Hope you like this fiction :)
Jongin tidak suka berada dirumah sakit, dia bisa mencium bau karbol dan obat yang sangat menyengat. Bagian rumah sakit yang paling suram ada di lobi ICU dimana orang menunggu berita tentang teman, orang yang mereka cintai yang sedang berada dalam ICU. Dokter dan suster mondar-mandir dengan sol karetnya yang halus, seperti mereka mengerti disini tidak menginginkan tambahan suara. Tempat ini bukan bagian terbaik dari rumah sakit, Jongin tahu mungkin bagian ini lah yang paling banyak melihat kematian.
Baekhyun masih terbaring dengan selimut berwarna hijau disekelilingnya, tangannya yang patah diperban dan ditopang. Detak jantungnya lemah, tapi setidaknya masih berdetak.
Setelah menyuntikan obat tidur pada Yifan segalanya menjadi blur. Merasakan Sehun dalam pelukannya membawa Jongin melayang. Seketika Jongin disadarkan oleh teriakan di luar sana. Dengan segenap tenaga dia menyerahkan Sehun pada Suho. Jongin berlari keluar dan melihat salju yang sudah menjadi merah. Yifan sadar dan memberontak. Tiga penjaga yang menahannya terluka parah, entah apa yang Yifan lakukan. Dan Yifan sendiri terkapar diatas salju dengan peluru tertanam di dadanya.
Yifan sudah berbuat banyak kejahatan. It was a fitting end for him but somehow it didn't feel like it was enough. Mata kosong Sehun saat beberapa orang lain membawa jenazah Yifan juga tidak cukup bagi Jongin. Tidak cukup karena Yifan sudah membuat Baekhyun menderita seperti sekarang ini.
"Aku tidak tahu bagaimana harus menyelamatkannya." Jongin berbisik saat dia dan Sehun berdiri di sebelah Baekhyun yang tak juga sadarkan diri. Baekhyun, sahabatnya saat di sekolah, sekarat karena seorang pria yang juga menyakiti orang yang dicintainya, kehilangan banyak darah, tulang tangannya patah. Baekhyun yang cantik, keras kepala, dan kesetiaannya pada orang yang dicintai. Sekarang dia terbaring, hampir tidak bergerak, seperti mati. Sehun menyandarkan badannya pada Jongin, tidak sekalipun melepaskan Jongin lagi setelah dia melihat mayat Yifan.
"Kau tidak perlu melakukan ini sendiri Jongin." Sehun menggenggam tangan Jongin. "Bahkan dokter terbaik pun bilang kalau ini bukan hal yang mudah." Jongin tahu maksud Sehun baik, tapi tetap saja. Bukan karena Sehun tidak mempercayainya. Jongin tahu, tanpa sumberdaya yang memadai, dia tidak bisa menyembuhkan sahabatnya. Setidaknya tidak sendirian. Dia tahu begitu orang mengetahui namanya, mereka tidak akan mengizinkan Jongin untuk tinggal. Pikiran tentang itu lah yang paling menyakitkan. Tapi dia tidak bisa membiarkan Baekhyun meninggal.
Saat mereka datang dengan ambulance tadinya dia pikir dia tidak akan diizinkan masuk sama sekali. Tapi begitu tahu namanya atau mengenalinya, mereka bahkan tidak sedikitpun memperhatikan dia. Yang mereka lihat hanya Oh Sehun dan temannya yang butuh pertolongan.
"Maaf Tuan." Wanita pendek dengan rambut abu-abu yang juga pendek menghentikannya saat Baekhyun dipindahkan. "Hanya dokter dan suster yang boleh masuk ke ICU." Suaranya tegas, tidak ingin dibantah. Jongin merasa tidak berguna dan frustasi. Lalu Sehun menghampiri mereka, menahan Jongin dan berkata pada wanita tadi, "Aku Oh Sehun." Dengan ekspresi yang tegas.
"Aku menjamin kalau dia sama saja dengan dokter. Hanya karena dia tidak mendapatkan ijazah, tidak membuat dia tidak tahu apa-apa mengenai pengobatan. Aku pikir dia bisa memberikan sedikit bantuan." Suaranya keluar semanis mungkin membuat dokter tadi menatapnya.
Lalu dia menatap Jongin dengan keraguan nyata, "Satu kali saja mengganggu, kau keluar." Jongin bahkan tidak sempat bersyukur. Karena dia langsung masuk ke dalam ruangan dimana Baekhyun dipindahkan. Hampir saja dia tenggelam dalam ketakutan saat melihat jantung Baekhyun yang hampir berhenti berdetak. Ada dua dokter lainnya disana sedang menyusun langkah yang harus mereka lakukan dengan suara yang semakin mengkhawatirkan di setiap detiknya. Jongin mengerti apa yang mereka rasakan. Tapi mereka butuh bertindak cepat.
Hari itu menjadi hari yang sangat panjang. Jongin berhasil meyakinkan para dokter tentang apa yang harus mereka lakukan. Diantara memperbaiki tulang Baekhyun yang patah, mengganti banyaknya darah Baekhyun yang hilang. Baekhyun hampir saja tidak terselamatkan. Saat mereka mencoba membuat jantung Baekhyun berdetak lagi agar darah yang dimasukkan dapat mengalir di nadinya. Jongin baru bisa bernafas lega saat Baekhyun sudah stabil dan tertidur.
"Dimana kau mempelajari semua itu?" Mereka semua kelelahan, tapi dokter ini pasti sangat ingin tahu.
Badan Jongin sudah limbung karena kurang tidur. Ini sudah malam kedua dan yang dia inginkan hanya tidur sambil memeluk Sehun. Tapi Jongin memaksa dirinya untuk berjalan, "Aku belajar." Katanya datar, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Disaat seperti ini dia sadar kalau dia tidak terbiasa berada di antara orang banyak.
Dokter yang tadi bertanya termasuk tinggi dengan bahu yang lebar, tapi tidak mengintimidasi Jongin sama sekali. Dokter tadi memperhatikan Jongin, dengan mata cokelat mudanya yang tajam, seperti mempelajari Jongin, lalu dia tersenyum, "That you did, my boy." Terkejut, Jongin mengedipkan matanya dan ketegangan di ruangan itu berkurang. "Buatlah surat ke universitas, aku akan memberikan rekomendasi untukmu." Dokter tadi menepuk pundaknya dan keluar dari ruangan, diikuti dengan dua dokter lainnya. Selelah apa pun Jongin, entah kenapa dia merasa lebih lega. Tidak ada yang menanyakan namanya, mereka sepertinya tidak peduli. Mungkin, hanya mungkin dia tidak perlu bersembunyi lagi di villanya. Ide yang indah dan menakutkan di saat yang sama.
Saat dia berbalik untuk memberi tahu Sehun kalau Baekhyun akan baik-baik saja, dia merasakan tujuan baru dan kepercayaan diri yang penuh.
"Jongin.." Seseorang memanggil namanya, suara lembut yang sudah bertahun-tahun tak didengarnya. Jongin melihat dirinya berdiri di halaman yang berumput lebat, bermandikan sinar matahari yang hangat. Udara dengan wangi mawar mengisi paru-parunya. Tempat dimana dia berdiri nampak seperti kebun di belakang villa tapi dia tidak dapat melihat observatorium atau pavilliunnya dan cahaya matahari terlalu menyilaukan jadi dia tidak bisa apa pun, "Jongin, anakku, kesini." Perlahan, dia berbalik.
Dihadapannya, diantara banyaknya bunga mawar, berdiri ibunya.
"Hallo anakku." Suaranya hangat seperti sinar matahari yang mengelilingi mereka dan dia tersenyum, senyum hangat yang tadinya Jongin kira sudah dia lupakan. Jongin merasa nafasnya tertahan di paru-paru dan air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ibunya terlihat sangat nyata, tidak seperti bayangan yang biasa dia lihat di villa. Seperti dia bisa meraihnya dan menyentuhnya tanpa membuatnya memudar.
"Ibu." Panggilnya, dia mendekatkan diri. Senyum di wajah ibunya melebar dan semakin familiar untuknya. Dia merasa kesedihan yang selama ini melingkupinya memudar dan menghilang di antara sinar matahari yang menyilaukan.
"Kau terlihat baik anakku." Ibunya bergumam, rambutnya jatuh mengelilingi wajahnya dengan kerlingan yang indah. Dia nampak lebih muda, tanpa hal yang harus di khawatirkan dan dipedulikan. "Aku minta maaf karena aku sudah meninggalkanmu sendirian, tapi kau sudah tumbuh dengan sangat berani, sangat kuat, sangat.. indah," Ibunya mengulurkan tangannya cukup dekat untuk menyentuh pipi Jongin.
Jongin berusaha untuk tersenyum. Dia merasakan kehangatan didadanya atas pujian ibunya, tapi air mata tidak bisa berhenti mengalir. "Ibu." Dan Jongin melingkarkan tangan pada Ibunya, memeluknya erat. Wangi mawar menghilang dan digantikan dengan wangi yang melingkupinya saat dia tumbuh, wangi yang dihubungkan dengan kenyamanan, cinta, keamanan.. wangi ibunya, memenuhi penciumannya.
"Jongin sayang. Jangan menangis sayang. Ayah dan ibu sudah ada di tempat yang lebih baik sekarang." Ibunya melonggarkan pelukan Jongin dan membingkai wajah Jongin dengan kedua tangan hangatnya. Membuat Jongin measa seperti anak kecil lagi dengan keadaannya yang menangis sesenggukan sekarang ini. "Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak ingin kau sendirian jadi aku berpikir untuk menemanimu, satu-satunya cara yang dapat kulakukan agar kau tidak kesepian. Tapi sekarang ada orang lain," Pipinya diusap agar air matanya terhapus dan dicium, "Anak laki-laki manismu, benar?" Mendengus, Jongin mengangguk, berpikir tentang Sehun dengan mata cokelatnya yang cantik dan senyumnya.
"Apa Ibu bahagia?" Jongin berbisik, mengambil nafas sebanyak-banyaknya sehingga dia tidak akan lupa wangi ibunya.
Ibunya mengecup pipi Jongin lagi dan mengambil satu langkah ke belakang. Ujung kakinya mulai memudar dan cahaya di sekitar mereka meredup. "Aku bahagia. Sekarang giliranmu untuk bahagia. Aku mencintaimu anakku." Lalu dia menghilang, satu-satunya yang tersisa dari mimpinya adalah wangi mawar dan sinar matahari yang hangat.
"Jongin…"
"Jongin…"
Jongin terbangun dan melihat Sehun di sampingnya, terlihat khawatir. Bingung dengan keadaanya, Jongin melihat sekelilingnya, dia ingat kalau sebelumnya dia sedang di rumah sakit menemani Baekhyun di ruang pribadinya setelah dipindahkan dari ICU. Jongin mengambil nafas dalam, mimpinya masih terbayang dan dia bersumpah kalau dia masih bisa mencium wangi mawar. Lalu Sehun meremas bahu Jongin dan yang dibicarakan ibunya lebih terasa manis daripada pahit.
"Apa kau baik-baik saja?" Sehun bertanya, "Kau terlihat sangat sedih saat tidur tadi, ku kira mimpi buruk." Sehun menyenderkan bahunya pada kursi yang ditempatinya bersebelahan dengan Jongin. Mereka sengaja memindahkan kursinya sehingga dekat dengan tempat tidur Baekhyun, karena Chanyeol sudah mengambil satu tempat yang paling dekat dengan Baekhyun.
Jongin tidak ingat tertidur, hari yang panjang pasti sudah membuatnya sangat lelah sampai duduk saja bisa membuatnya tertidur. Jongin tersenyum saat Sehun menempelkan telapak tangan di pipinya, "Aku baik-baik saja." Jongin bergumam, melihat ke arah Baekhyun dan Chanyeol yang masih tertidur dengan bergenggaman tangan. Chanyeol sangat takut akan kehilangan Baekhyun kalau dia menjauh sedikit saja dari Baekhyun, tapi sekarang dia bisa tidur dengan tenang setelah Jongin bilang Baekhyun akan baik-baik saja.
"Kau tidak membunuhnya." Suara Sehun lembut, matanya tetap memandang Baekhyun. Jongin memperhatikannya, mencoba mencari tahu apa yang dirasakannya. Sehun menghadapkan pandangannya pada Jongin, "Aku.. aku lega kau tidak melakukannya. Aku.. tidak berpikir kalau aku sanggup hidup dengan fakta itu, seberapa marah pun aku padanya."
Jongin mengusap rambut Sehun. Membuat Sehun tersenyum padanya dengan ekspresi yang sangat hangat, membuat hati Jongin lagi-lagi berdetak cepat. "Dia sudah mati Sehun." Kata Jongin lembut. "Semuanya akan baik-baik saja dan Yifan tidak akan bisa menyakitimu lagi." Saat mata Sehun memandangnya, ada sesuatu dibalik ekspresinya, sesuatu yang besar. Butuh beberap saat sampai Jongin sadar apa itu.
Kebebasan. Kelegaan. Afeksi.
Seperti menyadarinya, Jongin menundukkan kepalanya, dan memainkan selimut yang menutupinya, "Hmm jadi, ada rencana yang akan kau lakukan setelah ini?" Pertanyaan itu sedikit menyakitkan saat dikeluarkan, membuat jantungnya berdetak tak nyaman. Dia kira dia bisa membantu Sehun menemukan flat lain karena dia yakin Sehun tidak ingin kembali ke flat yang pernah ditempatinya dengan Yifan. Jongin berharap dia bisa meminta Sehun tinggal dengannya, tapi terdengar tidak mungkin. Sehun harus kembali ke kehidupannya dan sebesar apa pun harapan di hatinya, dia tidak punya keberanian untuk mecegahnya.
"Saat Baekhyun sadar kita akan pulang ke rumah dan mungkin Ayami dan Ayomi akan membuatkan kita banyak makanan dari cokelat, aku suka chocolate pancake," Sehun tersenyum lebar saat Jongin menatapnya, terkejut. "Aku selalu ingin mencobanya."
Kita, dia bilang. Rumah. Hanya villa yang bisa dia anggap sebagai rumah saat ini. Dia tidak mengatakan rumahmu atau villa.
Rumah.
Kebahagiaan menyelimutinya, bahkan hatinya menghangat, "Yeah." Jongin berbisik dan tertawa saat Sehun mencium pipinya, "Yeah, rumah."
Rumah mereka.
Saat Jongin bertemu Sehun di depan perpustakaan kota, dia berpikir Sehun adalah anak laki-laki paling manis, paling indah yang pernah ditemuinya. Belasan tahun kemudian tidak ada yang berubah. Hanya sekarang, Sehun tidak akan pergi kemana-mana.
Anak laki-laki manisnya Jongin akan disini menemaninya.
So, this is the end of this story
I'm so sorry if this isn't long enough, I can't came up with another word. I cried when I wrote this
Try to read this chapter while listening to The Cure by Lady Gaga and you'll know what I mean
Thank you so much for your warm responses
I'll post my Christmas fiction later, so see you guys :)
