Lost Innocence [Chapter 09]

.

.

By Ellden-K

.

.

.

.

.

Kali ini ada warningnya :'v

Dimohon untuk para readers agar membaca chapter ini saat malam saja.

Ingat! BACA SAAT MALAM HARI SAJA.

Karena adegan dewasa didalam fanfic ini tidak diperuntukan bagi readers yang sedang berpuasa.

Kalo masih ngebet, bukan lagi salah author karena sudah diperingatkan sebelumnya.

Be Honest!

Sorry untuk update lama dan bawa chapter yg isinya nc *ups xD

Ingat juga untuk membaca dengan fokus. Baca setiap kata dan kalimatnya dengan seksama, karena chapter ini agak berat juga untuk dibaca.

Karena alur di chapter ini maju-mundur/? Perhatikan waktu yang dijelaskan pada awal kalimat ya xD

Kalo yang mengerti dan terbayang dengan alurnya berarti imajinasi kalian luar biasa xD (bilang aja mau ngeles karena ketikannya berantakan *:'v)

But, enjoy it and hope you like it :D

.

.

.

Ell

.

.

.

.

.

.

"Kukira pria semanis dirimu terlihat agak aneh jika sendiri." Gumaman dengan suara dalam itu menyentakan Taehyung dari lamunannya.

Membuat wajah tirus tersebut menoleh dengan tanpa menunggu jeda. Alisnya mengernyit, membiarkan hazel bening itu menelusur tubuh tinggi nan menawan dihadapannya.

Pria yang barusan menyapa Taehyung pun menyunggingkan senyum miring yang ganjil, wajah tampan yang juga terhalang topeng half face. Senada dengan warna setelannya yang serba hitam.

Gemerlap pada pinggiran topeng berasal dari manik-manik kecil disekitarnya, menambah kesan karismatik yang tiba-tiba Taehyung sandangkan pada pemuda itu.

Namun Taehyung nampak mengenali postur tubuh tinggi dengan bibir merah yang membalut gigi kelinci didalamnya.

"Oh, dan seharusnya kau menemaniku bukan?" Taehyung mengangkat bahu, kemudian disusul kekehan kecil pria barusan.

"Ingin kutemani manis?" Surai soft brown itu menunduk, dengan sebelah tangan bertumpu pada meja bar. Semakin merapatkan diri pada perawakan kecil yang lebih pendek darinya.

"Ditempat lain?" Taehyung mengikuti gerakan pria tersebut, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung keduanya hampir bersentuhan.

"As you want it.."

.

.

.

Taehyung berpikir, sejak awal ia memang sudah mengenali pria yang kini mencumbu lehernya mesra didalam lift bercorak krisan mewah pada dindingnya itu. Beruntung orang-orang sudah tidak banyak berlalu lalang, walau ini masih belum terlalu malam untuk Amerika. Aroma maskulin yang sama, postur tubuh yang sama, bahkan rahang tegas yang sama menggodanya.

"J- ahhhh..." Taehyung hendak memanggil nama pria itu, namun remasan pada bokong kenyal milik Taehyung membuat desahan erotis nya tidak dapat ditahan-tahan.

Pria ini amat piawai memainkan birahi seseorang, sungguh berbeda dengan orang yang biasa Taehyung jumpai akhir-akhir ini.

Keduanya masih menggunakan topeng half face masing-masing, saling merangkul dan menggoda. Hingga ketika mereka telah sampai dilantai lima belas, tangan lebar itu menarik Taehyung memasuki sebuah kamar yang amat mewah.

Taehyung terkesiap memandang interior ruangan yang baru saja ia masuki, tidak lama ia mengamati kemudian tubuh tinggi berotot itu menindihnya tepat diatas kasur.

Tanpa sengaja ujung sikutnya menekan tombol on pada sebuah remote tv. Kemudian suara musik yang terdengar dari pesawat televisi besar di dinding memutarkan lagu Skin dari diva besar Rihanna.

The mood is set,

So you already know what's next.

TV on blast,

Turn it down,

Turn it down.

Don't want it to clash,

With my body screaming now.

Ia kembali mencumbu Taehyung tanpa ampun. Menggerayangi tubuh kurus itu dengan kedua tangan lebar nan dingin miliknya.

Ketika Taehyung hendak mendorong sisi bagian kiri pada topeng pemuda itu, yang terjadi selanjutnya adalah kedua tangan Taehyung yang tercekal diatas kepala. Sedangkan sang dominan kembali mencumbu leher jenjang dibawahnya dengan tangan lain memereteli kancing kemeja yang dikenakan Taehyung.

Sentuhan itu sangat melenakan, berbeda dengan rangsangan lain yang biasa Taehyung dapatkan. Seperti gerakannya sudah terlatih dan dilakukan oleh seorang profesional. Walaupun diselingi nafsu langkahnya tidak pernah gegabah dan terburu-buru, bahkan Taehyung sampai terbuai dalam setiap sentuhannya. Kedua tangan yang dulu selalu ingin membelenggu kini malah tercekal tak berdaya, sementara mulutnya mengkhianati dan mengejek dengan desahan yang keluar dari Taehyung sendiri.

Melupakan segala persepsi lain yang ia pikirkan, bahkan getaran pada ponselnya tidak mampu menyadarkan Taehyung dari gairah yang menggulung.

Ia merasakan beberapa tarikan dan sentakan yang menampar akal sehatnya, membiarkan tubuh Taehyung melengkung, menggeliat bahkan menuruti setiap perintah tak terucap dari pria yang mengungkungnya.

Kepala dengan rambut soft brown tersebut menelusur bagian depan tubuh Taehyung yang sudah terbuka lebar, memberikan pemandangan seksi sekaligus erotis yang amat kentara.

Sementara mulutnya menggoda dada hingga perut Taehyung, kedua tangan yang sudah tidak mencekal kini malah membuka sleting celana pria dibawahnya.

Ketika bibir semerah darah itu berpindah pada gundukan yang masih terbungkus kain putih, Taehyung pun mengerang tak karuan. Tubuhnya menggeliat sensual, lalu kedua tangannya meremas surai lembut yang kini tengah menggoda selangkangannya.

No teasin,

You waited long enough.

Go deep,

Imma throw it at ya,

Can't catch it.

Don't hold back,

You know I like it rough.

Know I'm feelin ya, huh.

Know you liking it, huh.

"Aangghh! Ahhh!" Taehyung merasakan gigitan pelan dibatang kemaluannya akibat bibir lembut itu. Hingga precumnya membasahi sebagian permukaan celana dalam.

Namun godaan tersebut tidak berlangsung lama, tubuh itu menegakan diri kemudian melepaskan setelan jas mahalnya yang terlempar entah kemana. Setelahnya kembali mencumbu bibir Taehyung dengan pakaian yang masih terbilang lengkap, kemeja hitam lusuh akibat pergulatan yang masih berlangsung juga celana panjang senada menampakan tonjolan vulgar super seksi jika Taehyung melihatnya.

Sayang ia malah asyik memereteli kancing kemeja pria diatasnya, dengan mulut yang disibukan melawan serangan ganas bibir tipis bergigi kelinci itu.

So why you standing over there with ya clothes on,

Baby strip down for me,

Go on take em off.

Don't worry baby,

Imma meet you half way,

Cause I know you wanna see me.

Ketika Taehyung hendak membebaskan tiga kancing terakhir tubuhnya tiba-tiba dibalikan dengan kasar, memposisikan diri menunggingi orang tersebut.

Kedua tangan lebar itu menarik celananya hingga tidak tersisa apa-apa kecuali kemeja putihnya yang kusut, kini ia hanya mampu menoleh kesamping dengan tubuh setengah telanjang.

Sungguh luar biasa, pasalnya Taehyung tidak pernah menyukai posisi pasrah seperti itu. Mengingat ia adalah tipe bottom yang suka melakukan dominasi -kepada dominannya, namun sekarang dia malah tidak merasa keberatan dengan posisi mengundang tersebut.

Kini hole kemerahan itu berdenyut tak karuan, menunggu pasangannya mengisi kekosongan yang amat Taehyung damba.

Sang dominan menyiapkan rudalnya, kemudian memposisikan diri tepat dihadapan rektum Taehyung.

Sesuatu yang hangat terasa menyentuh pintu masuk, sedangkan Taehyung sudah melenguh tak sabaran. Alunan musik terus bermain dengan lagu yang sangat pas, sedangkan Taehyung semakin bergairah dibuatnya.

Hingga akhirnya benda keras nan berotot itu melesakan diri sedalam-dalamnya. Mengisi setiap kekosongan yang sejak tadi menyiksa birahi.

"ARGGHH! Aggh!" Taehyung mengerang hebat ketika tubuhnya terlonjak kencang akibat dari gerakan tarik-dorong yang dilakukan pria bersurai cokelat diatasnya.

Kedua tangan itu bertumpu pada kasur yang sudah nampak kusut dan berantakan. Berderak miris ketika gerakan pinggul sempurna itu semakin intens.

Taehyung sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, semuanya sudah terhalang oleh hasrat bercinta yang menggebu.

Ia sudah tidak memikirkan untuk mengetahui siapa lelaki yang tengah menyetubuhinya ini, atau apakah benar ia adalah pria yang sejak tadi Taehyung sangka-sangka. Bahkan untuk sekedar melepaskan topengnya saja Taehyung tidak mendapatkan kesempatan sedikitpun, ketika ia ingin melihat bekas luka pada bahu dan dadanya Taehyung selalu terhambat.

Bahkan kini, dirinya melupakan semua itu karena hentakan luar biasa yang menyengat seluruh tubuhnya.

Taehyung menyangka, jika pria ini adalah Jungkook. Ya, semua ciri-ciri yang Taehyung kenali ada pada pemuda itu.

Namun dengan sikap dan perilaku seperti ini, apa benar dia adalah Kwon Jungkook?

"Ahhh! Ngghh! Y-yahh!" Taehyung mengerang dan mendesah lebih hebat ketika Jungkook mendorong tengkuknya agar kepalanya bertumpu pada kasur dan tertelungkup dengan pantat yang dinaikan -itu bukan kehendak Taehyung tentu saja.

Kemudian selangkangannya menabrakan diri lebih kasar lagi pada pantat bulat didepannya.

Mengakibatkan keduanya mengerang dan mendesah secara bersahutan. Pria bertopeng hitam berkilau itu nampak meringis nikmat, kedua tangannya ia gunakan untuk membantu menggerakan pinggul Taehyung berlawanan dengan irama hentakannya.

Sungguh ini kenikmatan tiada tara yang mampu melemparkan kesadaran. Apalagi keketatan rektum panas Taehyung memperlakukan rudalnya dengan sangat baik. Meremas dan menghisap seakan benar-benar menginginkan keberadaan benda keras itu didalamnya.

Ketika hentakan tersebut mulai reda, Taehyung merasakan topeng yang ia kenakan merosot turun dari wajahnya kemudian terlepas sempurna ketika mulut hangat dibelakangnya melumat leher jenjang Taehyung.

"Aku tahu kau menyukai permainan kasar seperti ini.." Desah suara pria dibelakang telinganya, membuat Taehyung bergemetar terhempas nafsu.

"Tapi dengan situasi yang berbeda sayang.." Tambah Taehyung sambil menyeringai dan menjilat bibirnya berniat menggoda.

Melihat itu pria berotot dibelakangnya balas tersenyum miring.

Kemudian erangan nikmat tersebut kembali mengalun seirama dengan lagu erotis yang masih belum selesai.

.

.

.

.

Tiga jam setelah mengurus keperluannya dengan beberapa rekan bisnis Presdir Kwon yang berada di Amerika, Jimin melangkahkan kaki kedalam lift. Kemudian menekan lantai lima belas sebagai tujuan berikutnya malam ini, sambil membawa beberapa berkas didalam amplop cokelat pada tangan kirinya. Melihat benda itu ia segera mengernyitkan alisnya, kemudian menghela nafas tidak sabaran. Beberapa saat ia berfikir, apakah Taehyung sudah membaca pesan darinya atau tidak. Karena sampai sekarang Jimin masih belum mendapat balasan apapun.

Sebetulnya ia menemui mereka hanya sekedar untuk formalitas saja, karena seharusnya si tuan muda kekanakan itu juga pergi bersama Jimin. Namun remaja tetaplah remaja, ia sedikit sulit ditangani. Apalagi dapat dibilang jika Jimin adalah orang baru yang tentu saja sulit ia percayai.

Jungkook memang mulai sulit menerima kehadiran orang baru disekelilingnya -atau ia memang sengaja untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain. Maka dari itu Jimin menyerah dengan mengunjungi para dewan sendirian, kemudian berkilah menggunakan kesehatan Jungkook. Tentu saja, pemuda itu tidak bisa berjalan karena suatu kecelakaan yang Jimin manipulasi juga.

"Dasar, jika bukan karena si keparat itu yang menyuruhku aku tidak akan sudi menjadi pesuruh seperti ini." Ia menggerutu dengan bibir seksi nan tebalnya, kemudian mengetuk-ngetukan sepatu pantofel hitam berkilau pada lantai lift.

Tapi, jika dilihat lebih dekat lagi Jimin pikir ia malah berbalik tertarik dengan Kwon Jungkook ini. Ada banyak kejanggalan dalam sikap dan caranya bersosial, walaupun pada beberapa kesempatan Jimin sempat menggolongkan hal tersebut dalam beberapa alasan lalu mengaitkannya dengan kesimpulan-kesimpulan yang Jimin dapat.

Meski begitu, ia masih harus menunggu.

Akibat ia yang mudah bosan, lelaki bermata sipit itu mengedarkan pandangannya pada sudut-sudut ruang kecil tersebut. Kemudian bibirnya melengkung samar, kebetulan sekali Jimin sangat menyukai corak pada tiap dindingnya.

Bunga krisan memang indah.

Setelah terdengar dentingan familiar tersebut, Jimin segera melesat menuju sebuah kamar.

Kakinya membawa diri menuju dua pintu kamar paling ujung, namun ketika ia mulai mendekati pintu pertama terdengar suara lagu yang sangat familiar ditelinganya.

Seperti Jimin sering mendengarnya dibeberapa acara musik yang diputar diradio maupun televisi.

Ketika tangannya menyentuh gagang pintu tanpa berniat memutar knopnya tiba-tiba bilik kayu berwarna cokelat itu terbuka. Nampak tidak dikunci dan suara-suara itu semakin terdengar jelas.

.

.

.

Taehyung terengah ketika mereka kembali memulai permainan dengan posisi konvensional, dengan tubuh polos tak tertutup apapun ia melebarkan pahanya ketika rudal panas itu kembali menyatukan diri.

"Ahhhh! Angghhh!" Desahan demi desahan mengiringi lesakan kejantanan itu diselangkangannya. Bersamaan dengan lengkungan tubuh Taehyung yang hampir menyamai bentuk busur kayu koleksi sang ayah.

Tubuh kekar diatasnya masih mengenakan setelan serba hitam yang tampak berantakan, dengan sebagian besar kancing kemeja yang terbuka. Menampakan guratan maha indah dari postur bak dewa yunani itu.

Taehyung menatap obsidian gelap diatasnya dengan wajah memerah terkalut nafsu, kemudian ketika wajah itu mendekat untuk meraup bibirnya kedua tangan kurus Taehyung segera mengalung pada leher tegap tersebut. Namun sebelum kedua belah bibir itu saling memagut, jemari Taehyung segera menarik ikatan pita hitam yang menahan topeng half face tersebut untuk lengser dari tempatnya.

Seperti gerakan slow motion, obsidian tajam itu memejam ketika benda elegan yang tadinya bertengger pada wajah tampannya merosot dan terlepas sempurna. Menghentikan hujaman dibawah sana untuk sesaat, dengan Taehyung yang menyeringai puas menggunakan mata sayunya kala pahatan sempurna dengan hidung mancung itu telah benar-benar terekspos.

.

.

.

"Oh, there you are.."

.

.

.

Kembali pada beberapa puluh jam yang lalu sebelum keberangkatan mereka ke Amerika, Park Jimin mendapatkan tugas pertamanya untuk menjemput Kwon Jungkook.

Namun ketika kaki kecilnya melangkah kedalam kamar nampak seorang pria muda tengah menyesap anggur ditangannya dengan santai. Ia bersandar pada kepala ranjang, dengan posisi tubuh masih diatas kasur.

Baru pertama kali Jimin melihat seorang yang belum cukup umur meminum red wine dipagi hari. Walaupun beberapa kali Jungkook meminum cairan beralkohol tersebut, tapi ini yang paling aneh -atau mungkin karena Jimin memang baru pertama kali melihat remaja minum alkohol.

Ya, ia tidak cukup terkejut. Karena pria pendek itu tidak memungkiri jika dirinya pun pernah melakukan hal yang sama persis seperti ini.

Akan tetapi sebegitu sibukkah tuan dan nyonya Kwon itu hingga anaknya menenggak alkohol pada umur yang tidak diperbolehkan saja mereka tidak mengetahuinya. Dapat dipastikan Jungkook mendapatkannya dari pelayan bernyali kecil, yang dengan hanya sedikit ancaman saja akan langsung menurut.

Oh, sungguh Jimin adalah seorang pembaca situasi dan kondisi yang sangat baik. Bahkan ketika seseorang tengah berbohong pun ia dapat mengetahuinya dengan sangat benar.

Kini, ia melihat seorang anak nakal akibat keegoisan orang tua.

"Tuan, namaku Park Jimin, dan saya adalah sekretaris baru anda.." Jimin membuka suara, kemudian kepalanya menunduk dengan sopan.

Setelah hanya raut monoton yang ia dapat dari balasan perkenalan dirinya, Jimin hendak kembali membuka suara.

"Hari ini anda harus-"

"Aku tahu, Amerika bukan?" Nampak pemuda tersebut melambaikan sebuah pasport dan tiket pesawat ditangannya.

"Tunggu saja diluar, aku akan segera datang."

Jimin mengernyit, sebetulnya seorang yang lumpuh sementara begini membutuhkan bantuan untuk berbagai hal yang hendak dilakukan. Apalagi ketika mereka belum terbiasa dengan salah satu anggota tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

Tapi apa ini? Ia berlagak bisa melakukannya sendiri, bahkan sikap yang nyonya Kwon ceritakan kepadanya sungguh berbeda jauh dengan kenyataan yang kini Jimin lihat.

Pemuda itu amat berbeda dengan deskripsi yang ia dengar, tidak mungkin bukan nyonya Kwon salah menilai tentang anaknya sendiri. Tapi dilihat dari raut wajahnya pemuda itu bersikap seperti biasa, walaupun ia memegang gelas wine ditangannya. Sangat diyakini dia tidak mabuk, jadi apa yang membuat kepribadiannya berbeda dengan apa yang selama ini ia dengar? Ditambah Jimin sempat melihat sikap pendiam juga tertutup dari Jungkook. Tapi mengapa kini sikapnya nyeleneh seperti itu? Seharusnya penculikan yang ia alami memberikan traumatic bagi Jungkook.

Kendatipun Jimin tidak ambil pusing, ia kemudian menuruti perkataan tuan baru nya itu lalu menunggu diluar kamar.

Ia pikir menunggu orang lumpuh berganti pakaian akan super membosankan, namun setelah lima belas menit berdiri disamping pintu kayu itu Kwon Jungkook keluar dari sana sudah dalam keadaan yang sangat rapi. Sedangkan tubuhnya terduduk diatas kursi roda yang ia dorong sendiri.

Alisnya semakin bertautan, Jimin mulai memikirkan beberapa kemungkinan. Namun hal itu harus ia simpan terlebih dahulu karena mereka harus mengejar jadwal pesawat menuju Amerika.

.

.

.

Masih tentang kebingungan Park Jimin, ketika mereka sudah sampai didalam pesawat, setengah jam sebelumnya Kwon Jungkook nampak tertidur pulas dalam perjalanan. Entah kenapa wajahnya terlihat menyedihkan dengan kantung mata yang tampak jelas.

Seperti ia kekurangan tidur.

Sebenarnya Jimin juga berniat untuk memejamkan matanya barang sebentar. Namun pesan-pesan dari Choi Taehyung benar-benar mengganggu.

'Apa dia tertidur?'

'Hey menunduklah sedikit, kau menghalangi pandanganku.'

'Beri dia selimut.'

'Benarkan posisi kepalanya!'

Mungkin jika disana tidak ada orang, Jimin sudah menerjang Taehyung dengan lemparan ponselnya yang keras. Namun sayang, Jimin masih membutuhkannya dan dia tidak ingin cari gara-gara dengan Taehyung, selain itu hal tersebut mungkin akan mengganggu perjalanan.

Hingga yang dapat Jimin lakukan hanya menuruti perintah sambil meremas ponsel kesayangannya dengan penuh amarah terpendam.

Sabar Jimin.

Namun amarahnya tiba-tiba tergantikan dengan kejanggalan lain yang ia rasakan ketika Sang Tuan muda terbangun dari tidur singkatnya.

Kemudian Jimin bagai melihat dan baru bertemu dengan orang yang bebeda. Apalagi ketika Jungkook terbangun dan nampak luar biasa kebingungan dengan dirinya yang tiba-tiba berada didalam pesawat.

Padahal saat Jimin mendorongnya masuk kedalam kabin, pemuda itu sedang dalam keadaan yang benar sadar. Walaupun wajah lelah itu sempat mengernyit kecil menahan kantuk.

"Apa kau suruhan ayahku?" Ketika Jungkook membuka pertanyaan, Jimin hanya mengangguk samar sambil menegakan duduknya. Bukankah sudah sangat jelas, namun mengapa ia menanyakan hal yang seharusnya telah ia sadari sejak berjam-jam lalu.

Jimin mencurigai suatu hal dari Jungkook dan kini saatnya pembuktian dengan mencari beberapa kebenaran untuk menguatkan dugaannya.

Kemudian lelaki kecil itu kembali memperkenalkan diri, untuk kedua kalinya.

"Mungkin lebih tepatnya sekertarismu tuan." Ia menimpali sambil kemudian menundukan kepala sekilas.

"Aku adalah sekertaris barumu.." Sebuah tangan terulur untuk menjabat milik Jungkook, dan yang paling muda pun membalas jabatan tersebut. Ramah, pribadi yang ini sungguh lebih baik dari yang sebelumnya.

Kemudian ia tersenyum kecil.

"Namaku Park Jimin."

.

.

Beberapa jam setelah mereka sampai di Amerika Jimin mendapat titipan undangan untuk Jungkook. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Jungkook menolak undangan tersebut mentah-mentah. Tentu saja hal itu terjadi akibat masa lalu buruk nya tentang pesta. Walaupun Jimin menjelaskan bagaimana keamanan privasi yang amat ketat dalam acara tersebut, pemuda tujuh belas tahun itu malah menenggelamkan diri dalam gulungan selimut hangat diatas kasur.

Namun ketika menjelang malam saat Jimin hendak membawa Jungkook untuk menghadiri pertemuan dengan para partner ayahnya di Amerika..

Ia menolaknya.

Dengan cara bicara yang berbeda, dengan tatapan yang berbeda pula dari sebelumnya. Namun sama angkuh seperti pertemuan pertama mereka.

"Aku tidak akan ikut kemanapun denganmu, karena aku memiliki urusan lain."

Sungguh Jimin amat membenci sorot tajam itu, bagaikan meremehkannya dan bahkan ketika Taehyung maupun Yoongi menatapnya tidak akan separah ini.

Tubuh jangkung yang terduduk didepan kaca sambil merapikan dasi mewah bercorak emas miliknya itu menyeringai tipis ketika Jimin hanya balas mengernyit. Ia tidak berbalik, namun tatapan tajam itu membidik bayangannya lewat cermin yang memantulkan sosok Jimin dibelakang sana.

Samar-samar Jimin memperhatikan pantulan suatu benda yang tergeletak pada meja nakas tepat dibawah cermin besar tersebut.

Walau dengan hati yang menahan amarah ia tetap harus menjaga sikap didepan Kwon Jungkook -atau entah siapa yang kini tengah membakar emosi Jimin itu. Jangan pikirkan secara harfiah.

Lelaki kecil itu pun memundurkan langkahnya perlahan kemudian menunduk sopan.

"Baiklah, saya akan mengatakan jika anda berhalangan untuk hadir."

Tidak ada jawaban, pria bersetelan serba hitam tersebut hanya menatap pantulan diri didepan cermin. Mendongkakkan dagu dengan congkak, tatapan tajam juga alis tebal yang terporsi dengan rapi. Rambutnya terangkat memperlihatkan sexy porehead yang amat sempurna.

Jimin bagaikan melihat iblis berparas malaikat saja.

Setelah pria kecil itu meninggalkan apartemen Jungkook, sesegera mungkin ia membawa diri untuk menghadiri pertemuan yang tadi ia bicarakan.

Namun setelah sampai disana, angannya malah berterbangan kemana-mana.

Membuat fokusnya terganggu dan Jimin meminta diri untuk dapat meninggalkan pertemuan lebih awal. Nyatanya Park Jimin tidak pernah bisa untuk bersikap acuh terhadap segala sesuatu yang membuat rasa penasarannya membeludak tiba-tiba, dan kini Kwon Jungkook telah berhasil membuatnya merasa tertarik dengan fakta yang sebenarnya.

Siapakah Jungkook itu, apakah perubahan yang terjadi begitu sering ini ada penyebabnya?

Hal-hal semacam itulah yang nampak sangat menarik dimata Jimin, selain dari rasa penasarannya ada pula faktor lain yang membuat Jimin harus menyelidiki ini.

Setelah memarkirkan BMW hitamnya disebuah lahan parkir rumah sakit besar di New York, langkahnya membawa Jimin memasuki ruang spesilis psikologi.

Disana ia bertemu dengan seorang dokter asal Jerman dan membicarakan beberapa hal yang Jimin curigai dari Jungkook.

Ketika ia mendengarkan penjelasan dari pria bule berkacamata itu, alisnya semakin menaut.

"Dibeberapa kasus aku sering menemui gejala seperti ini kepada pasien yang menderita kelainan mental, atau kami biasa menyebutnya dengan istilah D.I.D." Ucapnya.

"Tetapi seseorang dapat diputuskan sebagai pengidap D.I.D ketika dia memang sudah benar-benar terbukti memiliki kepribadian maupun sikap yang berbeda dengan identitas aslinya."

Jimin nampak berfikir, bahkan sudah sejak awal ia menyadari perbedaan dari kedua identitas Kwon Jungkook. Tetapi ia tidak dapat memutuskan jika benar tuan mudanya adalah seorang yang memiliki penyakit mental. Hanya saja, sejak kapan?

"Apa penyebab terjadinya kelainan kepribadian ini?"

"Proses disosiasi pada orang yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Bisa saja ia mengalami tindak kekerasan maupun pelecehan seksual."

Jimin melebarkan manik sipitnya mendengar hal tersebut, pasalnya ia masih mengingat hingga kini bagaimana kondisi mobil van lama nya yang Taehyung gunakan untuk bercinta dengan Jungkook. Juga insiden penyiksaan Hoseok terhadap bocah atletis itu, hal ini semakin memperkuat keyakinan Jimin bahwa Jungkook ternyata memang mengidap D.I.D.

"Tapi, apakah kekerasan dan pelecehan seksual memang bisa menyebabkan kelainan ini?" Bibir tebal itu pun kembali bertanya.

Pria didepannya membenarkan letak kacamata, kemudian membenahi posisi duduknya agar merasa lebih nyaman.

"Seperti yang sudah saya katakan, ada dua proses terjadinya disosiasi. Pertama, seseorang yang berulang-ulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami "out of body experience" yang membuat ia "terlepas" dari tubuhnya dan dari pengalaman traumatis yang sedang berlangsung. Ia mungkin bisa merasakan rohnya melayang hingga ke langit-langit dan membayangkan dirinya sedang melihat kepada orang lain yang sedang mengalami pelecehan seksual, dan dengan kata lain, identitas baru yang berbeda telah muncul."

Jimin mulai memahami semua kemungkinan yang terjadi kepada Jungkook.

Sepertinya kegiatannya di Amerika akan sangat padat dengan berbagai hal yang harus ia lakukan.

"Saya memiliki beberapa berkas tentang D.I.D, mungkin anda bisa mempelajarinya dan jika boleh saya tahu siapa orang yang anda curigai mengidap kelainan ini tuan?"

"Seseorang yang aku kenal." Jawab Jimin setelah beberapa berkas yang dimaksud sang dokter teronggok diatas meja.

"Apa dia keluarga anda?"

Jimin menggeleng sambil memasukan berkas tersebut kedalam tas jinjing yang ia persiapkan sejak tadi.

Sang dokter pun mengernyit.

"Orang yang mengidap D.I.D membutuhkan dukungan keluarga, bahkan terapi berkelanjutan tidak akan memberikan efek apapun ketika kasih sayang hilang sepenuhnya dari orang tersebut." Kembali pria kecil itu mengangguk, ia nampak berpikir. Sebelum lirikan matanya bergulir pada layar ponsel.

"Setidaknya, harus ada orang yang menyayangi dia. Walaupun hanya sekedar sahabat dekat."

Tidak ada reaksi apapun dari Jimin, lalu kalimatnya kembali berlanjut.

"Oya, pada beberapa kasus, identitas yang muncul memang berbeda-beda tetapi salah satunya bahkan ada yang berlawanan sikap dengan identitas asli pengidap. Namun anda harus berhati-hati, ketika tatapannya berubah menjadi lebih suram."

Jimin nampak tertarik dengan pernyataan barusan.

"Lalu.. Apa yang akan terjadi?"

"Well...-"

".. -bisa tindak kekerasan sampai pembunuhan."

.

.

.

.

Kembali pada adegan panas yang Taehyung lakukan. Malam semakin larut dan pergumulan mereka tetap berlanjut.

Ketika Taehyung sudah benar-benar dimabuk nafsu, bahkan setelah mengetahui jika penggoda nya adalah Kwon Jungkook ia tetap menikmati permainan, atau malah bisa dibilang Taehyung semakin menginginkan pergulatan panas itu berlangsung lebih lama. Topeng half face disampingnya tersisihkan bersama tumpukan pakaian kusut yang sebagian hampir jatuh dari tempat tidur.

"Merindukanku?"

Taehyung tersentak-sentak dalam keterbaringannya dibawah kungkungan Jungkook ketika suara dalam itu mengintruksi. Sementara pemilik suara serta tubuh bermandi keringat diatasnya menyeringai dengan wajah yang semakin terlihat tampan.

"Kau tahu jawabannya- aghhh!" Pipi tirus itu memerah, akibat birahi yang terus dirangsang tiada henti Taehyung tak kuasa untuk terus menahan hasrat mendominasi yang kian kuat.

Apalagi ketika kecupan itu bersarang diseluruh permukaan lehernya, saat Jungkook sengaja mengurangi intensitas dorongannya. Melupakan kondisi Taehyung yang ingin segera meraih kemenangan. Hingga jemari kurus itu meremat surai lembut Jungkook sambil menggigit bibir.

"Biarkan aku memuaskanmu.." Bisik Taehyung tepat disamping telinga Jungkook, namun pemuda yang mendengarnya segera menyeringai tipis. "Biarkan aku bergerak diatasmu Jungkook –ahhh.."

"Kalau begitu berjuanglah untuk bisa melakukannya.."

Secepat kilat mimik tak berdaya dengan segala desahan manjanya itu berubah menjadi suatu paras yang amat menggoda. Tatapan tajam serta senyum miring yang sesekali mendesiskan desahan kecil tersebut membuat Jungkook ikut tersenyum sekilas.

Tanpa frasa kedua belah bibir menyatu dengan penuh gairah menyelubungi, bersamaan dengan paha Taehyung yang menjepit pinggul Jungkook diantara selangkangannya kedua anak adam itu kembali menapaki lereng surgawi dunia. Jangan lupakan juga kejantanan Jungkook yang masih menancap didalam tubuh Taehyung, keluar masuk dengan gerakan dan tempo yang cukup stabil. Rektum panas Taehyung mencengkramnya dengan kuat –ya karena Taehyung tidak mau Jungkook melepaskannya walau barang sebentar.

Terkadang keduanya tanpa sadar mendesahkan kata yang sama. Ketika sepasang tangan Jungkook hendak memenjara Taehyung dalam cekalannya dengan sigap pria kecil yang berada dibawah membalikan posisi. Memanfaatkan Jungkook yang awalnya lengah, kini mulut seksi itu melenguh ketika Taehyung mulai menggerakan pinggulnya naik turun. Kedua tangannya bertumpu pada dada dan perut Jungkook, sementara pria dibawahnya memejamkan mata ketika Taehyung menggilas selangkangannya.

"Agghhh! Aggghh!" Suara dalam dengan setiap tekanan dalam hembusannya membuat Taehyung semakin menyeringai senang.

Kejantanan dalam analnya semakin membesar dan berkedut cepat, bersamaan dengan kedua manik Taehyung yang memejam, kedua tangan panjang Jungkook menyelinap dibalik bantal. Seakan-akan tengah mencari suatu benda dari sana.

Ketika jemarinya telah menemukan benda tersebut, kilatan pada obsidian hitam itu nampak tajam.

.

.

.

Helaan nafas terdengar lebih rendah ketika Jimin melangkahkan kakinya kedalam ruangan. Perlahan, namun langkah kakinya tetap terdengar walaupun samar. Sedangkan suara-suara berisik itu tetap berlanjut.

Kesan pertama yang Jimin dapatkan ketika langkahnya mulai semakin kedalam ialah keremangan yang mengusik.

Beberapa informasi yang baru saja Jimin dapatkan membuatnya merasa terganggu, apalagi ditambah dengan berbagai kesimpulan buruk yang memenuhi kepalanya.

Pasalnya Jimin tidak mengetahui siapakah identitas lain yang tengah menguasai Jungkook saat ini. Bahkan hal tersebut tidak dapat ia ketahui dengan pasti, tapi ketika pikirannya kembali pada beberapa jam lalu Jimin sempat mengingat sesuatu yang terdapat diatas meja rias Jungkook saat itu.

Sebuah benda berwarna hitam seukuran genggaman tangan.

'Klik'

Tangannya terulur untuk membuka pintu kamar yang terdapat pada sudut ruangan dan betapa terkejutnya ia hingga sepasang mata sipit itu membelalak lebar.

Sesosok pria bersurai hitam lusuh lah yang pertama Jimin lihat, kemudian seringaian familiar itu membuat bulu kuduknya merinding.

"Kau..."

.

.

.

TBC~

Ugh what the f*ck is going on! Ahhh ff ini makin rumit aja :'v

Maafkan ell readers, update yang ini kelamaan u,u

Semoga gak pada bingung... U,U

Intinya, yang ngajak Taehyung di pesta topeng itu memang Jungkook, namun dengan identitas yang berbeda. Juga beberapa part Jimin itu flashback beberapa jam sebelum dia pergi ke pertemuan pada rekan bisnis presdir Kwon :'v

Sorry banget update pas bulan puasa :'v tapi Ell sudah menghimbau sejak awal biar baca nya malam saja xD

Kalo yang masih nekat aja bukan salah Ell lagi.

Big love and thanks

bangtaninmylove, yeoNa95, anak baik, Kyunie, ara'seo, mutianafsulm, Mara997, Sasayan-chan, GestiPark, SherryMC, icha744, 7D, GaemGyu92, Y BigProb, Vkook Trash, MelvyE, Jxchobun, cuicuiwow, taetaekai, odorayaki, princeRathena, wafflekid, sabitelfsparkyu, seonil, AprilKimVTae, Guest, dedek, Leon, Lea

Maaf yang gak kesebut, ell baca semua review kalian selalu kok :*

Don't forget RnR, kasih ell saran atau apapun itu.. Semuanya akan sangat membantu xD

Ell