiliki kemampuan itu Dear" Bisik Chanyeol seraya mendekap tubuh kurus itu. Semua semakin beralasan untuknya, dan mimpi buruk Baekhyun pagi ini, tentu ada kaitannya. Karna Baekhyun melihat masa lalunya.

Baekhyun mengerjap tak mengerti. "Apa maksudmu? Bicaralah dengan bahasa yang ku mengerti!"

Chanyeol tak menjawab dan hanya tersenyum padanya, membuatnya kesal. Tapi Ia masih penasaran dengan seorang anak yang tertawa kecil dalam gendongan Chanyeol itu.

"Siapa anak itu?"

Chanyeol turut memalingkan wajah, mengikuti arah pandang Baekhyun pada mata air itu.

"Dia... anak kita" Jawab Chanyeol tenang.

"Anak kita..."Gumam Baekhyun sembari menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berjengit dan—

"MWOO?!" Serunya rusuh. "Anak kita?! apa kau bercanda?! Akun namja...bagaimana mungkin Dia—

Baekhyun terdiam, begitu sebuah kecupan mendarat lembut di bibir tipisnya. "Aku tak pernah bercanda denganmu. Dia memang anak kita. Kau melihat masa depanmu Dear" Bisik Chanyeol tepat di bibir Baekhyun.

Namja mungil itu mendadak bisu, entahlah bisikan itu seakan melumpuhkan sikap keras kepalanya. Dan lebih memilih melihat cermin itu kembali.

"Haruskah aku mempercayainya? Gumam Baekhyun lirih, lalu tanpa tersadar menyandarkan kepalanya di dada bidang pangeran sulung itu.

.

.

"Mengapa...kau pergi seorang diri hn?"

Baekhyun yang masih menyandarkan kepalanya itu, hanya berdengus, mendorong dada Chanyeol menjauh lalu berjalan menghentak meninggalkannya.

"Karna kau selalu mengurungku!" Gerutunya

"Kau tak pernah mengizinkanku keluar! bukankah aku vampire sekarang?" Baekhyun mematahkan ranting kering, lalu kembali berjalan menghentak kesal.

Membuat Pangeran Sulung itu kembali terkekeh, melihat sikap merajuk itu.

"Seharusnya kau memberiku kebebasan, atau setidaknya kau mengajakku—AAHHH!"

Baekhyun tiba-tiba memekik , saat tubuhnya mendadak tersambar lalu melayang dan melesat cepat. Mustahil meronta ingin turun, tak ada opsi lain... selain merangkul erat leher Chanyeol.

.

.

.

TAP

Baekhyun mengerjap dan membuka cepat kedua matanya, begitu pria itu benar-benar berpijak di tanah. Ia beralih menatap Chanyeol tajam, lalu memukul pelan dadanya.

"Berapa kali kukatakan, jangan membawaku terbang mendadak! Itu membuatku terkejut! bagaiamana jika—

"Lihat semua mawar putih ini, bukankah kau menyukainya?" Sergah Chanyeol. Membuat namja cantik itu menoleh ke bawah dan tersenyum lebar. Ia menggeliat ingin turun, dan begitu lepas... Baekhyun berlari menghambur ke tengah hamparan putih yang semerbak itu.

.

.

Chanyeol lebih memilih, mendudukkan dirinya dan bersandar di sebuah pohon pinus besar. Mengamati tingkah bocah itu, yang semakin aktif melompat ke sana dan kemari, sesuka hatinya. Mungkin benar salahnya... tak membawa Baekhyun ke tempat ini sejak jauh-jauh hari.

.

.

.

"Ughh! Lelah..." Baekhyun berjalan gontai, lalu ambruk di atas pangkuan Chanyeol. Menjadikan paha pria itu sebagai bantalnya.

"Kau menyukainya?"

Baekhyun melirik ke atas. Tersenyum manis lalu mengangguk cepat. "Ne...gomawo"

Suasana kembali hening, tak ada satupun dari keduanya yang membuka suara selain degup jantung Baekhyun. yang berdebar...di tatap selekat itu oleh Chanyeol.

"Aku ingin menciummu.." Ujar Chanyeol tiba-tiba.

Baekhyun meneguk ludah payah, beberapa kali ia bergerak kikuk ingin memalingkan wajah. Namun tatapan mata amber itu seakan membuatnya beku, hingga Ia hanya bisa menatap ke atas.

Lama Chanyeol menunggu jawaban, hingga mata yang terpejam itu. Memberinya isyarat untuk bergerak lebih. Chanyeol merunduk, semakin mendekati bibir namja yangn masih terbaring di pangkuannya, dan—

'Chupp'

Kedua bibir itu bertaut lembut, Baekhyun sedikit meremas rumput di bawahnya... kala ciuman itu mengalir sensual. "Mnhh~" Dan makin terasa panas, begitu lidah Chanyeol turut mendominasi isi mulutnya.

"Nnn~ Aanghh" tubuhnya menggigil mendapat sapuan basah di langit-langit mulutnya. Menyulut smirk tajam dari bibir tebal itu.

Sesaat Chanyeol menyudahi cumbuan itu, untuk berganti posisi...namun yang terlihat, namja cantik itu mendesah kecewa...sekaan tak rela lidah itu lepas dari bibirnya.

Ah sial! tatapan dan raut Baekhyun semakin membuatnya tak terkendali. Ia beralih menindih tubuh mungil itu, lalu kembali mengklaim bibir tipisnya.

"Mph...Mhhahhnn"

.

.

.

.

"A—aahh! Noo!" Pekik Baekhyun, seraya mencakar pohon pinus. Tubuhnya semakin menggila, kala lidah basah itu bergerak panas menjilati pundak...dan bergerak turun menyusuri garis punggungnya. "B-bagaimana jika seseorang melihat k-kitah ahhn enghh!"

Chanyeol menyeringai tajam. "Tak ada seorangpun yang berani memasuki wilayah kekuasaanku, tenanglah"

"Ah! ahnnn~ Eummh" Baekhyun melengkuh, seraya menggigit jarinya. Menjadikan pohon pinus itu sebagai tumpuannya.

Baik kemeja maupun celananya, telah tertanggal entah kemana. Dirinya benar-benat polos total, sementara pria yang masih mencumbu punggungnya masih berpakaian lengkap. Entah apa yang terjadi, hingga berakhir seperti ini. Baekhyun benar-benar tak mengerti. Yang Ia tau...semua mengalir begitu cepat, Ia terbuai dan di sinilah Ia mendesah dan memekik.

"NN! AHH!" Punggung rampingnya melengkung, begitu tangan besar Chanyeol meraba perutnya lalu berakihr dengan meremas-remas genital mungil itu. Sementara lidahnya seakan tak ingin kalah mencumbu Baekhyun dari belakang, meninggalkan spot-spot merah matang di sekujur punggung mulus itu.

"A—ahh! A-andwae...nnn c-cukup!" Panik Baekhyun begitu menyadari lidah itu semaiin turun ke bawah, tak hanya itu, tangan yang semula meremas genitalnya kini beralih meremas-remas buttnya lalu menyibaknya berlawanan hingga...rektum itu benar-benar terekspose sempurna.

Baekhyun menggeleng cepat, kedua tangannya menggapai-gapai kebelakang ingin menghentikan Chanyeol. Tapi percuma... dirinya hanya bisa menungging, membiarkan pria itu menatap lekat-lekat lubang analnya.

"T-tidak! J-jangan lakukan itu!" panik Baekhyun lagi, seraya menggeleng kasar begitu mengerti situasi yang memgepungnya.

Chanyeol hanya mengulas smirk. tatapanya berkilat...sebelum akhirnyaa lidah itu terjulur sensual di depan rektumnya.

"A-andwaeee! A—Ahhhhhh"

Tapi sayang, Baekhyun tak mampu menahan desahan kerasanya, kala lidah itu benar-benar menjilat lubang analnya. Sesekali terasa menusuk masuk lalu keluar, seakan tengah menggodanya. Tak pelak Baekhyun semakin kewalahan dengan rasa panik dan nikmat yang berbaur menjadi satu itu."A—ah! Hks...Hentikan! Eumh! ah! Aku...ahnn !"

Chanyeol hanya menyeringai di sela cumbuannya, terus melumuri lubang sempit itu dengan salivanya sendiri tak peduli, Baekhyun meronta dengan wajah bersemu merah padam seperti itu.

"Hks..Ah! Nnghhh! I really don't want this!" Jerit Baekhyun lagi, masih meronta tak ingin dicumbu seperti itu. Perutnya benar-benar mengejang keras hanya dengan cumbuan itu. Ia memaksa ingin merangkak, ingin melepaskan diri. Tapi naas, Chanyeol terlalu sigap menangkap sebelah kakinya, memutarnya hingga membuatnya telentag lalu menekukknya ke atas, hingga menyentuh puncak kepalanya.

Untuk sesaat Baekhyun diam, terbelalak dengan posisinya saat ini. Ia benar-benar bisa melihat dengan jelas, miliknya sendiri.

"Jadi...kau ingin aku mencumbumu dari depan seperti ini?" Bisik Chanyeol, membuat namja mungil itu menggeleng kasar. namun tetap menatap sayu, berusaha menahan debaran dadanya yang kian tak menentu.

"Ah~" Baekhyun menahan nafas, saat lidah itu kembali menggoda rektumnya. Wajahnya merona panas, dengan posisi seperti ini Ia bisa melihat bagaimana Chanyeol menusukkan lidahnya kedalam, menghisap bahkan memainkan saliva di dalamnya. Hingga bunyi kecipak yang terdengar semakin membuatnya menggigil.

"Akh! ah.. Mmmmh!." Desahnya lagi, meski kepala itu menggeleng...namun lenguhan dan pekikkannya tak pernah mengingkari, Ia tengah dibuai kenikmatan.

.

.

.

.

"Tak masalah jika kumasukkan sekarang?" Bisik Chanyeol begitu menarik keluar jari panjangnya dari rektum basah itu.

Baekhyun tak menjawab apapun, selain memalingkan wajah dengan tangan menyilang di kedua dadanya. nafasnya begitu terengah...dengan semburat merah di kedua pipi putihnya. oh sungguh, tubuhnya semakin terasa sensitif, melakuan semua ini di tempat yang sepenuhnya terbuka. taukah Chanyeol, Ia tersedak debaran jantungnya sendiri?

.

.

Chanyeol sama sekali tak bisa berkedip sedikitpun, terlalu terpana melihat paras menggemaskan itu.

sebelah tangannya mengambil tangan Baekhyun lalu, menautkan jemari keduanya...sementara tangannya yang lain terlihat mengocok genital besarnya sendiri, sebelum akhirnya...menggesek kepalanya dengan bibir rektum itu.

"Mmh!" Baekhyun kembali mengernyit, sesekali membuka bibir.

Membuat Pangeran Sulung itu semakin bersemangat menekan-nekan bibir anal itu dengan penisnya. "A-ahh! J-jangan menggodakuh!" Gerutu Baekhyun.

Chanyeol menyeringai, Ia menyambar cepat bibir kissable itu...bersamaan dengannya pula...penis itu melesak masuk, hanya dalam sekali hentak.

Membuat Baekhyun terbelalak lebar, dan menjerit tertahan dalam ciuman itu. "MMPHFTTHH!"

.

.

.

.

.

"ssshh...Dear"

"AHMPFH...MMHH! MMMH!"

Bibirnya masih terkunci sementara, tubuh mungilnya masih dihentak-hentak di atas rumput tebal itu. sesekali Ia menggeleng, ingin melepas cumbuan itu. Tapi berakhir dengan reflek merangkul leher Chanyeol. Tiap kali...pria itu menumbuk sweetspotnya. Terus berulang...hingga tubuh ramping itu mengejang. "C—CUMMHH! AHHHT!" lalu cairan pekat merembas...membuat tubuh keduanya semakin lengket.

Chanyeol berhenti sejenak, memberi jeda pada namja cantik itu...untuk bernafas. Ia merunduk dan menyeka air mata Baekhyun. "Keluarkan lidahmu" Bisik Chanyeol.

Semula Baekhyun hanya memejamkan mata, tapi mendengarnya... Baekhyun mula mengerjap sayu, lalu sedikit mengeluarkan lidahnya. Detik itu pula Chanyeol menyergapnya, menyedotnya kuat...hingga lidah mungil itu,tertarik masuk kedalam mulutnya.

"Mmh! Angh—aghh!" Erang Baekhyun, dengan tangan mecengkeram erat lengan Chanyeol

Kedua matanya mendadak terbelalak, begitu organ besar itu kembali bergerak tertarik keluar, lalu kembali melesak masuk hingga pangkalnya. Baekhyun menjerit tertahan, namun tubuh kecilnya tetap terhentak-hentak ke atas dengan bibir dicumbu seperti itu.

.

.

"Ught~tu-buhmu nikmath" Desis Chanyeol nikmat. Ia menarik sebelah paha Baekhyun, saat menyadari klimaks itu hampir menyentak. Sedikit memutarnya, lalu kembeli menyetubuhi namja cantik itu dari samping.

"Arghh! T-terlalu dalamh...nnnh! AH!" Pekik Baekhyun seraya memegangi perutnya sendiri, "Ahh! Hhahh! T-there! ummphh!" Teriaknya lagi, tanganya meremas payah akar pinus di hadapannya. sementara Namja tampan itu semakin brutal mengentaknya, ingin mengejar klimaks.

"Akkh! Ah!...AA! AHNN!"

"Ugh!" Chanyeol membenamkan miliknya dalam-dalam, dan terlihat beberapa kali mengejang, menyentak semennya.

"AA—AAHHH!" Baekhyun menggigil. Kedua manik birunya terbelalak lebar. Menyadari...semburan panas, memenuhi rongga perutnya, bahkan sebagian tak tertampung dan menetes keluar dari sela tautan tubuh keduanya.

"Nnnhh~" Lenguh Baekhyun, lunglai dan limbung jika saja Chanyeol tak menangkapnya.

.

.

"Kau hebat Dear" Desis Chanyeol saat memberikan kecupan-kecupan mesra di tengkuk Baekhyun. Ah! Jika saja Baekhyun sudah memiliki rahim saat ini, tentu Baekhyun akan mengandung detik ini juga.

Ia sedikit bergerak, ingin menarik keluar miliknya.

namun tanpa terduga, kedua kaki Baekhyun menjepit pinggulnya dan menariknya mendekat. hingga membuat penis itu kembali terbenam ke dalam. "J-jangan melepasnya! Nhh~.. B-bagaimana jika n-nanti me-meleleh keluar"

Chanyeol stagnan, ucapan macam apa yang baru saja di dengarnya? Apa namja cantik itu memang sengaja menggodanya untuk kembali terangsang. Oh sungguh! mustahil Ia menyetubuhinya lagi...jika senja semakin berangsur pekat seperti ini.

Pangeran Sulung itu diam, dan hanya mengecup leher Baekhyun...seringai tipisnya terulas, menyadari tubuh ramping itu semakin penuh dengan aroma tubuhnya.

Chanyeol kembali menatap lekat manik biru itu, Sejenak ia mengulum senyum sebelum akhirnya menaikkan dagu Baekhyun.

"Apa kau mencintaiku?" Bisik Chanyeol pelan

"..." Baekhyun mengerjap, terlalu panik mendengarnya. Hingga membuatnya menatap tak tentu asal itu bukan Chanyeol.

"Tak apa, Aku akan menunggu jikampfh—

'Chupp'

Pangeran Sulung itu benar-benar terkiesiap, menerima kecupan mendadak di bibirnya. ia mengerjap, sementara namja mungil itu masih menempelkan bibirnya dengan mata terpejam.

Hingga beberapa detik kemudian, Baekhyun menjauhkan wajahnya lalu menunduk. "A- A...itu, aku t-tidak bermaksud, aku—

"Ya, sangat jelas.." Chanyeol tersenyum, seraya meraba belakang kepala Baekhyun. sedikit menariknya mendekat, lalu melumat mesra bibir yang telah memerah itu.

"Sangat manis.." Bisik Chanyeol di sela-sela lumatannya, sebelah tangannya yang lain terangakat menekan dagu Baekhyun, lalu memperdalam cumbuan hangat itu.

"Mnhh~"

.

.

.

.

.

.

.


"Whoa...Hyung, dari mana saja kalian?" Kai yang melihat kedatangan Pangeran Sulung itu,cepat-cepat menghambur. Lalu berjalan mengekor Chanyeol, dengan seorang namja mungil yang menggelayut pulas di atas punggungnya.

"Apa kau bicara tentang lembah putih dengannya?"

Kai memegang dagu, sejenak berpikir. Tapi setelahnya ia tersenyum lebar "Ah ne! Aku menceritakan pada kakak ipar, tempat di mana Dia bisa bermain! Ah... apa kau benar-benar mengajaknya ke sana Hyung?"

Chanyeol hanya berdecak mendengarnya, dengan senyum terkembang itu Ia mengacak asal surai hitam Kai. "Pulanglah..." Ujarnya lalu melesat. Menapaki satu persatu tangga berkarpet merah itu.

"Aissh tak bisakah aku bermain sebentar saja di purimu Hyung?"

"..."

"Aisshh! Tck!" Decaknya, meski demikian Ia tetap tertawa kecil sambil menyentuh puncak kepalanya, sadar akan perubahan sikap Chanyeol saat ini.

Chanyeol yang ia kenal dulu, adalah sosok yang kejam nan dingin...bahkan tak pernah mengulas senyum sedikitpun.

tapi kini?

Mungkinkah Baekhyun yang membawa angin segar itu?

.

.

..

"Uhn! Chan!"

Chanyeol berkedip beberapa kali, begitu membaringkan tubuh mungil itu dan Baekhyun mulai mengigai memanggil namanya. Dadanya kembali berdesir hangat, sejatinya vampire tak memiliki perasaan seperti ini, tapi entahlah... Baekhyun yang menciumnya saat di lembah beberapa saat lalu. Yang mampu membuatnya menjadi demikian.

Ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menjuntai di pipi dan kening Baekhyun, menatapnya lama...seakan tak pernah terpuaskan memandangi paras cantik itu.

Bahkan rasanya, ia tak pernah jemu mengklaim bibir ranum itu. Membuatnya merunduk ingin kembali mencicipinya.

"Pabboya! Park Chanyeol!" Namun tiba-tiba saja Baekhyun berteriak keras sambil berguling ke samping. Saat Ia sadar, Baekhyun rupanya kembali mengingau. Ah... hal macam apa yang sebenarnya dimimpikan namja cantik itu.

Chanyeol beralih membaringkan tubuhnya di sisi Baekhyun, meraih jemari lentiknya lalu memainkannya dengan gemas.

"Seperti apa putra kita?" Gumam Chanyeol sambil menatap lekat wajah terlelap itu. "Seperti dirmu? ataukah seperti diriku?" Lanjutnya lagi, tak menyesal kembali menyimpul senyum menawannya.

"Dear..."

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C

.

.

Next Chap

Kedua matanya kembali terbelalak lebar, seakan dipaksa melihat sesuatu di luar akal sehatnya.

jemari penuh dengan kuku tajam itu benar-benar menyayat perutnya. Belum lagi semua bola api yang mengitari keduanya dengan kekuatan magis itu.

Baekhyun ingin menjerit. tapi Ia hanya terbelenggu bisu...melihat detik demi detik Pangeran Sulung itu menanamkan organ asing ke dalam perutnya.

.

.

"Di sinikah, keparat itu menanamkannya?" Zico meremas paksa perut Baekhyun, seakan tak puas mendengar Baekhhyun menjerit kesakitan karenanya. Apapun itu, ia tak akan membiarkan Chanyeol menjadi penguasa alam ini.

"A-AAAAAHHHHTTTT!"

.

.

.

.

Annyeooong, Chingu sayanggg

Gloomy hadir membawa Chap 9 nyaa

*Bonus NC

*A Maaf... tanam menanam rahim masih di chap depan rupanya hehehe

*Umm Mpreg tak yooo?

Hayoooo Review ... untuk asupan Gloomy lanjut Chap 10 nya.

Tak Review Maka Tak Update... hiks...hiks

.

Ingin protes ataupun berkeluh kesah (ecie)

Silakan invite IG : gloomy_rosemary

.

Chaaaaaaa... Seperti Biasa, Gloomy akan mencantumkan setiap nama reviewer di chap sebelumnya, untuk:

restikadena90, chanbaekssi, gloriadelafenni , LyWoo, lee da rii, 90Rahmayani, Shengmin137, SHINeexo, chanbaekmama, Tiara696 , LM, Aeri, Yeolliebee , tkxcxmrhmh, Byunsilb , LittleJasmine2, myungie , boorene11 , SuciMyM614 , LightPhoenix614, chanbaek-kuu, eenychanpeceye , Eun810, yousee, Incandescence7 , Byunexo , eenychanpeceye , daebaektaeluv , guekece, RinaPcy76 , BananaOhbanana, sehunboo17 , lilykurniati77, danactebh , Baekhyun Cantik , AileeEverlasting, baekkumaa , CB046194, chan92 , cinderbaek , xoaeri12 , len, CHANBAEK , ezti, metroxylon , phantom d'esprit , Cbslatte , selepy , myliveyou, dwi yuliantipcy, babybaekhyunee7 , Lshiwind , Dewi Wi Dewi525 , sherli898, baekkieaerii , Baeka, parkbaekhy , Park RinHyun-Uchiha , rima, n3208007 , vkeyzia23, dhantieee , LittleOoh , sehundick , len, LUDLUD , vibrator , Markeu Noona, NaBlue, dan All Guest

Gomawooooo sudah review chap 8 kemarin jangan lupa review lagi

ANNNNYEOOOOOOOOG

SARAAAAANGHAAAAAAAAEEEEEEEE